CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Atas Suratan-Mu | Cerpen | Agis Aeni
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e1d1c53c342bb5a8c000dd3/atas-suratan-mu--cerpen--agis-aeni

Atas Suratan-Mu | Cerpen | Agis Aeni

Atas Suratan-Mu

Karya: Agis Aeni

Cerpen

Hati ku gelisah, sangat resah menghadapi hal yang akan aku jalani beberapa menit yang akan datang berikutnya rasanya sungguh gugup melakukkan ini. Ini memang bukan yang pertama kalinya tapi skala yang akan ku jalani nanti jauh lebih luas dari sebelumnya. Helaan nafas gusar terus keluar tanpa bisa ku cegah,keringat dingin terus mengucur di pelipis dan dahi ku. Aku pun terus mengusapnya dengan punggung tangan ku, namun lagi - lagi keringat itu keluar tanpa bisa dicegah. Aku terus menggerakan kaki ku tak nyaman dan beberapa bangkit hanya untuk mondar – mandir tak jelas kemudian duduk kembali.
Setelah beberapa saat aku merasakan ada yang menepuk pundak ku, sontak saja aku menoleh dan menemukan ibu ku orang yang paling disayang sedang memandang penuh ketenangan ke arah ku. Ia mengambil posisi duduk disamping ku sesekali mengusap jemari ku yang ada digenggamannya dengan penuh kelembutannya aku bisa merasakan itu.
“ Tenang Teh, Teteh pasti bisa” ucap ibu ku dengan seulas senyum yang menyejukan.

Aku pun membals senyuman itu. “ Teteh cukup berusaha sebisa mungkin, tunjukin ke mererka bahwa Teteh bisa terlepas dari menang atau tidak yang terpenting Teteh udah ikhtiar” lanjutnya lagi.

“ Tapi Mah, kalau aku gak menang gimana aku pasti ngecewain semua orang yang udah dukung aku sampai saaat ini?” tanya ku ragu sejujurnya itu yang menggangu pikiran ku akhir – akhir ini.

Ibu ku tersenyum kembali seraya berkata “ Teh kamu pasti bisa, soal menang kalah itu udah biasa kalau pun kalah itu mungkin bukan rezekinya jadiin pelajaran buat kedepanya tapi kalau pun menang juga anggap aja bonus dari usaha kamu selama ini” nasihat dari ibu ku ini lah paling ku suka, selalu meyakinkan disaat aku sendiri tidak percaya diri.
Aku pun memeluknya seraya menggumamakan kata terima kasih karena selalu mendukung diriku. Urutan untuk aku tampil ternyata masih agak lama, sekitar tiga puluh menit lagi aku akan naik panggung itu. Panggung yang penuh rasa mendebarkan saat berada disana, oh ayolah aku sudah tidak sabar untuk ada disana setelah mendengar petuah dari ibu ku, rasanya semangat menjalari jiwa dan raga ku saat ini.
Aku jadi ingat pertama kali aku di masukkan ke pesantren, lalu kepingan ingatan itu berputar begitu saja saja dipikiran ku.kejadian dua tahun lalu itu berputar dipikiran ku

