CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e12bc7ec0cad71a2a7bce23/andira

ANDIRA

ANDIRA


Part 1



Aku menatap tak percaya pada wanita berbaju putih itu, Mba Anita, konselor yang diajukan dokter untukku. Meskipun telah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang ada, tetap saja ini terlalu berat untuk kuterima. Ini tak mungkin terjadi padaku, bukan? Bagaimana bisa? Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang hampir selalu menghabiskan waktu di rumah. Kenapa terjadi padaku? Kenapa harus aku? 

 

Bibirku bergetar demi menahan bendungan air mata yang menggenang. Sesuatu dalam hatiku bergejolak dan meronta. Sakit. Sementara wanita itu menatapku dengan pandangan iba. 

 

Positif. Bagaimana bisa hasilnya positif? Sejak kapan? Dari mana? 

 

Bertubi-tubi pertanyaan mendesak di kepalaku. Rasa tak mengerti membuatku tak sanggup mempercayai. Aku telah terinfeksi virus laknat itu. 

 

“Seperti yang udah kita bahas sebelumnya, kalau hasil testnya positif ada baiknya si kecil juga ikut menjalani pemeriksaan. Untuk meminimalisir resiko ke depannya," ujar wanita itu lagi. 

 

Aku tersentak mendengar kata-katanya. Shenaku? Gadis kecilku itu harus ikut menjalani pemeriksaan? Apakah ia juga ...?

 

Ya Tuhan, hukuman macam apa ini? Aku tak sanggup membayangkan jika Shena kecilku juga terinfeksi virus keparat itu. Ia masih terlalu kecil.

 

Dadaku bergemuruh. Ingin rasanya aku berteriak marah pada semua yang ada di sekitarku. Ini tak adil untukku. Tak adil untuk kami.


Kupilih untuk meninggalkan ruangan itu. Tak sanggup jika harus terus duduk di sana, dan melihat pandangan iba darinya.


Berjalan dan terus berjalan. Teriknya matahari tak lagi kuhiraukan. Apa bedanya bagiku kini? Aku sekarat. Kematian sedang menungguku. Seperti Mas Tama yang kini terbaring di rumah sakit itu.


Ah ... Mas Tama. Bagaimana bisa ini terjadi pada kami? Ia adalah suami terbaik sepanjang yang bisa kuingat. Tak pernah ia menyakiti hatiku, atau bahkan sekedar membuatku kecewa. Lantas bagaimana penyakit terkutuk itu mendatangi kami? Bagaimana? 


Suara klakson motor Cumiakkan telinga mengejutkanku. Umpatan dari si pengendara tak begitu jelas kudengar. Sepertinya aku telah berjalan terlalu ke tengah hingga ia nyaris menabrakku.


Aku merasa seperti kehilangan akal. Bahkan aku seolah kehilangan diriku sendiri. Tubuh dan pikiran ini kini di luar kendaliku. Aku merasa kosong. 


Kulangkahkan kaki kembali ke  trotoar, lalu duduk di bangku pengguna jalan. Berbagai bayangan silih berganti memenuhi pikiran. Bayangan senyum manis Shena, putri kecilku yang tahun ini genap berumur tiga tahun. Si kembar Alfia dan Ulfa, putri pertama dan keduaku. Juga Mas Tama, suamiku.


Mas Tama. Ia adalah satu-satunya cinta yang kutahu. Kami bertemu dalam acara reuni sekolah sepuluh tahun yang lalu. Mudah baginya membuatku jatuh cinta, dan mengatakan iya untuknya. Ia tampan, dan penuh kharisma. 


Tak butuh waktu lama bagi kami  memutuskan untuk menikah. Rumah tangga kami hampir selalu bahagia, apalagi dengan kehadiran dua putri kembar Alfia dan Ulfa yang seolah semakin melengkapi. Hanya sesekali kami terlibat perselisihan, dan Mas Tama akan selalu mengalah lebih dahulu. Bagiku ia adalah suami yang sempurna.


Namun, kondisi kesehatan Mas Tama menurun drastis beberapa bulan belakangan. Batuk yang kian hari kian menjadi. Juga beberapa kali ia terkena diare. Berkali-kali kucoba mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, ia selalu saja menolak.


