CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e39d27eeaab2549ea43d285/part-1

Part 1

Pecinta Cerita Ghaib

Part 1

Jauh di tlatah Tuban Jawa Timur, malam serasa kering, kemarau panjang tak kunjung usai, sehingga jalanan desa berdebu, apalagi banyak jalanan rusak yang tak diperbaiki, makin membuat jalan desa memprihatinkan. Tapi di malam itu, banyak para pemuda kebanyakan dari pemuda group pencak silat Setia Hati, tengah berbondong-bondong, menuju satu arah, sepertinya bukan sedang dalam latihan, karena biasanya mereka memakai seragam, ini sama sekali tak ada yang memakai seragam, tapi semua membawa senjata, ada gir motor yang diberi rantai, ada pisau, pedang, ruyung, pemukul.

Terdengar pembicaraan mereka.


"Apa surat tantangannya sudah kau kirim?" tanya lelaki pendek yang membawa senjata ger yang diberi rantai.

"Ya sudah seminggu yang lalu, dia kita tantang di tempat penggilingan padi, nanti kita habisi di sana." jawab yang bertubuh jangkung.

"Apa isi tantangannya dia kamu suruh datang sendiri?" tanya si pendek lagi.

"Ya jelas, ku suruh datang sendiri kalau jantan, kalau tidak datang sendiri berarti pengecut ku tulis surat tantangannya seperti itu." jelas yang bertubuh jangkung, sambil membetulkan pedang yang dibawanya agar tak terlihat, sebab mereka mungkin sebanyak tigapuluhan orang, dengan senjata semua disembunyikan.

"Apa menurutmu dia akan datang sendiri?" tanya si pendek lagi.

"Ya tentu dia akan datang sendiri, dia itu kan menjadi pemimpin gank anak-anak nakal dan membawahi beberapa daerah, tentu egonya tinggi." jelas yang jangkung.

Sebentar kemudian iring-iringan anak muda itu mendekati penggilingan padi, aneh mereka semua berhenti. Tak ada yang beranjak untuk melangkah, padahal penggilingan padi di depan mereka.

"Heh bagaimana ini?" tanya salah satunya berbisik.

"Coba lihat dia sudah datang belum?" timpal yang lainnya.

"Apa bener yang tersiar kabar, kalau dia sakti?" tanya pendek.

"Ya denger-denger sih, saksinya banyak dia pernah ditusuk keris di perempatan, tapi tidak mempan, cuma bajunya yang sobek, dan yang menusuk minta ampun." jawab jangkung.

"Wah kalau begitu ya memang sakti beneran." nampaknya semua menjadi grogi pada musuh yang akan dihadapi.

"Gimana diteruskan tidak?" kata salah satu mereka.

"Ya kalau tidak diteruskan, kita akan diremehkan,"jawab pendek.

"Memangnya dia pernah meremehkan grup Setia Hati?" tanya jangkung.

"Ya tak pernah sih, soalnya orangnya pendiam, jarang bicara, tapi kan lama-lama meremehkan." jawab pendek.

"Wah kamu jangan membuat prasangka sendiri gitu." ujar Jangkung tak senang dengan sifat temannya.

"Coba dilihat, dia sudah datang belum?" sela Gendut.


Salah seorang mengendap-endap dan melihat ke tengah tempat penjemuran padi. Di mana listrik menyala terang menerangi tengah lapangan penjemuran. Dan nampak pemuda sedang, kurus, dengan rambut terurai sampai ke pantat, tengah duduk di bawah siraman lampu, suasana jadi sangar, pemuda yang kebagian mengendap-endap kembali.


"Bagaimana, ada dia?" tanya pendek.

"Ada, dia tengah duduk di tengah lapang, sendirian." jelas pemuda yang ditugaskan ngintip.

"Bagaimana kita serang?" sela yang lain.

"Aku kok deg-degan..." kata jangkung.

"Ah cemen.., ayo semuanya kita serang..!" komando si pendek, yang segera mengeluarkan gir dari balik bajunya.

Tapi beberapa langkah, kakinya terhenti, dia menjadi ngeri melihat orang yang rambutnya terurai panjang tengah duduk tak bergerak di tengah lapang, disinari lampu, seperti setan saja. Dan keadaannya sama sekali tidak bergerak.

"Ayo siapa yang mau maju duluan, atau bersama-sama, cukup aku duduk, tapi jangan salahkan aku jika kalian ada yang terluka." kata lelaki itu tenang dan dingin.

Suaranya teramat tenang, sehingga makin membuat semua yang ada makin grogi dan mulai dijalari rasa takut.

"Ayo maju, apa aku harus berdiri?" kata pemuda itu, dan ketika berdiri semua kumpulan pemuda itu anehnya pada kabur. Sungguh pemandangan yang sangat lucu, 1 orang melawan tigapuluh orang, bisa bisanya yang tigapuluh malah yang takut.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 14 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2

Part 2

Part 2

Jadi menggelikan, semua berebut kabur, tapi si gendut bilang,

"Berhenti.. berhenti..! Kita jangan takut sekalipun dia sakti, kalau dikroyok rame-rame pasti kalah."

Dan yang lain mengiyakan, dan mulai beranjak lagi mendekati lapangan.

Nampak pemuda gondrong itu pun berjalan, dia memakai jaket panjang selutut, di punggungnya bergambar tengkorak, dan kitab kuning. Sebenarnya lelaki itu kira-kira berumur 20an tahunan, tubuhnya agak kurus, wajahnya lumayan ganteng, malah kalau diperhatikan seperti wajah perempuan, tapi segala gerak geriknya tenang, dan ketenangannya kadang seperti menakutkan.


"Ayo mari kita selesaikan yang kalian mau, aku tak pernah sekalipun mengganggu SH kalian, tapi jika kalian menginginkan pertumpahan darah, jika aku tak sanggup menancapkan senjata yang kalian bawa ke tubuh kalian, maka aku berhenti saja menjadi manusia, ayo siapa maju duluan, atau mau maju bareng juga pekerjaan akan cepat selesai, sebab aku tak hanya mengurusi kalian." kata lelaki itu dan semua diucapkan dengan satu persatu, seperti tanpa nafas karena tenangnya, jelas itu membuat semua yang mau menyerang menjadi ragu, jika bukan seorang yang punya simpanan yang diandalkan, maka manusia itu tak akan setenang itu menghadapi pengeroyokan banyak orang yang semua memegang senjata.