“ Tapi mah aku gak mau sekolah kesana” ucap seorang gadis dengan tangan yang ia lipat didepan dadanya dengan raut wajah yang menunjukkan ketidak sukaannya terhadap apa yang baru saja ibunya katakan. Bagaiman tidak mengejutkan dirinya saat ia diberi tahu akan dipesantren. Sungguh bersekolah disana tidak pernah ada didalam list hidupnya.
“ Teh dengan kamu sekolah disana kamu bisa dapat banayk ilmu agama, Mamah sama Papah juga tenang karena kamu bisa dapet ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat” ujar sang ibu untuk meyakinkan lagi putrinya itu.
“ Pah, aku gak mau”rengeknya kepada sang Papah yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka.
“ Sebaiknya kamu nurut saja toh semua juga demi kebaikkan kamu” ujar Papahnya.
“ Tapi Pah, aku mana ngerti pelajran pesantren lagian yah Pah pelajaran pesantren itu banyak banget emang Papah mau anaknya gila gegara mata pelajaran yang banyak itu” ucap gadis itu dengan serius, ayahnya justru terkekeh mendendar perkataan yang dilontarkan putrinya itu.
“ Kamu itu ada ada aja, mana ada orang gila gara – gara pelajaran pesantren ngaco kamu. Lagain kamu mana tahu kamu bakal gila apa enggak kan kamu belum ngelakuinnya” ucap sang ayah.
“ Tuh pah, aku kan belum nyobain gimana tinggal di pesantren mending gak usah aja dari pada aku gila nantinya kan berabe, terus aku tuh gak pinter – pinter amat kalo dikasih pelajaran yang segitu banyak nanti otak aku blank” sahut gadis itu dengan cepat menyeruakkan pendapatnya.
Pletak..
Jitakan mendarat dikeningnya, ibunya melakukan hal itu lantaran gemas sekali dengan anaknya ini banyak sekali alasan yang keluar dari mulutnya, bagaimana tidak gemas ia sangat tahu anaknya ini cerdas waktu kelulusan kemarin pun ia mendapat nilai terbaik. Dan dari sejak SD pun ia selalu mendapat peringkat ke satu dan juga sering mengikuti bergai macam lomba. Minta digampar bolak – balik emang ini anak lantaran tidak bersyukur atas kemampuan otaknya dengan berkata demikian, untung saja ia sayang jadi hanya jitakkan dari jarinnya lah yang mendarat mulus dikening gadis itu. Gadis itupun menggosok kening bekas jitakan mamahnya itu.
“ Apapun pendapat kamu, Mamah sama Papah tetep akan masukin kamu ke pesantren dengan atau tidaj persetujuan kamu” ucap sang Papah pada akhirnya, gadis itu pun menghela nafas kasar, kecewa dengan keputusan sang Papah. Bukannya tidak ingin menuruti perintah orang tuanya, tapi yang ada dipikiranya saat itu adalah disaat ia ingin masuk ke SMA favorit di kotanya ia justru disuruh menimba ilmu disana, ayolah ia tidak ingin tertinggal. Kesempatan untuk menjadi lulusan terbaik dan mendapat beasiswa untuk masuk universitas di luar negri itupun pupus.
Tanpa sepatah katapun ia beranjak dari duduknya pergi kekamarnya, setidaknya gadis itu ingin menyendiri dulu untuk menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya.
Selamat datang hidup tanpa kebebasan dan penuh aturan yang siap membuat ku menderit batinnya berkata demikian.
Hari yang tidak diinginkan gadis itupun tiba dimana iamasuk ke pesantren yang ada di kotanya ini. Saat orang tuanya pamit untuk pulang ia tak menatap atau mengantarkan dengan isakan tangis kepulangan orang tuanya. Bahkan ia tak mengatar orang tuanya sampai gerbang seperti yang santri lain lakukan, ia masih saja kecewa dengan keputusan ini dan memilih diam di kamar yang akan ia tempati untuk tiga tahun kedepan.
Dua bulan pertama sugguh sangat menyiksanya, ia dipusingkan dengan banyak hafalan yang harus ia hafal, banyak pula mata pelajaran yang belum pernah ia pelajari sebelumnya yang membuat dirinya kewalahan dalam mengerjakan latihan – latihan yang diberikan padanya. Lalu ia direpotkan dengan urusan pribadi seperti mencuci pakaian, membersihkan kamar dan membersihkan halaman yang setiap hari sudah dijadwal dan ia mendapat giliran di minggu ke lima.
Di rumahnya biasanya ia tak disibukkan dengan hal demikian, ia hanya perlu ke sekolah dan rajin belajar. Karena hal seperti itu dilakukkan oleh ibu dan pembantu di rumahnya. Melelahkan itu lah yang ia rasakan.
Di tahun pertama ini ia mendapat nilai yang rendah, hampir semua mata pelajaran pesantrennya dibawah rata – rata ini bukan dirinya sekali. Kemana nilai sembilan puluh yang selalu terpampang dirapotnya,
