CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e20f45028c99126d1670a58/story-gift-from-you

Story: Gift from You

Spoiler for Cover:


**Gift from You**
Nama Penulis: Ida Selfia
Genre: Romance Fiction
Status: On Going


#dilarang melakukan plagiasi 😘





**Gift from You**
Part 1



"Judul.., Seseorang

Seseorang pernah mengetuk pintu;
Kasar.
Agak terburu, denyutnya bersahutan
Entah kilatan dari mana..,
Matanya menyala.

Lenggang di dalam,
Justru naikkan pitam.
Pintu seakan dibuka,
Oleh deru nafasnya saja.

Marah,
Ia kumpulkan semua bara
Bahkan stok arang ikut tertawa
Lengkap sudah.

Kosong.
Angin.
Sesak.
Udara.
Ke--ke mana?

Ia pernah menyusuri waktu,
Menguji Tuhannya.
Ia pernah menelan dosa,
Pertaruhkan akhiratnya.

"Apa ini?"
Getar tubuhnya, meminta kembali
Gemeletuk giginya, mengucap ampuni
Bahkan saat kepunyaannya itu melayang,
Ia hanya melotot lebar.

Hidupnya..,
Kesombongan,
Alkohol menertawakan,
Bekas zina memojokkan.

"Allah.., apa itu namamu?"

Diam,
Sebab ia cuma pecundang,
Andai bisa bersembunyi,
Tidak.
Ia hanya ingin pulang..,
Menebus kesempatan hilang."


***


"Lo--lo gila!"

"Kenapa, Ger?"

Gegas, ia menjauh dari kerumunan kelasnya. Entah kenapa Bu Mira meminta semua anak-anaknya meninggalkan kursi, mengubah formasi serupa penonton konser. Ia tidak suka, tampak membenci hal itu.

"Angger ke mana?" Lilis ikut panik. Jelas, ia yang bertanggung jawab merekam.

"Duh, mana gue tahu. Lo lihat, kan, gue habis baca puisi. Tuh anak langsung main cabut aja. Serius gue yang disalahin, nih?" Maryam mengangkat sebelah alisnya, lalu turun dari kursi yang berperan sebagai panggung.

Melihat gelagat tak bersahabat dari teman satu kelasnya, Lilis memilih bungkam. Niat menyusul pun diurungkannya sebab tahu bagaimana perangai anak itu.

Maryam melirik punggung kecil yang mulai sibuk setelah beranjak meninggalkannya. Sesaat, ia tampak mempertimbangkan sesuatu. Di luar sana, hujan lebat. Itu salah satu sebab kenapa gurunya tidak bisa hadir. Jam pertama, mungkin akan menyulitkan banyak orang. Hingga ide merekam yang telah disetujui oleh Bu Mira pun menjadi jalan pintas.

"Oh, dia enggak mau direkam." Gumamnya menyimpulkan.

Ia penasaran, dengan mengirim pandangannya pada hujaman hujan lewat kaca jendela, ia berharap bisa menerka-nerka. Ke mana seorang murid saat jam pelajaran pertama. Bahkan warung makan saja tutup.

Hujan lebat. Kantin kebanjiran karena atapnya bocor. Mengingat tempat itu, tiba-tiba Maryam mengaduh saat perutnya agak melilit. Deretan awan mulai membentuk kereta api di atas kepalanya. Mi rebus.., sosis.., dan segelas susu. Itu memang menu paling monoton. Tapi, ia suka.
Bayangan makanan di atasnya pudar dan bibir cewek itu langsung melengkung sedih, "gue laper."

"Roti, Yam."

Ia pernah mengalami ini sebelumnya. Bahkan sering. Ia hidup dalam lingkungan yang acap bertubrukan. Jika di rumah hanya ada satu kehangatan, maka di lain tempat, ia bisa dapat banyak. Di beda tempat lagi, bahkan tidak sama sekali.

Itu tadi suara Reddish, kawan sebangkunya yang merupakan murid baru sejak awal kelas 13 dimulai. Maryam belum sempat berterima kasih karena si pemberi keburu pergi bersama gengnya.

Roti belum juga disentuhnya. Sedikit membayangkan bagaimana tanggapan Reddish andai ia menolak pemberian tersebut. Mereka memang tidak terlampau akrab. Belum bisa dikatakan sahabat. Mungkin, hanya kerap bertukar jawaban saat ulangan dan tugas saja.

Tanpa malu-malu, dilahapnya reinkarnasi tepung dan susu yang berisi coklat tersebut. Enak. Hingga ia mulai sadar bahwa perutnya tidak lagi melilit.

Suasana lenggang sebab hanya diisi oleh beberapa siswi, kemudian terpecah saat gerombolan cowok masuk dengan gestur angkuh. Percayalah, tidak ada yang berani untuk melihat polah mereka. Berandalan, Pak Joko suka bilang begitu. Mereka perokok, suka bolos, dan tas mereka sering terisi alkohol.

Asal menendang kursi kemudian menggebrak meja. Polah mereka menang ada-ada saja. Kelas IPS memang santer dengan julukan biangnya anak badung. Tidak masalah. Tidak ada yang bisa mengelak. Faktanya memang demikian.

Tidak ada yang berani bersuara meski asap rokok sudah memenuhi seisi kelas. Sesekali, tampak anak cewek di pojokkan mengibas-ngibaskan tangan namun tidak secara gamblang. Tangan naik pas di wajah, mengibas sekali, lalu berdeham kecil. Begitu seterusnya, mungkin sampai jam masuk tiba.

Namun, beda dengan Maryam yang sudah mengumpulkan nyali sejak beberapa menit yang lalu. Pergi dari situ, atau, terbatuk-batuk konyol. Tubuhnya dengan cepat menegak, lalu melangkah ke samping untuk keluar dari ruang duduknya yang sempit. Ia harus segera mencapai pintu. Jangan menoleh. Jangan dengarkan omongan mereka. Mereka menggosipkan gue? Mereka mengolok cupu? Biarin saja toh gue..,


Gue..,


"Stay-here!"

Lo gila!


"Budek?"

"Gue mau ke kant--kamar kecil."

Cowok tadi meruncingkan alis kemudian menampilkan smirk aneh, "ga usah bohong. Duduk!"

"Nggak!"

"Duduk!"

"Nggak!"

"Du-duk, Dekil!"

Maryam mengepalkan jemarinya. Tapi entah, ia ingin sedikit tertawa saat melihat antek-antek cowok gila itu yang tengah menertawakan tontonan gratis tersebut. Maryam pikir, itu tidak ada bedanya dengan pengkhianatan.

"Gue nggak bawa pampers,"

Secepat kilat. Dan tubuh mungil berbalut hijab sedada itu sudah berada di koridor kelas. Ada sesuatu yang lepas. Ia bisa merasakan itu dan benar-benar.., melegakan. Entah kapan kali terakhir ia bisa seperti itu. Hidup dalam topeng dan berada di zona asing--sangat menyiksanya.

Senyum ringkasnya tampil, hingga ia sedikit mencondongkan tubuh untuk mengintip kelasnya dari jauh. Gue kembali..,

Soal keterpaksaan, semua orang pasti pernah mengalami. Ada yang melakukannya dengan senang hati. Ada yang sukarela tapi tidak senang. Ada juga yang tanpa berkeinginan. Beda dengan cewek itu, ia takut. Bahkan meski beberapa kali menemui banyak mata yang tersenyum padanya. Menguatkan, memberi petunjuk, menyalurkan hangat dan kebahagiaan dalam level lain. Tapi, kesadarannya belum bisa menjemput itu. Mimpinya terlalu indah. Sangat indah. Sampai memunculkan darah.

