CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
KATA SIAPA NYONTEK HANYA DI SAAT SEKOLAH?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2e46cdaf7e93637e5dd393/kata-siapa-nyontek-hanya-di-saat-sekolah

KATA SIAPA NYONTEK HANYA DI SAAT SEKOLAH?

Disini gua mau menshare pengalaman gua kuliah di Pascasarjana Pendidikan Matematika di Kedua Univ Negeri yang satu di surakarta dan satu lagi di Jakarta.

Gua kuliah di Surakarta hanya hampir 1 semester gua pindah.

Ini juga bisa sedikit mengukapkan kebobrakan Pascasarjana di Sebagian Univ.

Dan ini berkaitan juga tentang pidato Kang Nadiem mengenai KAMPUS MERDEKA BELAJAR.

Terkadang tingkat kedewasaanseseorang bisa dilihat dari penilaian orang lain. Secara umum, seorang dapat dikatakan dewasa apabila ia telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jelek (atau benar salahnya sesuatu).

JUJUR adalah sebuah kata yang indah didengar, tetapi tidak seindah mengaplikasikan dalam keseharian. Tidak pula berlebihan, bila ada yang mengatakan “jujur” semakin langka dan terkubur, bahkan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang. Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya.



Februari 2019 gua di terima di Pascasarjana P. Mat di Univ negeri di Surakarta.

Karena dulu gua waktu S-1 di Swasta. saat gua pindah ke Univ Negeri pikiran yang terlintas gua adalah kompetisi yang jujur. Ternyata tidak pikiran gua salah. Gua melihat ketika Kuis mata kuliah Teknik Analisis Data. Gua yang duduk bagian depan mengumpulkan terlebih dahulu yang kebetulan gua sangat suka statistik. Pas gua ngumpulin ada banyak kertas tertata rapih pada kertas buram.

Lanjut aja Kita ke cerita waktu UTS.

Waktu itu Mata Kuliah KAPITA SELEKTA. wah itu pelajaran olimpiade matematika.

kala itu gua harus belajar 3 hari 3 malam untuk bersemedi memahami materi. Mungkin untuk memahami perempuan gua butuh 100 tahun.

Gua berada di bagian barisan kedua. disitu juga ada kakak kelas yang mengulang. kelas penuh dengan satu angkatan (24 orang) + 5 atau 6 kakel kalo ga salah. Seperti biasa gua selalu ngumpulin pertama. Gua ulangan ga pernah nanya mau noleh pun gua bakal mau. Saat gua ngumpulin pertama gua ngambil tas dan merapihkan barang diatas meja. Gua melihat ada yang bawa buku catatan yang telah di Photocopy bahkan handphone. (Saat itu ujiannya Close Book)

Begitu juga aljabar linear. Bahkan seorang Guru di Pondok melihat kertas ujian gua. gua berfikir "Guru menyontek, tapi nyuruh peserta didik nyontek? hmmm bahkan calon dosen pun menyontek. "Bagaimana kalo dia sudah menjadi dosen, lalu menyuruh mahasiswa untuk tidak menyontek?"

Gua bisa menghitung  kejujuran 6/30 orang. Sangat disayangkan.

Disini gua berfikir kembali. "Apakah dosen hanya melihat nilai dibandingkan kejujuran?" sekarang ini kebanyakan dosen bermain HP atau notebooknya ketika mengawas tanpa memikirkan kerusakan moralitas yang akan terjadi kedepannya.

Disini juga mengalami yang gua berfikir mata kuliah pilihan bisa diambil tanpa minimal mahasiswa, ternyata harus bersyarat. ketika syarat sudah dipenuhi Kaprodi pun acuh.. JADI MATA KULIAH PILIIHAN DI UNIV TSB DIPILIH OLEH DOSEN. BUKAN DIPILIH MANUSIA.

Waktu gua S1 itu hanya ada 2 orang memilih mata kuliah pilihan dan terus lanjut. Dulu di Univ gua tidak memandang banyaknya peminat mata kuliah.. jika ada satu pun tetap dilanjut. padahal univ swasta... masa negeri kalah sama univ swasta.. UNIV Tinkat 15 keatas kalah sama UNIV peringkat ratusan.

Mas Nadiem you have no power mengenai merdeka belajar di Kampus.

Pada Bulan Juni 2019 Gua keluar dari Univ Tersebut..

Dan pindah ke Universitas Negeri di IBU KOTA.

September 2019 gua masuk kuliah pertama.

Gua masih berharap adanya kejujuran.

Ietsss ternyata tidak..

Ternyata lebih parah.

Oke kita langsung ke waktu UTS.

Kondisi dikelas ada CCTV.. waktu UTS sama banyak yang menyontek dan bahkan 4/23 mahasiswa yang bisa dibilang jujur. Bahkan saat UAS dosennya dengerin musik bahkan jarang melihat mahasiswa mengerjakan ujian. Kalo dosen ga mau ngawasin dgn bener yak open book aja.

