CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerita Pendek by adepras76
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e19ff7e018e0d5c8c173660/kumpulan-cerita-pendek-by-adepras76

KUMPULAN CERITA PENDEK


Kumpulan Cerita Pendek by adepras76





NENEK JUMIRAH

Oleh : A. Prasetyo

Kumpulan Cerita Pendek by adepras76

 
Baru sekitar tiga bulan aku menjadi penghuni di rumah kontrakan ini. Tinggal sendiri di pemukiman padat penduduk, berdinding sekat padat berdesakan. Tak ada tanah lapang, atau lahan kosong berukuran beberapa meter persegi saja, untuk tempat anak-anak sekadar  bermain kelereng atau lompat tali.

Berstatus pegawai kantoran yang masih dalam status percobaan, membuatku hanya mampu mengontrak rumah petak. Cukup nyaman untuk perempuan lajang ysng tsk punya banysk tsnggungsn., yang penting ada tempat untuk istirahat setelah lelah bekerja seharian.

Belum banyak tetangga yang aku kenal. Sehari-hari waktu lebih banyak dihabiskan di kantor. Sementara jika hari libur dimanfaatkan untuk mencuci, menyetrika dan bermalas-malasan sambil menikmati tivi tabung 24 inchi di rumah kontrakan.

**
Malam ini aku bekerja lembur, dan pulang agak larut. Lelah dan kantuk yang teramat menyertai langkah pulang. Tiba di ujung gang masuk ke arah rumah kontrakan, terlihat riuh ramai orang dengan wajah cemas dan panik berhamburan.

“Kebakaran ... kebakaran ... kebakaran ...!!”

“Aiirr ... cepat cari aiirr ...!!

Orang-orang berlarian tak beraturan. Sebagian nampak membawa barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Sementara banyak juga yang berusaha mencari air untuk memadamkan api yang mulai besar berkobar.

Raungan sirine mulai terdengar bersahutan,  mendekat Cumiakkan telinga. Para petugas pemadam kebakaran langsung sibuk melokalisir dan memadamkan si jago merah yang kian mengganas. Dari salah satu warga diperoleh informasi, bahwa sumber api berasal dari sebuah rumah petak yang dihuni seorang nenek bersama cucunya.

Rasa penasaran membuatku memberanikan diri mulai mendekat ke lokasi kebakaran. Perasaan lega setelah mengetahui petugas pemadam berhasil melokalisir api dan tak sampai merembet ke arah rumah kontrakan. “Semoga tak ada korban dalam kebakaran malam ini,” pintaku pada Tuhan.

Nampak dari kejauhan seseorang yang sendirian dalam kegelapan, duduk di bawah pohon akasia nan rindang.  Perlahan kuhampiri dan menyapanya, ternyata seorang nenek yang nampak bernafas kepayahan. Sesaat terdengar dia terbatuk berkepanjangan.

“Nek, sedang apa di sini? Nenek sendirian?”

“Iyaa, Nak ... nenek sesak, nih. Sepertinya nenek tadi kebanyakan menghirup asap pekat, Nak,” nenek itu menjawab dengan suara parau.

“Sebentar, Nek, aku carikan air mineral. Nenek tunggu di sini ya.”
Bergegas aku membeli dua botol air mineral di toko Koh Ameng yang ada di seberang jalan.

Air mineral segera berpindah tangan, beserta beberapa potong roti yang tadi masih sempat kubawa dari kantor. Sesaat sempat terlihat sorot mata aneh sang nenek, tak mudah untuk diterjemahkan maknanya. Kukeluarkan tisu basah dari dalam tas untuk membersihkan dahi dan sebagian mukanya yang kotor terkena jelaga. Dari obrolan singkat dengannya kutahu namanya, nenek Jumirah.

Setelah keadaan nenek Jumirah cukup tenang dan api telah benar-benar padam. Lantas aku pamit untuk menengok dan memastikan keadaan rumah kontrakanku.

**

Hari ini aku izin tidak masuk kantor. Situasi di gang menuju kontrakan masih cukup berantakan. Kayu-kayu, material dan perabot rumah yang menghitam, sisa kebakaran semalam. Beberapa petugas kepolisian terlihat masih melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP). Sesekali mereka berdiskusi dengan pak RT yang turut mendampingi.

Dari pak RT kami mendapatkan informasi bahwa ternyata ada seseorang yang terjebak di dalam rumah dan tak sempat menyelamatkan diri. Setelah api padam diketemuan orang tersebut sudah dalam kondisi seluruh tubuhnya gosong menghitam, meninggal dunia.