***

profile-picture
profile-picture
profile-picture
idsela.poem dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh iselfiawrds
**Gift from You**
Part 2


Reddish berkomat-kamit lucu, dan Maryam sudah beberapa kali tertangkap basah memerhatikan gestur cewek itu saat berdoa. Hingga, kegiatannya selesai, lantas ia melirik Maryam sembari mengukir senyum samar.
“Gue senang, puisi gue lolos!”

Maryam yang masih berekspresi datar sebelumnya, lantas mengembangkan senyum, “gue tahu, selamat!”

“Ish, tapi..,” cewek itu memajukan bibir, “lo di posisi pertama.”

“Haha. Itu kebetulan, Redi! Besok-besok, lo pasti geser posisi gue.”

“Enggak.” Timpalnya cepat, “lo lupa rohis di sini dipegang siapa? Gue yakin, Anjar juga kebagian ngasih nilai.”

Maryam diam sejenak, cukup kaget kenapa topik pembicaraan yang membahagiakan itu malah menyeret ke sana. Dan menurutnya, tebakan Reddish tadi sangat melenceng jauh. Hanya saja, Maryam bukan pendebat ulung. Anjar adalah nama guru agama Islam di Niagara High School.


“Dan guru rohis Lo juga?”

Reddish tampak diam, dan bergumam sejenak. Rautnya tidak sekalut tadi, cukup lama, baru ia menoleh pada Maryam. “Tapi.., Pak Anjar kan—“

“Red, gue nggak akan bela siapa-siapa di sini. Ya udah, besok-besok, kita angkat tema lain. Gimana?”

“Not bad.”


Tidak ada yang tahu, Maryam tersenyum lebar selepas mendengar jawaban itu. Reddish punya kebiasaan menunjukkan kepuasan atau keputusan akhir dengan mengatakan not bad dalam mimik yang khas. Ditambah, rambut yang dikuncir kuda kanan dan kiri akan menambah kecantikan wajahnya meski berekspresi minim.

Meski tidak terlalu lengket layaknya sahabat sejak kecil, mereka cukup memahami satu sama lain. Begitu pun dengan Maryam, Reddish tahu kalau cewek sebangkunya itu memang tidak suka mencolokkan diri di depan umum, memulai debat atau mencak-mencak.

“Woy! Ini siapa yang buang puntung rokok? Elah, gila aja ada anak Niagara yang kere!”

Maryam membelalak panik. Ia segera meraih gagang sapu dan menuju keributan. “Sorry, Ran. Gu—gue yang belum bersih nyapunya. Itu.., tadi gue ngerjain tugas dulu.” Diliriknya tempat duduknya tadi dan Reddish sudah menghilang. Andai cewek itu masih di sana, mungkin akan membantunya.

Si Ketua Kelas tampak naik pitam, namun entah mengapa ia mencoba mengatur nafas dan mengendalikan diri sebelum berbicara sembari menoleh ke samping, “siapa yang ngrokok kemarin?”

Yang ngrokok kemarin? Setahu gue cuma..,


“Yam, kok diem?”

“Eh, itu.., Lo pasti tahu kan.”

“Memang baik dia!”

Tubuhnya cukup bergetar mendengar umpatan nyaring barusan. Kepalanya merangkai sesuatu. Sebuah kejadian yang kemungkinan akan terjadi setelah ini. Anggerald, Joseph, Pandu.., Nick. Mereka bakal..,

“RANDI!”

Cowok dengan name tag Randitiya Edent Hiski itu mengerutkan alis dan memastikan bahwa ada seseorang yang tengah mengejarnya. Senyum tipisnya tertahan.

“Jangan bilang itu dari gue, ya?”

Lirihan kecil dan terkesan merengek yang baru saja ia dengar, telah membuatnya dengan cepat memutar tubuh. Dipandanginya mimik bimbang dari siswi yang telah bersamanya dalam satu kelas selama dua tahun ini.
“..,”

“Jangan bilang gue yang ngasih tau lo soal puntung rokok itu.”

“Kenapa?”

Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Membayangkan hanya salah satu dari keempat cowok nakal itu, malah membuatnya merinding. Belum lagi, mereka kan, bukan cowok sembarangan. Mendepaknya dari sekolah bergengsi itu.., bukannya mudah?

“Gue.., takut.” Cicitnya.

Randi terperangah sesaat, baru ia tersenyum ramah meski tidak lama, sebab rombongan orang berseragam sama sepertinya datang dari balik punggung cewek di depannya. Salah satu dari mereka menyeringai.

“Sayangnya gue denger, gimana dong?”

Suasana lenggang sesaat. Maryam makin menciut dan matanya terpejam erat. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak meski hanya maju atau mundur sejengkal.

“Ngapain ke sini?”

“Lo dengar, paling juga cewek jelek ini yang udah ngaduin kita ke BK waktu itu. Lo inget?”

Mereka kembali tidak bersuara. Hanya suara pedang dari ponsel milik Pandu yang mewarnai ruang. Tidak ada yang tahu, di tengah perdebatan ringan itu ada seseorang yang mulai terguncang.

“Cabut!”

“Lo gila! Nglepasin tersangka gitu aja?” Nick masih tidak terima saat Anggerald malah memutar tubuh, teriakan protesnya membuat sahabat sekaligus sepupunya itu berhenti.

“Gue males ngurusin yang beginian.”

“Nggak asik lo!” Rutuknya sambil melemparkan uang koin dan mengenai pelipis orang tersebut.

“Cabut! Jangan kayak bocah!”

“Lo yang bocah!”

“Lo!”

“Sini ikut gue!”

Butuh beberapa detik untuk mengetahui apa yang telah terjadi, kejadiannya begitu cepat. Tubuh kecil Maryam sudah terseok-seok dan terdengar isakkan dari mulut gadis itu.

“Lo apa-apaan sih!”
Itu Randi. Dengan cepat ia menyentak dan mendorong keras dada Nick.

Belum sempat membalas, seseorang telah berdiri tegak di depannya. Cowok itu mengangkat alis meminta penjelasan.

“Gue udah bilang, jangan kayak bocah. Dia cuma cewek.”

Maryam digandeng Randi menuju kelas. Perdebatan kecil itu telah usai. Bahkan Pandu masih saja tidak peduli dan tetap fokus pada layar gadgetnya.

Bel berbunyi.

Ketiga cowok jangkung itu malah memutar langkahnya menuju belakang gedung kelasnya. Di sana, ada beberapa orang yang telah menunggu dan mulai melemparkan tasnya keluar pagar saat melihat gerombolannya yang lain datang.

Anggerald berjalan paling belakang dengan dua tangan yang ia masukkan ke saku. Matanya fokus menatap kerikil-kerikil kecil dan sesekali ia tendang, hingga polusi kecil tercipta dari ulah kakinya tersebut. Ia menikmati itu. Sampai seseorang menyenggol bahunya, dan ia melirik.

“Tumben cewek dekil tadi diem. Kemarin, dia berani sama lo.”

Dengan cekatan semua kawannya menaiki pagar, dan Pandu adalah yang terakhir setelah mengungkapkan sebuah kalimat. Ia pikir, cowok gila gaming itu tidak menggubris kejadian tadi. Nyatanya, tidak. Pandu tahu tapi memilih tidak ikut campur.

“Apa peduli gue,” gumamnya saat lawan bicaranya sudah berada di puncak pagar.

***
Diubah oleh iselfiawrds
**Gift from You**
Part 3



Maryam itu memang berkulit coklat, bahkan bibirnya gelap di bagian pinggir. Namun sejak duduk di bangku akhir tingkat SMA, ia mencoba teori memerahkan bibir dengan mengoleskan lip balm sebagai terapi setiap paginya.

