CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e27f9e6f4d6955cbe0390ea/proposal-tunangan

Proposal (Tunangan)

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Laa ilaha illa Allahu Allahu Akbar . . .

'Idul Fitri 2017

Hari pertama lebaran.

Semarak umat muslim merayakan hari kemenangannya.

Anak-anak bersuka cita atas salam tempel dari keluarga dan tetangga.

Keluarga kecil dan besar silaturrahim.

Tring.. chat dari Anjani.

Jam 10 kita ke rumah Ustad Asmuni, habis itu ke rumah Ustadz Yunus.

Siaapp. balasku.

                                                             ***

Makanan telah berjejer di meja kediaman Ustadz Asmuni .

Aku, Anjani, Dafiq, Ustad Qayyim dan keluarganya menikmati hidangan yang tidak akan pernah kami sia-siakan.

Tentu ada opor ayam salah satunya.

Ngalor ngidul obrolan kami.

Jam 11.30 tidak kami rasa.

Pamitan.

"Ini Anjani sudah ada calonnya belum?" Tanya Ustad Asmuni 

"Masih kuliah ustad." Jawabnya ringkas

"Kalau Dino sudah ada belum?" Tanya Ustadz Asmuni  padaku

"Belum Ustad. Adakah calonnya ustad? Hhh" jawabku bercanda

"Baru selesai S2 Dino Ustad." Timpal Ustad Qayyim

"Alhamdulillah. Kalau mau ada anak panti nih. Hafidzah. Tinggal di asrama." Tawar Ustad Asmuni.

"Nahh.. bisa itu ustad. Hafidzah lagi. Mantab itu" ucap Ustadz Qayyim tersenyum lebar melihat saya.

"Bisa nanti saya atur." Kata ustad Asmuni 

Pelan-pelan kami meninggalkan kediaman beliau sambil ngobrol kembali tentang hafidzah itu. Hehehe..

12.30

Memasuki Pondok Istiqomah ke asrama putri menuju rumah Ustad Yunus. Sebab rumah beliau tepat di belakang asrama putri. 

Nampak akhwat-akhwat dengan jilbab besarnya masih berkeliaran sambil bercengkrama dengan kawannya.

Mereka tidak meninggalkan asrama karena mungkin belum bisa pulang kampung untuk 'idul fitri kali ini.

Adzan zuhur telah berkumandang.

Saya, Anjani dan Dafiq menuju masjid terlebih dahulu. Ustad Qayyim langsung melintir ke rumah ustad Yunus.

Usai sholat kami pun langsung menuju kediaman Ustadz Yunus. Bersalaman dan tentunya. . . makan lagi. hhhh

Sambil menyantap makanan untuk yang kesekian kalinya,  sembari itu ustad Yunus meminta untuk berfoto bersama.

Perut kenyang dan kami pamit pulang.

Berjalan menuju kendaraan, Ustad Qayyim lirih berkata.

"No. Ustad Yunus mau kamu loh."

"Hah? Maksdunya Ustad?!" Tanyaku penuh keheranan

"Dia melamar kamu. Menjodohkan kamu dengan anaknya."

"Apa sih ustad ni."

"Beneran. Tadi beliau sendiri yang berucap seperti itu sebelum kalian datang."

Sedikit kaget, Ku rangkul Dafiq  dari sebelah kiri yang berjalan sejajar dengan diriku.

"Laki-laki kayak aku gini. Apa sih. Masih banyak banget kurangnya. Laki-laki macam apa aku ni. Bentukan dan kelakuannya kayak gini. hhhh.." Ucapku menutup keheranan dan rasa tak percaya

"Yaudah. Sekarang kamu fikirkan. Kamu dilamar Ustad Yunus loh. Bagus itu. Masya Allah."

Penutup kalimat dari Ustad Qayyim.

Kami pulang ke kediaman Ustad Qayyim terlebih dahulu.

Sambil membawa motor aku membonceng anak Ustadz Qayyim yang pertama, mengantarkan ia pulang sebelum aku kembali ke rumah.

I am so speechleas.
Aku baru selesai pendadaran tesis.
Dijodohkan dengan anak ustad.

Di motor aku menangis bahagia.

Apa yang kamu rencanakan ini ya Allah. 

Air mata menetes dan mulai membasahi pipi.

yaaa.. aku berfikir sederhana saja. Rezeki yang Allah berikan tidak pernah diduga. 

Ada juga rasa ingin menikah. Tapi tidak secepat ini.

Di samping itu aku masih ingin meniti karir sebagai dosen.

Ya. selama melanjutkan studi S2, aku sebagai dosen di kampusku sendiri.

Sambil membawa motor hatiku benar-benar berkecamuk tak karuan.

Bagaiman kalian merasakan seperti itu wahai pria yang membaca tulisan ini??

Pria yang dilamar oleh bapak perempuan.

Sedangkan aku tidak pernah tahu anaknya yang mana? Namanya siapa? Usianya berapa? Pasti banyak pertanyaan yang muncul.

It's logic.

Aku kembalikan kepada sang Maha Menjodohkan.
Ini benar-benar kuasa Allah.
Kun fayakun.
                                                                 ***

Go Home

Aku pulang. Melihat keponakan sedang ngobrol dengan Ibu. Keponakan dari anak sepupuku. Tinggalnya di Palaran. 30 menit dari Samarinda.

Keponakan pamit pulang kembali ke rumahnya setelah silaturahim k rumah mbahnya yaitu Ibu ku.

Tak lama kemudian aku memeluk Ibu dan berbisik di telinga Ibuku.

"Aku dilamar." 

"Hah!?" Ibu terkejut "Siapa yang ngelamar kamu?!"

Kakak dan Ipar pun kaget.

Karena tepat mereka juga ada di ruang tamu.

"Hah?! Siapa yang ngelamar kamu?" Tanya Kakakku

Ku ceritakan kembali kejadian tadi.

"Aduuhh.. anakku kok malah dilamar. Bukan melamar."

"Hhhhh..." Kakak dan Ipar ikut ketawa

"Oshin. Om dilamar shin." Ucap Kakak ajak ngobrol anaknya.

Ibu shock. Sungguh shock.

Aku telepon Ustad Qayyim untuk dapat menjelaskan lebih lanjut perihal itu.

Ada sesegukan yang ku lihat dari wajah ibu saat berbicara dengan Ustad Qayyim ditelpon.

Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti ibu masih shock.

Bersambung . . . 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 8 lainnya memberi reputasi
Part 3


Lebaran ke-3

Rutinitas yang tidak boleh ditinggalkan saat lebaran ialah silaturahim ke rumah keluarga.
Terutama rumah sepupu yang selalu menyediakan hidangan bakso di hari lebaran.
My favorite. Hehehe..

Dari pagi keliling mengunjungi rumah keluarga tak disangka telah menjelang sore.

Ba'da Isya aku ke rumah Anjani dan Dafiq. Mereka tinggal satu atap.

Mereka sepupuan.

Duduk lesehan menikmati camilan lebaran yang aku bawa dari rumah.

