CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3aaa8d82d495462d0bf42d/ilusi-amp-distorsi

ILUSI & DISTORSI

Quote:


ILUSI & DISTORSI

- docpri -




Spoiler for P R O L O G U E:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syd1210 dan 17 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh S.HWijayaputra
Halaman 1 dari 3
KATA SAMBITAN



Quote:



Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh S.HWijayaputra
- DAFTAR ISI -




Nanti akan diupdate setelah BAB 1 kelar.
Haturnuhun sadayana.
Diubah oleh S.HWijayaputra
- reserved lagi ah -

Nanti sabar yaaa gaes. Tak rapihin dulu tuk chapter awalnya. emoticon-Embarrassment

emoticon-Peace
Diubah oleh S.HWijayaputra
BAB I

Awal kehidupanku yang membosankan


Eps. 1



Beberapa tahun sebelumnya, menjelang sang tokoh beranjak masuk SMP.

Semilir angin dari pintu rumah yang dibiarkan terbuka dan menerjang masuk ke dalam menambah dinginnya hawa ruangan yang sudah sangat menusuk sejak tadi sore.

Seorang perempuan setengah baya dengan tergopoh gopoh dan dengan setengah berlari dari ruangan tengah tampak susah payah berusaha menutup pintu rumah yang mulai menabrak nabrak seiring dengan hujan yang semakin deras di luar dan suara guntur yang menggelegar kian ganas bertubi tubi.


"Sudah kamu tutup pintunya?"

Perempuan tadi yang baru saja kembali ke ruangan tengah pun segera mengangguk seraya duduk di samping seorang pria umurnya terpaut agak jauh dengan air muka yang tegang dan diliputi kecemasan.

"Bagaimana Pak, berhasil?" tanya perempuan itu.

Pria yang dipanggil Bapak itu hanya memandangi wajah sang perempuan tersebut dengan tatapan kosong. Bibirnya terkatup rapat seraya menempelkan satu jari ke mulut memberi tanda kepada sang perempuan yang merupakan istrinya itu untuk diam lalu pandangannya pun segera berpaling ke sosok anak laki laki yang terbaring pasrah di atas tikar yang digelar di lantai di sudut ruangan.

Di samping anak laki laki itu, seorang pria yang rambutnya sudah putih semua-panjang terikat rapih dengan mengenakan pakaian adat lengkap tampak sedang komat kamit membaca doa sambil sebelah tangannya sesekali bergerak pelan di atas sekujur tubuh sang anak laki laki dari arah kepala hingga melewati perut.

Tangan pria yang sedang bergerak itu tampak semakin berat dan semakin bergetar hebat ketika kembali di arahkan ke wajah sang anak laki laki yang diam berbaring tersebut.

Keringat deras tampak jatuh bercucuran di sekujur wajah pria tersebut ketika telapak tangannya berhenti tepat di atas kedua mata sang anak.

Suasana menjadi sangat hening, tidak ada suara maupun gerakan. Seolah olah aliran waktu berhenti dan mereka berempat berada di sebuah dimensi kehampaan yang kosong dan gelap.



"Al FATIHAH !!!" seru sang pria berambut putih tersebut tiba tiba.

Sepasang suami istri yang sedari tadi khusyuk memperhatikan pun langsung mengangkat kedua tangannya dan membaca doa mengikuti bacaan yang dikumandangkan dengan suara setengah berbisik namun tegas oleh sang pria berambut putih tadi.

"Aamiin !!!" ketiganya mengucap nyaris bersamaan kemudian meraup wajah mereka masing masing.


"Bagaimana Mas Pri?" sapa sang perempuan kepada pria berambut putih tadi.

Pria yang disapa Mas Pri atau lengkapnya adalah Priyambodo itu langsung tersenyum, menyiratkan bahwa situasi sudah terkendali walau pun sekujur tubuhnya sudah basah oleh keringat hingga merembes pada pakaiannya namun dia tidak menampakkan tanda tanda kelelahan.

