CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e1a5a6e82d4950c0529a22b/cincin-pertunangan

Cincin Pertunangan

Cincin Pertunangan


Cincin Pertunangan

Karya  : Tati Kartini



Sayup terdengar suara nenek, membangunkan. 


"Santi, bangun sayang… kita berangkat pagi ya, jadi ikut nenek ke hutan?"


Aku tertidur lelap sesampai di rumah nenekku untuk berlibur, malam tadi. 


"Iya nek jadi donk kangen pengen liat pemandangan alam."


Jawabku sambil melempar selimut dan tergesa melangkah ke kamar mandi. 


Sudah lama aku tidak pulang ke kampungku di Sumatera barat, kampungku yang indah dengan pemandangan alamnya. 

Kesempatan liburan inilah aku pergunakan untuk pulang kampung sekalian menjenguk nenekku.


"Kita bawa bekal untuk makan siang ya, supaya tak lapar nanti di hutan."


Ucap nenek sambil terus memasukan bekal siang ke dalam rantang. 


"ya nek makan di hutan pasti nikmat, ada saung nya ya nek?." Jawabku.


"Ada yang dulu dibuat oleh kakek, nenek merawatnya dengan baik agar nyaman untuk beristirahat, kamu bisa duduk menikmati pemandangan dari saung.


Tak sabar aku ingin segera sampai di hutan, terbayang keindahan pemandangan alam di tepi hutan perbukitan. 


"yuk, nek aku sudah siap kita berangkat."


Pintaku pada nenek 


"Iya selagi masih pagi udara masih sejuk."


Nenek pun menimpal. 


Tidak sampai satu jam berjalan sudah berada di tepi hutan.

Aku tertegun menatap indahnya pemandangan.


"Jangan berhenti dulu, kita naik ke atas  sedikit lagi, diatas pemandangannya lebih indah."


"Oke, hayu nek aku sudah tak sabar lagi."


*****

Tak lama berjalan sampailah di ladang nenek, di pinggir perbukitan  banyak tumbuh2an tanaman nenek, nenek berkeliling untuk memeriksanya, sementara aku asyik dengan ponsel mengabadikan pemandangan nya.


Setelah puas memotret, aku bersandar menikmati sepoi sejuk angin perbukitan, memandangi daun daun yang bergoyang.


Sayup aku bernyanyi, kupandangi daun waru yang melambai tertiup angin, melayang jatuh tepat di sisiku. 


"hei ...jangan melamun." tiba-tiba seorang pemuda tampan menyapaku.


"kau, kau ...siapa? Aku menjawab dengan terkejut. 


'Aneh, kenapa tiba tiba ada dia disini?' hatiku berkata. 


"siapa kamu." tanyaku berusaha biasa, tak ingin terlihat gugup. 


"kamu lama pergi,lupa padaku? Aku kekasihmu Riyan, lihat! Ini cincin pertunangan kita,ada namamu disini." 


Dia menaruh cincin di telapak tanganku dan menggenggam utk beberapa saat dengan sorot mata yang tajam penuh kerinduan. 


Kuperhatikan cincin polos indah itu, tertulis nama Ratih. 

Kepala seakan berdenyut, semakin bingung. 


Ratih teman sekolahku, kenapa namanya ada pada cincin ini? 


"Riyan, aku bukan Ratih dia …"


Kata-kata ku tersekat, tak lanjut bicara. Aku melihat sekitar… kemana dia? Mengapa tiba-tiba menghilang? 


"Riyaaannn!"


Setengah berteriak aku memanggil,panik.


Sebuah elusan dingin pada tengkuk menambah rasa panik aku.


"Duh, nenek bikin aku kaget."


Aku terdiam sejenak masih mengingat kejadian tadi,begitu nyata 'tak mungkin itu mimpi' kata hatiku. 


"Nek lihat pemuda berkemeja putih?Tampan wajahnya."


Aku bertanya pada nenek dengan penasaran.


"Dari pagi kita cuma berdua, tak ada orang datang kesini. 