Hari itu, mendung dan beberapa kali ia harus kembali ke teras lagi. Tidak ada sesuatu yang bisa melindunginya dari hujan. Bams tidak pulang sejak berangkat sore. Dan itu bukan kali pertama. Meski lewat pesan elektrik seseorang yang telah membesarkannya itu mencoba tidak membuatnya khawatir.

Seseorang menaiki Kawasaki Ninja dengan kekuatan minimum padahal langit nyaris gelap. Maryam tidak berharap banyak. Ia duduk sembari menghilangkan kedua lengannya di atas perut. Ia sedikit merasa bersalah jika harus memohon untuk menunda hujan untuk kepentingannya sendiri. Terpaksa, ia hanya merenung dan tidak jadi bertindak egois atas takdir hujan pagi itu.

Tapi,
Sebuah lampu menyorot tepat di wajahnya, ia segera berdiri dan maju dengan sedikit mengentak-entakkan kaki. Orang itu..,

“Pandu?”

“Lo pakai seragam, tapi bolos?”

“Ee, tadinya juga mau berangkat,” ia berkata sambil mendongak, lalu kembali memasang wajah sedih dan hendak mengakhiri pembicaraan.

Sadar akan langkah yang akan diambil cewek itu, Pandu segera membuka suara, “bareng gue!”

“He?”

“Bareng gue. Keburu hujan, ayo!”

Pandu enggak pakai tindik, kan?
Tapi dia pernah pakai..,

“Yam! Lo budek atau apa sih?!”

Enggak ada pilihan lain. Maryam mencoba mengumpulkan pasokan udara saat menyusuri jalan setapak kecil untuk keluar dari teras rumahnya. Tidak mungkin ia terus merunduk dan tiba-tiba nangkring di jok belakang yang tinggi itu. Ia harus melakukan sesuatu. Diangkatlah wajahnya hingga netra mereka saling bertubrukan.

--Seseorang tersenyum miring, menatapnya lapar. Tangan berotot milik orang itu maju, hendak mencengkeramnya.
--

“Eng—enggak, Ndu. Gu—gue.., gue mau bolos aja!”

Ia segera mengunci pintu utama, nafasnya masih berlari bariton padahal sudah menenggak bergelas-gelas air mineral. Wajahnya basah keringat dingin. Ia segera membaringkan tubuh dengan seragam yang masih menempel rapi, bersiap jika tiba-tiba kesadarannya hilang.

Dan, benar.
Ia harus menikmati mimpi itu, lagi.

***

Di warung yang terletak agak terpencil, bangunan itu berada di luar area sekolahan dan telah digunakan secara turun-temurun untuk melarikan diri dari jam pelajaran. Cuaca cerah. Entah berhilir ke mana sekumpulan awan hitam yang berkelebat di langit pagi.

Denting gelas yang bertubrukan dengan sendok. Aroma kopi menguar bersama datangnya nampan yang di atasnya masih mengepulkan aroma nikmat tadi. Seseorang mematikan rokok dengan menekan sumbunya pakai ibu jari.

Aggerrald, cowok tampan yang rich itu sangat gemar minum kopi. Berharap seolah peminum kopi memiliki gigi kuning atau coklat, nyatanya, itu tidak berlaku bagi anak polisi itu. Anggerald memiliki bagian yang sempurna di tiap jengkal tubuhnya.

Hotspot dong!”

Hanya suara tegukan benda cair, Anggerald memilih kembali menyulut rokok baru dan bersiap membentuk asap lingkaran di udara.

Pandu mendesah, lantas tangannya menyerobot begitu saja ponsel di saku celana sahabatnya, membuka lockscreen yang tanpa diberi kata sandi, lalu mengaktifkan mode hotspot portabel. “Thanks,” Ucapnya ringan lalu kembali berkutat dengan benda pipihnya sendiri.

“Masih 20GB, tanggung jawab kalau habis!”

Pandu hanya mengangkat alis dan sedikit mempertajam pandangannya sebab interupsi itu, sedikit mengganggu estetika gerakan jagoannya saat hendak menangkis serangan lawan. Itu membuatnya mengerang frustrasi padahal tidak kalah. Ia mendongak, menatap sahabatnya sebentar lalu mengangguk.
“Tadi pagi, gue nawarin Maryam boncengan.”
“Eh, ditolak sama tuh cewek. Gue kurang ganteng apa?”

Joseph sedikit memiringkan kepala sebab kesibukannya juga tidak jauh dari Pandu. Sedikit tertarik dengan obrolan langka itu, “lo maksa pakai wajah horor kalik!”

“Enggak lah. Gue nggak ada minat sama sekali sama dia.”

“Terus dia gimana?” Anggerald merespons.

Pandu meletakkan ponselnya di meja, lalu menggaruk leher belakangnya sambil meringis, “dia nolak. Masuk ke rumah gitu aja”

“Sambil ketakutan nggak?”

“Kok lo tau?”

“Cuma nebak,” Josepsh menyeruput kopinya, “berarti, dia bener ngira lo bakal mesum.”

“Kalau iya.., ekspetasi yang menyedihkan.” Pandu berucap sedih, “tipe gue tinggi soalnya.”

“Dia enggak berangkat..,” Anggerald memastikan sesuatu dan kedua sahabatnya mengangguk.

Semua orang di kelas situ juga tahu. Mereka hanya membolos di jam pelajaran kedua. Tapi, kenapa Anggerald tampak menganggap itu hal penting? Atau, layak di pikirkan? Bahkan Anggerald saja berekspresi biasa saat mendapat skors sepuluh bari setelah menggebuki tukang cilok yang tidak sengaja menumpahkan saus ke badan mobilnya.

“Paling gara-gara hujan. Dia murung di teras padahal seragam udah rapi, gue peka lah, gue nawarin boncengan.”

“Jangan lagi.”

Dingin, ucapan itu sebeku es batu.

Jangan lagi?

“Oke,” timpal Pandu enteng. Meski itu sahabatnya, tapi ia tidak harus selalu ikut campur, kan?

“Nyokap Gue pergi lagi,”

“Jadi, nanti malam batal?” Joseph mendongak dengan wajah kecewa.

“Jadi, Dodol! Tapi di apartemen Nick aja. Bokap ada di rumah.”

Pandu terkekeh, “lucu juga kalau lo digrebek sama Bokap sendiri.”

“Ini free will, kan?”

Pandu dan Joseph terkekeh puas hingga membuat beberapa adik kelasnya menoleh dari kursi yang agak menjorok ke dalam warung. Tak lama, mereka bertiga melakukan high five, sangat setuju dengan free will ala Anggerald Geraldian.
Diubah oleh iselfiawrds
Gift from You
Part 4



Ada dua anak-anak yang memakai dress lusuh berbahan babyterry di pojokkan toko. Letaknya memang agak menjorok dan paling akhir, lalu ada sebuah bangunan besar di sampingnya sehingga toko itu tampak kecil. Di sana, biasanya ada beberapa pengamen cilik yang cekikikan karena si Pemilik Toko pasti marah-marah saat mereka seenaknya saja meninggalkan kardus bekas tempat tidur mereka.

“Jam berapa?” Dua anak cowok datang, satu yang memegang botol minuman—bertanya.

Bocah dengan iris mata coklat meringis, “ sepuluh, mana belum makan..,”

Mereka duduk melamun sebab salah satu dari mereka—yang tidur pulas dan meringkuk—tengah sakit. Tidak mungkin mereka pulang ke rumah atau memetik gitar sambil menyanyi.

“Kak!”

