CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita di #KobessahKopi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2d5437a7276808a6186931/cerita-di-kobessahkopi

Kisah Kita di #KobessahKopi - 4K!

Cerita ini hanya 80% kisah nyata dan sisanya dengan penambahan seperlunya ya, mohon jangan baper jika ada kesamaan nama, tempat dan sikon. Mwah..

BAB I


Mencintai itu Menyakitkan,kan?

*baca story ini sambil dengerin lagunya Billie ELish ft. Khalid: Lovely"

Setelah sekian lama tidak merasakan apa jatuh cinta, aku memulainya kembali. Tapi, kali ini menyakitkan, sakit yang mungkin terulang seperti beberapa tahun lalu ketika aku menyukai Roni (akan aku ceritakan tentangnya, nanti. Mungkin di beberapa bab selanjutnya). Aku hanya takut terjadi lagi, ketika aku sudah tidak mencintainya (lagi), dia datang. Perasaan ini senyap, walau diantara puluhan manusia duduk di sekelilingku. 
Let's make it simple, guy. Kita belajar dari awal lagi untuk mulai saling mengenal, jalani dulu, apalagi kita sama-sama terluka oleh masa lalu. Tapi tidak semudah itu ternyata. Karena ini soal rasa. Dan aku terlalu egois memaksa rasa yang ku rasa terlalu cepat. 

Kadangkala cinta pandangan pertama pasti penuh pertanyaan, seperti "nggak mungkin, siapa tau cuma ngefans", "mungkin dia lagi butuh kasih sayang", "mungkin lagi selo aja". Awalnya ini terjadi ketika mau meet up sama temen, di salah satu kedai kopi ter-dabest buatku di Yogyakarta, why? karyawannya super baik banget, harga sangat murah, wifi okayyy, bahkan nggakjarang ngasih tester menu baru walau itungannya aku anak baru. Bukan mau endorse, mungkin kalian bisa cek sendiri KOBESSAH KOPI di Yogyakarta. Iya, tempat ini yang memulai mengetuk nuraniku memulai cerita baru setelah tidur panjangku dalam menulis.

Pertama kali banget buat mau untuk ketemu orang, dan untung ini sama temennya temenku KKN di Kulonprogo lalu, dan masih s
atu almamater di universitas negeri di Yogyakarta, jadi nggak keraguan dia penipu atau tidak (wajar takutlah ya banyak kenal di sosmed gataunya nggak  bener..). Hal ini juga pertama kalinya aku berani kumpul bareng temen cowok setelah sekian purnama nggak mau nongkrong, karena apa? lagi suakit hati parah sama mantan, diputusin 3 bulan lalu dia udah tunangan dongg.. asyikkkk :"D

Giovani Meyrza, sahabat Brian (si teman KKN-ku yang super kocak). Awalnya kenal dari instagram, dengan akun dia yang baru. Katanya diteror sama salah satu fans (maklum sih ganteng - mungkin). Gio ngajak aku buat ketemuan di Kobessah Kopi sekalian silaturahmi. Logikaku menawarkan, nggak ada salahnya buatku untuk mulai untuk bergaul dengan dunia yang sudah lama aku tinggalkan, maksudnya ya nongkrong biar nggak kudet.
"Rin, temenin aku buat ketemu Gio, ya." tanyaku pada Rina yang sedang asyik nyemil udon favoritnya, Beef Curry Udon!
"Pacar baru?" jawabnya. "Bukanlah, orang baru kenal. Temennya si Bray, cuma silaturahmi aja s
ih."

"Iya bener, biar kamu nggak keinget sama si Widhi terus. Dia udah moveon, kamu masih stagnan di sini. Dia bahagia, kamu sedih. Inget sis, kamu bukan gedebong pisang. Yuk cusss hajar".
"Apa-apaan main cus segala nih, aku nunggu konfirmasi dulu takut dia belum sampai". Aku mengambil ponselku dan menunggu notification dari Gio. "Confirmed,". Jawabku.
"Mas sigit ikut, kan?" Tanya Rina pada Mas Sigit yang sibuk dengan hpnya. Kayaknya zona-zona suami-suami takut istri karena waktu sudah menunjukkan angka 10 malam. Jam di mana mas sigit harus jemput istrinya di stasiun, karena kerjanya di Solo.
"Mas tapi njemput dulu, ya.Iyauda yuk mas anter kalian sekarang," jawab Mas Sigit.

Bermodalkan google maps dan HP OPPO A3s warna merah, sampailah di sebuah bangunan dengan nuansa pendapa dan dihiasi lampu kuning, halaman yang cukup luas untuk 5 mobil dan 30 sepeda motor ini menyita perhatianku. Seakan dejavu berada di tempat ini. Tempat yang sangat tersembunyi tapi keramaian tidak bisa ditandingi. Aku berjalan dengan Rina mencari di mana Gio duduk. Sedangkan Mas Sigit harus segera puter arah untuk menjemput istrinya.
"Mau ngomong apa ini aku?" tanyaku sama Rina yang ikut sibuk mencari tempat duduk Gio.
"Udah basa-basi haha-hihi siapa tau satu aliran." saut Rina.
"Iya kali sengkleng-gank kayak kita,"
" loh kan satu almamater,"
"Almamater kita aja mungkin malu punya ex-mahasiswi macam kita. Tomboy iya, jomblo iya".
"Eh itu!" aku kemudian melambaikan tangan ke arah Gio, laki-laki berbaju putih yang sedang duduk dengan temannya. Aku dan Rina berjalan mendekatinya.
"Jaga sikap, ojo njathil",
"Obate wis tak ombe, aman terkendali. Nek kumat yowis pasrah"

Becandaan garingku dengan Rina, maksudnya kami memang suka ger-geran kalau becanda sampai kami lupa kalau kami tertawa udah macam anak bujang dan udah remaja.

Hari ini adalah awal perjalananku dimulai, di mana aku akan tahu kisahku dengan sesuatu yang baru. 
Sesampainya di sana, basa-basi perkenalan yang ngalor ngidul bin ngetan ngulon. Pandanganku tertuju satu hal, sama temennya yang kusebut Poni Lempar. Wkwkw nama aslinya sih Puguh, anak nganjuk :O entah kenapa akhir-akhir ini selalu punya temen dari jawatimuran tapi mereka asik banget gak paham emoticon-Frown(


Laki-laki itu sekilas pendiam, kulitnya putih bersih, kalem, sedang asyik dengan laptopnya seperti sedang mengerjakan sesuatu. Ternyata bener, dia baru ngerjain tugas akhir yang dadakan banget baru dikerjain untuk 2 hari ke depan. Aku, Rina, dan Gio heboh ngobrol,sesekali dia melempar senyum padaku. Entah, hati yang begitu kosongnya merasa terisi dengan seyumannya. Mungkinkah ini cinta pandangan pertama? Padahal akunya saja yang ke-GR-an, macam kepala yang gakmuat untuk helm.

"Kopi favorit di sini, apa?" tanya Rina sama Gio. Seketika Gio yang duduk disampingku dengan wajah manisnya dan kaca bulatnya itu memanggil salah satu karyawan kedai, bang Didin namanya."Bang, biasa. Min ya,". Gio memesankan Rina kopi langganan yang biasa dia minum sembari merogoh-rogoh sakunya. Ini manusia unik juga, di tanya apa tapi malah langsung dipesenin tanpa meminta pendapat atau tanya konsekuensi apa gitu nanti. Aku saling tatap dengan Rina yang duduk di depanku, yup! Di samping laki-laki yang membuatku penasaran.