“Paling kecapekan aja, masuk angin. Ntar juga sembuh. Kamu nggak usah khawatir,” ucapnya selalu sembari tersenyum menenangkanku. 


Hingga puncaknya dua minggu yang lalu ia mendadak kehilangan kesadaran, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari ia tak sadarkan diri. Aku merasa sangat takut kehilangannya. Merasa bodoh karena tak berdaya setiap kali ia menolak ajakanku ke rumah sakit. 


“Bu, mohon maaf kami harus menyampaikan hal ini ...,” ucap dokter siang itu. 


Jantungku berdegup sangat kencang. Ruangan putih ini mendadak terasa begitu sempit. Ada apa dengan hasil pemeriksaan suamiku? Apa penyakitnya sungguh parah? Jantungkah? Gagal ginjal? Kanker? Astaga ... semua pikiran itu hampir membuatku gila. 


“Dari hasil pemeriksaan kami menemukan bahwa bapak positif terinfeksi HIV, dan sudah memasuki fase AIDS ...,” ucap dokter hati-hati.


Aku mengerutkan kening mencoba memastikan bahwa aku tak salah mendengar pernyataan dokter. Bagaimana mungkin suamiku mengidap penyakit ... seperti itu?


“AIDS merupakan gejala lanjutan dari HIV yang telah merusak sistem imun ....”


“Nggak mungkin, Dokter! Pasti ada kesalahan! Suami saya nggak mungkin mengidap hal seperti itu,” ucapku setengah tertawa. Mereka tak mengenal suamiku.


"Bu, kami sudah melakukan pemeriksaan secara ....”


“Ya, mungkin ada kesalahan. Sampel darahnya tertukar atau apa gitu ...,” jawabku mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyebabkan kesalahan dalam pemeriksaan.


Dokter itu menegakkan sedikit duduknya, dan kembali berbicara dengan raut wajah serius. “Kami mengerti dengan keterkejutan Ibu, tapi pemeriksaan telah dilakukan terhadap suami Ibu, dan hasilnya bapak positif mengidap AIDS. Kami telah menyampaikan hal ini kepada bapak sebelumnya, dan beliau telah setuju untuk menyampaikan hal ini pada Ibu, ” ucap dokter itu lagi.


Aku mencoba kembali membuka suara, tetapi urung. Apakah yang dokter katakan itu benar? Suamiku mengidap penyakit itu? Ah ... bahkan menyebutnya saja membuatku bergidik ngeri.


Tak terlalu kudengarkan lagi penjelasan dari dokter. Pikiranku dipenuhi tanda tanya. Ini terlalu mustahil bagiku. 


“Mohon maaf sebelumnya, apakah Ibu menggunakan pengaman setiap kali berhubungan suami istri?” tanya dokter kemudian. Aku tersentak, dan menggeleng lemah. Bingung, bagaimana harus menghadapi situasi ini.


“Kami menyarankan Ibu agar ikut menjalani pemeriksaan untuk memastikan apakah virus HIV telah ditularkan kepada Ibu sebagai istri beliau, dan kami akan merujuk Ibu pada seorang konselor yang akan membantu Ibu nantinya ...,” lanjut dokter kembali.


Aku terpana mendengar kata-kata yang baru saja kudengar. Apakah virus itu telah ditularkan padaku sebagai istri? 


Limbung. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa? Separuh hatiku tak percaya. Namun, untuk apa dokter itu berbohong? Bagaimana jika semua itu benar?


Mas Tama, bagaimana mungkin suamiku mengidap AIDS. Ia bukanlah seorang pecandu, juga bukan tipe lelaki hidung belang. Rasanya tak ada celah yang bisa menyebabkan ia mengalami semua itu. Tetapi, kenapa hasil pemeriksaannya seperti ini.


Namun, aku tetap mengikuti saran dokter untuk ikut menjalani pemeriksaan, dan hasil yang kuterima siang ini seolah menghancurkan hidupku. Satu pertanyaan terus berputar di kepalaku. Dari mana penyakit itu ia dapatkan? Bagaimana bisa? 


Aku telah melakukan pencarian di mesin pencari ponsel mengenai segala hal tentang HIV dan AIDS sebelumnya. Aku benar-benar tak menemukan celah bagaimana virus itu bisa menyerang kami.