"Tenang Dik, anakmu baik baik saja. Dia ini calon laki laki tangguh sama seperti bapaknya." Ujar Mas Pri seraya terkekeh lalu menyelipkan sebatang rokok kretek di bibirnya yang tebal dan menghitam sambil celingukan seperti mencari cari sesuatu di lantai.

Ckrek.. Cesss...

"Alhamdulillah.. Ah Mas ini, bisa aja kalo muji. Saya ini cuma orang biasa biasa aja kok Mas." ujar sang suami dari perempuan yang dipanggil Dik oleh Mas Pri tadi.

Pria itu tampak malu malu seraya membantu menyulutkan sebuah korek gas pada rokok kretek iparnya tersebut.

"Kalo kamu ndak tangguh, belum tentu adik saya mau sama kamu dan saya juga tidak akan setuju kamu menikahi dia kan?" ujar Mas Pri.

Kedua pria itu langsung tertawa terbahak bahak. Mereka tampak sangat akrab seperti layaknya saudara sedarah padahal umur mereka terpaut cukup jauh.

"Bu, aku ngobrol di teras dulu dengan Mas Pri ya. Tolong dibuatkan lagi kopinya. Monggo Mas." ujar sang Bapak mempersilahkan.

Mas Pri paham dengan kode yang diberikan sang adik ipar. Kepulan asap rokok pun perlahan berpindah seiring dengan langkahnya yang mantap meninggalkan ruangan tengah menuju keluar rumah lalu disusul oleh iparnya tersebut yang mengikuti di belakangnya.

"Nggih Pak." ujar sang istri.

Perempuan itu beringsut sedikit lalu memangku kepala sang anak yang masih belum juga bangun dari "tidur" nya. Tangannya membelai belai lembut kepala sang anak sambil memberikan tatapan pengharapan seorang Ibu yang begitu tulus mencintai dan menyayangi sang buah hati satu satunya.

"Sabar ya Nak, sudah tidak ada perlu kamu takutkan lagi. Bapak, Ibu dan juga Pakde akan terus menjaga dan mendoakan kamu agar Gusti Allah berkenan menjadikan kamu menjadi seorang laki laki yang lembut, penyayang, manut dan taat kepada orangtua. Jangan takut pada apa pun, takut hanya kepada Gusti Allah.."

Usai memberi wejangan kepada sang anak yang masih belum juga terbangun, sang Ibu segera beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi pesanan suaminya tadi.


Satu jam kemudian.

"Coba buka matamu Nak. Pelan pelan saja, ojo kesusu." ujar Mas Pri.

Anak laki laki tersebut, dengan gerakan yang lemah sambil ditopang punggungnya oleh sang Bapak segera menuruti kata kata dari pamannya tersebut sementara sang Ibu duduk di sebelahnya memperhatikan sambil terus berdoa kepada sang ILLAH di dalam hati.

"Aaahhhh...." terdengar suara parau sang anak saat kedua matanya pelan pelan mulai membuka.

Bola matanya yang baru saja tampak bergerak gerak kesana kemari menyapu seluruh isi ruangan tiba tiba kembali menutup seiring dengan suara lengkingan dari mulutnya. Tubuhnya tampak mengejang dan terlihat kesakitan dengan kedua tangannya mengepal keras.

Bapak dan Ibunya pun panik. Mereka lantas memanggil manggil sang anak sambil terus memegangi dan mengguncang guncangkan tubuhnya.

"Jangan panik Dik, dia belum terbiasa saja. Biarkan dia beristirahat. Mungkin dalam dua-tiga hari dia sudah mampu beradaptasi." ujar Mas Pri berusaha menenangkan.

"Nggih Mas, nggih.." jawab sang Bapak sambil berusaha menguasai emosinya.

