CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Surat Terbuka Untuk Bu Risma Yang Suka Turun Saat Banjir
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e38bf927414f5168a276b12/surat-terbuka-untuk-bu-risma-yang-suka-turun-saat-banjir

Surat Terbuka Untuk Bu Risma Yang Suka Turun Saat Banjir

Surat Terbuka untuk Walikota Risma, yang Suka Turun Lapangan Saat Banjir
Pengantar :
Banjir di kota Surabaya beberapa kali awal tahun 2020 ini telah menggegerkan warga Surabaya. Maklum, langganan banjir kali ini melanda kawasan yang dianggap sangat jarang dilanda banjir. Benarkah ini wajah buruknya saluran drainase di Surabaya? Atau kesalahan penataan ruang dan bangunan selama bertahun-tahun. Seberapa jauh Walikota Risma, dalam dua periode ini membenahi tata ruang kota terkait penanganan banjir, agar tidak menyiksa warga kota terus menerus. Aspek pembenahan tata kota terkait banjir ini selama ua periode kepemimpinannya belum pernah dikritisi wakil rakyat?. Apakah ini efek dari oligarki politik? Sebaliknya Walikota Risma, setiap banjir, suka turun ke lapangan bersih-bersih selokan. Apakah ini yang mesti dilakukan oleh seorang walikota yang kitanya tak pernah sepi oleh banjir. Apakah suka turun ke lapangan bersih-bersih selokan sambil hujan hujan seperti selama ini agar bisa mencitrakan diri? Benarkah turun ke lapangan saat banjir merupakan teknik pencitraan? Apakah layak teknik pencitraannya bagian membangun sebuah brand, walikota blusukan?.

Surat Terbuka Untuk Bu Risma Yang Suka Turun Saat Banjir

Terkait politik pencitraan, ada hal yang kadang dilupakan seorang kepala daerah yaitu bakal mendapat tanggapan dari masyarakat yang kritis? Apakah praktik seperti yang dilakukan Risma, hasil dari masukan bahwa masyarakat kelas bawah masih suka dengan sosok kepala daerah yang bergaya merakyat?

Dalam beberapa kali saya bertemu denga informal leader, sebaiknya walikota Risma, menghentikan politik pencitraan. Sebaliknya, memikirkan solusi banjir, bukan memanfaatkan banjir langsung turun ke jalan bersih-bersih selokan. Ada baiknya, walikota Risma, fokus bekerja mengatasi masalah banjir mengingat kemungkinan curah hujan yang lebih besar masih mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Wartawan senior Surabaya Pagi, H. Tatang Istiawan, mengkritisi masalah politik pencitraan saat banjir, dalam beberapa tulisan. Berikut tulisan pertamanya.

Bu Risma,
Hujan, hari Jumat dan Sabtu sore minggu lalu (31/01 dan 01/02), telah menyusahkan saya dan sejumlah warga kota Surabaya lainnya. Dua hari ini dari Juanda ke rumah saya di kawasan Kupang Indah, ditempuh empat jam. Kemudian hari Sabtu, perjalanan dari Ciputra World ke Kupang Indah, dua jam lebih.
Padahal hujan tak lebih dua jam dengan intensitas sedang. Faktanya, dengan durasi hujan 2-3 jam saja, telah membuat genangan dan banjir di beberapa titik kota Surabaya.
Hal yang tidak bisa dibantah, hujan akhir Januari telah mengakibatkan sejumlah titik banjir dan tergenang. Warga kota dirugikan oleh
Curah hujan dengan kategori ekstrem.
Perjalanan saya dua hari itu, genangan air memiliki Ketinggian yang bervariasi. Mulai 5 cm hingga 40 cm atau setinggi ban mobil.
Jalan-Jalan yang tergenang air yakni Jalan Kutai, Jalan Bogowonto, Jalan Opak, Jalan Cisadane dan Jalan Dr Soetomo, melebar ke kawasan yang selama ini aman, seperti Kawasan Ngagel, Pucang, dan Kupang Indah. Dan ruas jalan yang tergenang air itu membuat lalulintas makin macet.
Saya keluar dari Juanda sejak sore pukul 17.30 hingga pukul 21.20 wib, jalanan Surabaya masih macet. Banyak warga memilih berhenti di tengah jalan menunggu genangan air surut.
Gambaran ini yang menurut saya mesti menjadi perhatias Anda sebagai walikota, bukan ikut bersihkan selokan yang buntu. Pekerjaan ini adalah tugas tukang bersih selokan yang jaman walikota Purnomo Kasidi, dikenal pasukan kuning.

