CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Food & Travel / ... / Cerita Pejalan Domestik /
Oh! Ini Rasanya Pulang Naik Bus, Kapal Laut sampai Kereta dari Bali
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e351a4da727686eed3d1801/oh-ini-rasanya-pulang-naik-bus-kapal-laut-sampai-kereta-dari-bali

Oh! Ini Rasanya Pulang Naik Bus, Kapal Laut sampai Kereta dari Bali


Sudah memasuki hari ke-4 di Bali, lagi-lagi tetap mengincar pantai yang gak terlalu ramai di Bali. Start kita tetap pagi tapi karna harus mengantar beberapa personel trip yang balik ke Padang jadi kita mulai perjalanan kali ini ke pantai Pandawa jam 12.00 WIT.

Pantai Pandawa

Pantai Pandawa adalah pantai yang tebingnya dibuat sedemikian rupa untuk diukir patung-patung sesembahan umat Hindu.

Oh! Ini Rasanya Pulang Naik Bus, Kapal Laut sampai Kereta dari Bali
Pantai di sini lumayan sepi karena kita ga pergi saat weekend. Awalnya foto-foto cantik eh lama-lama nih baju basah kesapu ombak. Jadilah tinggal manset dan leging aja haha. Di sana juga banyak orang Bali ngajak anjingnya joging jadi hati-hati aja klo tuh anjing lepas dari pengawasan tuannya bisa-bisa kita yang jadi dikejar hahahah. "Tolong Jing fokus ama jogging"
 
Ombak di sini juga besar jadi bisa main arus sambil berendem. Sayang gak ada sarana bilas yang memadai. Cuma aja sekotak WC yang bau dan ga layak. Sedih. Di sini temen saya kena dikedipin sama bule dan akhirnya kenalan hehe... Ya, Bali selalu tentang bule.

Puas main, baju pun basah semua dan gak bawa ganti hingga akhirnya itu outer dijemur di mobil. Pulang pun basah-basahan dan nekat mampir di  toko oleh-oleh lagi.  Ya hasilnya masuk angin jadi pulang beli tolak angin aja trus bobo karena seharian basah gak ganti. Huft.

Hari kelima di Bali kita udah siap-siap packing karena sorenya harus pulang lewat darat dan ini bagian serunya. Jadi sedari pagi, kita mutusin gak mau jauh-jauh dari Denpasar karena harus balik pakai bus dari Denpasar ke Gili Manuk.

Museum Bali Denpasar

Bli Emon merekomendasikan museum Bali selepas kami beli oleh-oleh di Erlangga. Oh ya saya sih lebih suka beli oleh-oleh di Erlangga daripada di Krisna barangnya lebih beragam dan unik selain itu juga beberapa dilabeli halal kayaknya mereka concern soal ini. Jadi kerasa lebih nyaman belanja di Erlangga dan harganya juga sama dengan Krisna.

Balik lagi kenapa si Bli rekomendasi musem ini karena banyak arsitektur yang pas banget buat foto-foto. Mulai dari pintu masuk sampai nanti kita naik ke puncaknya untuk melihat view kota Denpasar.

Oh! Ini Rasanya Pulang Naik Bus, Kapal Laut sampai Kereta dari Bali

Sebenarnya di museum ini taman dan arsitekturnya bagus tapi isinya diorama dan foto-foto sejarah Bali doang. Jadi wajar kalau sepi karena kurang menarik dan interaktif padahal koleksi fotonya lumayan lah. Di sini juga banyak dijadikan tempat foto prewed jadi di setiap pojokan ada aja calon pengantin yang lagi foto.
 
Diiringi hujan rintik-rintik kita coba kuliner yang beda, selain ayam betutu (saya makan ayam betutu terus-terusan sampai mabok) tapi paling suka ayam betutu di depan Danau Batur penjualnya orang Islam dan bumbunya terasa benar.

Kali ini kita cobain rujak bali, rujak cuka sama minumannya yang  saya lupa namanya apa. Banyak sih rujak yang jenisnya aneh-aneh. Waktu di Aceh saya nemu rujak yang irisan kacangnya besar dan rada asam ternyata pakai jeruk nipis. Kalau ini makin asem karena pake cuka, ga berani banyak-banyak takut di jalan mencret.
 
Bus Gili Manuk

Menjelang sore, kita beli perbekalan makan untuk persiapan di bus dan kapal. Kira-kira kita naek bus itu siang sekitar jam 3, kapal berangkat jam 8 sore. Tapi lama banget ngetemnya booook! Akhirnya kita enggak menikmati view-nya karena keburu malem.

Oh! Ini Rasanya Pulang Naik Bus, Kapal Laut sampai Kereta dari Bali

Tapi ya super banget tuh sopir karena jalur ke Gili Manuk itu jalannya kecil, banyak truk pinggirnya tebing. Aduh mak, banyak istigfar deh. Beberapa tempat juga amat terasa suara deburan ombak karena sebelahan sama pantai. Angin makin semriwing, badan dihempas kanan ke kiri bus pun makin penuh karena bus yang lewat sini terbilang jarang.

Di tengah jalan, bus merapat di pinggir pura dengan sigap sopir dan kernet turun meminta doa dari tokoh agama mereka alu diperciki air dan ditempelkan beras di dahinya. oalah gak hilang sifat relijius mereka untuk meminta selamat. Iya, bahkan di mobilnya aja ada alat-alat sembahyang. Sebenernya bingung juga dia minta selamat tapi bawa mobilnya ugal-ugalan.
 