Cewek yang agak tergesa menyusuri jalan, celingukan. Namun, seperti hafal, ia segera memusatkan matanya kemudian menyipit. Anak-anak tadi berdiri dan mulai memasang wajah penuh harap saat seseorang itu mulai menyeberangi jalan—menuju mereka.

“Kok nggak pulang?” Alisnya berkerut dalam.

Mia cemberut dan sedih, “Icim sakit, Kak. Mana mungkin pulang dan buat Nenek khawatir,” sembari mengarahkan dagu, “kita enggak ada ongkos pulang.”

Maryam menggigit bibirnya. Ia tampak khawatir sehingga tubuhnya bergetar, “Duh, kalian ini.., gimana ya?”
“Ka—kalian harus pulang!” Putusnya final, nyaris berteriak dan sesaat, ia takut Icim terbangun.

Tidak ada sahutan. Mia dan dua cowok yang merupakan tetangga bocah kecil itu ikut saling memandang. Maryam mulai menerawang.
“Pulang. Pakai ini,” tangannya mengulurkan lembaran uang lima puluh ribu. “Soal Icim, biar Kakak yang urus. Icim butuh obat.”

Lagi-lagi, mereka saling pandang. Antara ragu dan takut.

“Kakak janji, nanti sore Icim udah pulang,” Maryam menunduk dan nyaris meneteskan air mata. “Kalau kalian pulangnya nanti, Nenek pasti uring-uringan. Darah tingginya belum sembuh, lho..,” dengan bergetar, ia ingin mengusap pipi Mia. Namun, itu seperti berat. Ia segera menurunkan tangannya—takut menyakiti bocah itu.

Mia menelan ludah, ia sadar, ini adalah kesalahan besar sebab waktu itu, malah mengurungkan niat pulang hanya gara-gara hujan. Andai saja mereka menerjang hujan sesaat, pasti bisa mencapai bus dan setidaknya Icim bisa tiduran di rumah. Semalam bahkan udaranya sangat dingin.
“I—iya, Kak. Feb, Riz, ayo pulang.”

Maryam berdiri dengan susah payah. Ia terlalu payah untuk bisa menjadi kuat di depan orang yang lemah. Sesaat, ia mengintip kantong celananya yang masih menyimpan beberapa lembar dua puluh ribuan. Ia segera mengangkat tubuh Icim yang masih tertidur pulas. Dadanya bergemuruh.
“Icim panas banget..,”

Maryam ingat pertama kali bertemu mereka. Memang, Icim memgenalnya lebih dulu saat ia tidak menumpahkan teriakannya di gang sempit dekat pasar. Nyaris saja kesadarannya hilang setelah urat di kepalanya berkedut dengan hebat.

Bocah kecil datang dan meneriakkan polisi hingga berandalan-berandalan yang mendengarnya lari tunggang-langgang.

Maryam beringsut dan ambruk meski masih sadar dan ia—melihat itu semua. Icim bagaikan malaikat yang Tuhan kirimkan di sore yang nyaris hujan itu. Hari keduanya berada di Jakarta—ia belum terbiasa tapi terpaksa keluar sendirian. Ah, lagi pula, mau dengan siapa?

Maryam sedikit akrab dan mulai menjalin kekerabatan dengan Dian—tetangga depan rumahnya—bahkan setelah dua minggu menetap. Maryam terlalu takut.

“Cim..,”

Bocah itu sedikit mengerutkan dahi namun tidak kunjung membuka mata. Mereka sudah di dalam ruang pemeriksaan dan Dokter yang menangani tampak memerhatikan kontak antara keduanya. “Adiknya?”

“Bukan—
Iya,”

Dokter berwajah tampan tersebut mengulum senyum, “bawa ke sini, tak apa, mungkin dia sangat mengantuk.”

Maryam berlebihan.

Ia hanya khawatir jika sampai anak itu kenapa-kenapa. Seseorang pasti akan menjerit bahkan mengalami kondisi terburuk jika sampai melihat bocah yang baru berusia tujuh tahun itu semenyedihkan ini. Icim pribadi kuat. Bahkan baru ini kali pertama Maryam melihatnya sakit. Tidak ada tawa. Maryam lebih suka melihat mereka menari dan menyanyi diiringi gitar meski harus berkeringat dan kelelahan.

Dari pada diam dengan tubuh panas sepeti sekarang ini.

“Demam tinggi,” Dokter mengernyit heran melihat tubuh Icim, “dia harus dirawat.”

Dirawat?


Tak lama, perawat mulai berdatangan untuk menyiapkan beberapa hal. Salah satu di antara mereka, menginstruksikan untuk meletakkan minyak kayu putih di depan hidung Icim. Ruangan kamar tempat menginap, letaknya di atas. Dan tidak ada lift. Ah, ya, itu cuma klinik yang kebetulan mudah dijangkau oleh Maryam dengan berjalan kaki dari toko pakaian tadi.

Melenguh sesaat, Icim mengucek matanya sebentar, “Aku di mana—loh, Kak Maryam!”

Maryam mengangguk pedih namun tetap mencoba tersenyum, “lo harus dirawat. Lo kehujanan kemarin?” bocah laki-laki itu mengangguk, “lo harus dirawat.” Ulangnya.

“Enggak—“

“Cim,” nada suaranya melembut, “biar Kakak yang bilang sama Nenek nanti. Tenang aja,”

“Pasti mahal kalau harus dirawat..,” Icim menunduk sedih, “lagian, Icim bukan anak berguna, Icim mati malah bagus.”

“Cim! Berhenti bilang gitu!”

“Kak, Icim kan, cuma bisa ngamen. Mereka aja buang gue, kok, itu udah jadi bukti kalau gue ini memang nggak berguna.”

Maryam tahu mereka itu siapa.

Tidak ingin berdebat panjang, Maryam segera memapah bocah itu dengan hati-hati. Pintu ruangan yang dituju sudah terbuka, bau ala pewangi steril di lantai seperti memenuhi ruangan sampai penuh-sesak, hingga tidak ada celah udara segar.

“Sakit?” Tanyanya sambil meringis.

Icim menggeleng dan menurut saat Maryam menyuruhnya rebahan. Tak lama, perawat datang membawakan makan siang. Semua yang melihat bisa menyimpulkan mata berbinar kelaparan itu. Maryam menyadari sesuatu, ia menunduk. “Lo tadi pingsan. Kakak nggak sempat beli makan.”

Icim menggeleng cepat, “Icim nggak lapar, kok.”

Maryam tidak bisa menahan senyumnya, ternyata, bocah itu sangat perasa. “Ya udah, ini dimakan dulu. Terus minum obat.”

Seusai dugaan, Icim melahap makanan itu dengan semangat. Tidak peduli apakah rasanya enak atau hanya terasa asin saja. Setelah menenggak obat, bocah itu terdongak, “Kakak nggak sekolah?”

Mau tidak mau, Maryam jadi mengingat kejadian tadi pagi. Ia menghela nafas lalu menggeleng kecil, “Kakak bangun kesiangan tadi.”

“Lain kali pakai alarm, Kak.”

Sambil mengelus pucuk kepala Icim, Maryam mengangguk lemah. Sesak. Sebenarnya, ia ingin menangis sejak pagi. Ia selalu tidak bisa menjadi orang lain. Menjadi pribadi yang tidak punya rasa takut. Paling tidak, ia ingin bangun dari mimpi yang terlalu indah itu.

Tapi kapan?



***

Wajar jika dalam keadaan sakit, dan setelah mengonsumsi obat, maka kantuk akan mudah menghampiri. Icim tidur, pulas. Padahal, bocah itu sudah tertidur sejak tadi.

