CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Bersemi di Kedai Serabi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e168d6f8d94d05c434cb242/cinta-bersemi-di-kedai-serabi

Cinta Bersemi di Kedai Serabi [Cerpen]

Kumpulan Cerita Romantis Bikin Baper

Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber: gambar di sini

Sepagi ini kedai Mak Otih sudah penuh sesak. Serabi buatan Mak Otih memang yang paling terkenal di desa Cipedes ini. Penganan yang terbuat dari campuran tepung terigu yang gurih dan air kelapa, banyak diburu oleh warga desa ini dan menjadi alternatif pilihan untuk sarapan. Cara memasaknya yang masih tradisional—menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat serta kayu bakar di bawahnya untuk mematangkan serabinya—membuat serabi ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Varian serabinya hanya dua macam, yaitu topping oncom sangrai untuk rasa asin, dan serabi disiram kuah gula merah atau kinca untuk yang rasa manis. Bahkan, untuk serabi topping oncom bisa ditambahkan telur agar rasanya semakin gurih.

Sopi mengamati tangan Mak Otih yang menyendok adonan serabi ke dalam wajan tanah liat dengan cekatan. Adonan yang masih cair itu kemudian ditaburi oncom sangrai. Asap mengepul dari sana. Aroma serabi yang hampir matang membuat gadis itu menelan saliva berulang kali. Perutnya semakin keroncongan. Terbayang di mulutnya rasa legit kuah kinca bercampur dengan kue serabi yang gurih, lezat rasanya.

Empat orang pemuda iseng mulai melirik nakal ke arah Sopi yang terlihat cantik. Salah satu dari mereka mulai menggodanya.

"Hai, Neng geulis, sendirian aja nih. Boleh Akang temenin?"

"Akang mah mau langsung kenalan aja, boleh enggak?" Seorang pemuda lainnya mulai mendekati Sopi. Sementara dua pemuda yang lainnya hanya tertawa-tawa.

Sopi mulai jengah dengan gangguan dari keempat pemuda itu. Bahkan salah satunya yang tadi minta kenalan mulai berani mencolek lengannya. Segera saja Sopi menepis tangan jahil pemuda jangkung berambut keriting itu. Memangnya aku ini sabun colek apa? pikir Sopi, kesal.

"Widih, si Eneng meuni sombong ih. Belum tahu ya kita ini siapa? Kita teh F4, tapi bukan pemeran di drama Meteor Garden ya. Saya Firman, itu Fikri, Farid, dan Ferdi." Pemuda berkaus biru donker berlogo salah satu superhero terkenal di dunia, menunjuk ke arah ketiga temannya sambil ikut mendekat ke arah Sopi.

Sopi masih membisu, dalam hati ia geram dengan tingkah para pemuda itu. Perempuan di kedai ini kan banyak, kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? gumamnya.

Melihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, hendak berlalu dari kedai, keempat pemuda itu malah semakin gencar menggodanya.

"Mau ke mana Neng? Buru-buru amat. Kita kan belum saling mengenal. Tukeran nomor hp aja belum, udah mau pergi. Rumahnya di mana sih? Akang antar ya. Tenang, dijamin aman, selamat sampai tujuan." Pemuda berkaus hitam bergambar logo band Linkin Park mengejar Sopi dan menggenggam tangan gadis itu.

Sopi berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman tangan pemuda itu malah semakin kuat. Ia meringis kesakitan. Keempat pemuda itu tertawa puas.

"Heii, kalian! Lepaskan gadis itu. Belum tahu ya kalau dia itu pacar saya? Seenaknya main antar pacar orang. Yuk, Neng Akang antar." Suara seorang lelaki tampan berdandan ala Kabayan berhasil menghalau keempat pemuda itu. Mereka pun menjauh dari Sopi. Setelah berpamitan pada Emaknya yang tengah membalikkan serabi dari wadah, pemuda itu pun berjalan beriringan dengan sang gadis.

"Yuk, Neng. Enggak usah takut, saya mah bukan lelaki cunihin seperti mereka. Kalau mau jahil ke perempuan, saya selalu ingat sama Emak. Gimana kalau Emak juga digodain kayak gitu? Saya pasti marah besar," ucap lelaki itu setelah agak menjauh dari kedai.

Dalam hati, Sopi memuji ucapan pemuda di sampingnya yang sangat santun dan hormat memperlakukan ibunya. Yang jadi istrinya, sudah pasti akan diperlakukan dengan baik juga. Sopi malu sendiri, dan buru-buru menepis pikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Mereka berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama merasa canggung, tak ada yang berani membuka percakapan. Hanya sesekali mereka saling beradu pandang, kemudian sama-sama tersenyum dan menunduk, malu. Hingga tiba di tempat tujuan pun, mereka masih diam seribu bahasa.

Sementara itu, Pak Asep yang sedari tadi merasakan perasaannya tak enak, selalu terbayang wajah putri cantiknya. Rasa kuatir menggelayuti pikirannya, takut sesuatu menimpa Sopi. Sesekali ia menatap ke arah jalan, mencari sosok yang membuat hatinya gelisah. Tidak berapa lama, ia melihat gadis itu. Namun, ia tidak sendirian, seorang pemuda jangkung terlihat berjalan di sampingnya.

"Hei, pemuda, siapa kamu? Kenapa tampang anakku seperti ketakutan begitu? Hmm, mau macam-macam ya sama anak Jawara Pencak Silat ini? Hayu lah, Bapak mah enggak takut. Kita tandang di lapang sebelah!" Pak Asep sudah pasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang sosok yang terlihat sebagai ancaman bagi putri tersayangnya. Sopi dan Aden pun bengong.

Dengan kekuatan penuh, Pak Asep bersiap melayangkan pukulan ke arah pemuda tampan yang sedang berdiri di samping putrinya.

“Daddy—Daddy, calm down.” Sopi menghalangi serangan ayahnya dengan menggenggam tangan pria paruh baya itu yang sudah bulat terkepal dengan sempurna.

“Minggir, Sopi. Biar dia merasakan bogem mentah Bapak. Walau Bapakmu ini sudah tua, tapi Bapak masih kuat. Ayo sini, pemuda, lawan!” Pak Asep menghempaskan tangan Sopi yang menghalanginya.

“Pak Asep? Ini benar Pak Asep kan? Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu juga.” Aden mencium punggung tangan pria di hadapannya yang napasnya masih tak beraturan. Emosi memenuhi rongga dadanya. Kedua matanya memelotot ke arah pemuda itu.

“Apa-apaan kamu? Diajak tanding malah cium tangan? Nyalimu ciut, Jang?” Pak Asep menghempaskan tangan Aden dengan kasar.

“Bapak lupa ya? Ini teh Aden, putranya Mak Otih. Dulu waktu SD Aden kan belajar pencak silat dari Bapak. Wah senangnya masih bisa berjumpa dengan guru bela diri favorit Aden.”

Mendengar penuturan pemuda yang berdiri di hadapannya, perlahan-lahan emosi Pak Asep menurun. “Jadi, ini Aden? Masya Allah, meuni kasep. Maafkan Bapak yang terlalu kuatir dengan keselamatan putri Bapak satu-satunya. Maklum, sejak Ibunya meninggal, hanya dia yang Bapak miliki di dunia ini. Bapak enggak mungkin lupa, hanya tadi mah pangling aja, sampai-sampai enggak ngenalin. Kamu kan yang pernah ngompol, ketakutan karena Bapak bentak, hahaha. Terus kamu itu terkenal paling cengeng di antara murid-murid Bapak yang lain. Kesenggol sedikit saja nangis kejer.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak bekas murid pencak silatnya itu.

Aden tersipu malu sambil melirik gadis cantik di sampingnya yang sedang bengong menyaksikan percakapan antara dirinya dan Pak Asep. “Jadi, Eneng ini teh putrinya Bapak?” lanjutnya.

“Iya, ini namanya Sopi, anak Bapak. Hayu atuh masuk, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Sopi suguhkan makanan sama minuman.”

Sopi beranjak menuju dapur menyiapkan suguhan untuk sang tamu. Sementara itu Aden dan sang Ayah sudah duduk di kursi ruang tamu. Sesekali, Pak Asep melirik Aden yang mencuri pandang ke arah Sopi. Sepertinya pemuda itu tertarik pada putrinya. Sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki paruh baya itu. Sementara Aden, yang kepergok sedang curi-curi pandang, jadi salah tingkah. Hatinya mengakui perempuan itu memang cantik, hanya dandanannya saja yang menurutnya terlalu berlebihan alias menor. Andai gadis itu berdandan sederhana, aura kecantikannya akan terpancar alami. Tidak berapa lama, Sopi muncul dengan baki berisi dua gelas teh manis dan beberapa stoples berisi kue kering juga makanan ringan.

“Ayo—ayo dimakan, Den,” tawar Pak Asep setelah Sopi menaruh semua bawaannya di atas meja.

“Eh iya, ngomong-ngomong serabi pesanan Bapak mana?” Kali ini pandangan mata pria itu beralih pada Sopi.

“My mood is going down, Daddy. So maafkan Sovia yang tak jadi membelinya.”
Aden menatap heran gadis yang duduk di samping Pak Asep. Buset, bukan hanya dandanannya yang lain, cara bicaranya juga aneh, gumamnya.

“Kok bisa?” Kening Pak Asep berkerut. Tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putrinya barusan. Sejurus kemudian, lelaki itu manggut-manggut menyimak cerita putrinya.

“Duh, Den. Maafkan Bapak yang sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Terima kasih telah menyelamatkan putri Bapak." Sudah waktunya Sopi punya pendamping hidup, yang akan melindunginya dari marabahaya, gumam Pak Asep dalam hati sambil menatap lekat-lekat Aden yang sedang mencuri pandang ke arah wajah Sopi. Untung saja, pemuda ini baik hati, jadi dia tetap membiarkan Aden memandang wajah Sopi sampai puas. Kalau pemuda culas yang melakukannya, pasti sudah dia gibas tanpa ampun sampai kapok.
***
“Daddy, ini kopinya.”

“Terima kasih, Sopi.” Gadis cantik itu mengangguk dan beranjak hendak menuju kamarnya.

“Sopi, mau ke mana? Sini duduk dulu sebentar, Bapak mau bicara.”

“Daddy, Sovia mau ke kamar, belum beres merapihkan alis.”