"Loh kok kamu yang bayar? nggak nggaaak," aku menarik tangannya yang sedang mencari uangdi dompet hitamnya untuk bayar pesanan Rina.
"Murah kok, udah tenang aja". Jawabnya sambil senyum padaku, aku jelas tidak enak karena ku pikir awalnya harganya mahal. Setelah tau uang yang Gio berikan ke Bang Didin senilai 7 ribu rupiah, dan masih kembalian, ternyata harganya sangaaaat murah emoticon-Frown cuma 5ribuan dong. Uang sisanya pun dipakai Gio buat beliin kerupuk, sebagai kado ulangtahunku, "lucu amat ni anak", gumamku dalam hati. Kobessah Kopi mungkin akan menjadi suatu tempat penuh cerita baru, pertemuan dengan orang-orang baru yang lama tak kurasakan sejak masih bersama Widhi.

Hari itu, kami berempat ngopi sampai pagi. Sesekali Gio menegurku karena aku iseng online game  mobile legend :v. Aku mengajak kakakku, wisnu, untuk gabung. Kakak sepupuku yang selalu ada buatku, untuk datang menemaniku. Karena Rina mengirimiku pesan bahwa dia harus segera pulang, karena Mas Sigit ingin ngobrol berdua.


"Kamu ada yang ngikuti ya, perempuan". Tiba-tiba Gio berkata padaku. Dan aku kaget kenapa dia bisa melihat, nggak taunya bener dia bisa ngerti hal gituan. Jadi takuuut :v

Aku mengiyakan apa perkataanya, dan aku sesekali melihatnya bahwa dia emang orang punya kelebihan dan bukan orang yang biasa. Aku penasaran dengan kehidupanya dan masa lalunya, tapi aku mengabaikan itu semua karena dipikiranku tertuju sama Puguh. entah, laki-laki itu dengan wajah polosnya membuatku penasaran.
"Eh sampai lupa, kenalin ini Puguh dia jomblo. Arsitektur. Sama-sama arek nganjuk", timpa Gio. Laki-laki itu tersenyum menjabat tanganku sama Rina. Ingin rasanya aku teriak, Mas, tatapanmu kayak kulkas . Bikin adem". Apa daya kan wkwk
Cerita di hari itu berakhir.

****


Hari, berganti hingga pada akhirnya kami memutuskan bertemu lagi. Janjian di kedai kopi yang kami kunjungi pertama kali dan aku mulai menyukainya. Dengan naik ojek online, aku menyusulnya karena awalnya kami janjian dan menepati janjiku pada Gio untuk membantu Puguh mengerjakan skripsinya, aku skip sehari karena aku harus pulang ke rumah yang di pojok daratan provinsi ini untuk mengurus kesembilan ekorkucingku.

Baru 10 menit aku sampai, Puguh mengajakku pulang duluan karena mau kejar skripsinya dan maketnya, karena paginya dia harus sidang. Sesampainya di kosan, banyak teman-temannya yang datang dan aku happy banget karena dia anak baik menurutku, semoga feeling  ini tidak salah. Dia mempersilakanku masuk di kamar kosnya yang berantakan, di mana kertas karton berceceran dan hasil karya maketnya yang tergeletak di meja. Di sudut aku melihat botol minuman keras yang mungkin belum lama dia party dengan temennya.
"Eh sorry ya, Jen berantakan banget. Belum bersih-bersih. Nanti kamu tidur sini aja".
"HAAAH?"
"Maksudku kamu tidur di kamarku aja, aku tidur sama Kukuh. Aku capek banget kalo nganterin kamu balik, dan aku nggak ngijinin kamu pulang naik ojek online atau gocar. Kamu tidur sini."
"Nggak mau, aku tetep pulang"
"Kamu mau ngeyel atau aku marah sama kamu, udah tidur sini aja. Nanti kamarnya dikunci".
Mana bisa aku ini menolak kalau taruhannya di marah sama aku. 
"Oke deh, mandi dulu sana biar kamu segeran."
"Iya aku tinggal mandi dulu ya,". Dia mencari baju ganti sembari aku membereskan beberapa kertas dan karton yang berserakan. Selama mengerjakan tugas akhir dan maket, kami bersendau gurau, dia menceritakan beberapa masa lalunya yang tak lain dia juga habis putus dengan kekasihnya, sama-sama anak nganjuk. Dan baru aku tahu namanya adalah Yani.

"Coba lihat di poster itu," tunjuknya pada poster aktris yang tak lain JENNIFER LOPEZ dengan ukuran 2meter x 1 meter itu. "kamu bisa baca?," imbuhnya.

 Ku pandangi poster itu yang ternyata ada tulisan arab di situ. "Ini apa bacanya,". tanyaku padanya. "ketenangan". jawabnya sambil tertawa kecil. Candanya membuat hatiku sangat nyaman, entah.

 "apa sih yang bener dong,' cubitku. 

"itu kenyamanan,". Jawabnya dengan bercanda lagi. Dia menatapku lama, dan aku mengalihkan dengan membuka camilan Roma Tiramisu yang kubawa sambil aku menata miniatur pohon yang aku bawa untuknya. Aku sesekali mengingat dan mencari bacaan ayat tersebut, tapi entahlah sampai sekarang aku pun tidak ingat. Seandainya aku bisa menulis segala sesuatu yang ada di memoriku, mungkin akan lebih rapi. Tapi memori ini perlahan terganti dengan duka hati. 

"Aku suka sama cewek, Jen. Tapi kenapa ya kok tu cewek gak suka sama aku. Dia orang Kalimantan, aku pengen kerja di Kalimantan habis ini biar ketemu sama dia."

Tiba-tiba dada ini sesak seakan dicekik sama kucingku sendiri.Ternyata belum saja mulai, sudah menyerah di garis start. Tidak ada harapan. Tidak ada tanda-tanda. Aku berusaha bersikap biasa saja walau seperti ada duri yang bersarang di dadaku. Aku menjawab setiap pertanyaannya seakan aku ini sebagai teman yang baik.Too stupid fallin' in love speedy. Hingga pekerjaan kami selesai, aku memutuskan untuk istirahat dan pulang di keesokan harinya bersamanya, bersamaan dengan menemaninya sampai kampus untuk ujian.

Hingga pada akhirnya hari ini aku berusaha untuk melepasnya dari hatiaku tak tahu dan tak peduli masa lalunya, karena mungkin benar, cinta itu tak bersyarat. Tapi aku tidak perlu terlalu bodoh mengharaplan sesuatu yang bukan miliku, walau dalam hati ada doa yang terucap,"nggak papa sama dia dulu, tapi nikahnya sama aku, ya".



Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
raaaaud20 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh jennysrys

Bab 2 - Lagu itu, Kina

BAB 2


Lagu Itu, Kina


"Aku selalu ndengerin #Kina - Can We Kiss Forever setiap nulis story tentang dia, entah. Bahkan cari yang bisa sejaman di youtube wkw "emoticon-Sorry


Seperti biasa, hari ini aku ada acara kerjaan yaitu jadi tukang dekor, usaha yang baru aku rintis bersama teman kecilku, gendud. Agenda hari ini ada dekor di Grand Sarilla Hotel, Yogyakarta! First time banget  dekor di hotel. Kayak seakan proyek gede gitu. Padahal yo enggak. Tapi sebuah pencapaian, mau sewa? Boleh. Cek instagramku ya emoticon-Stick Out Tongue


"Kita mau kemana, nih? nungguin 4 jam-an lama juga eee, jadi ragi aku nanti". tanyaku pada gendud yang asik nyetories hasil dekor yang ternyata lumayan wow  walau lowbudget. Start dekor dari jam 11 sampai harus cari material kemana-mana dulu karena nggak tega banget dekor di hotel tapi standing announcement klien pake papan tulis, berasa SD pindah hotel nanti walo klien yang minta gitu karena dia lowbudget. Huhu..


"Eh ke tempat ngopimu sama puguh aja, sama gio, apa sih namanya lupa. Sah?", saurnya. 


"Kobessah nih maksudya?" imbuhku.


"Nah iya, ayo ke sana wae". jawab gendud sambil nyiapin berkas buat nagih uang ke klien.


Sambil mengemasi barang-barang setelah dekor, aku dan gendud pada akhirnya  memutuskan buat ke Kobessah Kopi. Di dalam hati udah bayangin nanti mau makan enak, biar ada manis-manisnya hasil kerja kita. Sesampai di Kobessah yang harus muter dulu karena susah cari puteran di area terminal concat yang sangat padet, seperti biasa, aku selalu pesan cokelat original dengan harga 13k. Ekspetasi berubah, akhirnya nyobain rawonnya.


Sesampainya di sana, aku juga masih chattingsama dia karena mau janjian sama Puguh, dia mau nyusulin jam 2 setelah mandi. Karena dia semalaman habis begadang ngerjain DED-nya yang masih harus revisi. Nanti dia juga ada agenda buat jemput ayahnya, karena baru plesir sama temen kantor (pak e carik neng nganjuk rek). Katanya, pak e nggak suka buat tidur hotel, lebih suka tidur bareng-bareng sama anaknya apa keluarga, wow banget orangtua jaman old di era sekarang yang tidak egois, kayak familybangettt. Mauu banget ada mertua kek gitu emoticon-Frown beda sama orangtuaku yang masih ego-oriented.


Selama chat, dia masih selalu saja memberikan uluran tangan bantuan buat lepas dekor, dan aku takut baper :" tapi aku mikir, mungkin lah ya dia mau balas budi karena aku bantuin dia nyelesain maket. Tapi aku takut banget sama perasaan ini. Perasaanku dari awal sampai sana udah deg-degan gak karuan, bingung memulai pembahasan apa kalo dia udah dateng nanti. Nih ya guys, bener banget kalo emang uda baper dan minder jadi satu tuh kayak jus sirsak campur kopi, bikin mules. Bingung buat bersikap biasa aja.


Waktu berlari begitu cepat, dari jam 12 siang sampai jam 2 kemudian, aku nungguin dia dateng, dan aku kepikiran kayak rasanya mungkin gak sih kalo cewe nembak duluan? mungkin nggak sih? aneh gak sih? Tapi baru kenal semingguan mungkin rada aneh, cuman nggak bisa diteba gitulah rasa. Aneh bin ajaib!


Waktu mulai marathon, sambil wifian gratis aku menulis ini, dan udah menunjukkan pukul 14.13, dan kamu juga belum dateng, udah mulai resah banget rasanya, pengen banget ngenalin kamu ke sahabat terdekat aku tapi kok rasanya bukan hal yang mudah ya, karena aku coba telepon kamu, tapi nggak kamu angkat emoticon-Frown

Dan sekarang udah 14.28 rasanya kayak sudah satu abad buat nunggu. Kok gelisah banget ya ampun, jatuh cinta yang menyebalkan :" menunggu itu membosankan banget.


Hingga pada akhirnya, ada mobil parkir xenia item dengan velg (yang sebenarnya gak nyambung kamu mas kalo pasang semacam velg VR Racing buat Xenia, tapi ya gak papalah kamu kan unik makanya aku suka wkw). Udah pukul 16.48 dan bodohnya aku masih saja menunggu, supaya aku bisa ngenalin kamu ke sahabat baikku. 


"Hey, dah lama nunggunya ya? Maaf ya aku tadi ketiduran lagi,". Puguh nyamperin aku setelah menaruh tasnya ke kursi yang cukup luas karena dia mau ngurusin DEDnya, anak arsi pasti tau. Hehe.


"Iya nggak papa, tapi aku abis ini balik mau bongkar dekor"


"Mau dibantuin gak? Ayok aku bantu"


"Hehe nggak usah, kan kamu ada agenda"


"Cuma DED doang, nggak papa yuklah aku bantuin"


"Eh kenalin, temen sepenangkaranku, gendud"


Dia kemudian duduk di sampingku, dan kita ngobrol. Rasanya seneng banget, aku sesekali melihatnya di pantulan layar HP. Tiba-tiba ada chat masuk di HP, kagetlah sumpah itu gendut !!! Yang duduk di depanku asem kan.. untung gak baca dia.


Kenal lebih jauh dulu wae. Cowok ganteng = okeh loro atine emoticon-Winkemoticon-Wink pengalaman wae indi, playboy to emoticon-Wowcantik selama ini kan mantanmu manis-manis, sek putih tinggi ganteng kan indi, liyane durung ono. tatag ke sek, memang lebih baik dicintai tapi sangat sangat baik sama-sama mencintai.


Sedih aku tu auto ditolak iki kayake aku, gupuh pisan emoticon-Frown 



Sepulangnya, sekitar pukul 17.00 baru beberapa saat kita bertemu, aku harus balik ke hotel buat lepas dekor. Rasa yang campur aduk menerpaku ketika aku sampai mobil, dan disitu aku merasakan bahwa, aku harus bilang.


Hampir 15 menit aku mengumpulkan rasaku, dan akhirnya aku beranikan diri buat telepon dia. Memang, terlalu cepat aku mengatakan ini. sih.


"Ndud yakinki aku telepon ambek dia?"


"Mending tok telepon to kon moronah engko aku pura2 neng toilet".


"Lha wedi aku ki, mesti langsung auto tolak wong ra wajar kecepeten, kenal lagi tanggal piro".


"Wis ndang ngomong daripada ra ngomong blas malah mung getun".


"Yoh, oke. Kudu jajal. Kan gur ngomong ya udu ditembak"


Dan akhirnya aku meneleponnya dengan rasa yang campur aduk, dan diangkaat !!!


"Halo, ada apa Jenny?". Jawabnya lembut.


"Mas, masak aku suka sama pean to," dan dia pun hanya tertawa. Aku semakin bingung dengan rasa ini, "hehe sorry mas, yauda yah gitu aja". Jawabku langsung matiin telepon dan pergi dari parkiran. Setibanya di perempatan Gejayan, ada pesan masuk dari dia. Udah pasti sih ditolak, tulul banget baru kenal kok udah bilang suka. Halu bener dah aku ini.


