CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
He was my drugs (Part 2) - END - [ Is that Tqla that matters? ]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e36ad28349d0f11015ed351/he-was-my-drugs-part-2---end----is-that-tqla-that-matters

He was my drugs (Part 2) - END - [ Is that Tqla that matters? ]

He was my drugs (Part 2) Is that Tqla that matters? 
      
Tidak semua orang di dalam hidupmu, orang yang kamu anggap penting dapat membalas dengan mementingkan dirimu juga. Tak jarang, bahkan terlampau sering yang selalu diperjuangkan sepenuh hati ternyata hanya berbagi denganmu setengah hati. Sisanya, entah disimpan entah diberikan kepada tidak tau siapa, akhirnya yang kamu dapatkan hanyalah sebagian kecil dalam hidupnya.

 

Baginya, kamu hanyalah pelengkap di dalam kisah perjalanan hidupnya. Sementara kamu sudah terlanjur menaruh seluruh harapan. Hidup terkadang seperti lelucon, begitu lucu bahkan menggelikan. Kamu yang pernah memberikan hal yang paling terbaik dalam hidupmu, mendapatkan perlakuan yang mengakibatkan kamu merawat lukamu sendiri.

 

***

Pagi ini aku sudah stand-by di kantor dari sekitar pukul setengah delapan pagi, rekor yang cukup mengagumkan buatku karena biasanya aku selalu terlambat datang ke kantor maksimal jam setengah sepuluh ibu jariku baru bisa kutempelkan di mesin absen finger print. Namun, karena semalam Direkturku dan Manager HRD membertitahu bahwa akan ada junior sekretaris baru, aku harus tiba lebih awal untuk memberikannya sedikit briefing kecil seperti budaya kantor dan knowledge-knowlwdgenya, ya lebih sekedar formalitas sajalah. Sekretaris baru tersebut dijadwalkan oleh HRD-ku untuk datang jam setengah sembilan. Maklum saja biasanya seorang pegawai baru disuatu perusahaan akan datang lebih awal dari waktu yang dijadwalkan, begitu juga dengan si yang akan aku briefingini. Sekitar pukul delapan kurang dia sudah tiba dan meminta receptionist untuk memberitahukanku tentang kedatangannya.

 

Tidak pakai basa-basi lama aku segera meminta receptionistuntuk memasukkannya kedalam ruang meeting besar selagi aku touch-up make-up ku.

 

“Pagi” sapaku dengan ramah, senyum tiga jari lebih tepatnya agar memberikan kesan first impressionyang baik. “Udah lama ya”?

“Pagi mba, engga kok baru sekitar sepuluh menit yang lalu” balasnya sambil langsung berdiri dari kursi.

Aku langsung menutup pintu dan menghampirinya sambil mengurlurkan tangan memperkenalkan namaku “Yola, tapi aku kalo dikantor biasa dipanggil aloy”

“Oh aku rena mba kataya membalas uluran tanganku sambil sedikit membungkuk.

“Gimana tadi perjalan kesini susah gak ? Macet banget ya pasti”? aku membuka pembicaraan.

“lumayan mba, tapi udah biasa sih dulu setiap ke kampus pagi juga kaya tadi situasi jalanan, jakarta kan gitu-gitu aja mba” jawabnya dengan senyum

Sambil aku membuka-buka berkas yang kuterima dari HRD perihal si Rena yang akan menjadi junior sekertarisku, aku sesekali menatapnya karena terkesima dengan prestasinya. Lulusan Universitas Indonesia. Wow, would be such a good colleague to cooperate with.

Btw, kamu kenapa mau jadi sekretaris?

Si lawan bicaraku terlihat terdiam sejenak memikirkan jawaban terbaiknya “mm, mungkin karena aku suka pake rok-rok mini gitu kali ya mba hehe sekretaris kan terkenal kaya yang fashionable gitu” jawabnya polos.

What the hell ! Baru pertama kali aku mendengar alasan semacam ini, sereceh ini untuk menjadi sekretaris, autoheran langsung kepada HRD-ku kenapa bisa menerima karyawan seperti ini. Mungkin harusnya aku dilibatkan dalam pemilihan junior baru yang akan langsung bekerja denganku.

Aku bingung harus merespon apa dari jawabannya yang sangat serius tadi, tidak ada keraguan dari wajahnya, sehingga aku yakin jawannya bukan lelucon.

“hahaha are you kidding me? Lucu banget jawaban kamu, itumah fakesekretaris tau yang kamu bilang pake rok mini gitu, sama yang suka godain bos ya ?”

“ih bukan mba, emang dari jaman aku kuliah di otak aku tuh sekretaris tuh kaya apa yang aku bilang ke mba tadi” katanya lebih serius dari pada statementnya yang pertama.

Seperti salah sasaran karena pembicaraan yang aku kira akan membawaku untuk mengenalnya lebih baik namun menjadi awkward, aku memutuskan untuk menyodorkan booklet dan majalah kantor kepadanya agar mudah dalam menjelaskan perintilan-perintilannya nanti. “mmm ini kamu baca dulu aja deh kalo gitu, kalo ada yang gangerti tanya aku ya, sekarang kamu ikut aku aja untuk room toursama langsung ke desk kamu”

“Oh oke mba”

 

***

Sebenarnya memang banyak sekali bermunculan diluar sana beberapa paham yang terkesan tidak baik tentang pekerjaan sebagai sekretaris. Banyak yang beranggapan bahwa wanita-wanita yang menjadi sekretaris disuatu perusahaan pasti hanya mengandalkan kemolekan fisik dan kecantikan wajahnya tanpa memiliki kecakapan dalam hal intelektual. Come on vellas, we are, a secretary need to be smart and multitasking. Gak ada orang yang bisa multitaskingkalo dia gak pinter. It’s related one to another. Jadi, kayaknya kalo banyak teori yang bilang harus cantik doang, itu salah besar.

