CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2ee7ec349d0f2ef32e30b4/kenangan-yang-abadi

KUMPULAN CERPEN

Kisah-Kisah Senang, Sedih, Mengerikan dan Sebagainya

Kenangan Yang Abadi


Dalam hidup ada berbagai kisah, baik itu senang maupun sedih. Ada yang baik dan ada yang jahat. Di sini akan ada kumpulan kisah horror, romance, thriller dan lain sebagainya.



Hai! Ketemu lagi, Gaes! Kali ini ane akan menyuguhkan kumcer dari berbagai genre. Psst ... ada gorejuga loh! Hihihi ... kalo nggak kuat gore silakan skip, ya! Ada juga kisah-kisah romance yang sad or happy nantinya.
So, pantengin terus! Jangan lupa untuk berbagi cendol, ya, juga bintang dan komennya!
Okey, kita langsung aja. Cek indeks di kolom komentar, Gaes!



Kenangan yang Abadi


Adnan berjalan menuju sebuah taman di tengah kota. Ia baru saja tiba dua hari lalu di kota kelahirannya ini, setelah sebelumnya berada di luar negeri. Matanya memindai seisi taman. Tidak banyak yang berubah ternyata.

Taman itu tetap rimbun dengan beberapa kursi taman yang tersebar di sekeliling tempat itu. Di sudutnya ada tempat bermain anak-anak. Ada perosotan, ayunan, palang besi untuk memanjat dan sebuah bangunan berbentuk jamur raksasa yang bisa dimasuki.

Ingatannya melayang ke beberapa tahun silam. Saat Adnan kecil tengah berlarian dengan riangnya bersama Dinda–sahabat kecilnya–yang berusia dua tahun di bawah Adnan. Taman ini tidak jauh dari tempat tinggal Adnan dan Dinda. Setiap sore keduanya pasti bermain di tempat ini.

Ia ingat, hari itu cuaca sudah mendung, namun ia dan Dinda masih asyik bermain bersama beberapa teman sebaya mereka. Berlarian sambil tertawa riang, tanpa beban sedikit pun. Hingga tiba-tiba suara petir menggelegar diikuti oleh kilat, membuat Dinda Cumiik ketakutan. Teman-teman lainnya berlarian pulang, namun Dinda malah berlari menuju jamur raksasa dan masuk ke dalamnya.

Adnan yang melihat itu segera menyusul Dinda. Ia tahu, sahabatnya itu sangat takut dengan petir. Adnan melihat Dinda jongkok membelakangi dirinya sambil menutup kedua telinga dengan tangannya. Tubuhnya gemetar akibat ketakutan.

"Dinda, kamu nggak apa-apa?" tanya Adnan.

Gadis kecil itu tidak menjawab, ia terisak pelan. Lalu, hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Untunglah Adnan dan Dinda berada di dalam jamur raksasa sehingga keduanya tidak basah kehujanan.

Suara petir masih terdengar bersahutan, angin pun bertiup kencang. Adnan duduk di samping Dinda menatap hujan yang tengah mengamuk. Di sisinya, Dinda masih terisak, wajahnya ditenggelamkan di lututnya.

Adnan meraih tubuh Dinda dan memeluknya. "Jangan takut, Dinda. Ada Adnan yang jagain Dinda." Kata-kata itu terus terucap dari bibir Adnan sampai Dinda kembali tenang.

Adnan tersenyum mengingat memori itu. Namun, senyum itu tidak mencapai matanya. Bibir tersenyum, tetapi matanya memancarkan kesedihan. Tak lama angin bertiup sedikit kencang. Adnan memutuskan untuk pulang ke apartemen miliknya.

***
Pria itu membongkar isi kardus dan mulai menata sesuai tempatnya. Barang-barang pribadi yang ia kirim dari rumahnya di luar negeri, baru saja tiba.

Satu per satu ia susun dan rapikan. Mulai dari pakaian hingga pajangan. Sampai akhirnya tersisa satu kardus. Di atasnya tertulis 'KENANGAN'.

Adnan meletakkan benda itu di meja. Memutuskan akan membongkar nya nanti setelah makan malam. Ia memilih untuk membersihkan diri setelah seharian sibuk menata barang-barang di apartemennya.

Setelah makan malam seadanya, Adnan duduk di karpet di ruang santainya. Ia meraih kardus kenangan itu dan membukanya. Adnan mengeluarkan isinya satu per satu. Mulai dari foto-foto masa kecilnya. Baik itu sendiri maupun bersama Dinda. Lalu, ada buku harian yang sudah usang. Bukan miliknya, tetapi milik Dinda yang ia ambil saat akan berangkat ke luar negeri. Dibukanya buku itu dan mulai membaca halaman demi halaman. Hingga ia sampai pada satu kenangan. Kenangan yang mengingatkannya akan sebuah janji.

Adnan ingat, ia berusia 14 tahun saat itu. Ia pergi ke rumah Dinda, namun gadis itu tidak ada. Adnan berinisiatif untuk pergi ke taman, siapa tahu Dinda berada di sana. Benar saja. Adnan melihat sahabatnya duduk di ayunan membelakangi dirinya. Ia menghampiri gadis itu dan begitu melihat wajahnya, Adnan tahu ada yang salah.

"Kamu kenapa?" tanya Adnan.

Hening sesaat. Dinda tidak menjawab pertanyaan Adnan. Ia masih duduk di ayunan sambil merenung. Adnan tidak memaksa Dinda untuk bercerita, ia memilih untuk duduk di ayunan satunya lagi.

Adnan mulai bersenandung pelan. Lama-lama suaranya semakin keras. Entah lagu apa yang ia nyanyikan.

"Kamu nyanyi lagu apa, sih?" tanya Dinda akhirnya.

Mendengar itu Adnan tersenyum. "Nyanyi lagu 'Bikin Dinda Senyum', bagus, 'kan?" Ia memamerkan giginya yang berderet rapi.

Dinda memberengut. "Apaan, tuh? Aneh banget lagunya?"

"Jadi aneh soalnya kamu nggak senyum. Coba deh, denger lagunya sambil senyum. Nih, aku ulang, ya. Tapi kamu senyum dulu!"

Setelah memastikan Dinda tersenyum, Adnan kembali mengulang lagu hasil karangannya. Kemudian, senyum Dinda berubah menjadi tawa berderai.