Semua tak ada yang beranjak, jelas semua keder, dan memikirkan bukti kata-kata yang diucapkan oleh pemuda itu.

"Aku tak akan mendahului menyerang kalian, karena aku merasa tak punya masalah dengan kalian, tapi jika kalian menyerangku, ya apa boleh buat, tidak salah kan jika aku membela diri kemudian menyebabkan kalian terluka? Nah silahkan dicoba, apa kata-kataku ini benar tidaknya silahkan dibuktikan." kata pemuda gondrong itu tenang.


Tak tau entah pancaran ketenangan atau kewibawaan pemuda itu, sehingga semua tak ada yang beranjak, malah ada yang mulai memasukan pedangnya ke sarungnya.

Semua terdiam dalam ketegangan, mungkin juga di benak mereka menghitung untung rugi. Tiba-tiba pemuda gondrong itu maju... dan serentak semua pemuda yang akan mengeroyoknya itu mundur.

Tiba-tiba di jalan ada yang datang... "He apa-apaan ini? Sedang apa kalian di sini?" kata yang datang itu bernama Sulaiman, Sulaiman adalah ketua karang taruna di desa.

"Kalian ini sedang mau berkelahi? Hai bay.. ada apa? Apa kamu mau dikeroyok?"

"Ah tidak kang, kami cuma main." jawab pemuda gondrong.

"He siapa yang mau bermusuhan dengan Hubbaibulloh, maka dia musuhku, musuh desaku, musuh karang taruna, ayo siapa yang mau bermusuhan?" kata Sulaiman.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 7 lainnya memberi reputasi

Part 3

Part 3

"Ayo siapa yang merasa sok jago-jagoan?" kata Sulaiman,

"Sudahlah kang, wong mereka cuma main-main." kata pemuda yang bernama Hubbaibulloh masih dengan ketenangan.

"Sudah-sudah semua bubaran...!" kata Sulaiman membubarkan kerumunan, yang segera mereka melangkah pergi.

"Wah kamu ini bagaimana to bai..., masih sukanya kayak gitu, padahal sejak kecil kamu itu kan orang pesantren, la kok sekarang malah menjadi ketua gank segala." kata Sulaiman setelah semua pergi dan mereka berdua duduk di tengah lapangan.


"Kita itu menjalankan lakon kita masing-masing kang, sampean menjadi ketua karang taruna, dan aku menjadi ketua gank, mungkin jika dipandang secara dzahirnya kita amat berseberangan, kang Sulaiman di bidang yang kelihatannya serba membangun, dan aku di jalur yang merusak, tapi menurutku segala sesuatu itu didasari dari niatnya, bagaimana mungkin aku menyadarkan orang yang suka mabuk, jika aku sendiri tak berpura-pura menjadi seorang yang bisa diterima mereka. Coba kang Sulaiman lihat, dulu di desa sampai masjid digunakan mabuk-mabukan, tapi sekarang malah tak ada seorangpun mabuk-mabukan, dulu sering banyak tawuran, sampai ada yang mati, sekarang kan adem ayem saja, kalau ndak ada yang nyebur sepertiku, dan orang rusak malah dibenci, disalahkan, ya generasi kita bukankah akan makin hancur kang?" jelas Hubbaibulloh panjang lebar.


"Tapi apa yang kamu lakukan itu sangan rentan bergesekan dengan bahaya bay.."

"Wah itu sudah resiko perjuangan kang... ya kalau berjuang cuma maunya tampil ceramah di tivi, dapat order pesanan, memakai tarif kalau dipanggil, wah itu ku kira ndak bakalan ada ruhnya kang, kalau ceramah, sebentar juga akan ditinggalkan, jika sudah bosan, kalau ceramah di mesjid saja, menurutku yang perlu dilanting itu bukan orang yang jelas di masjid kang, tapi orang yang tersesat jalannya. Dan orang yang perlu petunjuk dan bimbingan itu bukan orang yang sudah sadar dan penglihatannya lengkap, tapi orang yang perlu dituntun dan disadarkan itu orang yang dalam kesesatan jalan, dan orang yang buta tidak bisa melihat cahaya kebenaran, buta pengetahuan, sebab mereka menjadi sesat itu kadang kala tidak berarti mereka inginkan, cuma mereka tidak di tempat yang tepat dan tidak ada yang menunjukkan,"

"Tapi apa yang kamu lakukan itu amat berisiko,"

"Ya segala apa di dunia itu yang tidak punya resiko, orang makan saja bisa sliliten, atau tersedak, segala sesuatu kita lakukan saja, kita lakukan mengikuti perintah Alloh, soal bagaimana nantinya hasilnya, itu kita tidak tau, semua terserah Alloh, nilai itu kan tidak tergantung pada hasil, tapi nilai itu terletak pada proses perjuangan, yang mendapat pahala itu kan perbuatan amal kita, bukan hasil yang dicapai, hasil yang dicapai itu kan terserah dalam ketentuan Alloh, seorang Nabi Nuh saja tidak bisa menjadikan sadar anaknya, juga Nabi Lut tidak bisa menyadarkan istrinya, atau Nabi Muhammad tak bisa menyadarkan pamannya Abu Jahal dan Abu Lahab, apalagi saya to kang. Tapi perjuangan bukan berarti lantas berhenti."


"Entahlah, entahlah bai.. aku bingung dengan pola pikirmu.."

"Ya itulah kang, setiap orang itu menjalani terbaik saja apa yang dijalani saja."

"Tapi aku selalu suka bicara denganmu, yang sejak dulu selalu nyeleneh... aneh." kata Sulaiman sambil memegang pundak Hubaibulloh, dan tak terasa air matanya meleleh.

"Ya aku ini ya begini kang, di-cap anak berandalan sama semua orang kampung, ya itu ndak papa, sebab kalau ndak ada yang nyebur kayak diriku ini, ya kasihan to sama anak berandalan, jadi tidak ada yang menyadarkan". kata Hubbaibulloh.

"Ya moga Alloh memberi pahala atas keikhlasanmu."

"Amin... biarlah itu menjadi hak Alloh, kita jalani saja hak sebagai hamba, kayaknya sudah malam banget kang, kita berpisah ya kang...!, terima kasih kang Sulaiman sudah menemaniku di sini."

