CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Soal Jawab nomor 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3aff2c365c4f0a9024481e/soal-jawab-nomor-2

Soal Jawab nomor 2

Teori ekonomi yang dikembangkan oleh aliran Klasik selanjutnya telah bercabang ke arah 2 jurusan: di mana jurusan pertama dipelopori oleh Karl Marx dan yang kedua dipelopori oleh J.S. Mill. Jelaskan perkembangan kedua cabang tersebut
a. Teori Karl Marx


Dari sudut pandang teori ekonomi, pemikiran Karl Marx tidak lepas dari latar belakang kehidupan dan pendidikan yang memengaruhi pola pikirnya.Hampir seluruh sudut pandang Marx dilatarbelakangi oleh konflik. Awalnya saat muda ia tertarik pada bidang hukum, namun dikarenakan oposisinya terhadap pemerintah Jerman, kemudian ia mengalihkan studinya ke filsafat. Namun disertasi doktoralnya tentang akar doktrin Stoic dan Epicurus membawanya terjebak kepada paham Atheis sehingga ia diotolak oleh dunia akademisi. Barulah ia menemukan cikal bakal pemikirannya setelah pertemuan dengan Joseph Proudon (1808-1865) yang banyak mengispirasinya untuk membenci kaum kapitalis. Pemikirannya mengenai ekonomi berkembang setelah bertemu dengan Friedrich Engel yang kemudian mereka berdua mengeluarkan teori dan konsep pemikiran ekonomi yang menentang sistem ekonomi kapitalis.Dalam menentang sistem ekonomi kapitalis, Marx memberikan argument dari 3 sudut pandang yaitu moral, sosiologi dan ekonomi.

Dari segi moral, Marx melihat bahwa sistem ekonomi kapitalis menjadikan para pelakunya menjadi tidak adil dan tidak peduli terhadap maslah kepincangan dan kesejangan sosial.Dengan penerapan sistem “upah besi” pada kaum buruh, maka dapat dipastikan bahwa buruh tidak akan dapat meningkatkan derajad dan kesejahteraannya lebih tinggi. Sehingga dari hal itu, Marx mengkritik sistem ekonomi liberal-kapitalis harus digantikan dengan sistem lain yang lebih memperhatikan masalah pemerataan bagi semua untuk semua, yaitu sistem ekonomi-sosialis
Dari segi sosiologi, Marx menemukan adanya konflik dan kesenjangan antar kelas (stratifikasi sosial).Yaitu adanya sekelompok orang (pemilik modal) yang menguasai sebagian besar modal. Di sisi lain, adanya kelas proletar (kaum buruh) yang menempati posisi bawah yang kian hari jumlahnya makin bertambah. Marx menganjurkan bahwa sistem ekonomi kapitalis harus diganti dengan sistem yang lebih berpihak kepada golongan kaum buruh.
Dari segi ekonomi, Marx melihat bahwa akumulasi kapital di tangan kapitalis memungkinkan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi.Tapi, pembangunan dalam sistem kapitalis tersebut sangat bias terhadap pemilik modal. Sehingga untuk bisa membangun secara nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, maka harus perlu dilakukan perobakan structural melalui revolusi sosial dan menata kembali hubungan produksi (khususnya dalam sistem kepemilikan tanah, alat-alat produksi, dan modal).
Marx Juga mengeluarkan konsep mengenai “Surplus Value” dan Penindasan Buruh. Marx tidak setuju dengan sudut pandang klasik yang beranggapan bahwa nilai suatu barang harus sama dengan biaya-biaya untuk menghasilkan barang tersebut yang di dalamnya sudah termasuk ongkos kerja berupa upah alami. Menurut Marx, hal ini merupakan eksploitasi terhadap kaum buruh, karena nilai dari hasil kerja para buruh jauh lebih besar dari jumlah yang diterima mereka sebagai upah alami.Kelebihan nilai produktifitas kerja ini yang disebut Marx sebagai surplus value yang dinikmati oleh para pemilik modal.Menurut Marx, nilai suatu komoditi harus sepadan dengan input-input labor, dan hanya input labor yang dapat menghasilkan laba. Secara detail Marx menjelaskan bahwa suatu komoditas (C) adalah penjumlahan dari biaya labor langsung (v), biaya labor tidak langsung (c) dan laba atau nilai surplus (s), atau: C = c + v + s