"Aneh banget, sih, lagunya," ujar Dinda ditengah tawanya.

Melihat itu Adnan ikut tertawa. "Kalo kamu ketawa, berarti lagunya sukses."

Keduanya terbahak beberapa saat. Dinda mengedarkan pandangan. Sepi. Wajar saja, soalnya sudah mendung. Bisa dipastikan sebentar lagi akan turun hujan.

"Pulang, yuk!" ajak Adnan.

Dinda menggeleng. Adnan mengernyit heran. Tiba-tiba suara gemuruh terdengar.

"Dinda, udah mau ujan. Pulang, yuk." Adnan memandang langit dengan gelisah.

"Kalo kamu mau pulang, ya, pulang aja. Aku di sini."

"Emang kenapa?"

"Aku takut dimarahin mama lagi. Aku takut dijewer lagi. Mama nggak sayang sama aku." Air mata menetes di pipi Dinda. "Aku benci mama."

"Kata mama aku kita nggak boleh benci sama orang. Dosa. Ya udah, kita ke rumah aku aja, yuk!" bujuk Adnan lagi.

Dinda menggeleng, namun Adnan mencengkram jemarinya dan menarik Dinda.

"Ayo! Lihat, udah mulai gerimis!" seru Adnan sambil berlari dengan menarik tangan Dinda.

Saat hujan turun dengan deras, saat itu pula kedua anak itu tiba di teras rumah Adnan. Keduanya duduk di teras sambil melihat hujan.

"Kenapa, sih, Nan, mama nggak sayang sama aku?" kata Dinda tiba-tiba. "Salah aku apa? Aku udah berusaha mengerjakan semua dengan baik, kok. Ngerjain PR, beresin rumah juga. Tapi kok mama marah-marah terus, ya? Aku selalu takut ketemu mama."

Adnan terdiam. Bocah itu tidak tahu harus berkata apa.

"Nggak ada yang sayang aku. Papa juga. Malah pergi ninggalin aku." Isakan tangis kembali terdengar.

Sedih melihat sahabatnya menangis, Adnan mengusap air mata Dinda. "Ingat Dinda, ada aku juga yang sayang sama kamu. Ada mama aku, ada papa aku juga. Jangan sedih, ya. Aku sayang kok sama kamu."

Isakan tangis Dinda mulai mereda. "Janji ya, Adnan. Jangan tinggalin aku kayak papa, terus tetap sayang sama aku. Jangan berubah kayak mama."

Adnan tersenyum lebar. "Janji! Aku akan selalu ada untuk kamu. Jadi jangan nangis lagi, ya." Jemarinya kembali menghapus air mata yang masih setia berada di pipi sahabatnya.

Begitulah, janji kecil itu terucap. Adnan terus mengingatnya hingga hari ini. Ia tersenyum, di saat bersamaan hatinya pun terasa sakit mengingat kembali potongan kenangan indahnya bersama Dinda. Seorang sahabat yang selalu ia sayangi.

***
Kalau boleh memilih, Adnan enggan untuk kembali ke kota ini. Ia lebih memilih tetap tinggal di negeri Paman Sam untuk melanjutkan hidup. Kembali ke sini artinya membuka lagi kenangan lama yang ingin ia lupakan. Kenangan tentang sahabatnya sekaligus orang yang ia sayangi.

Adnan mengingat Dinda sebagai orang yang tegar, selalu tertawa disetiap masalahnya. Ia hanya akan menangis di hadapan Adnan. Adnan sendiri selalu berusaha terus hadir dalam hidup Dinda.

Adnanlah yang selalu menghibur dan menghapus air mata Dinda setiap gadis itu bersedih. Setiap gadis itu merasa tidak kuat lagi menjalani hidupnya, Adnan akan selalu berada di samping Dinda.

Pria itu sangat tahu, hidup yang dijalani oleh Dinda tidaklah mudah. Tante Anya–mama Dinda–selalu saja menyiksa gadis itu, seolah ia tidak boleh melakukan satu kesalahan kecil pun. Jika sudah begitu, tugas Adnanlah menghibur Dinda agar ia kuat.

Bukan tanpa alasan Adnan melakukan itu semua. Mungkin awalnya bagi Adnan, Dinda adalah seorang sahabat kecil yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Posisi Adnan sebagai anak tunggal, menjadikan ia menginginkan sosok seorang saudara. Kemudian, Dinda hadir dalam hidupnya dengan segala keceriaan yang mampu membuat orang tertawa di sampingnya.

Akan tetapi, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa ada kesedihan dan penderitaan di balik keceriaan itu. Tidak pula dengan Adnan pada mulanya. Tidak pernah terlintas dalam bayangan bocah berusia 10 tahun itu, bahwa gadis yang baru ia kenal itu menyimpan begitu banyak kepedihan.

Pertama kali ia mengetahui sisi lain Dinda ketika ia hendak mengajak gadis itu bermain bersama di taman seperti biasa. Adnan berjalan memasuki halaman rumah Dinda, dan saat ingin mengetuk pintu, ia mendengar suara teriakan Tante Anya memarahi Dinda. Lalu, secara tiba-tiba pintu di hadapannya terbuka memperlihatkan sosok gadis kecil dengan wajah basah penuh air mata.

"Jangan pulang kamu sebelum Mama izinin! Muak Mama liat muka kamu!" Suara Tante Anya terdengar oleh Adnan.

Dinda terpaku melihat Adnan di hadapannya. Tanpa basa-basi, ia menarik tangan Adnan pergi dari rumahnya.

"Kamu kenapa tadi dimarahin?" tanya Adnan begitu mereka tiba di taman.

Tangis Dinda belum sepenuhnya reda, isakan pelan masih lolos dari bibirnya.

"Kamu buat salah apa?" tanya Adnan lagi

Bukan jawaban yang Adnan dapat, melainkan tangis Dinda yang kembali pecah. Ia menangis terisak-isak seolah melepaskan semua sesak yang menghimpit dadanya.

Adnan kecil tentu bingung. Ia panik melihat Dinda menangis. Kepalanya celingak-celinguk melihat sekeliling, untunglah taman sore ini sepi. Jadi, Adnan tidak akan dituduh menjahili Dinda hingga menangis.