Hehehe kan baru kenal masak udah seneng, kan belum terlalu tau tentang aku. Tapi Makasih ya udah sama aku. Maaf ya, mungkin saat ini kita lebih ke temenan aja ya, ak masih pengen fokus skripsi. Makasih


Setelah baca itu, rasanya di perjalananku menuju kantor hancur, kayak baru kali ini aja keruntuhan bangunan. Mungkin karena dia terlalu sempurna juga, ganteng, putih, tinggi. Apalah aku cuma item kan, modal tinggi doang emoticon-Blue Guy Smile (S)ukan siapa-siapa dan aku mulai sadar diri untuk tidak terlalu berharap lebih.


"Uwis rasah galau, koyo Yoga Arizona kae lho. Buah salak buah kedondong, cinta ditolak cari yang lain dong". 


"Tapi embuh lah ndud ancen rosoki wagu, aku nggak nyaman dengan kondisi seperti ini"


"Setel kalem, nek kancanan ya kancanan wae rasah koyo cah cilik terus ra gelem ngopi bareng atau apa, bersikap biasa wae rapopo, kancanan sek. Sing pacaran suwe iso kandas, sing lagi kenal iso dadi boojo, rasah sedih"


Sepanjang perjalanan gendud ngehibur aku tapi tetep aja ngga sih guys, yang kalian butuhin kayak bener-bener buat rebahan. Rasanya udah mulai separuh hati ilang, belum apa-apa ya kan udah ditolak. Pernah ngrasain?https://www.youtube.com/watch?v=qz7tCZE_3wA


Diubah oleh jennysrys
Lihat 1 balasan

change post

BAB 3
Kamu itu Kenapa?
#KobesahKopi


Sudah lama aku enggan untuk memulai percakapan online dengan laki-laki yang berusia 1 tahun di atasku itu, bukan karena sakit hati karena ditolaknya, akan tetapi lebih baik demikian untuk mulai melupakan semua rasa yang aku pikir abu-abu ini. Mungkin rasa itu sesaat. Hanya rasa semu ingin disanding #eaaaaa

Waktu terus berpacu, hari demi hari terlewati. Tak terasa sudah hampir 1 bulan sejak aku menyatakan aku suka dengannya. Tiada hal yang bisa dipungkiri, alasan untuk tetap saling bertatap muka walau dengan bibir terkunci tetap saja ada. Iya, masih di #KobessahKopi. Tempat di mana kita harus tetap saling menjaga sikap agar tidak ada orang yang tahu tentang apa yang kita alami beberapa waktu yang lalu. Tempat di mana kita semua sebagai 'teman' dengan rasa yang pernah ada harus dilebur demi keprofesionalan sebagai 'teman'.

"Put, ntar ngopi lagi di Kobessah nggak?", pesan chat via whatsapp ini ku kirim ke Kukuh, sahabat Puguh. Nama lengkapnya sih Kukuh Putra Darmawan, makanya aku manggil dia Put. Dia mahasiswa semester akhir di Teknik Industri UII. Tampilannya kurang lebih versi kayak Master Limbad, dengan tubuh setinggi 165cm, berat badan 55kg dan kurus agak kuning bersih. Kapan-kapan aku release aja ya foto-fotonya, siapa tau kalian ada yang terpikat emoticon-Stick Out Tonguehaha.. #kidding

"Ngopi ae Jen, sisan cerito-cerito bareng cah-cah. Jam 8 yo. Po arep ngopi pagi?," tiba-tiba ada balasan secepat jatuh cintaku pada si Puguh.

" Ora, engko wae mbengi. Aku kerjo soale," balasku. Akhir pesan, aku membuka laptop merek ASUS putihku yang sudah menemaniku sejak kuliah, laptop itu kuletakkan di meja kerjaku berwarna biru, yang menempel di dinding dengan foto Puguh yang berada di sana. Ku pandangi foto itu sambil duduk dan bergumam,

"Jatuh cinta padamu itu mudah, melupakanmu yang susah. Walau sebentar kenal, aku yakin kamu orang baik, kamu orang setia. Aku tidak butuh waktu lama mengenalmu, aku ingin memulai segala sesuatu dari awal, dari aku tak tahu masa lalumu, dari aku tak tahu siapa kamu, aku ingin semua berjalan dengan sebagaimana air mengalir. Aku tidak butuh masa lalumu yang kelam, aku tidak peduli itu semua. Ini urusan kita. Bagaimana kita bisa berjalan di atas bumi ini dengan pribadi yang lebih baik dari kemarin. Aku ingin semua start dari awal, ketika kita tidak punya apa-apa, kita berproses bersama, belajar bersama, dan menikmati semua jalan ini bersama."
emoticon-Sorry


Aku memang cengeng, sesekali menitikkan air mata. Mungkin, karena aku hanya sedang mengalami kesepian setelah Mei 2019 lalu berpisah dengan pacarku yang sudah tunangan dengan kakak kelasku selang 3 bulan kami berpisah. Bersamaan dengan itu, Puguh juga baru saja putus dengan pacar 9 tahunnya karena wanitanya memilih yang lain. Waktu yang sama pada masa sama-sama saling ditinggalkan. Ditinggalkan oleh orang yang sangat berarti. Tapi aku tidak dendam, karena sama saja menyimpan tomat busuk dalam hati. Untuk itu, aku memang tidak butuh alasan pasti untuk menyukainya. Jaman sekarang, laki-laki setia sangat langka nggak sih? Mau dikasih sop tulang buaya atau ikan dugong pun supaya laki-laki di terapi setia, akan susah kalau memang bukan wataknya.

emoticon-Sorry


Kemudian aku mengusap air mataku dan mulai belajar untuk tes CPNSku mendatang.
***


Jam berganti, waktunya aku pergi ke #KobessahKopi di Jalan Anggajaya 2 No. 300 Condong catur (kalian pasti akan bertemu denganku kalau mampir, hehe. Bolehlah kita saling bertegur sapa). Seperti biasa, dengan dandanan super tomboy walau rambut panjang lurus terurai, aku tetap pede dengan style-ku.

"Kamuuuu lagiii ', sindirku pada laki-laki dengan kaos warna hijau muda aga gelap itu. Laki-laki yang duduk spanneng di depan laptop merek HP warna merah menyala di ujung pemdopo.
" Eh, Jen. Kamuuu lagii. Sama siapa?" jawabnya. Iya, dia Puguh. Dengan tampilan ala sok jadi oppa (mohon maaf ternyata dia drakor garis keras). Tatapannya itu lho kayak brownies cokelat leleh, lumeeeeer...
"Sendirian. Mau ngopi bareng sih sama Kukuh juga. Kamu ngerjain apaan? Kukuh mana? Kok sendirian,". tanyaku sambil duduk di depannya.

