CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Militer /
Purnawirawan TNI AU: Jangan Terlalu Berharap dengan Su-35
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e376d528d9b175a522e41f2/purnawirawan-tni-au-jangan-terlalu-berharap-dengan-su-35

Purnawirawan TNI AU: Jangan Terlalu Berharap dengan Su-35

Seorang purnawirawan TNI Angkatan Udara berpendapat bahwa jangan terlalu besar memberi harapan terhadap jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker E. Ada empat alasan yang dikemukakan Marsdya TNI (Purn) Eris Heriyanto terkait pendapatnya tersebut.

Alasan pertama, alumni Akademi Angkatan Udara tahun 1976 ini mengatakan bahwa platform Su-35 merupakan pengembangan dari jenis sebelumnya, yakni Su-27 Flanker. Seperti diketahui, Su-27 merupakan jet tempur generasi ke-4, sementara Su-35 generasi 4++. Akan terkesan tanggung bila Indonesia mengakuisisi Su-35, karena jet tempur generasi ke-5 dengan kemampuan siluman telah hadir.
“Kemampuan platform ini (Su-35) bagus dikecepatan rendah dan stabilitasnya,” imbuh Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional periode 2006-2007 ini kepada IndoAviation beberapa waktu lalu.
Merujuk pada sejarah bangsa ini, kekuatan udara Indonesia pernah disegani dunia internasional. Bagaimana tidak, pada tahun-tahun awal kemerdekaan Angkatan Udara Indonesia pernah disokong sejumlah pesawat paling canggih di masanya.
Pesawat-pesawat itu antara lain adalah pembom strategis Tupolev Tu-16 Badger; pesawat intai OV-10 Bronco dan P-51 Mustang; pesawat tempur F86F Sabre, MiG-15 Fagot, dan MiG-17 Fresco, MiG-19 Farmer, dan MiG-21 Fishbed.
Meskipun pada saat itu perekonomian belum sangat kuat, ditambah lagi stabilitas politik hingga keamanan rutin dipecahkan Belanda dan pemberontak lokal, tapi Indonesia masih mampu mengakuisisi deretan pesawat legendaris tersebut.
Walaupun kondisi perekonomian Indonesia saat ini mengalami degradasi ketimbang sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, mungkin pemerintah perlu mempertimbangkan kembali untuk memperkuat TNI AU dengan generasi pesawat yang superior pada era sekarang seperti jet tempur generasi ke-5 yang berkemampuan siluman dan memiliki radar aktif.

Alasan kedua, dari segi avionik Flanker E hanya didukung radar pasif PESA (passive electronically scanned array). Padahal jet tempur sekelasnya seperti Saab JAS 39E/F Gripen, Dassault Rafale, dan Eurofighter Typhoon telah dilengkapi radar aktif AESA (active electronically scanned array).
“Avionik memegang peranan yang sangat penting bagi pesawat tempur, khususnya radar. Radar yang ada di Su-35 bukan EASA radar, namun pasif scanned array (PESA) yang mana akurasinya jauh dari EASA radar,” jelasnya.
Mantan pilot penempur F-16 Fighting Falcon dan F-5 Tiger II TNI AU dengan callsignMustang” ini menerangkan, pada pertempuran udara modern, siapa yang mendeteksi lebih dulu dialah yang memperoleh kesempatan memenangkan pertempuran lebih besar.

Alasan ketiga, pria yang masih aktif menjadi anggota Tim Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ini menjelaskan bahwa bentuk Su-35 lebih besar dari pesawat tempur sekelasnya, sehingga akan mudah terdeteksi pesawat lawan.

Terakhir, mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan ini menilai dukungan logistik pesawat buatan Rusia tersebut sangat mahal.
“Selain itu, kelemahan pesawat Rusia adalah logistic support yang sangat mahal (life cycle cost). Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, kita tidak bisa menaruh kepercayaan terhadap Su-35. Masih jauh dibandingkan dengan kemampuan pesawat F-35 yang dimiliki tetangga-tetangga kita,” tandasnya.

Sebagai informasi, Sukhoi Su-35 Flanker-E atau Super Flanker merupakan pesawat jet tempur multiperan kelas berat buatan Rusia yang memiliki jangkauan lebih luas dari Su-27. Su-35 dikembangkan dari Su-27, dan awalnya diberi nama Su-27M. Pesawat ini dikembangkan untuk menandingi F-15 Eagle dan F-16.
Karena kesamaan fitur dan komponen yang dikandungnya, Su-35 dianggap sebagai sepupu dekat Sukhoi Su-30MKI, sebuah varian Su-30 yang diproduksi untuk India. Pesawat Su-35 perdana kemudian dikembangkan lagi menjadi Su-35BM, yang memasuki deretan produksi sebagai Su-35S untuk AU Rusia.