"Ya sama-sama, kalau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan meminta padaku, aku siap selalu membantumu, waalaikum salam." jawab Sulaiman melihat Hubbaibulloh naik motornya dan berlalu.

Sulaiman sendirian dan heran dengan tingkah yang dijalani Hubbaibulloh. Diangan-angankannya apa yang dikatakan Hubbaibulloh, tapi tak juga akalnya menggapai, seperti buntu pepet, dia hanya menggeleng-geleng dan berlalu dari lapangan itu.

Manusia itu nyatanya tak bisa membuat pilihan, bisanya hanya menjalani, jika membuat pilihan sendiri dan memaksakan maka terjadinya akan timbul kesulitan, kita diberi kodrat makan pakai mulut, maka jalani itu, jangan membuat pilihan makan pakai telinga, apalagi memaksakan diri, memasukkan makanan ke telinga, maka akan amat menyulitkan diri sendiri, kalau tak percaya silahkan dicoba.

Jadi apapun profesi kita, jika kita jalani dengan ilmunya, dan kita totalitas menjalani, maka keberhasilan itu akan didapat, sekalipun nyangkul, tetap pakailah ilmunya nyangkul, jangan memakai ilmunya menulis untuk menyangkul. Segala sesuatu ada teori dan cara yang benar dan efisien untuk mencapai hasil maksimal dengan mudah dan tak menyulitkan serta banyak resiko.

Selembar surat diterima Hubbaibulloh pagi tadi dari pemimpin sebuah pesantren di daerah Demak Jawa Tengah, yang isinya memintanya untuk membantu mengajar di pesantren itu, suatu pilihan yang sulit, di mana dia masih ingin membetulkan ahlak pemuda desanya, tiba-tiba di depan rumahnya datang Irul sambil tergopoh-gopoh,


"Mas, masjidnya dipakai minum-minum lagi." kata Irul.

"Lhoh apa tidak diusir sama santri,"

"Wah sudah mas, malah Adib yang mengusir, dipukul sampai hidungnya berdarah."

"La yang memimpin dan yang memukul adib siapa?"

"Biasa mas si Bahak.."

"Lagi-lagi anak itu, bukankah dia itu pelatih karate Kera Sakti, kenapa tingkahnya seperti itu???"

"Ndak tau mas."

"Ayo ke masjid sekarang." kata Hubbaibulloh sambil berjalan duluan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 5 lainnya memberi reputasi

Part 4

Part 4

Hubbaibulloh disertai Irul pun sampai di masjid yang berjarak 300an meter dari rumahnya, suasana amat ramai karena anak-anak muda menyalakan mini compo keras-keras, disertai menenggak minuman keras.

"Hentikan...!, kalian ini Islam bukan? Ini rumah Alloh.." teriak Hubbaibulloh mengatasi suara mini compo, tapi semuanya tak ada yang menggubris, maka dia mematikan suara mini compo.

Salah seorang bernama Ulin segera memecah botol minuman keras dan menyerang, Hubbaibulloh menarik wajah kebelakang, botol pecah melewati wajahnya dua sentian, tangan kirinya segera menghantam pergelangan Ulin, dan tapak tangannya menghantam miring ke leher samping Ulin dengan telak, sehingga membuatnya oleng dan jatuh terjerembab.


Bahak sebagai pemimpinnya segera melompat bergaya kera berayun diranting, mendapat serangan aneh, Hubbaibulloh mengegoskan tubuhnya delapan derajat, sehingga serangan mengenai tempat kosong, tapi Bahak melompat ke tembok pagar mesjid yang setinggi pundak orang dewasa, lalu melenting lagi menyerang lagi dengan gaya kera mencakar gajah, Hubbaibulloh menjatuhkan tubuhnya, sampai menyentuh ubin, dan meminjam daya pantulan, kakinya dihantamkan ke atas melewati antara kedua tangan Bahak, dan kaki dengan telak menghantan dada, Bahak tubuhnya terlempar melambung, sementara Hubbaibulloh, dengan kaki kirinya melejit, dan kaki kanan memutar menghantam seperti martil, ke punggung, Bahak mencoba menggeliat di udara menghindar, tak urung punggungnya terhantam telak dan tubuhnya terbanting keras ke ubin sampai beberapa tekel retak, dan janggut Bahak berdarah, juga mulutnya mengeluarkan darah, dia mencoba bangkit, tapi punggung yang terhantam terasa sakit bukan kepalang, mungkin ada engsel yang lepas.


"Ayo sekarang pergi..!" bentak Hubbaibulloh.

Ada delapan orang segera memunguti botol dan mengangkat Bahak, dan Ulin yang terkapar,

"Tunggu...! " kata Hubbaibulloh, lalu mendekati Bahak.

"Ingat, kalau ada yang mabuk-mabukan lagi di masjid, yang akan ku buru dirimu, jaga kepalamu tetap menempel di tempatnya, ingat-ingat itu..!" ancam Hubbaibulloh.


Lalu rombongan itu berlalu, padahal selama ini sudah tak ada lagi mabuk-mabukan di masjid, tapi memang Bahak pulang dari merantau, dia selalu menggerakkan anak-anak muda kampung untuk berbuat yang tak benar, karena memang merasa punya pegangan.

Pernah beberapa kali membunuh di pasar, tapi entah kenapa kemudian menghilang dan tak dikejar Polisi, kasusnya begitu saja dilupakan, juga pernah membunuh orang dari luar desa dengan dikeroyok ramai-ramai kasusnya juga tidak ada kelanjutannya, yang susah orang tuanya, dia lari dan orang tuanya ditangkap Polisi, di penjara, mungkin menurut Polisi, nantinya Bahak akan menyerahkan diri, tapi Bahak sama orang tuanya saja sering menghajar kalau meminta sesuatu tapi tidak diberi, orang tuanya ditangkap pun tak akan ada rasa kasihan dan iba, terang harapan Polisi Bahak menyerahkan diri jadi sia-sia.

"Kang...!, Bagaimana kelanjutannya ini..?" tanya Irul yang sedari tadi memperhatikan.

"Ayo dibersihkan saja Rul, pecahan belingnya." kata Hubbaibulloh sambil mengambil sapu yang ada di pojokan.

"Aku besok mau ke Demak Rul." kata Hubbaibulloh.

"Lhoh la urusan di sini bagaimana kang?"