Dalam tangisnya, Dinda bercerita bahwa ia selalu dimarahi serta dipukuli sang mama. Ada saja alasan Anya memukul Dinda. Alasan Dinda berada di taman tiap hari karena Anya selalu mengusirnya. Ia tidak boleh pulang sebelum diizinkan Anya. Menurutnya, Anya membenci Dinda sampai tidak suka harus berhadapan dengan Dinda sepanjang hari.

Sejak itu, Adnan menaruh perhatian lebih pada Dinda. Awalnya ia kasihan lama-lama keduanya menjadi dekat. Bahkan jika melihat Dinda bersedih, ia juga seolah bisa merasakan kesedihan itu.

***
Adnan berjalan menyusuri deretan toko bunga, kemudian memasuki salah satu dari toko-toko itu. Seorang penjaga menghampirinya.

"Cari bunga apa, Pak?"

"Bunga lily ada?"

Penjaga itu mengangguk dan mengantar Adnan ke bagian bunga yang ia pinta.

"Yang warna pink ini atau putih, Pak?"

"Saya mau yang putih, tolong dibikin buket sekalian, ya."

Kemudian penjaga toko itu mulai mengambil bunga-bunga dan menyusunnya. Adnan memperhatikan dengan pikiran kembali melayang ke masa lalu.

Lily putih ini adalah bunga kesukaan Dinda. Waktu itu Dinda dan Adnan sedang dalam perjalanan pulang sekolah. Keduanya sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Dalam perjalanan, keduanya melewati sebuah toko bunga. Dinda berhenti sejenak memperhatikan bunga-bunga yang tersusun rapi.

"Kenapa, Din?"

Gadis itu menggeleng. "Bunga-bunganya cantik."

Adnan melirik ke arah toko bunga kemudian berdecak. "Ada yang lebih cantik dari bunga-bunga itu."

Dinda menoleh, mengernyitkan kening. "Apa?"

"Kamu." Adnan tersenyum usil.

Mendengar jawaban Adnan, Dinda mencibir. "Cih, Adnan sekarang ngegombal mulu. Genit."

"Loh, kok gombal? Serius."

"Nggak percaya!"

"Ya udah, kalo nggak percaya." Adnan memperhatikan toko bunga itu lagi. "Dinda suka bunga apa? Mawar?"

Tidak disangka gadis itu malah menggeleng.

"Loh, bukan? Biasanya cewek suka mawar."

"Dinda nggak suka mawar. Sukanya bunga lily. Yang warna putih itu." Dinda menunjuk salah satu bunga di deretan belakang.

"Bedanya apa sama mawar?"

"Ish, ya beda dong. Dari bentuknya aja udah beda, Adnan."

Adnan mengangguk-angguk.

"Yuk, pulang."

"Loh, kirain mau beli bunganya?" tanya Adnan.

Dinda tertawa. "Aku mana punya uang buat beli bunga itu. Lagian kalo aku pulang bawa-bawa bunga, apa kata mama nanti? Yang ada malah bikin masalah."

Adnan memperhatikan gadis yang telah mengisi hatinya itu. "Nanti aku beliin, deh."

Sontak Dinda menoleh ke arah Adnan yang rupanya tertinggal di belakangnya. Wajahnya terlihat semringah.

"Adnan mau beliin bunga? Buat aku?" tanya Dinda bersemangat.

Ah, Adnan rela membelikan beratus-ratus bunga untuk melihat wajah bahagia Dinda seperti saat ini. "Iya. Dinda mau?"

Kepala gadis itu mengangguk dengan semangat. "Makasih, Adnaaan!" seru Dinda memeluk lengan Adnan.

Adnan tersenyum sedih mengingat kenangan itu. Ia lalai menunaikan janjinya membelikan bunga ini untuk Dinda. Hingga saat ini.

"Ini, Pak, bunganya."

Adnan menyelesaikan transaksi pembayaran bunga yang ia beli, lalu melangkah keluar toko menuju mobilnya yang ia parkir tidak jauh dari sana.

Di dalam mobil, ia meletakkan buket bunga itu di jok belakang dengan hati-hati. Tidak ingin bunga itu rusak sebelum sampai ke tujuannya.

Perlahan ia melakukan mobil, menembus kemacetan ibukota.

***
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam hidup kita. Sebagai manusia, kita hanya bisa berencana, namun hasil akhirnya tetap Tuhanlah yang menentukan. Seperti halnya dengan Adnan. Ia boleh merencanakan berjuta hal dalam hidupnya, akan tetapi keputusan akhir ada di tangan Tuhan.

Adnan melihat Dinda di taman tempat keduanya sering bermain saat kecil. Dinda tampak murung duduk di salah satu bangku taman. Adnan tahu ada yang tidak beres dengan gadisnya, maka ia berlari menghampiri Dinda.

"Dinda." Ia memegang bahu Dinda pelan. "Kamu kenapa?"

Gadis itu hanya terdiam, namun satu bulir bening jatuh dari mata indahnya. Hati Adnan sakit melihat gadisnya menangis. Gadis yang memberikan warna lain di hati Adnan. Gadis yang menemaninya dari kecil hingga ia kuliah. Dengan lembut ia menghapus air mata yang mulai mengalir deras di pipi Dinda.

"Aku nggak kuat lagi, Nan," bisik Dinda lirih. "Aku nggak kuat hidup kayak gini terus."

Adnan tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia tidak ingin memaksa Dinda untuk bercerita. Jadi, yang ia lakukan adalah merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

"Jangan ngomong kayak gitu. Ada aku di sini, ingat?"

Tangis Dinda semakin deras walau tak ada suara yang keluar.

"Kenapa, sih, nggak ada yang sayang sama aku, Nan? Aku punya salah apa sama orang-orang? Di rumah aku disiksa sama orang tua aku sendiri. Sewaktu kita sekolah pun dulu aku selalu dikucilkan bahkan kadang dibully. Aku salah apa?!"

Adnan semakin mengeratkan pelukannya pada Dinda. Ia membiarkan gadis itu menumpahkan semua keluh kesahnya.

"Dinda jangan sedih, ya. Aku janji akan selalu ada buat kamu. Aku janji akan memberikan kebahagiaan untuk kamu. Aku janji, ini akan jadi air mata terakhir. Aku janji!"

Saat itu, Adnan sudah meniatkan hati untuk melamar Dinda. Ia akan melepaskan gadis itu dari penderitaannya selama ini.

"Aku akan hapus semua kesedihan kamu dengan kebahagiaan."