 

Saking aku gelinya dengan jawaban Rena si sekretaris baru, ku keluarkan hpku untuk menghubungi seseorang yang I can’t live without with. Cya!

 

Me: Yang kamu lagi ngapain udah bangun belom ?

Me: Ping

 

Tidak berapa lama chatku terkirim, status whatsappnya langsung berubah menjadi online.

 

Noah : lagi boker nih sambil sebat, kenapa yang ?

Me: Najis, kebiasaan deh kamu lama-lamain diri di kamar mandi, gaboleh tau kata mama aku di kamar mandi tuh banyak setannya.

Noah: Lah kita kalo di apart “main” sambil mandi, lama kan yang? Nah loh wkwkwk

Me: oiya wkwk beda tapi anjir

Me: eh aku mau cerita deh, masa di kantor aku ada sekretaris baru, anak UI

Noah: wkwk terusss? Cuma karena anak UI ?

Me: belom aku belom selesai cerita

Me: jadi kan aku basa-basi nanya sama dia tadi pagi, pertanyaan simple sih yang, pertanyaan HRD lah ya bisa dibilang. Aku nanya sama dia kamu kenapa mau jadi sekretaris, guess what’s the answer?

Noah: biar bisa dapet setengah saham perusahaan karena jadi simpenan bos ? wkwk

Me: wkwk LOL. Mirip. Dia bilang intinya karena dia suka pake rok mini gitu deh wkwk

Noah: Lah jadi model aja anjir wkwk ngakak

Me: aku kira dia bercanda, tapi mukanya serius

Noah: Mukanya cantik gak? Wkwk kamu lah ya yang paling cantik

Me: lah genit lu, kurang-kurangin wkwk

Noah: aku mau cebok sekalian mandi dulu ah abis itu mau ke studio ya

Me: yang bersih byeee

 

***

Setelah selesai aku mengajak Rena room tourdan mengenalkannya kepada seluruh isi kantor aku langsung mengantarkannya ke meja kerjanya.

 

“itu deskkamu ya ren, kalo butuh ATK nanti telfon aja ke ext 114, sebutin aja ke pak amal apa yang kamu butuhin nanti dianter”

“siap mba, btwkalo mau makan siang disini dimana ya mba”?

“loh emang kamu gak dikasih tau ya sama HRD? Kita disini pake catering, jadi gaperlu beli makan lagi, tapi kalo cateringnya gak sesuai sama kamu ya kamu dipersilahkan gak makan cateringnya terus beli diluar, gituuuu” kataku menjelaskan

“oohhh gitu mba,  nanti kalo udh mau makan siang aku bareng ya mba”

“iyehh”

 

***

Entah mengapa karena first impressionkukepada Rena tidak terlalu bagus perihal tadi pagi, aku agak malas untuk terlalu banyak bicara dengannya. Bahkan untuk sekedar basa-basi pun aku enggan. Tapi, sepertinya Rena adalah anak yang supel dan mudah bergaul. Terlihat di hari pertamanya bekerja Rena sudah bisa bercanda dengan karyawan-karyawan senior yang lain. Seperti melihat diriku di dalam dirinya tapi dengan versi yang berbeda ya. Hahaha!

 

“Ren, ayo makan yuk” ajaku. Lebih seperti basa-basi saja karena arah pantry melewati desk-nya.

“oh udah jam 12 ya, yuk mba”

Dalam perjalanan ke pantry aku hanya diam, enggan untuk membuka obrolan. Evenhanya sebuah obrolan kecil, malas sekali rasanya. Tapi ternyata Rena tidak merasakan hal yang sama.

“Mba punya instagram gak?” tanyanya

“punya”

“mau dong follow-followan mba, boleh kan? Nih” sambil menyodorkan hpnya kepadaku. “Langsung ketik disitu aja mba alloy nama IG-nya apa”

“mm … wait ya… oke done ya”

“eh jangan di exit mba, aku mau liat heheh boleh kan”

“sabeb” kataku malas

“wah mba aloy suka clubbing ya, asik banget parah, jadi ada temennya deh aku”katanya sumringah

“oh kamu suka party juga?”

“suka banget mbaa, gakeliatan kan muka aku muka-muka suka party ?”

Aku mengerenyit.

“aku juga suka banget minum mba, ganyangka kan?”

Makin bingung. Jarang sekali ada orang yang membuat statement dan penilaian atas dirinya sendiri. Tidak tahu harus berkata apa akhirnya aku hanya meresponnya datar “wah, iya sih gakeliatan, muka baik-baik banget lo ren”

“Masasih, hahaha iya mba banyak yang bilang gitu juga kok diangkatan aku waktu aku masih kuliah”

“bagus dong, jadi gak ada yang tau kalo sebenernya lo nakal” kataku lagi-lagi datar

“tapi gue kadang suka bingung gitu mba kalo party gitu”

“bingung kenapa”?

“iya rumah gue kan di condet, sumpah banyak banget begal gue jadi suka takut pulangnya”

Receh banget sih anak satu ini, batinku. “Lah deket dong rumah kita rumah gue di Kalibata, bisa bareng lah ya kalo gitu”

“yaudah aku nanti pulang kerjanya bareng ya mba, gapapa kan?”

 

***

Sebuah pesan singkat kukirimkan pada Noah.

Me: Yang nanti kamu jadi jemput aku gak?

Noah: sekarang genap atau ganjil ya?

Me: Ganjil

Noah: bagusss, aku jemput ya, nanti kabarin aja pulang jamberapa

Me: ada penumpang tambahan ya

Noah: tumben, siapa yang mau bareng ? searah gak?

Me: si rok mini, dan kamu harus tau ya dia kan minta ig aku, aku kasih. Terus krn banyak foto kita party dia bilang dia juga suka banget party, dia suka banget minum, padahal dr mukanya gak keliatan samsek anjayyyy

Noah: wkwkw yaudah nanti aku langsung liat aja di TKP

 

***

“ren, gue dijemput laki gue ya gpp kan”?