“Bentar doang kok. Enggak nyampe lima belas menit.” Pak Asep menyeruput kopinya. “Sopi, kopi buatan kamu mengingatkan Bapak sama almarhumah Ibumu. Racikannya sama-sama enak. Rasa kopi dan gulanya seimbang, pas.”
Sopi tersenyum melihat Ayahnya yang begitu penuh penghayatan menyeruput kopinya, terlihat sekali pria paruh baya itu menikmati setiap tegukan cairan hitam itu yang masuk ke kerongkongannya.

“Jadi begini, Geulis. Kamu sekarang sudah besar. Kuliah pun sudah selesai.” Pak Asep menatap wajah putri tersayangnya sebelum ia melanjutkan bicara. Pria itu tampak memutar otak mencari kalimat yang pas untuk menyampaikan maksudnya pada Sopi. “Sudah saatnya Bapak melepasmu, Sopi,” lanjutnya.

“Maksud Daddy?” Sopi tercengang mendengar ucapan lanjutan dari Ayahnya. Dahinya berkerut, tak paham dengan arah pembicaraan sang Ayah.

“Begini, Neng. Maksud Bapak—kamu—sudah waktunya kamu punya pendamping hidup.”

“What? Jadi maksud Daddy Sovia harus segera married? Menikah begitu? No, Daddy!”

“Dengar dulu Sopi. Bapak sudah pikirkan matang-matang hal ini. Bapak ....”

“Tapi, Daddy. Sovia enggak mau berpisah dari Daddy.” Sopi mulai terisak.

“Jangan nangis atuh, Neng. Bapak kan jadi ikut sedih. Setelah menikah nanti Sopi boleh kok tinggal di sini. Lagian calon kamu juga tinggalnya deket-deket sini kok.” Pak Asep mengelus lembut punggung putri tercintanya itu.

“Memangnya siapa orangnya, Daddy?” tanya Sopi, heran. Keningnya berkerut, seolah mencari siapa sosok pemuda yang tinggal di dekat sini. Ia menggelengkan kepalanya, nihil. Tak satu pun wajah lelaki yang bisa terbayang di benaknya.

“Kamu mau kan Bapak nikahkan sama Aden?” Pak Asep malah balik bertanya.
Sopi terperanjat mendengar Ayahnya menyebut nama itu. “What? Daddy enggak salah jodohin Sovia sama dia? Orangnya ganteng sih, tapi dandanannya persis seperti si Kabayan. Jangan-jangan dia juga pemalas, sama seperti Kabayan itu.”

“Sopi, kamu ingat waktu dia melindungi kamu dari pemuda-pemuda yang mengganggu?” Sopi mengangguk. “Nah, Bapak rasa dia bisa menjaga kamu dengan baik. Kesan pertama melihat dia, Bapak yakin dia anak yang baik, tidak seperti kebanyakan pemuda lainnya.”

Sopi tertegun. Pak Asep membiarkan gadis itu hanya diam saja, mungkin putrinya sedang mencoba meresapi semua ucapannya. Hanya helaan napas gadis cantik itu yang sesekali terdengar.
Setelah hening beberapa saat, tak lama kemudian, Sopi pun buka suara, “Baiklah, Daddy, beri Sovia waktu untuk berpikir.” Gadis itu menyeret langkahnya menuju kamar, meninggalkan Pak Asep yang di hatinya tengah berharap sang putri mau menerima rencana perjodohan ini.
Satu jam berlalu. Namun, tak ada tanda-tanda Sopi keluar dari kamarnya. Pak Asep pun merasa heran. Ia mulai mengetuk pintu kamar Sopi.

“Sopi, Neng, sarapan yuk.” Tak ada sahutan. “Geulis, Bapak udah bikinin telor ceplok kesukaan kamu. Kita makan bareng yuk.” Tetap tak ada sahutan. “Sopi, lagi apa di dalam? Masih dandan atau lanjutin mimpi? Masa baru juga bangun udah tidur lagi.”

Karena tak terdengar juga sahutan dari Sopi, Pak Asep membuka pintu kamar yang ternyata tak dikunci oleh pemiliknya. Namun, betapa kagetnya Pak Asep saat ia tak menemukan putrinya di dalam kamar itu. Ia mendapati jendela kamar putrinya terbuka lebar.

“Sopi? Kamu di mana, Nak? Ini mah ngajak Bapak main petak umpet ya?” Pak Asep mulai berkeliling ke seluruh ruangan, tetapi tetap saja ia tak menemukan putrinya. “Duh, Sopi. Kamu teh ke mana atuh? Bapak jadi kuatir.” Pak Asep memutuskan kembali ke kamar Sopi, siapa tahu di sana dia bisa menemukan petunjuk. Netra Pak Asep jatuh pada secarik kertas di atas nakas yang berisi tulisan tangan Sopi.

Daddy, maaf, Sovia gak bermaksud bikin Daddy cemas. Sovia hanya kesal mendengar rencana Daddy. Biarlah Sovia bertemu jodoh Sovia dengan sendirinya. Dan Sovia akan menikah setelah benar-benar merasa siap. Don’t worry Daddy, saat Daddy membaca surat ini, Sovia sudah berada di rumah Grandma.

Setelah membaca surat itu, Pak Asep yang sedari tadi pikirannya kalut, kini merasa lega. Bergegas lelaki itu melangkah ke luar hendak menyusul Sopi ke rumah Mak Onah. Wanita itu tampak sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya. Ia merasa heran saat dari kejauhan tampak putranya sedang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Wanita itu pun menyuruh putranya masuk dan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Pak Asep.

“Heh, nyari apaan kamu teh? Tuh minum udah Emak ambilin. Kalau cemilan mah kebetulan lagi kosong.” Mak Onah memandang heran putranya yang mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumahnya.

“Mak, Sopi ada di sini?” Kembali Pak Asep mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di rumah Emaknya.

Kening Mak Onah berkerut, heran dengan pertanyaan putranya. “Kalian kan tinggal serumah, kok nanya Sopi ke Emak?”
“Jadi, Sopi enggak ada di sini?” Pak Asep malah balik bertanya. Wajahnya mulai terlihat panik. Ia pun bangkit dari duduknya.

“Mau ke mana, Sep? Ada apa sebenarnya?” Asep menyerahkan surat yang ditulis Sopi kepada Mak Onah. Sejurus kemudian wanita itu membacanya dengan saksama. Raut wajahnya tampak serius.

“Seharusnya sudah sejam yang lalu dia tiba di sini,” ucap Mak Onah pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

“Duh, Sopi teh ke mana atuh ya, Mak?” Hati Pak Asep semakin diliputi rasa kuatir. Peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Raut wajah Mak Onah pun sama-sama tegang, ikut merasakan kegelisahan yang sedang melanda putranya.

“Makanya, ini kan bukan zaman Siti Nurbaya. Kamu teh meuni seenaknya jodoh-jodohin Sopi.”

Pak Asep menyesali tindakannya, hingga membuat gadis itu pergi dari rumah. Kini entah di mana putrinya berada. Tak berapa lama, ia pun pamit untuk mencari putri kesayangannya. Namun, Mak Onah yang juga merasa sangat kuatir akan keberadaan cucunya, minta untuk ikut mencari. Akhirnya, mereka berdua berjalan menyusuri desa, berharap menemukan sosok cantik yang sangat dicintai.

“Sep, ngapain kamu bawa Emak ke kedai ini? Kamu belum sarapan? Kenapa tadi enggak makan di rumah Emak atuh?!” Mak Onah tampak kesal saat putranya membawa dia ke kedai serabi milik orang yang sangat dibencinya. Dulu, Mak Otih pernah berusaha merebut sang suami. Untunglah almarhum suaminya itu setia, sehingga tidak tergoda sedikit pun. Matanya menerawang, senyumnya terkembang ketika membayangkan sosok gagah perkasa sang suami yang mirip Gatotkaca.

Pak Asep memandang heran Mak Onah yang memasang muka cemberut. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Ibunya begitu membenci Mak Otih dan sama sekali tak mau makam kue serabi yang terkenal lezat ini.

“Assalamuaalaikum, Mak. Aden ada?” Pak Asep mencium takzim punggung tangan Mak Otih. Mak Onah memalingkan wajah melihatnya. Sebal.

“Waalaikumsalam, ada, sebentar ya, Den, Aden, ada yang nyari nih!” teriak Mak Otih. Tidak berapa lama, Aden pun keluar.

“Eh, Pak Asep, ada apa Pak?” Aden mencium tangan Pak Asep, kemudian ia hendak mencium punggung tangan Mak Onah, namun Neneknya Sopi itu tak membalas uluran tangan pemuda ganteng itu.

“Sep, Emak mah pulang aja ya, panas lama-lama berada di sini. Kabari Emak kalau Sopi sudah ditemukan.” Mak Onah melangkahkan kakinya lebar-lebar, bergegas meninggalkan kedai itu, diiringi tatapan bengong Pak Asep dan pandangan heran Aden juga Mak Otih.
“Maafin Emak saya, ya. Beliau lagi sakit gigi, jadinya agak sensitif begitu.” Pak Asep mencoba mencari alasan atas sikap Mak Onah.

Aden memandang heran ke wajah mantan guru pencak silatnya yang kelihatan tegang itu. Pak Asep menceritakan tentang kepergian Sopi dari rumah yang katanya mau minggat ke rumah Nenek, tetapi gadis itu tak diketahui ke mana rimbanya. Setelah pamit pada Mak Otih, mereka berdua pun berangkat menyusuri setiap sudut desa mencari keberadaan gadis cantik itu.
***
“Duh, Den, kita harus cari ke mana lagi ya? Belum terlihat tanda-tanda keberadaan Sopi. Kamu di mana atuh Geulis? Baik-baik aja kan di sana?” Pak Asep terlihat sangat cemas. Wajahnya membiaskan kelelahan. Namun, ia tepiskan rasa itu. Kuatir akan keadaan putrinya lebih besar dibandingkan apapun juga.

“Sabar, Pak, kita belum menyusuri seluruh ruas jalan desa ini. Udah Zuhur, Pak. Kita salat dulu di masjid itu yuk, sambil memanjatkan doa buat Neng Sopi juga.” Aden menunjuk sebuah mesjid besar yang terletak di ujung gang.

Pak Asep mengangguk lemah. Tidak berapa lama, mereka berdua sudah berbaur dengan orang-orang, khusyuk menunaikan salat Zuhur berjamaah di mesjid itu serta memanjatkan doa untuk Sopi.

“Den, kita istirahat sebentar di sini.” Pak Asep menenggak air mineral di dalam botol, kemudian ia menyodorkan satu botol lagi pada Aden. “Nih, minum dulu, Den.”