Masyarakat kapitalis melihat buruh sebagai nilai guna dan juga nilai tukar.Sebagai sumber nilai guna, buruh menjadi sumberkegiatan yang digunakan untuk produksi suatu barang tertentuuntuk dipakai. Sedangkan sebagai sumber nilai tukar, buruhdipandang sebagai masukan dalam proses produksi komoditas-komoditas yang dihasilkan tidak untuk pemakaian pribadiburuh itu sendiri ataupun untuk pemakaian majikan, melainkan untuk dijual dalam sistem pasar yang bersifat impersonal, untuk ditukarkan dengan uang. Jadi, dalam sistem kapitalis, buruhdipandang sebagai komoditas yang dapat dijualbelikan dalampasar impersonal, seperti komoditas lainnya.Namun buruhjuga mampu memproduksi nilai tukar lebih besar daripada yangdiminta untuk mempertahankan nilai tukarnya tersebut. Teori nilai yang terdiri dari empat subteori: (1) teori tentang nilai pekerjaan (2) teori tentang nilai tenaga kerja (3)teori tentang nilai lebih dan (4) teori tentang laba. Teori tentangnilai pekerjaan menyangkut bagaimana nilai ekonomis sebuahkomoditas dapat ditentukan secara objektif.Nilai ini ditentukanoleh nilai pakai dan nilai pakai dan nilai tukar.Teori tentang nilaitenaga kerja merupakan upah. Dalam arti buruh mendapat upahyang senilai dengan apa kebutuhan buruh untuk memulihkankembali tenaganya dan kebutuhan keluarganya. Teori tentangnilai lebih adalah diferensi antara nilai yang diproduksikanselama satu hari oleh seorang pekerja dan biaya pemulihantenaganya setelah bekerja. Teori tentang laba merupakan satu-satunya sumber laba yang dimiliki oleh kapitalis yang sangatditentukan oleh besar kecilnya nilai lebih