Tak lama kemudian Kukuh dateng dengan temennya, Nores.
"Hey, Jen. Dari kapan? Gasik." tanya Kukuh sembari mengeluarkan rokok Surya dan kemudian menyalamiku.
" Lagiii waee, yo ora nek gasik. Pas kok." jawabku sambil mencari dompet di tas kecil hitam merah-ku.
" Ndang pesen, madang." Jawab Kukuh sambil salaman dengan Puguh.
" Hayoo pada janjian yaaaa?" Puguh menyeletuk sambil senyum-senyum.
" Apaan orang janjian ngopi bareng, kan mesti cah-cah yo teko"."sahutku.
" Ngopo Guh, cemburu po?" nimbrung Nores.
"Hooh cemburu," jawab Puguh sambil senyum-senyum.
" Wis ah malah do halu, meh pesen apa sekalian?"tanyaku setelah menemukan dompetku yang terselip.
"Gedang goreng". Kukuh menjawab.
"Aku enggak Jen, nanti aja makan eskrim po?" Puguh menawari makanan yang tidak ada di sana.
"Aku melu"."sahut Kukuh. "Lha motormu nendi?"
"Aku mau nganggo ojek online, rodo mumet bathukku." pungkasku.
"Engko Jenni diterke bali yo," Kukuh menepuk pundak Puguh.
"Orasah. Aku nganggo gojek wae," padahal dalam hati aku pengen banget dianterin Puguh pulang berdua. Dasar wanita.
"Ora, bahaya. Akeh klithih," Jawab Kukuh sambil menyalakan koreknya,
"Ora yo, wedi klithih e ro aku," Jawabku. Sambil berdoa dalam hati "Ya Allah semoga dianter mas Pug-pug aja,". "Embuh ah, tuku madyang sek," Jawabku dan bergegas untuk ke meja pemesanan di dekat parkiran sepeda motor. Masih saja rasa ini tidak bisa bernegosiasi.


Cinta ditolak oeey cinta ditolak. Alasan apa sih buat bareng hmm..batinkuuu emoticon-Bingung


***

Setelah pesan makanan dan minuman, aku kembali ke meja tadi. Aku melihat mereka berdua (Kukuh dan Puguh) sedang saling bercakap-cakap, dan kemudian berhenti ketika aku datang ke sana.

"Ngomongin aku pasti". Tanyaku sambil duduk.

"Hooh, tapi kowe raoleh ngerti," jawab Kukuh.

"Heleh, nggateli," Sahutku lagi. "Eh kamu ngerjain apaan e, ditanyain kok,".

" Ini lo Jen, cuman kurang revisian DED. Aku besok sidang lagi Senin. Mau nemenin lagi nggak?" Puguh menghentikan pekerjaanya sambil menatapku. Subhanallah azab apa lagi ini rasanya di mata nggak mau kedip. "Enggak ah, males" pungkasku sok jutek.

"Hmm yoh kowe," jawabnya sambil senyum-senyum menunjukku.

"Suruh nemenin Nayla nah, masak aku," hatiku meronta. Bibirku masih aja nggak kontrol sok cuek. Nayla tu mantannya Gio, tapi Puguh suka sama dia. Iya apalah dibandingkan sama Nayla, aku bagaikan Bubur Ayam yang makannya diaduk. Mawuut..
emoticon-Sundul


***

Hampir 4 jam saling bertukar pikirian bersama, mengenai bisnis, masalah percintaan Kukuh dan Mey, aku memutuskan untuk segera pulang.
"Aku balik ya,". Jawabku sambil melihat jam tangan.
"Diterke, kosikek. Nungguh Puguh rampung," sahut Kukuh. Kebetulan Nores gabung sama teman kampusnya, jadi tinggal kita bertiga.
"Aku wis rampung, kok. Bentar ya jen tak beresin dulu,". Jawab Puguh. Batinku, kalem banget ini manusia ya ampun, aku suka kamu, kamu suka dia. Iyauda kelar kan cinta ditolak dan bertepuk sebelah tangan.

"Nggak usah ngarepinnn lagi Jen, udah temenan aja, siapa tau nanti Dewi Asmara mampir. Kalian dipertemukan beberapa tahun lagi. Udahlah udaaah."


Batinku bergumam sedemikan hingga sambil menunggunya selesai mengemasi barang-barangnya.

"Kesuwen Guh, Cak cek lho pak carik," sahut Kukuh. Maksudnya Pak Carik itu kebetulan si Puguh anak dari Carik di Wilayah Desanya, di Nganjuk. Kalau nggak salah sih daerah Gondang sana.

"Iyo iki wes beres, kowe sing nyetir yo," jawab Puguh. Sambil menentengkan tasnya.
"Uwislaaah aku ki nggojek wae ben cepet". pungkasku sambil berdiri dan mengucir rambutku.
"Wis ayo tak setiri," Kukuh mengambil kunci mobil Puguh yang tergeletak di samping bungkus rokok si Puguh. Oke baiklah, aku harus pulang bersama mereka dan harus menerima keadaan bahwa aku harus satu mobil dengan Kukuh juga. Puguh ingin duduk di belakang seakan membiarkanku agar duduk di kursi depan bersama Kukuh, tapi aku menolaknya. Ketika aku masuk ke mobil, yup aku menemukan brosur dari Yoshinoya.


"Wah abis kencan nih," tanyaku sambil menjulurkan brosur di sela-sela kursi mereka.
"Ora yo, mau gur jalan-jalan", sahut Puguh sambil merebut brosur dariku. Tau kan perasaanku gimana, secara terang-terangan tahu kalau cowok yang aku suka jalan sama yang lain. Wkwk ya ambyar gitu deh kayak sego kucing ilang karet e. Dalam hati aku juga bergumam, untuk brosur seperti ini ya pasti makan di sana lah gak mungkin hanya lewat, macam main monopoli ada istilah "hanya lewat".

***

Sepanjang perjalananku dengan mereka di jalan, banyak hal cerita yang diungkapkan, termasuk kisah Puguh mengejar Nayla dan kuping ini harus tahan sama ceritanya, bahkan hati ini walaaah kayak abis digaremin setelah dikupas dari kulit.

"Eskrim mana nih, jadi?" tanyaku.

"McD Sudirman yak, eh iki di video apik lho. Ganti lagu,". Puguh yang sesegera untuk mengambil HPnya yang dipakai untuk AUX mobilnya pun terlihat bego buatku.

"Mas, nek hapene tok nggo video dan youtube e out, ya nggak ono lagune blas lah," sahutku.

"Oiyo ya Jen, lali. Yowislah rasah. Apik padahal lampune," jawabnya sambil menepok jidat dan melanjutkan menyanyi2 kecil lagunya Peterpan.

"engko tak lewatke kene, rik rasah semelang," jawab Kukuh.

Akhirnya sampailah di drive-thru Mcd. Daaan pesenan yang kami inginkan tidak ada!!!

"Pindah wae ya di McDonald Adisucipto," sahut Puguh.

"Edan, kan kosku bentar lagi sampai,". Jawabku.

"Jakal lho ono, adoh tenan," sahut Kukuh.

"Yo ndono wae, eskrim dulu ya Jen," jawab Puguh yang kayaknya lagi demen banget pengen makan eskrim malam-malam.

Akhirnya, kami melaju ke Jakal dengan melewati beberapa tempat yang pada dasarnya bisa dibilang ngalang alias muter. Soalnya kosan-ku deket sama Tugu. Tapi apa daya si Puguh kayaknya lagi nyidam juga, ya kaaan. Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah kami ke tempat tujuan. Kami berhenti di restoran tersebut, tidak drive thru. Makan di sana. Puguh duduk di teras luar, dan Kukuh yang menemaniku masuk. Sungguh hal yang tidak diekspetasikan. Padahal harapanya tau kan? Ditemenin sama Puguh. Tapi justru Kukuh yang baik menemaniku memesankan eskrim untuk mereka.

"Bayari lho Jen," pungkas Kukuh menemaniku di kasir. Aku merogoh saku dan mendapati membawa uang 150ribu.