“Terima kasih, Pak. Oh, ya, boleh Aden tanya-tanya tentang Neng Geulis?” ucap Aden dengan nada ragu dan malu-malu.

“Tentu saja, biar lebih tahu tentang calon istrimu.” Pak Asep memandang wajah pemuda calon menantunya itu, yang raut wajahnya sedang tampak merah jambu itu.

Pipi Aden bersemu merah, hatinya berdesir aneh. “Pak, ngomong-ngomong sejak kapan Ibunya Neng Sopi meninggal?”

“Ibunya meninggal saat melahirkan dia. Makanya Bapak selalu berusaha membahagiakan dia, kasihan sejak kecil dia enggak merasakan kasih sayang seorang Ibu.” Netra Pak Asep berkaca-kaca. Sekelebat bayang wajah sang istri muncul di pelupuk matanya.

Aden manggut-manggut, “Lantas, Pak—maaf sebelumnya kalau Aden lancang, tetapi Aden penasaran sama dandanan juga gaya bicara Neng Geulis yang—maaf, terlihat aneh.”

“Hahaha, iya dia memang unik. Logat bicaranya dan dandanannya seperti itu sejak lulus kuliah jurusan sastra Inggris. Bapak juga enggak tahu dia dapat pengaruh dari mana.” Pak Asep tergelak membayangkan style dandanan dan gaya bicara putri semata wayangnya itu.
Oh, pantesan atuh si Eneng teh begitu. Sekali lagi Aden manggut-manggut.

“Makanya, Den, kalau memang kalian ditakdirkan berjodoh, Bapak titip Sopi ya. Selama ini Bapak belum maksimal membimbing dia, terutama dalam hal agamanya. Tolong, bimbing dia untuk lebih mengenal Islam.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak Aden.

Aden mengangguk. “Pak, udah enggak capek kan? Kita lanjutkan mencari Neng Sopi yuk.”

Pak Asep mengangguk, kemudian dua laki-laki itu beranjak dari teras mesjid. Berdua mereka melangkah meninggalkan mesjid, melanjutkan pencarian.
***
Baca cerpen lainnya di sini:
[Link DISINI[URL=]link di sini[/URL]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hannyharini dan 30 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan
Halaman 1 dari 6
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan
“Neng ... Neng, bangun Neng.” Sebuah suara membangunkan gadis cantik itu.
Sopi tak bisa menggerakkan badannya. Saat ia membuka mata, kedua tangannya sudah terikat pada sebuah kursi dengan posisi duduk di atasnya. Ia berusaha melepaskan ikatannya.

“Neng—Neng—Neng, tenang,” ucap seorang pemuda jangkung berambut keriting berusaha menenangkan Sopi.

“Siapa kamu? Kenapa aku ada di sini?” Sopi mengamati wajah pemuda di hadapannya. Gadis itu terperanjat, saat dia mengingat sesuatu. “So, ka—kamu, salah satu dari empat pemuda yang waktu itu menggangguku?”

Pemuda itu mengangguk, kemudian ketiga temannya yang lain muncul. Kembali Sopi bergerak-gerak berusaha melepaskan diri.

“Eneng, enggak usah takut. Kita berempat hanya ingin mengenal Eneng lebih dekat.” Tangan pemuda berambut lurus dibelah tengah mulai terulur, hendak menyentuh pipi mulus gadis itu.

“No—jangan macam-macam. Hellp! Toloong!” Gadis itu berteriak sekuat tenaga, berharap di luar sana ada orang yang mendengar lengkingan suaranya dan menolong dia dari sergapan keempat pemuda ini. Dia berasa menjadi gadis di sarang penyamun.

Mendengar suara teriakan, Pak Asep dan Aden berdua berjalan mengendap-endap ke arah sumber suara. Setelah agak mendekat, keduanya mengintip dari celah-celah bilik gedung tua bekas pabrik kerupuk jengkol yang beberapa tahun lalu ditutup karena bangkrut.

“Hei, lepaskan anakku!” Pak Asep masuk duluan, mengejutkan keempat pemuda itu. Salah satunya hendak menyerang Pak Asep, tetapi serangannya ditangkis oleh Aden. Perkelahian pun tak terelakkan antara Aden dan keempatnya, sementara Pak Asep melepaskan tali yang mengikat tangan putrinya.

Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi dari arah luar gedung . Keempat pemuda itu saling berpandangan. Kepanikan terlihat jelas di wajah mereka. Tak lama kemudian, keempatnya lari tunggang-langgang.

Aden memandang ke arah Sopi yang tengah tergugu di pelukan Ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba muncul di hatinya rasa sayang dan ingin melindungi gadis itu.

“Udah, Neng. Cup ... cup ... cup. Kamu aman sekarang.” Pak Asep memeluk dan mengelus-elus punggung putrinya, berusaha menenangkan ketakutan yang menyelimuti gadis itu.

“Kenapa Eneng bisa ditangkap oleh mereka?” tanya Aden setelah melihat gadis cantik itu sudah agak tenang.

“Ketika dalam perjalanan menuju ke rumah grandma, keempat orang pemuda itu menghadang Sovia, berusaha menangkap Sovia. Dengan sekuat tenaga, Sovia berusaha melarikan diri dari kejaran mereka.” Gadis cantik itu berhenti sejenak, mengambil napas. “Namun, Sovia terjatuh dan kepala Sovia terantuk batu. Semua kelihatan gelap. Pas Sovia membuka mata, Sovia sudah terikat di tempat ini.” Kembali ia tergugu, badannya gemetar. Pak Asep memandang iba pada putrinya yang tampak trauma itu.

Maafkan, Bapak, Nak. Tak mampu menjagamu dengan baik, desahnya.
Tiba-tiba, pandangan mata ketiganya silau oleh cahaya yang muncul dari pintu gedung tua itu. Tampak dua orang tengah berdiri di sana.

“Emak—Mak Otih? Jadi yang manggil polisi itu ....? Mana polisinya?” Pak Asep tercengang melihat pemandangan di hadapannya. Ternyata dua wanita tua itu yang datang. Mereka sedang melakukan tos di ambang pintu.

“Ini polisinya.” Mak Otih memperlihatkan sebuah mainan berbentuk mobil polisi yang bisa berbunyi menggunakan tenaga baterai. Kedua wanita tua itu tertawa bersamaan.

“Kok, Emak sama Mak Otih bisa tahu kami ada di sini?” tanya Pak Asep heran. Sopi dan Aden pun memandang mereka berdua dengan tatapan heran juga penasaran.
“Jadi gini ceritanya. Pas sampai di rumah, hati Emak enggak tenang. Kuatir sama keadaan cucu Emak. Lalu, Emak memutuskan datang kembali ke kedai untuk menyusulmu, Sep. Ingin ikut mencari Sopi. Ketika sampai di sana, Emak hanya bertemu dengan Otih.” Mak Onah memandang ke arah Mak Otih dan melemparkan sebuah senyuman. Dibalas oleh anggukan dan senyuman dari Mak Otih.

“Emak menyadari kesalahan Emak yang masih menyimpan dendam pada Otih. Emak pun meminta maaf padanya. Dia pun minta maaf pada Emak atas kekhilafannya yang terdahulu. Lalu, Otih memberi Emak serabi buatannya. Masya Allah, benar kata orang-orang, rasanya sungguh enak. Serabi dan campuran kincanya yang manis, menjadi perpaduan yang lezat di dalam mulut!" ujar Mak Onah panjang lebar, persis seperti juri masterchef yang sedang mengomentari masakan peserta. Sepasang netranya berbinar bahagia.

“Jadi Emak sudah berbaikan sama Mak Otih?” Mak Onah menjawab pertanyaan putranya dengan sebuah anggukan. Sejurus kemudian, wanita itu meminta Mak Otih untuk melanjutkan.

“Kami memutuskan untuk ikut mencari. Berdua kami menyusuri setiap ruas jalan. Ketika lewat ke pabrik tua ini, kami mendengar suara kalian. Kebetulan di dekat situ ada anak yang sedang main mobil-mobilan ini. Kita pinjem deh.” Mak Otih sekali lagi memperlihatkan mainan di tangannya. “Alhamdulillah, ide kita berdua berhasil membuat mereka kabur.” Semua tergelak mendengar cerita itu.

“Jadi, kapan kamu menikahkan Sopi sama Aden?” tanya Mak Onah.

“Enggak tahu, Mak. Asep sih terserah Sopi dan Aden saja. Kalian mau Bapak nikahkan? Marit? Mau kan?”

“Married, Daddy.” Gadis itu melengkungkan bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang membuat rona wajahnya semakin terlihat cantik.

“Iya deh itu maksudnya. Duh, lidah Bapak belibet, susah ngucapinnya. Gimana? Kalian bersedia?” Pak Asep memandang wajah Aden dan Sopi bergantian.
Aden dan Sopi mengangguk mantap diiringi ucapan hamdallah dari Pak Asep, Mak Onah, dan Mak Otih.

Suci Rahayu
Ciwidey, 09 Januari 2020

Baca cerpen lainnya:

Sehangat Bandrek Abah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan

Sehangat Bandrek Abah

Mitos Perang Bubat

Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber gambar:

gambar di sini

Namaku Muhammad Asep Musa. Aku orang Jawa Barat tulen, asli Sunda. Aku anak tunggal di keluargaku. Ayahku, Pak Cecep, berasal dari kota Tasikmalaya, sedangkan ibuku, Bu Euis, berasal dari Ciwidey, kabupaten Bandung. Aku menyebut ayahku dengan sebutan Abah, dan ibuku Ambu. Kami bertiga tinggal di Ciwidey, tanah kelahiran ibuku. Saat ini aku tercatat sebagai mahasiswa semester enam di salah satu perguruan tinggi di kota Bandung. Di kampusku, mahasiswa-mahasiswanya campur aduk, berbagai suku dari Sabang sampai Merauke ada, lho. Menurut teman-teman di kampusku, Suku Sunda memang orang-orang yang unik, tutur katanya lembut, menjunjung tinggi sopan santun dan adat, serta memiliki kosakata yang banyak. Dalam bahasa Sunda ada kata yang dipakai untuk diri sendiri, ada pula untuk orang yang usianya di bawah kita, serta untuk orang yang berusia di atas kita, ada bahasa kasarnya maupun bahasa halusnya. Contohnya saja, kata makan dalam bahasa Indonesia, di dalam bahasa Sunda, bisa disebut nyatu (sangat kasar dipakai untuk hewan), dahar (kasar), neda (halus, dipakai untuk diri sendiri), dan tuang (halus dipakai untuk orang lain. Ini salah satu contohnya, yang lainnya, masih sangat banyak. Pokoknya bahasa Sunda itu kaya akan perbendaharaan kata. Contoh lain kata-kata seperti tiseureuleu, tigebrus, tisoledat, titajong, tijengkang, tikosewad, atau tikusruk. Hayo, yang bukan orang Sunda pasti pada bingung ya, arti kata-kata yang disebut tadi itu apa, padahal dalam bahasa Indonesia semua kata itu mempunyai arti yang sama, yaitu jatuh, hanya dalam bahasa Sunda kata jatuh itu penyebutannya berbeda, tergantung cara jatuhnya.