Mungkin kamu mimpi San, kamu tertidur nyenyak nenek tak tega membangunkan, Yuuukkk ...pulang hari mulai petang. 


Aneh cincin ini ada di genggaman, aku tak berani bilang pada nenek, nanti saja di rumah akan ku ceritakan.


*****

Berjalan berdua tanpa ber kata-kata, di keheningan senja tibalah kembali di rumah nenek.


"cantik, mandi sayang biar segar nenek lihat dari tadi kamu murung, kapok ya main ke hutan."


"Gak nek, santi seneng di hutan indah pemandangannya." 


Aku menjawab sekenanya sambil melangkah ke kamar mandi. 


Air mengguyur tubuhku terasa menyegarkan.

Perasaan masih kalut penuh tanda tanya.


'bagaimana bisa cincin ini nyata, bukan sebuah mimpi,aku harus bagaimana?'


Tiba-tiba terfikir untuk menghubungi Ratih by phone,bergegas aku keluar kamar mandi menuju ke kamar tidur untuk berganti pakaian,hari hampir malam.


Kunyalakan lampu kamar terlihat jelas cincin yang tadi kusimpan diatas meja rias, tergeletak jelas. 


Kembali cincin ku genggam, sambil kuraih ponselku yang kutaruh di dekatnya.

Aku mulai mencari nama temanku Ratih, pada ponselku. 

Agak lama mencarinya, sudah lama tak saling berkabar sehubungan kesibukan masing masing. 


"Halo… " kusapa Ratih setelah nomor tersambung. 


" ini aku Santi, apa kabarmu Ratih? sudah lama kita tak jumpa, aku baru kemarin tiba di rumah nenek, untuk berlibur disini dan menjenguk nenek.


"Santi kebetulan kamu datang, aku kangen kamu San, besok pagi aku ke rumah nenek kamu ya."


Suara Ratih terdengar parau. 


"Oke datanglah besok pagi aku tunggu ya."


Aku menyetujui bertemu Ratih besok pagi. 


*****

Keesokan hari tanpa menunggu terlalu lama Ratih muncul dengan wajah yang kusut, terlihat kurus dan sayu, aku betul-betul pangling. 


"Ratih kamu kenapa kelihatan pucat, sakit ya?"


Aku tak sabar menunggu jawaban Ratih. 

Alih-alih bicara Ratih malah menghambur ke pelukan ku, menangis tersedu. 


"Ratih tolong di jawab, kamu kenapa? apa yang terjadi pada mu?"


Perlahan Ratih mulai bicara tanpa melepaskan pelukannya dariku.


"Aku lagi berkabung, Riyan calon suamiku meninggal dunia, ini adalah hari ketujuh wafatnya."


Seperti disambar petir aku terkejut bukan kepalang. 

Kupeluk Ratih lebih erat lagi. 


"Tenangkan dirimu, ceritakan padaku bagaimana semua ini bisa terjadi,

untuk mengurangi beban perasaanmu."


Perlahan Ratih mulai bisa menguasai perasaannya dan mulailah dengan ceritanya. 


"Setahun lalu aku mengenal Riyan pria tampan dan baik hati, kami berkenalan di medsos, intens berhubungan melalui medsos, ber telpon dan video call. Lebih kurang setahun berjalan mulus,menyenangkan.

Kami berjanji untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Hingga datanglah Riyan seminggu yang lalu menjumpaiku, bermaksud melamarku.

Rian pun mengutarakan maksudnya pada ayahku, tanpa diduga-duga ternyata ayahku menolak dan sangat marah mendengar permohonan lamaran dari Riyan,ayah tidak yakin hubungan yang berawal dari medsos bisa menjadi pasangan hidup yang baik. Dengan hati hancur Riyan pulang ke kotanya, tak kalah hancurnya hatiku mendengar berita pesawat yang ditumpanginya jatuh di tebing perbukitan hutan itu, semua korban tidak ada yang selamat."


Bak disambar petir mendengar penuturan Ratih, walaupun begitu aku berusaha untuk tetap tenang. 

Aku bicara perlahan, tersendat. 