b.teori J.S Mill

Dalam karyanya Principles of Political Economy, dia menyinggung masalah produksi, yang merupakan bagian dari aktifitas ekonomi, dalam hal pemenuhan kebutuhan masyarakat dan keinginan pasar.Menurutnya uang adalah kekuasaan, dan dalam rangka memenuhi kebutuhannya, manusia membutuhkan kekuasaan.Mill, menganggap kemakmuran suatu bangsa tidak ditentukan dengan pemenuhan kebutuhan fisik semata, melainkan kontinuitas produksi.
Dalam hal pemikirannya mengenai ekonomi, Mill dipengaruhi oleh Thomas Robert Malthus, dimana pertumbuhan ekonomi selalu diliputi dengan tekanan jumlah penduduk dengan sumber yang tetap. Mill seorang utilitarian yang mencoba untuk memahami kebahagiaan secara lain, dimana menurutnya kebahagiaan, bukanlah semata bersifat fisik, melainkan lebih luas dari itu, dan Mill pun memperkenalkan sebuah konsep kebahagiaan individu, yang sebelumnya, para filsuf utilitarian kurang menyentuh hal tersebut.
Menurut Mill tentunya berbeda terkait kebahagiaan individu dengan kebahagiaan umum. Suara hati menjadi dasar moralitas kaum utilitarian, sehingga akan menimbulkan implikasi didalam kehidupan sehari-hari terkait hubungannya dengan orang lain, dan disanalah eksistensi sebagai makhluk sosial menjadi nyata. Perasaan sosial yang timbul menuntut adanya suatu perhatian terhadap kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Maka, dikemudian hari akan memunculkan konsep kebebasan dan keadilan. Keadilan, akan diawali dengan pengakuan atas eksistensi hak-hak orang lain dan keadilan juga tidak terpisahkan dengan unsur kebebasan manusia. Masyarakat menurut Mill mestilah melindungi kebebasan individu dikarenakan hal tersebut merupakan bagian dari kebahagiaan umum.
Universalime etis merupakan konsep utilitariannya yang lebih mengedepankan kepada kebahagiaan orang lain, dimana disanalah moralitas utilitarian dibangun oleh Mill. Prinsip tersebut memang cukup relevan dalam hal aktifitas ekonomi, disamping Mill menerima pasar bebas Adam Smith, namun usaha untuk memperhatikan kebahagiaan orang lain dalam hal persaingan ekonomi pasar, menjadi agenda Mill. Kondisi pasar bebas yang cenderung bersikap egoisme sentris, berusaha ditekan Mill dengan pemberlakuan nilai moralitas bersama, dimana prinsip kebahagiaan harus dirasakan oleh setiap pemain pasar, pelaku usaha, produsen, distribusi, hingga tataran konsumen. Pasar bebas memang cenderung melahirkan kondisi menang-kalah, namun diantara dua belah pihak diharapkan harus tetap mampu menjalin hubungan yang kelak melahirkan kebahagiaan bersama, yang merupakan konsekuensi atas universalisme etis ala John Stuart Mill.
Ekonomi sebagai sebuah ilmu yang bersifat empiris, menjadi bagian dari pemikiran Mill kedepan. Dimana dia menyinggung masalah produksi, yang merupakan bagian dari aktifitas ekonomi, dalam hal pemenuhan kebutuhan masyarakat dan keinginan pasar. Menurutnya uang adalah kekuasaan, dan dalam rangka memenuhi kebutuhannya, manusia membutuhkan kekuasaan. Mill, menganggap kemakmuran suatu bangsa tidak ditentukan dengan pemenuhan kebutuhan fisik semata, melainkan kontinuitas produksi. Didalam Principles-nya dia banyak menyinggung masalah produksi dan buruh yang menjadi tema besar saat itu, dimana dia mencoba menghubungkan konsep universalisme etis dengan kedua hal tersebut, maka disanalah utilitarian Mill bekerja, konsekuensinya dia sedang mengkonstruk suatu pandangan humanitas didalamnya, dimana kondisi buruh dalam proses produksi harus diperhatikan serta pemenuhan kebutuhan umum.
Menurut Mill penawaran selalu identik dengan permintaan, dan dia menerapkan pola fikir baru bahwa produksi tidaklah harus ditentukan dengan permintaan pasar, sehingga baginya tidak ada istilah overproduksi yang selama ini dicegah oleh kebanyakan orang. Adapun pendapat Mill lainya bahwa kemakmuran ekonomi tidak ditentukan oleh permintaan dipihak konsumen, serta produksi menurut Mill merupakan sebuah basis yang memungkinkan terjadinya kerja sama diantara pengusaha yang bebas. Mill dalam hal ini sejaan dengan Adam Smith yang hidup lebih awal darinya, dalam hal ini mengenai ide pembagian kerja menurut Smith, namun Mill memasukkkan unsur lain didalamnya yakni peran wanita sebagai kondisi yang memungkinkan terjadinya pembagian kerja yang riil. Kalau dalam Adam Smith dikenal istilah ‘the right man in the right place’, maka Mill menambahnya dengan ‘the right women’.
Dalam kesempatan tadi, Mill mencoba menambahkan unsur moralitas didalam produksi, namun tidak terhenti disana saja. Mill mencoba untuk memasukkan ini dalam suatu kondisi ekonomi yang stagnan, dimana Mill menemukan alasan terjadinya stagnan tersebut pada buku The Princlpes of Economy and Taxation, milik David Ricardo, seorang pemikir ekonomi, yang cukup berpengaruh. Dalam mengatasi kondisi yang stagnan, menurut Mill mesti digiatkan lagi konsep kebahagiaan umum, dimana mencoba untuk menghindari akibat yang dialami dari stagnasi ekonomi tersebut terhadap semua orang. Menurutnya kegiatan ekonomi pada masa stagnan haruslah difokuskan pada pengentasan kemiskinan dan upaya pencegahan dari ketidakadilan ekonomi.
Dalam konsep riil terkait pemikiran ekonominya, Mill mencoba untuk memberi 3 bidang pekerjaan yang dianggapnya ideal, yakni; pertanian, perusahaan, dan bank. Pertanian berkaitan dengan tanah, pemilik tanah, dan pekerja, yang tentunya saling berhubungan. Disana juga memunculkan sebuah penguasaan atas tanah,atau dalam hal ini sistem kepemilikan tanah, yang coba digantikan oleh Mill dengan sistem baru, yakni sistem pertanian yang bernuansa kompetitif.
Pada perusahaan, yang mengidealkan perusahaan yang besar, dan penuh dengan persaingan usaha. Selain itu, ada pula bank dimana bank sangat berperan dalam kondisi ekonomi yang stagnan. Dapat pula memainkan peran strategisnya dalam mencairkan modal sekaligus mencegah jatuhnya harga. Sementara fungsi utamanya adalah menghidupkan kembali iklim spekulasi bisnis yang sehat.




GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di