CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Damar Langit: Berdamai Dengan Diri Sendiri
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e1cb716eaab25452c7ff3f0/damar-langit-berdamai-dengan-diri-sendiri

Damar Langit: Berdamai Dengan Diri Sendiri


Quote:



'Damar Langit: Berdamai dengan diri sendiri'


Prolog


Kenyataannya, yang pernah datang pasti akan pergi. Suatu saat nanti entah esok atau lusa. Tahun depan atau mungkin juga hari ini. Tidak ada yang tahu pasti waktunya. Tapi ketahuilah, itu benar-benar terjadi. Seperti yang aku  alami saat ini. Beratus-ratus hari sudah aku jalani dengan segala macam rupa keadaan. Sedih, senang, haru, marah dan lain sebagainya. Tapi dari sekian banyak perasaan yang pernah singgah dilubuk dadaku ini, tidak terpikirkan bahwa kesakitan lah yang akan mendiami cukup lama. Entah untuk sementara atau selamanya.


Biarkan aku cabut satu per satu ingatan yang terdapat dalam kenanganku. Ku urai sedemikan rupa agar aku menemukan letak kesalahan yang mungkin bisa aku jadikan obat untuk pereda luka. Jika bisa lebih baik lagi menjadi penyembuh rasa kecewa juga, mungkin. Entahlah. Aku hanya mencoba mencari tahu apa semua ini kenyataan atau aku hanya sedang bermimpi saja. Untuk orang yang sedang di rundung luka sepertiku susah membedakan nyata dan tidak nyata. Masa lalu, kemarin, tadi malam, dan bahkan sekarang sudah bercampur aduk menjadi seperti iklan yang rmuncul berbarengan tanpa jeda, tanpa ampun, membabi buta!


Di sisi lain aku marah kepada semuanya. Terutama kepada diriku sendiri yang tak menghargai waktu. Masa-masa yang seharusnya aku pergunakan untuk menikmati kebersamaan. Aku sedih. Aku tak tahu harus bercerita kepada siapa. Aku malu. Malu memberitakan kebenaran. Mungkin melalui buku ini segalanya akan aku tuangkan. Tanpa sekat. Tanpa dinding pembatas manusiawiku, gengsi.


Sepengetahuanku, orang-orang tidak akan menceritakan keadaan sebenarnya jika itu bisa mempengaruhi citranya di mata orang lain. Itu tidak berlaku denganku saat ini. Aku tidak lagi peduli. Dunia akan mengetahui siapa aku dibalik topeng kewibawaanku. Seorang direktur yang juga merangkap sebagai manusia, biasa. Punya hati dan perasaan seperti manusia pada umumnya. Mari ku ajak melintasi ruang waktu yang mengendap dalam kepalaku sebelum hari ini terjadi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oei657 dan 4 lainnya memberi reputasi

1. Kampung Halaman #DL [bagian 1]

Aku terlahir dikeluarga yang kurang beruntung. Miskin. Tidak ada lagi kata kiasan atau perumpamaan yang lebih halus. Orang bilang anak yang lahir dari keluarga miskin maka ia juga akan tumbuh menjadi orang miskin juga. Pernyataan itu awalnya sempat menakutiku. Seolah-olah miskin adalah sebuah kutukan. Tapi tekatku berkata lain. Miskin adalah anugrah. Dari sana aku banyak belajar tentang kerja keras. Berusaha untuk lepas dari jerat predikat miskin yang membatasi ruang gerak segala hal. Paling utama yang orang miskin tidak punya adalah fasilitas. Tidak seperti orang kaya yang jika ingin sesuatu pasti tersedia.

Bapak Ibuku yang hanya buruh tani di sawah orang memang lah tak bisa berharap banyak dari segi keuangan. Bisa makan hari ini saja sudah sangat bersyukur. Kalau aku menginginkan mainan seperti teman-temanku miliki maka aku hanya bisa gigit jari. Paling mentok ya melongo melihat teman-temanku bermain. Pernah saat teman-temanku main mobil-mobilan berbahan plastik buatan cina yang sedang musim. Aku ikutan nimbrung saja sampai salah satu dari mereka berbaik hati meminjamkannya padaku. Aku sangat senang waktu itu.
Suatu hari aku baru saja pulang sekolah. Sesampainya dirumah aku melihat Ibuku di teras sedang menampi beras menggunakan tampah. Beliau bertanya padaku.

“Kenapa sepatunya di tenteng begitu bukannya di pakai, nanti kakimu terpijak beling bagaimana, Le?” Katanya dalam bahasa jawa.

“Telapaknya sudah bolong mak. Dipakai sama tidak dipakai sama saja.” Jawabku sambil masuk ke dalam rumah.

Aku sempat melihat ibuku saat selesai menjawab pertanyaannya sambil berjalan. Matanya berair.

Untuk bocah seumuran kelas dua SD saat itu aku tak tahu menahu bagaimana menilai apa yang orang lain rasakan lewat mimik wajah. Tapi sekarang aku paham. Orang tua itu. Ibuku. Dia sedang sedih mendapati nasib anaknya yang miskin. Butuh waktu beberapa hari meminta izin kepada guruku untuk menggunakan sendal karena sepatuku sudah tidak bisa dipakai sama sekali. Butuh waktu sampai bapakku mendapatkan upah dari hasil pekerjaannya kemarin menggarap sawah pak lurah. Baru lah aku di belikan sepatu baru. Tapi sayang, sepatu yang di belikan bapakku ukurannya kekecilan. Tak bisa ditukar.

Aku setengah terpaksa memakai sepatu sempit itu pergi ke sekolah. Terkadang saat di dalam kelas sepatu itu aku lepas. Pernah suatu hari ditegur guruku.

“Damar! Ini sekolah bukan warung kopi!” kata Guru matematika yang galak itu.

“Sepatunya sempit, Bu.” Jawabku.

Teman-teman sekelasku memertawai. Aku diam saja. Itu lah sebabnya aku benci matematika. Selain pelajarannya susah, gurunya juga galak setengah mati.

*Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oei657 dan 3 lainnya memberi reputasi
hehe. kocak sih gan.. d tggu apdetnya gan...
profile-picture
profile-picture
Kup4s dan kopinisasi memberi reputasi
Quote:


Siappp emoticon-Smilie
profile-picture
Kup4s memberi reputasi
ikut mancang patok,nunggu update
profile-picture
kopinisasi memberi reputasi
profile-picture
impola memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Quote:


Nanti di isi daun emoticon-Smilie
awal yg baik dengan permulaan yg baik untuk sesuatu yg baik.
profile-picture
kopinisasi memberi reputasi
Quote:


Panjang umur untuk hal-hal baik emoticon-Smilie
hmmmhhh... menyentuh
profile-picture
kopinisasi memberi reputasi
Perbanyak bersyukur agar bis berdamai dg diri sendiri, jangn selalu melihat ke atas tapi sesekali lihatlh kebawah agar kita selalu bersyukur dg apa yg kita punya.
profile-picture
kopinisasi memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di