CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Mematahkan Mitos Perempuan sebagai Kaum Inferioritas
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2e7f368d9b17176729d9f8/mematahkan-mitos-perempuan-sebagai-kaum-inferioritas

Mematahkan Mitos Perempuan sebagai Kaum Inferioritas

Judul Buku : Mitos Inferioritas Perempuan
Penulis : Evelyn Reed
Penerbit : Penerbit Independen
Tebal : 130 halaman
Dimensi : 13 × 19 cm
ISBN : 978-623-902-495-6
Harga Buku : Rp. 58.000
Cetakan : Pertama, Oktober 2019

Tidak jarang kita mendengar perkataan-perkataan yang dilontarkan kepada kaum perempuan seperti: “Perempuan itu nggak perlu sekolah tinggi-tinggi, kalau sudah bersuami paling hanya masak di dapur terus ngurus anak” “Perempuan cukup di rumah aja, masak, dan ngurus anak!” atau “Memangnya kamu bisa apa? Kamu kan perempuan.” Dan masih banyak lagi.

Sadar ataupun tidak, paradigma-paradigma seperti itu menunjukkan bahwa posisi perempuan selalu menjadi jenis kelamin yang inferior (lebih rendah) dan tempat mereka selalu berada di rumah. Padahal itu hanyalah mitos belaka yang kemudian mitos ini dibantah dan dipatahkan oleh seorang sosialis dan aktivis hak-hak perempuan di Amerika Serikat yang bernama Evelyn Reed.

Melalui buku yang ia tulis pada tahun 1969 dengan judul Problem of Women’s Liberation lalu diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi Mitos Inferioritas Perempuan ini, Reed membantah mitos yang selama ini diproduksi dan direproduksi oleh budaya patriarki dan kapitalisme yang menyebut bahwa kodrat perempuan menduduki posisi inferior (lebih rendah), sedangkan laki-laki menduduki posisi superior (lebih tinggi). Dengan pendekatan materialisme historis, Reed menelusuri akar sosial dan ekonomi penindasan perempuan dari zaman prasejarah sampai ke zaman kapitalisme modern.

Menurut teori matriarkal Briffault dengan teori kerja sosial Engels tentang asal-usul, jauh dari sekadar terkungkung di rumah belaka, perempuan adalah pencipta dan pemelihara organisasi sosial pertama umat manusia. Sebagaimana digambarkan oleh Engels, melalui aktivitas-aktivitas produktif yang dilakukan, manusia bertransformasi keluar dari dunia binatang. Lebih spesifik lagi, kaum perempuan menjadi salah satu pemprakarsa utama dalam kegiatan-kegiatan produktif ini. Artinya, mereka memiliki peran dalam tindakan penciptaan dan peningkatan kemanusiaan sehingga berkontribusi bagi berkembangnya peradaban.

Salah satu ciri yang paling terlihat dari kapitalisme dan masyarakat berkelas secara umum adalah adanya ketidakadilan seksual. Laki-laki berkuasa dalam bidang ekonomi, budaya, politik, dan kehidupan intelektual, sementara perempuan tersubordinasi dan tertundukkan. Hanya dalam tahun-tahun terakhir, perempuan keluar dari dapur dan kamar bayi untuk menentang monopoli para lelaki. Namun, secara esensial ketimpangan masih tetap ada.

Di zaman pengumpulan makanan, pembagian kerja berlangsung dengan sangat sederhana . Pembagian kerja dijalankan berdasarkan divisi seksual, antara jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Laki-laki adalah pemburu yang ahli, perempuan adalah pengumpul produk nabati di sekitar kamp atau tempat tinggal. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Alexander Goldenweiser dalam buku Antropology: “Dimana-mana makanan menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga, ini lebih teratur dan andal disediakan oleh usaha-usaha perempuan yang berada di rumah daripada oleh laki-laki atau anak yang berkeliling untuk berburu. Ini adalah gambaran umum di masyarakat primitif, bahwa ada kalanya laki-laki pulang tanpa mendapatkan buruan, dan mereka pulang untuk makan. Dalam kondisi seperti itu, pasokan sayuran harus memenuhi kebutuhan mereka dan juga kebutuhan rumah tangga lainnya.” Jadi, persediaan makanan yang paling dapat diandalkan disediakan oleh pengumpul perempuan, bukan pemburu laki-laki.
Dalam masyarakat primitif, kompetisi dalam hal seksual tidak pernah ada. Mereka tidak membutuhkan kosmetik dan fashion sebagai bantuan artifisial untuk membuatnya tampak cantik. Tubuh dan wajah laki-laki juga perempuan dilukis dan dihias tetapi tidak untuk terlihat cantik. Kebiasaan-kebiasaan ini muncul dari serangkaian kebutuhan yang berbeda berhubungan dengan kehidupan masyarakat primitif.