“gapapa lah mba, namanya juga aku nebeng”

“udah dibawah nih orangnya yuk turun”. Kulihat mobil Noah sudah menunggu di lobby. Setelah mengucapkan terimakasih kepada security karena telah membukakan pintu aku dan rena masuk kedalam. “yang kenalin ini rena”

“hey, gue noah ya” kata noah sambil menengok sedikit kebelakang. “Oh ini yang suka minum itu ya”?

Hening. Apasih maksut Noah, aku benar benar kaget karena perkataannya barusan. Penasaran dengan reaksi Rena aku pun membalikan badanku menghadap Rena kebelakang. Namun tanpa disangka-sangka pipinya malah terlihat merah merona tanda malu.

“ih mba aloy cerita ya, jadi malu aku, ngebeer langsung aja apa nih kita”?

Benar-benar seperti disambar gledek. Sudah tidak waras ya dia ? Respon dari Noah juga tidak kalah mengagetkan.

“asekk, yuk dimana nih loy?”

“hah? Dimana apaan gila lu pada ya”

“cepetan nih ntar muter baliknya jauh anjir, duck down aja ya? Oke duckdown”

“oke”. Kata Rena lantang.

 

Duckdown – Senopati, Jakarta

 

Terletak di basement gedung SOHO di Gunawarman, Senopati. Duckdown merupakan bar keluaran terbaru. Menyuguhkan konsep segar yakni Dive Barala-ala Amerika, yang di penuhi dengen nuansa rock & roll, atmosfernya juga chaotic banget, sungguh menyengkan!

Duckdown menjadi bar yang paling hits karena acara Karoekenya setiap hari Kamis yang dipandu dengan host yang berbeda-beda. Walaupun terkesan sempit karena letaknya di basement, duckdown tidak pernah sepi akan pengunjung, malah aku sebagai yang tak pernah absen menghadiri acara karokenya harus reserve table dari jauh-jauh hari.

“mau minum apa”? tanyaku kepada rena

Matanya terlihat mengamati seluruh isi bar ini lekat-lekat. Seperti orang yang baru pertama kali pergi ke bar.

“apa aja mba” katanya masih sambil terus mengamati

“pembukaan dulu deh kita Tqla-an yang, gimana” ? noah bertanya padaku sambil siap-siap menyalakan koreknya untuk memanggil waiter. Beruntungnya malam ini duckdown tidak terlalu ramai, masih ada satu meja standing table kosong di tengah.

“tqla boleh juga”

Tidak lama setelah itu waiter datang dengan Tqla pesanan kami. Rena langsung mengambil dua shot tanpa basa-basi

“yuk langsung, katanya”

Aku dan Noah bertatap-tatapan heran. Bahkan sebelum aku dan Noah mengatakan sepatah kata, Rena sudah menenggak habis satu shot Tqla. Setelah itu dia sempat terdiam sejenak, mengerjapkan matanya. Di menit setelahnya, Rena mulai meracau.

“Kakak-kakak tau gak…hahaha..aku seneng deh, ini tuh pertama kali aku minum” katanya dengan posisi duduk yang tidak stabil.

You all guys need to believe as a reader, bacotnya orang mabok tuh yang paling jujur.

Tangan rena megambil satu shot Tqla lagi, aku dan noah diam saja. Ditenggaknya lagi satu shot. Rena mulai benar-benar kehilangan kesadaran kali ini, namun masih terus meracau.

“aku sedih banget” Rena kali ini mengis tersedu-sedu, bercerita dengan suara keras hingga table-table dari segala posisi menatap ke table kami. Rena melanjutkan “papa mama aku divorce, sekarang aku merantau sendiri, gak ada yang peduli sama aku” katanya sambil tersedu-sedu air matanya membasahi pipinya. “ahh sebel!!!” dia mulai berteriak dan mengibaskan tanganya di round table kami hingga membuat dua gelas tqla yang telah habis dia minum terjatuh dan pecah.

Semua mata benar-benar tertuju kepada kami.

Asli. Kampung!

Rena melanjutkan tangisannya dan tetap pada racauannya "nih! nih! liat nih tangan aku, aku sampe cutting my self, i do really hate my life, i miss my dad" katanya sambil melipat tangannya kemeja dan menyenderkan kepalanya disana sambil terus menangis meraung-raung.

What the hell is happening with you, girl?

Aku segera turun dari standing chair. Namun Rena mengambil satu shot lagi dan langsung menenggaknya tanpa aba-aba. Saat dia mengangkat tanganya memang kulihat bekas luka pada nadinya, namun karena kurangnya penerangan, tidak bisa kupastikan apakah luka di nadinya tersebut dalam atau tidak seperti halnya sayatan sampai muncul keloid karena bekas jahitan.

“AHHH, I WANT TO PUKE. RIGHT KNOW!! SHIT”

Rena teriak dengan sangat kencang.

Noah terlihat geram, rahangnya terlihat menggeras. This is our first time to face a liar, i meanuntuk apa juga Rena berbohong kalau dia memang tidak pernah ke club atau bahkan belum pernah mencicipi alkohol sama sekali ?

*** to be continue***


pertamax
ada banyak manusia macam si Rena ini dan itu tidak mengherankan buat ane emoticon-Cool

He was my drugs (Part 2) [It's harden]

If you catch yourself begging someone for … human decency? a response? time together? clarity? respect? some compassion? some kindness?

You just need to step back.

Come on, realize that you’re begging someone for the bare minimum. That’s ridiculous and beneath you.


Aku tidak pernah ingin dianggap “nakal” oleh siapapun, aku juga tidak pernah bangga akan kehidupan malamku dan hobby partyku setiap minggu. Bagiku itu hanya hobi, dan bukan suatu nilai plus untuk diriku. Bahkan ketika banyak orang selalu meledeku dengan sebutan Ms. Party aku suka risih. Jadi, kenapa ada orang yang rela berbohong demi dianggap “nakal” atau untuk diterima dalam society ? Insane.

