CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerita Pendek
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e35bdb2b41d303128612aca/kumpulan-cerita-pendek

Kumpulan Cerita Pendek

Kumpulan Cerita Pendek
Pict by: Google


Kumpulan Cerita Pendek


1.Imah

Penulis: Novi Yanti


Kumpulan Cerita Pendek
Pict by: Google

Imah beringsut turun dari ranjang, membenahi pakaian yang sudah tidak sempurna menutup bagian tubuh sintalnya. Mata bulat itu menatap tubuh tambun laki-laki tua yang bergeming terlelap. Mungkin kelelahan, ya .... hampir saja Imah kewalahan melayani napsunya. Iblis tua yang lupa usia. Bahkan lupa jika ajal akan tiba, entah kapan.

Diambilnya selimut yang teronggok di sudut ranjang, tubuh tanpa pakaian itu ditutupi selimut dengan sempurna. “Selamat tidur, sayang,” gumam Imah. Berjingkat menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Pagi ini Imah akan menikmati hari, berbelanja dan berfoya-foya. Apalagi? hanya kepuasan dunialah yang saat ini bisa membasuh segala lukanya. Tidak ada yang bisa melakukan itu, sekali pun para remaja muda yang haus harta. Ya, simbiosis mutualisme. Imah membutuhkan harta, bisa didapat dari si pak tua. Lalu para berondong itu, butuh rupiah untuk hidup layak, dan itu bisa dia berikan. Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri, Imah butuh kepuasan dan pemandangan indah layaknya perempuan lain. Menikahi tua bangka, apalagi Jika bukan karena harta? apa mungkin seorang perempuan belia menikahi Pak Tua karena cinta? Bullshit! Jika iya, tetapi ... mungkin saja, namun satu berbanding seribu rasanya.

*

Perempuan berkulit putih itu mematut diri di cermin. Usia yang baru masuk tiga puluh tahun, terlihat sempurna layaknya gadis berusia dua puluh tahun. Imah tersenyum, “siapa yang tidak mau dengan dirinya?” dia kembali tersenyum. Menyemprotkan parfum mahal dengan harga puluhan juta, kini dia bisa beli. Semua bisa didapat, semua bisa dimiliki hanya dengan jentikan jari. Pak tua akan mengabulkan semuanya.

Meninggalkan kamar mewah dan sang suami yang kelelahan. Menyusuri koridor rumah yang serupa istana. Lagi-lagi Imah tersenyum, namun ada bening di sudut mata mengalir. Dengan sigap di usapnya, mengambil kaca mata hitam mewah untuk menutupi dukanya.

Lima belas tahun lalu, Imah adalah gadis biasa yang memiliki mimpi. Sekolah tinggi, bekerja dan membahagiakan keluarga. Dulu, sebelum emak meninggal. Sebelum bapak menggadaikan dan menjual kegadisannya demi membayar hutang. Bukan, bukan hutang untuk kebutuhan mengobati emak saat sakit. Tetapi hutang untuk kecanduan judi hingga membuat hidup keluarganya semakin sulit. Benci, ya... tentu ada benci yang tersimpan di dada yang sulit pudar. Mengerak meski sudah telewati belasan purnama.

*

Imah memerintahkan seorang pegawai rumah untuk membuka gerbang. Dirinya duduk di mobil mewah yang menjadi hadiah pernikahan. Rumah besar layaknya istana, perhiasan dan pakaian mewah membuat dirinya terlihat sempurna sebagai perempuan sosialita.

“Bi, saya pergi keluar kota. Bapak sedang istirahat.”

“Masih subuh, Non. Tidak nunggu besok saja?”

Imah tersenyum, ada rasa jenuh dan muak dengan segala sandiwara yang tengah dijalaninya. Cukup sudah, saatnya mengakhiri semua ini. “Tidak apa-apa, Bi,” ucap Imah, “ini kunci lemari saya, juga surat ini harus sampai di tangan bapak.”

Pegawai itu hendak kembali bertanya, namun Imah menghentikan dengan telunjuk yang ditempelkan di bibirnya. “Saya pergi,” ucap Imah.

**

Mobil melaju perlahan menembus pagi yang mulai ramai. Lalu lalang kendaraan, dan orang-orang berjalan di trotoar menjadi pertanda bahwa hidup adalah perjuangan. Lelah, pasti. Jenuh, iya. Imah menarik napas panjang, menatap jalanan yang mulai sesak. Sesesak dadanya yang ingin tobat. Mobil berputra arah tidak ketujuan semula untuk mencari senang.