Bersama tetangga samping rumah, selepas ashar kami menghantarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Suasana duka mendalam terasakan, karena rumah korban ludes tak tersisa, Prosesi pelepasan jenasah pun dilakukan di balai warga tak jauh dari rumah korban.

Setelah prosesi pemakaman selesai, para pelayat laki-laki satu persatu meninggalkan makam. Setelah tak lagi banyak orang, aku mendekat ke arah makam bermaksud untuk turut mendoakan. Dari balik kuntum bunga melati yang menutupi sebagian batu nisan, masih jelas terbaca nama yang tertulis. JUMIRAH.

Jenazah nenek Jumirah diketemukan  dengan keadaan yang mengenaskan di dalam rumah, setelah api berhasil dipadamkan. Sementara cucu satu-satunya yang tinggal bersamanya selamat. Sebab saat kejadian, ia sedang bekerja shift malam sebagai satpam di komplek perumahan sebuah kementerian.
 
***
 




Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh adepras76
bagus ceritanya kaaa.. keren ih
Lihat 1 balasan
Semoga nenek Jumirah tak kesepian lagi. Menanti hari saat semua yang sudah meninggal, dikumpulkan kembali ....
profile-picture
profile-picture
chisaa dan miniadila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bagus. Ditunggu cerpen berikutnya.
Lihat 1 balasan
Bagus. Ditunggu cerpen berikutnya.
ampun. kenapa baca pas malem. 😂 aku pikir bukan horor. 🤣
Lihat 1 balasan
nenek oh nenek

CERITA PENDEK : JANJIKU DI BUMI MALUKU

[Cerita Pendek]

JANJIKU DI BUMI MALUKU

Oleh : A.Prasetyo

Kumpulan Cerita Pendek by adepras76


Penat dan pegal yang aku rasakan belum sepenuhnya hilang. Meskipun telah beristirahat seharian di sebuah hotel yang ada di seberang kantor Gubernur Maluku. Perjalanan udara Jakarta – Ambon memang cukup melelahkan. Beruntung, monumen Tugu Gong Perdamaian Dunia Ambon berada di Taman Pelita. Tepat di pusat keramaian Kota Ambon mampu sedikit mengurangi rasa lelah dan tak lupa kujadikan objek foto kamera android.

Gong Perdamaian Dunia pada permukaannya berisi gambar-gambar bendera negara di seluruh dunia, sedangkan bagian tengahnya pun terdapat beberapa lambang agama-agama besar yang ada di dunia seperti Muslim, Kristen, Hindu, Budha, dan yang lain. Konon monumen Tugu Gong Perdamaian Dunia ini adalah sebuah bentuk refleksi diri bangsa. Tentang bagaimana seharusnya toleransi dalam bernegara itu dilaksanakan.

Pukul 06.00 WIT. Sebuah mobil travel sudah menjemputku di depan hotel. Setelah memasukkan kopor di bagasi, aku duduk persis di belakang abang supir berbadan tinggi besar. Mobil ini hanya membawa lima penumpang, dua perempuan dan tiga lelaki termasuk aku.

“Bismillahirrahmaanirrahiim.”

Sejenak kulafazkan doa memohon perlindungan pada Allah, Tuhan Yang Maha Pemberi Keselamatan. Pada-Nya aku berserah pasrah seraya berharap diberikan kemudahan untuk perjalanan yang belum pernah terbayang sebelumnya.

***

“Bang, setelah aku wisuda nanti, apakah kita bisa terus bersama?” tanyanya di suatu sore sepulang kuliah.

“Maksudmu?” aku balik bertanya.

“Iya, Bang. Abang kan sebentar lagi selesai kuliahnya, hanya tinggal menunggu wisuda.”

“Dan insya Allah dua tahun lagi aku juga selesai kuliah. Apa kita masih bisa bersama?”

Setengah berteriak ia kembali bertanya, berusaha mengalahkan suara bising knalpot vespaku.
Kuparkir vespaku di depan sebuah kedai di daerah Sapen. Aku dan Tiara sering makan atau sekedar melepas dahaga di sini. Tempat yang nyaman dan pas dengan kantong mahasiswa perantauan sepertiku. Tak bisa kuhitung berapa kali aku menghabiskan waktu di kedai ini selama menetap di Kota Gudeg.

“Bang, kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Sebentar, dong, sabar dulu Nok Ayu. Kita pesen makanan dulu ya.”

Entah mengapa aku memang paling suka memanggil Tiara dengan sebutan Nok Ayu, meskipun dia bukan berasal dari Jawa.