"Kayak apa No, sudah ada jawabanmu kah?" Tanya Dafiq

"Nggak tahu fiq. Bingung juga." Balasku

"Masya Allah loh itu. Kamu langsung dilamar Ustad Yunus. Di mana-mana cowok yang melamar cewek, ini kamu langsung bapaknya. Ustad Yunus lagi. Kurang apa coba hhh." Ucap Dafiq berusaha menghibur kegalauanku yang tak kunjung usai.

"Ustadz Yunus gitu loh." Anjani menambahi.

"Gitu ya?" Kataku lemas

"Ya ialah. Secara Ustad Yunus. Tahu sendirikan beliau itu kayak apa."

"Heemmm...ituu sudah Fiq. Aku ini siapa gerang (logat Samarinda). Kok aku gitu loh. Haish. G ngerti aku dah." Kataku dengan sedikit mengacak rambut

"Assalamu'alaikum."

Suara Ustad Qayyim mendadak sudah di depan pintu rumah.

"Wa'alaikumsallam." Jawab kami serentak

"Dino bingung puang (paman) hhh." Kata Dafiq mengolokku

"Ustad Yunus tidak mungkin sembarangan memilihkan jodoh untuk anak-anaknya . . ." Ucap Ustad Qayyim sembari duduk sebelahku mengunyah kuping gajah " Jika memang kamu adalah pilihan untuk anaknya, maka kamu lah calon mantunya." Sambung beliau

Aku diam. Mengunyah kacang sembunyi.

Yang hanya bisa aku lakukan.
Sholat istikhoroh dan tahajud.

Dua hari berturut-turut aku lakukan.

Sudah barang tentu aku meminta petunjuk dan memantabkan hati, apakah benar ia jodohku??

Malam sudah semakin larut.
Obrolan kami masih seputar lamaran dan perihal lainnya.

Pkl 22.00 Wita aku pamit meninggalkan mereka bertiga.

Ku susuri dinginnya malam Samarinda dan ku tengok kanan kiri jalanan, masih kental hari lebaran.

Sepanjang perjalanan pulang, aku membisu.

Biasa aku bernyanyi.

Kali ini tidak.

***

Bismillah.

Awal yang positif.

Pkl 09.25 Wita

Ku cari kontak telpon atas nama Ustad Qayyim.

Ketemu.

Calling. . . .

"Assalamu'alaikum." Jawab Ustadz Qayyim di seberang telepon.

"Wa'alaikumsallam Dino." Jawabnya

"Sibuh kah ustad?"

Basa basi macam apa ini hhhh

"Lagi enggak Dino."

"Begini ustad. Setelah saya memikirkannya melalui sholat istikhoroh dan tahajud. Semoga ini jalan yang Allah tunjukkan pada Dino. Bismillahirrohmanirrohim. . ." Aku menutup mata meyakinkan hati menarik nafas panjang ". . saya menerima lamaran Ustad Yunus. Saya bersedia!" Jawabku penuh keyakinan tanpa ragu dan terus berdzikir atas nama Allah SWT.

"Alhamdulilllaaaah. . . " Ucap beliau dengan penuh bahagia di seberang telepon "Kalau begitu saya sampaikan dulu berita gembira ini ke Ustadz Yunus. Biar beliau mengatur untuk selanjutnya."

"Ia ustad. Rencana kami mau silaturahim ke rumah beliau."

"Bagus kalau begitu."

"Saya minta tolong ustad sampaikan ke beliau kami akan berkunjung . . "

Pembicaraan ditelpon masih berlangsung santai dan diiringi candaan.

***

"Kayak apa cewekmu bos? Dah ikam (kamu) lamar kah?" Tanya Igun ke Oden

"Belum wal (kawan). Masih nunggu pitis (uang) runtuh dari langit. Hhh" Jawab Oden

"Uang tuh ada aja pang. Cuman ceweknya ni kadang minta lebih. Bukan ceweknya. Keluarganya. Wkwkwk" Timpalku diiringi tawa bersama.

"Ikam pang No. Sdah ada kah cewekmu?" Tanya Oden

"Belum laah.. aku loh masih santuy. Masih kuliah broo . . "

"Apalagi ditunggu." Potong Igun

"Kalau aku tuh. Bukan aku yang melamar perempuan. Tapi perempuan yang melamar aku wkwkwk." Sambungku

"Bungul ikam (bodoh kamu)." Kepalaku ditoyol Igun.

Kami tertawa di cafe sambil menikmati minuman masing-masing.

Sebab aku tak begitu mengidolakan kopi. Aku memesan es coklat.

Syukurnya, kami tak merokok. Dan tak ada yang menyumbangkan racun diantara kami

Sering teman-teman membahas malah jodoh. Aku selalu menjawab hal yang serupa.

Kata bercanda yang jadi kenyataan.

Ini kah yang dinamakan kualat dan karma menjadi satu.

OMG

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Part 5

Universitas

2018

Satu tahun telah berlalu.

Kapan?

Pertanyaan ini muncul kala aku bertemu Ustad Qayyim. Sebab perantara Ustad Yunus ialah beliau.

Kapan. Aku dapat mempersunting dia. Perempuan yang bahkan aku tak tahu dia hobi makan pete atau jengkol.

Saat pertemuan itu hanya untuk saling mengenal, belum sampai jenjang pernikahan.

Sebab aku masih meniti karir dan ia masih semester tiga. Masih kuliah.

Oh My God.

Aku pun belum bisa menjawab dengan pasti kapan.

Keluarga Ustad Yunus khawatir kalau anaknya akan dilamar oleh pria lain.

Aku fikir wajar karena beliau memang orang yang sudah dikenal dan tentu anak-anaknya tidak luput dari sorotan publik.

Alhamdulillahnya mereka masih menunggu jawaban diriku.

Hanya aku yang ditunggu.

Masya Allah.

Seistimewa apa aku ini?

Terbersit dalam hati kecilku.

Astaghfirullah.

***

Oktober 2018

Raport hasil ujian Psikologi pemilihan dosen tetap telah keluar sehari yang lalu. Aku dan teman sejawat dosen lainnya menantikan itu, apakah kami menjadi dosen tetap di kampus?

Hasil yang aku miliki. Sama dengan tes sebelumnya, tidak lolos ujian.
Dua kali tes. Dua kali pula aku tidak lolos.

Baik. Untuk tes sebelumnya aku menerima hasilnya dengan ikhlas, karena belum ada persiapan sama sekali dengan alasan mengurus akreditasi fakultas.

Namun kali ini aku telah belajar secara serius kemudian tidak lolos.

Teman dosen lainnya juga bingung, karena terdapat satu item yang menyebabkan aku tidak lolos lalu tidak direkomendasikan sebagai dosen tetap.

Hari ini aku rencan menghadap rektor. Telah aku konsulkan rencana ini dengan teman dosen agar memberiku keyakinan.

Fight!