[url]https://indoaviation.asia/purnawirawan-tni-au-jangan-terlalu-berharap-dengan-su-35/ [/url]


karena yang ngomong mantan pilot jadi ya logis pendapatnya.... bye...bye...super flanker...
profile-picture
cerdasnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 3
  1. Mw gen 5 nya siapa neh ? china apa US/NATO. emang udah siap dengan 5g klo pake US/NATO ? kalo mw pake gen 5 china, udah yakin kalo itu pure stealth ? emoticon-Stick Out Tongue
  2. Akurasi PESA dan AESA itu relatif karena sama2 electronic scan array/phased array radar. bedanya pesa bermain di 1 frekuensi sedangkan aesa bermain d multi frekuensi sehingga relatif lebih kuat trhadap kemampuan jamming EW lawan.
  3. Pesawat tempur sekelas dari su35 adalah F15, F/A 18 EF, F35 yang MTOW nya di atas 25 ton. memang paling besar seh, tp pling cocok untuk long range mission
  4. LCC mahal dibandingkan dengan apa ? coba bandingkan dengan F15, gw yakin 11-12 emoticon-Stick Out Tongue

profile-picture
GZuron memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Hmm... Jadi harusnya beli yg stealth gitu ya?
Anggarannya cukup ga wkwkw
Well, ane pun seneng kok kalo indo beli pespur stealth. Tp ngerawatnya kuat atau ga, ane ga tau wkwkw
Diubah oleh dutamahen
Yaelah f15 lagi kesebut makin mumet yang mau berharap ingin punya.
Mau 5G harga ekonomis bahkan dapet duit?
Tinggal telp kantor hwawe emoticon-Big Grin
Resiko data cloning tidak ditanggung emoticon-Big Grin
Lihat 3 balasan
Balasan post saksukmiapa
Quote:


nggk usah mumet. bukan kita-kita ini yang beli emoticon-Stick Out Tongue
oke ambil dari US lagi, lalu nanti kena embargo lagi, gitu terus, jadi cuma ngomong jangan terlalu berharap tapi gak ada solusi pasti.
Lihat 23 balasan
Balasan post nganggur
gw gak ngeliat indonesia punya prospek diembargo tuh. tapi masalah duit lain soal
emoticon-Leh Uga


Apa yang jadi permasalahan selama ini adalah "kickback"?

Kali ini ane gak terlalu berharap karena berita lontong belom muncul lagi spt yang pernah dikatakan momod blue
Lihat 2 balasan
https://en.wikipedia.org/wiki/Fifth-...on_jet_fighter
yg punya gen 5 n ready ya cuman buatan amrik doank
yg buatan rusia masih kaga jelas, india aja mundur dari projectnya
yg buatan cina juga masih blon jelas

f-35 emank blon sempurna, tapi negara2 laen baru mulai maenan stealth
amrik maen stealthnya udah lama

n kalo ngga dianggap sekutu ama amrik ya gigit jari aja kalo pengen f-35
punya duit pun juga blon tentu boleh beli
Balasan post 7pendek1panjang
Quote:


Permasalahan yg udah mengakar...
Tanpa mengurangi rasa hormat kpd sang purnawirawan.....beliyo ini pilot F-5 dimana itu pesawat generasi ke 2....dan beliyo bs kasi kesimpulan pesawat yg bahkan yg sma sekelas Flanker saat ini belum operasional penuh???lah.....kesimpulannya dapet drmana coba.....
Mintaknya langsung Gen 5??? Ada pak, J-31....
Lihat 2 balasan
Ya emang ga harus su-35, tapi ya ngga haru pespurs 5th gen jg kales pak..

Balasan post princeville
Quote:


Semoga menhan yang kali ini bisa membuat kemenhan ga seperti yg sudah2 dan bisa ada breakthrough nya.
Balasan post nganggur
@namdokmai papua, aceh, klo pakai ranpur buatan US bisa kena
Balasan post nganggur
@nganggur kita gak perang lagi di aceh.
papua ??? amrik sendiri punya kepentingan freeport aman dan yang ngamanin ya aparat indonesia berapa kali freeport jadi sasaran insurgentnya papua ??? gw ngelihat malah aparat indonesia yang kuat di papua itu menguntungkan amrik. emang ada yang treak ketika ada insiden dipapua tapi itu banyakan legislator amrik yang cari panggung sedang sikap pemerintahnya juga lebih selaras ma indonesia.
Balasan post namdokmai
@namdokmai ya wes coba aja beli di US, kita lihat sama 2 endingnya gimana
Balasan post nganggur
@namdokmai @nganggur

Pernah denger nbell 412? Lisensi bell textron amerika, dipake di papua aman2 aja kok,
Balasan post namdokmai
Quote:


aman selama kita gak " nakal " ke FP. kemarin kan sudah di warning sama US. kalau ada pasukan yang urbanisasi ke deket RI lagi, yang buat nego apa ... yakhont udah keluar. emoticon-Big Grin
Balasan post nganggur
@namdokmai @crashhopper bell diproduksi di PTDI, hanya lisensi saja yg US, beda itu..coba aja pake F16 gelar di Papua, berani? Itu jadi 1 alasan knapa kita ga deploy pespur disana, atau minimal coba itu dari malang pesawat2 brazil kirim kesana setahun aja, test
Balasan post nganggur
@nganggur gak ada ngomong lisensi itu hanya. dipikir komponen vitalnya bisa diproduksi sini ????. lagian insurgent dihajar maverick dari F-16 apa gak kemahalan ????
profile-picture
ruhnama memberi reputasi
Balasan post namdokmai
@namdokmai daripada korban terus dari TNI? efektif mana? sudah berapa ratus korban, apa biaya mendidik 1 TNI murah?
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di