Itulah janji Adnan pada Dinda. Akan tetapi, garis takdir tidak mengizinkan mereka bersama. Keesokan harinya, Adnan mendapat kabar bahwa Dinda telah tewas bunuh diri di kamarnya dengan cara memotong urat nadinya.

Dunia Adnan runtuh. Ia bahkan tidak mempercayai berita itu walau dirinya sendiri telah melihat jasad Dinda saat disemayamkan. Hatinya kosong melihat gadis yang ia cintai telah pergi selamanya.

Ia tidak mau percaya pada kenyataan, namun hal itu terjadi di depan matanya. Terbayang olehnya canda tawa Dinda. Wajah bahagia Dinda. Suara Dinda. Semua tentang Dinda.

Kedua orang tua Adnan bahkan harus mengungsikan putra mereka ke luar negeri agar ia bisa melupakan kesedihannya. Agar ia bisa melanjutkan hidupnya.

***
Mobil yang dikendarai Adnan berhenti di depan sebuah pemakaman umum. Pria itu meremas setang mobil dengan perasaan tidak menentu. Berkali-kali ia menghembuskan napas. Beberapa saat kemudian ia meraih bunga lily di jok belakang dan keluar dari mobil.

Adnan melangkah perlahan menyusuri jalan setapak menuju satu titik. Terakhir kali di ke tempat ini adalah sesaat sebelum dirinya berangkat ke luar negeri enam tahun lalu.

Pria itu berhenti di sebuah gundukan tanah yang sudah mengering tidak terurus. Sungguh miris. Bahkan tempat pembaringan terakhirnya pun tidak ada mempedulikan.

Adnan membersihkan makam seadanya. Setelah itu ia membacakan doa dengan khusyuk. Ia mendoakan ketenangan jiwa seseorang yang telah lama pergi meninggalkan dunia yang penuh dengan penderitaan ini.

Selesai berdoa Adnan hanya berdiam diri. Terlalu banyak kata yang ingin ia ungkapkan, namun semua itu tertahan di lidahnya. Ia meletakkan bunga lily di atas gundukan itu.

"Hai, maaf aku baru dateng lagi," ujar Adnan. "Gimana kabar kamu? Sekarang kamu udah bahagia, ya, di sana. Nggak ada yang bikin kamu sedih lagi." Ia berhenti sejenak. "Tinggal aku yang masih berjuang di sini."

Hening kembali menyeruak. "Ternyata butuh waktu lama untuk aku bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan kalau kamu bener-bener udah nggak ada dan itu cukup sulit ternyata."

Adnan menarik napas dalam dan menghembuskan kembali dengan cepat.

"Kamu yang tenang, ya. Aku udah baik-baik aja sekarang."

Pria itu mengusap nisan bertuliskan nama DINDA ARUNI DEWI perlahan.

"Terima kasih, Dinda."

Adnan bangkit dan berjalan menjauhi makam itu. Seiring langkahnya, perasaannya mulai meringan. Kini, ia bisa menerima semua dengan lapang dada. Adnan telah mengikhlaskan cintanya pergi mendahuluinya. Mulai saat ini, Dinda hanyalah bagian dari kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Kenangan yang selalu terpatri dalam ingatannya. Sekarang yang perlu ia lakukan adalah menata hidupnya kembali. Ia akan bangkit dari keterpurukan ini.


END



Link kumcer lainnya 👇🏻👇🏻
profile-picture
profile-picture
profile-picture
peggimiru dan 24 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh wiispica
Halaman 1 dari 3
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh wiispica
Oh, nanti thread ini berisi kumcer yang ane bikin. So, jangan bosen mampir ya, GanSisemoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
profile-picture
betiatina dan 6 lainnya memberi reputasi
Keren banget. Emm
profile-picture
profile-picture
profile-picture
riwidy dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Maaciwwemoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
istijabah dan embunsuci memberi reputasi
Cerpennya sedikit mirip dengan kisah nyata gw yang terjadi di tgl 25 januari 2020..
profile-picture
istijabah memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Balasan post astralis
Quote:



Wah..serius, Gan? emoticon-Wow
profile-picture
istijabah memberi reputasi
Balasan post wiispica
profile-picture
istijabah memberi reputasi
Quote:


Berarti sudah tiada ya, Gan? Yang tabah ya, Ganemoticon-Turut Berdukaemoticon-Turut Berduka
profile-picture
istijabah memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post wiispica
profile-picture
istijabah memberi reputasi
Ane bookmark dulu emoticon-Malu
profile-picture
istijabah memberi reputasi
Keren banget deh, lanjutkan. Semangat aja ya
profile-picture
istijabah memberi reputasi
Indahnya Pembalasan


Aku mematut diri di depan cermin besar di dalam kamar apartementku. Gaun pesta berwarna merah menyala yang kubeli di butik tadi siang, menempel ketat di tubuhku.

Gaun itu terbuka dari bahu hingga bagian belakang punggungku. Belum lagi belahan yang sangat panjang di bagian bawah hingga mencapai setengah pahaku terpampang sempurna.

Rambut brunette milikku digelung sedemikian rupa hingga menampilkan leher jenjangku.

Riasan wajah pun sempurna. Smooky eyes dan lipstik berwarna merah menambah kesan seksi pada penampilanku.

Setelah puas menatap pantulan diri di cermin, aku berbalik menuju tempat tidur berukuran besar dan menyambar clutch bag berwarna hitam berhiaskan kristal swarowski milikku. Kulirik cermin sekali lagi. Sempurna! batinku.

Dengan mantap aku berjalan keluar di atas heels setinggi lima belas centi. Berlenggak-lenggok diiringi tatapan orang-orang sekitar, terutama oleh kaum pria. Tetapi, aku tidak mempedulikan mereka.

Di parkiran, kunyalakan mobil sport kesayanganku dan melaju menembus pekatnya malam.

.

Ballroom bernuansa klasik itu terlihat mewah dengan warna gold yang mendominasi. Terdengar musik klasik mengalun indah menyapa pendengaran orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

Malam ini adalah malam pertunangan anak salah satu pengusaha terkaya di negeri ini. Mr. Patton, sang pengusaha, merupakan rekan bisnisku dalam bidang properti. Acara inti telah selesai, sekarang saatnya tamu menikmati hidangan yang tersedia di lanjut dengan acara dansa.