Malam itu ketika Rena berteriak bahwa dia ingin muntah, aku dan Noah terdiam, karena malu ketika semua mata puluhan manusia di Duckdown tertuju pada meja kami. Hal yang paling memalukan untuku adalah ketika malam ini semua manusia di bar ini hanya terlihat minum-minum santai sambal mendengarkan acara live music, juga sekarang masih terlalu sore untuk seserorang benar-benar passed out karena mabuk. What a shame!

Rena bangun dari standing chair, berjalan oleng tanpa tau letak toilet. Aku yang mengamatinya dari belakang, sejenak memejamkan mata menahan kesal lalu bangkit menghampirinya. Dengan sedikit berlari kecil aku datang untuk langsung memapahnya sebelum dia tersungkur dilantai. Sepertinya Noah sedari tadi hanya terlhat menggretakkan rahangnya karena kesal dan menyalakan rokoknya.

“Ren..ren yuk disini yuk toiletnya,sini pegangan gue nanti lo jatoh ngerti gak” kataku sambil memapahnya.

Rena melepaskan tanganku dengan kasar “Ihh apansih! Gue tuh gapapa!” katanya sambil berteriak seperti tadi.

Aku terdiam. Emosiku benar-benar memuncak sekarang. Ini bukan kali pertama aku megurus orang yang mabuk berat seperti Rena. Aku juga pernah menjaga Noah yang mabuk berat hingga muntah dan tertidur di lantai. Tapi yang satu ini benar-benar mengesalkan.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan kalimatku.

“Ren…” belum selesai aku dengan kalimatku, bahkan baru namanya yang keluar, Rena sudah berteriak lagi.
“Apasih?! Berisik tau gak! Aku bisa tau jalan sendiri, orang aku gapapa! Sana!” teriaknya lagi kepadaku sambil berjalan kearah toilet dengan tidak stabil bahkan hampir menabrak waiter-waiter yang berdiri di dekat standing bar.

Tidak ada yang pernah meneriaki aku seperti ini di tempat umum, meski aku tau Rena mabuk, tapi aku tau Rena tetap setengah sadar dalam melakukan semua ini. Sontak aku berjalan cepat menuju Rena dan menarik tangannya hingga langsung menghadap ke mukaku.

“Ren, denger gua! Ngomong sekali lagi kalo lo gapapa dan lo gabutuh gue buat ngejagain lo! Ngomong lagi!” bentakku

Rena menarik tangannya kasar dari peganganku “Iya, iya kok aku gapapa udah sana pulang!” bentaknya lagi.

Kali ini aku benar-benar tidak perduli dengan semua mata yang menuju kearahku bahkan Noah kulihat terduduk mematung speechless. Aku membalikan badanku dan langsung menuju table.

“yang aku mau pulang aja, terserah kalo kamu kasian sama dia dan mau nungguin si tolol itu, tapi akum au balik aja” kataku kepada noah sambil menggantungkan tas ku di Pundak.

“yeh kok gitu, kalo kamu pulang aku juga pulang lah ngapain amat ngurusin orang mabok, bentar kalo gitu aku minta close bill aja dulu ya” katanya sambil mematikan sepuntung rokoknya yang hampir habis.

Ketika Noah berjalan kearah kasir, dari belakangku aku lihat dua security masuk ke arah toilet kemudia satu waiter wanita juga masuk kesana. Tidak berapa lama ketiga manusia itu keluar dengan membopong seseorang yang seperti sudah tidak sadarkan diri.

Rena!

Namun hal yang tidak terduga adalah semua orang langsung menoleh kepusat kejadian perkara kemudian “WHUEEEEEEEEEEEEEE CHAMPION!!!!” satu bar berkata bersamaan sambil memberikan tepuk tangan yang sangat meriah bagaikan supporter bola yang senang jagoannya juara, bahkan dari beberapa table dapat aku lihat ada yang sampai memberikan standing applause untuk Rena. Saat digotong oleh tiga orang tersebut terlihat celana dalam Rena karena saat itu dia hanya memakai rok sepan ketat diatas lutut.

Tolol! it such embarrassing!

Noah terlihat memejamkan mata, kemudian satu tanganya mengepal dan dipukul-pukul kannya ke kepala. Aku pun hanya tertunduk kemudian mengelus-ngelus jidatku yang tidak gatal.

“mba ini temennya mau kita taro mana’? kata seorang security kepadaku

“eh .. mmm.. taro.. taro depan aja pak.. bawa kedepan aja deh taro di tangga dulu pak, aku mau bayar dulu” jawabku bingung

Setelah Noah selesai dengan bill, kami langsung mencari Rena di depan. Aku juga memberikan sedikit uang tips kepada dua security tersebut karena telat membantu menggotong Rena dari toilet kedepan. Noah kemudian menggendong Rena masuk kedalam mobil.

“No, kayanya kita nganterin doi ke hotel aja deh, gue gatau sumpah rumahnya dimana, gamungkin gue nanya HRD jam segini kan?”

“kalo kita anterin dia ke hotel, lah besok dia kerja gimana loy, emang lo mau pagi-pagi kehotel buat ngecek dia kenapa-napa apa engga? mager kan?”

Akhirnya. Aku memutuskan untuk menunggu sekitar satu jam-an di dalam mobil sampai Rena sedikit sober dan aku bisa tau kemana harus mengantarkannya pulang. Kurang lebih sekitar satu setengah jam Rena tiba-tiba bangun dan bilang ingin muntah, akhirnya aku memberikan satu kantong plastik besar untuknya memuntahkan seluruh isi perutnya.

Dua puluh menit setelahnya Rena sudah bisa diajak bicara walaupun masih tidak jelas. Aku sempat menanyakan dimana alamat rumahnya, namun karena Rena hanya mengeluarkan satu kata yaitu Condet, Noah langsung mengarahkan mobilnya kesana. Setelah sampai di condet, barulah aku bertanya posisi jelasnya.