***

Sayang rasanya kalau perjalanan ini tak kunikmati. Tak salah bila banyak orang bilang pamandangan alam Maluku sangat menakjubkan memanjakan mata. Seakan mata ini tak mau berkejap saat mobil yang kutumpangi melewati pantai Natsepa yang sungguh indah. Hamparan pasir putih dan perpaduan ombak biru muda dan biru tua, bagaikan gradasi permadani alam yang sangat mempesona. Pantai yang landai dengan air yang sangat jernih, membuat siapapun tergoda untuk membasahi badan, atau sekedar membasuh kaki. Sungguh sangat menyegarkan. Deretan kedai penjaja kelapa muda dan jagung bakar melengkapi salah satu tempat wisata kebanggaan bumi Ambon ini.

***
Nyaris aku terlelap saat mobil berhenti. Rupanya kantuk ini masih tak mampu mengalahkan keindahanan perjalanan yang kulalui.

“Kita berhenti di sini untuk beberapa waktu.” Abang supir memberi informasi.

“Sambil menunggu kapal ferry tiba, silahkan barangkali Bapak dan Ibu mau ke toilet atau sekedar membeli makanan, pisang goreng sambal colo atau kenari tumbuk.”

Aku dan semua penumpang turun. Kuhirup udara pagi khas pelabuhan dalam-dalam. Ahh ... sungguh menyegarkan. Rupanya aku telah tiba di pelabuhan Hunimua, Desa Liang, Kecamatan Salahutu. Begitu kami turun, mobil langsung mengambil posisi antrian di jalur untuk masuk ke kapal ferry. Dari pelabuhan inilah aku akan melanjutkan perjalanan menyeberangi selat Ambon menuju pulau Seram.

Sekitar jam delapan pagi Waktu Indonesia Timur, aku telah berada di Kapal Motor Penumpang (KMP) bertuliskan ‘We Bridge the Nation’ yang akan menempuh rute kurang lebih 115 km dengan lama perjalanan satu setengah jam. Cuaca sangat cerah dan ombak nan biru mengalun sangat tenang.

***
“Fokus, Nok Ayu. Selesaikan dulu skripsimu.”

“Bagaimana akan kau bangun pulau tanah kelahiran, kalau kuliahmu tak kelar.”

“Iya, Bang. Tapi ilmu dalam pelatihan itu juga sangat aku perlukan jika kelak aku kembali ke pulau.”

“Aku ingin masyarakat di pulau mampu melakukan pengolahan terhadap ikan hasil tangkap yang melimpah ruah. Sehingga hasil jualnya lebih bernilai tinggi dan mampu lebih tahan lama.”

Aku tak mampu menahan kerasnya kemauan Tiara, untuk mengikuti pelatihan pengolahan hasil tangkap. Kemauan belajarnya memang keras, apalagi jika berkaitan dengan keinginannya untuk mengembangkan potensi di daerah asalnya.

***
Tiba di Pelabuhan Waipirit, Seram Bagian Barat (SBB), perut mulai terasa keroncongan. Mobil yang membawa kami singgah sejenak di warung makan. Perjalanan melewati jalur trans Seram yang melintasi Kota Seram Bagian Barat (SBB) menuju Kota Seram Bagian Timur (SBT) sungguh tak mungkin terlupakan. Bula, ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) adalah kota yang kutuju. Jarak tempuh Kota Bula dari Kota Ambon sekitar 487 km.

Perjalanan ini terasa bagaikan merangkai sebuah asa. Perjuangan eksotis nan panjang untuk bisa bertemu dengan Nok Ayu-ku, Tiara. Untuk kesekian kalinya mataku dibuat takjub dan dimanjakan ketika mobil yang kutumpangi menanjak dan mendaki Gunung Manusela.

Gunung Manusela adalah salah satu gunung tinggi di Pulau Seram, yang membelah diagonal dari barat laut ke tenggara. Sebagian kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Manusela. Menembus jalan yang berada diantara hutan,tebing dan kadang belukar yang liar, berkelok. Terkadang terlihat beberapa ekor unggas langka, seperti burung beo, burung kakak tua putih dan berbagai hewan lainnya, para penghuni kawasan yang dilindungi ini.

***
‘Besok aku sidang ujian skripsi, Bang.’

‘Mohon doanya semoga diberikan kemudahan dan kelancaran.’

Whatsapp dari Tiara mengusik dari pekerjaanku mengedit naskah. Ya, sejak aku lulus kuliah tahun lalu, aku kembali ke kota asalku dan diterima bekerja di salah satu penerbitan. Pekerjaan yang kuidamkan, bersama orang-orang luar biasa yang terus berkarya lewat sebuah narasi dan tulisan.