Aku berdiri di sudut ruangan sambil menyesap wine yang ada di tanganku dengan pelan, kala netra ini menangkap sosok yang tidak asing lagi. Sepasang suami istri berjalan bergandengan tangan menuju tempatku berdiri.

Mungkin jika kulihat dari wajah keduanya, bisa kusimpulkan bahwa sang istri lebih memilih berada di luar ruangan dari pada berada dekat denganku.

"Hai, Christin, kita bertemu di sini!" seru Richard. Selena, istrinya, hanya menyunggingkan senyum kecil padaku.

"Hai, dan ya. Kebetulan yang menyenangkan bukan?" Bibirku membentuk senyum menggoda.

Richard menatapku dengan tatapan yang sama seperti pria hidung belang kebanyakan. "Kau sangat ... luar biasa!" pujinya membuat Selena melototkan matanya. Oh, jangan sampai mata itu loncat keluar dari rongganya, karena itu akan sangat lucu sekaligus menjijikkan.

Selena menyentak lengan suaminya dengan sedikit keras. "Kurasa acara menyapanya sudah selesai, Richard. Kita sudah bertemu dengan Mr. Patton dan putrinya yang bertunangan. Aku lelah, ayo pulang!"

Lelaki bermata biru itu menatap malas sang istri. "Ayolah, kita baru saja tiba, Selena. Lagipula, kita sudah lama tidak bertemu Christin, 'kan? Apa kau tidak kangen dengannya?"

Rasanya aku bisa melihat asap mengebul dari kepala Selena. Raut wajahnya tampak tak suka dengan ucapan suaminya.

"Kalian baru datang?" tanyaku berbasa-basi seolah tidak menyadari perubahan wajah Selena.

"Ya! Karena ada anak yang harus kami urus terlebih dahulu!" sembur wanita itu dengan menekankan kata 'anak'.

"Ah ... anak, ya? Sudah berapa anak kalian? Laki-laki atau perempuan?" tanyaku lagi tak terpengaruh dengan intimidasinya.

"Anak kami laki-laki. Kenapa memangnya?" cecar Selena. Mungkin ia tidak suka aku bertanya mengenai keluarganya.

Aku menatap wanita itu sekilas. "Laki-laki?" Kualihkan pandangan pada Richard yang masih menatap diriku. "Aku yakin dia setampan dan segagah ayahnya," kataku sambil mengerling pada lelaki itu.

Tindakanku rupanya tidak bisa ditolerir oleh Selena lagi. Wajahnya memerah, mungkin menahan emosi karena aku menggoda suaminya. Huh, biar saja! Biar dia rasakan apa yang kurasa dulu!

Tanpa sepatah kata pun terucap, Selena menarik paksa tangan suaminya pergi menjauhiku. Tatapan heran orang sekitar, sukses ia acuhkan. Richard sendiri sesekali memutar kepala ke belakang demi melihatku yang masih berdiri sambil menyunggingkan senyum.

.

Aku melepas gaun malam, menggantinya dengan baju tidur yang tipis. Setelah membersihkan diri, aku merebahkan tubuh di kasur. Saat hendak terlelap, terdengar suara pesan masuk di ponselku.

Kuraih benda pipih yang tergeletak di nakas yang berada di samping tempat tidur. Keningku berkerut melihat nomer tak dikenal mengirimiku pesan. Segera aku menekan layar untuk membuka pesan itu.

Dari Richard. Segera aku membalas pesan lelaki yang pernah mengisi relung hati ini. Dia mengatakan ingin bertemu lagi denganku. Berdua saja. Senyum tersungging di wajahku. Saatnya pembalasan!

Aku memintanya datang besok malam ke apartemenku. Ia menyetujui akan datang sepulang dari kantornya.

.

Keesokan malam, aku sudah menyiapkan makan malam untuk menyambut Richard. Mengenakan mini dress tanpa lengan dan rambut panjang yang tergerai, aku membuka pintu saat mendengar bel berbunyi.

Yang pertama terlihat adalah sebuket bunga mawar merah dengan ukuran besar. Lalu, kepala lelaki yang kutunggu menyembul dari balik bunga-bunga itu.

"Hai," sapanya

"Hai, masuklah." Aku mundur beberapa langkah agar ia bisa masuk dan menutup pintu apartemen.

Richard menyodorkan buket bunga padaku. "Untukmu."

"Thanks." Senyum kembali kuhadirkan diwajah.

"Kau sudah makan? Aku menyiapkan makan malam untuk kita," kataku sambil meletakkan buket bunga itu di meja.

"Kau memasak? Untukku?" tanyanya tidak percaya.

"Tentu saja. Khusus untukmu," ujarku lagi.

Aku menuntunnya ke meja makan yang sudah kutata sedemikian rupa. Ada lilin di bagian tengah meja menambah kesan romantis.

"Duduklah," kataku padanya. Ia menurut lalu aku pun duduk di hadapannya dan kami mulai menyantap makan malam bersama.

"Jadi, apa Selena tahu kau bersamaku saat ini?"

Lelaki itu menggeleng. "Tentu saja dia tidak tahu." Terdiam sejenak. "Kurasa aku akan bercerai dengannya."

Aku pura-pura terkejut mendengarnya. "Kenapa? Bukankah kalian baik--baik saja?"

Ia tersenyum masam. "Dia tidak seperti kau, Christin. Aku menyesal meninggalkanmu dulu. Dia menjebakku saat itu."

Aku mendecih dalam hati. Dijebak katanya? Dia pikir aku bodoh?

"Jangan bahas masa lalu. Aku sudah melupakannya." Aku memasang senyum palsu sambil menggenggam jemarinya di atas meja.

"Bertemu denganmu merupakan alasan terkuat untukku berpisah dengannya. Kau masih mencintaiku, Christin? Kuharap ya, karna aku masih mencintaimu juga." Matanya sayu menatapku, jemariku diangkat dan dikecupnya lembut.

Ingin muntah rasanya. Tapi kutahan.

"Kau sungguh berbeda, Christin. Kau sangat ... cantik sekali. Dan seksi. Berbeda dengan Selena. Aku tak sabar ingin menikahimu."

Aku beranjak dari kursi, berjalan memutari meja dan memeluk lelaki itu dari belakang.

"Kau lepaskan Selena, akan kupikirkan tentang hidup bersamamu." Kata-kataku bagai hipnotis baginya. Dan malam itu kami habiskan dalam kubangan penuh dosa.