Dia pun segera mengatur napasnya dan tak lama sudah kembali tenang sementara istrinya hanya mengangguk pasrah lalu memeluk erat erat sang anak sambil beberapa kali menciumi pipi dan dahi anak semata wayangnya tersebut.


"Apa yang kamu rasakan Nak? Katakan pada Ibu."

Ketiga orang dewasa itu terdiam menunggu jawaban sang anak laki laki tersebut. Setelah napasnya kembali teratur, anak itu pun mulai membuka mulutnya namun matanya tetap terpejam.


"Silau Pak, Bu. Pakde, silau sekali. Silau.. Silau sekali." ucap anak tersebut berulang ulang.

Dua pasang mata dari suami istri itu pun langsung tertuju kepada sang Pakde berharap adanya jawaban yang memuaskan darinya.

"Hahahahahaha.. Tenang.. Tenang.. Alhamdulillah Nak.. Itu tandanya kamu sudah mulai sembuh !!! HAHAHAHAHA.... !!!

Suara tawa keras Mas Pri membahana di dalam ruangan tersebut. Ketiga orang di depannya hanya terdiam dan tak berani berkata kata.



Spoiler for ..:


...



- bersambung -
profile-picture
yusufchauza memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Aku datanggg oms emoticon-Cool
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
lanjutkannnnn om.....
emoticon-Betty
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
hoooo.... baru lagi?
aku sudah tiba disini emoticon-Cool
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
ada yang baru om dedoy..

nenda dulu emoticon-Cool
Eps. 2 masih otw yah.. Sori lagi agak mumet ga bisa mikir. Wkwkwkk.

emoticon-Embarrassment


Quote:


Welcome home gan.. eh. emoticon-Big Grin

Quote:


Siaapp.. emoticon-thumbsup

Quote:


Nyoiih.

Welcome back bro. emoticon-kisssing

Quote:


Syiip.

Monggo gan, make yourself home yak.

emoticon-shakehand
nunggu lanjutan, gan
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
Balasan post S.HWijayaputra
wkwkwk kata sambitan gagal fokus jadinya, btw keep us updated for the 2nd chapterrr gan
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
ijin mengikuti om dedoy emoticon-Hi
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
Gelar camping
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
gelar tenda di penjwan emoticon-Cool


keep up om
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
numpang nongkrongin trit ini dulu om gan hehehe
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
Eps. 2



Hari ini tepat hari ketujuh sejak aku terbangun dari tidur panjang. Bapak bercerita kalau aku tertidur selama lima hari setelah sebelumnya mengamuk dan berteriak teriak seperti orang gila.

Ibu sampai menangis melihat aku yang katanya seperti orang kesurupan, melemparkan barang barang yang di dekatku sambil marah marah tidak karuan sehingga Bapak terpaksa turun tangan dan membuatku pingsan. Itu pun kata Ibu tak mudah, Bapak cukup kewalahan untuk bisa menaklukkan aku tanpa menyakiti aku anaknya.

Padahal Bapak itu sangat disegani oleh seluruh penduduk desa karena dikenal sebagai seorang Pendekar pilih tanding berilmu kanuragan tinggi. Tak ada satu pun pertarungan yang tak dapat dimenangkan oleh Bapak. Semua tantangan dari jagoan jagoan desa ini maupun yang dari luar desa semua dilayani beliau dan Bapak belum pernah kalah.

Hingga Bapak akhirnya bertemu dengan Pakde Pri yang menurut Ibu sebagai satu satunya orang yang mampu 'menjinakkan' Bapak sekaligus lawan tanding seimbang. Mereka pun jadi berkawan dekat sehingga Pakde Pri merelakan Ibu ketika beliau dipinang oleh Bapak kira kira tiga belas tahun yang lalu.

Oh iya, Bapak dan Ibuku ini selisih usianya jauh sekali. Mungkin terpaut sekitar 30 tahun. Ibu berusia 18 tahun ketika dilamar oleh Bapak yang kala itu sudah berusia 48. Usia Bapak sekarang sudah lebih dari 60 tahun namun jangan dikira penampakan Bapak-ku itu seperti kakek kakek.