Penting pada saat itu bagi setiap individu yang menjadi bagian dalam kelompok kekerabatan tertentu “menandai” diri dengan melukis atau menghias bagian dari tubuhnya. contohnya dengan “menandai” diri berdasarkan jenis kelamin dan kategori umur. Alih-alih merupakan “hiasan”, tanda-tanda ini untuk menjaga sejarah kehidupan setiap individu, yang oleh masyarakat sekarang diabadikan melalui foto album keluarga. Dikarenakan masyarakat primitif adalah masyarakat komunis, tanda-tanda ini dibentuk berdasarkan aspek kesetaraan.

Saat masyarakat kelas hadir, tanda-tanda yang menandakan kesetaraan sosial dalam masyarakat primitif diputarbalikkan. Penandaan itu berubah menjadi fashion dnan hiasan yang merepresentasikan adanya ketimpangan sosial. Penandaan menjadi ekspresi pembagian masyarakat antara yang kaya dan yang miskin, antara penakluk dan yang ditaklukkan. Pada perkembangannya, kosmetik dan fashion menjadi hak preogratif dan aristokrasi.

Perkembangan kapitalisme, meningkatkan ekspansi dengan mesin-mesin baru yang bertambah produktif, sehingga membutuhkan pasar yang lebih besar. Sejak perempuan berjumlah setengah dari populasi manusia, para pengejar keuntungan mencari profit dari kecantikan perempuan dan mulai mengeksploitasi hal itu. Bidang fashion secara bertahap meluas dan keluar dari batas-batas sempit kekayaan. Fashion kemudian menjadi kebutuhan dari seluruh populasi perempuan.

Untuk melayani hasrat para pebisnis besar, perbedaan kelas didokumentasikan dan disembunyikan dibalik identitas jenis kelamin. Para penjaja iklan yang disewa kapitalis mulai mengeluarkan propaganda: semua perempuan ingin menjadi cantik, oleh karenanya, semua perempuan memiliki kepentingan yang sama dalm hal kosmetik dan fashion. Pakaian mewah menjadi identik dengan kecantikan, semua perempuan dibuat agar “butuh” dan “ingin” untuk terus membeli alat bantu kecantikan demi terlihat menawan.

Dunia kosmetik dan fashion telah menjadi tambang emas bagi kapitalis yang jumlahnya hampir tak terbatas. Para pebisnis dalam bidang kecantikan ini, akan menjadi lebih kaya raya hanya dengan mengubah mode dan menciptakan lebih banyak dan lebih baru alat bantu untuk mencapai kecantikan. Permasalahan ini, membuat perempuan sangat menderita. Mereka dibuat frustasi oleh beban nyata dalam kehidupan dibawah kapitalisme. Mereka cenderung tidak tahu dimana sumber masalahnya berasal. Para perempuan pekerja cenderung memandang “pengrusakan” imajiner mereka sebagai sumber masalah. Mereka menjadi korban dari kompleksitas masalah inferioritas perempuan. Ribuan, puluhan ribu, bahkan jutaan manipulator kecantikan, memberikan uang hasil jerih payah mereka kepada para pebisnis kecantikan.

Oleh karenanya, ketika perempuan berpendapat bahwa mereka memiliki hak untuk menggunakan kosmetik, fashion, dan yang lain, mereka sebenarnya telah terperangkap dalam propaganda dan praktik kapitalis untuk meraup laba. Para perempuan yang di garis depan perjuangan dalam memimpin perubahan sosial, tidak boleh terjebak dalam jerat fashion ini. Tugas mereka adalah untuk menunjukkan ulah para bajingan yang mendapatkan untung dari viktimisasi perempuan semacam itu.

Mitos bahwa selama kapitalisme berlangsung, kaum perempuan diharuskan mematuhi perintah kepentingan kosmetik dan fashion agar tidak tertinggal, adalah hal yang perlu dilawan. Memang benar, dengan kosemtik dan fashion perempuan yang bekerja di kantor-kantor untuk alasan tertentu akan mendapatkan pengakuan atas kenyataan pahit yang dialami. Akan tetapi, itu tidak berarti kita harus menerima keharusan dan perintah yang sewenang-wenang dan mahal tanpa adanya protes. Sementara kita melihat bahwa para buruh pabrik seringkali mendapatkan serangan terhadap serikat mereka. Mereka yang militan, kemudian melakukan protes dan terus berjuang melawan para pemeras.

Dibawah sosialisme, pertanyaan tentang apakah perempuan ingin melukis atau menghias tubuhnya atau tidak, itu bukanlah konsekuensi yang bersifat sosial. Beberapa perempuan mungkin menganggap diri mereka lebih cantik ketika mereka dilukis, beberapa mungkin tidak. Sikap itu merupakan sikap pribadi dari masing-masing perempuan, tidak lebih. Tidak ada keharusan ekonomi atau sosial bagi kaum perempuan untuk tunduk pada praktik-praktik paksaan untuk memakai kosmetik atau mengikuti fashion. Oleh karenanya, tidak tepat jika kita membela para pebisnis yang memuji eksploitasi komersial terhadap perempuan dengan atas nama “kecantikan”.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di