CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sikap Jokowi Ogah Pulangkan WNI Eks ISIS Dinilai Sudah Tepat
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3b624d68cc9573b8723eee/sikap-jokowi-ogah-pulangkan-wni-eks-isis-dinilai-sudah-tepat

Sikap Jokowi Ogah Pulangkan WNI Eks ISIS Dinilai Sudah Tepat

Sikap Jokowi Ogah Pulangkan WNI Eks ISIS Dinilai Sudah Tepat Jakarta - 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak setuju jika warga negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dipulangkan ke Tanah Air. Sikap Jokowi dinilai tepat.

"Sebetulnya Pak Jokowi sudah benar. Awalnya saya akan bicara pemerintah jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, dan itu memang harus dianalisa benar mereka ini kucing atau macan. Tapi kalau Pak Jokowi sudah bilang, ya sudahlah, nggak usahlah," kata pengamat terorisme yang juga Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, saat dihubungi detikcom, Rabu (5/2/2020).

Namun menurut Noor Huda, ada hal-hal yang harus diperhitungkan pemerintah dalam mengambil sikap terkait para WNI eks ISIS. Pertama, Indonesia merupakan bagian dari Geneva Convention.

"Kita ini menjadi bagian dari masyarakat dunia yang ada namanya Geneva Convention itu, jadi orang tidak boleh menjadi stateless. Itu gimana, pendekatannya mau gimana, hitung-hitungannya mau gimana itu?," ujar Noor Huda.

Dia mengatakan WNI eks ISIS itu memang telah mengambil sikap, melepaskan kewarganegaraannya dan memilih hijrah ke Suriah. Namun di sana, mereka tinggal di daerah yang tak bertuan dan bukan menjadi warga negara resmi Suriah.

"Di satu sisi, di negara kita ya (WNI) ini sudah melepas warga negaranya. Tapi pada saat bersamaan dia itu adalah, suka nggak suka, pernah jadi WNI walaupun dia menyatakan keluar atau macam-macam, paspornya dibakar," ucap Noor Huda.

"Tapi kenyataannya (WNI yang bergabung dengan ISIS, red) tinggal di wilayah yang di mana no man's land, bukan di wilayah negara resmi Suriah, tapi di negara namanya Rojava. Rojava itu negaranya Kurdi yang dibentuk oleh berbagai macam aliansi." imbuh dia.

Noor Huda menerangkan kondisi yang terjadi di Rojava saat ini tak terlepas dari peristiwa demonstrasi besar-besaran menentang Presiden Suriah, Bashar al-Assad, pada 2011 silam. Eksistensi kelompok Kurdi, lanjut Noor Huda, ditopang Amerika Serikat.
"Jadi 2011, Suriah ada demo besar-besaran melawan Assad, Turki membuka perbatasannya lebar-lebar sehingga semua orang bisa datang dengan harapan Assad jatuh. Kemudian negara-negara yang punya pemahaman suni, dia mengirimkan bantuannya ke pemberontak dengan harapan si Assad jatuh juga. Jadi terjadilah perang berbagai macam kepentingan di regional itu, jadi terjadi proxy," terang Noor Huda."Kemudian kan China, Rusia tetap mendukung si Assad. tapi tetap ada kelompok kecil namanya Kurdi, yang sejak awal itu memang selalu ingin bikin negara sendiri. Itu dibantu terutama oleh Amerika, bikinlah negara namanya Rojava," sambung dia. Noor Huda selanjutnya menuturkan Rojava tak mengantongi pengakuan sebagai negara yang berdaulat oleh PBB. Kondisinya saat ini, Amerika juga memutuskan tak lagi menopang Rojava sehingga akhirnya terjadi kemiskinan lantaran 'negara' itu belum memiliki sumber daya yang memadai.

"Dia itu kan kelompok Turki, tentu saja negara-negara sampingnya nggak ada yang mau ada negara Kurdi, karena antara Kurdi Suriah deng Kurdi di Irak itu saja mereka faksinya beda, dengan adanya pembentukan ini dari donor terutama Amerika," jelas dia.

"Sekarang Trump (Presiden Amerika Donald Trump, red) bilang 'Gua nggak mau danain lagi', nah orang-orangnya ini sekarang dikelola oleh negara yang sangat miskin, yang mengkalim miskin tadi karena tidak punya resources apapun," lanjut Noor Huda. Di sinilah, tutur Noor Huda, pemerintah Indonesia dihadapkan dengan dua pilihan yakni keamanan negaranya atau rasa kemanusiaan, karena di Rojava banyak perempuan dan anak-anak Indonesia, yang hijrah ke sana lantaran ikut suami atau ayah mereka. Namun Noor Huda berpendapat pemulangan para WNI eks ISIS tentu akan menjadi 'pekerjaan rumah' yang besar untuk pemerintah.

"Karena di situ sudah banyak yang berangkat ke sana itu perempuan dan anak-anak yang pada hakikatnya mereka itu seringkali menjadi korban pada suami dan bapak-bapaknya. Jadi ini harus kita pikirkan juga. Oleh karena itu setiap negara mengambil sikap atas ini berbeda-beda juga. Australia misalnya yang diambil anaknya saja, bapaknya enggak, orang tuanya enggak," kata Noor Hadi.
Senada dengan Noor Huda, Pengamat terorisme dari UIN Kalijaga Yogyakarta Noorhaidi Hasan juga mendukung sikap Jokowi. Menurut Noorhaidi, ini adalah momen Jokowi untuk menunjukkan kepada warganya bahwa keputusan beragbung dengan ISIS memiliki dampak buruk.