Belum lagi ada penambahan kata atau imbuhan teh, mah, da, atuh, atau euy dalam berbicara, serta logatnya yang khas, aku sendiri dalam bercakap-cakap selalu ada sisipan kata-kata itu di setiap kalimat yang aku ucapkan. Itulah mengapa teman-teman di kampus memanggilku dengan sebutan Usa, yang mereka panjangkan menjadi Urang Sunda Asli, padahal kedua orangtua ku di rumah memanggil dengan sebutan yang sama, Usa juga, asal kata dari nama belakangku, Musa. Yang membuat aku bangga menjadi orang Sunda, teman-temanku bilang orang Sunda itu unik, sopan, ramah, murah senyum, lucu, serta humoris.
***
“Eheem… ada yang lagi curi-curi pandang nih rupanya,” ucap Zulfikar dengan suara khas Medannya yang lantang, seketika membuatku tersadar saat aku tengah memperhatikan dia.

“Kamu ini, Zul, bikin kaget saja,” jawabku sambil menundukkan pandangan, karena perempuan hitam manis yang sejak tadi kuperhatikan, sekarang tengah memandang ke arahku.

“Alah kau ini, tak usah berpura-pura lah, kau suka ya, sama si Lastri, gadis Jogjakarta itu kan?”

“Sssttt, sudah-sudah, kamu teh ngomongnya meuni sembarangan, saya teh kan jadi malu,” sambil menutup mulutnya dan menarik dia menjauh dari kantin kampus.

Kulirik sekilas padanya, dia sedang tersenyum manis menyaksikan tingkah kami berdua dan pastinya senyum dia itu dikarenakan mendengar ucapan Zulfikar yang lumayan keras tadi, sehingga berhasil membuat orang-orang yang sedang berada di kantin memandang ke arah kami. Sahabatku yang satu ini, kalau berbicara memang gak lihat tempat dan situasi. Aku kan jadi malu sama dia.

“Memangnya aku salah ngomong apa? Aku tahu Usa, kau itu jatuh cinta sama dia, sebagai lelaki, kau harus gentleman, berani mengungkapkan!” katanya berapi-api, setelah posisi kami agak jauh dari kantin.

“Iya, Zul, suatu saat nanti saya teh pasti menyatakan cinta sama dia, hanya saya mah saaat ini lagi nunggu waktu yang tepat,” jawabku.

“Bah, keburu diambil orang dia nanti kalau kau kelamaan bertindak.” Aku merenung mendengar ucapan sahabatku itu. Benar juga ya, aku harus segera cari cara untuk mendekati dia dan saat moment nya pas, aku akan langsung mengutarakan perasaanku.

Lastri, mahasiswi semester satu, adik tingkat namun dewasa. Gadis Jogja yang senyumnya manis, tutur katanya lemah lembut, membuat hatiku tak mampu berpaling darinya. Akhir-akhir ini wajah indahnya selalu terbayang di hari-hari yang kujalani. Setiap berjumpa, saat pandangan mata kami tak sengaja beradu, debar jantungku tak menentu, ya, aku telah jatuh cinta padanya, dan rasa ini bukan sekedar pemainan belaka, aku serius dengan perasaanku ini serta berniat meminangnya menjadi pendamping hidupku, calon ibu bagi anak-anak kami kelak.
***
Sudah tiga bulan lamanya aku dan gadis pujaanku ini menjalin kedekatan. Kami selalu pulang bareng setelah perkuliahan usai. Di Bandung dia tinggal di daerah Antapani, ikut dengan kakaknya yang sudah berkeluarga dan menetap di kota kembang. Seperti hari-hari sebelumnya, sore ini setelah perkuliahan usai, kami bersiap untuk pulang bareng. Aku mengajaknya makan kue serabi yang lokasinya berada di seputaran Setiabudhi. Dengan menaiki sepeda motorku, tidak berapa lama kami tiba di tempat yang dituju.

“Las, kapan kamu teh ngenalin aku sama bapak ibumu di Jogja?” aku mulai buka suara. Kuperhatikan air mukanya berubah seketika saat mendengar ucapanku.

“Kenapa Las, kok kayak yang sedih gitu? Ada yang kamu sembunyikan dari aku? Las, kamu teh jangan takut, aku mah serius sama kamu, mau jadiin kamu istri aku. Nanti minggu depan aku kenalin ke Abah sama Ambu ya. Lastri mau kan?”

“Iya, Mas, aku percaya sama sampeyan,” jawabnya singkat. Namun raut wajahnya masih tetap belum berubah.

“Kalau kamu percaya, kenapa atuh kayak yang ragu gitu, ada yang disembunyikan ya dari aku?” tanyaku menyelidik sambil menatap wajah manisnya.

“Nggak ada kok, mas, yo wis minggu depan aku mau Mas kenalan sama calon mertuaku,” katanya mantap, membuatku bahagia serasa terbang di atas awan.
***
Hari Minggu yang dinantikan, matahari bersinar dengan terangnya, langit Ciwidey berwarna biru cerah, secerah hatiku yang akan menjemput sang pujaan menemui Abah dan Ambu. Aku sudah pamit pada mereka, bilang mau ada urusan sebentar. Tak berapa lama, aku sudah melajukan sepeda motorku menuju ke tempat yang dituju, Antapani, menemui gadisku.

Sesampainya di sana, aku berpamitan dan minta izin pada kakaknya untuk membawa Lastri ke rumahku. Tidak lama aku menunggu di rumah kakaknya, karena Lastri sudah siap-siap dari tadi rupanya. Kami pun meluncur ke Ciwidey.


Setibanya di rumah, setelah mengucapkan salam, aku menghampiri Abah dan Ambu yang tengah menonton tv di ruang keluarga, sementara Lastri duduk di ruang tamu. Setelah berada di dekat Abah dan Ambu, aku bicara setengah berbisik kepada orangtua terkasihku,

“Abah, Ambu, ada yang mau Usa kenalkan,”

“Siapa, Usa?” tanya Abah.


“Mana orangnya?” Ambu ikut bertanya sambil celingukan.


Hayu ke ruang tamu, orangnya lagi duduk disana," jawabku.

Kami bertiga bersama-sama menghampiri Lastri yang sedang duduk di ruang tamu. Lastri tersenyum pada Abah dan Ambu serta bergantian mencium takzim punggung tangan mereka.

Euleuh-euleuh meuni geulis, namanya siapa, Neng?” Netra Ambu mengamati gadis yang berdiri di hadapannya, hingga membuat dia tersipu.

“Lastri, Bu,” jawabnya singkat, malu-malu.

“Temen kuliah Usa ini teh? Asalnya dari mana, Neng?” Abah ikut menginterogasi.

“Saya dari Jogjakarta, Pak,” jawabnya sambil tersenyum.

Alhamdulillah setelah beberapa lama suasana yang awalnya terlihat kaku, mencair dengan sendirinya. Kami mengobrol ngalor-ngidul, sesekali diselingi dengan candaan. Abah dan Ambu sepertinya memberi lampu hijau, lega rasanya hatiku.

“Mudah-mudahan langgeng ya, Neng sampai nanti menikah sama Usa,” kata Ambu, membuat wajahku bersemu merah.

Abah menambahkan, “Iya, Neng, Abah sama Ambu teh sudah semakin tua, ingin atuh cepat-cepat menimang cucu dari anak semata wayangnya ini.”

Lastri menanggapi ucapan Abah dan Ambu dengan tersipu malu. Kutatap wajah ayunya. Ada binar indah disana, terpancar dari kedua bola matanya. Bahagia membuncah dalam dada. Dia punya cinta dan harapan yang sama denganku.

Hari beranjak petang, aku pamit pada Abah dan Ambu untuk mengantarnya pulang.

“Sering-sering ya main kesini,” kata Ambu setelah Lastri bergantian mencium tangan Abah dan Ambu.

“Hati-hati di jalannya, ya Neng." Lastri mengangguk. "Hei, Usa, jalanin motornya pelan-pelan aja, jangan ngebut," lanjut Abah sembari memalingkan pandangannya ke arahku.

Lagu Best Day of My Life-nya American Author serasa menggema di pendengaranku, sebab hari ini adalah momen yang terindah bersama sang pujaan. Berharap ke depannya hari-hari kami akan lebih indah dari ini.
***
Hari ini pertama kalinya perkuliahan dimulai kembali setelah liburan semester yang hampir tiga bulan lamanya sehabis UAS. Aku sangat rindu pada pujaan hatiku. Gadisku ini selama tiga bulan pulang ke Jogjakarta menemui ayah ibunya. Aku melangkah dengan semangat karena ingin segera bertemu dengannya, pengobat kangen. Kulihat dari kejauhan, gadisku ini sedang duduk di pinggir lapangan kampus dan mengobrol dengan kawan-kawannya. Segera kuhampiri dia. Setelah aku agak mendekat, teman-temannya seolah mengerti. Satu-persatu, mereka membubarkan diri, meninggalkan kami berdua.

Perasaanku sedikit aneh, sikapnya berubah, dingin. Ada apa gerangan pujaan hatiku?

“Las, apa kabar?” Aku berusaha memancing.

“Baik, Mas,” jawabnya singkat tanpa memandang ke arahku.

“Aku kangen, Las."

“Hmmm." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Las kamu kenapa sih? Maaf kalau aku ada salah sama kamu, selama libur mungkin aku teh jarang ngabarin kamu. Aku sibuk bantuin Abah di kebun strawberry nya. Sungguh aku rindu Las."

“Nggak apa-apa kok, Mas, aku yang harusnya minta maaf. Aku nggak bermaksud menyakiti." Hening sejenak. Sesekali terdengar helaan napasnya. Berat. Aku semakin bertanya-tanya. "Tapi, Mas, aku mohon. Mulai sekarang dan seterusnya, kita berteman saja ya.”