"Ya mau bagaimana, aku heran para kyai tak mau turut campur memperingatkan." desah Hubbaibulloh.

"Ya mereka jelas takut kang,"

"Ya itulah perlunya kyai juga perlu punya kelebihan, agar tak cuma gembar gembor di masjid, tapi kalau ada kayak gini malah ngumpet."

"Ya mereka mana ada waktu belajar kanuragan kang?"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 7 lainnya memberi reputasi

Part 5

Part 5

RASA CINTA ITU KARUNIA, MAKA SYUKURI DAN BERIKAN PADA YANG BENAR-BENAR BERHAK MENERIMANYA.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 5 lainnya memberi reputasi

Part 6

Part 6

CINTAILAH ALLOH KARENA DIA YANG MENGANUGERAHKAN CINTA DI HATIMU, CINTAILAH DIA SAMPAI ANGINNYA SURGA ITU MENYIBAK RAMBUTMU, DAN AIRNYA BISA MEMBASAHI TUBUHMU, DAN KAKIMU MENGINJAK TANAH WANGINYA.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 4 lainnya memberi reputasi

Part 7

Part 7

kebahagiaan itu ada di hatimu, tapi jika kau tidak berusaha menggali aliran airnya, maka dia tetap sebagai sumber air tersembunyi dalam hatimu, dan kau menyangka, bahagian itu tak pernah ada untukmu, seperti orang yang tak pernah tau di bawah rumahnya ada sumber air, karena tak pernah sekalipun menggali sumur.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 6 lainnya memberi reputasi

Part 8

Part 8

jika manusia itu telah mengecap nikmatnya manisnya buah makrifat yang bersumber dari hatinya, maka dia akan malas untuk pergi jalan-jalan ke tempat-tempat kesenangan menurut kebanyakan orang, sebab rasanya tak mengalahkan nikmat air makrifat yang di kecap dari hatinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 4 lainnya memberi reputasi

Part 9

Part 9

seseorang itu jika sudah merasakan nikmatnya bermunajad kepada Alloh, dan mereguk saripati buah fadhilah, maka akan amat menyesal jika di malam hari dia tertidur, dan melewatkan jamuan dengan para muqorobin.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 4 lainnya memberi reputasi

Part 10

Part 10

paling sesatnya manusia, adalah yang tidak mau menerima kebenaran, karena telah merasa benar sendiri, lebih sesat sesatnya manusia adalah yang menganggap dirinya paling lurus dan selain dia sesat.

tau kan orang yang selalu berjalan lurus, maka dia akan nabrak tembok, paling berjalan 100 meter di pekampungan, akan di tangkap orang kampung, dan di ikat, sebab jalan Alloh itu tidak selalu lurus, tapi juga berbelok-belok, seperti sholat tidak tegak terus, tapi ada sujud dan rukuk.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 5 lainnya memberi reputasi

Part 11

Part 11

menjelaskan pada orang yang buntu telinga mata hatinya itu seperti meniup seruling di depan kerbau, maka kerbau sama sekali tak akan berjoget, sekalipun tiupan serulingmu pernah mendapatkan penghargaan di festival dunia karena merdunya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 5 lainnya memberi reputasi

Part 12

Part 12

Jika kamu mengajak kepada kebenaran, pasti akan ada yang memusuhimu, sebab kenapa? Sebab pasti kepentingannya akan tergeser oleh ajakanmu, makanya Nabi dulu banyak yang memusuhi, sebab orang kafir kuraish takut kedudukannya akan tergeser bila orang-orang, mengikuti Nabi. Tapi: JA' AL HAQ WAZAHAQOL BATIL, INNAL BATHILA KANAT ZAHUQO, bila datang kebenaran, maka kebathilan pasti hancur, dan sesungguhnya kebhatilan itu sudah sepantasnya hancur.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 5 lainnya memberi reputasi

Part 13

Part 13

"Kalau sampean pergi ke Demak, lalu urusan pemuda di sini bagaimana mas?" tanya Irul ketika mereka beranjak pulang.


"Ya gak tau Rul, kang Sulaiman ya cuma maunya ngurusi karang taruna, padahal kalau yang suka mabuk dan bikin onar gak diurusi kan ngurusi karang taruna, bikin acara volly juga percuma kan? Oh ya kalau kang Ridwan bagaimana Rul?"


"Maksud sampean kang Ridwan yang ngelatih silat di kampung lor, yang pernah mukul kerbau sampai kepala kerbau pecah, dan otaknya berhamburan, gara-gara sawahnya dimakan kerbau, dan yang angon ditepuk sampai kelojotan itu kang?"


"Iya, siapa lagi?"


"Ya dia mana mau ngurusi orang mabuk segala,"


"Ya belum dicoba diminta." yakin Hubbaibulloh, "Mau kamu entar habis isya nemeni aku ke rumahnya kang Wan?" tanya Hubbaibulloh.


"Mau kang, udah kang aku pulang dulu, ntar malem tak kemari."


"Ya Rul, hati-hati."

Rumah Ridwan, pelatih pencak silat, ada di dalam kampung, mendekati sawah, jalannya gelap, karena tak diberi lampu, di kiri jalan penuh pohon bambu, dan kanan jalan kuburan yang memanjang, jika ingin cepat harus melewati tengah kuburan, ada jalan pintas selebar dua kaki, kiri kanan hanya batu nisan, salah langkah bisa menginjak batu nisan.


Ada salah satu kuburan yang orangnya meninggal karena diacungi pedang cucunya, mungkin jantungan jadinya langsung mati mendadak, warisannya dibuat rebutan, sehingga anak cucunya tak ada yang pernah mengirimi do'a, kuburnya selalu amblas ke tanah sudah diusahakan kuburnya ditutup pakai pasir sampai 1 truk, tapi tetep saja amblas ke dalam, gak tau kenapa seperti itu, dulu sih masa hidupnya suka melebarkan sawah sehingga mencaplok sawah tetangga.