"Menurut saya, pendapat pribadi Pak Jokowi sudah tepat karena saat mereka memilih bergabung dengan ISIS, itukan mereka sudah menolak NKRI. Nah jadi sebenarnya sudah konsekuensi dari pilihan mereka meninggalkan Indonesia, bergabung dengan ISIS yang mereka yakini sebagai sebuah negara yang berdaulat ketika itu," ujar Noorhaidi. Noorhaidi berpendapat para WNI eks ISIS telah memilih jalan hidupnya. Jika mereka dipulangkan, sambung Noorhaidi, para penganut paham radikal yang lain akan mempermainkan status kewarganegaraan seperti yang dilakukan WNI eks kombatan ISIS.

"Presiden dengan tegas mengutarakan pendapat pribadinya menolak, ya untuk menunjukan kalau bertindak, memutuskan untuk bergabung dengan ISIS, ada konsekuensinya loh. Jadi nggak main-main. Kalau orang bergabung di ISIS, kemudian dengan mudah diterima lagi, nanti dengan mudah radikalisme-radikalisme itu tetap berkembang," ucap Noorhaidi.

"Jadi tidak ada efek jera terhadap mereka yang memusuhi negara kita kalau diterima lagi. Kalau kita berhitung, misalnya di sini pura-pura insaf, padahal di sini virus radikalisme, terorisme masih bersemayam di pikiran mereka. Jangan-jangan nanti malah mereka membangun kekuatan lagi ketika pulang, pelan-pelan mereka bangun jaringan teror, dan menebar teror serta kekerasan lagi," lanjut Noorhaidi. Noorhaidi meyakini Jokowi telah memperhitungkan efek dari sikapnya yang mengutarakan pendapat pribadi itu. Dia menganggap ini adalah peringatan keras Jokowi terhadap para WNI penganut paham radikalisme dan terorisme.

"Saya yakin Presiden berhitung sampai ke sana. warganya telah memilih untuk meninggalkan kewarganegaraannya, maka harus ada semacam efek jera, negara harus memberi peringatan keras ke mereka. Salah satunya dengan menolak mereka kembali. supaya jangan ada lagi benih-benih itu, nanti nggak ada selesainya urusan radikalisme dan terorisme," tandas Noorhaidi.

https://m.detik.com/news/berita/d-48...-sudah-tepat/3
Halaman 1 dari 2
yes setuju!!!!
Kan udah bakar paspor buang negara sendiri. Udah gak ada rumah lagi mereka disini. Beda kasus lah ma wni yg di observasi di natuna. Buang kelaut ajah emoticon-army
profile-picture
bangsutankeren memberi reputasi
mantap pak jokowi.
jangan sampai radikalis, yg kena virus sampe masuk indonesia.

lindungi WNI dari mahluk2 asing itu emoticon-I Love Indonesia
Wellcome to no man's landemoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempol
PENGHIANAT BAJINGAN KEK MEREKA GA PANTAS DAN HARAM BUAT PULANG emoticon-fuck2
profile-picture
Skyland999 memberi reputasi
udah lah,relakan saja
aloh pasti nolong mereka ko,masa sih aloh yg maha segalanya mau nyuekin org2 yg berjuang demi kepentingan nya
emoticon-Leh Uga
profile-picture
redharbingerid memberi reputasi
Diubah oleh pembela.tuhan
kalau sudah bergabung angkatan perang di luar negeri tanpa perintah resmi dari negara, itu sudah kehilangan status WNI, seumur hidup tidak bisa dipulihkan lagi. Apalagi ini dgn sukarela berangkat keluar negeri gabung isis , otomatis sudah membuang status WNI nya ke jamban, sekaligus penegasan bahwa mereka anti nkri, pemberontak, pemuja ideo khilafa.

bila dipulangkan, sangat besar kemungkinan negara ini peciah beliah

ghost fleet.
2030 Indonesia piciah .
penyakit ideo menular gandrungin sisis pemicu
ga ada tempat buat pengkhianat. mantap jokowi
sana sini d tolak....
coba 660 orang itu ngemis suaka ke junjungan sana, sapa tau di.... penggal menurut hukum sana emoticon-Ngacir
Kalo gua setuju kaya aussie
Anak2 balita (bawah lima tahun)
Ok ditampung kembali,tp masalahnya di indo ngga ada program foster parent
Kalo pun ada kayanya juga ngga sebagus di aussie atau di us
profile-picture
Skyland999 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
bagus pakde, harus tegas

lagipula itu pilihan mereka sendiri tanpa paksaan
penghianat negara hrs dibuang

Jgn kasih kelonggaran
Diubah oleh Skyland999
Balasan post wangbadan
di indonesia ini banyak pasangan mapan yang mengidam-idamkan anak.
kayaknya bisa deh.
Sudah pas ini.... Yg di dalam negeri aja banyak yg ga insyaf.... Capek2 ngurusin mereka yg udah murtad sama negara....
Pikiran yang hebat.

Tapi tetap keputusannya harus ditolak.

Mereka kumpulan budak iblis!
bener tuhh.. ntar kalo udah dikasih ati takutnya minta rempela.. kan ngelunjak jadinyaa.. biarin aja anggep sbg sanksi atas keputusannya sendiri
mereka bukan wni tp eks wni
Diliat aja nanti
Mereka sdh menentukan pilihannya utk membangkang,yah terima konsekuensinya
Setuju pakde, simpatisan ISIS aja yang disini bikin gaduh mulu, apalagi mereka yang sudah melepaskan kewarganegaraan Indonesia nya..
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di