***

"Pak rektor. Semua item penilaian di sini saya baik. Hanya dikreatifitas nilai saya kurang, terus disimpulkan saya tidak lolos?" Tanyaku. Aku mendatangi beliau di kantornya setelah ia rapat dengan staff fakultas lain.
"Bapak rektor. . .” Sambungku “Saya sudah konsultasikan ini dengan dosen Psikolog dari kampus lain, bahwa raport yang saya miliki hanya sebagai rekomendasi saja. Mengetahui parameter mana yang kurang, kemudian dapat dilakukan perbaikan dikemudian hari. Selebihnya kembali pada universitas untuk merekrutnya, dilihat dia bekerja selama ini. Empat tahun saya membangun laboratorium bersama rekan saya Ibu Sri. Akreditasi siang malam hingga larut kami buat demi mendongkrak nilai akreditasi fakultas. Sekarang sudah menjadi B pak. Apakah itu belum cukup untuk rekomendasikan saya sebagai dosen tetap? Selain itu pak. Univeritas telah mensekolahkan saya habis puluhan juta untuk mengambil gelar master. Apakah universitas tidak rugi melepaskan saya karena tidak lolos ujian begitu saja??" Tambahku mencoba meyakinkan Bapak Rektor.

Kali ini aku sudah tidak ambil pusing. Rektor pun ku datangi.

Kurang loyalitas apa aku ini terhadap kampus?

Mau yang kreatif kayak apa maksud dari tes itu?

Benar-bener ya, yang nguji ini. Apakah tidak ada konsul dulu dengan pihak universitas bagaimana setiap individu yang bekerja di sini ketika ia tak lolos item tes Psikologi?

"Kalau ini sebenarnya tidak begitu masalah. Ia, saya juga bingung. Kenapa tidak lolos? Terutama kamu sudah disekolahkan universitas." Rektor pun bingung.

"Kalau begitu saya buat rekomendasi agar kamu tetap diurus sebagai dosen tetap."

Rektor pun menulis disecarik kertas rapot Psikologiku.

Ku perhatikan setiap detail coretan yang ia tuang di raportku.

Mengikuti perintah rektor. Raport itu aku berikan ke Kepala Bagian Umum.

Ku cari Ibu kepala, tapi hari ini cuti hingga minggu depan.

Ku letakkan saja raportku di atas meja beliau.

***

Minggu depannya aku dipanggil oleh Kepala Bagian Umum untuk menghadap.

Aku pun sudah duduk berhadapan dengan Ibu Kepala Bagian Umum.

“Dino kenapa langsung datangi rektor?” Tanya Ibu Hamiyah

“Saya heran saja bu. Kenapa, karena nilai saya yang kurang ini tidak direkomendasikan sebagai dosen tetap. ” Jawabku

“Tapi kenapa kok langsung ke rektor. Kenapa tidak ke saya dulu? Apakah ada yang menyuruh kamu?” Masih dengan pertanyaan yang sama.

“Karena saya tidak tahu alurnya, saya berinisiatif untuk langsung menghadap rektor. Tidak ada yang menyuruh saya bu. Ini karena keinginan saya sendiri. Saya jelaskan juga, kalau saya disekolahkan oleh universitas. Melepaskan begitu saja.” Jawabku lugas

“Begini Dino. Dari hasil ini kan sudah jelas, kalau tidak direkomendasikan. Ini sudah mutlak. Meskipun rektor memberikan catatan seperti ini, tidak akan ada perubahan. Karena peraturan mengikuti yayasan. Karena rektor berada di bawah yayasan, maka ia harus mengikuti aturan yayasan.” Ucap Ibu Hamiyah

“Baik kalau begitu bu. Jika memang ini sudah aturannya. Saya ingin bertanya. Universitas telah mensekolahkan saya, apakah saya akan mengganti rugi atas seluruh biaya yang telah dikeluarkan?”

“Berkaitan dengan biaya sekolah kamu, kami tidak bisa menuntut ganti rugi. Sebab dari fakultas kamu belum ada mengirimkan kontrak kerja ke kami.”

“Jika saya bekerja di tempat lain. Tidak akan ada tuntutan sama sekali?” Tanyaku lebih jelas

“Tidak akan ada tuntutan sama sekali. Jika ada tempat yang lain dan lebih baik menurut kamu monggo. Fakultas ini juga kalau rekomendasi orang yang bener coba.”

‘maksudnya? Ada apa dengan ibu ini. Kalau ngomong depan orangnya langsung. Kayak dia bener ja’ Kesalku dalam hati.

“Baik kalau begitu bu. Terimakasih atas penjelasannya.”

“Sama-sama Dino. Maaf kami tidak bisa bantu dan semoga kamu bisa mendapatkan tempat kerja yang lebih baik lagi.”

Pamit.

Aku jadi bingung. Yang rugi dan untung ini siapa sih sebenarnya??

Ok. Aku beruntung sudah disekolahkan gratis tanpa harus mengabdi di kampus.

Kampus rugi puluhan juta menghabiskan biaya untuk mensekolahkan aku.

Ya sudah lah.

Alhamdulillah rezekiku.

Aku melongo pergi.

Dan aku gagal sebagai dosen tetap.

Fine.

Bersambung . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 2 lainnya memberi reputasi
Part 4

Lebaran ke-7

Kalian tahu kisah di daerah Sumatera ? Bahwa sebelum berlangsungnya pernikahan proses lamaran dilakukan oleh pihak perempuan ke pihak pria yang diinginkannya ?

Aku tidak begitu tahu jelas mengetahui apakah  itu cerita rakyat atau memang benar adanya?

Aku bukan dari keturunan Sumatera.

pikirku.

***

Setelah aku setuju atas lamaran itu. Kami pun menjadwalkan untuk pertemuan keluarga terlebih dahulu.

Sorenya aku mencari buah tangan.

Ba'da maghrib kami meluncur bersama keluarga kecilku; Ibu, Kakak, Ipar dan Keponakan kecilku menuju kediaman Ustad Yunus.

Ya. Di belakang asrama putri.

Pertemuan ini lebih tegang dari ujian tesis.

Lebih terasa mengerikan saat dosen penguji akan membuang tesisku ke tong sampah jika tidak diperbaiki.

Aku buat diri senyaman mungkin diri ini..tarik nafas..hembuskan...tarik nafas...hembuskann.. Namun tetap nervous.

Obrolan santai antar keluarga berjalan dengan baik.

Basa basi ringan untuk membuka pembicaraan ke arah tersebut.

"Ambil S2 nya di mana din?" Tanya Ustad Yunus

"Unmul ustad. Ambil Ilmu Lingkungan. S1 ambil Kesehatan Masyarakat." Tanya Ustad Yunus yang sebelumnya memang sudah tahu aku telah menyelesaika master.

Pertanyaan ini sebenarnya untuk memberi tahukan kepada keluarga lain pendidikan dan pekerjaan aku sehari-hari.

Jajanan lebaran tersaji di depan kita.

Tawa ringan masih menyelimuti pertemuan itu.

"Vii..viii.. sini vii.." Ustad Yunus memanggil perempuan asing itu.

Perempuan asing itu bernama vivi.

Deg.

Ia melewatiku.

Ia mendatangi Ibu yang tepat di sebelahku.