Dibandingkan Pakde Pri yang masih berusia 40 tahun namun rambutnya sudah tampak putih semua, Bapak dengan perawakannya yang tinggi besar dan tak kalah gagahnya itu justru masih terlihat lebih muda dibandingkan Pakde Pri. Rambutnya pun masih sedikit ubannya sementara otot otot lengannya luar biasa kekar bahkan dibandingkan para pemuda desa yang usianya jauh di bawahnya.

Begitulah sekilas tentang Bapak. Sayangnya untuk bentuk fisik, aku lebih mirip seperti Ibu. Kulitku putih bersih dan wajahku pun kalau kata Ibu ya baby face dengan perawakan kurus dan tidak seberapa tinggi. Normal normal saja seperti anak anak sepantaranku di desa ini. Ah, padahal aku ingin sekali seperti Bapak. Gagah, keren sekali pokoknya beliau itu.


"Gimana perasaanmu Mas?" tanya Bapak.

Suaranya walaupun diucapkan dengan lembut tetap terdengar menggelegar. Berat dan dalam sekali merasuk di telinga.

"Baik Pak." ujarku menyahut.

Ibu yang baru saja menaruh kopi hitam kesukaan Bapak di meja, langsung menghampiri dan mengelus elus kepalaku dengan tatapan penuh kasih sayang.

"Baik gimana Mas? Katakan saja, jangan sungkan sama Bapak dan Ibu." kata Ibu dengan lemah lembut.

Bapak memandangiku dari ujung kaki hingga kepala seperti mencari cari sesuatu dan tak lama beliau menggeleng gelengkan kepalanya seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

"Saya tidak merasakan apa apa Bu, tidak ada emosi yang bergejolak sama sekali kalau itu yang Ibu maksud." ujarku dengan sangat tenang.

Memang itu lah yang kurasakan sekarang ini. Aku merasa sangat tenang, terlalu tenang malahan. Tidak ada luapan emosi sama sekali di dalam diriku. Mungkin terlihat aneh bagi orang kebanyakan namun kenyataannya begitu ya mau gimana lagi?

Bapak dan Ibu melarangku keluar dari rumah selama seminggu ini. Mereka bilang aku harus menunggu Pakde Pri datang kembali untuk memberikan ijin sekaligus petunjuk kepadaku agar aku tidak kembali "liar" dan tersesat seperti tempo hari.

Hmm.. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang mereka maksud dan sayangnya aku tidak penasaran dengan hal itu.


Dok Dok Dok Dok Dok !!!

"Assalamualaikum !!" (Ah.. itu kan?)

Bapak dan Ibu hanya saling berpandangan dan mereka berdua langsung sama sama melirik kepadaku.

Aku pun langsung bergegas membukakan pintu rumah. Nah.. Panjang umur.

Krieetttt...

"Wa'alaikum salaam Pakde.."

Sosok tegap, gagah dan sangat berwibawa itu langsung tersenyum lebar begitu menjumpai aku. Rambutku diacak acak sambil beliau melangkah masuk ke dalam rumah.

Aku, Bapak dan Ibu bergantian mencium tangan beliau. Iya, Bapak juga. Sudah adat di sini begitu. Walau pun usia Bapak 20 tahun lebih tua dari Pakde Pri namun karena posisi Pakde sebagai Kakak, Bapak pun memperlakukan Pakde dengan sangat hormat dan memanggilnya dengan sebutan "Mas Pri."


"Yo, bagaimana kondisimu Le?" sapa Pakde Pri.

Suaranya terdengar sangat lembut namun penuh wibawa. Pakaiannya pun selalu rapih kalau kata Ibu seperti orang mau hajatan, dengan mengenakan setelan satu set pangsi berwarna serba putih dan sebuah ikat kepala bermotif batik sebagai ciri khasnya.