Dengan bawaan overload dan sudah setengah ngantuk, akhirnya kita sampai. Masih setengah sadar kita bingung mau kemana, akhirnya harus jalan sekitar 300 m untuk mencapai ke pelabuhan.

Sesampainya di pelabuhan Gili Manuk, tenryata kapal udah mau berangkat dong. Dengan tenaga tersisa kita gotong-gotong muatan kita lari-lari ngejar kapal yang lumayan murah harga tiketnya gak sampai 20 ribu dengan perjalanan sekitar kurang dari satu jam.

Di kapal langsung pules kecapeaan. Belum juga lama tidur, kapal sudah merapat di Ketapang. Yeeeey sampai. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam dan banyak bus lalu lalang ada yang ke Surabaya dan daerah Jawa Timur lainnya. Kita sudah memegang tiket kereta ke Malang besok subuh.

Ketapang

Ternyata banyak musafir yang tidur di masjid, dan kita pun memutuskan ikutan nimbrung tidur di masjid juga. Sebenarnya saya ga setuju kalau harus tidur di masjid karna saya amat butuh colokan karena semua barang elektronik saya mati. Ya, tak apalah mungkin beberapa teman sudah kehabisan ongkos jadi ini bentuk toleransinya kalau kalian gak mau bayarin hotel or motel. Tidur di masjid yang antah berantah adalah pengalaman pertama saya jadii lumayan deg-degan hingga sepanjang malam kita kekepin itu tas hahaha...

Pagi-pagi tanpa mandi meluncurlah ke stasiun Banyuwangi yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, eh di sana ternyata saya salah beli tiket karena semua atas nama saya. Itu hasil kena ketipu sama tukang alfamart yang bilang bisa klo pakai nama saya semua (ini baru awal2 pemberlakukan tiket KAI bernama)

Apalagi maklum ini baru pertama naek kereta antar Jawa gini, jadi akhirnya saya  yang kebagian bayarin dua temen saya karena harus tanggung jawab kan. Sempet dag dig dug karena beli tiket pas kereta menjelang berangkat dan si petugas ogah dirayu-rayu buat lolosin kita aja.
 
Meski secara harfiah kita bertiga nyatanya gue pisah gerbong sendiri. Selama perjalanan dari Banyuwangi ke Malang yang ditempuh selama 2 jam saya ga bisa tidur. Padahal badan udah lelah, di samping kanan kiri beberapa ibu-ibu ngobrol eh malah keikutan. Sesungguhnya di kereta ekonomi ini kita bisa melihat jelas realita sosial. Ya tepat di depan saya ada seorang ibu asli Malang pernah bermigrasi ke Papua suaminya berladang dan dia jadi PRT meninggalkan seluruh anak-anaknya.

Sungguh suvivor sejati, setelah itu di balik di Papua dia balik ke Malang. Di Malang dia bingung kerja apa kalau enggak salah hanya buka warung kelontong saja. Tahu enggak meski disebut sebagai ibu desa tapi sungguh ibu ini tahu perkembangan tanah air dan teknologi karena rajin buka google, wooow banget kan.

Malang

Sampai di Malang sudah siang dan kita harus tunggu kereta Malang-Jakarta malamnya. Luntang lantung di pinggiran stasiun Malang. Saya pun harus segera kembali mengganti tiket yang salah beli lagi.

Di sini kita sempat beli oleh-oleh keripik bekicot yang ternyata rasanya lezat. Malam di Malang saya harus pisah gerbong lagi, saya sendiri duduk di bangku untuk tiga orang. Malam di Malang dingin begitu menggigit tak terasa saya berbaring di bangku sembari meringkuk sendirian. syedih.

Di pertengahan jalan saat matahari mulai muncul lagi, saya baru sadar ternyata saya daritadi salah kursi dong. Ternyata kursi saya sesungguhnya masih di gerbong depan lagi.

Malas pindah, akhirnya saya luntang lantung di gerbong makan. Sambil sesembari menengok teman di gerbong belakang. Sebenarnya sepanjang perjalanan sudah banyak orang bertanya gimana orang sekecil saya berani jalan sendirian dengan segembol tentengan.

Yah.... harus hati-hati juga jawabnya karena parno cerita saya dimanfaatkan orang jahat. Tapi Alhamdulilah, akhirnya masinis meniup pluitnya di stasiun Jatinegara tanda perjalanan saya selesai.

Saya pun turun, dengan lelah yang tak tertahankan tapi harus naik Transjakarta lagi menuju rumah dengan tas yang sudah robek dimana-mana dan isinya mau keluar. Sampai di rumah saya yang dua hari tidak mandi, langsung mandi, langsung tepar selama 12 jam hahaha...

Yah begini lah traveling dengan darat capeknya super tapi dijamin pengalamannya tak kalah kaya dan menarik. Bahkan mungkin lebih menarik perjalanan dibanding dengan perjalanan saya setelah dan sesudah dari Bali. Saya merasakan benar-benar menjadi musafir sejati.  So kalau mau tau serunya, coba deh!

Videonya lihat di sini. cerita lainnya bisa dilihat disini.
 





GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di