CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e1d506c5cf6c4477f02e360/diary-ptsd

Diary PTSD

Sebelum menulis ini, aku berfikir keras, untuk bercerita di sini atau tidak. 
Kisahku memang tidak semenarik kehidupan kalian mungkin,. Tapi pada akhirnya, kuputuskan untuk membagi kisah ini kepada kalian,.

Diary PTSD,

Bag. 1

                Mungkin masih rada asing di kalangan umum mendengar kata PTSD. Yups PTSD sendiri tidak semenarik Skizofrenia atau gangguan mental lainnya. Tapi PTSD tetap sebuah gangguan yang tidak seharusnya diremehkan.

PTSD sendiri adalah kepanjangan dari Post Traumatic Stress Disorder, Singkatnya, PTSD adalah gangguan stress pasca trauma.

                Lalu …?, ada apa dengan PTSD.

Banyak dari kita yang sebenarnya mengalami Trauma tapi membiarkan hal itu seolah itu tidak penting dan pasti akan berlalu.

“Luka ku akan sembuh seiring berjalannya waktu.”

Ups.., benarkah kalimat itu..?, Mungkin benar jika di tempatkan pada tempat yang tepat. Aku setuju jika luka akan sembuh seiring dengan waktu, tapi juga seiring dengan proses pengobatan. Apa yang terjadi jika Luka terbuka itu dibiarkan begitu saja sepanjang waktu, berharap dia kan sembuh dengan sendirinya.

Bukan sembuh, tapi infeksi yang kita dapat.

Luka itu akan menjadi lebih buruk dari sebelumnya, dan begitulah trauma. Trauma yang kau pendam, dengan berharap waktu akan merubah segalanya, waktu akan memperbaiki semuanya, waktu akan membuat semuanya lebih baik. Selama ini kita mengtakan bahwa Waktu adalah Obat itu sendiri. Padahal hakikatnya, waktu bukanlah obat, tapi kesempatan. Waktu itu hanya memberi kita kesempatan untuk membuat pilihan.., “Mengobati atau membiarkan”. Pilihan sembuh atau tidaknya, semua ada pada individu masing-masing.

Aku PTSD, traumaku..,

Aku trauma dalam hubungan Asmara. Upsss Buchin..!!!

Tidak..!!, bukan yang seperti itu, aku trauma dengan pernikahan, padahal aku sendiri belum menikah dan berfikir untuk tidak menikah. Lantas dari mana..?, dari mana trauma ini berasal.

Awalnya, akupun tidak menyangka bahwa aku menjadi trauma akan hal sepale itu.

*Masa SMP*

                PTSD sendiri tidak bisa langsung terdeteksi. Kebanyakan penderitanya, baru menyadari setelah berbulan bahkan bertahun-tahun pasca kejadian trauma itu. Dan itulah PTSD.

Seperti aku. Aku bahkan tidak sadar bahwa selama ini aku takut, aku benci dan tidak terima. Apa itu..?, perceraian kedua orang tua ku. Sebenarnya, banyak moment mengerikan yang terjadi dalam hidupku, terlalu panjang jika ingin di urai satu persatu. Tapi yang paling mankutkan adalah bagian ini.

Perceraian kedua orang tuaku. Mereka resmi bercerai saat aku masih duduk di bangku SD. Tepat kelas 6 sd. Kala itu, aku telah memiliki dua orang adik. Si kecil , baru satu tahun lebih kala itu. Tapi dia sudah harus berpisah dengan ibu, karena ibu harus merantau menjadi TKI di negeri orang. Tidak bisa dipungkiri bahwa ekonomi kami menjadi salah satu factor yang menyebabkan ibu merantau. Tapi hal utamanya adalah peceraian itu sendiri. Ibu sudah muak dengan Ayah, dan rumah tangganya yang tidak ada perkembangan dan hanya menambah luka di hati ibu yang memang sudah hancur.

                Apa yang terjadi pada kami..?, aku dan adik-adikku..?, Aku dan adik pertama ku, akhirnya tinggal dengan nene dari ibu. Sedangkan adik bungsu ku, dia tinggal dengan Nene dari ayah. Dan dari situlah perang dingin kedua keluarga ini bermula.

                Aku selalu mengatakan bahwa “Aku baik-baik saja..” aku selalu tersenyum dan tidak tau caranya menangis, bahkan ketika lutut ku sobek karena berenang di kolah yang tegel nya pecah, aku tidak menangis, hanya panic saja.., aku belum pernah melihat darah sebanyak itu sebelumnya.  Yah.., aku terlampau kuat dari luarnya. Tapi aku tidak pernah sadar bahwa aku ternyata meyimpan luka begitu dalam.

                Banyak hal yang terjadi selama ibu pergi, aku yang memang menjadi anak buangan di kelas, kini menjadi pusat bullying di sekolah. Dan moment paling menyakitkan dalam hidupku, adalah ketika si bungsu, ternyata menganggap ibunya sudah meninggal.

Itu adalah ajaran yang dia terima dari keluarga ayah kala itu. Aku sangat kaget, saat mendengar itu dari mulut adikku sendiri. Ketika ditanya “Dimana ibu..?” dia akan menjawab “Mati”., atau “Tidak ada”. Apa ini..??!!!,  hal itu membuatku sangat kecewa, tapi kala itu, aku masih terlampau bocah untuk mengungkap kecewa itu.

                Bak drama-drama dalam sinetron yang terlalu banyak adegan kejahatan didalamnya, aku pernah mendapati neneku, (Nene dari Ayah) sedang menelfon di dapur, dengan terbata-bata, dia menelfon anak ke 4 nya, yaitu adik ayah, untuk apa..?, untuk datang dan membawa adik bungsuku,. Dia takut aku akan membawa si bungsu pergi. Aku kaka nya..?, kenapa tidak boleh..?