Tapi pernah ada kejadian, semasa meninggalnya 40 harian, ada seorang tukang becak pasar, dipeseni seseorang disuruh mengantar daun pisang ke rumah si orang yang sudah meninggal, sampai di rumah orang yang sudah meninggal itu, waktu perempuan yang mesen daun itu pesen ke tukang becak, bilang kalau untuk selametan 40 hari, tapi sampai dianter ke rumah anak cucunya gak ada yang mau selametan, akhirnya si tukang becak bingung, daun dibawa ke sana kemari, sampai di kerumunan toko dia cerita, soal ada yang pesen daun itu, lalu orang-orang nanya bagaimana ciri-ciri yang pesen daun itu, si tukang becak cerita ciri-cirinya, dan semua orang merinding, soalnya ciri-cirinya itu adalah ciri perempuan tua yang meninggal itu. Lalu orang sama nyuruh nunjukkan uang yang dikasih pada tukang becak sebagai pembayaran becaknya, dan uang dikeluarkan oleh tukang becak, ternyata semua uang cuma daun kering.


Sampai di rumah Kang Ridwan mereka berdua disambut dengan hangat kopi, dan sepiring singkong rebus.

"Wah jan kadingaren, mau main kak..." kata Kang Wan, kak adalah panggilan kakak, atau kang, sifatnya lebih mengakrabkan biasanya untuk memanggilkan anaknya, maklum tradisi di desa.


"Iya ini ada perlu kang., begini, langsung saja, bagaimana kalau kang Wan ini ikut mengawasi anak-anak muda yang suka pada mabuk-mabukan, ya setidaknya memperingatkan gitu kang?" kata Hubbaibulloh.


"Wah aku ndak berani kak." jawab Kang Wan sambil menggeser tubuh kekar berototnya di kursi.


"La siapa to yang sampean takuti, wong sampean punya ilmu tinggi gitu, kerbau saja sampean pukul pakai pukulan Bandung Bondowoso, sampai langsung mati, pasti suara sampean di dengar."


"Bukan masalah takut pada manusia kak, tapi aku sendiri belum bener, bagaimana mau memperingatkan orang lain?"


"La kalau semua orang nunggu bener dirinya, kemudian baru bertindak apa ndak terlambat, misalkan kalau sampai mereka mabuk, terus hilang akal, terus pas anak perempuan sampean lewat, lalu diperkosa, apa sampean akan diam saja?"


"Wah kalau anakku diperkosa, ku pecahkan kepala mereka,"


"La tapi kan mereka mabuk, hilang akal, kan tetep misal mereka sampean pecahkan kepalanya, la anak sampean terlanjur sudah diperkosa, bagaimana?"


"Iya... harus dicegah sebelum terjadi.."


"Makanya itu, kita antisipasi, jangan sudah ada kejadian baru disesali, gimana sampean mau?"


"InsaAlloh kak, saya siap, la kak Hub bukannya selama ini yang mimpin anak-anak suka mabuk-mabukan itu?"


"Bukan, aku hanya mencegah dari dalam..."


"Ooo baru ngerti aku, la sekarang kenapa minta saya yang mengawasi?" tanya kang Wan.


"Aku sendiri ada panggilan di sebuah pesantren untuk mengajar."


"Wah di mana itu, biar anakku si Ahmad ikut jadi muridnya kak Hub.."


"Di daerah Bonang Demak."


"Iya nanti aku susulkan"


"Karena urusannya sudah beres, saya sama Irul mau pamit."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 5 lainnya memberi reputasi

Part 14

Part 14

Demak, kota wali, itu julukannya, karena dulu wali songo selalu berkumpul di Kota Demak. Sudah berbulan-bulan berlalu, sejak Hubbaibulloh tinggal di Demak, tapi bukan di Kotanya, tapi di pelosok, di mana airnya payau, orang kalau punya sawah harus mencuci sawahnya dulu, dan mengalirinya dengar air sungai jika ingin menanam padi, dan jika air laut naik masuk ke sawah lagi, maka harus dicuci lagi, karena payahnya pertanian, maka banyak orang akhirnya memilih menggali sawahnya dijadikan tambak udang bago.

Hubbah mengajar di pesantren tahfidzul qur'an, menghafal alqur'an, sanad dari kyai Abdulloh Umar Semarang, kyai Arwani Kudus dan kyai Maksum Lasem,

Mengajar dan diserahi memegang Tafsir Jalalain dan Tafsir Munir, Hubbaibulloh bengong, kedua kitab itu tak pernah ditaskhikhkan, Tafsir Jalalain itu saja cuma pernah mengikuti ngaji cuma beberapa lembar, padahal siapa saja yang menafsiri Alqur'an dengan pendapatnya sendiri, maka disuruh masuk neraka disuruh milih dari pintu mana yang disukai.


"Wah tunggu dulu kyai, saya boleh menjalankan amalan dulu, maksudku mau mengamalkan dulu puasa, biar saya ngajarnya lancar." kata Hubbaibulloh, ketika diminta Kyai Mahrus selaku pemilik pesantren.


"Ya silahkan, tak apa-apa, berapa hari mau menjalankan lelaku?" tanya kyai Mahrus.


"Ya setidaknya empat puluh hari." jawab Hubbaibulloh.


"Iya tak apa-apa."

Maka besoknya Hubbaibulloh menjalankan puasa hanya makan nasi tanpa lauk, dan seteguk air putih, malam digunakan untuk terus meminta petunjuk pada Alloh agar diberi hidayah, inayah, supaya bisa mengajar dengan ridho Alloh, hari demi hari berlalu, sampai di malam ke 41 hari, setengah mimpi dan sadar, ada seseorang yang masuk di kamarnya yang selalu terkunci, orang itu mengaku bernama Haidir, lalu Hubbaibulloh diberi sesuatu agar ditelan.


"Mengajarlah dan selalu berpegang pada yang haq." begitu pesan lelaki bernama Haidir.


Dan Alhamdulillah besoknya mengajar amat lancar, dan pesantren juga berkembang pesat, sampai Habib Riziq sering main ke pesantren itu dengan keluarganya, dan orang kampung sekitar pun antusias, mengikuti pengajian di pesantren, padahal pengajian itu dikhususkan untuk santri. Tapi orang kampung pada datang ikut jiping, ngaji kuping.

Murid dari mana-mana berdatangan, bahkan dari Sumatra dan Kalimantan, sampai ada murid dari oki kumirinh hilir yang oleh Hubbaibulloh di rasa aneh.


Saat itu ada murid bernama Rusli, dia selalu jarang ikut mengaji.


"Rusli kemana kok tak ikut ngaji?" tanya Hubbaibulloh, yang merasa bertanggung jawab, karena sebagai Pemimpin Pesantren Puta Putri.


