CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e3a53a18d94d03de5274d62/takdir

Takdir

Takdir


"Kamu tuh, gak seharusnya nolak tawaran temenmu buat ta'arruf. Kalau kamu kayak gitu terus, sampai tua pun kamu gak bakalan nikah. Kepikiran sama Ibumu? Toh, ada Bapakmu yang bakalan gantiin kamu ngerawat Bibi," cerocos sepupu saat tahu apa yang aku lakukan beberapa hari yang lalu. Ibu stroke hampir sepuluh tahun. Hatiku nyeri mendengar perkataan wanita berkulit putih yang dibalut gamis pink dengan kerudung senada itu.

Mungkin, niatnya baik agar aku segera menyusulnya menikah.

Aku pun sama seperti lainnya, ingin menikah dengan laki-laki sholeh, memiliki anak, dan membina bersama sebuah keluarga kecil yang sakinah mawaddah wa rohmah. Akan tetapi, inilah hidup yang harus kujalani. Urusan jodoh, biar Allah yang mengaturnya.

"Iya, aku ngerti kalo jodoh udah ada yang atur, tapi kalo gak ada usaha dari kamu, kapan ketemunya? Lagian, kalau kamu udah nikah, kamu cuma tinggal ngirimin duit buat Paman sama Bibi. Bereskan?" katanya lagi.

Aku menghela napas lelah, bukankah adiknya menikah tanpa bertemu dulu? Entahlah, aku tak mengerti dengan pikiran orang-orang.

"Kamu gak bakalan ngerti gimana rasanya jadi aku," jawabku sambil menengadahkan kepala di sandaran kursi kayu panjang yang kami duduki. Beruntung rumahnya sedang sepi.

Dia menghembuskan napas kasar. Mungkin lelah karena nasehatnya tak pernah aku hiraukan, sama seperti sebelum-sebelumnya. "Iya juga sih, pasti rasanya dilema, antara milih tetep ngerawat orang tua atau menikah. Tapi, bukannya sama-sama membahagiakan?" Dia selalu kekeuh seperti lainnya yang terus mendorongku agar cepat naik pelaminan.

"Iya, membahagiakan. Tapi apa setelah nikah, kamu bisa ngejamin kalau aku bakalan bahagia sama pernikahanku? Sedangkan di sini masih ada orang tua yang masih sangat membutuhkanku," jawabku mengeluarkan semua resah yang menggumpal di dada.

"Iya juga sih, Mbak. Lagian, Mbak sabar banget menurutku mah," tuturnya memalingkan pandangan.

"Sabar apaan! Orang aku kerjanya marah-marah mulu. Apalagi kalau pas tengah malem, dibangunin pas lagi nyenyak-nyenyaknya," sungutku.

"Malem pun dibangunin?" Dia bertanya seolah tak percaya atas pernyataanku.

"Iyalah, siapa lagi kalau bukan aku!" Aku menegakkan kembali dudukku saat mendengar suara laki-laki mengucap salam dari luar.

Laki-laki itu masuk dan menghampiri sepupuku.

"Eh, ada Mbak Nina ternyata. Pantesan dengernya kayak lagi ngobrol. Lagi seru, ya?" katanya sambil mendudukkan dirinya di kursi kecil yang ada di sebelahku setelah sang istri mencium tangannya.

"Enggak kok, Bi, ngobrol biasa aja. O iya, aku bikinin minum buat Abi, ya. Tunggu!" Sepupuku berlalu ke arah dapur.

"Gimana? Masih belum move on juga sampe belum ada yang sreg buat dijadiin temen hidup?" Dia menoleh seakan menuntut jawaban dariku.

Sakit. Itu yang kurasakan saat mendengar perkataannya. Namun, aku memilih diam karena menjawab pun rasanya percuma.

Aku bangkit, memilih pulang karena tak mau berlama-lama dengannya.

"Kalau memang masih belum bisa move on, jadi istri keduaku mau?" katanya saat aku berada di ujung pintu.

Kata-katanya membuat langkahku terhenti. "Gila!" Aku melangkah lebih cepat dari sebelumnya.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Air mata mendesak keluar begitu derasnya. Ah, ternyata benar yang dia katakan. Aku masih belum bisa mengalihkan hati dan pikiranku darinya, cintaku yang harus berakhir hanya karena ego.
Diubah oleh mikayla.zalea


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di