Ada yang lebih parah dari itu.

Ketika bulan puasa, sehabis sahur.,, setelah berbulan-bulan lamanya, aku tidak melihat adikku yang bungsu, dan kala itu, kami belum mengenal Handphone sebagai alat komunikasi. Bayangkan beratnya menahan rindu..,  yah.., kala itu, aku datang dengan niat berkunjung sembari melepas rindu tentunya.

Bukan hanya kepada si bungsu, tapi juga dengan kakek dan nene, tapi kembali, mereka ingin memisahkan aku dan adikku.

Saat habis sahur, aku dan kedua adkku tengah asik bermain, lalu adik ayah bertanya, “Kamu kalau habis sahur gak tidur gitu..?” aku sama seklai tidak bisa membaca maksud dari pertanyaan itu. Aku hanya menjawab dengan polosnya.,, bahwa aku masih ingin bermain dengan adikku. Tapi dia memaksa kami untuk tidur,.. dengan alasan, besok kami masih bisa bermain lagi ketika pagi menjelang. Masuk akal memang, tapi siapa yang sangka, ternyata mereka punya niat busuk dibalik itu.

Saat aku terbangun dari tidurku, si bungsu sudah tidak ada. DIa menghilang, padahal jelas,.. dia tidur di tengah. Diantara aku selalu kakak pertamanya, dan juga diantara kaka keduanya. Tapi dia hilang. Ku cari di semua sisi rumah, bahkan sampai ke dapur, dan toilet, karena memang si bungsu sangat suka tidur di tempat yang dingin. Tapi dia tidak ada. Ternyata sibungsu telah di bawa kabur oleh tanteku sendiri.

Dan itu adalah terakhir kali aku melihat adikku, sampai akhirnya ibu pulang dari rantau dan mengambil si bungsu kembali.

                Apa itu menjadi trauma..?, yups..?, Hubungan macam apa ini..?, Keluarga macam apa yang ingin anak-anaknya berpencar..?, orang tua mana yan ingin anak-anaknya tidak saling mengenal..?, Dari situ, aku mulai membenci Pernikahan. Aku takut jatuh cinta.

Dan it uterus tumbuh sampai aku duduk di kelas 3 SMP, setiap malam, aku memimpikan hal yang sama. Bertahun-tahun, mimpi itu menghantui. Ap itu..?

Aku mimpi, aku membunuh orang. Tidak perduli laki-laki atau perempuan. Dimanapun, ketika aku melihat seseorang aku akan langsung membununya, tidak secara instan. Aku menggunakan senjata yang dapat menyiksanya secara perlahan lalu mati. Pisau misalnya.. atau dengan tangan kosong.., aku senang menikam orang itu berulang kali, atau melihatnya kehabisan nafas selama ku cekik lalu mati perlahan. Aku merasakan adrenalin yang benar-benar berbeda dalam mimpiku.

                Awalnya aku ketakutan, setiap kali bangun dari tidur, tubuhku basah, keringan sangat banyak dan tanganku gemetar. Terkadang aku menangis sambil menutup wajahku dan membayangkan mimpi itu. Tapi anehnya, seiring dengan waktu…, aku semakin menikmati mimpi itu, aku bahkan menginginkan mimpi itu, lagi-dan lagi.. tapi tetap, ketika terbangun, tubuhku keringan dan bergetar hebat. Hal itu terus berulang selama masa Smp dan SMK.

                Apa yang aku fikirkan..?,

Aku fikir.., aku akan menjadi seorang Psikopat.Aku panic, takut, bagaimana jika mimpi itu aku lakukan di dunia nyata, dan hal itu pula yang membuatku semakin menjauh dari dunia. Aku memilih mendekatkan diri dengan apa yang tidak nyata. Aku menjauhkan diriku dari social, aku takut menyakiti orang lain,.

                Itu adalah diagnosisku sebagai orang awam. Aku PSIKOPAT. Tapi anehnya, aku sangat sensitive, aku mudah kasihan dan sedih atas luka orang lain. Dan itu sangat jauh dari karakter psikopat itu sendiri.

Lalu..?, ada apa denganku..?,

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 2 lainnya memberi reputasi
Coba kenal gw
Lihat 1 balasan
Balasan post kucingkampung97
beuh.., kalau kenal kaka emnganya knpa..?
Quote:


Hilang tuh ptsd nya
Lihat 1 balasan
Balasan post kucingkampung97
Aiijjiiaahh..,
Hontoni..?
profile-picture
dbaa6pointy memberi reputasi
Quote:


Omong apaan dah gajelas
penasaran aja.
itu kamu klaim ptsd apa diagnosis tenaga ahli ato self proclaim ?
Quote:


Hisashiburi dane
profile-picture
dbaa6pointy memberi reputasi
emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak


Tidur aja yang cukup jangan kebanyakan begadang..

Dan banyakin piknik minimal sebulan dua kali...
coba aj bljar sdut pandang dr org lain. gua yakin. jika ente tnya tmen² ente. tetangga² ente. bhkan semua org pun onya sdut pndang yg lain. jdkanlah bahan pemikiran. pasti ad prbhan nntinya...
Kalau yg pernah saya baca, psikopat masih bisa bersimpati sebenarnya tapi mereka memilih mengabaikan perasaannya dan berbuat sekehendak hatinya. Ini tipe pasien yg (katanya)bakal dihindari sama psikiater. Soalnya mereka juga nggak mau berurusan sama psikopat.

BTW, terima kasih buat ceritanya. Nggak Ada keluarga yg sempurna.
trlalu banyak luka ya. coba konsultasikan ke psikiater mungkin bisa dihipnoterapi
Quote:


Wooaaa....
Tomodachi😍
hmmmmmm


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di