"Dia pergi kyai." jawab santri bernama Asep.


"Pergi kemana? Bukankah peraturan pesantren di saat ada pengajian dilarang pergi."


"Bukan pergi dengan tubuhnya kok kyai, dia pergi ngeraga sukma." jawab Salim.

"Ngeraga sukma? Apa itu?" tanya Hubbaibulloh yang memang awam soal ilmu seperti itu.


"Ya pergi, yang pergi sukmanya." jelas Asep.


"Wah ndak bener itu, waktu ngaji ya ngaji... apa.. apa ngeraga sukma segala. Mana dia.." kata Hubbaibulloh marah-marah, sambil bangkit dari tempatnya mengajar, menuju kamar Rusli, diikuti para santri.


Sampai di kamar Rusli, pemuda dempal itu sedang tidur lelap, Hubbaibulloh mencoba membangunkan, tapi sia-sia, Rusli seperti kerbau mati.


"Ambil air di ember..!" perintah Hubbaibulloh.

Maka santri cepat mengambil air, dan air oleh Hubbaibulloh disiramkan semua ke tubuh dan wajah Rusli, tapi pemuda itu tetap meleng, sama sekali tak ada tanda-tanda bangun.

Hubbaibulloh jadi heran, diraba dadanya masih naik turun nafasnya, juga hembusan nafas dari hidung pun teratur.

"Coba ambilin bulu ayam.!" perintahnya lagi.

Dan santri pun datang membawa ayam sekalian bulunya.


"Ya bulunya saja diambil,"


"Keok,'! suara ayam, ketika bulunya di cabut.


"Kolokin hidungnya."

Lalu santri memasukkan bulu ayam ke hidung Rusli, tapi tetap saja pemuda itu tak bangun.


"Coba gigit jempol kakinya."

Semua santri berpandangan, tak ada yang beranjak,


"Ya maksudku diapain gitu, biar dia bangun, masak bangunkan santri, harus kyainya yang berusaha, cari inisiatif doong..!"


"Tapi dia lagi ngeraga sukma, kyai.." jelas Asep.


"Jadi kalau ngeraga sukma tak bisa dibangunkan, la kalau ada kebakaran bagaimana?"


"Ya kalau ndak ada yang bangunin dia mati terbakar." jelas Asep.


"Lalu bagaimana baiknya, gini aja, satu orang nungguin, yang lain ngaji, ayo pergi semua, kamu Asep nunggu di sini, nanti kalau Rusli bangun kasih tau aku." kata Hubbaaibulloh tak habis pikir.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 4 lainnya memberi reputasi

Part 15

Part 15

Dalam kitab Asrorut Tholibin diriwayatkan

Syekh Abdul Qodir pada waktu melewati suatu tempat, beliau bertemu dengan seorang umat Islam sedang hangat bersilat lidah, berdebat dengan seorang umat Nasrani. Setelah beliau mengadakan penelitian dan pemeriksaan yang seksama apa yang menjadi sebab sehingga terjadi perdebatan yang sengit itu, kata seorang Muslim:


"Sebenarnya kami sedang membanggakan Nabi kami masing-masing, siapa di antara Nabi kami yang paling baik, dan saya berkata padanya Nabi Muhammad-lah Nabi yang paling utama".


Kata orang Nasrani: "Nabi Isa-lah yamg paling sempurna".


Syekh bertanya kepada orang Nasrani: "Apa yang menjadi dasar dan apa pula dalilnya kamu mengatakan bahwa Nabi Isa-lah lebih sempurna dari Nabi lainnya".


Lalu orang Nasrani itu menjawab: "Nabi Isa mempunyai keistimewaan, beliau menghidupkan kembali orang yang sudah mati". Syekh melanjutkan lagi pertanyaannya: "Apakah kamu tahu aku ini bukan Nabi, aku hanya sekedar pengikut dan penganut agama Nabi Muhammad SAW?".


Kata orang Nasrani: "Ya benar, saya tahu".


Lebih jauh Syekh berkata lagi: "Kalau kiranya aku bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati, apakah kamu bersedia untuk percaya dan beriman kepada agama Nabi Muhammad SAW ?".


"Baik, saya mau beriman kepada agama Islam", jawab orang Nasrani itu.


"Kalau begitu, mari kita mencari kuburan". Setelah mereka menemukan sebuah kuburan dan kebetulan kuburan itu sudah tua, sudah berusia lima ratus tahun, lalu Syekh mengulangi lagi pertanyaannya:


"Nabi Isa kalau akan menghidupkan orang yang sudah mati bagaimana caranya ?".


Orang Nasrani menjawab: "Beliau cukup mengucapkan QUM BIIDZNILLAH (Bangun kamu dengan Izin Alloh)".


"Nah sekarang kamu perhatikan dan dengarkan baik-baik!", kata Syekh, lalu beliau menghadap pada kuburan tadi sambil mengucapkan: "QUM BIIDZNII (Bangun kamu dengan izinku)".


Mendengar ucapan itu orang Nasrani tercengang keheranan, belum habis herannya, kuburan terbelah dua, keluar mayat dari dalamnya. Mayat itu keluar sambil bernyanyi. Konon pada waktu hidupnya mayat itu seorang penyanyi. Menyaksikan peristiwa aneh tersebut, ketika itu juga, orang Nasrani berubah keyakinannya dan beriman masuk agama Islam.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 4 lainnya memberi reputasi

Part 16

Part 16

Pengajian tafsir jalalain, orang-orang kampung yang ikut jiping pada ribut menunggu, sampai pengajian selesai, Asep belum muncul, jangan-jangan ikutan ngeraga sukma.

Hubbaibulloh cepat beranjak ke kamar Rusli, sampai di kamar, Rusli sedang duduk, sambil ngobrol dengan Asep.

"Lhoh kenapa malah ngobrol to Sep. Kok gak ngasih tau aku?" tanya Hubbaibulloh.

"Ya daripada saya ngasih tau kyai nanti Rusli ngraga sukma lagi, malah susah lagi dibangunkan, ya mending saya tunggui, kalau habis ngajar, kyai juga paling ke sini, ini tadi saya coba bangunin pakai dikolokin pakai bulu ayam, itu lihat ayamnya sampai tak punya bulu sama sekali." kata Asep nunjukin ayam yang di pojokan, nampak seperti ayam yang habis dibubuti, dan kedinginan.