‘Abang selalu mendoakanmu, Nok Ayu.’

‘Yakinlah ... Allah senantiasa bersamamu.’

Siang itu tak lupa kuselipkan sebait doa untuk Tiara dalam munajat sholat Dhuhur. Seraya menambah shodaqoh sebagai salah satu ikhtiar untuk kemudahan dan ketenangannya dalam menjalankan ujian skripsi.

***
Pukul 21.00 WIT, aku tiba di Kota Bula, ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Mobil langsung menuju ke pelabuhan. Perjalanan belum berakhir untuk bertemu dengan Tiara, si Nok Ayu. Sebuah kapal Pelni sudah dalam posisi sandar di pelabuhan dengan deru mesin dan lampu yang menyala terang. Setelah membeli tiket, kumasukan kopor bawaanku ke dalam kamar berukuran tak lebih dari 1,5 x 2 meter di dek sebelah kanan kapal. Tanpa merebahkan badan, kukunci pintu kamar dari luar dan beranjak mencari pedagang nasi yang ada di sekitar kapal.

‘Perut ini tak boleh kubiarkan kosong. Perjalanan masih jauh,’ pikirku.
“Toot ... tooot ....”

Klakson panjang menandai kapal ini beranjak dari Pelabuhan Bula. Beruntung aku mendapatkan kapal Pelni malam ini sehingga berharap bisa istirahat dengan lebih nyaman di kamar. Waktu menunjukan pukul 00.05 WIT, sudah dapat dipastikan aku akan semalaman berada di lautan, memendam rindu untuk bertemu dengan pujaan hatiku.

Sungguh ini adalah pengalaman baru buatku, menyebrangi lautan di malam hari. Dalam kegelapan, samar-samar masih kulihat daratan Pulau Seram yang kian mengecil. Ribuan bintang bintang berserakan, juga semburat sisa sinar rembulan di langit malam. Tidak ada suara orang bercengkrama. Seakan semua penumpang ingin meyimpan semua kenangan malam ini dengan rapat. Hanya terdengar deru mesin kapal, memecah ombak.

***
Gaudeamus igitur. Juvenes dum sumus.
Post icundum iuventutem. Post molestam senectutem.
Nos habebit humus ....

Hymne Gaudeamus Igitur baru saja selesai dinyanyikan paduan suara mahasiswa kebanggaan kampus. Selayaknya prosesi wisuda, selanjutnya yang terlihat adalah euforia kebahagiaan, kebanggaan dan kemenangan. Setidaknya kemenangan karena telah mengalahkan kemalasan dan ego diri sendiri. Lantas berhak menyandang gelar sarjana yang diraih dengan penuh perjuangan.

“Congratulation, Nok Ayu.”

“Selamat atas wisudamu, dan Baarakallahu fiik.”

Terbata dan penuh rasa haru kuucapkan selamat saat Tiara keluar dari Auditorium tempat berlangsungnya prosesi wisuda.

“Terimakasih, Abang.”

“Semua juga berkat dukungan, motivasi dan doa dari Abang untukku.”

“Pulanglah ke pulaumu, Nok Ayu. Bangun dan abdikan diri seperti yang kau cita-citakan.”

“Kelak Abang akan datang melamarmu.”

***
Sayup-sayup kudengar suara orang bercengkrama. Kulihat jam tanganku menunjukkan waktu pukul 05.10 WIT. Setelah menunaikan sholat subuh, aku beranjak keluar kamar. Semburat fajar mulai menyingsing menampakan secercah sinarnya. Berpendar menari di atas permukaan air laut membentuk lukisan alam maha karya Sang Pencipta alam semesta. Ternyata kapal sedang berhenti dan sandar di pelabuhan Pulau Geser, sebuah pulau kecil seluas kurang lebih 3 km2 yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku.

Para anak buah kapal melakukan aktifitas bongkar muat barang. Berkarung-karung beras dan bahan pangan pokok lainnya diturunkan. Sementara ada juga komoditas lokal dari pulau yang dinaikkan ke dalam kapal. Segerombolan ikan besar nampak asyik menikmati sisa penganan yang dibuang ke laut oleh para penumpang. Pulau Seram memang salah satu penghasil komoditas ikan laut terbesar di wilayah Indonesia bagian timur.

Aku menuju ke kedai mini yang ada di bagian tengah kapal.

“Kopi hitam, Bang,” pintaku pada pelayan kedai.

“Roti bakarnya satu, pakai susu ya.”

Tak lama pesananku telah tersedia dan langsung kusesap gelas kopi hitam yang masih panas mengepul.