"Innalillahi wainnailaihi rojiun, sabar ya Ratih ikhlaskan, banyak-banyaklah kirim doa untuknya.

Aku turut berduka cita."


Ratih mengangguk perlahan, terlihat mulai tenang.


"lihatlah Riyan titip cincin ini untukmu, dia sangat mencintaimu Ratih."


Aku serahkan cincin yang sedari tadi sudah kusiapkan.

Dengan terheran-heran Ratih menerima cincin yang bertuliskan namanya. 


"Apa kalian saling mengenal?"


Ratih bertanya seakan tak sabar menunggu jawaban.

Aku hanya mengangguk perlahan. 

Tidak mungkin aku harus menceritakan bahwa cincin itu di beri Riyan di tepi hutan dekat tebing perbukitan. 


Malam sudah cukup larut, sepulang nya Ratih, dipembaringan aku tercenung, memikirkan seluruh kejadian hari ini. 

Hari semakin malam, mataku mulai berat menahan kantuk.

Antara sadar dan tidak kulihat di depan pintu bayangan Riyan tersenyum bahagia. 


"Selamat jalan Riyan,tenanglah kau di alam sana."


Jakarta,


_____________________________
profile-picture
profile-picture
profile-picture
feliia dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tatikartini
Halaman 1 dari 2

Kumpulan Cerita

profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tatikartini
selamat jalan Riyan kenapa nama ini sering dipakai buat cerita yaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
feliia dan 2 lainnya memberi reputasi
Salam kenal.
Ceritanya menarik,sayang terlalu pendek,sis. Sepertinya bagus kalau dbuat cerbung lho.
profile-picture
profile-picture
tatikartini dan Kup4s memberi reputasi
Quote:


Oh gitu ya... Gampang di sebut kali ya gan
Quote:


Terimakasih untuk apresiasi nya gan
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Quote:


Salam kenal juga ganemoticon-Big Kiss
wahhh jadikan cerbung sis bagus😊👍
erhshdk
profile-picture
tatikartini memberi reputasi
wah keren sis...

lanjutkan cerita2 lainnya yah...

Lihat 2 balasan
mampir, Bun
Balasan post ysyamha
Quote:


Terimakasih gansist, aamiin InsyaaAlloh
Balasan post ysyamha
Quote:


Hatur terimakasih kenan memberikan apresiasinya
....
profile-picture
tatikartini memberi reputasi
Diubah oleh dwianggieprase
Ok, ketemu di cerita yang lain dulu ya gan
profile-picture
hugomaran memberi reputasi
Cemburu

Cincin Pertunangan

CEMBURU
Karya : Tati Kartini

Malam itu ayah Anna pulang tugas negara, sebagai anggota TNI pak Wandi sudah biasa mendapat tugas luar untuk waktu yang cukup lama.

Sejak Anna balita bu Eni isteri dari pak Wandi memilih tetap di Ciamis Jawa Barat tidak ikut mendampingi bila pak Wandi mendapat tugas di luar daerah, karena Anna sudah mulai bersekolah di taman kanak-kanak.
Bu Eni tak ingin Anna nantinya selalu ber pindah pindah sekolah.

Sampai pada suatu hari ayah Anna kembali dari tugasnya.

Kala itu hari menjelang senja.
Anna yang tengah tertidur di sofa terkejut mendengar keributan di dalam kamar tidur ibunya.

"Bagus ya ...suami tugas kamu enak-enakan ngobrol sama pria lain!"

Pak wandi membentak bu Eni dengan suara yang sangat keras.

"Dengar dulu penjelasan ku Pah… " Suara bu Eni sambil terisak menangis.

"Tak perlu!, sudah jelas kulihat dengan mataku sendiri, kau pikir bagus tak ada suami menerima tamu Laki-laki?"

Praaannggg! Terdengar seperti ada benda yang di lempar kan.

Anna sangat terkejut, menangis tertahan.

Tak berapa lama kemudian, pak wandi menghampiri Anna.

"Nak… Papah pergi dulu ya ...nanti Papah kembali lagi untuk menjemput mu." Bisik pak Wandi sambil memeluk Anna.