Ia datang duduk bersimpuh depan Ibu bersalaman kemudian menyambung ke Kakak.

Ia duduk tepat dibelakang Ibu nya.

Lebih tepatnya sembunyi.

Aku?

Apa yang aku perbuat saat dia datang?

Tentu kamu sudah tahu.

Mengajak salaman.

Hhhh..

Tentu tidak mungkin.

Aku begitu sungkan.

Belum begitu berani menatap wajahnya.

Wajah perempuan asing itu atau lebih tepatnya sebagai calon istri aku kelak.

Malu.

Sempat aku melihat tangannya yang kurang berisi.

Aku fikir dia kurus.

"Ini vivi bu. Masih kuliah. Wajahnya mirip dengan Ibu nya waktu muda. Kalau mau lihat Ibu nya waktu muda, ya vivi ini."

Jelas Ustad Yunus sambil diiringi canda dan tawa ringan di antara kami.

Keluarga kami saling memberikan penjelasan dan tanya jawab seputar lamaran itu.

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 2 lainnya memberi reputasi
Part 2


Sejak sore Ustad Qayyim telah bertandang di rumahku beserta istri dan lima anak beliau, untuk menjelaskan dan memberikan keyakinan atas lamaran ini kepada Ibu.

"Saya dulu waktu menikah belum ada penghasilan tetap bu. Alhamdulillah sekarang Allah lancarkan keuangan kami." Tutur Ustad Qayyim meyakinkan bahwa semua diawali dengan kekurangan.

Ibu aku sangat belum siap melepaskan anak lelaki terakhirnya.

Obrolan sore itu masih seputar lamaran yang begitu mendadak.

PRIA YANG DILAMAR.

Huh . . Rasa ingin mengolok diri ini. Aku melihat ke dalam diriku yang serba kekurangan. Sungguh pilihan yang keliru. Gumamku dalam hati.

Aaiiisshh . . Aku tidak tahu lagi harus berkata apa.

Apa sih yang aku miliki . . Why me?? I have nothing.

Aku bingung.

Menetes lagi air mataku.

Mungkin kalau kamu baca tulisan ini. Menyimpulkan kalau penulisnya cengeng. Yahh . . Cara aku meluapkan emosi kebahagiaan.

Allahu Akbar.

Tess..

*

Ku tutup pintu kamar sekaligus mematikan lampu.

Jendela kamar ku biarkan terbuka. Menatap jauh ke langit malam. Bintang-bintang masih bertabur di langit malam. Indah.

Ya Allah . . .

Ya Allah . . .

Ya Allah . . .

Just it. I said.

Aku tidur lebih awal dari biasanya. Jam 10 sengaja aku ke kamar terlebih dahulu dari keluargaku.

Lelap.

*

Paginya Ibu cerita kalau beliau tidak bisa tidur dengan tenang.

Kepikiran anak laki-lakinya.

She's so confused.

"Kalau emang udah jalannya diikuti aja bu." Kata kakak sambil suapin Oshin.

"Bunda Frozennya bagus loh." Ucap Oshin sambil nonton frozen di tv yang dimulutnya masih terisi makanan.

"Yaah . . Maksud Ibu itu, biarkan Dino meniti karirnya sebagai dosen. Kan nanti bisa lanjut S3. Kalau udah punya istri trus ada anaknya kan banyak biaya yang dikeluarkan" Kata Ibu yang sudah jauh pikirannya kedepan.

"Kalau itu kan masih ada waktu. Biarkan dulu Dino istirahat, toh dia juga baru menyelesaikan masternya. Kalau sudah menikahkan istrinya juga paham. Temanku loh yang ambil S3 di luar aja bisa ajak anak istrinya lagi. Dapat biaya full malahan." Balas Kakak dengan maksud baik.

"Wees..nggak tahu dah. Ibu masih bingung."

Kata penutup Ibu sambil mengunyah tahu goreng dengan rasa tak nafsu.

Ibu cuman bisa menghela nafas panjang. Hembusannya terasa lelah.
Menampakkan kebingungan.
Rasa tak percaya masih merasuk dalam raganya.

Tak percaya.
Sungguh tak percaya.

Jika kamu diposisi Ibu ku, apa yang kamu fikirkan?

Think's that.

Panjang obrolan pagi hari itu.

Aku diberi waktu tiga hari untuk menentukan jawaban yes or no oleh Ustad Qayyim.

Just it.

Bayangkan.
Aku laki-laki yang dilamar. Aku pun yang harus menjawab deal or no deal.

LUCU!

Apakah begini ketika perempuan dilamar?

Tapi apakah ada laki-laki yang bernasib sama denganku?!

Allahu Akbar!!!

Aku pun sungguh bingung.

Modal apa??!
Aku bukan dari orang kaya.
Ibuku seorang penjahit.
Penghasilan juga masih belum seberapa dari hasil aku kerja selama ini.
Aku bukan orang cendikiawan yang luas ilmunya.
Bangun subuh kadang kesiangan. Meskipun tetap sholat sih.

Wahai perempuan asing

Apakah kamu mirip nikita willy?

Nia Ramadhani?

Raisha?

Whitney Houston?

Atau Mi. . . .

Ah sudah lah..

Who are you?

Bersambung . . .

profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 2 lainnya memberi reputasi
Part 6

Hari-hari biasa aku lalui seperti biasa di kampus. Mengajar dan menguji mahasiswa skripsi.

Namun masih terngiang sedihnya tidak bisa menjadi dosen tetap di kampus sendiri. Padahal itu cita-citaku bisa mengabdi untuk berbagi ilmu terhadap mahasiswa.

Kandas lah harapan.

SMS masuk dari sekeretaris prodi ditujukan pada petugas laboratorium rapat bersama dekan di fakultas.

Ada apa ni? Tanyaku sambil mencoret-coret proposal mahasiswa yang sedang sidang skripsi dihadapanku bersama dosen lainnya.

Aku menunggu depan kelas usai menguji mahasiswa. Janjian bersama Ibu Sri, selaku kepala laboratorium.

Kami berdua bertanya. Ada apa ini? Tumben-tumbenan.

Aku sedikit berharap. Informasi sebelumnya aku akan diangkat menjadi laboran setelah empat tahun mengabdi.

Aku akan diakui.

Baru akan diakui setelah sekian lama ini.

***

Duduk bersama di meja bundar (lebih tepatnya meja lonjong, namun kami menyebutnya meja bundar) fakultas. Sebelah kananku Ibu Sri.

Ujung meja bundar ada Bapak Dekan, sebelah kanan beliau Sekretaris Prodi dan di sampingnya Ketua Prodi.

Sebelah kiri Bapak Dekan ada Ibu karina.

Ibu Karina?

Ngapain beliau ikut duduk?

Tanyaku penuh dengan rasa penasaran.

Numpang duduk saja, pikirku sekejap.

Dekan membuka rapat dengan salam dan terimakasih atas kehadiran kami.

"Kami mengundang bapak ibu sekalian di sini dengan maksud untuk mengangkat laboran di Laboratorium Kesehatan Masyarakat." Kalimat pembuka

Ada harapan. Dalam hatiku.