.

Sejak malam itu aku tak bertemu Richard. Aku menghindarinya. Namun, dia terus menghubungi bagai orang kesetanan. Telepon dan chat hingga ratusan setiap harinya masuk ke ponselku.

Hingga hari ini, saat aku senggang di kantor dan ingin menghapus pesan dari pria itu, mataku tertuju pada pesan yang baru saja tiba.

Dia telah bercerai dengan istrinya. Aku tersenyum lalu tertawa keras sekali. Akhirnya, tinggal satu langkah lagi yang harus kulakukan untuk menghancurkan mereka!

Pintu ruanganku menjeblak terbuka. Selena masuk diikuti Sharon, sekretarisku. Kusuruh Sharon untuk keluar.

"Wanita jalang!" maki Selena sambil menunjuk wajahku. "Kau menghancurkan pernikahanku!" Wajahnya sampai memerah saat mengatakan itu.

Aku tersenyum mengejek. "Aku jalang? Lalu kau apa? Ratunya jalang?"

"Kau!" Ia maju hendak menyambarku. Namun aku berkelit.

Aku berdiri melipat tangan di dada dan bersender pada lemari buku di belakangku. "Seorang yang kuanggap sahabat bahkan seperti saudara sendiri, merebut kekasih yang amat kucintai. Dengan menawarkan tubuh serta harta yang ia miliki, memikat Richard hingga berpaling dariku."

Kutatap tajam mata wanita di hadapanku. "Sekarang, rasakan apa yang kurasa! Silakan menikmati!"

.

Richard datang menemuiku di apartement malam harinya. Wajahnya semringah saat aku membuka pintu untuknya dan langsung memeluk diriku.

"Christin! Aku merindukanmu!"

Aku melepas paksa pelukan pria itu. Membuat ia mengernyit heran.

"Menyingkirlah, Richard," ujarku menatapnya malas.

Ia mengerjap mungkin bingung dengan perubahan sikapku. "Ada apa, Christin?"

"Kau tidak mengerti? Baik, akan kujelaskan." Aku melipat tangan di dada dan memandang datar lelaki di hadapanku.

"Pertama, aku membencimu dan Selena. Kalian telah menghancurkan hidupku. Kedua, yang kulakukan beberapa hari lalu hanya untuk membuatmu dan Selena berpisah dan merasakan sakitnya dicampakkan oleh orang yang kita cintai. Setelah tujuanku tercapai, kau sudah tidak dibutuhkan. Jadi ...." Aku mengibaskan tangan seolah mengusir. "Menyingkirlah dari hidupku dan dan jangan pernah kembali lagi."

Richard terperangah mendengar ucapanku. Entah apa yang ia pikirkan hingga jatuh berlutut di hadapanku.

"Christin, kumohon maafkan aku. Waktu itu aku khilaf, termakan rayuan Selena. Kaulah wanita yang kucintai. Sejak perceraianku, Selena mengambil semua aset milikku. Aku tidak punya siapa-siapa dan apapun lagi."

Aku mendengus geli sambil memandang datar Richard. Lalu, melangkah menuju pintu dan membukanya lebar.

"Aku tidak butuh kata maafmu. Sekarang pergi sebelum aku memanggil sekuriti untuk menyeretmu keluar."

Richard berdiri perlahan, bahunya merosot. Puas rasanya sudah membalas perlakuan yang sama persis pernah kualami dulu. Saat ia mengusirku dari apartementnya. Aku memandang Richard pergi menjauh dari hidupku.


END
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan handayani.tika memberi reputasi
Diubah oleh wiispica
Rate dan cendolnya dong, GanSisemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan embunsuci memberi reputasi
Mentari


[Cerita ini mengandung unsur gore]


"Pagi, Tari. Sudah dengar berita?" tanya July pada Mentari–rekan sesama aktris–saat mereka bertemu di kantor agensi yang menaungi mereka.

"Berita? Tentang apa?" Mentari balik bertanya sambil terus berjalan menuju ruang produser diikuti July. Hari ini, Mentari akan menemui Sony, manajernya. Tadi malam lelaki itu memintanya untuk datang ke kantor.

"Kau sungguh tak tahu?"

Mentari mengangguk mengiyakan. July terdiam, melihat apakah Mentari bercanda atau tidak. Akan tetapi, gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang sedang menjadi bahan perbincangan pagi itu. Raut wajahnya tampak bingung.

"Merry meninggal. Dibunuh di dekat rumahnya tadi malam," jelas July membuat Mentari terkejut.

"Apa?! Bagaimana bisa?" pekiknya.

July mengedikkan bahu. Ia melirik ke arah Mentari, sekilas raut wajahnya kaku seperti hendak mengatakan sesuatu. Wanita itu melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. Lalu, ia berjalan mendahului Mentari menghentikan langkah gadis itu.

"July? Ada apa? Aku buru-buru mau ketemu Sony," kata Mentari bingung melihat sikap July.

July bergeming. Ia menatap Mentari tajam.

"Tari, aku tidak akan basa-basi lagi. Aku tidak seperti Merry yang selalu bersikap baik di depanmu, tapi menjelek-jelekkanmu di belakang," ujar July dengan nada sinis.

"A-apa maksudmu?"

July mendengus kasar, melipat kedua tangan di dada.

"Dengar baik-baik karena aku hanya mengatakan satu kali. Aku membencimu. Kau selalu menghalangi langkahku untuk menjadi bintang besar. Kau dan sifat leletmu membuatku muak!"

"Apa?" Mentari terkejut mendengar pengakuan July.

Memang, selama ini July selalu terlihat menjaga jarak dengan Mentari. Namun, ia tidak menyangka kalau July membenci dirinya.

"Dan kau pikir hanya aku yang membencimu? Huh ... Merry juga membencimu! Apa kau tahu kalau dia selalu menjelek-jelekkanmu di belakang?"

"Jangan berbicara omong kosong tentang orang yang sudah meninggal," ujar Mentari ia terlihat takut pada sosok July di hadapannya.

July tertawa pelan. "Kau tidak percaya? Ingat saat dua tahun lalu kau mengalami kecelakaan? Kau pikir siapa yang melakukan? Itu Merry! Dia membayar orang untuk mengutak-atik mobilmu. Beruntung kau bisa selamat, hanya luka ringan kau dapat."

Mentari terdiam. "Mustahil," desisnya tidak percaya.