Terdengar isak tangis bu Eni semakin keras.

"Pah, jangan pergi dengar penjelasan ku."

Pak wandi berjalan tergesa menuju pintu tanpa menghiraukan panggilan istrinya.

Anna hanya bisa menatap tanpa sepatah kata, air matanya mulai berjatuhan mengalir deras di pipinya.
Bukan baru sekali ini Anna melihat keributan kedua orang tuanya.

Bu Eni menghambur keluar dari kamar tidur hendak menyusul pak wandi, demi dilihatnya Anna yg berurai air mata dengan isakan perlahan bu Eni berbalik menuju sofa di mana Anna tergolek menangis.

"Cup sayang ... jangan menangis Papah gak marah sebentar lagi pasti pulang."

Bu Eni membujuk Anna yang masih saja terisak, dipeluknya Anna dalam dekapan erat.

*****
Hari berganti minggu pak Wandi belum juga kembali Anna merasakan kerinduan yang sangat, Anna memang sangat dekat dengan ayahnya.

"Mah, kenapa Papah belum pulang juga ya? Anna kangen Papah mah.

Anna bertanya kepada ibunya.

"Sabar sayang besok Papah pasti pulang kalau tugasnya sudah selesai."
Bu Eni tersenyum menghibur Anna dengan jawaban nya.

Anna hanya terdiam berusaha memahami.

Hingga 3 bulan kemudian, di suatu hari….

"Papah! ... Mah lihat Papah pulang."

Teriak Anna dengan kegembiraan yang puncak, sambil terus menghambur kepelukan ayahnya.

"Papah pulang jemput Anna, mau kan Anna ikut Papah?"

Pak Wandi bertanya sambil mengangkat tubuh mungil putrinya, kemudian di gendongnya dengan penuh kasih sambil tak henti-henti mencium pipi Anna.

"Anna kan sekolah Pah, nanti Bu Guru marah kalau Anna tak masuk sekolah."

Anna menjawab dengan manjanya, membuat bertambah gemas hati pak Wandi.

"Iya, Anna kan sudah sekolah Pah."

Bu Enipun menimpal bicara.

"Mah kita ikut Papah aja yuuk, Anna pengen selalu ada Papah di rumah, Anna sedih kalau Papah jauh."

Anna merajuk kepada ibunya.

"Ikutlah denganku Mah, Anna bisa pindah sekolah disana, atau kau lebih senang jauh denganku ya?"

Pak Wandi mulai emosi, sulit bagi seorang suami melupakan kejadian saat menyaksikan istri bicara akrab dengan lelaki yang tidak di kenalnya."

Menyadari rasa cemburu pak Wandi yang masih belum reda, bu Eni cuma bisa diam takut salah bicara.

"Aku pulang hanya untuk satu malam cepatlah berkemas kalau kau akan ikut aku."

Pak Wandi bicara dengan nada mengancam.

"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu, kita pamit dulu pada ibuku nanti sore selesai berkemas."

Bu Eni luluh hatinya melihat Anna yang benar-benar terlihat rindu tak mau berpisah dengan ayahnya.

*****
Sore hari selepas shalat asyar mereka berjalan ke rumah neneknya Anna yang tak seberapa jauh jaraknya dengan rumah pak Wandi.

"Assalamu'alaikum …" Pak wandi mengucapkan salam seraya mengetuk pintu.

Terdengar sahutan dari dalam rumah.

"Wa'alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh, silahkan masuk Nak."

Ujar neneknya Anna seraya merengkuh Anna kedalam pelukannya.

"Cucu nenek semakin cantik saja, nenek jadi gemas."

Ujar neneknya Anna sambil tak henti mencium pipi Anna bertubi-tubi.

"Kapan tiba kau Wandi, lama ibu tak melihatmu."

Ujar neneknya Anna kepada pak Wandi

"Iya bu, tugas sudah tak mungkin untuk ditinggalkan, beberapa bulan ini saya tak bisa pulang kecuali izin cuti, karena itulah saya bermaksud untuk berpamitan membawa pindah Eni dan Anna Bu."