Di luar, masih tersisa rintik-rintik. Hujan deras berlangsung sekitar dua jam. Maryam harus menahan kantuknya dan tetap setia bersender sembari memastikan dari kaca jendela bahwa rintik-rintik di luar sana nyaris berhenti. Maryam harus segera pulang dan mengambil ongkos untuk naik bis. Andaikan Rumah Nenek Icim itu dekat, pasti ia pilih naik sepeda.

Sebenarnya, ia harus berdiam di rumah dan menunggu Bams pulang. Pasti pria paruh baya itu panik mendapati anak gadis satu-satunya tidak berada di rumah. Ayah pasti mikir gue masih di sekolah.


Maryam bergegas. Ia memang sudah berpamitan dengan Icim sebelum bocah itu terlelap lagi. Ia masih punya sepuluh ribu untuk naik angkot. Tapi..,

“Lo nggak sekolah?”
Mendapati cewek yang ia ajak bicara hanya diam, cowok dengan seragam olahraga itu mendekat dengan cara berjalan agak terpincang.

Meski belum sadar dengan kondisi yang memerangkapnya, Maryam cukup terkejut saat mengetahui ada yang tidak beres pada kaki orang itu.
“Ger, kaki lo—“

“Ini,” timpalnya datar sambil ikut melirik bagian tumitnya, “biasa, cowok. Lo ngapain?”

“Ee—ah! Apa?!”

Anggerald membuang muka sebab tidak bisa menahan senyumnya lagi. Meski Maryam terlihat kikuk, tetap saja itu tidak berlaku bagi Anggerald yang nyaris tidak punya rasa malu.
“Lo sakit? Ngapain di sini?”

“Oh, itu.., adik gue. Gejala demam berdarah.”

Anggerald tampak mengangguk meski ia tahu ada sebuah kejanggalan. Sebelum cewek di depannya kabur, ia segera berisiatif.

“Kaki lo kan sakit!” Maryam dengan frontal bersikap khawatir.

“Siapa bilang gue mau nganter?”

Lah?


“Lo pakai motor gue, nggak mungkin lo pulang jalan kaki, kan? Uang tinggal sepuluh ribu dapat apa?”

Ha?

Meski tertohok dengan ucapan tersebut, tapi ia sedikit tertarik untuk membahas tawaran cowok itu.
“Gue nggak bis naik motor gede.”

“Gue bawa motor matic,”
Mendadak Anggerald melempar kunci motor pada Maryam. Lalu terpincang-pincang melangkah ke dalam klinik.

Jemarinya meremas benda yang baru ia tangkap. Kakinya belum juga pergi dari sana. Ia masih memandangi punggung Anggerald lalu berganti pada benda yang diberikan cowok itu. Bingung. Lantas ia menghembuskan nafas kasar dan sebuah kesadaran membuatnya terbeliak. Goblok!


“Ger! Gerald!” Pupilnya membesar saat cowok itu berhenti dan menoleh padanya dengan wajah lempeng, “ma—makasih.”

“Sama-sama.”

Diubah oleh iselfiawrds
Story: Gift from You

Story: Gift from You
Diubah oleh iselfiawrds
Diubah oleh iselfiawrds
emoticon-Paw
emoticon-Paw
profile-picture
profile-picture
iselfiawrds dan idsela.poem memberi reputasi
lanjut
profile-picture
profile-picture
iselfiawrds dan idsela.poem memberi reputasi
nais inpoh
profile-picture
profile-picture
iselfiawrds dan idsela.poem memberi reputasi
Quote:

😊
Quote:

Akun kena banned 😭
Doain ya bisa ngrayu momodnya.
Quote:

Info apa Bang?
Orang itu cerita lho ya 😂
profile-picture
iselfiawrds memberi reputasi
Story: Gift from You
Diubah oleh iselfiawrds
Gift from You
Part 5



Setidaknya, Maryam masih punya sosok malaikat dalam hidupnya; menjaganya siang-malam, setiap saat. Dalam keadaan runyam seperti ini, kelebat siluet wanita yang menurutnya sangat cantik—menyapa dari kejauhan. Sebuah tempat yang tidak bisa ia gapai.

“Soal biaya.., ada, kok.”
Ragu, ia hendak mengutuk dirinya sendiri. Lantas, ia berusaha mendongak dan menatap raut keriput di depannya.

“Kalau sudah begini, Nenek memang tidak bisa berbuat banyak. Tapi,” wanita lansia itu menyendokkan lauk ke atas piring, lalu diletakkannya di muka meja, “ah, ya, aku masih punya tanah di dekat makam, akan aku jual.”

“Tidak perlu, Nek.”

“Dengar, kamu sudah cukup membantu,”

Maryam menikmati usapan lembut di punggungnya, dan tatapan lembut yang berpadu dengan sunggingan senyum menawan, itu sangat meneduhkan.

Lagian, seorang Maryam juga tidak bisa berbuat banyak. Nenek Icim tidak bisa ikut, namun telah menitipkan uang hasil meminjam dari tetangga sebelah yang dijanjikan akan diganti setelah tanah tersebut laku. Maryam sendiri, selalu mendapat uang saku pas, Bams rela pontang-panting dengan embel-embel yang mampu membuat dadanya teremas nyeri; hanya agar dapat ijazah SMA. Dan Maryam, sama sekali tidak bermimpi untuk melanjutkan pendidikannya setelah lulus nanti.

Sudah cukup Ayahnya selama ini berjuang. Maryam cukup menurut, dan berusaha tidak membuat ayahnya kecewa.

Icim masih tertidur pulas saat ia datang. Dari lantai paling atas—ia menghadap jendela—menghirup dengan rakus udara luar yang terbebas dari bau obat-obatan. Matanya menyipit, tidak mungkin salah. Motor yang dipinjamnya berkedip berkali-kali. Tanpa pikir panjang, ia segera menuruni tangga dengan tergesa.

Alisnya makin berkerut. Enggak ada maling. Mungkin, dengan mendekat, ia bisa menemukan sebuah kejanggalan. Dan benar, Maryam makin dibuat heran saat mendengar suara orang terkekeh.
Anggerald?


“Nyari apa lo?”

“Eng—enggak,”

“Lo lama banget, gue sampe beranak di sini.”

Plak!


Matanya terpejam. Perasaan takut mulai menghampiri saat Maryam belum merasakan tindakan pembalasan dari cowok itu. Nafasnya seperti terlepas, cowok itu masih diam dan menatapnya dengan ekspresi santai.

“Siniin kuncinya!”

Buru-buru disodorkannya kontak kunci tersebut.

Tidak ada obrolan lagi namun Maryam masih setia mengawasi gerak-gerik Anggerald yang jelas-jelas tampak kewalahan. Kaki sakit kayak gitu, emang bisa nyetir?


“Lo—lo yakin mau pulang sen—sendiri?”

“Hm,”

“Kaki lo! Em, lo bisa nyetir?”

“Yang nyetir tangan, bukan kaki.”

“Iya, sih. Ha? Apaan?”

Anggerald mengejek tingkah konyol tersebut namun tanpa suara. Sambil menahan senyum, cowok itu menatap manik milik Maryam yang masih mengawasinya tanpa henti. “Lo mau nganter gue?”

“Em—“

“Mau nganter gue?”

“Ka—kalau lo maksa..,”

“Gue nggak maksa, soalnya kita bukan muhrim.”

Meski alat transportasi roda dua tersebut sudah menghilang di jalan raya, tubuh Maryam masih kaku dan kemungkinan akan ambruk. Banyak kejadian yang seperti lolos begitu saja. Ini hal langka. Dan lucunya, kenapa tidak berlaku setiap saat?