"Iyo ki. Meh maem nggak?" tanyaku.

"Eskrim wae, eh gojek. Nggo duitku wae. ". Jawabnya sambil memilihkan pesanan untuk kami bertiga. Nota menunjukkan senilai Rp35.606 rupiah. Aku tetap memaksakan membayarnya karena aku berhutunga budi apalagi mereka mengantarku sampai kos. Aku menunggu pesanan bersama Kukuh. Sembari aku memalingkan pandanganku di luar pintu kaca berembun itu, melihat Puguh yang firasatku berkata dia sedang memberi kabar wanita lain. Harus ikhlas walau sulit.

"Ojo nglamun, tak terke bali kok ora tak culik,". Sahut Kukuh sambil menyibakkan tangannya di depan pandangannku.

"Iyo paham,". Aku mengambil nampan berisi 2 Mc. Flury dan 1 Sundae Stroberi dan mengantarkannya ke meja kami di luar.

"Wah aku terakhir makan ini 5 tahun yang lalu," tiba-tiba Puguh berkata demikian sambil mencicipi Mc. Flurry cokelatnya. Aku hanya tersenyum melihatnya. Sesekali Kukuh melihatku, yang mungkin sudah tahu aku memendam rasa dengan Puguh dan Kukuh kemudian menyeletuk,

"Ealah, sesuk tuku sing akeh njalok pak e,". Dia kemudian mengambil Sundae Stroberi dari tanganku dan mencicipanya menggunakan sendoknya. "Iki nggo ngopo sih Jen?" dia memutar sendok Mc. Flurry yang memang berbeda dengan sendokku.

"Oalah iki nggo muter eskrim e, kan Mc. Flurry kan ada adukkan e gitu sih biar kecampur sama Milo bubuk," jawabku.

Kami bersendau gurau sambil menghabiskan eskrim kami. Dan akhirnya perjalanan dimulai. Dari jalan kaliurang km 5 sampai area Pringgokusuman, di mana kos ku berada. Sampai melewati beberapa gang prostitusi dan menjumpai wanita seksi terkapar di jalan.

"Meh ditulung nggak? Ayo." Kukuh yang kaget membanting setir karena ada wanita yang tidak terlihat dari kejauhan, terkapar di jalan di sekitaran gang prostitusi. Kami lewat sana karena sekalian memutar biar tidak terkena macet.

"Edan, moh aku. Nek ono opo-opo wegah aku. Wis rapopo udu tanggung jawabe dewe,". Puguh memaksa Kukuh untuk tetap melajukan mobilnya.

Aku yang deg-degan sendiri karena melihat hampir menabrak wanita itu. Wanita yang terkapar itu sepertinya habis mabuk dan habis diturunin di jalan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Aku melihat Kukuh yang sepertinya iba dengan wanita itu yang kemudian membandingkannya jika terjadi pada adiknya. Tapi secara realistis, Puguh menjelaskan kalau wanita itu kan sudah notabene kurang baik karena jam segini dan berpakaian kurang sopan tiduran tergeletak di jalan, mungkin memang sudah pilihannya demikian. Aku yang di pihak tidak paham, hanya bisa mendukung pemikiran Puguh karena seiba apapun tapi kalau dalam kondisi di gang seperti ini bahkan situasi dan kondisi ini, mending cari aman daripada nanti berurusan dengan hal yang bukan sepatutnya.

***

Setelah beberapa saat kemudian, sampailah di kosku. Aku pamit masuk gerbang dan melambaikan tanganku pada mereka yang sudah baik mengantarku pulang. Aku berpesan supaya mereka mengabariku jika mereka sudah sampai dikontrakkan mereka. Sesekali lagi, Puguh melempar senyuman brownies lumernya. Iya aku cuma bisa menerimanya dengan senang hatilah, edan po ditolak wkwk

Selamat tidur! Lumayan dinggo sangu turu.emoticon-Baby Boy 1
Diubah oleh jennysrys
The Another Mistake. emoticon-Ngakak (S)
Diubah oleh Uncle.Turtle
MANTAPS SUDAH RAPIH. emoticon-Angkat Beer
Diubah oleh Uncle.Turtle
Lihat 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh KS06
Kobessah kalau bahasa Madura artinya Memuaskan
profile-picture
profile-picture
rajkapoor dan abduss memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Orang madura ya gan?
profile-picture
rajkapoor memberi reputasi
Mejeng di hot thread duluemoticon-Malu (S)
Lihat 1 balasan
Seru niihhh. Udah lama ane ngga baca cerpen atau cerbung kayak gini. Lanjutkan sista!
Lihat 1 balasan
gelar tiker y gan
Balasan post Uncle.Turtle
maaciw penyuuu
Balasan post adorazoelev
hihi haii !
Balasan post fira262
asiaaap kakak say makasih yaa ! :*
Balasan post jennysrys
BAB 3

Kamu itu Kenapa?



Sudah lama aku enggan untuk memulai percakapan online dengan laki-laki yang berusia 1 tahun di atasku itu, bukan karena sakit hati karena ditolaknya, akan tetapi lebih baik demikian untuk mulai melupakan semua rasa yang aku pikir abu-abu ini. Mungkin rasa itu sesaat. Hanya rasa semu ingin disanding #eaaaaa


Waktu terus berpacu, hari demi hari terlewati. Tak terasa sudah hampir 1 bulan sejak aku menyatakan aku suka dengannya. Tiada hal yang bisa dipungkiri, alasan untuk tetap saling bertatap muka walau dengan bibir terkunci tetap saja ada. Iya, masih di #KobessahKopi. Tempat di mana kita harus tetap saling menjaga sikap agar tidak ada orang yang tahu tentang apa yang kita alami beberapa waktu yang lalu. Tempat di mana kita semua sebagai 'teman' dengan rasa yang pernah ada harus dilebur demi keprofesionalan sebagai 'teman'.

"Put, ntar ngopi lagi di Kobessah nggak?", pesan chat via whatsapp ini ku kirim ke Kukuh, sahabat Puguh. Nama lengkapnya sih Kukuh Putra Darmawan, makanya aku manggil dia Put. Dia mahasiswa semester akhir di Teknik Industri UII. Tampilannya kurang lebih versi kayak Master Limbad, dengan tubuh setinggi 165cm, berat badan 55kg dan kurus agak kuning bersih. Kapan-kapan aku release aja ya foto-fotonya, siapa tau kalian ada yang terpikat emoticon-Stick Out Tongue haha.. #kidding

"Ngopi ae Jen, sisan cerito-cerito bareng cah-cah. Jam 8 yo. Po arep ngopi pagi?," tiba-tiba ada balasan secepat jatuh cintaku pada si Puguh.
" Ora, engko wae mbengi. Aku kerjo soale," balasku. Akhir pesan, aku membuka laptop merek ASUS putihku yang sudah menemaniku sejak kuliah, laptop itu kuletakkan di meja kerjaku berwarna biru, yang menempel di dinding dengan foto Puguh yang berada di sana. Ku pandangi foto itu sambil duduk dan bergumam,