"Baik Pakde, terima kasih." ujarku datar..

Pakde hanya manggut manggut mendengar jawabanku. Tiba tiba saja dia tertawa keras keras sementara Bapak tampak malu dan Ibu pun hanya mesem mesem.


"Tenang Dik, yang penting dia sudah kalem. Iya toh? HUAHAHAHAHA.. !!!" ujar Pakde Pri dengan tawanya yang semakin keras seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Bapak.

"Nggih Mas Pri.. Duh, pusing aku jadinya. Oh ya Bu, tolong ya." ujar Bapak mendelik sedikit kepada Ibu seraya menyodorkan bungkusan rokok dan korek gas yang langsung disambut cekatan oleh Pakde Pri.

Ibu yang mengerti kode yang diberikan Bapak barusan langsung mengajakku masuk ke dalam. Aku menurut saja, walau pun ada sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhku sejak kedatangan Pakde Pri barusan.

"Kamu di kamar saja ya Nak, nanti Ibu panggil kalau Pakde Pri ada perlu sama kamu."

"Nggih Bu." jawabku sambil langsung masuk ke dalam kamar.


Sudah menjadi adat dan kebiasaan di desaku untuk tidak ikut campur pembicaraan orangtua. Sebagai anak tugasku adalah menuruti dan berbakti kepada kedua orangtuaku. Hal itu selalu ditanamkan oleh Ibu semenjak aku kecil sebelum bisa bicara.

Sambil menunggu, aku pun duduk bersila di lantai dan bersemedi. Kebiasaan sejak kecil yang diajarkan oleh Bapak dan rutin aku lakukan setiap hari sebelum beranjak tidur.

Suara Bapak dan Pakde yang menggelegar bersahut sahutan dengan sesekali diiringi tawa keras mereka sayup sayup perlahan mereda dan tidak terdengar lagi begitu aku sudah masuk ke alam bawah sadarku.

Jagad alit alias semesta kecil, begitu Bapak menyebutnya. Ini adalah semesta milikku sendiri. Sebuah dimensi yang sangat luas namun masih menjadi misteri dan merupakan rahasia Sang Illah- begitu Bapak menyebutnya.

Bapak melarang keras aku keluar dari semestaku ini dan berhubungan dengan semesta semesta kecil lainnya. Belum waktunya dia bilang, nanti kamu tersesat dan akan sulit untuk membawaku kembali.

Dari yang Bapak ajarkan kepadaku, pada diri manusia itu terbagi atas tiga unsur utama. Ruh, Jasad dan Sukma. Nah, sukma inilah yang dengan dibantu oleh kekuatan ruh sesuai ajaran dari Bapak berkelana menjelajahi jagad alitku ini.

"Hati hati dengan apa yang kamu lihat, kamu dengar dan kamu rasakan ketika kamu berada di jagad alit. Walaupun itu wilayahmu sendiri, bukan tidak mungkin ada sukma sukma kuat dan jahat yang akan memaksa masuk dan mengajakmu keluar. Camkan itu!!" tegas Bapak tiap kali mengingatkan aku.

Biasanya Bapak baru mengijinkan aku bersemedi bila beliau mendampingiku sebelum aku memulainya. Tapi kebosanan dan egoku mengalahkan kepatuhanku kepada Bapak. Kurasa aku sudah cukup besar untuk mampu mandiri tanpa terus didampingi oleh beliau.


Hening.. Suasananya terlalu tenang di sini padahal seingatku biasanya selalu seperti ada suara gemuruh gemuruh panjang yang menggema dan apa yang kulihat juga tidak begitu jelas di jagad alit ini. Hanya pemandangan lapang dengan nuansa kelabu yang terus bergetar dan berubah ubah teksturnya.