Kini, mobilnya terhenti oleh lampu merah, anak jalanan berhamburan bernyanyi entah lagu apa. Berharap beberapa ribu rupiah berpindah tangan pada mereka. Untuk mengisi perut-perut kosong yang ikut bergenderang menjadi pengiring lagu-lagu mereka yang tanpa nada. Bulir bening kembali mengalir membasahi pipi Imah yang mulus.

Dulu, dia lah yang berdiri di sana. Menyanyi lagu entah apa, yang penting mengundang rupiah. Membuat para pengguna jalan merasa kasian dan mau menyedekahkan sedikit uang mereka. Dulu, meski hidup sulit, namun terasa bahagia. Emak yang selalu mencurahkan kasih sayang meski dalam keadaan segala kekurangan. Hidup terasa sempurna, dulu.

Kini, semua seperti berjalan di atas awan. Tanpa tujuan dan hampa. Setiap hari hanya dipenuhi rasa dendam dan kebencian. Sangat lelah. Imah menarik napas dan melajukan kembali mobilnya setelah lampu hijau menyala.

*

Setelah perjalanan panjang Bandung – Tasik, akhirnya Imah sampai di sebuah gedung yang bisa membuatnya tenang. Sebuah pesantren yang sangat asri. Imah memasukkan mobilnya ke halaman parkir yang begitu luas. Dirinya merasa takjub, para santri dan santriwati menyapa dengan ramah. Seorang laki-laki bersahaja menghampirinya.

“Allhamdulillah sampai juga.” Imah tersenyum, lalu mengangguk. Mata Imah menatap lekat wajah lelaki di hadapannya, terlihat sangat tampan. Lebih tampan, namanya Teguh. “Imah, saya senang kamu mau kembali seperti Imah yang saya kenal dulu,“ ucapnya. “Di sini saya menghabiskan masa remaja hingga menjadi seperti sekarang ini.”
Imah tersenyum, “ya, kamu banyak berubah, menjadi orang hebat. Saya malu, “gumamnya. Menyeka bening di sudut mata yang kembali mengalir, “bukan mauku seperti ini.”

Teguh tersenyum. Pertemuan dengan teman kecilnya itu memang sangat kebetulan dan miris. Saat lelaki ini bertugas melakukan operasi penyakit masyarakat di hotel-hotel sekitar pesisir pantai. Imah saat itu sedang berduaan di dalam kamar dengan seorang remaja. Sedih, melihat sahabatnya seperti ini. Apalagi setelah tahu jawaban Imah saat introgasi, semakin membuat hati Teguh teriris. Imah menjawab, semata hanya untuk memuaskan diri. Karena tidak bahagia menikahi suami yang terjeda usia puluhan tahun. Alasan kenapa menikahi lelaki tua itu, semata karena harta dan sudah terlanjur terjerembab ke lembah nista.

“Apakah saya masih bisa bertobat?” ucap Imah.

Teguh mengangguk, “tapi... maaf Imah, bertobat akan lebih sempurna jika kamu mau melakukan pengakuan atas pembunuhan yang kamu lakukan tadi subuh.”

Imah tersenyum, “ya, saya datang ke sini untuk itu,” Menarik napas berat, “Pak Tua itu tidak akan melepaskan saya jika tidak saya melakukannya. Saya hanya alat pemuas bagi tua bangka itu, saya .... “

Teguh meyakinkan Imah, “Alloh selalu membuka pintu taubat untuk umatnya yang mau bertobat.”

“Insyaallah, namun kamu, tidak layak untuk perempuan seperti saya yang terlambat bertaubat,” ucap Imah sendu.

Teguh tersenyum pada Imah, “kamu, selamanya sahabat terbaik saya, Imah.”

“Dan kamu ....” kalimat Imah urung disempurnakan, setelah seorang perempuan cantik mendekati mereka berdua. Perempuan itu tersenyum manis dan memperkenalkan diri, “saya istri Mas Teguh. Mba Imah, jangan khawatir kami akan selalu mendampingi Mba selama proses hukum berjalan. Insya Allah jalan kebaikan akan selalu terbuka, Mba.”

Imah tersenyum, antara bahagia dan duka bersatu hingga kebas terasa. Sakit dan kecewa sudah biasa ditemuinya. Kehilangan yang tercinta pun sudah tidak membuat dirinya larut dalam duka. Karena kini, setelah pertemuan dengan Teguh, Imah yakin bahwa ini adalah jalan dirinya untuk tobat.

***
Pukul sembilan pagi, seorang pembantu rumah mewah berteriak histeris. Melihat majikannya meninggal bersimbah darah, dengan tubuh tanpa pakaian dan luka menganga di dada. Sebuah surat di berikan pembantu itu kepada petugas polisi. Isi surat itu di baca polisi.

Quote:


Selesai.
Bandung, 02022020


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di