Mas Tama tak mungkin mengkhianatiku. Tak mungkin!


*****


Aku kembali ke rumah sakit menjelang pukul tujuh malam. Perlahan kubuka pintu ruang rawat Mas Tama. Ia terbaring dengan berbagai macam alat untuk menopang hidupnya. Kupandangi tubuhnya yang kini begitu kurus. Ia kehilangan hampir dua puluh kilogram berat tubuhnya.


Kusentuh lembut jemari tangannya, dan lagi semua pertanyaan itu menghantui pikiranku. Bagaimana penyakit itu bisa mendatangi kami? 


Mas Tama membuka matanya, dan menatapku sendu. Mata itu kini terlihat begitu sayu. Cukup lama kami hanya berpandangan dalam diam. Bibirku seolah kelu, tak mampu berkata apa-apa.


Mas Tama kemudian membalas sentuhanku pada tangannya. Wajahnya semakin terlihat pilu dan menderita.


“Dira, aku menghianatimu. Maaf...," ucapnya lemah.

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
impola dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh friya1
Halaman 1 dari 3
Pejwan
Welcome to my story
Part 2



“Dira, aku mengkhianatimu. Maaf ....”


Kata-kata Mas Tama terus terngiang di telingaku. Mimpikah ini? Akankah aku terbangun esok pagi dan mendapati suamiku dengan dengkuran halusnya lagi seperti dulu? Namun, sakit ini terlalu nyata untuk menjadi sebuah mimpi. Bahkan sesak di dadaku kian mengimpit.


Kupandangi kembali cincin pernikahan yang tersemat di jari manisku. Bagaimana bisa ia mengkhianatiku dan membagi virus itu? Selain kedua orang tuaku, Mas Tama adalah yang paling kupercayai di dunia ini. Bagaimana bisa ia mengkhianatiku? Kapan? 


Aku menjerit sekeras yang kubisa. Tak kupedulikan pandangan bertanya dari seluruh pengunjung taman. Aku hanya ingin melampiaskan semua kesakitan ini. 


Benci. Aku benci pada dunia. Semua yang terjadi saat ini tak adil untukku. Tuhan tak bisa melakukan ini padaku. Lihatlah semua pasangan muda-mudi di sana. Kenapa bukan mereka saja? Kenapa harus aku? Tuhan salah menimpakan hukuman ini padaku.


Tangisku akhirnya pecah. Kulepas dan kulemparkan cincin pernikahan itu jauh. Hubungan ini sudah ternoda. Pernikahan ini telah berakhir. 


Seorang wanita paruh baya berjalan mendekat. Hati-hati ia duduk di sebelahku. “Maaf, Mbak kenapa? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lembut. 


“Pergi!” jawabku kasar.


“Kalau ada yang bisa saya bantu ....”


“Pergi!!” jeritku histeris. 


Aku tak butuh siapapun, mereka tak akan mengerti yang kurasakan saat ini. Tak akan ada yang mengerti. Aku benci pada mereka semua. Kenapa bukan mereka saja yang dihukum?


Pandangan asing dari seluruh pengunjung taman seolah mencibirku. Barangkali mereka menertawakan kesakitanku. Aku benci pada mereka. Aku benci pada dunia.


*****


Shena tertidur dalam dekapanku. Napas lembutnya tepat mengenai wajahku. Esok ia akan menjalani rangkaian pemeriksaan untuk mencari tahu apakah virus itu juga ada di tubuhnya. Rasanya aku tak sanggup menghadapi semua ini. 


Bagaimana jika gadis kecilku terinfeksi virus yang sama? Bagaimana masa depan Shena nanti? Hidupnya pasti akan hancur. Seluruh dunia akan mencibirnya. 


Air mataku kembali menetes. Kupererat dekapanku pada tubuh kecilnya. Mas Tama ... bagaimana bisa ia melakukan ini pada kami?


*****


Aku dan Shena sampai di rumah sakit tepat pukul delapan pagi. Alfia dan Ulfa tak ikut dengan kami. Aku tak ingin mereka kelelahan dengan rangkaian pemeriksaan Shena nanti. Lagipula lingkungan rumah sakit tak bagus untuk mereka.