Masuk di tahun ke dua semester pertama, ia jengah dengan semua ini. Ingin sekali ia keluar dan meraih apa yang ia cita-citakan. Namun pada suatu hari gadis itu mendapat berita buruk, dimana ibunya jatuh sakit. Pikirannya kalang kabut, meskipun ia kecewa pada ibunya tetap saja ia masih menyayangi wanita yang sudah melahirkanya itu. Begitu sampai di rumah sakit dimana ibunya dirawat, ia pun bingung harus melakukan apa, ibunya terbaring lemah tak berdaya dengan begitu banyak alat yang begitu banyak menempel ditubuh ringkih ibunya.
Mau mendo’akan pun ia tak bisa sebab ia tak hafal betul apa doa untuk orang yang sakit pasalnya ia selalu tidak serius memperhatikan guru yang sedang menerangkan didepan kelasnya. Ia tak tertarik pikirnya saat itu, dan karena itu pula ia sering mengantuk lalu tertidur dikelas yang menyebabkan hukuman membersihkan semua kamar mandi yang ada di asrma putri selalu didapatkanya. Sungguh menyesal, andai ia tak melakukan hal bodoh itu mungkin ia bisa membantu ibunya yang sedang berjuang bertahan dari hidupnya. Setidaknya doa ia bisa panjatkan,dan disaat seperti inilah ia merasa tidak berguna.
Tujuh hari ibunya berbaring dibangkar ruamh sakit, selama itu pula ia dan sang ayah menemani ibunya. Ia juga sadar akan pilihan ibunya untuk memasukkannya ke pesantren itu adalah hal terbaik, setidaknya ia bisa membantu disaat-saat seperti ini. Ia juga nampak selalu melantunkan ayat suci al-qur’an meski belum mahir ia tetap mencobanya, ia juga membaca kembali apa yang sudah diajarkan oleh guru-gurunya di pesantren. Ia sengaja menyempatkan diri membawa beberapa buku untuk ia pelajari selama ia menunggu ibunya sadar dari komanya. Tak lupa juga gadis itu selalu menyempatkan mendo’akan kesehatan kedua orang tuanya terutama ibunya itu selepas sholat.
Saat ibunya dinyatakan pulih dari sakitnya, ia kembali ke pesntren untuk menuntut ilmu. Ia mulai menikmati perannya sebagai santri, jika diresapi lagi ia juga sadar dengan rutinitasnya ia mersakan lelah yang ibu dan pembantunya rasakan.
Setidaknya itulah ingatan ku tentang awal aku bisa disini, mengikuti lomba ini tidak laindan tidak bukan untuk membanggakan kedua orang tua ku. Aku tak ingin semua pengorbanan yang orang tua ku lakukan terbuanng sia – sia.
Tak terasa tiga menit lagi akau akan tampil di lomba MILENIAL PUBLIC SPEAKING, dan berkat kemampuan ku berbahasa inggris yang sudah ku kuasai sejak SD dab pasih saat Smp. Pihak pesantren mengutus ku untuk mengikuti lomba ini, aku pun yang ditawari kesempatan waktu itu langsung menerimanya dengan senang hati. Setidaknya lewat lomba ini aku membuktikan hasil dari pembelajrankau selama setahun terakhir ini. Aku mulai disibukkan dengan berbagai materi yang akan ku sampaikan, memmang cukup beraty tema yang diberikan ialah Islam Reiligion Of Peace. Yang sangat rawan penyampainya, tapi aku bertekad untuk tidak mengecewakan orang-oarang yang sudah percaya pada kemapuan ku.
Ketika aku dipanggil untuk tampil, aku sedikit gugup mengingat peserta sebelumnya cukup bagus, sebelum berbicara diatas panggung aku lebih dulu merapalkan doa dihati supaya dilancarakan sagala yang aku lakukan nanti diatas panggung.
Dan benar, saat dipanggung semuanya begitu lancar ku ucapkan denga segala keyakinan aku mengakhiri semua dengan lumayan bagus.
Dan saat dimana juri mengumumkan siapa juaranya, antara percaya dan tidak aku terpilih sebagai juara utama. Ini sungguh diluar dugaan, maksudku aku tak menyangka akan jadi juaranya bahkan untuk jadi juara kelima pun aku bersyukur sekali mengingat ini lomba diikuti oleh semua santri seindonesia.
Bukti dari pilihan orang tua itu benar, doa tulus dari merewka tak pernah sekalipun terputus. Hasil dari kerja keras, hati yang iklas menerima semuanya. Dan inilah yang kudapatkan segala bentuk kenikmatan yang mungkin tak kurasakan jika aku memaksakan diri menuruti keinginan ku.
Untuk segala yang pernah ku lalui sampai saat ini, ku ucapkan banyak terima kasih karena begitu banyak memberiku pengalaman. Dan teruntuk Rabb-ku tanpa suratan mu yang indah aku tak akan melalui semua ini, dan maafkan aku yang dulu pernah kecewa atas takdirmu


Tamat
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Ceritanya bagus.
profile-picture
a.la.z memberi reputasi
Quote:


Wkwkw terima kasih,

Nanti saya sampaikan ke orangnya
profile-picture
embunsuci memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di