Maryam selalu takut menghadapi kontak fisik dengan lawan jenis. Ia takut terperangkap oleh sepasang mata di balik topeng. Tangan berotot dan panjang akan mengarah padanya hendak mencengkeram. Tubuhnya akan dikoyak. Jeritan pilu itu akan terdengar mirip cicitan semut. Tidak akan didengar, meski tangisannya pecah ratusan kali. Bahkan meski tubuhnya limbung, tak sadarkan diri.

Kehidupannya telah direnggut. Dan tak akan pernah utuh.

Gift from You
Part 6




Ia mengingat-ingat betapa rusuh paginya hari itu. Bams sudah memperingatkan jika tidak mudah untuk melewati itu semua. Benar saja. Pagi-pagi sekali, ia harus menyetrika seragam dan memasak, padahal, ia tidak pernah memasak olahan sebanyak itu. Bams biasa membuatkan telur ceplok, atau, kalau ia terpaksa turun tangan sendiri, ia hanya membuat oseng sosis dan bakso.

Setelah mengantarkan makanan tersebut ke klinik, baru, ia bisa bernafas lega dan mulai menyetop angkot menuju sekolahnya.

Di parkiran tadi, ia melihat motor matic dengan banyak tempelan sticker di setiap sisi. Motor yang sama seperti kemarin. Tanpa sadar, bibirnya melengkung samar. Ia tidak pernah sedekat itu dengan cowok.

Padahal, seseorang yang ia batin berada tidak jauh. Cowok itu duduk dengan gaya serampangan lengkap dengan raut wajah malas. Di belakangnya, ada Nick yang selalu saja menatap datar siapa pun. Nick adalah salah satu cowok terkasar yang pernah Maryam kenal. Bahkan kepada Reddish yang notabene adalah cewek famous nan cantik pun, cowok itu tetap tidak peduli.

“Nick, maju!”

Lenggang sesaat. Anak-anak seperti menantikan sebuah pertunjukan luar biasa, tentang bagaimana respons cowok yang menggunakan tindik di kuping sebelah kirinya seusai jam sekolah selesai. Untuk saat ini, daun telinga itu tampak bolong tanpa dihiasi apa pun.

Dengan langkah maskulin, ia maju dan mengambil spidol. Entah bagaimana ekspresi seorang Nick Fabrian yang tengah mengerjakan sebuah hal sakral di depan whiteboard. Cowok itu berbalik cepat dan kembali memasukkan tangannya ke saku.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, entah kenapa cowok itu tiba-tiba menatapnya tidak suka. Seperti habis menangkap basah seorang penguntit. Nick memperlebar pupil matanya lalu bibirnya membentuk ucapan apa lo lihat-lihat! namun tanpa mengeluarkan suara.

Sebelas dua belas dengan polah Anggerald.

Cewek mungil yang tidak menolak jika ia dituduh telah memandangnya itu pun, menunduk. Hingga tiba-tiba suara cekikikan seseorang di samping membuatnya memutar kepala. Kenapa?


“Lo suka sama Nick?”

“Ha?”

“Ish, bilang aja kalau suka, Yam. Sekarang, udah enggak zaman nunggu cowok nembak duluan.”

“Redi!”

“Loh, tapi bener, Yam. Cewek nembak cowok duluan itu malah keren! A rare and very proud thing! Lo tinggal bilang, Nick.., gue suka sama lo, gue pengen jadi—mmpphh!”

Alarm alami dalam tubuhnya tengah bergetar hebat, menandakan bahwa seharusnya ia menyeburkan diri ke sungai atau terbang dan bersembunyi di atap sekolah. Suara Reddish, terlampau menggelegar bahkan meloloskan banyak kosakata yang menurut Maryam—sangat tidak pantas. Terlebih, ini jam masuk yang artinya, semua anak lengkap berkumpul di kelas. Ia ingin menulikan telinga untuk beberapa saat.

Seisi kelas menertawakannya.

Dan mata itu. Mati gue!

Nick tidak henti menatapnya.

Huaa!
Gue mau pulang aja!


***

Mereka berjalan dalam kebisuan. Jam masuk sudah bubar sejak sepuluh menit yang lalu. Namun, cicilan tugas untuk jam terakhir belum juga selesai. Hingga mereka memilih menyelesaikan sebelum beranjak ke kantin.

“Tau ah, gue ngambek! Bibir gue sakit!”

Maryam memutar bola matanya dengan jengah. Kenapa jadi gue yang salah?

“Habis, mulut lo ember banget. Bayangin aja, pasti semua orang bakal ngira macam-macam. Udah bagus itu mulut cuma gue bungkem.”

Reddish melirik heran, ia menangkap sesuatu yang sangat langka. Maryam bisa marah juga.
“Hem. Jadi, lo nggak ada perasaan sekali sama Nick? Mumpung Nick lagi jomblo, loh, Yam. Gue yakin kalau lo mau jujur pasti Nick bakal—“

“RREEDDII!”
Diubah oleh iselfiawrds
Spoiler for Gift from You:


About Maryam and the black pieces on her.

Maryam berkulit coklat, wajahnya manis. Tidak suka keramaian, menyendiri adalah pilihan paling final. Ia tidak peduli jika dimusuhi, makin dikucilkan atau tambah tak dikenal. Itu bukan ketakutannya.

Maryam, dia lebih suka menyimpan semuanya sendirian. Setelah ibunya meninggal di saat tidak tepat. Hidupnya tengah kritis. Harapan bahkan masih berupa kecambah. Namun, limbung tubuhnya terus dihantam badai--tanpa henti.

Jika melihat dengan saksama,
Maryam yang sekarang, beda dengan dulu.
Lebih pendiam, namun makin manis. Polahnya susah ditebak. Tidak suka pakai make up, tapi tetap feminim. Tidak suka berbaur dengan lawan jenis. Tidak punya sahabat. Namun cukup dekat dengan Dian dan Reddish. Maryam hanya membuka hatinya untuk ayah dan ibunya.

Maryam pernah memikirkan, apakah sebuah dosa--akan mudah diampuni jika yang bersangkutan saja sukar meminta maaf. Tapi, untuk kasus ini, Maryam berharap orang itu tidak datang, hanya dengan alasan minta maaf. Lebih baik, dunia menyembunyikan hal tersebut. Lebih baik, masa menelan rahasia. Maryam tidak bisa bayangkan jika lukanya kembali terbuka.

Sakit.

Pedih.

Bahkan saat lo tahu jika si penggores luka bukanlah orang yang lo kenal, itu masih sakit.

Ia masih beruntung, maksudnya, mencoba merasa beruntung. Setidaknya, orang terdekatnya tidak andil dalam merusak masa depannya.
Gift from You
Part 7



Setelah semua murid mengganti seragam putih abu-abu, mereka segera menuju lapangan dengan seragam olahraga yang sudah melekat rapi. Namun ternyata tidak dengan Maryam, tangannya masih sibuk membenarkan posisi bros, dijadikannya kaca jendela kelasnya sebagai cermin.

“Jadi cewek itu ribet!”

Maryam berdeham pelan. Buru-buru dipasangnya secara asal benda mengkilap warna silver tersebut. Sudah lumayan. Kalau tidak dikaitkan seperti itu, pasti jilbab cekaknya akan tersingkap saat dipakai lari.

“Sebenarnya nggak ribet, lo aja yang ribet!”

Maryam berdeham lagi. Kali ini, ia akan memfokuskan pandangannya pada gerombolan anak kelas Bahasa yang fokus berbincang di depan kelas. Beberapa, ada yang asyik membaca buku. Kenapa tidak di Perpustakaan saja? Maryam berandai-andai kalau ia menggantikan posisi orang itu, pasti ia tidak bisa fokus membagi antara mendengarkan gosip atau menyerap isi bacaan.