"Mohon Ibu Rida, selaku Kaprodi untuk membacakan SK nya." Pinta Dekan

"Baik pak Suwigo." Ucap Ibu Rida "Surat Keputusan dengan nomor (membacakan nomor SK) mengangkat. . . " hatiku degdegan "Ibu Karina Wulansari, S.K.M., M.Si sebagai laboran Laboratorium Kesehatan Masyarat."

Saat itu juga aku langsung tersentak kaget.

Aku terdiam.

Kakiku menginjak lantai begitu kuat.

Tanganku mengepal.

Kenapa ini?

Ada apa ni?

Aku . . Aku . .

Aku ini sebenarnya siapa? Apakah aku tak dianggap selama mengurus laboratorium??

Ibu sri meminjam SK untuk ia lihat kebenarannya.

"Baik. Kalau begitu nanti kita atur untuk serah terima tupoksi dari Bapak Dino ke Ibu Karina." Jelas Ibu Sri dengan tenang.

Rapat selesai.

Tak ada kata maaf yang keluar dari mulut Dekan.

Aku dan Ibu Sri menuju laboratorium

Kami sangat bingung atas keputusan ini.

Ibu Sri juga tidak terima atas SK yang telah terbit.

Ibu Sri selaku Kepala Laboratorium tidak dianggap. Tidak diajak rapat untuk menentukan laborannya.

Ia menyayangkan atas SK tersebut.

Aku pun berkomentar.

Selama empat tahun aku telah berdedikasi untuk laboratorium, dari yang tidak memiliki peralatan lengkap sampai mahasiswa bisa praktikum.

"Ibu Kartin ini tahu apa tentang lab ini. Dia itu nggak ngerti. Kan yang dari awal mas Dino memang yang urus." Ucap Bu Sri dengan nada kesal

Aku begitu tersayat.

Sakit.

Aku begitu ingat kata-kata Dekan sebelum ia menjadi Dekan.

'Pak Dino. Kalau saya jadi Dekan, Pak Dino saya angkat jadi laboran. Karena Pak Dino sudah lama mengurus lab.'

Ingin ku ludahi kalimat itu.

Ya Allah.

Cerita ini telah menyebar ke teman dosen lainnya. Terutama geng dosenku.

Kenapa dengan Pak Dekan ??

Apa yang ada di pikiran dia ??

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan anwarabdulrojak memberi reputasi
Part 8

Mei 2018.

Berkas lamaran pekerjaan aku masukkan ke Rumah Sakit jauh sebelum kejadian itu terjadi.

Aku memilih sebagai tenaga Kesehatan Lingkungan di Rumah Sakit tersebut dan Rumah Sakit lainnya.

Bulan berganti bulan belum ada panggilan dari beberapa Rumah Sakit yang telah aku masukkan lamaran.

Aku berfikir. Apakah mereka khawatir menggaji karyawan dengan gelar master?? hehehe

Sambil berjalannya waktu. Aku, Ustadz Qayyim, Anjani dan Dafiq masih rutin silaturahim ke rumah Ustadz Yunus.

Dikala 'Idul Fitri dan 'Idul Adha. Beliau memang biasa mengundang kami untuk makan masakan beliau.

Beliau sangat pandai masak khususnya gulai kambing. So famous masakan beliau, bau kambing yang tidak ada sama sekali di gulai kambingnya.

Yaahh.. aku juga berfikir ada alasan lain mengapa beliau mengundang saya khususnya, itu bermaksud sekaligus memperkenalkan anaknya padaku, meskipun kami tak pernah saling bicara. Hanya melihat dia saat menyuguhkan hidangan di hadapan kami.

Malu aku curi pandang. 

Oktober 2018.

Panggilan wawancara di Rumah Sakit tersebut yang jaraknya 30 menit dari rumah telah aku datangi.

Malamnya aku browsing video tentang tips and trick saat tes wawancara. Ku catat menjadi satu. Ku hafalkan baik-baik.

(Ini penting banget buat kalian yang mau wawancara kerja, pelajari semua untuk menambah pengetahuan saat wawancara kerja. Kecuali punya orang dalam kwkwwkwk..beda lagi kasusnya)

Pkl 7 pagi aku duduk di depan kasir menunggu panggilan wawancara.

Ok. Aku sudah meminta do'a dengan keluarga.

Bismillah.

Ku baca kemabli catatanku semalam di kertas hvs. Coretan di mana-mana nampak di kertas itu.

Pkl 7.15

Belum ada tanda-tanda fikirku.

Aku ke wc dulu. Mengenakan dasi hitam panjang.

Selfie.

Ku kirim foto ke grup wa dosen khusus geng kami.

Memohon do'a restu.

Aku kembali duduk depan kasir.

Kaca besar begitu nampak di kasir. Terlibat pegawai kasir sedang mempersiapkan segalanya. Namun tetap belum ada informasi ke aku.

Pkl 7.30

Satu persatu pelamar lainnya datang. Dua pria telah duduk di samping kanan dan kiriku.

Kami bertiga bercengkrama mengenal satu sama lain mengisi kosongnya waktu.

Security datang menuju ke arah kami. Kemudian menggarahkan kami menuju ruang wawancara.

Berempat kami berada dalam satu lift.

Ting.

Sampai sudah di lantai empat.

Melewati koridor.

Dinding kaca ku lihat di sebelah kanan, nampak jelas rumah-rumah warga dan Islamic Center Samarinda.

Beautiful.

Kami masuk ke ruang wawancara.

Duduk dan mengobrol kembali. Security meninggalkan kami bertiga.

Tak lama kemudian.

Seorang perempuan kecil lengkap dengan seragam dinasnya berwarna hijau daun masuk.

Ia menjelaskan rangkaian tes untuk hari ini.

Tes tulis pun dimulai.

Sedikit aku mengernyitkan dahi.

Satu pertanyaan yang aku tidak paham.

'Apa yang kamu ketahui tentang Front Office'

What!?

Apa itu?

'Oohh.. Mungkin ini untuk tes secara umum bagi pelamar. Salah satunya aku, meskipun aku mengambil kesling' Gumamku dalam hati menghilangkan kebingungan itu.

Syukur kami sudah saling mengenal.

Tanpa basa basi dan mumpung tidak ada yang mengawasi. Ku tanya dua lelaki perjaka di sampingku.

Setelah mendapat jawaban ku tulis dari penjelasan mereka dengan kalimatku sendiri.

(Tips nyontek. Hahahaha)

Alhamdulillah.

Next test. Tes wawancara. Tahapan terakhir.

Akhirnya giliranku.

Wawancara berjalan seperti biasa.

Aku mengenalkan diri dan pengalaman kerja.

"Sebentar.." Kata-kataku dipotong perempuan hijab dengan kulit wajahnya yang putih "Ini kamu mau ambil apa di sini?" Tanyanya

"Saya ambilnya Kesling bu." Jawabku datar

"Oooaallaahhh... Cii.." Ucap Ibu itu ke teman sebelahnya. Perempuan yang menjelaskan rangkaian tes tadi "Dia mau ambil kesling cii."