“Ren udah di condet nih, dimana cepetan” kataku

“mm.. itu tu.. itu.. samping majestyk belok kiri” jawabnya dengan tidak jelas.

Kost-kosatan Rena, Condet

Bangunan dua lantai ini lebih terlihat seperti rumah dibanding kost-kostan. Memang ternyata ini adalah satu rumah yang di sewa Rena selama hidup di Jakarta. Temanya putih, asri sekali dengan banyak pot-pot bunga, kaktus dan ada juga pohon bunga kamboja. Halamannya dibuat sangat cozy dengan adanya rumput gajah disepanjang teras. Kemudian ada juga kolam ikan sebelum masuk kedalam si rumah inti.

“Ren, udah sampe nih” kata reno sambil memarkirkan mobilnya didekat pagar.

“Bisa jalan sendiri gak kedalem, atau mau di gendong Noah aja?” kataku

“ck kamu ah, berat” bisik Noah

Aku terkekeh. Namun aku tetap meminta Noah untuk menggendongnya masuk kedalam karena takut si nona rok mini terjatuh lagi.

“yang aku tunggu dimobil aja ya, capek banget” pintaku kepada Noah

Noah hanya mengangguk sambil berusaha menggendong Rena keluar dari mobil, aku hanya turun sebentar untuk membukakan pagar dan pintu yang kuncinya aku ambil dari tas Rena. Setelah selesai tugasku aku masuk lagi kedalam mobil untuk menunggu Noah. Aku memutar lagu dari spotifyku yang aku connect dengan Bluetooth ke mobil.

Sembilan lagu sudah terputar namun Noah belum keluar. Aku putuskan untuk menyusulnya, namun ketika aku hendak turun dari mobil. Noah keluar dari dalam, menutup pintu dan pagar lalu masuk kedalam mobil.

Ada yang aneh.

His dick is harden.

………………….

Bahkan celana jeans tebalnya dapat memperlihatkan aku betapa kerasnya kepunyaannya berdiri.

“yang kamu kenapa deh, why…” mataku tertuju pada kepunyaanya

“Rena tadi megang, hhh kesel banget deh aku, langsung ke kostan aku aja ya kamu nginep aku pengen main banget sama kamu tiba-tiba” katanya sambil memelintir nipplesku

Aku mengerenyit

“kok tiba-tiba deh yang? Tumben” kataku heran

Noah selalu menjadi guardian untukku dan teman-teman wanitaku disaat kamu mabuk berat. Dia juga sering mengantarkan teman-temanku yang mabuk ke rumah, hotel atau apartment mereka, bahkan tanpa aku. Tidak sekali atau dua kali bahkan bisa dibilang sering. Tapi, aku tidak menaruh curiga dan prasangka buruk apapun.

But, this time……

Should i put all my believe on you, my dear Noah ?


*** to be continue***

As you make your bed, so you must lie

Malam itu, setelah kamu dan aku mengantar Rena pulang kerumah, kamu mengajak aku untuk menginap di kostanmu. Sejujurnya aku sangat lelah dan ingin langsung pulang dan beristirahat dirumah tanpa harus “bermain” dulu denganmu, namun aku takut kalau kamu berbuat macam-macam jika aku langsung pulang karena kejadian mencurigakan tadi. Aku sejujurnya tidak ambil pusing, orang mabuk bisa melakukan apa saja tanpa dia sadari yak kan ?

Sesampainya di kostanmu, kita langsung bermain hingga tengah malam kemudian ditengah acara cuddle-cuddle-an kita kamu tertidur lebih dulu, huh dasar curang! Aku yang langsung melirik jam kala itu sebenarnya enggan untuk tidur karena sebentar lagi menjelang pagi dan rasanya sakit kepala kalau harus tidur hanya beberapa jam saja, mending tidak usah sekalian. Tapi apa daya, karena kamu meninggalkan aku tidur, aku jadi iseng dan akhirnya mengantuk dan tertidur, untung handphoneku bergetar hebat setelah ada satu panggilan tidak terjawab. Dari… Rena.

You have one missed called from Rena.

Kulihat jam yang sudah menunjukan pukul tujuh tiga puluh. Dalam waktu tiga puluh menit sudah akan masuk jam kerja, fikirku Rena pasti mau mengabari bahwa dia izin hari ini karena masih dalam proses pemulihan (tsaahh..padahal hanya minum tiga gelas tqla). Kuputuskan untuk mengirim pesan padanya duluan.

Me: Kenapa Ren, udah soberkah?
Rena: Mbaaaaaaa, I’m so sorry ya tentang yang semalem huhuL
Rena: gue gak malu-maluin atau nyusahin kan
Gak nyusahin ? Andai saja kejadian semalam aku rekam atau ada orang lain yang tanpa aku sadari mengabadikannya mungkin saja aku akan dengan sangat meminta video tersebut agar Rena tahu betapa memalukannya kelakukan dia semalam ketika benar-benar “passed out”.
Me: wkwk, nyusahin lah gak deng
Rena: huhuhu serius dong mbaaa, yaudah deh malem minggu gue yang bikin party gimana
Rena: sekalian gue kenalin sama laki gue mba
Oh! Rena punya pacar toh ternyata. Agak menyesal aku rasanya semalam dengan Noah menjaga Rena seperti itu, kalau tau dia sudah punya pacar mah aku pasti akan lebih memilih menelfon pacarnya agar bisa datang menjemput Rena di Duckdown.
Me: OH LO PUNYA PACAR YA, ASLI KAGET MAKANYA CAPSLOCK wkwk
Rena: wkwkw iyaaaaa, gimana? Sabtu ya, bilang kak Noah juga
Rena: say thanks juga buat kak Noah, maap ngerepotin
Rena: gue siap2 dulu ya mba, lo kerja gak btw ?
Me: kerja tapi agak siang ah datengnya, mager banget aslehhh
Rena: halah bilang aja masih mau cuddle sama kak Noah wkwk, happy cuddle gaizzz
Me: sukak bener kamoh, thankzz dear
She’s kinda a good person tho! Jarang-jarang loh ada orang yang sudah dijagain mati-matian pas lagi mabuk, terus ketika sudah sadar mengucapkan terimakasih dan bahkan melontarkan permohonan maaf karena (pasti) menyusahkan semalam. I do really appreciate for her effort loh! Applause.