"Ya Tuhan, bagaimana nenek bisa jauh dari Anna?"

Neneknya Anna bicara dengan lirih sambil memeluk Anna lebih erat lagi.

"Jangan khawatir Bu, nanti kami akan selalu menengok Ibu."

Pak Wandi menghibur ibu mertuanya yang nampak sangat bersedih akan berpisah dengan Anna.

"Baiklah kalau sudah jadi keputusanmu Wandi, Eni dan Anna memang tanggung jawabmu, ibu hanya ingin menyampaikan pesan, jagalah mereka dengan kasih dan sayang jangan kau kecewakan kami. Ingatlah janjimu pada waktu kau melamar Eni untuk menjadi istrimu, kau berjanji akan menjaga dan menyayangi Eni."

Dengan suara terbata-bata neneknya Anna berkata menahan kesedihan yang mendalam, harus berpisah dengan orang-orang yang sangat disayanginya.

"Jangan khawatir Bu, percayalah aku akan menyayanginya."

"Begitu sudah seharusnya Nak, rukun-rukunlah selalu, kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, jangan cepat emosi.Cemburu itu bagus pertanda adanya cinta, tapi cemburu buta bisa membuat celaka."

"Baik bu akan kuingat semua nasehat ibu."

Pak Wandi menjawab sambil menundukan kepala.

"Pada waktu kamu berangkat tugas yang lalu kamu marah sampai lupa pamitan pada Ibu, seharusnya kamu bertanya dulu.
Pemuda yang bersama istrimu itu keponakan Eni yang tinggal di Sumatra dia sedang mengikuti tes untuk masuk di AKABRI, kamu tak mengenalinya ya? Dia sudah besar sekarang, badannya kekar."

"Iya bu aku mohon maaf, Eni sudah menjelaskanya tadi bu."

Mendengar pembicaraan nenek dan ayah ibunya Anna serasa di nina bobokan, ia tertidur pulas di pelukan neneknya.

"Lihat anakmu, tak baik untuk jiwanya bila sering mendengarkan keributan ayah ibunya."

Neneknya Anna melanjutkan petuahnya.

"Kalau ada masalah selesaikan baik-baik berdua jangan di hadapan anak, kasian kalau terluka jiwanya akan terbawa sampai dewasa.Tertanam dalam memorynya. Banyak-banyaklah berdoa untuk kebaikan anakmu, doa orang tua sangat makbul, terutama kau Eni sebagai ibunya."

Eni yang sejak tadi diampun menjawab

"Terimakasih ibu atas wejangannya, aku akan berusaha sekuat tenaga mendidik Anna agar jadi wanita salehah yang berpendidikan dan taat ajaran agama, sebagaimana ibu dulu mendidikku.Aku juga mohon doa ibu untuk kebaikan keluargaku bu."

Dengan mata yang ber kaca-kaca neneknya Anna mengarahkan pandanganya pada anaknya kemudian bicara.

"Sudah pasti Eni ibu mendoakan untuk kebahagiaanmu, dunia dan akhiratmu.Begitupun kamu Eni berdoalah selalu untuk Anna. Hanya doa anak yang saleh yang kelak sampai pada kita dialam sana."

Tak terasa hari sudah senja, Anna yang tertidur menggeliatkan badanya dan merengek manja.

"Mah… aku mau susu."

Neneknya Anna mendudukan cucunya di kursi sambil bangkit nenekpun berkata.

"Nenek buatkan susu untuk mu ya Anna?"

Serentak Eni menjawab

"Tak usah bu, sudah hampir maghrib kita pamit saja."

Anna kembali merengek

"Ah … mamah Anna mau susu."

Bu Eni menghampiri Anna dan berkata

" Ssttt ...Anna jangan cerewet kasian nenek, Anna minum susu di rumah saja ya."

Annapun mengangguk

"Ayo, sekarang Anna salam pada Nenek."

Bu Eni membimbing tangan Anna mendekati ibunya.

Merekapun berpamitan pada neneknya Anna sambil berpelukan, seakan berat untuk berpisah.