"Terserah kau mau percaya atau tidak. Pokoknya kutegaskan padamu satu hal. Jangan menghalangi langkahku atau kau akan tau akibatnya!" July mendorong bahu Mentari hingga wanita itu tersungkur ke lantai.

Tanpa merasa bersalah ia meninggalkan Mentari yang mulai menangis sesenggukan tidak mengira akan mendapat perlakuan seperti ini.
.

Mentari memijat keningnya pelan, kepalanya sakit. Ia ingin pulang, tapi tadi Sony mengatakan ia harus melakukan pemotretan hari ini bersama Brandon–suaminya–yang juga seorang model sekaligus aktor terkenal.

"Hai, Sayang," sapa pria tampan bertubuh tegap saat melihat Mentari memasuki ruang pemotretan.

Mentari hanya tersenyum kecil, membuat Brandon mengerutkan kening.

"Ada apa?" tanyanya khawatir.

"Kepalaku sedikit pusing," jawab Mentari.

Brandon menatap wajah sang istri lekat. "Kau mau pulang?"

Wanita itu menggeleng. "Tidak apa. Hanya pusing sedikit, sebentar juga hilang. Kita masih ada pekerjaan bukan?"

Pria itu tersenyum dan mengacak pelan rambut Mentari. "Kalau sudah tidak kuat katakan saja," ujar Brandon pelan, disambut anggukan kepala sang istri.

.

July berjalan keluar hotel, tempatnya menghabiskan malam panas bersama seseorang. Ia memasuki mobil dan mulai melaju pelan, menyusuri jalanan yang sepi. Pukul tiga pagi. Dirinya harus bergegas meninggalkan hotel sebelum ada pers yang memergokinya keluar dari hotel. Bisa runyam urusan.

Wanita itu sesekali tampak menguap, rasa kantuk masih menguasai dirinya. July tidak menyadari, ada sebuah mobil yang mengikutinya di belakang .

Perjalanan ke rumah masih jauh, tetapi July sudah tidak sanggup menahan kantuk. Ia memutuskan menepi untuk istirahat sejenak.

Salahkan kegiatannya yang padat seharian kemarin, ditambah malamnya harus melayani seorang hidung belang hingga pukul dua tadi. Kalau bukan untuk memperlancar karirnya, ia tidak sudi tidur dengan lelaki tua bangka itu.

Cukup lama July tertidur. Wanita itu bangun karena merasakan sengatan matahari di wajahnya. Ia mengerjakan kedua mata, dan melihat sekeliling.

July tercengang. Dimana dirinya berada saat ini? Bukankah seharusnya ia berada di dalam mobilnya? Ia ingat, tadi malam karena mengantuk July menepikan mobil untuk tidur sejenak. Akan tetapi, sekarang July berada di sebuah tempat yang asing.

Mata July memindai sekeliling. Ruangan ini sebuah kamar, dan July berada di atas ranjang yang sangat empuk. Di sudut ruangan, ada sebuah meja rias lengkap dengan bangkunya. Di sebelah kanan tempat tidur, ada sebuah jendela besar yang terbuka lebar.

July berjalan ke arah jendela. Ia terbelalak. Bangunan ini sepertinya berada di tengah hutan. Sepanjang mata melihat, hanya tampak barisan pohon yang tumbuh menjulang tinggi.

Kemudian, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya pelan. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Mengapa ia bisa sampai di tempat ini? Siapa yang membawanya? Dan apa tujuannya?

Wanita itu berjalan menuju ruang depan, dan melihat ada seseorang yang berdiri membelakangi dirinya. Ia tidak bisa mengenali siapa orang itu, tetapi yang jelas ia seorang wanita.

Sosok itu mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Begitu juga dengan celana panjangnya, berwarna senada dengan jaket yang ia kenakan. Rambut hitam panjangnya juga terkuncir rapi.

July melangkah pelan. Benaknya sibuk bertanya-tanya, siapa wanita itu sebenarnya?

"Kau sudah bangun?" tanya sang wanita.

"Siapa kau?" July balik bertanya. "Kenapa aku ada di sini? Kau yang membawaku? Apa tujuanmu?" cecarnya lagi.

Wanita itu tertawa. Secara perlahan, ia membalikkan tubuh berhadapan dengan July. Mata July terbuka lebar menatap sosok di hadapannya.

"Mentari?"

Anehnya Mentari menyeringai.

"Aku bukan Mentari," katanya tajam.

"Kau Mentari! Aku tidak mungkin tidak mengenalmu! Apa maksud semua ini? Ini dimana?"

Wanita itu kembali tertawa. Bulu kuduk July meremang mendengarnya.

'Ada sesuatu yang tidak beres,' pikir July.

Ia merasa takut dengan Mentari di hadapannya. July merasa, wanita itu bukan Mentari yang biasanya selalu menunduk tidak percaya diri, lelet, ceroboh dan menyebalkan. Ada yang berbeda pada sosok di hadapannya.

"Sudah kubilang, aku bukan Mentari. Dia sedang tertidur di dalam," katanya sambil mengetuk kepalanya. "Akulah yang mengambil alih selama ia tertidur," lanjut perempuan itu. "Dan namaku adalah Sunny," tambahnya dengan tatapan tajam.

July merinding. Ia merasakan bahaya. "Aku tidak mengerti," lirihnya. "Apa maksudnya Mentari tertidur di dalam? Siapa kau?"

Sunny tersenyum mengejek. Perlahan ia melangkah ke arah July, yang juga melangkahkan kaki mundur ke belakang.

"Sudah kubilang, namaku Sunny. Aku adalah pelindung Mentari. Tidak akan kubiarkan satu orang pun menyakiti Mentari. Termasuk kau!"

Tubuh July membentur dinding, ia terpojok ketakutan. Pikirannya melayang ke hal buruk yang mungkin akan menimpa dirinya.

"A-apa yang kau mau? Aku tidak pernah menyakiti Mentari," cicit July. Sungguh, ia takut berhadapan dengan sosok Mentari di hadapannya. Atau Sunny, sesuai kata-kata wanita itu.

"Mira ...." Suara July terdengar lirih. "Kau yang membunuh Merry?"

Sunny tidak menjawab, tangannya terulur ke samping mengambil sebuah tongkat besi yang berada di sana. Hal itu, membuat July semakin ketakutan. Keringat dingin muncul di pelipisnya, napasnya mulai tidak beraturan.