Perempuan jilbab hijau yang duduk berhadapan denganku itu membolak balikkan berkas lamaranku

Diperhatikan satu berkas dibaca secara seksama.

"Kenapa ya mbak?" Tanyaku.

Aku jadi penasaran. Apa ini?

"Begini mas. Kami mencari Front Office. Kalau Kesling kami sudah ada dari Makassar" Jawab perempuan yang dipanggil Ci itu.

"Front Office itu apa?" Tanyaku lagi

"Front Office yang ada depan itu. Petugas pendaftaran. Tadi soal yang kita beri itu tentang Front Office." Jelas Ci

Aku diam.

"Tadi kok nggak kasih tahu kalau ambil kesling dan diam aja. Asik aja gitu ngerjain soalnya." Kata Ci

"Saya fikir itu memang soal yang diberikan untuk semua." Jelasku polos

Jujur. Aku belum pernah tes semacam ini. Pertama bagiku. Tololnya diriku.

"Kalau saya lihat, masnya ini kan S2. Sayang kalau ambil ke Front Office. Kami kasihan, nggak tega." Kata Ibu dengan kulit putih di wajahnya itu.

Deg.

Kami bertiga diam.

Ahh.. Front Office.. Petugas pendaftaran? OMG.. Kerja kayak apa itu? Jatuhnya harga diriku. Aku seorang dosen kerja macam gitu.

"Kalau kami sarankan tetap kembali ke jalur mas-nya sebagai dosen." Kata Ci "Kami juga nggak lihat kalau ada berkas S2-nya mas, kami lihat SKM-nya (Sarjana Kesehatan Masyarakat) ini" Sambungnya

"Saya juga nggak ngerti Front Office itu apa. Kalau begitu saya cancel dulu bu" Kataku sedikit lemas

"Maaf ya. Jika memang ada lowongan akan kami beritahu kembali. Berkas ini tidak kami buang, jika ada kosong akan segera kami hubungi kembali mas." Jelas Ibu Ci.

Aku mohon izin untuk keluar.

Energi ku menurun. Sedikit lemas aku membawa tubuh ini untuk keluar dari ruang wawancara.

Aku duduk di kursi tunggu dan menghubungi Ibu Sri.

Bersambung . . .
profile-picture
eja2112 memberi reputasi
Quote:


Pian punya hak malihati dulu kayak apa bebiniannya wal
Tapi kalo kada pun,hak pian jua
Semoga jodoh yang barokah gasan pian wal
profile-picture
Dinopecel memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Cerita ini sama dengan di Forum Latihan Posting.

karena aku memang masih noob di kaskus. hehehe
profile-picture
tabernacle69 memberi reputasi
Part 7

Sakit.

Luka dalam.

I am so speechleas.

Aku pulang.

Ku kunci pintu kamar.

Air Mata sebelah kiriku menetes disusul sebelah kanan.

Menurut pakar kesehatan jiwa. Jika yang menetes air mata sebelah kiri pertanda kesedihan.

Dan itu yang ku rasakan saat ini.

Ya Allah.

Sore itu aku duduk di lantai bersandar di pinggir springbed.

Ku lipat kedua kakiku dengan sudut 45 derajat. Tanganku bersila di atas lutut. Ku jatuhkan kepala di atasnya.

Mengalir deras air mata ini.

Hatiku meraung.

Aku menangis sejadi-jadinya. Mumpung tidak ada orang di lantai dua kamarku.

Hampa.

 No work.
 No money.

Tak menjadi dosen tetap, tak lagi bekerja di laboratorium.

Sampai aku kesal ketika melihat dua kejadian itu.

Ku seka kedua mata dan pipiku.

Kucari handphone di tas ransel merah maroon.

Aku search di Youtube mencari video teknik bunuh diri .

(Ups sorry. Canda. Hehehe)

Video motivasi bangkit dari keterpurukan.

***

Keesokan harinya aku kembali ke kampus.

Tak ada gairah semangat yang aku bawa dari rumah.

Ku susuri jalanan semen dihiasi pohon-pohon kanan kiri.

Mahasiswa asik bercengkarama di berbagai tempat.

Ku lewati seluruh anak tangga di gedung C.

Telah sampai aku di lantai empat, tempat biasa aku beristirahat, bekerja, mengajar dan bergosip dengan rekan-rekan dosen lainnya.

Ku diam sejenak menatap pintu bertuliskan tempelan kertas yang telah dilaminating . .

LABORAORIUM KESEHATAN MASYARAKAT

Sedikit senyum untuk menguatkan diri ini.

Aku masuk ke ruangan.

Bruk.

Begitu lemah sekali aku menjatuhkan pantatku di atas kursi yang sering kali menjadi tempat aku bekerja.

Ku lihat sekeliling ruangan.

Aku akan meninggalkan ruangan ini.
Semua kenangan ini.

Hari ini aku akan merapikan semua barang milikku. Meja ini bukan jadi hak milikku lagi.

Ku susun rapi semua berkas, buku, modul praktikum dan lainnya jadi satu di atas meja.

Aku berjalan ke ruangan kecil khusus.

Terlihat dua lemari besi berjajar rapi. Ku buka satu persatu pintu lemari itu.

Ku lihat peralatan dan bahan laboratorium.

Tabung reaksi, tabung durham, spatula, chloroform, eosin, alkohol . . . Mataku masih berputar pelan mengitari semua yang ada di depan mata.

Rindu.

Aku masih bersyukur tersisa beberapa mata kuliah. Sehingga masih tetap bisa mengajar dan praktikum.

Keluar aku dari ruang kecil membuka connecting door menuju ruang praktikum.

Meja dan dinding putih khas ruangan laboratorium.

Berjejer juga poster-poster besar bertuliskan informasi mengenai ilmu identifikasi, petunjuk praktikum dan lain sebagainya.

Ku lihat dari kejauhan di ujung ruang.

Menempel spanduk kecil ukuran 1x2 meter bertuliskan 'Struktur Organisasi Laboratorium Universitas', ada namaku di situ.

Fuuh.. aku menarik nafas panjang dari hidung, ku keluarkan perlahan di mulutku.

Astaghifrullah.

Ku berjalan kecil menuju meja panjang yang menempel dinding di atasnya berjejer alat-alat laboratorium..

Oven, autoclaff, magnetic strirrer . . . Oohh..masihkah aku menggunakan kalian lagi setelah usai semua pertemuanku dengan mahasiswa.

Ku lihat alat-alat di dalam lemari kaca di sebelah meja panjang itu. Melihat semua alat yang biasa aku gunakan praktikum bersama mahasiswa.

Begitu hancurnya diriku.

Aku sendiri tak menyangka.

Semua ini adalah hasil perjuanganku bersama Ibu Sri.

Tapi ya sudah lah. Itu memori yang sangat indah bagiku.

Jika memang jalan yang ingin Kau giring seperti ini.

Maka akan aku ikuti ke mana pun itu.