***

Aku baru tiba dikantor sekitar pukul 11.25, sedangkan di kantor biasanya semua orang sudah mulai makan siang pukul 11.30 hahaha how good is my life ya baru datang sudah langsung makan siang.
“mba” Rena menepuk pundaku. “Malem ini gue di jemput laki gue, lo bareng gue aja yuk sekalian ngebir-ngebir cantik dulu” tambahnya
“hahaha ada angina apa lo tiba-tiba ngajak ngebir lagi belom kapok lo tentang passed out semalem ?” kataku
“siallllll, etapi makasih loh mba takecare gue, gue udah cerita juga soalnya sama laki gue perihal semalem makanya dia bilang kita bales aja lah ngajak lo ngebir juga… gituuu eh lo ajak kak Noah juga aja mba sekalian, suruh nyusul”.
“oke deh nanti gue kabarin”
Sebenarnya tanpa Rena bilang untuk mengajak Noah, aku sudah pasti akan memintanya unuk menemaniku. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh mereka berdua terhadapku?

Satu pesan kukirimkan kepada Noah.
Me: Yang Rena ngajak ngebir tapi the buzz is on her, ngebales semalem katanya
Noah: Najis lebay banget wkwk
Me: wkwk nanti kamu nyusul ketempatnya aja ya pas udh sampe disana soalnya Rena blm ngasih tau mau ngebir dimana
Me: menurut aku seputaran SCBD senopati sih pasti
Noah: awkay beb, berkabar aja yahh

***

Sudah dipastikan jalanan Jakarta apalagi daerah pusat kota seperti kantorku SCBD dan sekitarnya akan memasuki rush hour yang menyebabkan beberapa mobil akan stuck berjam-jam dijalan di saat jam pulang kantor tiba. Benar saja, pacar Rena terjebak kemacetan, padahal sudah di Semanggi katanya. Akhirnya, karena malas menunggu dikantor alias takut dikasih kerjaan lagi kalo batang hidungku masih ada di ruangan, aku mengajak Rena untuk menunggu pacarnya di Pacific Place saja sambil ngopi atau cari cemilan.
Setelah dua jam berkeliling di PP sudah plus beli kopi di Starbucks akhirnya pacar Rena datang dengan mobil fortuner hitamnya.
“Anjir, gila lo lama banget mau bunuh kita apa gimana sih” omel Rena setelah kita berdua masuk mobil.
“lo aja sini yang nyetir, ck marah mulu lo” balasnya lebih nge-gas
Aku tersenyum kecil, melihat mereka seperti itu, ingat ketika dulu aku dan Noah di bulan-bulan pertama pacaran.
“eh astaga sorry-sorry mba, kenalin pacar gue bas, maaf banget nih first impressionnya udah jelek banget karena telat dua setengah jam” mata Rena mendelik sinis kearah pacarnya.
“sorry banget mba yola macet banget parah, gue bas mba. Baskara”
“baru gue mau nanya itu nama panggung apa nama asli keren banget gitu “bas” ternyata baskara, nice to meet you ya”
“mba aloy cantik loh asli beda sama yang di foto” kata bas sambil serius menyetir
“jangan mau di banokin mba, emang centil nih anak” timpal Rena
“lucu lo berdua” kataku sambil geleng-geleng. “eh jadinya dimana nih Ren, gue mau ngabarin Noah soalnya”
Sebelum Rena menjawab, Bas sudah memberikan jawaban “basque aja yuk? Gimana girls?”
“aku sih kemana aja yang, pulangnya yang penting aku dianterin” Rena terkekeh
“oke Basque ya, fix nih ya soalnya gue mau ngabarin Noah”
“gapapa kan mba tapi keluar dari daerah-daerah SCBD? Gak kejauhan kak Noah?” tanya Rena
“Dimana aja dia mah anaknya” balasku sambil serius menatap layar HP-ku. “ini fix basque ya, gue kabarin Noah nih?”
“IYAKKKK” kata mereka hampir bersamaan.

Basque Bar de Tapas, Kuningan Jakarta
Bangunannya terletak di tengah-tengah gedung pencakar langit a.k.a skyscrapers of Mega Kuningan. For me, Basque is the perfect spot from 8th floor of Noble House to relieve your stress dari aktivitas-aktivitas sehari-hari yang sangat melelahkan. Interiornya benar-benar eye catching. Katanya design Basque sampai menarik pengekspor terkenal dari Spanyol, Tapas. Area yang luas yang memiliki banyak celah dan sudut menjadikan tempat ini pas untuk pengunjung yang butuh privacy. Tagline nya “bar de tapas” benar-benar menjelaskan bahwa tempat ini menu makanannya pasti tidak jauh-jauh dari Tapas, Spanyol. Namun berdasarkan beberapa riset yang aku baca sebelum datang kesana dan menulis thread ini, Basque sendiri lebih mengacu kepada perbatasan Spanyol dan Prancis, jadi, untuk segi makanannya merupakan makanan yang jarang ada di Restaurant khas Spanyol lainnya, so Tapas may not be the type of dish that is easily understood untuk beberapa orang.

Setelah sampai di Basque, Bas langsung memesan satu table dan memesan dua botol Champagne sebagai pembukaan. Aku yang memilih meja di dekat kaca agar lebih chill.