"Tak usah seperti itu.., tapi ya udah., hm gimana Rus, kenapa kamu tidak ikut ngaji malah tidur?" tanya Hubbaibulloh.

"Aku ndak tidur kok mas kyai, aku pulang ke rumah ngraga sukma," jawab Rusli.

"La kamu ini niat nggak mondok? Nyari ilmu, belajar menghafal Alqur'an ya kalau gak niat mondok, ya di rumah saja, kan kasihan ayahmu di rumah, mungkin di sana ngejual kambing untuk membiayai kamu mondok, ee di sini malah kamu ndak mau ngaji."

"Di rumah saya ndak punya kambing kok mas kyai, punya saya sapi." jawab Rusli.

"Ya itu perumpamaan saja, maksudku orang tuamu kan sudah susah-susah nyari uang untuk dikirimkan agar kamu pinter, apalagi pakai alasan ngraga sukma segala."

"Ndak kok kyai, saya ngraga sukma sungguhan.."

"Sekalipun sungguhan juga tetap ndak bisa dibenarkan, la kamu di pesantren ini kan waktunya ngaji. Nanti mau ngeraga sukma, setahun gak balik ke tubuh juga gak masalah, kalau sudah tidak dalam keadaan ngaji, la kalau di sini kan tanggung jawab saya, waktunya ngaji, ngaji, waktunya makan, makan, jadi jangan dipindah-pindah gitu."

"Tapi saya membantu sapi saya melahirkan di rumah." jelas Rusli.

"Membantu sapi melahirkan? Memangnya kamu dukunnya? Bagaimana bisa tubuhmu kan di sini?"

"Saya minjam tubuh teman saya di sana bernama Nanang." jelas Rusli.

"Wah puyeng aku..., itu maksudnya bagaimana? Coba ceritakan, aku masih tak percaya, kalau ada ilmu kayak gitu, masak ganti-ganti tubuh segala, kayak ganti bungkus rokok aja."

"Ya iya, di sana kan temen saya Nanang keluar sukmanya, nanti aku masuk ke tubuhnya."

"Apa memang bisa seperti itu?" tanya Hubbaibulloh tak percaya.

"Kamu bisa menunjukkan bukti, kalau kamu bisa raga sukma? Kalau perjalanan dari sini ke rumahmu di Sumatra butuh waktu berapa jam?"

"Ya kira-kira sepuluh jam, pulang pergi." jelas Rusli,

"Bisa tidak kamu membuktikan kalau kamu bisa raga sukma?"

"Bisa." jawab Rusli singkat.

"Lalu bagaimana caranya? Kalau cuma tidur terus susah dibangunkan, banyak orang ndablek yang bisa, kamu mau membuktikan dengan apa?"

"Bagaimana kalau saya mengambil barang dari rumah?" tanya Rusli.

"Ya silahkan saja."

Rusli menerawang lalu katanya, "Aku akan mengambil pisang, keris, dan paku, bagaimana mas kyai?"

"Ya silahkan saja."

Maka Rusli pun tiduran lagi, dan sebentar kemudian tubuhnya sudah seperti tidur lelap, seperempat jam telah berlalu, Hubbaibulloh sudah tak sabar menunggu.

Dan Rusli pun bangun, tapi suaranya jadi kecil, dan aneh, logatnya logat Sunda, wah jangan-jangan kerasukan jin sunda???

"Siapa kamu?" tanya Hubbaibulloh.

"Abdi Nanang akang, kadiek..." kata Rusli.

"Bisa bahasa Indonesia tidak?" potong Hubbaibulloh.

"Bisa kang," jawab Rusli, dengan suara kecil, dan tidak dibuat-buat.

"Tadi kamu bilang bernama Nanang, benar?" tanya Hubbaibulloh.

"Iya kang." jawab Rusli.

"Hm.. lalu Rusli di mana?"

"Dia sedang memandikan sapi kecilnya yang baru lahir kang." jawab Nanang.

"Udah deh ndak ada yang bener kalau gini..." gerutu Hubbaibulloh, "Bikin masalah saja,"

"Ada apa kang?" tanya Nanang yang ada di tubuh Rusli.

"Ya Rusli itu kan mondok, mau belajar ilmu, la kalau sapi ngelahirin, terus pulang, mandiin tiap pagi dan sore, ada telur menetas lalu merawat anak ayamnya.. ya ndak bisa dibenarkan, mending pulang saja, nanti ndak bakal dapat ilmu kalau seperti itu."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 5 lainnya memberi reputasi

Part 17

Part 17

Hubbaibulloh memilih kembali ke kamarnya dan tidur daripada ngurusi orang yang tak jelas juntrungannya. Tapi baru saja dia mau memejamkan matanya suara pintu diketuk dengan keras.

"Tok...tok...! mass kyai.."

Hubbaibulloh keluar dan di pintu ada seorang santri sedang kebingungan,

"Ada apa?" tanya Hubbaibulloh.

"Anu si Rusli ngamuk...!"

"Ngamuk bagaimana maksudmu? Ngabisi nasi?"

"Bukan."

"Nghabiskan sambel?"

"Bukan."

"La ini bukan itu bukan, lalu ngamuknya ngapain?"

"Ya ngamuk dia ngambil bendo mau membunuh dirinya sendiri." kata santri itu sambil ketakutan.
(bendo : alat untuk membelah kayu yang bentuknya melengkung kayak ayam)

"Wah kalau seperti itu ya bahaya. Ayo di mana dia...?"

"Di belakang dapur mas."


Hubbaibulloh pun lari ke dapur disertai santri itu, sementara di dapur Rusli sedang dipegangi oleh santri lain. Tapi para santri semuanya dilempar, ada delapan santri semua kuwalahan, sementara tangan Rusli memegang bendo yang selalu akan dibacokkan ke lehernya sendiri, suasana amat tegang, otot-ototan dan saling tarik ramai terjadi.

"Ambilkan tali." kata Hubbaibulloh.

Seorang santri kecil lari dan datang lagi sambil mebawa tali rafia.

"Lhah ngapa juga tali rafia?' kata Hubbaibulloh.

"Itu tali yang di sebelah pintu, tali tambang." tambahnya.

Maka diambil tali tambang, lalu Rusli diikat dengan tali tambang. Selesai Rusli diikat, maka Hubbaibulloh mengumpulkan para santri yang telah menjadi ustad untuk musyawarah membicarakan soal Rusli.