***

Berbaring aku di atas lantai tanpa beralaskan apapun. Kepalaku ditopang bantal empuk.

Asik aku menonton acara televisi di rumah.

Tak ayal. Suara handphone berbunyi.

Ada panggilan masuk.

Nomor rumah.

Siapa yang telpon?

Coba ku angkat, sedikit ragu.

"Halo. Assalamu'alaikum." Kataku

"Wa'alaikumsallam. Benar dengan Bapak Dino?" Tanya suara dari seberang telepon

"Ia benar. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku penasaran. Siapa kamu?

"Saya dari Rumah Sakit, ingin memberitahukan bahwa besok bapak tes tulis dan wawancara."

Hah?!

Tersentak kaget.

Segera bangun meninggalkan keasikanku menuju ruang sholat agar aku bisa dengar suara penelepon lebih jelas.

Ku tutup pintu.

"Ini Rumah Sakit yang di jalan Keong Sawah itu bukan? Yang dekat kantor DPRD?"

"Ia benar."

Ya Alllaaaahhhh..

"Kemudian apa yang saya persiapkan?"

Aku bertanya ia menjelaskan.

tak lama kemudian ku ahiri percakapan dan ku tutup percapakan kami.

Ku jatuhkan kedua lututku bersamaan.

Jidat, hidung, dan kedua telapak tangan aku tempelkan di atas sajadah.

Sujud.

Syukur adalah cara seorang hamba ketika kabar bahagia itu menghampirimu.

Ku Puji terus atas nama Allah.

Deras lagi air mataku.

Gift.

Bersambung . . .
profile-picture
profile-picture
thedreamcrusher dan eja2112 memberi reputasi
Part 10

Pulang dengan tangan hampa. Tidak mendapatkan jawaban yang sesuai harapan. Tak ada cerita bahagia yang aku kabarkan pada keluarga.

Aku menjalankan aktivitas seperti biasa, menggonta ganti channel televisi, main handphone dan malamnya menelusuri kota Samarinda.

Kusisiri Tepian Mahakam, tongkrongan anak muda dan keluarga Samarinda untuk saling melepas kejenuhan selang bekerja seharian dan mengumbar gosip-gosip terhangat dikalangan mereka maupun selebritis.

Duduk di tepian sungai Mahakam. Sendirian tentunya. Ku perhatikan meja dengan beralaskan spanduk bekas yang sudah usang distepler di setiap sudut meja, ku baca sejenak sebuah promosi produk obat pelangsing. Warnanya memudar dihantam hujan dan panas. Ku sandarkan tangan kanan di atas pagar besi panjang membatasi Tepian Sungai Mahakam.

Angin semilir menerpa wajahku, seakan berbisik untuk tetap menerima semua kenyataan ini.

“Permisi mas.” Lirih suara waiters menghamburkan lamunanku

“Silahkan mbak.” Ku lempar senyum tipis ke arahnya

Ia menata makanan dan minuman di depanku. Tahu tek-tek dan
segelas susu coklat dingin favoritku.

Hatiku lagi tidak begitu baik dan perut juga terasa lapar. Tetap saja ku santap perlahan sambil menarik nafas pelan.

Kejauhan terlihat cahaya lampu dari rumah-rumah warga yang berada di seberang sungai. Kapal tongkang yang biasa mengangkut batu bara, kali ini menyusuri Sungai Mahakam tanpa membawa emas hitam yang menjadi andalan pulau Kalimantan Timur.

Kali ini langit malam nampak ceria. Bertabur bintang, kepalaku dongak memperhatikan bintang-bintang. Tetap semangat menghadapi hidup ini ku rasa.

***
Laboratorium Kesehatan Masyarakat

Ku letakkan tas ransel merah di samping kursi kerja. Ku tarik kursi mendekati meja kerja agar aku lebih mudah merapikan seluruh laporan-laporan yang masih belum usai untuk akhir jabatanku ini.

Miris. Aku dibuang begitu saja. Masih rasa tak terima diri ini atas keputusan dekan.

Suara handphone berdering kencang tanda panggilan masuk.

Nomor rumah??

Nomornya kok nggak asing ??

Bukankah ini nomor Rumah Sakit??

Segera ku angkat .

“Halo, assalamu’alaikum.” Ucapku

“Wa’alaikumsallam. Mas Dino.” Jawab suara dari seberang telepon yang tidak asing, suara Ibu Cici tebakku.

“Ia, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku

“Sekarang ketemu di Rumah Sakit ya. Kita ada wawancara sama mas Dino. Pakai baju putih dan celana hitam.”

“Pakaian saya ada di rumah bu. Kalau pakai yang ada aja bagaimana?” Tawarku

“Bebas pantas?” Tanya Ibu Cici

“Ia bu. Saya pakai hem dan sepatu juga.”

“Baik kalau begitu. Saya tunggu di Rumah Sakit sekarang ya mas. Berapa lama bisa sampai ke Rumah Sakit mas?”

“30 menit bu saya tiba di sana.”

“Baik. Kami tunggu. Assalamu’alaikum.”

“Baik bu. Terimakasih. Wa’alaikusallam.”
Ku tutup telepon.

Segera aku bergeser dari tempat duduk dan berdiri. Aku pun bersujud di samping kursi kerja terus berterimakasih atas hadiah yang Ia berikan.

Sesegera mungkin aku meninggalkan laboratorium. Ku pacu cepat sepeda motor. Semangatku langsung ke puncak kebahagiaan.

Tak pernah diduga kebaikanmu kepada hamba ya Allah.

Aku terus mengucap syukur tiada henti-hentinya selama perjalanan menuju Rumah Sakit.

***

“Setelah kami bicarakan kembali bersama wakil direktur Kak Ae. . .” Ucap Ibu Cici

Sekarang posisikku berada di samping Ibu Cici dan menghadap wakil direktur di meja beliau.

Aku baru tahu ternyata perempuan dengan wajah ayunya yang putih ini adalah seorang wakil direktur Rumah Sakit. Orang yang pernah mewawancarai diriku kala itu.

“Posisi untuk di Front Office masih ada yang kosong. Jika berkenan mas Dino bisa mengambil kesempatan ini. Kami juga awalnya ragu dan berat untuk memanggil mas Dino karena latar belakang mas Dino.

Tapi kami coba ngobrol terlebih dahulu, apakah mas Dino bersedia sebelum kami memanggil pelamar selanjutnya.” Sambung Ibu Cici

“Bener kata Cici. Kami sih ragu, tapi kalau kamu berniat ya monggo.” Ucap Kak Ae

“Saya memang tidak mengerti apa itu Front Office dan bagaimana sistem kerjanya. Di samping itu Juga saya siap belajar untuk menambah pengetahuan di Front Office.” Kataku dengan tegas agar mereka yakin atas keinginanku

“Kami yakin?” Tanya Kak ae

“Why not!? Selama saya diberi kesempatan untuk belajar dan dapat bergabung di perusahaan ini.” Yakinku

“Baik kalau begitu. Selama kamu menerimanya, kita mengikuti saja.” Kata Kak Ae

“Karena mas Dino menerima pekerjaan ini, ada syarat memang yang harus dipenuhi. Pertama dari rambut dan brewok serta janggutnya mas Dino.” Ucap Ibu Cici

Rambut dan brewokku memang begitu lebat. Sengaja memang aku
panjangkan brewok dan janggut ini. Terutama di janggut yang udah cukup panjang sampai leher.