“Udah jelek, ribet!”

Nyaris saja ia terjungkal. Tapi syukurlah, sepatu ketsnya tidak serumit sepatu-sepatu lain yang tebal di bagian alas. Coba kalau ia memakai model sepatu seperti yang dipakai Reddish, keren iya, mahal iya, pantes? enggak, gue bisa pakai? jelas enggak, lah!


“Udah jelek, ribet, hidup lagi!”

Giginya gemeletuk dan jemarinya seperti hendak mencekam sesuatu. Kepalanya menoleh cepat, ditatapnya dengan garang cowok gila itu.
“Mau lo, apa sih, Nick?”

“Mau gue? Em..,”

Keduanya sama-sama menghentikan jalan dan saling berhadapan. Saat itu, Maryam tampak mungil jika dijejerkan dengan Nick yang bak tiang bendera. Cowok yang sudah lancang memasang tindiknya di jam sekolah itu malah menengadah ke atas, seperti tengah berpikir kritis.

Maryam menatap jengah. Ia memutuskan untuk melanjutkan langkah.

“Kata si bule, lo suka sama gue.”

Maryam melirik ke belakang tanpa memutar tubuhnya, entah kenapa laju langkahnya memelan.
“Enggak, Redi cuma asal ngomong.” Jawabnya santai.

Menyadari suasana hati membaik dari cewek itu, Nick berusaha menyejajarkan posisi mereka.
“Beneran?” Tanyanya sambil menunduk.

Maryam mengangguk, “Redi emang suka gitu.”

“Oh.”

Peluit ditiup panjang. Semuanya bernafas lega dan segera menghempaskan diri menuju kantin. Tapi, beberapa memilih merebahkan badan di pinggir lapangan basket. Tidak ada yang istimewa, murid-murid kelas IPA II hanya mengisi jam olahraga mereka dengan berlatih basket dan lari keliling. Tugas yang diberikan sudah cukup banyak, itu pun baru selesai dan mereka kumpulkan secara kompak tadi. Tidak ada yang berani mengambil inisiatif menyelesaikan lebih dulu atau mendahului menyerahkan tugas tersebut kepada Pak Riyad, atau, pulang sekolah tidak akan selamat. Tentu saja pelakunya adalah Anggerald CS.

Maryam malas jika harus mengantre sendirian. Tapi bagaimana pun, ia harus bersikap adil. Beberapa kali, Reddish yang terlibat antrean dan Maryam justru duduk manis di kelas. Memang, bukan kemauannya. Selain kerap meninggalkan roti untuknya, Reddish juga perhatian, tanpa diminta akan membawakan jajanan untuknya.

Kali ini, masih bagus, Reddish mau menemaninya dan sekarang tengah duduk di meja makan.

Telinganya menangkap sesuatu. Suara cowok yang tengah beradu mulut. Matanya melebar, ia segera menyegerakan langkah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Lo sendiri yang bilang Maryam suka sama gue!”

“Elah, gue bercanda! Lo gampang baper ih!”

Baper lo bilang! baik!”

Tubuh yang belum sampai bahkan meletakkan dua mangkuk bakso ke atas meja, mendadak kaku dan bergetar hebat. Reddish menoleh dan membelalakkan mata saat seseorang di depannya nyaris limbung. Untung saja, ia berhasil menyelamatkan dua mangkok bakso yang nyaris mubazir tersebut.

“Teman lo pingsan woy! Bakso diurusin!”

Tertampar dengan teriakan tersebut, Reddish segera menghampiri Maryam yang tergeletak, namun. Ia harus menahan nafas saat seseorang membawa tubuh sahabatnya yang diangkat bagaikan bayi.

Kejadian itu tidak membuat kepadatan kantin menjadi bubar. Beberapa, hanya menengok lalu kembali mengunyah makanan mereka. Beberapa lagi, ada yang syock dan membayangkan jika kuah bakso panas tadi benar-benar tumpah dan mengguyur Maryam. Dan sisanya, mungkin hanya dua-tiga orang, malah asyik memfoto momen di mana Anggerald menggendong Maryam.

What?


Reddish mondar-mandir di samping ranjang. Berbagai cara telah ia coba. Mulai dari mengolesi dada, leher bahkan perut cewek itu pakai minyak kayu putih. Ah, ya, ia seperti mendapat wangsit. Segera dituangkannya minyak beraroma segar itu ke tangannya—lalu diarahkan ke lubang hidung Maryam.

Berhasil.

Maryam menggerakkan hidungnya lalu matanya mulai terbuka pelan-pelan.

Bu Lisa mengetuk pintu dan membuat cewek berambut blonde di dalam ruangan tersebut segera menundukkan kepala. Guru sekaligus wali kelas tersebut tampak mengerutkan wajah cemas. Rupanya, berita semacam ini cepat merambat hingga telinga para guru.

Maryam duduk dan masih malu-malu untuk menatap seseorang di depannya. Tiba-tiba saja nyalinya hilang bahkan demi sekadar mengucapkan terima kasih. Ia sendiri tahu bukan Reddish yang menggendongnya ke UKS. Tapi, cewek itu telah meluangkan banyak waktu untuk menanaminya sampai siuman.

Maryam terharu.

Sungguh, ia tidak punya kawan dekat. Untuk menyebut Reddish sebagai sahabat pun, terasa tidak pantas. Terlalu lama, luka memenjarakannya. Merasa diri paling kecil di antara banyak gunung es. Atau, merasa paling batu dari luasnya air mengalir.

“Lo—lo nggak apa-apa?”

Kata-kata itu.., ia nyaris mendengarnya tiap hari. Bahkan meski ia tidak menderita sakit. Keadaannya selalu dipastikan, dan itu membuatnya merasa sangat berharga. Hanya pada satu sosok tersebut, Maryam mulai belajar berharap. Belajar melangkah setelah terlahir bagaikan bayi. Belajar mengurai kenangan pahit di hari kemarin. Benar, Maryam seperti baru merangkak dan hendak belajar menggapai sesuatu, mungkin, sebuah alat tulis yang kelak akan melukiskan indah masa depannya.

Dan sebelum tangan kecilnya berhasil menggapai, sosok itu, malah meninggalkannya.

“Are you okay?”


“Huh?
Ya,”

Reddish segera meraih gelas berisi teh, “Pak Akin yang buatin. Diminum, Yam.”

“Makasih, Red. Gue cuma kecapekan aja.”

“Yam, kita nggak lagi main sinetron. Alasan lo itu, terlalu outmoded!”

Melihat cewek di depannya tertawa hambar, membuat Maryam menggaruk pucuk kepalanya.
“Tapi bener, gue harus bolak-balik ke klinik.”

“Emang, siapa yang sakit?”

“Enggak,
Enggak ada.”

Reddish sadar jika hubungan mereka memiliki sekat. Maryam bukanlah pribadi yang mudah bergaul apalagi terbuka. Cewek itu memang baik, tapi.., bertindak baik bukan berarti nyaman, kan?

profile-picture
lumut66 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post iselfiawrds
dilanjut yya semngat
profile-picture
iselfiawrds memberi reputasi
Quote:

Uh she Up 😋
Gift from You
Part 8


Story: Gift from You

“Di, maaf gue ngrepotin lo.”

“Sans aja kek di pantai, gue juga nggak ada kerjaan.”

“Bener, Di?”

“Iya! Tapi, gue boleh minjem novel lo, kan?”

“Boleh. Bawa aja ke rumah,”

“YEAY! Thanks, Yam!”

“Gue yang harusnya terima kasih,”

Lima menit berlalu dan Maryam masih bertopang dagu. Ponsel yang baru saja terhubung dengan seseorang di seberang, tergeletak di atas meja dengan cahaya yang beberapa kali berkedip.