"Jaga dan sayangilah Eni dan Anna ya… "

Neneknya Anna mengulangi pesannya pada pak Wandi.

"Baik bu, mohon doanya."

Ujar pak Wandi pendek.

*****
Bertepatan adzan maghrib merekapun sampai di rumah.

"Lekas berwudu Mah kita sholat berjamaah."

Ucap pak Wandi kepada istrinya, sambil menyusun sajadah.

"Ya Pah sebentar lagi, Mamah sedang membuatkan susu untuk Anna."

Ditaruhnya susu Anna di atas meja makan.

"Anna ayuk wudu dulu, sambil menunggu susumu dingin kita solat berjamaah dengan Papah."

*****
Mereka shalat berjemaah dengan sangat khusyu, di lanjutkan dengan berdoa.
Pak Wandi memanjatkan doa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi keluarganya.

"Robbana attina fii dunya khasanah wafil akhiroti hasanata waqina adzabannar."

Serentak Anna dan ibunya meng aamiinkan.

"Aamiin … "

Selesailah rangkaian solat berjamaahnya, Anna kembali teringat susunya.

"Mah susu Anna mana?

Anna bertanya pada ibunya.

Bu Eni menjawab sambil menuntun Anna ke meja makan.

"Ini susu Anna, kita sebaiknya makan malam dulu, Papahmu sudah menghampiri, kita akan makan malam bersama-sama."

Bu Eni kembali membujuk Anna agar mau makan sebelum minum susunya.

"iya bu Anna juga sudah lapar."

Anna merengek manja sambil melirik ayam goreng kesukaanya.

"Anna mau sama ayam goreng Mah."

Bu Eni menaruh ayam goreng ke piring makan Anna.

Dan tak lupa mengisi piring makan pak Wandi seraya bertanya.

"Cukup secentong nasinya Pah?"

Pak Wandi mengambil nasi dari tangan istrinya.

"Cukup Mah, terimakasih."

Tanpa banyak bicara mereka bersantap dan menyelesaikan makan malamnya.

"Mah Papah harap kamu ikhlas menemaniku bertugas.Aku sekarang sudah tidak di mess lagi, sudah mendapat rumah asrama dan di perbolehkan menempati bersama keluarga,semoga kamu betah kita bisa berkumpul bahagia bersama-sama tanpa ada kecurigaan lagi."

Pak Wandi kembali membuka pembicaraan sambil meraih sajian hidangan penutup.

"Terimakasih Pah, saya akan selalu patuh kepadamu, bukankah suami adalah pintu syurganya istri?Itu yang diajarkan ibuku, ibu dan almarhum ayah mereka sangat rukun, saling menghormati dan kami sangat bahagia, aku ingin seperti mereka.
.Berharap kelak Anna pun mendapat contoh dan suri tauladan dari kita sebagai orang tuanya."

Pak Wandi sangat puas mendapat jawaban dari istrinya, di ulurkanya tanganya memeluk istri tercintanya sambil berbisik mesra.

"Tolong maafkan Papah ya Mah, Papah selalu saja marah kepadamu, Papah cemburu karena sangat mencintaimu, takut kehilanganmu."

Dengan tersipu bu Eni menjawab.

"Tanpa dimintapun aku sudah memaafkanmu, aku paham Papah cemburu dan tak sanggup hidup terpisah makanya Mamah bersedia ikut pindah denganmu, kita pasti lebih bahagia kalau selalu bersama-sama."

Malam itu mereka berbincang-bincang penuh kemesraan.

Membayangkan kebahagiaan yang akan di lalui, bersama-sama membesarkan buah hatinya hingga kelak Anna dewasa menjadi wanita shalehah

~~~End
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
"Berhati-hatilah karena cemburu yang tidak pada tempatnya bisa merusak jiwa."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Cemburu tak pada tempatnya membunuh nalar dan logika
profile-picture
Ninaahmad memberi reputasi
Quote:


Ryan dan harapan yang pupus... Keren Bunda...
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Tapi sedih 😢
profile-picture
profile-picture
hugomaran dan embunsuci memberi reputasi
iya adik, mirip si nganu ya😔🙏
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di