Kupercepat langkah kaki saat melihat Mas Ibram, kakak tertua suamiku berdiri di depan ruang rawat Mas Tama. Sudah satu minggu tak ada satupun keluarga yang datang, tepatnya sejak Mas Tama divonis mengidap AIDS.


Kedatangan Mas Ibram sedikit banyak membuat harapan di hatiku. Kami tak sendiri menghadapi semua ini. 


Kusapa ia setelah jarak kami cukup dekat. Namun, ia menepis saat tanganku mencoba menyalaminya. Langkahnya sedikit mundur menjauhi aku dan Shena. 


Aku menggigit bibir menahan rasa perih di hati. Apakah ia menjauh karena takut tertular virus ini? Biasanya ia selalu memeluk Shena dengan hangat. 


“Shena jadi diperiksa hari ini?” tanyanya tanpa memandang ke arahku. Kuanggukkan kepala pelan. Suasana kini terasa sangat canggung di sini.


“Semoga semua baik-baik saja. Maaf kami mungkin nggak bisa sering datang. Kamu pasti paham dengan situasi ini, ‘kan?” tanyanya pelan. 


Jantungku berdenyut nyeri mendengar kata-kata Mas Ibram. Situasi ini? Maksudnya karena kami terinfeksi virus laknat itu mereka tak bisa datang? Mereka ingin mencampakkan kami? Ya Tuhan, kenapa rasanya hatiku seolah terpilin, sakit sekali. Namun, apa yang bisa kulakukan untuk menentang keputusan mereka?


Apa yang dikatakan oleh Mba Anita, bahwa penyakit ini tak akan menular hanya karena mereka berada dekat dengan kami? Nyatanya, mereka bahkan takut meski sekedar untuk bersalaman. Mereka bersikap seolah kami adalah aib yang harus disingkirkan. 


Aku hanya mampu menganggukkan kepala meskipun terasa berat. Yah  ... mereka pasti takut tertular jika berada terlalu dekat dengan kami. Kugigit bibir kembali menahan linangan air mata agar tak sampai jatuh. 


“Kalau kalian butuh uang, hubungi Mas saja, Mas pasti akan bantu,” ucapnya lagi. 


Aku kembali mengangguk pelan. Memang sekarang kami tak memiliki pemasukan apa-apa. Mas Tama sudah tak mungkin lagi bekerja. Tetapi, bolehkah aku berharap lebih dari bantuan dana? Bolehkah kuharapkan kepedulian dan dukungan mereka?


“Mas pergi dulu, harus segera ke kantor. Jaga diri kalian baik-baik,” ucap Mas Ibram kembali. Kali ini ia menatap kami sekilas. Bisa kulihat matanya yang berkaca-kaca. 


“Terima kasih sudah datang, Mas,” jawabku pelan. Hampir tak kuasa lagi menahan tangis.


Ia tersenyum pahit, kemudian berbalik pergi. Kupandangi Mas Ibram hingga jauh. Seiring langkah kakinya meninggalkan kami, seolah membuka jarak untuk perpisahan. Mereka tak akan kembali datang. Aku tahu itu. Isakanku kini semakin keras, bercampur dengan tangisan Shena.


****


Aku tak mampu lagi menanggung beban ini sendiri. Kulepaskan isakku di samping ranjang rawat Mas Tama. Tangisku tumpah tak terbendung. Shena kecilku positif terinfeksi HIV. 


“Maafkan aku ... maaf ....” 


Hanya kata-kata itu yang terus keluar dari bibir Mas Tama. Sama sepertiku, ia juga menangis. 


“Bagaimana bisa kamu melakukan ini, Mas? Bagaimana bisa?” tanyaku terisak. 


“Maafkan aku, Dira. Maaf ....” 


Aku menangkup wajah dengan dua tangan. Kata maaf tak akan bisa mengubah apa-apa meskipun ribuan kali ia ucapkan. Masa depan Shena telah hancur. 


“Bagaimana bisa kamu lakukan ini, Mas ....” erangku lagi, merasa frustasi. Sakit yang kurasakan kini ribuan kali lebih sakit dibandingkan saat konselorku memberitahu bahwa aku positif terinfeksi HIV.