Setelah lebih dari satu jam sandar di pelabuhan Pulau Geser, kapal melanjutkan perjalanan. Semakin lama daratan pulau terlihat semakin kecil dan hanya berupa gugusan hitam yang kelamaan menghilang dari pandangan.

***
‘Selamat datang di Pelabuhan Namalua Ondor Gorom.’

Pintu gerbang berwarna putih dengan kombinasi warna kuning bergaris hijau pada tiangnya, menyambut kedatanganku di Pulau Gorom. Dua buah replika ikan di bagian atas gapura seakan juga menegaskan bahwa pulau ini adalah penghasil komoditas ikan di wilayah Seram dan Indonesia bagian timur.

Pelabuhan Ondor Gorom hanya memiliki satu tempat sandar kapal. Tidak setiap hari jadwal kapal yang berlabuh dan berangkat dari pelabuhan ini. Aktivitas orang di pelabuhan tak begitu padat, hanya para tukang ojeg dan kuli panggul yang mencoba mencari rejeki dari para penumpang yang memerlukan.

Pulau ini sangat indah dan eksotis. Perjalanan panjang dan estafet dari Jakarta hingga tempat ini seakan terbayarkan melihat pesona alam. Terdapat tak kurang dari 27 objek wisata, berupa wisata alam maupun berupa situs budaya dan sejarah. Pun terbayang sudah, Tiara, Nok Ayu-ku yang sebentar lagi akan bertemu.

***
Sesuai dengan alamat yang pernah diberikan, tukang ojeg mengantarku menuju Kataloka. Kulewati sebuah monumen dengan relief sebuah perahu motor sedang melaju memecah ombak. Membawa pasukan bersenjata lengkap. Seorang di antaranya memegang sebilah bambu dengan bendera merah putih berkibar di ujungnya. Perjuangan yang menggambarkan pembebasan Irian Barat. Konon, dari Pulau Gorom inilah Inspektur Tingkat I Anton Soedjarwo melakukan penyerangan ke Irian Barat bersama pasukan Resimen Pelopor Parakomando Brimob, di tahun 1962.

‘Monumen Peristiwa Trikora.’

Tak perlu waktu lama, tak terlalu jauh dari monumen, sampailah di kediaman keluarga Tiara. Namun tak ada senyum ceria gadisku, yang ada hanya tatapan sendu ayah, ibu, juga adik laki-laki Tiara. Mereka menyambutku dengan pelukan hangat.

***
“Aku datang memenuhi janjiku, Nok Ayu. Janji melamarmu, namun Allah lebih dulu memanggilmu pulang, memenuhi janji kasih-Nya.”

Selaksa duka menahan air mataku agar tak jatuh membasahi pusaramu. Kuusap nisan yang bertulis namamu, tepat tiga hari yang lalu, karena Leukimia yang menyerangmu.

**<>**
Bumi Siwalan, 04 Maret 2019

Diubah oleh adepras76
Berat rasanya ditinggalkan seseorang yg di cintai. Hanya bait2 lantunan doa yg kupersembahkan untuknya di alam sana. Semoga abang tabah dan ikhlas menjalani semua. Tetap semangat, abang pasti kuat menjalaninya. Kelak kemudian hari kan mendapatkan penggantinya yg lebih baik, Amin...emoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adepras76 dan 2 lainnya memberi reputasi
Makasih untuk untaian dedoa dan supportnya...😊
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan Ninaahmad memberi reputasi
Manusia memang hanya bisa merencana,. Sedang Allah, Tuhan yang Maka Kuasa yang berhak memutuskan.
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan Ninaahmad memberi reputasi
Wah sad ending
profile-picture
profile-picture
adepras76 dan Ninaahmad memberi reputasi
Wah sad ending
profile-picture
Ninaahmad memberi reputasi
Jangan mewek yaa, teh... 😮
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
Hiiks ...hiiks. sedih. kenapa keluarga nok gak telpon abang?
profile-picture
adepras76 memberi reputasi
Sekedar saran saja mungkin bisa dibikin prekuelnya beberapa part, jadi sedikit banyak menjawab pertanyaan yg mengganjal dari reader dimari. Maklumlah reader dimari banyak yg kepo, hayo pada ngaku kagak? emoticon-Ngakak
profile-picture
adepras76 memberi reputasi
siaap, kak...
mohon pencerahannya, yaa...
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
gak tega katanya, mak...hhikss...
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
keren gan. next
profile-picture
adepras76 memberi reputasi
Keren banget, Sis ... Mantap ... semangat terus
profile-picture
adepras76 memberi reputasi
Makasih, kak.
Maaf... ane berkumis... 😁


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di