“Cuma alarm,”

Tahu jika dirinya telah tertangkap basah, Reddish segera membenarkan posisi duduknya, “lo punya pacar?” ia sudah menduga respons itu, “nggak mau nyari?”

“Gue nggak sempet mikirin itu,”

“Em, terus.., itu tadi siapa?” Reddish segera merancang ulang pertanyaannya saat melihat raut kebingungan Maryam, “yang nelfon lo barusan.”

“Namanya Dian, cewek kok.”

Untuk hal itu, Reddish memang sedikit kaget. Ternyata, Maryam juga punya orang dekat selain dirinya. Selama ini, Maryam selalu menghindari sebuah relasi. Termasuk kemajuan pesat meski terjadi di tahun terakhir masa SMA mereka, cewek itu sudah mau pergi ke kantin dan tidak melulu di kelas atau Perpustakaan.

“Gimana rasanya digendong cogan?”

Maryam melirik, “biasa aja, gue tetep seneng ada yang nolongin, tapi..,”

“Tapi?”

“Kenapa harus dia coba!”

“Lo maunya siapa? Nick?”

Maryam tersentak mendengar mulut Reddish yang akhir-akhir ini kerap menyangkut-pautkan segalanya dengan Nick. “Bicaranya hati-hati, gue lagi yang kena entar.”

Reddish mengangguk setuju. Ngomong-ngomong, cewek bule yang dikenal modis itu—jarang nongkrong dengan gengnya, ayahnya sendiri yang melarang sebab nilai-naiknya akhir-akhir ini turun secara signifikan. Lagian, nyaman juga duduk anteng di kelas—ungkapnya saat membandingkan suasana kantin atau taman bersama Area dan Nesti anak IPS.

Not bad,” gumamnya.
Tangannya tengah mengangkat buku ukuran majalah. Bibirnya melengkung manis lalu ditatapnya cewek di sampingnya, “gue harap kita bisa satu edisi terus, Yam.”

Maryam ikut tersenyum, ia sedikit membayangkan tentang pembayaran SPP yang agak ringan. “Tapi nggak mungkin, ini cuma kebetulan. Besar kemungkinan karya gue ditolak setelah Girl Magazine sukses.”

“Jangan pesimis!” Tukasnya sinis, “skill lo pastinya makin oke.”

Gue bakalan bilang gitu andai bisa sekolah lagi.

“Lo tahu, bahkan anak Bahasa banyak yang ditolak naskahnya. Itu tandanya, inborn skills are more promising!” Tegasnya.

Maryam menatap lawan bicaranya cukup lama. Meski tidak mengangguk tanda setuju, logikanya juga tidak menolak. Kemudian, pandangannya mengawang cukup jauh. Posisinya tengah bersender di tembok. Keadaan kelas masih tertib sepeninggal guru tadi. Tak sengaja, saat matanya turun malah berserobok dengan netra abu-abu milik cowok yang tengah mengunyah permen karet.

Alih-alih ingin menghindar, ia malah bertemu netra hitam pekat milik Anggerald.

Ada yang salah sama gue?


“GUYS!”
Semua murid seakan terjaga dari kelengahan, bahkan ada yang sampai meletakkan ponselnya, contohnya, Pandu.

Selaku ketua OSIS tersebut langsung mengedarkan pandangannya, tidak berniat memusatkan pada salah satu. Dadanya mengembung seakan mencari celah udara banyak-banyak.
“Adik kelas kita, baru aja berpulang ke Rahmatullah.” Sontak, semua murid saling toleh, orang itu meneguk salivanya kuat-kuat, “di—dia diperkosa rame-rame!” sambil gemetar, ia bersiap berucap lagi, “empat orang!”

What?”

“Gila woy! Ngeri banget!”
“Gue udah tahu berita ini, tapi nggak nyangka si Ria sampe mati.”
“Denger-denger, dua pelakunya dari SMA Kencana.”
“Pantesnya dihukum gantung tuh!”
“Kebiri aja!”

“Dasar Predator Seks!”

Semua perhatian tertuju pada cowok yang kini tengah berdiri tegap—Joseph, entah kenapa emosinya tersulut dan kini dengan kencang mencengkeram kemeja ketua OSIS, “siapa nama pelakunya? Biar gue jeblosin ke penjara seumur hidup!”

Ah, ya, cowok Kristian itu memang punya masa lalu pahit. Kakak perempuannya berakhir depresi lalu bunuh diri setelah diterpa kejadian serupa. Joseph memang terkenal nakal dan urakan, bahkan sering bolos. Tapi, tidak ada catatan sejarah yang menuliskannya sebagai playboy.

Maryam mengerutkan matanya, dalam. Saat kondisi seperti ini, wajah Nick dan Anggerald malah pucat pasi. Keduanya segera menuju pintu, entah ke mana. Empat sekawan itu memang seperti terikat, ke mana pun bersama dan saling peka. Mungkin sebab itulah, ketenangan yang dilihat dari kunyahan permen karet dan hisapan rokok tidak lagi menguasai keduanya.

“Gue pastiin mereka celaka!” Desis Joseph tajam.

***

Setelah mendengus, Maryam sedikit mendiamkan Reddish yang ngotot mengantarkannya sampai ke klinik, bahkan menyerobot ikut masuk ke dalam. Sesuai dugaan, Icim boleh pulang dan alangkah mengejutkan bocah itu—semua barang-barangnya telah tertata rapi, tinggal memasukkan ke tas yang baru dibawakan Maryam.

Icim menahan senyumnya saat melihat Maryam tidak datang sendirian. Ada temannya yang menenteng buah dan ternyata sangat cantik menurut Icim. Tentunya, berniat kenalan.

“Udah baikan?”

Icim mengangguk. Ia sedikit canggung jika harus bertanya balik pada cewek bule di sampingnya, “Kak, Icim udah makan. Langsung pulang aja, ya.”

Maryam mendekat lalu tangannya terulur mengelus pucuk kepala Icim.
“Mau langsung pulang ke rumah, apa nginap di rumah Kakak dulu?”

“Ke rumah aja, Icim kangen sama Nenek.”

Maryam tersenyum lebar, “oke.”

Lagi-lagi, Reddish bersikukuh untuk mengantarkan mereka menggunakan roda empat miliknya. Maryam membatin senang sebab ia bisa menghemat biaya angkot, namun juga tidak enak jika terus merepotkan orang lain.

“Pelakunya udah ditangkap.”

Membisu. Maryam memilih membuang wajahnya ke luar jendela.

“Gue seneng, mereka harus dapat balasan setimpal.”

Pikirannya mulai melayang, belum jauh. Pemandangan di luar cukup mengejutkannya, sangat indah dan semilir angin mampu menerbangkan bulu-bulu halus di wajahnya.

“Kenapa Ria harus bunuh diri, kasihan, masih juga kelas sepuluh.”

Maryam menoleh, “hem. Harusnya dia kuat, begitu?”

Mulut Reddish seperti terkunci, tidak menyangka Maryam akan merespons demikian. Nada penekanan yang tidak biasa, kenapa Maryam harus emosi?

“Gue tahu rasanya.., sakit.”

Sesaat, mereka merangkai kalimat apa lagi yang lebih pantas untuk diutarakan. Reddish menyadari sesuatu. Ia makin mengenal Maryam setelah beberapa Minggu menjalin hubungan yang lebih dekat. Benar, ada sesuatu yang mendalangi semua ini. Hanya saja, ia belum bisa memastikan.

“Yam.., gue nggak kenal lo as well. Tapi, gue yakin, lo cewek baik.”
Diubah oleh iselfiawrds


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di