"Tolong jangan sakiti aku," pintanya memelas. Ia merutuki tubuhnya yang kaku. Otaknya menyuruh untuk melarikan diri, tetapi tubuhnya berkata lain. Efek rasa takut yang dahsyat, membuatnya tidak bisa menggerakkan badan sesenti pun.

Kemudian, tanpa peringatan kepala July dihantam tongkat besi. Ia terjatuh di lantai yang beralaskan karpet.

July tidak bisa bergerak. Ia menangis dalam keheningan meminta pertolongan pada Tuhan, untuk mengeluarkannya dari situasi mengerikan ini.

Suara rintihan July terdengar saat Sunny menjambak rambutnya, memaksa menatap ke arahnya. "Melihat tingkahmu membuatku muak! Kau dan Merry, sama-sama jalang menjijikkan! Sudah saatnya kau menyusul teman jalangmu!" seru Sunny.

Ia meludahi wajah cantik yang sudah tidak berdaya itu. Tangannya merogoh saku jaket, dan mengeluarkan sebuah belati.

Mata July melebar melihat belati, yang berkilat mengancam. Ia merintih, memohon ampun.

"Ja-jangan," lirihnya.

Sunny hanya menyeringai melihat ketidakberdayaan July. Ia menjilat belati perlahan, membuat korbannya semakin gemetar ketakutan. Detik berikutnya, belati itu sudah menggorok leher jenjang korbannya, membuat wanita itu menggelepar dan kemudian hening.

.

Sunny menatap pria yang berdiri di hadapannya.

"Belum puas?" tanya pria itu dengan nada dingin.

"Jangan ikut campur," sanggah Sunny.

Ia berjalan melewati Brandon dan masuk ke kamar mandi. Sunny melepas pakaian, dan memasukkan ke dalam mesin pencuci baju. Ia menunggu air terisi, lalu membilasnya.

Pintu kamar mandi terbuka. Brandon memperhatikan segala aktifitas Sunny mencuci baju yang berlumur darah.

"Kau tahu alasanku membunuh mereka," kata Sunny dengan suara tenang yang menakjubkan, seolah yang mereka bicarakan adalah masalah cuaca. "Mereka pantas mati! Membicarakan Mentari di belakang punggungnya dan menjahatinya. Karena itu, aku melakukan ini semua. Dan kau juga tahu persis apa yang terjadi pada Mentari selama ini akibat ulah mereka," sambungnya lagi sambil berlalu keluar menuju dapur.

"Mereka semua jalang, pendosa dan penjilat, melakukan segala cara untuk ketenaran. Aku tidak peduli mereka mau berbuat apa saja asal jangan mencelakai Mentari."

Brandon menggeram. "Kau melakukan ini hanya untuk kesenanganmu saja!"

Wanita itu mengangkat alis dan menyeringai. "Aku melakukan untuk kesenangan sendiri? Jangan konyol!" Sunny terdiam sejenak. "Aku melakukan semua ini untuk Mentari. Aku menghabisi orang-orang yang mencelakai dan berniat menjatuhkannya. Sudah cukup banyak penderitaan yang ia rasakan karena sifat polosnya. Dia selalu memendam rasa sakit hatinya sendiri. Sudah lama aku memantau dari dalam sini, karena itu aku muncul untuk menyelesaikan masalahnya."

Brandon menghela napas lelah. Berulang kali ia membicarakan hal ini pada Sunny ia tetap tidak bisa menang.

"Kumohon, hentikan semua ini. Aku takut Mentari akan mengetahui ini semua," pintanya.

Sunny tersenyum kecil. "Tenanglah. Semua sudah kurencanakan dengan sangat baik."

***
Berita kematian July membuat heboh semua orang. Polisi mulai menyelidiki, namun hingga saat ini belum membuahkan hasil. Orang-orang mulai mengeluarkan berbagai macam opini, mengenai pembunuhan dua artis besar yang terjadi dalam waktu berdekatan.

Mentari mematikan televisi, yang sejak tadi menampilkan berita kematian July. Brandon muncul dari dalam kamar. Ia duduk di samping Mentari.

"July tewas," ujar wanita itu.

Brandon memasang wajah terkejut. "Apa? Kenapa?"

"Menurut berita, dia dibunuh. Entah siapa pembunuhnya," jelas Mentari. Tatapannya menerawang. "Menurutmu dia orang yang sama dengan yang membunuh Merry?"

Brandon terdiam. "Entahlah."

***
Brandon menepikan mobil di tepi tebing. Ia menatap sosok yang tertidur di jok belakang mobilnya. Pria itu kemudian turun dari mobil dan membuka bagasi mobilnya, mengeluarkan sebuah jeriken berukuran besar.

Tanpa membuang waktu, Brandon melumuri hampir seluruh bagian mobil itu dengan cairan dari dalam jeriken. Dengan satu sulutan api dari pematik yang ia bawa, terbakarlah mobil itu beserta manusia di dalamnya.

Brandon bergegas menjauhi tempat itu, tahu sebentar lagi akan terjadi ledakan, jika api sampai di tangki bensin. Ia memasuki sebuah mobil lain yang terparkir tidak jauh dari lokasi pembakaran. Pria itu menatap mobil milik Mentari yang kini meledak dengan cukup dahsyat.

"Selamat tinggal, Mentari. Kau tidak perlu melakukan hal bodoh lagi setelah ini," bisik Brandon.

"Aku mencintaimu."


END
profile-picture
profile-picture
ZaharaIzzah dan handayani.tika memberi reputasi
Diubah oleh wiispica
Quote:


Silakan, Ganemoticon-2 Jempol

Quote:


Terima kasih, Ganemoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
ilafit dan happinesstotast memberi reputasi
Ayo mampir, Gan Sis...
Jangan lupa komenemoticon-Sundul Up, rate emoticon-Rate 5 Star, and cendolnya emoticon-Blue Guy Cendol (L) emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan happinesstotast memberi reputasi
Diubah oleh wiispica
Mentari baca nanti deh
profile-picture
wiispica memberi reputasi
Ditunggu kumcer lainnya ya sis
emoticon-Big Kiss
profile-picture
wiispica memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Quote:


Keerrreeeennnn.
Pasti smw keren keren.
Seeppp bakal mampir mampir dah
profile-picture
wiispica memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di