“Maafkan aku ....”


“Kapan?” tanyaku dengan nada tajam. 


Mas Tama tak menjawab. Ia hanya terus mengucapkan kata maaf dan terisak.


“Kapan kamu melakukannya?” tanyaku lagi setengah menjerit. Aku butuh jawaban untuk semua pertanyaan yang terus mengganggu di kepala.


“Se-setelah kamu melahirkan Alfia dan Ulfa,” jawabnya terbata.


Setelah aku melahirkan Alfia dan Ulfa? Sembilan tahun yang lalu? Setelah ia menyaksikan perutku yang dibelah demi kedua anaknya? Bagaimana bisa ia sejahat itu? 


Tangisku kembali pecah. Kupikir aku cukup mengenalnya selama ini. Aku selalu percaya bahwa ia adalah suami yang sempurna. Aku mempercayainya dengan seluruh hidupku. Namun, nyatanya aku sama sekali tak mengenal suamiku. 


“Tega kamu, Mas!” erangku lagi. 


Mas Tama mencoba menyentuh jemari tanganku, tetapi aku segera menepiskannya. Kupilih untuk melangkah menjauh. 


“Siapa wanita itu?” tanyaku lagi.


Mas Tama kembali diam. Hanya bibirnya yang bergetar karena isakan.


“Berapa lama kalian bersama?” 


“Ha-hanya dua bulan ....”


“Hanya dua bulan? Brengsek kamu, Mas!!” teriakku padanya. Lantas berlari meninggalkan ruang rawat Mas Tama. Aku tak mau lagi bertemu dengannya. Bahkan jika ia mati pun aku tak akan lagi peduli.


****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwarabdulrojak dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh friya1
masih lanjutkah ?
menyentuh sekali
Quote:


Masih kak, kalau kakak tertarik boleh mampir ke wattpad friya ansari, ya.
Atau fb Friya ansari juga bisa
Andira terbakar

wihhh bagus
Eh ternyata masih di sini emoticon-Ngakakemoticon-Malu
Diubah oleh sempelbener
Mas Tama, setia lah ya
Quote:


Terbakar, jadinya sepi yg datang 🤣🤣🤣
profile-picture
sempelbener memberi reputasi
Quote:


Abra abra kadabra, aku sulap kamu jadi lelaki setia. emoticon-Kaskus Radioemoticon-Kaskus Radio
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
persis tetanggaku, tapi bedanya tetanggaku orang nya santuy meski punya positif sakit HIV
Quote:


Ngenes ya punya laki dikura baik eh kesasar gitu.

Cuma dua bukan dia bilang, mau dibanting rupanya.

Saya suka kalau endingnya nanti itu Tama mati dijeburin jurang. Hihihihiiii
Ceritanya bagus... semoga bisa sampe tamat ya sist... emoticon-Jempol
waaaah perselingkuhan emoticon-Mewek
Menyentuh sekali mba friya..., kalo ini dalam adegan film pasti aku ikut terisak wkwkw..

Lanjutkan mbaa emoticon-Jempol
Diubah oleh feliia
Quote:


Penyebabnya apa, gan?
profile-picture
kemintil98 memberi reputasi
Quote:


emoticon-Wakaka
profile-picture
sempelbener memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Hehehehe.
profile-picture
nyahprenjak memberi reputasi
Quote:


Pedih, bang. emoticon-Mewekemoticon-Mewek
Quote:


Mkasih mba filia emoticon-Pelukemoticon-Peluk
Quote:


Part 3



Aku pulang dalam keadaan kacau. Merasa buta. Bagaimana bisa aku tertipu? Dua bulan ia bersama wanita itu, dan aku bahkan tak pernah sedikitpun merasa curiga padanya. Apakah aku yang terlalu bodoh, ataukah ia memang mahir menyembunyikan bangkai kebohongannya?


Benci. Aku benar-benar membencinya. Jika hanya hidupku yang dihancurkan, masih bisa kuterima sebagai konsekuensi mencintai bajingan sepertinya. Namun, ia membuat Shena harus menanggung semua ini. Ayah macam apa dia?