Bagai tersambar petir, mendengar ucapannya barusan, aku tak percaya dengan kata-kata yang dia ucapkan. Dia beranjak pergi dari tempat duduknya.

“Las memangnya kenapa? Kita baik-baik saja, 'kan?” Aku berusaha mengejarnya.


“Buatmu baik-baik saja, Mas, tapi tidak buatku,” jawabnya mulai menangis.

“Loh memangnya ada apa, Las? Seharusnya kamu cerita kalau ada apa-apa, jangan disembunyikan. Kita sama-sama cari jalan keluarnya."

Dia menggeleng. “Ndak bisa Mas, ini terlalu sulit." Terdengar isakannya.

“Terlalu sulit bagaimana? Kita punya perasaan yang sama, 'kan? Memangnya salah? Cinta itu bisa jadi kekuatan untuk menghadapi rintangan seberat apapun. Kamu nggak percaya, Las, dengan kekuatan cinta? Ayo kita hadapi sama-sama, jangan menyerah begitu saja." Kugenggam jemari lentiknya, tetapi dengan sigap, ia menepisnya.

“Maafkan aku, Mas. Aku bilang Ndak bisa ya Ndak bisa." Gadis itu berlalu pergi, meninggalkan aku dengan berjuta tanya muncul dalam benak. Masih sempat kulihat punggungnya yang berguncang. Kian lama kian menjauh, lalu menghilang di belokan koridor kampus.

“Aku nggak habis pikir, Zul. Hubungan kita baik-baik saja, terasa begitu indah, dan aku yakin suatu saat kami bisa sampai ke pelaminan, dia punya rasa yang sama denganku. Namun, semuanya sirna sekejap saja, sepulang dia dari Jogjakarta, dia malah mutusin aku,” curhatku pada sahabat setiaku, Zulfikar.

“Hei sobat, kau itu laki-laki, janganlah kau menyerah begitu saja. Coba kau cari tahu!" ujarnya berapi-api. "Kalau aku boleh tebak, mungkin dia nggak diizinkan pacaran sama kau, Usa. Tapi tenang, banyak jalan menuju Roma, kau justru harus buktikan sama orangtuanya kalau kau itu nggak main-main, mau sungguh-sungguh bahagiakan anaknya.”

“Apa iya orangtuanya begitu? Selama ini dia nggak pernah cerita.”

“Yah mungkin saja, dia menyembunyikannya karena nggak enak hati bicara terus-terang sama kau,” jawab sahabatku sambil mengangkat bahu.

Entahlah, pikiranku masih kacau, belum mampu berpikir jernih, tapi aku tak akan menyerah, aku akan cari tahu dan memperjuangkan cintaku. Lastri, kau pasti jadi milikku.
***
Hari Sabtu ini, tidak ada perkuliahan. Aku hanya duduk-duduk santai di teras rumah sambil googling. Tiba-tiba netraku tertuju pada judul sebuah artikel yang menarik. Suku Sunda Dilarang Menikahi Suku Jawa? Ternyata Alasannya…, begitulah bunyi judulnya. Aku klik tautannya dan mulai berselancar membaca kalimat demi kalimat dalam artikel tersebut.

Di situ menyebutkan ada beberapa mitos seputar larangan tersebut, diantaranya, adanya anggapan bahwa suku Jawa lebih tua/lebih mulia dari suku Sunda, jadi kalau wanita Jawa nikah dengan pria Sunda , masa memilih lelaki yang derajatnya lebih rendah dari perempuannya? Jika dipaksakan menikah, maka pasangan ini akan mengalami kesengsaraan. Mitos yang kedua, ada hubungannya dengan sejarah, yaitu tentang perang Bubat, dulu Gajah Mada berhasil membawa Majapahit menaklukkan dan menguasai seluruh Asia Tenggara, kecuali Pakuan Pajajaran. Kesulitan itu diakali oleh Hayam Wuruk dengan menikahi putri Prabu Siliwangi, Dyah Pitaloka, akhirnya Pakuan Pajajaran pun bisa dimilikinya. Tapi menurut Gajah Mada, dengan cara pernikahan ini, maka derajat Majapahit akan berada di bawah Pajajaran, jadi agar derajat Majapahit tetap diatas, Pajajaran harus ditaklukkan secara militer. Saat rombongan Dyah Pitaloka, tiba di lapangan Bubat, rombongan itu semula tahu nya akan disiapkan untuk menikah, Gajah Mada pun menjebak mereka dan memerangi mereka, hingga akhirnya Dyah Pitaloka memilih bunuh diri. Mungkin karena hal inilah para sesepuh Sunda jadi dendam, dan timbullah mitos larangan tersebut.


Aku tersenyum penuh arti, seolah menemukan sebuah jawaban, mungkin inilah sebabnya Lastri memutuskan berpisah dariku. Segeralah aku meluncur mengambil sepeda motorku, menemui sang kekasih hati. Inilah saat yang tepat untuk memperjuangkan kembali cintaku. Aku sudah menyiapkan argument yang kuat, kalau pun harus berhadapan dengan orangtua Lastri, Insya Allah siap menghadapi dan akan berusaha meyakinkan mereka. Bismillah, doaku dalam hati.

“Jadi karena mitos ini kamu memutuskan hubungan kita Las?” tanyaku sesampainya di rumah kakak Lastri.

“Maafkan aku, Mas. Dari awal perkenalan kita, aku sudah cerita sama Bapak dan si Mbok. Dan saat mereka tahu Mas orang Sunda, mereka menentang hubungan kita, salah satunya karena mitos itu. Aku sebenarnya sayang sama kamu Mas, tapi aku ndak bisa membantah mereka Mas, mereka orang tuaku. Ora ilok kalau anak melawan orangtua, durhaka namanya.”

“Las, kita bicara di luar saja yuk, biar suasananya santai." Dia mengangguk dan masuk ke rumah. Tidak berapa lama dia keluar dengan menenteng tas kecil di tangannya.

Kami pun meluncur dengan sepeda motorku. Aku mengajaknya ke salah satu kedai minuman hangat khas di Ciwidey. Setibanya disana, kami pun memesan dua gelas minuman hangat itu. Setelah pelayan menyodorkan minuman itu, dia pun meneguknya sedikit.

"Enak, Mas, minumannya hangat, namanya apa ini?” Netranya mengamati minuman dalam gelas di genggamannya. Tak berapa lama indera penciumannya mulai membaui minuman itu.

“Ini namanya bandrek abah, minuman khas Ciwidey. Tapi, minuman ini bukan punya abahku, hanya nama mereknya saja yang begitu."

Dia tertawa mendengar jawabanku.

“Minuman ini terbuat dari campuran gula aren, lada, jahe, dan empah-rempah lain, kalau ditambah susu lebih enak rasanya," lanjutku.

“Aku nanti mau bawa buat oleh-oleh ke Jogja, Mas. Si Mbok pasti suka." Seketika wajahnya berubah murung.

“Kenapa Las, soal mitos itu? Aku akan berusaha meyakinkan bapak sama ibumu bahwa aku nggak main-main sama kamu. Kita punya perasaaan yang sama dan patut kita perjuangkan. Kita buktikan setelah menikah nanti, kita akan bahagia. Kamu mau kan berjuang sama-sama?” Tanganku menggenggam kedua jemarinya.

“Iya, Mas, aku mau," jawabnya mantap, disertai sebuah anggukan lembut.

“Kamu percaya sama aku, kan Las? Cintaku sehangat bandrek abah ini, lho."

Tawanya yang renyah memperlihatkan sebaris geligi yang rapi, membuatku semakin bersemangat untuk memperjuangkan perasaan kami ini.
***
Singkat cerita, aku pun memberanikan diri menemui bapak dan ibunya Lastri di Jogjakarta. Alhamdulillah aku berhasil meyakinkan mereka, hanya dengan ayat Al Qur’an dan Hadits tentang memilih pasangan.

Tak lupa juga aku memohon pada Allah agar dibukakan pintu hati kedua orang tua Lastri agar mau menerimaku. Alhamdulillah, Allah maha pembolak-balik hati manusia. Akhirnya bapak dan ibu Lastri menerima pinanganku.

Hari yang paling membahagiakan pun tiba. Akhirnya aku dan Lastri bersanding di pelaminan. Banyak yang hadir di pernikahan kami, memberi doa restu untuk rumah tangga yang akan kami jalani bersama selamanya.

Abah dan Ambu tampak sangat bahagia melihat kami akhirnya bersatu, begitu pula dengan bapak dan ibunya Lastri, kebahagiaan terpancar dari senyuman yang selalu tersungging di bibir mereka.

Tak terasa sudah tujuh tahun lamanya aku dan Lastri mengarungi biduk rumah tangga dan dikaruniai dua orang anak, seorang anak perempuan berumur tujuh tahun dan satu lagi anak laki-laki berumur hampir dua tahun. Kami menjalaninya dengan sangat bahagia, kami sangat bersyukur atas karunia yang Allah berikan untuk keluarga kecil kami.

Ciwidey, 11 Januari 2020
Suci Rahayu

Indeks Link
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan

Namaku (Entin) Kartini

Menggapai Asa, Meraih Cita-Cita

Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber: gambar di sini

Namaku Entin. Nama lengkapku Entin Kartini, aku lahir di Bandung, tepatnya di daerah Jalan Pungkur. Aku tinggal bersama ibuku, Bu Dewi, karena ayahku sudah lama meninggal sejak usiaku menginjak lima tahun. Dari cerita ibuku, Ayah pria yang sangat baik, beliau lembut namun tegas untuk urusan kedisiplinan, terang saja beliau begitu karena profesinya seorang ABRI. Ibu dan almarhum Ayah sangat mengagumi pahlawan wanita dari Jepara, R.A Kartini, makanya mengapa nama belakangku demikian, harapan mereka aku bisa sehebat pejuang emansipasi wanita tersebut.

Rumahku hampir dekat dengan terminal Kebon Kelapa, yakni tempat persinggahan terakhir beberapa angkutan kota dari berbagai jurusan di kota Bandung. Selain itu, daerah tempat tinggalku dekat dengan alun-alun kota. Dulu, daerah ini tidak begitu ramai, tapi seiring berjalannya waktu, banyak pusat perbelanjaan yang dibangun, sehingga menjadi hiruk-pikuklah keadaannya, lengkap dengan macetnya pula.