Bu Risma,
Hadapi musim penghujan, beberapa wilayah di Surabaya yang sempat terendam banjir, akal sehat saya berkata mesti digali sumbernya. Berapa persen banjir di Surabaya akhir-akhir ini dipengaruhi oleh faktor alam yaitu perubahan iklim yang cukup ekstrim? Berapa persen oleh perilaku manusia? Berapa persen menyuangkut manajemen tata kota mengentas banjir, terutama dalam menyediakan sumur resapan (biopori) di sekitar permukiman.
Mengingat.saya sebagai warga kota Surabaya sejak kecil, mencatat permasalahan banjir di ibu kota provinsi Jatim bukanlah permasalahan baru kali ini saja.
Konon sejak zaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda sudah ada banjir, sehingga pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu sudah merencanakan proyek Banjir Kanal.
Menggunakan akat sehat, sebagai kepala daerah, Anda bisa mencari penyebab utama ada apa
Kawasan-kawasan yang tadinya tidak terkena banjir dalam tiga tahun terakhir, sekarang ikut terendam banjir?.
Peristiwa banjir saat ini menurut akal sehat saya apakah bukan karena sistem yang ada tidak mampu menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Artinya, kota Surabaya, dengan curah hujan antara 50-100 mm dalam durasi dua jam sudah banyak genangan. Ada apa?

Bu Risma,
Secara geografis, Kota Surabaya terletak di hilir sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang bermuara di Selat Madura.
Beberapa sungai besar yang berfungsi membawa dan menyalurkan banjir yang berasal dari hulu mengalir melintasi Kota Surabaya, antara lain Kali Surabaya dengan Q rata2 = 26,70 m3/detik, Kali Mas dengan Q rata2 = 6,26 m3/detik dan Kali Jagir dengan Qrata2 = 7,06 m3/detik.
Sebagai daerah hilir, Kota Surabaya dengan sendirinya merupakan daerah limpahan debit air dari sungai yang melintas dan mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan.
Apakah aspek geografis semacam ini bisa dinilai kota Surabaya kurang bisa beradaptasi dengan bencana, terutama banjir yang masih menjadi permasalahan setiap musim hujan.
Akal sehat saya, kondisi seperti ini sebenarnya bukan membutuhkan Anda turun ke lapangan ikut bersih-bersih selokan sampah?
Anda mesti mengajak stakeholder kota Surabaya mencari penyebab banjir dan genangan air. Termasuk perubahan atau alih fungsi lahan oleh beberapa perusahaan property.
Maklum, saya arek Surabaya asli yang lahir di Surabaya sejak tahun 1956. Saya mencatat ada beberapa area hijau, seperti kebun dan persawahan sekarang difungsikan sebagai area permukiman.
Padahal, dulunya area hijau ini memiliki daya serap yang cukup besar ketika musim penghujan datang. Kata teman saya yang ahli tata kota di Universitas Petra, ketika dibangun permukiman maka daya serapnya berkurang.
Anda juga bisa mengevaluasi bencana di Surabaya akankah semakin memburuk yang tidak sepadan dengan anggaran yang telah dicuil dari APBD kota Surabaya? Seberapa jauh hasil yang bisa didapat bila banjir masih menyiksa warga, atas perbaikan fasilitas seperti drainase dan normalisasi sungai.
Lalu, salahkah bila ada warga Surabaya atau politisi dari partai diluar parpol pengusung Anda mengkritiki Anda dikaitkan dengan politik.
Akal sehat saya juga mengatakan mengkaitkan banjir dengan politik bukan hanya kurang tepat, namun juga tidak akan menyelesaikan masalah.
Tapi masalah banjir tetap bisa dimasuki orang dengan pemikiran politik. Maklum, Anda adalah pejabat politik dan bukan lagi pejabat karir.

Bu Risma,
Saat saya sekolah SMP-SMA, diajarkan bahw banjir merupakan masalah hidrologis, di mana sifat air adalah selalu bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Surabaya, secara alamiah merupakan jalur aliran sunngai Kalimas .
Konon beberapa pakar tata kota menyebut dibutuhkan proyek normalisasi dan naturalisasi sungai. Tidak hanya sungai kembali normal secara fungsinya sebagai saluran air, namun juga kembali natural sebagai bagian dari ekosistem dan keseimbangan alam.
Akal sehat saya menyarankan kepada Anda, saatnya berhenti pencitraan turun bersih bersih selokan atasi luapan banjir. Apalagi dengan beberapa kali banjir yang menerpa hampir semua kawasan di Surabaya. Dalam pengamatan saya, selokan buntu di sebuah kawasan itu temporer. Tapi manajemen tata kota atasi banjir adalah kompetensi Anda.
Saya mengingatkan Anda, turun ke jalan saat hujan menimbulkan banjir dimana-mana, bisa dianggap ingin memelihara dan merangkai pencitraan publik demi ingin mengeruk kepentingan politik jelang pilkada 2020.
Akal sehat sebagai walikota dua periode Risma mesti sudah mengetahui kalau banjir adalah salah satu persoalan Surabaya, yang kronis. Positifnya mesti warga kota diberi program mengatasi banjir yang membuktikan ada hujan ekstrim sekalipun Surabaya tak lagi diperparah banjir dan kemacetan. Menggunakan semangat kepala daerah yang sportif, Risma tak usah malu lah mengaku dirinya gagal atasi banjir, tapi sukses bikin penghijauan kota.
Justru yang kini menjadi pertanyaan adalah sekarang ini apa kesiapan Anda dalam melakukan antisipasi banjir di musim hujan tahun 2020 dan seterusnya. Bukan pencitraan bersih bersih selokan kota saat banjir dan memviralkan. Pola semacam ini tak keliru dituding pencitraan. (bersambung, tatangistiawan@gmail.com)