"Bagaimana menurut kalian soal Rusli ini?" tanya Hubbaibulloh.

"Kalau menurut saya mending dibawa ke paranormal kang, soalnya mengingat kita tak paham soal ilmu seperti itu ditakutkan itu nanti malah menyusahkan kita sendiri, karena tidak paham dan tidak bidangnya." kata Muslih santri dari mangkang.

"Kalau menurutku jangan dulu Kang, soalnya ini menyangkut nama pesantren, apa nantinya kalau kita ini pesantren Tahfidzul qur'an masak masalah kayak gini saja tidak mampu menyelesaikan..., " kata Ibnu santri dari Banyuwangi.

"Gini saja kita upayakan untuk menyelesaikan masalah ini dulu sendiri, lalu kalau kita nantinya ternyata tidak mampu baru kita serahkan pada orang yang sekiranya mampu, bagaimana menurut kalian?" kata Hubbaibulloh mengambil inisiatif.

"Begitu juga baik kang, kami setuju." jawab semuanya dengan serempak.

Ternyata Rusli makin parah saja. Setiap habis sholat magrib terus-terusan kerasukan. Bila sudah kerasukan kadang lari ke kampung sehingga terjadi kejar-kejaran antara santri dengan Rusli yang kerasukan, kadang juga masuk ke kamar santri putri, sehingga santri putri pada menjerit, kadang semalaman di atas genteng pesantren, sehingga genteng pesantren banyak yang hancur karenanya. Yang lebih mengkhawatirkan seringnya travo listrik diambil dan dihancurkan, atau kabel listrik pusat yang telanjang di tiang listrik diputus, sehingga berulang kali harus memanggil petugas PLN.

Selesai magrib semua santri berkumpul di rumah sebelah pesantren yang kosong, dimana Rusli diikat ke empat tiang dengan tambang. Hubbaibulloh punya rencana nanti anak-anak santri akan disuruh mengitari Rusli dengan membaca ayat kursi serempak, sementara yang sudah ustad diminta untuk membuat air isian yang dibacakan surat muawidzatain, dan ayat kursi. Mendekati isya' semua sudah sesuai pada tempatnya dan tugasnya, Rusli terkurung, dan mendekati isya, dia mulai kerasukan dan aneh tambang yang mengikat tubuhnya secara rapat dan ketat, bisa begitu saja dilepas seperti belut lepas dari genggaman, lalu dia mulai mengamuk, menggerung-gerung, yang membaca ayat kursi terus saja membaca tanpa henti.

"Panaaas... panaaassss...!" teriak jin yang ada di tubunya Rusli.

Dan dia berusaha untuk melompati orang yang tengah duduk sambil membaca ayat kursi. Namun ketika tubuhnya melompat dan akan melewati kepala yang membaca ayat kursi maka tubuh Rusli seperti membentur dinding yang tak terlihat, mental balik ke tengah kepungan.

Begitu berulang kali, dan yang membuat air isian pun sudah selesai dan air disiramkan, dan jinnya pun keluar, namun jin lain masuk, begitu terus sampai kalau dihitung ada sampai 180 x kerasukan dan 180 jin yang masuk, sampai ruangan berbau kemenyan yang amat menyengat, jam setengah empat pagi baru selesai, semua orang kelelahan.

"Wah ini bagaimana, kalau terjadi kayak begini terus ya kita bisa susah sendiri, besoknya jelas tak bisa bangun, dan kalau terjadi tiap malam, kan kita sendiri yang akan kerugian, karena kita tidak mengaji, dan hafalan qur'an kita akan terganggu..., bagaimana kalau kita bawa saja kepada orang yang lebih mengerti?" tanya Hubbaibulloh kepada semua santri, dan semua menyetujui.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 4 lainnya memberi reputasi

Part 18

Part 18

dalam perjalanan manusia, manusia itu pada dasarnya sama dalam ukuran apapun, dan amat sedikit perbedaannya, seperti mata si A lebar, mata si B sipit, jika kau ukur maka selisihnya tak akan sampai 1 meter antara lebar mata si A dan si B, begitu juga tapak kaki, lebar muka, tinggi badan, sampai tarikan konsumsi udara, 

lalu apa yang membedakan, yang membedakan adalah pola pikir, ilmu yang di miliki, sehingga pengambilan manfaat berbeda setiap tindakan,

contoh: dua orang mau pergi ke jakarta, masing-masing membawa mobil, yang satu membawa mobil aja seperti biasa, yang satu malah membawa berkodi-kodi pakaian untuk di jual di jakarta, dan ketika pulang maka hasilnya akan beda.
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan kemintil98 memberi reputasi

Part 19

Part 19

Alloh akan memperingatkan manusia secara halus, supaya manusia itu menyadari dan kembali ke jalanNya, lalu kalau tidak kembali akan di peringatkan dengan cara lebih kasar, dan jika tidak juga sadar maka akan di peringatkan dengan peringatan paling keras, entah di gulung air, di telan bumi, atau di potong bagian tubuhnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 2 lainnya memberi reputasi

Part 20

Part 20

BAHAGIA ITU TELAH LAMA MENANTIMU, TAPI KAU TAK PERNAH MAU MENJEMPUTNYA, SAMPAI DIA KESEMUTAN BERDIRI DI HATIMU. SEDANG KAU MASIH MENGIRA DIA JAUH DI ATAS GUNUNG, DI DISKOTIK DAN JAUH DI BAYANG-BAYANG HAYALMU.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 3 lainnya memberi reputasi

Part 21

Part 21

Bila seseorang itu cenderung menyalahkan orang lain dengan apa yang menimpanya, maka dia tak akan pernah bisa menjadi hamba Alloh.

Karena setiap hamba itu pengabdiannya hanya kepada majikan yaitu Alloh, bukan pada pandangan atau kecacatan penilaian manusia, dan jika orang membiasakan mencari kambing hitam atas perbuatan salah yang di lakukannya maka dia telah terikat dengan kedudukan dan sanjungan manusia sepanjang sejarah nafasnya di kandung badannya. dan tak punya sesuwir rambutpun amal di sisi Alloh, alkhoiru minalloh, wasyai'u minnafsik.

kebaikan itu dari Alloh, dan keburukan itu dari diri sendiri.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 3 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di