Tadi, ketika Bas datang menjemput aku dan Rena, aku tidak bisa terlalu memperhatikanya secara detail, namun ketika sudah turun dari mobil, masuk kedalam Tapas dan mendapatkan table, aku benar-benar memberikan standing applause kepada Rena, karena Bas menurutku adalah lelaki yang tampan, tinggi, berbadan atletis menunjukan bahwa dia orang yang suka olahraga (I guess), dan lagi tattoo di lengan kanannya dengan tema garis-garis asimetris menambah lagi nilai ketampanannya. Bisa dibilang tipe-tipe cowo metroseksual banget sih. Bahkan menurutku Noah benar-benar kalah tampan dengan Bas. How lucky you are, Ren!

“Kak Noah udah dimana kak”? tanya Rena
“udah deket deh kayanya udh di Kokas, kayanya bentar lagi sampe” balasku
“ohhh, yaudah kalo gitu gue mau ke toilet dulu ah, mau ikut gak mba”? Rena berdiri sambil membawa clutch biru donkernya, yang sepertinya dapat kupastikan isinya adalah makeup.
“Malam kak, ini dua champagnenya, mau langsung di tuangin untuk diminum sekarang atau gimana kak?” kata waiters sambil meletakkan empat gelas tinggi ramping untuk champagne kami.
“boleh mas langsung dituangin aja untuk botol pertama” kata bas ramah kepada si waiters laki-laki disamping kami.
“engga deh Ren, lo aja” jawabku perihal ajakan Rena tadi untuk ke Toilet.
“oke, gue ke toilet bentar ya” kata Rena seraya berjalan menuju Toilet.
“sip, udah semua ya kak enjoy your drink” waiters tersebut melempar senyum ramah kepada kami kemudian berlalu.
“Oke juga tuh waiters…hahha pelayanannya” kata Bas sambil mengambil segelas champagne didepannya kemudian membenturkan gelasnya ke gelasku tanda mengajak cheers.
“yaiyalah oke coy, namanya juga bar bintang lima. Cheers” kutenggaknya segelas champagne tadi berbarengan dengan Bas. Segar.
Seperti ada yang kurang, kukeluarkan rokok dari dalam tasku, kemudian menyalakannya sambil membuka topic pembicaraan. “eh btw lo udh lama sama Rena?”
Bas kemudian juga menyalakan rokoknya, sambil menyesap dalam-dalam rokoknya dia melirik kearahku “menurut lo udah lama belom mba?”
“lama sih kayanya, ya kan?”
“tolak ukur lama sih menurut gue itungan tahun ya, tapi gue sama Rena baru 6 bulanan gitu deh” jawabnya sambil memainkan asap rokok yang keluar dari mulutnya.
“sumpah? Gakeliatan ya hahah kaya udah lama gitu”
“mane mba hahaha, eh tapi dulu gue emang suka ketemu Rena gitu kalo kita lagi sama-sama nongkrong, kaya sempet beberapa kali ketemu gitu lah” Bas menjelaskan.
“oh iya? Nongkrong dimana emang kalian?”
“deket kantor lo hahaha, gak jauh-jauh kita mah mba mainnya seputaran SCBD-Senopati”.
“Mana? Duck down ye?”
“Hahah salah, Lola sama pao-pao, gue sering banget kesana, terus ketemu Rena beberapa kali juga, deket deket chatan jadian deh. Hahahah simple yeh” katanya sambil terkekeh malu. “Kalo lo sama Kak Noah gimana mba, apa kaya gue sama Rena juga?”
“hahaha kaga gua mah, kita satu angkatan, temen satu SMA, tapi deket dan ketemu lagi pas udah sama sama gede, cya gede apanya tuh yang gede”
Aku dan Bas tertawa terbahak – bahak bersamaan.

Tidak lama setelah itu Rena kembali dari Toilet. Benar dugaanku Rena pasti touch-up makeupnya karena sekembalinya dari Toilet Rena terlihat lebih segar karena polesan tebalnya
‘Lah, kak Noah belom dateng lama juga kirain udah sampe dari tadi” katanya sambil terlihat sedikit melirik kearah gelas champagne kami yang sudah kosong.
Iya juga fikirku, Noah lama sekali padahal kalau di perhitungkan seharusnya dia sudah sampai mengingat di 30 menit lalu dia sudah sampai Kota Kasablanka.
“Repot banget sih kamu, pacarnya aja santai aja nih pendampingnya belom dateng” kata reno santai masih sambil menyesap sebatang rokoknya yang hampir habis.
Belum sempat aku melihat ekspresi Rena, Noah datang dan langsung menghampiri kita bertiga ke table. Tidak susah baginya untuk menemukan dimana tableku berada karena dari pimtu masuk hanya ada beberapa meja yang terletak di sebelah kaca, dan dari beberapa meja tersebut hanya satu meja yang terisi, yaitu meja kami.
“Sorry ngaret yang, macet banget parah Kokas” katanya sambil melemparkan senyum manis andalannya kepada semua hadirin yang ada di table.
“Apal gue sih” kataku. Btw kenalin nih yang Bas pacarnya Rena”
“Hei bro, Noah, gausah panggil kak panggil nama aja kita cuma beda setahun doang kok” Noah memberikan bumpist kepada Bas tanda perkenalan.
“hahaha bas ya kak, asli gabisa gue kayanya kurang sopan aja. Duduk-duduk, mau dipangku apa gimana nih” balas Bas bercanda.

Setelah basa-basi bodoh kami, Noah memutuskan untuk membuka 2 botol vodka dan gin. Aku dan Noah yang memang sudah terbiasa untuk ngobrol sambil minum-minum sangat antusias dengan malam ini, tapi sepertinya tidak dengan Rena dan Bas.