Sumber : http://surabayapagi.com/read/berhent...emen-perkotaan
lah ngecek kesiapan kok dibilang pencitraan. tau akibatnya klo cm percaya laporan bawahan?? kemang banjir, dibilang gak banjir, pompa ada yg rusak dibilang semua ok siap beroperasi.pencitraan tuh macam gini, cari celah dr bencana banjir
Surat Terbuka Untuk Bu Risma Yang Suka Turun Saat Banjir
Surat Terbuka Untuk Bu Risma Yang Suka Turun Saat Banjir
Surat Terbuka Untuk Bu Risma Yang Suka Turun Saat Banjir
profile-picture
estilo.com memberi reputasi
Pemimpin harus bisa melayani bukan dilayani
yg jelas bkn turun panggoennng bleh
masalah simple bray, selokan mampet. mau ajaran kampus namex atau harvard kalo airnya harusnya antri ngalir jadi macet. pembangunan sbya barat udah terlalu padat. tanah serapan berkurang. air ngalirnya ke selokan yg terbatas ditambah kalo saluran gak lancar. kalo risma mau maju ke jkt, dia harus kasi legacy ke sby banjir terkendali
idup di surabaya sejak kecil
pas besar jadi goblog
ngaku dari lahir sudah di sby tapi nyocot kalo risma turun ngecek got pencitraan demi pilkada dki?! matamu suwek


nih liat sejak 2010 bi risma itu sudah blusukan demi apa? pencitraan piala citra emoticon-Wakaka
itu namanya style memimpin
tiap org beda2 ada yg suka di kantor sambil komandoin anak buahnya ada yg gak sabaran pengen ikutan kerja kek risma
gada yg salah itu gaya masing2 org gak bisa disamakan

ane juga lahir di sby sampe sekarang ya di sby
dolo ya maenan ane di empang2 sawah di sby sekarang jadi kampung2 & apartment
apa yg salah? itu perkembangan kota pasti akan berubah terus
justru yg ane kagumi dari pemkot itu wilayah rungkut medokan semampir tetep dijadikan area hutan mangrove
artinya kepedulian thd lingkungan masih tinggi di sby

masalah aliran sungai2 ya biarin aja emang pemkot sby punya kewenangan utk sungai di luar sby?
naturalisasi???? anda anka buahnya WANABUD?
surabaya di naturalisasi sungainya wkakakakakkkk ... sebutkan sungai yg bisa dinaturalisasi di sby? semua sudah dibeton pinggirnya & dikeruk rutin sedimennya mana bisa dikembalikan kek taon 45
itu ada sungai yg masih natural di area sumur welut yg pinggirnya masih sawah2 emoticon-Big Grin

ane heran ini org aseli sby ato ngaku2 sih emoticon-Gila
profile-picture
profile-picture
hercule2008 dan Chandra757 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
wartawan senior ya.. elu itu ibarat komentator bola, paling jago kalo ngomentarin pemain yg sedang bertandinf tapi belum tentu elu sanggup melakukan sesuatu yg elu komentarin sendiri.
profile-picture
estilo.com memberi reputasi
setidaknya ntu kritik bukam menghina.. hanya saja belum membangun..

ditunggu aja bersambungnya tsb..
emoticon-Gila
Lihat 1 balasan
Potong konthol gue kalo sipenulis bukan kader PKS

emoticon-Ngakak
profile-picture
zeledi memberi reputasi
gabener daerah lain ga ada disurat2in walkotnya juga....cuma risma yang disurat2in seakan2 semua berhak curhat ke doi...hehehe emoticon-Big Grin
kalo ak jd bu risma tak bales e kon nyapo g nyalon ke ae nek sampean sek pinter mbek aku emoticon-Ngakak
itu yg bikin surat terbuka orang surabaya apa bogor?
profile-picture
zeledi memberi reputasi
Balasan post kinonotabi
Quote:


rungkut dan ubaya masih banjir parah ga brai?
Balasan post ayic222
Quote:

kritikan itu ok tapi gada yg didukung fakta yg pas
apalagi sang penulis katanya diberi ilmu temannya yg ahli tata kota univ petra
heeii ... itu risma alumni arsitektur its didikan prof johan silas ahli tata kota yg dapet penghargaan pbb masalah perkotaan & lingkungan hidup
nau dilawan? emoticon-Big Grin
& selama ini pemkot juga menggandeng lab perumahan & tata kota its untuk merumuskan kebijakannya

point2 kritikan penulis yg ngaku2 arek sby tsb:
- risma pencitraan turun ke selokan (sudah dari jaman jebot risma sudah ubek2 got emang risma itu mother of got)
- menyusahkan penulis yg kena banjir dari juanda ke rumahnya di kupang indah (emang rumah penulis kebajiran sampe harus ngungsi berhari2)
- kawasan yg sebelomnya bebas banjir jadi kena (sesuai bmkg juanda hujan beberapa hari lalu emang kategori sangat ekstrim)
- perlu mengajak perumahan2 memikirkan banjir akibat perubahan fungsi lahan jadi rumah (sudah ada aturannya dalam pendirian perumahan ada kewajiban pengembang utk menyiapkan fasum & rth serta ada uji amdal dari tata kota sby)
- konon menurut pakar tata kota perlu normalisasi & naturalisasi (konon tata kotanya masuk tguppnya wanabud emoticon-Big Grin)
selebihnya isinya pencitraan pencitraan pencitraan emoticon-Hammer

keberhasilan risma di sby itu tidak hanya dari fisik penataan kota
tapi lebih dari itu yakni membina warganya bertanggungjawab thd kotanya
ini yg jauh lebih penting daripada sekedar ngambek kena banjir yg beberapa jam juga sudah surut
bukan berarti sby boleh banjir tapi bagaimana warga sby harus ikut bertanggungjawab ikut menjaga saluran2 agar tak mampet itu juga misi yg tak mudah
bagaimana warga mendidik anak ,menjaga kesehatan, meningkatkan pendapatan, mendapatkan akses yg adil sbg warga kota, dst

persoalan mendasar masalah pertanahan sby tentang surat ijo malah gak pernah ada yg kritik gimana sikap risma thd hal ini
padahal daerah2 gubeng kertajaya & sekitarnya yg sudah puluhan taon megang surat ijo perlu kepastian hukum atas kepemilikan tanahnya emoticon-Hammer

Quote:

ane sudah bertaon2 gak jalan ke arah rungkut jadi gak tau sekarang
setau ane sekitar situ kalo ujan aman2 aja kecuali deket pasar rungkut baru & kelurahan yg sering tergenang
kalo ubaya yg bratang aman
ubaya yg tenggilis biasanya yg depan ada kalinya kalo ujan ya banjir tapi juga cepet surutnya emoticon-Big Grin
Diubah oleh kinonotabi
Gua dl orang jatim sering ke sby waktu masih kecil
Sekarang dah di jakarta,
Waktu lagi bistrip ke sby, kaget lah pasti dah lama gak ke sby....bersih bener!!!
Hanya di sby gua ngga tega mau buang puntung rokok sembarangan
Ngga tega!!!
Karena kalo gua buang tuh puntung....itu akan jadi satu2nya sampah di tempat gua ngerokok, itu di pinggir jalan
Akhirnya gua kantongin tuh puntung sampe nemu tempat sampah
Padahal posisi gua itu sebagai tamu, cm kondisi bikin gua jadi ngga tega buat buang puntung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
estilo.com dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Yup... Risma memang sudah membuktikan.. Memang joss...
Kembali ke trit tsb.. Setidaknya ntu sebuah kritik walau tanpa membangun atau beri solusi, yg pada akhirnya hanya menjadi kritik tong kosong nyaring bunyinya.emoticon-Ngakak (S)

Mengenai surat ijo... Ane sangat tertarik akan hal itu.. Ane udah lama bersinggungan dg masalah surat tsb, mulai jual beli, hak mewaris hingga gimana caranya menjadi hak milik.. Kebetulan saat ini lagi ngurus masalah waris dg objek surat ijo di daerah deket delta emoticon-Big Grin

Disisi lain, dahulu udah menjadi bahan penelitian yg skg tinggal memberikan bahan2 itu kpd daun2 muda atau "adek-adek" agar mengerti,terlebih lagi jika dibuat bahan skripsi.

Hebatnya... Surabaya adalah satu2nya yg masih memiliki surat ijo.. Semarang udah habis dan menjadi hak milik baik personal maupun badan/lembaga/pemkot.

Point permasalahan surat ijo ini jika ingin selesai hanya pada............................. emoticon-Gila
Secret aja deh...emoticon-Shutupemoticon-Ngakak (S)


emoticon-Ngaciremoticon-Ngacir
Balasan post kinonotabi
@zeledi mangrovenya dah jadi perumahan, dulu upn lurus itu hutan mangrove


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di