“Siap. Untuk rambut saya bersedia untuk memotong agar rapi. Tapi kalau untuk janggut bolehkah cepak? Artinya tidak polos. Karena saya mau menjalankan sunnah Rasul.” Tawarku

Perasaan penuh tawar menawar aku ini. HHH

“Boleh, tidak apa. Selama tidak panjang banget ya.” Ucap Kak Ae

Kami melanjutkan obrolan dan aku pun menanyakan sistem kerja, gaji dan hal-hal apa yang harus aku pelajari di Front Office.

Aku rasa begitu dimudahkan oleh Allah selama wawancara ini. Tidak ada ketegangan sama sekali kurasakan.
***

Aku tidak tahu. Apakah sirna sudah kesedihan ini atas kebaikan Tuhan.

Aku fikir ia.

Segera aku menceritakan pertemuan tadi dengan keluarga. Mereka kurang setuju, tapi semua dikembalikan ke aku.

Ibu menanyakan jam ngajar. Apakah akan menabrak jam kerja. Sebagai dosen itu sangat mudah sekali mengatur jam mengajar. Hal itu bisa aku handle.
***

“Siapa seniornya di sini!?”

Ku lihat Ibu berkacamata berdiri pas di samping mba Dwi. Senior di Front Office.

“Saya dok. Ini coba kamu ajarkan ke anak baru agar tidak double CM.” Nampaknya ia begitu marah

Aku lihat dengan jelas matanya meloto ke mbak Dwi yang sedang duduk sambil melakukan input data pasien. Mereka hanya terhalang meja marmer hijau.

Mbak Dwi memohon maaf sambil menjelaskan bawah Front Officenya masih ada yang baru.

Aku dan teman Front Office berada di ruang operator melihat kejadian itu.

Ibu itu lalu pergi meningglkan mbak Dwi dan mendatangi kami.

“Sini kalian. Siapa yang mendaftarkan pasien ini!?” Tanya beliau geram

Aku menghampiri beliau dan ku baca tulisan di form klaim rawat jalan.

Ku perhatikan dengan seksama tulisan itu.

Mampus.

Itu tulisanku

“Tulisan saya ini bu.” Jawabku

“Ini pasien sudah pernah berobat sebelumnya! Ini double CM.! Ini bukan pasien baru. Saya tidak hafal semua pasien saya!” Cecarnya

“Baik bu. Maaf bu.”Menatapnya

“Saya bukan Ibu. Saya dokter!” Ucapnya sambil melongo pergi entah ke mana

‘Apa sih orang ini. Emang dia Ibu-ibu kan. ‘ Gumamku kesal dalam hati

Ku lihat pasien-pasien di depan ruang tunggu memperhatikan kejadian ini.

Yup. Aku sudah bekerja sebagai Front Office. Dan ini adalah hari keduaku bekerja di sini.

Baru hari kedua. Sudah ada aja kejadian macam begini.

***

Tiga bulan sudah aku lalui sebagai Front Office. Berbagai macam
komplain pasien dan dokter sudah jadi makanan kami hari-hari.

Komentar antrian yang lama, dikatakan kami lambat bekerja, mencarikan kamar perawatan yang lama, bahkan ada saja pasien yang ingin mendokumentasikan kami sebagai bukti. Entah sebagai bukti di meja hijau kah atau meja makan, aku pun tak mengerti kelakuan pasien-pasien zaman now. Meja kerja kami pun juga pernah digebrak pasien karena kekesalan pelayanan.

Semua pasien ingin dilayani cepat, tangan kami cuman dua, tenaga kami terbatas, ingin menambah SDM pun juga belum tentu di acc, sebab butuh analisis untuk penambahan SDM. Bagian umum seperti kami ini tidak dianjurkan untuk menambah SDM, kecuali bagian medis. Bahkan kami juga ngedumel, bukan hanya anda yang kami layani, masih banyak pasien di depan kami juga perlu dilayani, hanya sabar untuk menguatkan hati ini.

Entah mendapatkan pelayanan seperti apa. Pasien berucap dengan nada tinggi mengatakan ‘Aku akan azab seluruh pegawai Rumah Sakit ini’ Heh. Lucu sekali anda. Bahkan ada yang ingin memfoto kami dan melaporkannya ke media sosial dan surat kabar. Kami malah lebih senang jika ada yang mendokumentasikan hal-hal seperti itu, agar lebih terkenal kami di Samarinda. Hahaha..

Bahkan kami pun tidak takut jika ada yang benar-benar melakukannya. Buat apa kami takut, karena kami telah dilindungi oleh Undang-undang Praktik Kedokteran No.29/2004, Pasal 48 dan 51. Undang-undang Telekomunikasi No.36/1999, Pasal 40. Bahwa dilarang untuk mengambil gambar foto/Video/Audio di area pelayanan Rumah Sakit. Cukup sederhana untuk mengancam pasien-pasien nakal dan seakan-akan bisa menindas kami. Cuih.

Kalau boleh dikatakan. Front Office merupakan tempat sampahnya Rumah Sakit. Ya. Aku fikir begitu, entah pasien, dokter,perawat manejemen atau ada yang lain berkomentar tidak mengenakkan sekali di telinga kita.

Berat. Memang ia. Aku bahkan pernah membandingkan pekerjaanku sebagai dosen jika dihitung kenyamanan aku lebih memilih sebagai dosen. Namun aku terus berusaha bersyukur atas apa semua yang telah diberi.

Kata sabar yang selalu menguatkan aku. Lagi.

Tak ayal kami satu persatu pun tumbang karena lelahnya bekerja dan pekerjaan yang selalu over, lembur pun harus kita lalui. Aku bahkan pernah opname semalam sebab seringnya telambat makan. Bekerja dipelayanan tidak pernah makan tepat waktu baik itu jam 12 siang dan 7 malam. Awal aku bekerja pun selalu mengeluh hal ini, makan yang tidak pernah tepat waktu. Makan siang jam setengah 3, makan malam jam 10 malam. Lambung kami selalu meronta tak karuan jika sudah lewat jam makan siang dan malam.

Hari berganti hari bulan berganti bulan. Lama kelamaan aku menikmati pekerjaan ini. Keasikannnya bekerja melayani pasien, selalu tersenyum meskipun pasien komplain dihadapan kita, saat lapar dan lelah.

Telepon berdering.

“FO Dino.” Jawabku

“Puji ini. Nanti ada pasien mau MCU, kamu arahkan ya.” Ucap Puji

“OK siap.”

“Aku mau kasih tahu kamu.”

“Apa itu?” Tanyaku penasaran

“Kamu nggak jadi Front Office lagi.”

“Aku dipecat kah?!”

Bersambung . . .
Lihat 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di