“muka lu kenapa cengo gitu deh Bas hahaha” ledeku
“kaga ini serius ini dua botol, satu vodka satu gin, tanpa mixer? Siapa yang mau ngabisin anjirrr” katanya masih sambil menatap dua botol vodka dan gin yang baru saja di letakkan waiters diatas meja kami.
“woelahhh minum aja belom udah ngomongin gimana caranya ngabisinnya aja” sahut Rena
“gaya banget lo najis, ntar kalo tepar lagi kita kaga ada yang mau bantuin ye, biar Bas aja noh yang gotong-gotong lo dari toilet ke mobil” Noah menggoda
“HAHAHAH kaga lah gue tinggal lu kalo sampe skip ya Ren” Bas menimpali
“lah emang kalian kalo nongkrong gitu biasa minum apa?” tanyaku penasaran
“redler mba, yang chill-chill aja yang tipsy gitu gak bikin passed out HAHAHA” balas Rena
“mane tipsy, tipsy kaga kembung iya” canda bas
“pantes kalian ngeliat dua botol gini keluar kaget gitu, chill aja lah” Noah menimpali sambil tertawa
“tau lu kalo gak abis kan bisa dikeep aja. Yaudah yuk, langsung yuk kita jajal aja nih minuman, mau vodka duluan apa Gin? HAHAHA maaf ya kak udah bukan punya gue, gue yang nawarin lagi” canda Bas.
Satu jam kemudian, kita berempat sudah larut dalam alunan live music malam ini ditemani satu botol vodka yang masih setengah belum habis. Aku dan Noah seperti biasa, tidak terlalu sedikit minum dan tidak terlalu banyak juga. Beda dengan Rena, dia minum banyak diawal tidak terkendali, namun aku dan Noah tidak terlalu khawatir karena ada Bas yang bisa menjaga Rena dengan baik, sehingga Rena bukan menjadi tanggung jawab aku dan Noah lagi.

But, it was being different since I know there’s something different between Rena and Noah.

Makin larut, love music sudah digantikan dengan suara dentuman Bass dari DJ pilihan Basque bar de Tapas untuk menghibur pengunjungnya malam ini. Bersyukur aku music yang dimainkan DJ malam ini adalah music-music sejenis EDM RnB dan Hip-Hop.

Rena yang sudah tipsy, terlihat menikmati dentuman bass yang ada dan meminta ditemani berjoget di dance floor. Bas dengan sigap langsung menarik tangan Rena dan menggandengnya pelan menuju lantai dansa. How romantic!
“yang kamu gamau ikut kesana juga?” tanya Noah kepadaku
“Engga, kamu aja gih sana”
“bener nih? Aku mau ikutan joget juga ah, pupuy kalo gak dibawa gerak hehehe” kata Noah seraya berdiri dan meninggalkanku sendiri di table.

Aku yang memerhatikan mereka dari jauh melihat suatu keganjilan.

Disudut standing bar, Bas terlihat sedang mengobrol asik dengan cowo bule dengan tinggi dua meter mirip-mirip Zayn Malik namun tanpa tattoo. Mereka berdua terlihat sangat akrab, seperti teman lama. Aku mengamati dance floor mencari dua sosok manusia yang seharusnya dapat dengan mudah aku temukan di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang asik berjoget santai namun agak sedikit tipsy seperti Rena. But, I cant find them both.
Entah mengapa aku langsung mematikan rokoku. Menenggak segelas vodka murni milik Bas yang sudah diminum setengah, kemudian meninggalkan table begitu saja dengan barang-barang kami yang diletakkan bebas diatas meja. Aku berjalan mengampiri Bas dan teman bulenya. Bas juga tampak santai, seperti tidak ada yang salah dengan meninggalkan Rena sendiri di lantai dansa, tanpa ada yang menjaganya.. atau.. sudah ada orang lain yang menjaganya?

“hei loy, glad you move down here, please.. introduce my friend, Alex” kata Bas sambil menatapku dan Alex berganti-gantian.
Aku merasa sedikit canggung, karena tujuanku menghampiri Bas bukan untuk berkenalan dengan teman Bulenya yang yah…bisa dibilang memang cukup rupawan. Aku terdiam 3 detik sebelum menyambut uluran tangan dari Alex.
“Oh hi pretty, such a good name, I’m Alex” katanya super ramah sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapih serta putih dan bersih.
“nice to meet you Alex, you can call me yola in a formal way but friend of mine usually call me aloy, it’s more friendly for me” aku berusaha sedikit menjelaskan sambil menyambut uluran tangannya. Namun, karena ada tujuan lain aku menghampiri Bas, aku langsung bertanya kepada Alex “I do really apologize if being such a disturber if you don’t mind can I talk to Bas for a sec ? um it’s a personal matter ?” kunaikkan sebelah alis mataku tanda bertanya.
“OHH sure, take your time guys” balasnya seperti tidak enak kepadaku
“no, it just a simple question really, wait a sec alex, thankssss” aku sedikit menarik tangan Bas agar berdiri sedikit lebih jauh dari Alex. Aku takut Alex mengerti Bahasa, karena banyak teman buleku juga yang mengerti Bahasa namun tidak fasih dalam menggunakannya in conversation. “Bas, Rena kemana?”
Bas langsung menengok kearah tempat terakhir kali sepertinya dia meninggalkan Rena “dis…disana..disana mba tadi gue tinggalin bentar” dia putar badannya agar dapat melihat jelas kearah terakhir dia meninggalkan pacarnya itu.
“lo titipin ke Noah gak? Soalnya Noah ke dance floor juga” kataku sedikit berteriak karena suara music yang keras.
“Hah? Apa mba?” Bas menarik tanganku untuk berjalan menjauhi table dan seraya berjalan Bas masih sempat berpamitan kepada Alex “hey, I will call you later, just text me, sorry” teriaknya
Alex melambaikan tangan kanannya sambil memberikan jempolnya tanda setuju dengan perkataan Bas barusan.
Ketika sudah sampai ditable kami, terlihat Noah dan Rena disana, dengan Rena yang sudah tidak sadarkan diri seperti waktu pertama kali aku mengajaknya ke duckdown tempo hari. Pakaian dan rambut Rena juga berantakan. Really messed-up!

Aku dan Bas terdiam. Like we know there’s something wrong but we can’t mention it now.

“yang Rena muntah di toilet dan hampir berantem sama orang di standing bar” kata Noah cemas.

***to be continue***


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di