"Jatuh cinta padamu itu mudah, melupakanmu yang susah. Walau sebentar kenal, aku yakin kamu orang baik, kamu orang setia. Aku tidak butuh waktu lama mengenalmu, aku ingin memulai segala sesuatu dari awal, dari aku tak tahu masa lalumu, dari aku tak tahu siapa kamu, aku ingin semua berjalan dengan sebagaimana air mengalir. Aku tidak butuh masa lalumu yang kelam, aku tidak peduli itu semua. Ini urusan kita. Bagaimana kita bisa berjalan di atas bumi ini dengan pribadi yang lebih baik dari kemarin. Aku ingin semua start dari awal, ketika kita tidak punya apa-apa, kita berproses bersama, belajar bersama, dan menikmati semua jalan ini bersama."

emoticon-SorryAku memang cengeng, sesekali menitikkan air mata. Mungkin, karena aku hanya sedang mengalami kesepian setelah Mei 2019 lalu berpisah dengan pacarku yang sudah tunangan dengan kakak kelasku selang 3 bulan kami berpisah. Bersamaan dengan itu, Puguh juga baru saja putus dengan pacar 9 tahunnya karena wanitanya memilih yang lain. Waktu yang sama pada masa sama-sama saling ditinggalkan. Ditinggalkan oleh orang yang sangat berarti. Tapi aku tidak dendam, karena sama saja menyimpan tomat busuk dalam hati. Untuk itu, aku memang tidak butuh alasan pasti untuk menyukainya. Jaman sekarang, laki-laki setia sangat langka nggak sih? Mau dikasih sop tulang buaya atau ikan dugong pun supaya laki-laki di terapi setia, akan susah kalau memang bukan wataknya emoticon-Sorry
Kemudian aku mengusap air mataku dan mulai belajar untuk tes CPNSku mendatang.
***


Jam berganti, waktunya aku pergi ke #KobessahKopi di Jalan Anggajaya 2 No. 300 Condong catur (kalian pasti akan bertemu denganku kalau mampir, hehe. Bolehlah kita saling bertegur sapa). Seperti biasa, dengan dandanan super tomboy walau rambut panjang lurus terurai, aku tetap pede dengan style-ku.

"Kamuuuu lagiii ', sindirku pada laki-laki dengan kaos warna hijau muda aga gelap itu. Laki-laki yang duduk spanneng di depan laptop merek HP warna merah menyala di ujung pemdopo.
" Eh, Jen. Kamuuu lagii. Sama siapa?" jawabnya. Iya, dia Puguh. Dengan tampilan ala sok jadi oppa (mohon maaf ternyata dia drakor garis keras). Tatapannya itu lho kayak brownies cokelat leleh, lumeeeeer...
"Sendirian. Mau ngopi bareng sih sama Kukuh juga. Kamu ngerjain apaan? Kukuh mana? Kok sendirian,". tanyaku sambil duduk di depannya.

Tak lama kemudian Kukuh dateng dengan temennya, Nores.
"Hey, Jen. Dari kapan? Gasik." tanya Kukuh sembari mengeluarkan rokok Surya dan kemudian menyalamiku.
" Lagiii waee, yo ora nek gasik. Pas kok." jawabku sambil mencari dompet di tas kecil hitam merah-ku.
" Ndang pesen, madang." Jawab Kukuh sambil salaman dengan Puguh.
" Hayoo pada janjian yaaaa?" Puguh menyeletuk sambil senyum-senyum.
" Apaan orang janjian ngopi bareng, kan mesti cah-cah yo teko"."sahutku.
" Ngopo Guh, cemburu po?" nimbrung Nores.
"Hooh cemburu," jawab Puguh sambil senyum-senyum.
" Wis ah malah do halu, meh pesen apa sekalian?"tanyaku setelah menemukan dompetku yang terselip.
"Gedang goreng". Kukuh menjawab.
"Aku enggak Jen, nanti aja makan eskrim po?" Puguh menawari makanan yang tidak ada di sana.
"Aku melu"."sahut Kukuh. "Lha motormu nendi?"
"Aku mau nganggo ojek online, rodo mumet bathukku." pungkasku.
"Engko Jenni diterke bali yo," Kukuh menepuk pundak Puguh.
"Orasah. Aku nganggo gojek wae," padahal dalam hati aku pengen banget dianterin Puguh pulang berdua. Dasar wanita.
"Ora, bahaya. Akeh klithih," Jawab Kukuh sambil menyalakan koreknya,
"Ora yo, wedi klithih e ro aku," Jawabku. Sambil berdoa dalam hati "Ya Allah semoga dianter mas Pug-pug aja,". "Embuh ah, tuku madyang sek," Jawabku dan bergegas untuk ke meja pemesanan di dekat parkiran sepeda motor. Masih saja rasa ini tidak bisa bernegosiasi.

Cinta ditolak oeey cinta ditolak. Alasan apa sih buat bareng hmm..batinkuuuemoticon-Bingung

***
Setelah pesan makanan dan minuman, aku kembali ke meja tadi. Aku melihat mereka berdua (Kukuh dan Puguh) sedang saling bercakap-cakap, dan kemudian berhenti ketika aku datang ke sana.
"Ngomongin aku pasti". Tanyaku sambil duduk.
"Hooh, tapi kowe raoleh ngerti," jawab Kukuh.
"Heleh, nggateli," Sahutku lagi. "Eh kamu ngerjain apaan e, ditanyain kok,".
" Ini lo Jen, cuman kurang revisian DED. Aku besok sidang lagi Senin. Mau nemenin lagi nggak?" Puguh menghentikan pekerjaanya sambil menatapku. Subhanallah azab apa lagi ini rasanya di mata nggak mau kedip. "Enggak ah, males" pungkasku sok jutek.
"Hmm yoh kowe," jawabnya sambil senyum-senyum menunjukku.
"Suruh nemenin Nayla nah, masak aku," hatiku meronta. Bibirku masih aja nggak kontrol sok cuek. Nayla tu mantannya Gio, tapi Puguh suka sama dia. Iya apalah dibandingkan sama Nayla, aku bagaikan Bubur Ayam yang makannya diaduk. Mawuut..

***
Hampir 4 jam saling bertukar pikirian bersama, mengenai bisnis, masalah percintaan Kukuh dan Mey, aku memutuskan untuk segera pulang.
"Aku balik ya,". Jawabku sambil melihat jam tangan.
"Diterke, kosikek. Nungguh Puguh rampung," sahut Kukuh. Kebetulan Nores gabung sama teman kampusnya, jadi tinggal kita bertiga.
"Aku wis rampung, kok. Bentar ya jen tak beresin dulu,". Jawab Puguh. Batinku, kalem banget ini manusia ya ampun, aku suka kamu, kamu suka dia. Iyauda kelar kan cinta ditolak dan bertepuk sebelah tangan.

"Nggak usah ngarepinnn lagi Jen, udah temenan aja, siapa tau nanti Dewi Asmara mampir. Kalian dipertemukan beberapa tahun lagi. Udahlah udaaah."

Batinku bergumam sedemikan hingga sambil menunggunya selesai mengemasi barang-barangnya.

"Kesuwen Guh, Cak cek lho pak carik," sahut Kukuh. Maksudnya Pak Carik itu kebetulan si Puguh anak dari Carik di Wilayah Desanya, di Nganjuk. Kalau nggak salah sih daerah Gondang sana.