Di daerah alun-alun terdapat pula Masjid Raya Bandung, yang sekarang sudah semakin bagus bangunannya, dilengkapi juga dengan rumput sintetis tempat orang-orang berfoto atau bermain bagi anak-anak. Setiap akhir pekan atau liburan sekolah maupun hari besar, daerah alun-alun kota ini penuh sesak oleh pengunjung dari berbagai daerah.

Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber: gambar di sini

Ini lho masjid yang aku maksud, adem ya.

Kini usiaku menginjak delapan belas tahun, aku baru saja lulus dari sebuah SMA Negeri di kota tercinta ini. Sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan pendidikan ke Sekolah Keguruan. Aku sangat ingin menjadi guru sekaligus menyalurkan hobiku, menulis. Untuk itu aku berencana masuk ke jurusan pendidikan bahasa Indonesia, namun belum kuutarakan maksudku pada Ibu.

“Entin, sini dulu sebentar, Ibu mau bicara,” panggil ibuku di suatu sore yang cerah saat kami tengah duduk santai di beranda rumah.

Inilah saatnya, gumamku dalam hati. Aku segera menggeser posisi dudukku mendekati Ibu. “Iya Bu ada apa?” Netraku terpaku keheranan melihat wajah Ibu yang tampak serius.

“Selamat atas kelulusanmu ya, Nak. Tapi sebelumnya Ibu mohon maaf jika ....” Kalimat Ibu menggantung, kulihat raut wajahnya berubah muram.

Aku hanya terdiam, menunggu Ibu melanjutkan ucapannya. Hening sesaat, terdengar suara Ibu berdehem.

“Ibu tahu, kamu pasti sangat ingin melanjutkan pendidikan kamu ke universitas, seperti kebanyakan teman-teman SMA kamu, hanya saja ...." Kembali Ibu tidak melanjutkan perkataannya. Terdengar helaan napas Ibu yang terasa berat. Sepertinya beliau tidak tega melanjutkan ucapannya.

“Hanya saja apa Bu?” tanyaku memecah keheningan, dan ingin segera menghalau rasa penasaran.

“Kamu tahu, 'kan Ibu hanya seorang juru masak di rumah makan milik Ibu Imas, sementara ayahmu tidak punya pensiunan. Untuk masuk ke universitas bukanlah biaya yang sedikit, Entin, Ibu ....” Kedua netranya sayu, bulir bening menganak sungai di sana. Namun aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Ibu.

Aku memeluk Ibu yang mulai terisak. “Sudah Bu, tidak apa-apa. Nggak usah Ibu pikirkan. Entin mau bantu Ibu saja di rumah makan tempat Ibu bekerja, nanti setiap gajian, uangnya sebagian Entin tabung. Kalau sudah terkumpul, baru Entin memikirkan kuliah,” kataku berusaha menghalau kegelisahan Ibu.

Ibu mendongakkan kepala, menatapku, mengamati kesungguhan perkataanku barusan. “Jangan, Nak, biar Ibu saja yang bekerja, ini sudah kewajiban Ibu menggantikan almarhum ayahmu mencari nafkah.”

“Nggak apa-apa Bu, ini kan untuk sementara, sampai uang Entin cukup untuk biaya kuliah,” kataku mantap.

Ibu memelukku erat, tangisnya pecah. Aku balik memeluknya dan mengusap-usap lembut punggung wanita terkasihku yang umurnya sudah setengah baya ini.

Batinku sendiri pun bergejolak, tetapi aku tak ingin menunjukkannya di depan Ibu. Aku tak mau ia sedih dan terbebani memikirkan hal ini. Terpaksa aku harus mengubur dulu cita-citaku. Aku menghela napas, berusaha sedikit mengusir kegalauanku.

Ini hanya untuk sementara Entin, kamu harus kuat demi Ibu, kelak jika sudah berhasil mencapai impianmu kamu harus membahagiakan dia, batinku lirih.
***
Esoknya, aku ikut ke tempat Ibu bekerja. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, hingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja. Setelah lima belas menit aku dan Ibu berjalan, akhirnya sampailah kami di sebuah rumah makan khas Sunda yang terletak tidak jauh dari terminal Kebon Kelapa. Bangunannya sederhana, tidak seperti kebanyakan rumah makan yang sudah punya nama di kota Bandung ini. Namun, menurut cerita Ibu, rumah makan ini sudah membuka beberapa cabang di beberapa ruas jalan kota kembang ini.

“Assalamu alaikum." Aku dan Ibu hampir berbarengan mengucapkan salam.

“Waalaikum salam,” jawab seorang perempuan dari dalam rumah makan. Terdengar langkah kaki mendekati kami.

“Eh Bu Dewi, bawa siapa ini? Meuni cantik pisan!” ucap seorang perempuan seumuran Ibu, membuat pipiku bersemu merah. Aku langsung mencium punggung tangannya.

“Ini anak saya Bu Imas, namanya Entin, baru saja lulus SMA, kalau Ibu mengizinkan, dia mau bantu-bantu disini.” Ibu menjelaskan.

“Wah kebetulan sekali, pengunjung akhir-akhir ini semakin banyak, pegawai disini sampai kewalahan melayani." Nada bicara Bu Dewi tampak semringah. Kedua matanya berbinar indah. "Oh iya ngomong-ngomong Neng bisa masak kan?” tanya Bu Imas antusias.

“Panggil Entin saja Bu. Alhamdulillah saya bisa masak beberapa masakan khas Sunda. Semoga saja bisa terpakai sama Ibu," ujarku tanpa bermaksud pamer dan menyombongkan diri.

“Jangan merendah, Nak, Ibu percaya masakan kamu pasti enak. Soalnya Ibu kamu juga salah satu juru masak terbaik disini, kamu bisa mulai kerja hari ini ya." Beliau menggamit lenganku seraya mengajak masuk ke rumah makan miliknya.

“Alhamdulillah, terima kasih Bu." Bahagia rasanya, melamar kerja dan langsung diterima hari itu juga.

Semoga ini menjadi pintu rezeki aku untuk bisa kuliah nanti, harapku. Ibu yang berdiri di sampingku tampak tersenyum senang.
***
Tak terasa sudah sebulan lamanya aku bekerja di rumah makan ini. Alhamdulillah aku telah mendapatkan gaji pertama. Lumayan, aku sudah bisa membuka tabungan dari hasil jerih payahku sendiri. Ditambah lagi uang honor dari karya tulisku yang dimuat di beberapa majalah dan surat kabar, kumasukkan juga ke dalam tabunganku, agar jumlahnya semakin banyak. Alhamdulillah juga beberapa masakan khas Sunda yang kubuat, seperti gepuk, nasi liwet, nasi tutug oncom, dan soto Bandung, kudengar dari Bu Imas menjadi favorit para pengunjung.

Jujur, aku ingin segera mengenyam bangku kuliah, ingin mewujudkan cita-citaku yang terpaksa ditunda karena keterbatasan ekonomi. Kelak aku ingin membangun sebuah sekolah khusus untuk anak-anak dari kalangan tidak mampu, aku ingin membantu mereka untuk bisa mengejar cita-cita. Iba rasanya hatiku menyaksikan pemandangan anak-anak kecil bertelanjang kaki mengamen di trotoar jalan, sepertinya mereka terpaksa harus putus sekolah. Tatapanku menerawang ke langit-langit rumah makan, mimpiku terlalu tinggi, aku saja masih belum bisa menggapainya.

“Entin, kok melamun, ada apa? Cerita sama Ibu, siapa tahu Ibu bisa membantu.” Suara lembut milik Bu Imas membuyarkan lamunanku.

“Tidak ada apa-apa kok Bu,” jawabku singkat sambil melanjutkan pekerjaanku, membuat gepuk.

“Tidak apa-apa kok melamun, pasti ada yang sedang mengganggu pikiranmu ya? kamu nggak betah kerja disini?” tanya Bu Imas menyelidik.

Aku menggeleng mendengar pertanyaannya. “Saya betah kerja disini Bu, apalagi Ibu sangat baik pada saya, pada Ibu saya juga.”

“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk bercerita, anggaplah Ibu ini seperti ibumu sendiri. Oh iya ngomong-ngomong kenapa kamu nggak melanjutkan kuliah?” tanyanya.

“Tidak ada biayanya Bu, saya kasihan sama Ibu saya yang harus kerja banting tulang untuk menghidupi kami berdua. Makanya saya ikut kerja ingin mengumpulkan uang untuk biaya kuliah, ingin meringankan beban Ibu juga,” ceritaku panjang lebar.

Entah mengapa dengan Bu Imas aku bisa lebih nyaman untuk bercerita tentang keluh-kesahku dibanding dengan Ibu. Aku hanya tak ingin Ibu sedih memikirkanku dan nantinya terbebani.

Netra Bu Imas berkaca-kaca. Ia membelai lembut kepalaku yang tertutup jilbab biru. "Kamu anak yang baik, Nak, semoga cita-citamu dimudahkan oleh-Nya ya." Aku mengamini do’anya dalam hati.
***
Hari Minggu ini pengunjung rumah makan Ibu Imas lumayan ramai. Aku dibuat sangat sibuk karenanya. Tiba-tiba kulihat ada sesosok lelaki muda menghampiri Bu Imas dan mencium tangan wanita itu.

“Itu Rian, putra semata wayangnya Bu Imas yang memegang cabang rumah makan di Balonggede,” ucap Ibu seolah membaca pikiranku yang keheranan melihat lelaki itu. Sebab, selama aku bekerja disini, baru pertama kalinya melihat sosok lelaki itu. Bu Imas pun tak pernah cerita padaku mengenai putranya.

“Entin sini, kenalan dulu sama anak Ibu!” panggil Ibu Imas sembari melambaikan tangan ke arahku.

Bergegas aku menghampiri mereka, kemudian menerima uluran tangan putra bossku itu.

“Kamu Ekar, 'kan? Yang karya-karyanya ada di majalah dan koran itu? Aku suka sekali dengan karya-karyamu, membacanya mengingatkanku pada sosok pahlawan, R.A Kartini,” katanya antusias.

Aku hanya mengangguk dan terbengong. Dari mana dia tahu nama penaku dan karya-karyaku? Oh ya ampun, aku tepok jidat. Jelas dia tahu, dari biodata dan foto yang terpampang di setiap akhir karyaku.

“Jadi selain jago masak, kamu juga seorang penulis Entin? Hebat!” ucap Bu Imas sambil mengacungkan jempolnya, kemudian ia melirik ke arah putranya dan tersenyum penuh arti. Aku tak mampu menerjemahkan maksud senyuman Bu Imas itu.
***
“Entin sudah tidur?” tanya ibuku sambil mengetuk pintu kamarku dari luar.

