- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Kontekstualisasi Ajaran Kiai Madrais
TS
dewaagni
Kontekstualisasi Ajaran Kiai Madrais
Kontekstualisasi Ajaran Kiai Madrais
[url=https://www.kaskus.co.id/forum/quicknewthread/[removed]void(0);][/url][url=https://www.kaskus.co.id/forum/quicknewthread/[removed]void(0);][/url][url=https://www.kaskus.co.id/forum/quicknewthread/[removed]void(0);][/url]
18 Oktober 2012 00:39 Diperbarui: 24 Juni 2015 22:43 316 0 0
Menemukan Mutiara Warisan Leluhur
[BAGIAN KEDUA]
Oleh ALI ROMDHONI MA
Sudah hampir dua bulan sejak awal September 2012 saya berinteraksi dengan masyarakat di desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat untuk kepentingan riset dan pembelajaran. Lebih khusus lagi, saya berkesempatan berdiskusi dan melihat dari dekat aktifitas keseharian keluarga-keluarga adat dan penganut ajaran Sunda Wiwitan di daerah ini. Melalui penuturan para penganutnya, saya menjadi mengerti, Madrais adalah tokoh pendiri sekaligus penyebar ajaran—untuk tidak menyebutnya ‘agama’—Sunda Wiwitan (Sunda permulaan; lama).
Selama hidupnya, pangeran keturunan Kepangeranan Gebang Kinatar (sekarang lokasinya di Losari, Cirebon, Jawa Barat) ini pernah dibuang penjajah Belanda ke Tanah Merah, Maluku (1901-1908). Belanda menuduh Madrais telah menyebarkan ajaran sesat. Konon, nasionalis yang gemar mempelajari kearifan dalam doktrin agama-agama ini berhasil pulang ke kampung halaman, di Cigugur, dan kembali mengajarkan kepada rakyat penting hidup sebagai orang yang mandiri dan mencintai sesama.
[caption id="attachment_218482" align="alignnone" width="448" caption="Empat remaja puteri menari menyambut para tamu di gedung Paseban Tri Panca Tunggal"][/caption]
Saya merasa beruntung karena selama kurang lebih lima minggu terakhir ini memiliki waktu untuk ngobrol santai dan berdiskusi ringan dengan Gumirat Barna Alam dan Dewi Kanti (keduanya buyut Madrais), serta Oki Satrio (suami Dewi). Kepada saya, mereka berbaik hati dan bersedia memberi informasi tentang sesepuh dan panutan warga penganut ajaran Sunda Wiwitan. Saya juga sudah beberapa kali mengikuti dialog dan berbincang langsung dengan Rama Pangeran Jatikusuma, cucu kandung Kiai Madrais yang saat ini meneruskan kepemimpinan adat Sunda Wiwitan.
Kepada saya, tokoh kharismatik di komunitas Sunda Wiwitan ini memberi penjelasan terutama mengenai filosofi ajaran yang dibawa Pangeran Madrais. Selain itu saya juga banyak mendengar penuturan warga, seperti ibu-ibu rumah tangga, pedagang sayur, peternak, petani sampai para guru tentang Madrais dan ajaran yang dia sampaikan. Di antara mereka ada yang memang warga penganut ajaran, dan sebagian lain bukan penganut tetapi memiliki pengetahuan yang cukup tentang tokoh kontroversial itu.
Menurut cerita Dewi Kanti (37), kakek buyutnya yang juga pernah belajar keislaman di pondok pesantren ini hidup pada kondisi ketika hampir seluruh kekayaan bangsa Indonesia berhasil dirampok penjajah. Madrais Sadewa Alibasa Kusumah Wijaya Ningrat hidup sekitar tahun 1832 sampai 1939, ketika seluruh kekayaan bangsa Indonesia: sumber daya alam, ilmu pengetahuan, agama, budaya, hingga akal sehat sudah hilang dari manusianya.
Dalam kondisi yang demikian, Madrais tampil sebagai putera pribumi yang sadar dan merasa harus bangkit dari kehancuran sebagai bangsa. Kritik yang disampaikan Madrais, yang selanjutnya menjadi ajaran yang dia tanamkan kepada para pengikutnya adalah: tidak adanya tatanan sosial untuk menciptakan keadilan di masyarakat, tidak berfungsinya agama-agama dalam melahirkan manusia yang saling menghargai kedaulatan sebagai bangsa, dan hilangnya kepercayaan diri sebagai bangsa yang berdaulat di muka bumi.
