CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kisah Tony Wen, Kepercayaan Soekarno yang Selundupkan Candu demi Negara
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e24eea0af7e9373da2511d3/kisah-tony-wen-kepercayaan-soekarno-yang-selundupkan-candu-demi-negara

Kisah Tony Wen, Kepercayaan Soekarno yang Selundupkan Candu demi Negara

Kisah Tony Wen, Kepercayaan Soekarno yang Selundupkan Candu demi Negara
JAKARTA, KOMPAS.com - Tony Wen merupakan tokoh penting dalam perjuangan Indonesia melawan pemerintahan Belanda tahun 1945-1949.

Tony Wen atau Boen Kim To lahir di Sungai Liat, Bangka tahun 1911. Dia merupakan seorang guru olahraga di Sekolah Pa Hoa di Jakarta.

Tony pernah menyelundupkan candu untuk membantu keuangan negara.

Dikutip dari buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran yang ditulis wartawan Kompas, Iwan Santosa, Tony Wen adalah tokoh penting dan kepercayaan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno.

Keponakan Tony Wen, Amung Chandra Chen menceritakan kedekatan Tony dengan Soekarno.

Ketika itu, Soekarno ditahan Pemerintah Belanda di Bukti Menumbing, Muntok, Bangka. Amung dan Ayahnya diminta Tony untuk membantu melayani keperluan Soekarno.

"Dari urusan kiriman uang, baju, hingga cabut gigi Bung Karno dilayani ayah saya atas perintah Tony Wen yang saat itu tidak ikut ditangkap Belanda dan sedang bergerilya di luar Indonesia," ujar Amung mengenang.

Penyeludupan Candu ke Singapura
Tony memiliki peran dalam membiayai jaringan perjuangan Republik Indonesia di luar negeri yang dipimpin misi diplomatik Ali Sastroamidjojo dan Lambertus Nicolas Palar.

Sam Setyautama dalam buku Empat Puluh Tahun Indonesia Merdeka menjelaskan, awalnya Kabinet Mohammad Hatta menyetujui gagasan Menteri Keuangan A.A. Maramis untuk menjual candu ke luar negeri guna membantu perekonomian Indonesia saat itu.

Mukarto Notowidagdo ditunjuk sebagai koordinator tim operasi candu. Sementara Tony Wen menjadi pelaksana dalam tim tersebut, pengawas dijabat Soebeno Sosrosepoetro, dan dibantu Karkono Komajaya.

Tony sebagai pemimpin operasi menghubungi temannya Lie Kwet Tjien yang memiliki jaringan pedagang candu di Singapura.

Operasi penyeludupan candu dilakukan Tony dan tim pada 7 Maret 1948. Saat itu, Tony mengangkut setengah ton candu dari pantai Popoh di selatan Kediri.

Scroll untuk lanjut baca
Tim melintasi pantai selatan Jawa ke Selat Lombok. Mereka menghindari patroli Belanda yang memblokade Jawa dan Sumatera.

Setelah kucing-kucingan dengan patroli Belanda, mereka tiba tanggal 13 Maret 1948.

Meski sempat ditahan imigrasi Singapura, tim berhasil keluar dan membuka kontak dengan sejumlah pihak dan menjual candu.

"Operasi lanjutan pun dijalankan dengan bantuan John Lie (Laksamana Muda Daniel Jahja Dharma). Operasi tersebut menggunakan pesawat ampibi Catalina yang dicarter dan berhasil dua kali mengirim dua ton candu ke Singapura," kata Sam.

Menurut Sam, operasi tersebut terdeteksi Pemerintah Belanda, Tony ditangkap dan ditahan polisi Inggris di Singapura.

Jadi Anggota DPR
Setelah lepas dari tahanan, Tony memulai karier politik yaitu menjadi anggota DPR dari Fraksi Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1954-1956.

Ketika itu, Tony menggantikan, posisi Drs Yap Tjwan Bing.

Pada, 30 Mei 1963 Tony Wen meninggal dunia dan dimakamkan di Menteng Pulo.

Rumah Tony Wen kini menjadi tempat usaha yang menjual penganan khas coklat di seberang sebuah klinik Tionghoa di Jalam HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat.

https://nasional.kompas.com/read/202...egara?page=all

Pahlawan emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mulivw dan 14 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 4
Agama adalah candu. ~ Karl Marx
profile-picture
profile-picture
profile-picture
packyu dan 4 lainnya memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Lihat 7 balasan
Nambah wawasan, nice info
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mulivw dan 2 lainnya memberi reputasi
emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Hi

Ternyata candu cukup berjasa juga emoticon-Hammer
profile-picture
profile-picture
mulivw dan masnukho memberi reputasi
LOL kl ini dibuat jd film layar lebar , kira2 reaksi orang bakal gimana ya

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mulivw dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
ekonomi kreatif 1945
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mulivw dan 4 lainnya memberi reputasi
maka dari itu ganja aceh jangan dilarang

toh skrg sudah ada pasar luar negeri negara yang legal ganja
profile-picture
profile-picture
profile-picture
h.w1994 dan 4 lainnya memberi reputasi
Balasan post kyaimaarufamin
Quote:


@kyaimaarufamin

masih ada perdebatan, mending di bawah belanda, sistem jelas dan bagus, banyak pembangunan era belanda, cuma belanda rasis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
samc01 dan 2 lainnya memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
begitu rupanya emoticon-Cool
profile-picture
masnukho memberi reputasi
Balasan post kyaimaarufamin
@kyaimaarufamin

masa ?
bukan cuma dia yg berjuang demi kemerdekaan

jangan lupakan ganasnya Tan Malaka
Balasan post byebyebye
mending dia doyan meki . . .
daripada kowe doyan batangan . . . mahok goblok kowe . . .
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan red23rd memberi reputasi
Balasan post neptunium
Quote:


@kyaimaarufamin @neptunium
Tahun segitu emang rasis sih.. cm kalo kemungkinan kita sabar sampe gelombang nelson mandela sampe ke asia mungkin beda kali ya.. emoticon-Big Grin
Nah ini, selundupim barang haram demi perjuangan... Mirip afghanistan yang main poppy seed...
Agak gimanaaa gitu
Lihat 1 balasan
Balasan post bani.bahlool
Quote:


Hampir semua negara yg akan/awal merdeka kebanyakan cari dananya gitu gan. Komoditas paling laku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
samradler dan 3 lainnya memberi reputasi
Balasan post byebyebye
profile-picture
profile-picture
profile-picture
samradler dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di