Gua tau pendidikan Indonesia butuh 100 tahun jika belum bisa merubah moralitasnya. Ini adalah AIB yang bisa menjadi bahan kajian bagi kalian yang bilang pendidikan Indonesia akan Maju. ia maju 100 tahun jika sudah bisa mengendalikan moralitas yang semakin tergerus.

Bahkan impact dari kejujuran gua sendiri adalah diskriminasi sosial dikelas bahkan bisa angkatan..

Ini bisa sebagai bahan renungan kelamnya PENDIDIKAN DI INDONESIA. Akar permasalah pendidikan ternyata ada di Perkuliah.

Mungkin segitu saja dari saya. Itulah hasil observasi saya selama tahun 2019...

karna yg di utamaain nilai jadi banyak orang berbuat apapun demi nilai
profile-picture
papahjahat21 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
sapa yg bilang ya?
KATA SIAPA NYONTEK HANYA DI SAAT SEKOLAH?
Balasan post indra.blora
Inilah yang seharusnya dirubah oleh orang tua kedepannya. Mindsetnya bukan nilai melainkan moralitas. Jangan sekedar enak membuat anak.
ga nyontek ga asik
Quote:


Yg pasti bukan saya
Nyontek... Njiplak karya orang saat bikin lagu. Serupa band tahun 2000an V*e*a emoticon-Blue Guy Bata (L)
Habit jd nya
jangankan sektor akedemis, lah di era 90-an dulu banyak produsen bikin barang mirip2 dan atau munculnya berdekatan, misalnya produk minuman segar rasa jeruk merk A lalu beberapa minggu kemudian muncul minuman segar rasa jeruk merk B, ada juga yang bikin nama merk mirip2 kayak rodeo, oriorio (sekarang jadi gorigorio), dsb
profile-picture
papahjahat21 memberi reputasi
Pada jaman kayak 'gini ...
- Apakah soal pada tes sama dengan dengan yang ada di buku ?
Ini terkait dengan jenis mata pelajaran yang dominannya pada hapalan.
- Apakah tes itu berbunyi seperti ini ... "1+1= ..." ?

...
Kalau mata pelajarannya itu cenderung berupaya untuk mendidik seseorang agar mengerti konsep-konsep yang ada di pelajaran tersebut, dan bukannya bagaimana seseorang bisa hapal akan rumus yang ada, jumlah SKS-nya bisa berlipat. Kalau tujuan dari awal memang inginnya agar jumlah orang yang mampu memahami akan konsep yang diajarkan mencapai 60% lebih pada kelas tersebut.

Para pembuat-pendefinisi konsep-konsep itu sendiri, adalah mereka yang telah bergelut dalam bidangnya masing-masing dalam waktu yang skalanya pake satuan tahun. Ketika seorang anak didik "dipaksa" untuk bisa memahami konsep-konsep itu, maka mau tidak mau akan ditemui adanya gap pada hal pemahaman, dan biasanya tidak melulu terkait bidang/mata pelajaran itu.
profile-picture
papahjahat21 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Balasan post bingsunyata
Sungguh disayangkan, inilah yang membuat kita buruk... Gua pun bingung sekarang ketika melihat sudah terlalu acak.
Balasan post papahjahat21
emoticon-Ngakak ...
Perkembangan jamannya memang udah segininya 'gan ...
Semakin maju, kita semakin tahu adanya korelasi penting tiap bidang ilmu. Dimana kemudian pada saat sekolah/kuliah semuanya itu penginnya ditransferkan langsung ke dalam otak si anak. Dimana kemudian perkembangan ilmu pengetahuan, juga tidak stop pada satu ttitik saja. Anak mesin pada masa '60-an, kagak bakalan 'nerima materi komputer segala macam, lain dengan jaman sekarang. Bahkan untuk 1 dekade lagi, dimungkinkan karena robotik udah menjadi suatu hal yang umum ..., anak mesin pun selain belajar mengenai serba-serbi bidang mekanik, juga harus belajar mengenai elektronik, komputer, plus bahasa pemrograman. Dan bukan sekedar program sederhana untuk bisa mendesain-menjalankan mesin CNC.
Itu kalau jurusan mesin ...
Kalau jurusan biologi, entah itu medis atau yang berhubungan dengan flora dan fauna, kayaknya juga hampir sama pula (terkait perkembangan ilmu pengetahuannya).

Lha kalau otak manusia itu kayak perangkat komputer yang saya pake buat 'ngetik ini sekarang, mungkin jadinya tidak serumit itu ...
Tinggal copas dari sumbernya, atau lewat perantaraan flash disk, colokin, dan transfer, beres.
Tapi sayangnya khan prosesnya tidak mudah seperti itu ...


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di