Penuh kemarahan kukemasi seluruh pakaian Mas Tama dari lemari. Aku tak mau lagi melihat barang-barangnya di rumah ini. Akan kubakar semua miliknya. Ia tak punya hak lagi padaku dan anak-anak. Biar saja ia mati dalam kesendirian.


Selanjutnya, kukemasi seluruh barang dari meja kerjanya. Daerah yang selama ini terlarang bagiku. Mas Tama tak pernah membolehkanku membereskan daerah kerjanya itu. Ia tak suka jika pekerjaannya terganggu.


Namun, sebuah amplop berwarna coklat menarik perhatianku saat sedang memeriksa satu persatu laci meja. Entah kenapa amplop itu disembunyikan di bagian paling bawah dari berkas-berkas lainnya. Rasa penasaran mendorongku untuk memungutnya. 


Segera saja kubuka amplop itu dan melihat isi di dalamnya. Sebuah foto dari hasil pemeriksaan laboraturium. Mas Tama melakukan pemeriksaan dan tidak memberitahuku? Foto ini... menunjukkan bahwa Mas Tama positif terinfeksi HIV. Jadi, ia sudah tau tapi merahasiakannya dariku? Bagaimana bisa ia mengambil keputusan seegois itu? Tidakkah ia berpikir bahwa tindakannya itu mengancam masa depanku? 


Aku kembali berteriak sekuat-kuatnya.  Aku semakin membenci lelaki itu. Aku sangat membencinya. 


******


Kulangkahkan kaki pelan mendekati pintu berwarna biru itu. Rumah Ibu. Sudah beberapa hari aku mencoba menghubungi keluargaku, tapi tak satu pun dari mereka menjawabnya. Bahkan tidak dengan Ibu.


Mereka tak mungkin mencampakkanku seperti yang dilakukan oleh keluarga Mas Tama, bukan? Bagaimanapun mereka adalah keluargaku. Mereka tak mungkin melakukan itu.


Kuketuk pintu perlahan, dan mengucap salam. Langkah kaki di dalam sana menjadi jawaban untukku. Pintu terbuka, dan wajah Ibu yang kurindukan muncul di sana.


Tangisku pecah, aku berjalan mendekati Ibu untuk memeluknya. Aku butuh pelukan Ibu saat ini, butuh kekuatan darinya. Namun, suara di belakang sana membuatku urung lebih mendekat. 


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Mas Ilham, kakakku. Ia segera merengkuh Ibu menjauhi ku. 


“Mas, aku ....”


“Di sana aja! Jangan masuk. Gila apa kamu datang ke sini? Di rumah ini banyak anak kecil, Dira! Kamu mau menularkan virusmu itu pada seluruh keluarga?” tanya Mas Ilham keras.


Aku terpana mendengar ucapannya. Kata-kata itu keluar dari mulut kakakku sendiri? Benarkah ia kakak yang selama ini kusayangi? 


“Mas ....” 


“Seluruh tetangga pada ngomongin keluarga kita, tahu nggak kamu! Malu, Andira! Kami malu! Ibu bahkan nggak berani ke luar rumah. Sekarang kamu malah nekat datang ke sini?” bentak Mas Ilham lagi. 


Hatiku benar-benar hancur mendengar kalimatnya. Mereka malu karena keadaanku ini? Tidakkah mereka sadar aku juga korban di sini? Aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. 


Luruh air mataku jatuh. Tubuh ini lunglai, dan aku terduduk di lantai yang dingin. Isakku semakin keras menerima kenyataan bahwa keluarga pun tak mau menerimaku. 


Ibu pun ikut menangis, tetapi Mas Ilham menahan Ibu untuk mendekatiku. 


“Kasihan adikmu Ilham,” ratap Ibu memohon.


“Biarin aja, Bu. Dia yang memutuskan menikahi laki-laki itu. Ini akibat dari keputusannya sendiri. Kita bisa apa? Penyakitnya itu menular, Bu! Ibu nggak mau ‘kan seluruh keluarga ketularan?” jawab Mas Ilham tegas. Air mataku dan Ibu tak bisa meluluhkan hatinya. 


“Mending kamu pergi dari sini, Dira. Sebelum ada tetangga yang lihat kamu.”


