CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Tech / ... / Taman Bacaan CCPB /
CERITA PENDEK : KOPI DANGDUT
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e14a5f188b3cb47bf234050/cerita-pendek--kopi-dangdut

CERITA PENDEK : KOPI DANGDUT

  
KOPI DANGDUT

Oleh : A. Prasetyo

 

Malam ini aku mesti harus pulang lebih larut dari biasanya. Pekerjaan kantor di akhir bulan seperti ini, seakan tak bisa diajak kompromi. Belum lagi tuntutan dari pak bos, yang minta semua laporan keuangan harus selesai malam ini. Besok akan dikoreksi dan dimintakan persetujuan direksi.

Alhamdulillah ... akhirnya selesai juga semuanya. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jam sebelas lewat lima belas menit. Segera kurapikan berkas-berkas dan bergegas pulang.

Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Dingin angin malam mulai menyusup melewati jaket tebal yang kukenakan. Seakan menembus pori-pori, bersemayam dan mengendap dalam seluruh bagian tubuh.

Jarak dari ke kantor ke rumah sebenarnya tak terlalu jauh, hanya sekitar 7 km. Namun dalam suasana dingin seperti ini, tak berani aku memacu motor lebih cepat. Belum lagi rasa kantuk yang melanda, mulai mengganggu konsentrasi berkendara.
Untuk mempercepat tiba di rumah, aku mengambil jalan pintas. Melewati sebuah perkampungan tetangga, memasuki jalanan yang remang dan sepi. Setelah tikungan ada sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk bermain sepak bola.

Kulihat ada keramaian di tengah lapangan. Sebuah panggung dengan gemerlap lampu dan hingar bingar pengeras suara. Nampaknya sedang ada pertunjukan orkes dangdut. Lazimnya tontonan seperti ini pasti juga banyak kedai yang turut berjualan, untuk mengais rezeki.

Rasa kantuk semakin tak dapat ditahan. Kuputuskan untuk singgah sejenak di kedai kopi yang ada di pinggir lapangan. Alunan musik dangdut yang menghentak, dengan goyangan para penyanyinya, membuat para pasukan joget asyik meliuk di depan panggung. Uang saweran pun bertebaran menambah pundi dan semangat para biduan.

Aku memesan secangkir kopi hitam tanpa gula. Tak lama berselang, tanpa berkata apa pun penjaja kedai mengantarkan pesananku. Sepiring penganan rebusan disodorkan di dekatku. Ubi dan singkong rebus yang masih terlihat mengepul menggugah selera untuk mencicipinya.

Kusesap minuman kopi yang masih panas pelan-pelan. Aroma khas kopi kampung sungguh menggambarkan kenikmatan yang tiada duanya. Sesekali ikut kulantunkan lagu yang kebetulan ku hafal liriknya.

“Kala kupandang kerlip bintang nun jauh di sana. Sayup kudengar melodi cinta yang  menggema.”

“Terasa kembali gelora jiwa mudaku. Karna tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut.”

Kuikuti lagu Kopi Dangdut sambil ikut bergoyang pelan.
Entah sudah berapa lagu yang dinyanyikan para biduan selama aku duduk di sini. Penjaja kedai dan beberapa pengunjung nampak asyik menikmati kopi dalam diam.
Lambat laun rasa kantuk mulai kembali menyerang. Tak terasa aku tertidur pulas dengan tertunduk di meja kedai kopi.

**
“Bang ... bangun, Bang.” Sebuah suara dengan keras menggetarkan gendang telingaku.

“ Bangun, Bang ... kenapa Abang tidur di sini?” Terasa ada yang mengguncang badanku.

Aku mulai memicingkan mata. Setengah sadar kulihat beberapa orang berkopiah dan bersarung. Mereka mengelilingiku dengan gurat wajah  penuh heran.

“Bang ... bangunlah.” Kurasakan percikan air membasahi wajahku.

Sontak aku terbangun. Sadar, kulihat di sekeliling.
Astaghfirullahal Adzim ...! Mengapa aku di sini?!
Kugosokan tangan ke muka, lantas mengucek kedua mata yang tidak gatal. Mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Ternyata aku ada di tengah pemakaman, tertidur persis di depan sebuah nisan, di bawah pohon beringin nan besar.

“Abang berada di pemakaman keramat kampung,” seorang warga menjelaskan. “Kami menemukan sepeda motor terparkir di depan pintu masuk makam, selepas salat subuh tadi. Karena penasaran, kami masuk beramai-ramai, mencari siapa pemiliknya.”

Aku masih tertegun, sambil mencoba mengingat kejadian semalam. Baru tersadar juga kalau kebetulan semalam adalah malam jumat.

“Alhamdulillah Abang masih dilindungi Allah dari gangguan makhluk halus. Dunia gaib memang ada dalam ajaran agama kita, telah diterangkan pula dalam Al Quran,” lanjut seseorang yang nampaknya ustad di kampung tersebut.

Sujud syukur kupanjatkan pada Allah karena masih diberikan keselamatan.
Namun, seketika perut terasa mual dan ingin muntah. Terbayang kopi hitam dan singkong rebus yang kumakan, semalam.

**<>**

Bumi Siwalan, 280319
______________________


profile-picture
profile-picture
profile-picture
4446Apriliyanto dan 4 lainnya memberi reputasi
Wew its nice
profile-picture
4446Apriliyanto memberi reputasi
Lihat 1 balasan
waaah.. kereen kaa
profile-picture
4446Apriliyanto memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post ayya83
thanks, sista...
profile-picture
4446Apriliyanto memberi reputasi
Balasan post RetnoQr3n
Makasih, kak...
profile-picture
4446Apriliyanto memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di