"Iyo iki wes beres, kowe sing nyetir yo," jawab Puguh. Sambil menentengkan tasnya.
"Uwislaaah aku ki nggojek wae ben cepet". pungkasku sambil berdiri dan mengucir rambutku.
"Wis ayo tak setiri," Kukuh mengambil kunci mobil Puguh yang tergeletak di samping bungkus rokok si Puguh. Oke baiklah, aku harus pulang bersama mereka dan harus menerima keadaan bahwa aku harus satu mobil dengan Kukuh juga. Puguh ingin duduk di belakang seakan membiarkanku agar duduk di kursi depan bersama Kukuh, tapi aku menolaknya. Ketika aku masuk ke mobil, yup aku menemukan brosur dari Yoshinoya.
"Wah abis kencan nih," tanyaku sambil menjulurkan brosur di sela-sela kursi mereka.
"Ora yo, mau gur jalan-jalan", sahut Puguh sambil merebut brosur dariku. Tau kan perasaanku gimana, secara terang-terangan tahu kalau cowok yang aku suka jalan sama yang lain. Wkwk ya ambyar gitu deh kayak sego kucing ilang karet e. Dalam hati aku juga bergumam, untuk brosur seperti ini ya pasti makan di sana lah gak mungkin hanya lewat, macam main monopoli ada istilah "hanya lewat".
***
Sepanjang perjalananku dengan mereka di jalan, banyak hal cerita yang diungkapkan, termasuk kisah Puguh mengejar Nayla dan kuping ini harus tahan sama ceritanya, bahkan hati ini walaaah kayak abis digaremin setelah dikupas dari kulit.
"Eskrim mana nih, jadi?" tanyaku.
"McD Sudirman yak, eh iki di video apik lho. Ganti lagu,". Puguh yang sesegera untuk mengambil HPnya yang dipakai untuk AUX mobilnya pun terlihat bego buatku.
"Mas, nek hapene tok nggo video dan youtube e out, ya nggak ono lagune blas lah," sahutku.
"Oiyo ya Jen, lali. Yowislah rasah. Apik padahal lampune," jawabnya sambil menepok jidat dan melanjutkan menyanyi2 kecil lagunya Peterpan.
"engko tak lewatke kene, rik rasah semelang," jawab Kukuh.
Akhirnya sampailah di drive-thru Mcd. Daaan pesenan yang kami inginkan tidak ada!!!
"Pindah wae ya di McDonald Adisucipto," sahut Puguh.
"Edan, kan kosku bentar lagi sampai,". Jawabku.
"Jakal lho ono, adoh tenan," sahut Kukuh.
"Yo ndono wae, eskrim dulu ya Jen," jawab Puguh yang kayaknya lagi demen banget pengen makan eskrim malam-malam.
Akhirnya, kami melaju ke Jakal dengan melewati beberapa tempat yang pada dasarnya bisa dibilang ngalang alias muter. Soalnya kosan-ku deket sama Tugu. Tapi apa daya si Puguh kayaknya lagi nyidam juga, ya kaaan. Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah kami ke tempat tujuan. Kami berhenti di restoran tersebut, tidak drive thru. Makan di sana. Puguh duduk di teras luar, dan Kukuh yang menemaniku masuk. Sungguh hal yang tidak diekspetasikan. Padahal harapanya tau kan? Ditemenin sama Puguh. Tapi justru Kukuh yang baik menemaniku memesankan eskrim untuk mereka.
"Bayari lho Jen," pungkas Kukuh menemaniku di kasir. Aku merogoh saku dan mendapati membawa uang 150ribu.
"Iyo ki. Meh maem nggak?" tanyaku.
"Eskrim wae,". Jawabnya sambil memilihkan pesanan untuk kami bertiga. Nota menunjukkan senilai Rp35.606 rupiah. Aku membayarnya dan menunggunya bersama Kukuh. Sembari aku memalingkan pandanganku di luar pintu kaca berembun itu, melihat Puguh yang firasatku berkata dia sedang memberi kabar wanita lain. Harus ikhlas walau sulit.
"Ojo nglamun, tak terke bali kok ora tak culik,". Sahut Kukuh sambil menyibakkan tangannya di depan pandangannku.
"Iyo paham,". Aku mengambil nampan berisi 2 Mc. Flury dan 1 Sundae Stroberi dan mengantarkannya ke meja kami di luar.
"Wah aku terakhir makan ini 5 tahun yang lalu," tiba-tiba Puguh berkata demikian sambil mencicipi Mc. Flurry cokelatnya. Aku hanya tersenyum melihatnya. Sesekali Kukuh melihatku, yang mungkin sudah tahu aku memendam rasa dengan Puguh dan Kukuh kemudian menyeletuk,
"Ealah, sesuk tuku sing akeh njalok pak e,". Dia kemudian mengambil Sundae Stroberi dari tanganku dan mencicipanya menggunakan sendoknya. "Iki nggo ngopo sih Jen?" dia memutar sendok Mc. Flurry yang memang berbeda dengan sendokku.
"Oalah iki nggo muter eskrim e, kan Mc. Flurry kan ada adukkan e gitu sih biar kecampur sama Milo bubuk," jawabku.
Kami bersendau gurau sambil menghabiskan eskrim kami. Dan akhirnya perjalanan dimulai. Dari jalan kaliurang km 5 sampai area Pringgokusuman, di mana kos ku berada. Sampai melewati beberapa gang prostitusi dan menjumpai wanita seksi terkapar di jalan.
"Meh ditulung nggak? Ayo." Kukuh yang kaget membanting setir karena ada wanita yang tidak terlihat dari kejauhan, terkapar di jalan di sekitaran gang prostitusi. Kami lewat sana karena sekalian memutar biar tidak terkena macet/
"Edan, moh aku. Nek ono opo-opo wegah aku. Wis rapopo udu tanggung jawabe dewe,". Puguh memaksa Kukuh untuk tetap melajukan mobilnya.
Aku yang deg-degan sendiri karena melihat hampir menabrak wanita itu. Wanita yang terkapar itu sepertinya habis mabuk dan habis diturunin di jalan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Aku melihat Kukuh yang sepertinya iba dengan wanita itu yang kemudian membandingkannya jika terjadi pada adiknya. Tapi secara realistis, Puguh menjelaskan kalau wanita itu kan sudah notabene kurang baik karena jam segini dan berpakaian kurang sopan tiduran tergeletak di jalan, mungkin memang sudah pilihannya demikian. Aku yang di pihak tidak paham, hanya bisa mendukung pemikiran Puguh karena seiba apapun tapi kalau dalam kondisi di gang seperti ini bahkan situasi dan kondisi ini, mending cari aman daripada nanti berurusan dengan hal yang bukan sepatutnya.

***
Setelah beberapa saat kemudian, sampailah di kosku. Aku pamit masuk gerbang dan melambaikan tanganku pada mereka yang sudah baik mengantarku pulang. Aku berpesan supaya mereka mengabariku jika mereka sudah sampai dikontrakkan mereka. Sesekali lagi, Puguh melempar senyuman brownies lumernya. Iya aku cuma bisa menerimanya dengan senang hatilah, edan po ditolak wkwk
Selamat tidur! Lumayan dinggo sangu turu. emoticon-Baby Boy 1
Balasan post adityawild
Quote:


@adityawild waaa makasih gan, aku jadi nambah ilmu baru. Tapi bener banget ini tempat semua orangnya madura dan superbaik!


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di