“Belum Bu, lagi baca-baca buku,” kataku sambil membukakan pintu untuk Ibu masuk.

Ibu duduk di atas ranjang dan membelai rambutku. “Nggak kerasa kamu sudah besar ya, Nak, Ibu bangga padamu, kamu anak yang baik. Bakatmu banyak, memasak, menulis. Ibu minta maaf ya tidak mampu mewujudkan mimpimu untuk kuliah,” ucapnya mulai terisak.

“Sudah Bu, tidak usah dipikirkan, Entin bukan tidak akan kuliah. Suatu saat nanti Entin pasti kuliah, sekarang kan lagi proses Bu. Proses mengumpulkan dananya dulu." Kugenggam jemarinya erat sembari tertawa berusaha menghibur Ibu.

“Nak, kalau kamu ingin segera mewujudkan impianmu, ada seseorang yang akan mengabulkannya,” ucap Ibu di sela-sela isak tangisnya.

“Maksud Ibu?” Aku mengernyitkan dahi tak mengerti dengan ucapannya barusan.

“Semenjak perkenalan itu, Nak Rian menyukaimu, Nak, dan Bu Imas memang sering bercerita tentangmu. Jadi, Nak Rian bermaksud melamarmu, menikahimu,” Ibu menjelaskan keherananku dengan kalimat yang membuatku seperti tersambar petir.

“Apa Bu? Menikah? Entin masih ingin kuliah Bu, Entin tidak mau terkekang. Entin masih ingin mengejar cita-cita. Entin ingin jadi orang sukses biar bisa bahagiakan Ibu, biar Ibu nggak harus kerja keras lagi cari uang.” Aku mulai menangis dan bergidik membayangkan kehidupan setelah pernikahan. Akan ada yang mengatur hidupku, apalagi setelah punya anak, ribet, nggak bisa kemana-mana, apalagi kuliah.

“Nak, pernikahan itu tidak seseram yang kamu bayangkan, Ibu dulu juga menikah muda. Ibu menjalaninya enjoy saja, hanya pikiranmu yang membuat segalanya rumit. Belum dijalani kok pikirannya sudah bilang ribet. Ibu yakin kamu akan bahagia bersama Nak Rian. Ibu percaya Nak Rian bukan tipe lelaki yang suka mengekang.” Ibu berkata panjang lebar seolah memahami jalan pikiranku.

Hening sejenak. Aku dan Ibu larut dalam jalan pikiran masing-masing. “Keputusan Ibu serahkan padamu, Nak. Ibu tidak akan memaksa. Istikharah, mohon petunjuk, mintalah yang terbaik sama Allah. Tapi kalau Ibu jadi kamu, Ibu akan menerima pinangan Nak Rian, sekarang atau pun nanti kamu tetap akan menjadi seorang istri, toh tidak ada larangan menikah untuk yang kuliah kan? Dua-duanya bisa dijalani.” Ibu beranjak dan melangkahkan kaki dari kamarku.

Aku terdiam, tak mampu berkata-kata. Pikiranku kalut antara harus menerima atau menolak. Entahlah, saat ini aku tak bisa berpikir jernih, semuanya terasa buntu. Aku semakin bergidik membaca biografi R.A Kartini, beliau wafat di usia muda, 24 tahun, setelah melahirkan putranya. Aku nggak mau meninggal di usia muda, batinku lirih.
***
Untuk pertama kalinya aku jalan berdua dengan calon suamiku yang belum sepenuhnya hatiku bisa menerimanya. Kami makan di sebuah restoran di bilangan Dago. Sesekali dia melemparkan candanya yang kubalas dengan senyuman yang dipaksakan. Sepertinya ia bisa menangkap sikapku itu.

“Kamu kenapa Ekar, masih meragukan niat suciku? Atau ada yang mengganjal di hatimu? Ceritakan saja, mungkin bisa diatasi,” katanya sambil terus menyunggingkan senyum.

Aku bingung harus berkata apa, lidahku kelu. Aku tak ingin dia nantinya tersinggung dengan kejujuranku.

“Katakan saja Ekar, jangan merasa tidak enak. Biar bisa membuatmu lega,” ucapnya.

“Sebenaranya ... begini ... bukannya ... saya ....” Terbata-bata aku berkata. Tak tahu harus mulai dari mana, padahal di rumah tadi tekadku sudah bulat untuk mengucapkan semua uneg-uneg dalam hati.

“Tidak mengapa, katakanlah."

Aku menghela napas berat. Kukumpulkan segenap keberanian. Kedua telapak tanganku terasa dingin. Sesekali sudut mataku melirik ke arahnya. Ada perasaan tak nyaman menghampiri. Namun, tekadku sudah bulat. Aku harus mengutarakannya, agar dia tahu apa yang kurasakan.

“Sebenarnya, bukan saya menolak, hanya saja saya belum siap untuk menjadi seorang istri. Saya masih ingin kuliah, ingin mengejar cita-cita yang selama ini tertunda karena tak ada biaya, makanya saya kerja. Mau mengumpulkan uang buat biaya kuliah, saya belum siap menikah. Saya ingin membahagiakan Ibu, selain itu saya ingin mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak tidak mampu. Cukup saya yang merasakan harus kerja dulu agar bisa mengenyam pendidikan," ujarku menjelaskan ganjalan di dada, persis seperti kata-kata yang sudah aku susun di rumah.

Aku menghela napas, lega rasanya, namun ada sedikit rasa kuatir kalau-kalau dia akan kecewa mendengar penuturanku yang jujur dan lugas itu. Alih-alih bersedih, dia malah tertawa, membuatku heran dibuatnya.

“Jadi itu yang selama ini menjadi ganjalan buat Ekar menerimaku? Begini Ekar, aku berjanji setelah kita menjadi suami istri, aku tidak akan mengekangmu. Kau boleh kuliah dimana pun kau mau, aku akan membiayainya. Ekar aku akan bantu kamu mewujudkan impian muliamu itu,” ujarnya mantap tanpa tersirat keraguan sedikit pun.

Aku terlongo, masih tak percaya dengan yang aku dengar barusan. Mungkinkah ini mimpi? Kalau pun iya, rasanya tak ingin segera terbangun. Sebab, hal ini terlalu indah.

“So, Ekar, will you marry me?” pintanya sambil berlutut tepat di hadapanku.

Jantungku berdegup tak karuan. Aku yakin wajah ini sudah bersemu merah karenanya. “Duh jangan begini, malu."

Will you?” tanyanya sekali lagi. Debaran di dadaku kian kentara. Ada kelegaan dan binar bahagia terpancar di wajahnya melihat anggukan dariku. Tepat di hadapanku, ia sujud syukur sembari mengucap hamdallah.
***
Beberapa tahun kemudian

Sebuah bangunan sekolah dasar dua lantai bercat dinding putih sudah berdiri kokoh di hadapanku. Siswa-siswanya berasal dari kalangan tidak mampu. Semuanya dibebaskan dari biaya pendidikan. Tak hanya itu, Mas Rian juga membiayai kuliahku hingga jenjang S-2. Inilah aku sekarang, Entin Kartini, S.Pd, M.M, salah satu staf pengajar sekaligus kepala sekolahnya.

“Terima kasih, ya Mas, sudah mewujudkan cita-citaku. Aku tak mungkin bisa menggapai semuanya tanpa bantuanmu.” Kugenggam jemarinya erat, dia balas menggenggamnya dengan lembut.

Dia tersenyum, mengecup lembut jemari tanganku. Benar nasihat Ibu waktu itu, menikah tidak seseram yang dibayangkan. Aku bisa tetap menjalankan peranku sebagai seorang istri, memasak masakan khas Sunda kesukaannya, mengajar, mengelola sebuah sekolah, dan juga tetap produktif menulis.

Ciwidey, 14 Januari 2020
Suci Rahayu

Cerpen lainnya:

Indeks Link
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan
cakep bgt sista..... ane langsung pengen makan serabi, sambil liat wajah aden qkqkwkw. jg f4. tapi yg asli dr Taiwan lo ya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dchantique dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post riwidy
🤣🤣 F4 yang ini USA, Mbak, alias Urang Sunda Asli
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Wkwkwkkw. Ane fans jerry yan mbk dr meteor garden dlu hihi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post riwidy
Alhamdulillah, nggak perlu rebutan, Ane sukanya Vic Zhou 🤣🤣
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 3 lainnya memberi reputasi
emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Cendol Ganemoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 3 lainnya memberi reputasi
aku suka..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post ayya83
Mantap
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan
Jejak dulu ya ka 😊
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 2 lainnya memberi reputasi
oke siip 😊
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 2 lainnya memberi reputasi
Daddynya bodyguard beud ya

Serabi ane suka, tp mudah ngenyangin ya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
kok aku jadi laper ya... 😊😊😊
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan suciasdhan memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post betiatina
Aku juga, Kak 🤭
profile-picture
Ninaahmad memberi reputasi
singgah di mari jadi ngiler liat serabi 😀
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan

One Sided Love

Kasih Tak Sampai
Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber: gambar di sini

Aditya tersenyum bahagia. Kedua netranya berbinar indah saat menerima pesan whatsapp. Sebuah chat pribadi yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga. Walau pun sebenarnya isi pesan itu sangat jauh dari kata romantis. Hanya ajakan untuk menjadi panitia dalam acara reunian, tetapi baginya hal ini sangat berarti.

Bantuan apapun, asal dia yang meminta, pasti akan Aditya lakukan. Walau itu harus mengubah dan mengacaukan jadwal kerja dan to do list harian yang ia buat. Tak mengapa. Demi dia, akan dikerjakan dengan sepenuh hati.

Sejak ada grup alumni SMA, hidupnya menjadi lebih berwarna. Seindah warna pelangi yang muncul setelah hujan. Lewat grup itulah ia bisa menemukan nomor kontak dia. Ayesha, cinta masa remajanya. Meski pun sudah sekian lama tak bersua, tetapi rasa ini masih tetap ada, tak lekang oleh waktu. Tersimpan dengan manis di relung hatinya yang paling dalam. Tak pernah berubah, hanya untuk dia seorang.

Dahulu semasa SMA, ia berusaha untuk menunjukkan rasa cintanya pada sang pujaan hati, lewat perhatian-perhatian kecil, maupun pujian-pujian. Semua itu selalu berhasil membuat Ayesha kelihatan tersipu malu. Namun sayangnya, kedekatan mereka saat itu hanya sebatas teman biasa saja. Tak terasa, tiga tahun berlalu dengan cepat, Aditya tak sempat mengutarakan perasaan pada si pemikat hati. Hingga di usianya yang menginjak kepala tiga, ia masih menyimpan tanda tanya besar. Apakah Ayesha punya rasa yang sama dengannya?
***
“Ayesha apa kabar? Kamu tetap cantik, sama seperti dulu,” puji Aditya saat mereka bertemu membahas masalah reuni.

Ayesha tersipu, pipinya merah merona. “Terima kasih Adi, kamu bisa aja deh.”

Lima menit kemudian, Aditya pamit sebentar. Tidak berapa lama, ia sudah kembali membawa dua piring nasi goreng di tangannya.

“Ayesha, makan dulu. Jangan terlalu lelah, nanti kamu sakit.” Aditya menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Ayesha.

“Wow, makasih Adi. Tahu aja kalau aku belum makan. Ini nasi goreng di depan hotel BMI kan? Kok kamu tahu kalau itu nasi goreng favorit aku?” Netra Ayesha berbinar melihat nasi goreng yang terhidang di depannya.

Indera penciuman perempuan berparas cantik itu menghidu uap dari asap yang mengepul di atas nasi goreng. “Hmmm, aromanya masih tetap sama seperti zaman SMA dulu. Masih tetap harum dan menggugah selera.” Tak lama kemudian, perempuan itu sudah menyendokkan makanan favoritnya itu ke dalam mulut.

Sejak SMA, aku tahu semuanya tentangmu Ayesha. You’re a chocolate lover, you like ice cream, termasuk nasi goreng kesukaanmu, hingga minuman dan makanan khas Italia favoritmu, gumamnya seraya menyunggingkan sebuah senyuman kemudian memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.

Keesokan harinya, setelah selesai pertemuan panitia, Aditya mengajak Ayesha makan di restoran Italia dan memesan menu kesukaan perempuan pujaannya itu. Lagi-lagi Ayesha dibuat takjub. Matanya berbinar indah melihat menu yang dihidangkan di hadapannya.

“Kamu suka Ayesha?”

“Suka banget, Adi. Dari mana kamu tahu restoran favorit aku ini?” tanya Ayesha sambil melahap makanan kesukaannya.

Aku tahu segalanya tentangmu Ayesha, sebab aku sangat mengidolakanmu. Aditya menatap lekat wajah ayu di hadapannya dan tersenyum penuh arti.
***
Hari ini matahari tengah menunjukkan kekuasaan dengan garang. Panasnya begitu terik, membuat semua orang merasa silau dan gerah. Namun, tidak bagi Aditya. Udara sepanas itu baginya terasa sejuk, karena ia berada di samping wanita terkasihnya.

Ingin rasanya Aditya menyeka lembut peluh yang bercucuran dari kening sang pujaan. Namun, ia tak mampu meredam degup jantungnya yang kian bertalu.

“Kamu manis banget, semanis rasa es krim yang dipadukan dengan cokelat ini.” Dengan tangan sedikit gemetaran, lelaki itu menyodorkan cornetto silverqueen pada perempuan cantik itu. Hanya ini yang bisa Aditya lakukan untuknya.
Ayesha tersenyum. Dalam pandangan Aditya, senyuman perempuan itu lebih manis dari lukisan Monalisa sekali pun.

“Terima kasih, Adi,” ucap Ayesha sambil menerima es krim pemberian Aditya. Kini, kudapan manis itu sudah berpindah ke jemari lentik Ayesha, kemudian perempuan itu kembali berkutat dengan pekerjaannya.

“Adi, bisa bantuin aku hubungi teman-teman kita nggak? Aku sama teman-teman yang lainnya masih ada kerjaan yang belum selesai nih,” pinta Ayesha. Manik mata keduanya beradu pandang, menimbulkan debaran di dada Aditya. Lelaki itu sejenak tertegun.

“Adi, kamu bisa bantu, ‘kan?” Suara lembut sang pujaan mengembalikan kesadarannya.

Aditya segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi teman-teman semasa SMA. Sesekali ia melirik Ayesha. Bibir lelaki itu melengkung sempurna, membentuk sebuah senyuman.

Rasa ini semakin menggebu, bila saatnya tiba akan kuutarakan padamu, sang pemilik hatiku, sebuah nama yang selalu terucap dalam setiap untaian do’a dan shalat malamku. Satu nama yang terukir indah dengan tinta emas dalam sanubari, hanya dirimu, tak ada yang lain dan tak ingin siapa pun, ku hanya mau kamu, berharap kau pun sama denganku. Aditya bersenandika sembari berusaha meredakan desir indah dalam dada yang kian kentara.

Malam harinya, Aditya mengirim pesan whatsapp pada Ayesha. Aku sangat suka dengan kebersamaan kita beberapa hari ini, berharap ini tidak sampai reuni saja, tetapi untuk selamanya. Ucapkan namaku dalam tahajudmu, karena aku pun selalu begitu.

Begitulah isi pesan yang Aditya kirimkan pada Ayesha. Setelah menunggu lama, tak ada juga jawaban. Mungkin dia sudah terlelap berselimut mimpi, pikirnya. Aditya semakin khusyuk menunaikan shalat malamnya.
***
Sebuah kotak merah jambu berbentuk hati berisi cokelat sudah berada dalam genggamannya. Hari ini adalah terakhir berkumpulnya panitia, sebelum esok acara reuni berlangsung. Aditya bertekad, sekarang ia harus mengutarakan perasaan yang selama ini dipendamnya pada Ayesha. Berharap perempuan cantik itu punya rasa yang sama dengannya. Dia membayangkan, jika Ayesha menerimanya, maka di acara reuni nanti, mereka akan berstatus sebagai sepasang kekasih. Momen yang paling ia impikan sejak lama.

Setibanya di base camp tempat biasa para panitia berkumpul, netra Aditya terpaku pada sosok cantik nan anggun yang tengah berdiskusi dengan beberapa panitia reunian. Dengan jantung berdebar, dihampirinya sang pujaan.

“Hai cantik, for you Hope you’ll like it.” Aditya mengeluarkan kotak merah jambu itu dan memberikannya pada Ayesha sembari menatap lembut wajah yang selalu menghadirkan desir aneh di hatinya.

Namun, Ayesha tak menanggapi. Perempuan itu berlalu dari hadapan Aditya tanpa sepatah kata pun terucap dari bibir mungilnya. Aditya memasukkan kembali kotak itu ke goodie bag yang sudah ia siapkan dari rumah. Entah mengapa, kali ini Aditya menangkap ada sesuatu yang janggal. Wajah ayu itu tak menampakkan kelembutan, bahkan tak terlukis senyuman sedikit pun dari bibir mungilnya. Sikap Ayesha berubah, tak semanis hari-hari sebelumnya. Setiap kali Aditya menghampiri dan hendak mengajaknya bicara, perempuan itu menghindar dan menjauhinya. Lelaki itu mulai bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan sang pujaan?

Ketika tak sengaja mereka berpapasan di koridor base camp, Aditya memberanikan diri membuka percakapan. “Ayesha, kamu kenapa? Sakit? Mau aku antar ke dokter?”

“Adi, sudah. Stop berlebihan begini sama aku, cukup ya!” serunya dengan nada ketus.

“Lho, memangnya kenapa? Apa aku mengganggu? Apa sikapku selama ini salah? Kamu nggak suka Ayesha?” Kening lelaki itu berkerut. Ia mengingat-ingat kebersamaan mereka belakangan ini. Mungkin ada tindak-tanduk atau sikap Aditya yang tak sesuai. Nihil. Lelaki itu tak jua menemukan jawabannya. Sejumlah tanya berkecamuk dalam benaknya.

“Ya, aku nggak suka!” ucap Ayesha sambil berlalu meninggalkan Aditya yang masih dipenuhi tanda tanya.

Bagaimana pun sikapmu padaku, tak akan mampu mengubah rasa yang telah terpatri dalam dada. Aku tak bisa berhenti menyukaimu, selamanya akan tetap mencintaimu, gumamnya lirih. Aditya melangkah gontai, meninggalkan base camp itu dengan perasaan yang tak menentu.
***
Hari yang telah dinantikan pun tiba, reuni SMA angkatan 2002. Dari sekian banyak teman yang hadir, hanya ada satu yang Aditya nantikan, Ayesha. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menyatakan cinta. Hari ini penantiannya harus terjawab.

Sang pujaan yang dinanti akhirnya tiba. Berbalut dress berwarna peach, ia tampak begitu anggun. Sesaat, jantung Aditya terasa berhenti berdetak, menyaksikan sang pujaan yang tampil begitu sempurna.

Setelah menguasai keadaan, Aditya menghampiri Ayesha yang berdiri memunggunginya. “Ayesha, sebenarnya aku. Ada yang ingin aku ....” Lelaki itu menelan salivanya. Ia semakin salah tingkah kala perempuan itu berbalik menghadapnya. Keringat mulai membasahi dahi. Lidahnya terasa kelu untuk melanjutkan ucapannya.

“Hai Adi. Sayang kenalkan ini Aditya. Adi, kenalkan ini suamiku,” ucap Ayesha seraya menggamit mesra lengan lelaki yang ia sebut suami barusan.

Bagai tersengat listrik, Aditya mendengarnya. Namun, ia menerima uluran tangan lelaki yang tersenyum ramah padanya. Beberapa detik kemudian keduanya saling berjabatan. Telapak tangan Aditya terasa membeku. Ayesha dan suaminya pamit dari hadapannya menuju stand makanan. Kedua sejoli itu kini tampak berbaur dan bercakap-cakap dengan yang lainnya. Tak berapa lama, terdengar suara nada dering ponsel yang sudah tak asing lagi di telinga lelaki itu.

“Sayang, kamu ingat, ‘kan, besok kita fitting baju pengantin dan foto prewedding? Jemput ya pagi-pagi, aku siapin sarapan. Udah lama nggak breakfast bareng kamu.” Terdengar suara lembut dan merajuk dari seberang sana. Avantika, tunangannya.

Ciwidey, 19 Januari 2020
Suci Rahayu

Cerpen lainnya, klik di sini:

Indeks Link
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dchantique dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan
Balasan post miniadila
🤣🤣 ayo kita makan serabu bareng
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 4 lainnya memberi reputasi
Balasan post suciasdhan
Serabi, maaf typo 🤣
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan NovellaHikmiHas memberi reputasi
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di