Mas Ilham membanting pintu di hadapanku. Suara tangisan Ibu masih terdengar di dalam sana. Namun, Mas Ilham akan tetap dengan keputusannya. Mereka mencampakkanku.


****


Sudah berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Hidupku sudah tak ada gunanya lagi. Semua orang menjauhi dan membenciku. Bahkan keluarga pun enggan berada dekat denganku. Mereka terlalu takut akan tertular virus ini. Tak ada gunanya lagi aku hidup. 


Tangisan Shena di luar sana semakin menjadi. Sejak pagi ia tak hentinya menangis. Beberapa hari ini kubiarkan ia dan kakaknya sendirian. Apa yang bisa kulakukan? Mereka harus bisa hidup tanpa aku. Kematian akan segera menjemputku.


“Ma ....” Suara Alfia kembali memanggilku. Aku tahu, ia kini juga menangis. Namun, mereka harus belajar hidup tanpa aku. 


“Buka pintunya, Ma ....” pintanya memelas. Tangisan ketiga anakku kini bercampur menjadi satu. 


“Ma ....”


Sakit. Hatiku sakit mendengar tangisan mereka. Namun, aku bisa apa? Aku akan segera mati. Mereka harus bisa menerima itu. 


Air mataku kembali jatuh. Kesedihan, dan kemarahan bercampur menjadi satu. Kenapa semua ini terjadi pada kami?


Dulu, keluarga kami utuh, bahagia, dan selalu terasa sempurna. Namun, dalam sekejap saja semua keadaan itu berbalik. Jangankan untuk tertawa, untuk tersenyum pun aku tak lagi memiliki alasan yang cukup. 


Ya Tuhan, kenapa harus aku? Kenapa harus anak-anakku?


Dalam benakku kembali terbayang wajah cantik ketiga putriku. Alfia, Ulfa, mereka pasti ketakutan di luar sana. Namun, aku tak bisa membiarkan mereka ikut menanggung derita ini. 


Kembali terngiang di telingaku kata-kata Mas Ibram dan Mas Ilham. Mungkin mereka benar. Aku bisa menularkan penyakit ini jika terus berada dekat dengan mereka. Aku ini kotor, dan menjijikkan. Aku tak pantas lagi untuk dunia ini.


Alfia dan Ulfa, mereka tak boleh berada di dekatku lagi. Aku tak mau mereka tertular. Tak ingin mereka menerima cibiran sepertiku. Cukup aku dan Shena. Ya... cukup aku dan Shena. 


Bergegas kuhampiri pintu, dan perlahan membukanya. Pemandangan di luar sana membuat jantungku kembali berdenyut sakit. Semuanya berantakan. Alfia dan Ulfa, mereka terlihat sangat tidak terawat. Mata mereka bengkak karena menangis, rambut mereka tak lagi terikat rapi seperti biasa. Aku tak bisa melihat mereka seperti ini. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 


Kuambil Shena dari pangkuan kakaknya, dan menyodorkan beberapa lembar uang pada Alfia. 


“Pergi dari sini, Nak. Pergi ke rumah nenek! Bawa uang ini! Mama nggak mau kalian menderita di sini. Pergilah!” perintahku pada mereka berdua.


“Mama ... Mama kenapa?” tanya Ulfa terisak. 


“Kalau kami salah, kami minta maaf, Ma. Kami janji nggak akan nakal lagi. Mama jangan begini,” ucap Alfia dengan dua tangan di dadanya.


Air mataku semakin deras mengalir. Namun, kuyakinkan hati bahwa semua ini demi kebaikan mereka berdua.


“Pergi dari sini! Pergi dari rumah ini. Mama sayang kalian, Mama nggak mau menularkan penyakit ini pada kalian. Pergi!” perintahku lagi sembari membanting kembali pintu kamar dan menguncinya. 


Kudekap Shena dalam pelukanku. Kami bertangisan bersama-sama. Alfia dan Ulfa masih terus mengetuk pintu dan memanggil namaku.


“Ma ... buka, Ma,” pinta mereka terus menerus, membuat hatiku semakin teriris. 


“Pergilah, Nak. Pergi dari rumah ini! Kalian nggak boleh sakit,” jawabku lemah. Aku tak pantas lagi menjadi ibu mereka.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kemintil98 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh friya1
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di