Kali ini pemandangan yang kulihat menjadi sangat jelas. Sebuah tanah tandus yang sangat lapang membentang luas tanpa ada objek apa pun. Langitnya berwarna kelabu sedikit kemerahan, hampir sama dengan yang biasa aku lihat. Ah tunggu.. Itu.. Cahaya apa itu?


Wuuushhhh.... "Aaarrgghh !!!"

Cahaya kemerahan yang kulihat dari kejauhan itu dalam sekejap datang melesat dan melewati 'tubuhku'. Aku tidak sempat bereaksi dan hanya mampu mengerang kesakitan. Aku harus kembali, ini bukan suatu pertanda baik.

"Bapaak, Ibu, Pakde.. TOLOONG !!!"


...




Aku tak tahu apa yang terjadi, tiba tiba saja di depanku sudah ada Pakde Pri dan anehnya aku berada di ruang tamu bukan di kamar lagi.

Aahh... Nyamannya.. Sensasi hangat yang terus mengalir di sekujur tubuhku membuatku tersadar sepenuhnya. Dari apa yang kurasakan, ini pasti Bapak yang melakukannya.

"Dik, saya sudah harus pergi. Ingat ingat pesan saya tadi ya. Aku mau ngomong sebentar sama anakmu ini." ujar Pakde Pri dengan mimik serius.

"Nggih Mas Pri." sahut Bapak.

Bapak pun langsung mengajak Ibu yang ternyata sejak tadi berada di sebelahku untuk beringsut pindah agak menjauh dan duduk di kursi ruang tamu kemudian mengamatiku dan Pakde Pri dengan khidmat.


"Le, Pakde mau mengenalkanmu pada seseorang. Nak, sini Nak. Ayo masuk, kenalan sini sama keponakanku."

Aku bingung, Pakde memanggil siapa? Bukankah sejak kedatangannya tadi dia sendirian?

Sesosok anak laki laki muncul dan masuk dari pintu rumah. Perawakannya kurus namun kekar dan kulitnya agak gosong seperti orang berjemur sangat lama di bawah terik matahari.

Pakde Pri langsung meraih kedua tangan anak laki laki yang tampak malu malu itu. Sebuah senyum lebar disunggingkannya sambil mengangguk pelan ketika Pakde Pri tersenyum dan berbisik sesuatu kepadanya.


"Hai, aku Rama. Hehehehe.." seru anak laki laki itu sambil cengengesan saat datang berdiri dan mengulurkan tangan kanannya kepadaku.

Aku memandangi Pakde Pri sejenak lalu menoleh kepada Bapak dan Ibu. Mereka semua hanya tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. Aku pun menyambut uluran tangan anak laki laki itu dan menjabatnya erat erat.

"WISHNU..."


...



- bersambung -
profile-picture
yusufchauza memberi reputasi
Diubah oleh S.HWijayaputra
Quote:


Terima kasih ya. Monggo eps 2 -nya sudah.

Quote:


Hehehehe..

Wah ada mbak Nailea. Terima Kasih sudah mampir ya Mbak.

Monggo eps.2 -nya.

Quote:


Yuhuu..

Thank you yak om. emoticon-thumbsup

Quote:


Monggo gan emoticon-shakehand

Quote:


Siaap, monggo monggo. Semoga betah yah emoticon-Big Grin

Quote:


Maturnuwun gan, monggo digelar tikernya. emoticon-thumbsup
Diubah oleh S.HWijayaputra
Perasaan tadi pagi dapet notifikasi HT deh, kok pas buka tret ini ndak ada apinya yak? emoticon-Bingung (S)



Kaskus sadar kalo udah khilaf ngasi HT kali ya?

emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
ariid memberi reputasi
mampir di trit'nya om doy,
numpang nongki ya om emoticon-Malu
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
Quote:


Woaaahh... Ada orang ilang. Wkwkwk. emoticon-Peace



Monggo om Gowang, senyamannya aja yah.

emoticon-Kiss (S)
profile-picture
g.gowang memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di