Tiga hal ini, menurut saya, menjadi saka guru ajaran Kiai Madrais—Madraisme. Dari para penganut ajaran Sunda Wiwitan yang saya temui, mereka mengatakan bahwa Pangeran Madrais mengajarkan pentingnya kesadaran sebagai manusia dan bangsa yang mengenal cara dan ciri manusia, antara lain, welas asih (cinta) kepada sesama,tata kerama, berbudaya, berbahasa, beraksara dan wiwaha danaraga (mempertimbangkan segala keputusan dan perilaku dalam hidup). Sebagai manusia harus sadar atas keberadaannya sebagai ciptaan Sang Maha Kuasa. Cara-ciri ini, rupa, bahasa dan budaya, ini tidak bisa dihindari. Karena ini merupakan karunia Tuhan, maka harus disyukuri, dijaga dan dilestarikan. [bersambung: Eksistensi…]
https://www.kompasiana.com/aliromdho...-kiai-madrais
[url=https://www.kaskus.co.id/forum/quicknewthread/[removed]void(0);][/url][url=https://www.kaskus.co.id/forum/quicknewthread/[removed]void(0);][/url][url=https://www.kaskus.co.id/forum/quicknewthread/[removed]void(0);][/url]
18 Oktober 2012 00:39 Diperbarui: 24 Juni 2015 22:43 316 0 0
Menemukan Mutiara Warisan Leluhur
[BAGIAN KEDUA]
Oleh ALI ROMDHONI MA
Sudah hampir dua bulan sejak awal September 2012 saya berinteraksi dengan masyarakat di desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat untuk kepentingan riset dan pembelajaran. Lebih khusus lagi, saya berkesempatan berdiskusi dan melihat dari dekat aktifitas keseharian keluarga-keluarga adat dan penganut ajaran Sunda Wiwitan di daerah ini. Melalui penuturan para penganutnya, saya menjadi mengerti, Madrais adalah tokoh pendiri sekaligus penyebar ajaran—untuk tidak menyebutnya ‘agama’—Sunda Wiwitan (Sunda permulaan; lama).
Selama hidupnya, pangeran keturunan Kepangeranan Gebang Kinatar (sekarang lokasinya di Losari, Cirebon, Jawa Barat) ini pernah dibuang penjajah Belanda ke Tanah Merah, Maluku (1901-1908). Belanda menuduh Madrais telah menyebarkan ajaran sesat. Konon, nasionalis yang gemar mempelajari kearifan dalam doktrin agama-agama ini berhasil pulang ke kampung halaman, di Cigugur, dan kembali mengajarkan kepada rakyat penting hidup sebagai orang yang mandiri dan mencintai sesama.
[caption id="attachment_218482" align="alignnone" width="448" caption="Empat remaja puteri menari menyambut para tamu di gedung Paseban Tri Panca Tunggal"][/caption]
Saya merasa beruntung karena selama kurang lebih lima minggu terakhir ini memiliki waktu untuk ngobrol santai dan berdiskusi ringan dengan Gumirat Barna Alam dan Dewi Kanti (keduanya buyut Madrais), serta Oki Satrio (suami Dewi). Kepada saya, mereka berbaik hati dan bersedia memberi informasi tentang sesepuh dan panutan warga penganut ajaran Sunda Wiwitan. Saya juga sudah beberapa kali mengikuti dialog dan berbincang langsung dengan Rama Pangeran Jatikusuma, cucu kandung Kiai Madrais yang saat ini meneruskan kepemimpinan adat Sunda Wiwitan.
Kepada saya, tokoh kharismatik di komunitas Sunda Wiwitan ini memberi penjelasan terutama mengenai filosofi ajaran yang dibawa Pangeran Madrais. Selain itu saya juga banyak mendengar penuturan warga, seperti ibu-ibu rumah tangga, pedagang sayur, peternak, petani sampai para guru tentang Madrais dan ajaran yang dia sampaikan. Di antara mereka ada yang memang warga penganut ajaran, dan sebagian lain bukan penganut tetapi memiliki pengetahuan yang cukup tentang tokoh kontroversial itu.
Menurut cerita Dewi Kanti (37), kakek buyutnya yang juga pernah belajar keislaman di pondok pesantren ini hidup pada kondisi ketika hampir seluruh kekayaan bangsa Indonesia berhasil dirampok penjajah. Madrais Sadewa Alibasa Kusumah Wijaya Ningrat hidup sekitar tahun 1832 sampai 1939, ketika seluruh kekayaan bangsa Indonesia: sumber daya alam, ilmu pengetahuan, agama, budaya, hingga akal sehat sudah hilang dari manusianya.
Dalam kondisi yang demikian, Madrais tampil sebagai putera pribumi yang sadar dan merasa harus bangkit dari kehancuran sebagai bangsa. Kritik yang disampaikan Madrais, yang selanjutnya menjadi ajaran yang dia tanamkan kepada para pengikutnya adalah: tidak adanya tatanan sosial untuk menciptakan keadilan di masyarakat, tidak berfungsinya agama-agama dalam melahirkan manusia yang saling menghargai kedaulatan sebagai bangsa, dan hilangnya kepercayaan diri sebagai bangsa yang berdaulat di muka bumi.
Tiga hal ini, menurut saya, menjadi saka guru ajaran Kiai Madrais—Madraisme. Dari para penganut ajaran Sunda Wiwitan yang saya temui, mereka mengatakan bahwa Pangeran Madrais mengajarkan pentingnya kesadaran sebagai manusia dan bangsa yang mengenal cara dan ciri manusia, antara lain, welas asih (cinta) kepada sesama,tata kerama, berbudaya, berbahasa, beraksara dan wiwaha danaraga (mempertimbangkan segala keputusan dan perilaku dalam hidup). Sebagai manusia harus sadar atas keberadaannya sebagai ciptaan Sang Maha Kuasa. Cara-ciri ini, rupa, bahasa dan budaya, ini tidak bisa dihindari. Karena ini merupakan karunia Tuhan, maka harus disyukuri, dijaga dan dilestarikan. [bersambung: Eksistensi…]
https://www.kompasiana.com/aliromdho...-kiai-madrais
4iinch dan sebelahblog memberi reputasi
2
278
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan
