CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Bersemi di Kedai Serabi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e168d6f8d94d05c434cb242/cinta-bersemi-di-kedai-serabi

Cinta Bersemi di Kedai Serabi [Cerpen]

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 6
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Waaa baper😍😍
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan suciasdhan memberi reputasi
Lihat 1 balasan
yuk, yuk mampir, GanSist, ada cerita baru nih
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan bekticahyopurno memberi reputasi
Singgah lagi, baca lagi, mewek lagi merembes miliiiemoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Caakeeepppp
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post embunsuci
🤣iya, Kak
profile-picture
Ninaahmad memberi reputasi
Balasan post NovellaHikmiHas
Terima kasih 🙏
profile-picture
Ninaahmad memberi reputasi
Balasan post embunsuci
Cup ... cup ... cup
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
Balasan post meildaputeri
Terima kasih 🙏
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Udah rapi, tinggal kenalkan karya di mess agar banyak yang lihat dan baca. Selanjutnya nikmati menulisnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post bekticahyopurno
Siap, Kak. Terima kasih 🙏
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan embunsuci memberi reputasi
auto liat poto serabi, lapar.😂
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan suciasdhan memberi reputasi
OMG!!! plos twit-nya kereeennn 😍😍😍😍
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan suciasdhan memberi reputasi
Seeeeeepppppppp
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sekar2ahayu dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Jangan lupa, walaupun manjangin thread juga bagikan ke Medsos ye
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan suciasdhan memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post bekticahyopurno
Siap, Kak Terima kasih
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
numpang ngakak🤣🤣🤣
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sekar2ahayu dan 2 lainnya memberi reputasi

You're My Destiny

Penantian Tiada Akhir

Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber:
gambar di sini

“Sudah, Rin, nggak usah ditungguin lagi, ikhlaskan. Mas-mu sudah tenang di sisi-Nya.” Bu Ranty menatap iba putri kesayangannya yang masih termenung berjam-jam menatap senja dari jendela rumah.

“Ibu jangan bicara begitu. Aku yakin Mas Arya suatu saat pasti pulang.” Rintan mulai terisak, matanya berkaca-kaca. Pandangannya masih terpaku, lurus menatap senja.

“Rin, tujuh tahun tanpa kabar, orang tua Nak Arya juga sudah ikhlas, putranya telah tiada. Saatnya kamu membuka mata dan hatimu, kamu berhak untuk bahagia, walau pun itu dengan lelaki lain. Ibu yakin, Mas-mu di alam sana ikhlas, ikut senang jika kamu berbahagia.”

“Cukup Bu, aku yakin dia suatu saat akan datang,” Rintan berlari menuju kamar. Air matanya mengalir deras, tak mampu dibendung. Hatinya seketika merasakan sakit, perih yang teramat sangat.

Ingatannya kembali pada kenangan saat Mas Arya tunangannya pamit dan berjanji akan kembali kemudian meminangnya menjadi istri. Janji inilah yang Rintan pegang hingga kini.
***
“Rin, alhamdulillah Mas diterima kerja di proyek daerah Kalimantan,” ucap Arya pada Rintan, gadis berkulit kuning langsat dan berlesung pipit yang sudah satu tahun ini menjalin kasih dengannya.

Seketika wajah Rintan muram. “Jadi Mas tega ninggalin aku di Jakarta?” Entah mengapa perasaan Rintan menjadi tak menentu.

“Rin, Mas sudah lama menantikan kabar gembira ini, Mas sangat ingin bekerja di sana, gaji nya kan lumayan, Rin. Dan nantinya dipakai buat masa depan kita juga.”

“Tapi kita bakal jarang bertemu ...,” lirihnya, penuh keraguan melepas sang kekasih merantau.

“Rin, walau pun Mas jauh, Mas akan tetap setia. Mas janji sepulang dari sana Mas akan melamarmu, kita nikah, Mas pasti kembali, tunggu kepulangan Mas di taman ini ya,” Arya mengelus lembut rambut sebahu tunangannya, berusaha menepis keraguan sang pujaan hati.

Rintan mengangguk, ia menyandarkan kepala di bahu Arya, berusaha mengusir gelisah dalam dada. Taman favorit mereka ini menjadi saksi akan janji yang diucapkan sang kekasih pada Rintan. Semilir angin sore menerpa wajah keduanya, menambah syahdu suasana.

Happy first anniversary, Rintan Sayang, I love you so much.” Arya berlutut di hadapan sang kekasih yang tengah duduk di bangku taman dan memberikan setangkai mawar merah padanya.

Debar di dada Rintan semakin menggebu, ia tersipu sekaligus bahagia diperlakukan demikian. Namun entah mengapa, ia tetap merasa gelisah, apa karena ke depannya jarak akan memisahkan mereka? Diambilnya mawar merah itu dari genggaman Arya, ia hirup dalam-dalam wanginya. Semoga selamanya masih bisa menghirup wanginya, karena ini yang selalu mengingatkanku padamu, Mas, I’ll be missing you, gumamnya sembari menatap lekat wajah sang kekasih yang sebentar lagi akan LDR-an dengannya.

Seminggu sejak kepergian Arya, masih juga mengundang gundah di hati Rintan. Ia berusaha menepis perasaan resahnya, mungkin ia rindu pikirnya. Malam yang sunyi ini membuat rasa kangennya semakin menggebu. Rintan tengah membolak-balik majalah, tiba-tiba ia dikagetkan suara dering ponselnya. Muncul nama kontak Bu Darmi, calon mertuanya. Deg, seketika perasaan resah itu kembali mendera. Ada apa gerangan Ibu menghubungi malam-malam begini?

Nak, Rintan, yang sabar ya. Kamu harus kuat, Arya kecelakaan, bus yang ditumpanginya masuk jurang, banyak korban yang belum ditemukan jasadnya, termasuk Arya.” Terbata-bata suara dari seberang sana berusaha tegar menyampaikan kabar buruk itu.

Ponsel dalam genggaman Rintan jatuh. Seketika pandangannya terasa mengabur, perlahan semua menjadi gelap, sayup-sayup terdengar suara Ibu memanggil namanya.
***
Tujuh tahun sejak kabar tragis itu, Rintan masih saja tak bisa membuka diri untuk lelaki lain singgah di hatinya. Sebenarnya, ada beberapa yang berusaha mendekati, malah Ibu pun pernah beberapa kali menjodohkannya, tetapi tetap ia bergeming pada pendiriannya. Entah mengapa, ia selalu punya keyakinan, Mas Arya itu masih hidup. Kekasihnya itu berada di suatu tempat, baik-baik saja, dan akan menepati janjinya untuk pulang. Baginya, Mas Arya itu menjadi satu-satunya yang mampu mengisi duka lara sejak ayahnya berpulang. Rintan yang sangat dekat dengan sosok sang Ayah, begitu terpukul mendapati ayahnya telah tiada. Arya-lah yang setia menghibur, membuat ia bangkit dari keterpurukan.

Hubungannya dengan orang tua Arya pun saat ini masih tetap erat. Ia sudah menganggap kedua orang tua Arya layaknya Ayah dan Ibunya sendiri. Meskipun mungkin akhirnya ia tak bisa menjadi menantu di keluarga itu, namun setiap pagi sambil berangkat kerja, ia selalu menyempatkan mampir dan membawa makanan. Sore harinya sepulang kerja, ia pergi ke taman favorit Arya dan dirinya. Di sana ia menghabiskan waktu hanya sekedar duduk berlama-lama, mengenang kebersamaannya dengan sang kekasih. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap Arya datang menemuinya di tempat favorit mereka, seperti janji Mas Arya yang sempat terucap. Entahlah, walau pun orang-orang percaya Arya telah tiada, tetapi ia sangat yakin, pujaannya itu masih ada. Suatu saat akan pulang, kembali menemuinya, menepati janji yang telah terucap.

Pagi ini Rintan telah bersiap berangkat kerja. Ia membawa dus berisi bolu pandan kesukaan Ibunya Arya. Ini hal rutin yang selalu ia lakukan sebelum berangkat kerja, mampir ke rumah Arya, bercerita dengan Ibu Darmi tentang masa kecil Arya, atau sekedar membuka-buka album foto dengan wajah Arya terpampang di sana. Aktivitas ini bisa membuat kedua wanita itu tertawa dan menangis bersama.

Sesampainya Rintan di halaman rumah Arya, langkahnya terhenti sejenak. Gadis itu menghela napas, melihat sekeliling. Dadanya terasa sesak.

Betapa banyak kenangan manis bersamamu, Mas, mana mungkin aku bisa lupa, ia bersenandika.

Assalamu alaikum, Bu, ini Rintan.” Berkali-kali ia mengetuk pintu, tetapi tak ada sahutan.

Dari balik pintu yang masih ditutup rapat, terdengar isakan Bu Darmi, “Rintan, sudah, Nak. Ibu mohon jangan ke sini lagi, lupakan Ibu, lupakan juga Arya, ia telah tiada. Kamu berhak bahagia, Nak, jalanmu masih panjang. Ibu mohon, jangan datang lagi.”

“Bu, memangnya aku salah datang ke mari?”

“Iya, Nak, ini hanya akan membuat Ibu semakin teringat Arya. Ibu juga kasihan padamu, Nak. Sampai kapan kamu akan menyimpan harapan semu? Berhenti meyakini Arya masih ada, dia sudah tenang di sana, Ibu juga sangat kehilangan dia, Nak. Namun Ibu ikhlas, Allah lebih sayang padanya. Terimalah kenyataan, walau itu pahit, saatnya kamu melanjutkan hidup.”

Rintan berbalik dan berlari menjauh dari halaman rumah Bu Darmi. Dari balik jendela, wanita paruh baya itu menatap kepergian Rintan dengan sedih. Hatinya teriris pedih. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bermaksud menyakitimu, Ibu lakukan ini demi kebaikanmu ...,” ucapnya lirih.

Air mata Rintan membanjiri pipi. Sakit rasanya hati ini, ia berlari menjauh dari sana, mood nya untuk berangkat kerja seketika hilang. Gadis itu berbalik arah menuju taman kota, menumpahkan segala luka hatinya di sana.

“Mas ..., kumohon datanglah, aku yakin kau masih ada. Aku percaya, kau lelaki yang tak pernah ingkar, kau akan menepati janji, iya, ‘kan? Kau akan datang ke taman ini menemuiku ....” Rintan mulai terisak, bulir bening membanjiri pipinya.

Menjelang malam, ia pulang ke rumah. Dengan langkah gontai, ia masuk kamar, mengurung diri, hal yang selalu ia lakukan saat ia merasa tak berdaya. Ibu menyaksikan langkah gontai putri semata wayangnya itu dengan tatapan sedih, tak tega untuk mengutarakan tanya. Ia tahu saat ini perasaan putrinya tengah hancur.
***
“Mau ke mana, Rin, pagi-pagi begini sudah rapi?”

“Rintan mau ke taman Bu, sekalian jogging.” Rintan mengikat tali sepatunya, bersiap untuk berangkat. Gadis itu mengenakan setelan trening biru langit, menambah ayu parasnya.

“Rin, mau apa kamu ke sana? Masih tetap menunggu Arya datang? Sampai kapan sih kamu akan terus-menerus seperti ini? Mumpung hari Minggu, mending temenin Ibu arisan yuk, anaknya teman Ibu ada yang mau kenalan sama kamu.”

“Ibu, udah deh, ini bukan zaman Siti Nurbaya.” Gadis itu memutar kedua bola matanya, seraya menghela napas berat, kesal.

“Rin, Ibu cuma kasihan sama kamu. Sampai kapan kamu tetap menanti Arya-mu yang tak kunjung datang itu? Kamu mau seumur hidup nggak nikah-nikah?”

“Ibu, salahkah Rintan yang memiliki keyakinan kalau Mas Arya itu masih hidup?”

“Ya, ampun, Rin, sudah delapan tahun. Kamu masih tetap percaya dia masih ada?”

“Iya, Bu, Rintan sangat percaya, kecuali kalau jasadnya sudah benar-benar ditemukan tak bernyawa, baru Rintan percaya ia tiada.” Rintan mencium takzim punggung tangan sang Ibu kemudian melangkah ke luar.

Ibu menatap punggung putri kesayangannya dengan mata berkaca-kaca. Langkah gadis itu semakin menjauh. Entah apa lagi yang harus dia lakukan untuk menyadarkan putrinya agar bisa ikhlas menerima kenyataan.

Sesampainya Rintan di taman, ia duduk di bangku tempat dulu dirinya dan Arya sering menghabiskan waktu bersama. Gadis itu menghela napas berat, andai kau menemaniku di sini, Mas. Sungguh, aku rindu.

Satu-persatu air mata Rintan luruh. “Happy eighth anniversary, Mas. Kalau Mas ada di sini, pasti bawain aku cokelat sama setangkai mawar merah, terus malamnya ada kejutan candle light dinner. Mas, sungguh, aku kangen kebersamaan kita.” Rintan tergugu. Bahunya berguncang karena tangisnya kini mulai pecah. Gadis itu tak mampu membendung rinai yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Selamat hari jadi yang ke delapan, Rintan Sayang. Ini untukmu.” Terdengar suara seseorang yang sudah sangat Rintan kenal, berasal dari arah belakang.
Gadis itu berbalik dan betapa terperanjatnya Rintan, tak menyangka dengan sosok yang selama ini sangat dirindukan, kini hadir di hadapannya. Tubuh Rintan bergetar, merasa tak percaya, seolah ia sedang berada di alam mimpi.

“Ya, Allah, Mas Arya ....” Hanya itu yang mampu terucap dari bibir mungilnya. Ia menghambur ke pelukan lelaki yang sangat dicintainya itu.

Lelaki itu memakai kruk. Tumbuh cambang di sekitar dagunya. Rambutnya agak sedikit gondrong. Penampilan Arya sekarang tampak lebih tua dari usianya. Tangan kanannya menggenggam setangkai mawar merah. Arya biarkan sang pujaan tergugu dalam pelukannya.

“Mas, ke mana saja selama ini? Mas tega membiarkanku menunggu selama delapan tahun tanpa kabar?” tanya Rintan dengan suara bergetar di sela-sela isak tangisnya.

“Maafkan aku, Rin. Kecelakaan itu mengakibatkan kedua kakiku harus diamputasi karena sebagian badan bus menimpa kakiku. Aku selama ini dirawat oleh keluarga yang baik hati di Kalimantan sana. Mereka yang mengurus ke rumah sakit, hingga aku berangsur membaik. Maaf aku tak buru-buru pulang. Aku ... aku takut, Rin ....”

“Takut apa, Mas?” Rintan menatap lekat wajah sang pujaan dengan pandangan heran.

“Aku takut kamu melihat keadaanku seperti ini, kamu nggak mau menerimaku lagi. Sempat aku berpikir untuk melepasmu, kamu berhak bahagia dan memiliki masa depan yang baik dengan lelaki normal. Bukan dengan lelaki cacat sepertiku.” Nada bicara Arya bergetar. Netranya mulai berkaca-kaca.

“Mas, selama ini aku selalu setia menantimu. Setiap sore sepulang kerja aku selalu mampir ke taman ini. Berharap Mas datang memenuhi janji. Mas, walau pun semua orang bilang Mas sudah meninggal, hati kecilku selalu membisikkan bahwa Mas masih hidup. Dan, alhamdulillah keyakinanku terbukti. Bagaimana pun keadaanmu, Mas, hati ini hanya milikmu, Mas adalah takdirku. Aku menerimamu apa adanya Mas, karena bahagiaku hanya bersamamu.”

Bergetar Arya mendengar penuturan Rintan. Debar di dadanya kian berpacu. “Jadi masih maukah kamu menjadi istriku, Rin? Walau pun keadaanku begini?”

Rintan mengangguk mantap. Ia semakin mempererat pelukannya. Gadis berlesung pipit itu benar-benar bahagia. Momen inilah yang paling dinantikannya sejak lama. Begitu pun Arya, kebahagiaan membuncah di dadanya, ia merasa bersyukur memiliki kekasih yang begitu tulus mencintainya. Terbukti, walau ia tak lagi seperti dulu, Rintan tetap membuka hati menerimanya kembali.

Ciwidey, 23 Januari 2020
Suci Rahayu

Baca cerpen lainnya di sini:

Indeks Link
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Khadafi05 dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan
Lihat 1 balasan
yuk mampir, ada cerita baru nih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sekar2ahayu dan 4 lainnya memberi reputasi
Halaman 2 dari 6


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di