CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e12bc7ec0cad71a2a7bce23/andira

ANDIRA

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 3
Tema yg jarang diungkap, tapi ente pas banget berceritanya. Semoga konsisten updet sampai tamat ya.
Quote:


Part 5



Sintya membimbingku menuju sofa ruang tamu, sudah cukup lama kami bertangisan. Ruangan ini benar-benar terlihat kacau. Pakaian kotor Shena berserakan di lantai. Aroma pesing tercium sangat tajam dari sana. Peralatan makan anak-anak yang mulai menguarkan aroma tak sedap juga terserak di beberapa bagian. Ya Tuhan ... ibu macam apa aku yang membiarkan anak-anaknya hidup dalam kekacauan seperti ini.

Kupandangi kembali kedua putri kembarku. Wajah mereka nampak kusut dan letih. Mata yang membengkak seolah menunjukkan seberapa seringnya mereka menangis. Sisa-sisa kepanikan pun masih nampak jelas di sana. Aku telah melakukan kesalahan besar.

Kutarik kedua putriku itu dalam pelukan, dan seketika mereka membalasnya dengan pelukan yang sama eratnya. Air mataku kembali luruh saat mereka terisak di bahuku. Mereka pasti merasa sangat ketakutan.

“Maafin mama, Sayang. Maafin mama ...,” ucapku sembari membelai lembut rambut mereka berdua.

Kulirik sekilas Sintya yang mengusap sudut matanya. Rasanya aku malu harus menunjukkan semua kekacauan ini padanya. Betapa tidak beruntungnya aku.

“Kalian udah pada makan belum?” tanya Sintya setelah si kembar berhenti menangis. Kedua putriku itu hanya menggeleng lemah. Ah ... pasti persediaan makanan di kulkas sudah habis. Aku pun baru menyadari bahwa perutku mulai terasa perih.

“Tante pesanin makanan, ya,” ucap Sintya sembari mengeluarkan ponsel dari tasnya. Lantas si kembar bergegas mendekat dan ikut memilih makanan yang mereka mau.

Diam-diam aku mensyukuri keberadaan Sintya di sini. Entah apa jadinya jika ia tak datang. Mungkin aku akan terus mengurung diri di kamar, dan pasrah menunggu kematian datang. Sementara si kembar akan terus hidup dalam kekacauan yang kubuat.

Tiga puluh menit kemudian, makanan yang dipesan pun datang. Alfia dan Ulfa makan dengan begitu lahap, seolah sudah terlalu lama mereka tak menjumpai makanan. Lagi hatiku terasa perih, betapa kebodohanku telah menyakiti kedua anakku.

Sementara kami bertiga makan, Sintya terus sibuk dengan ponselnya. Wajahnya nampak sangat serius. Entah apa yang sedari tadi begitu menarik perhatiannya.

“Sin, makasih, ya,” ucapku setelah membereskan sisa-sisa makanan. Sintya pun ikut membantu mengumpulkan seluruh pakaian kotor Shena. Setidaknya ruangan ini terlihat lebih baik daripada sebelumnya.

“Iya, Say. Sama-sama,” jawabnya sembari tersenyum.

Kami kembali duduk di sofa, sementara si kembar tertidur di depan televisi. Wajah polos mereka membuat hatiku tersentuh.

“Aku nggak nyangka Mas Tama bisa melakukan semua ini, Sin. Aku percaya banget sama dia. Aku ... aku ....” Kalimatku terpotong oleh isakan. Sesak ini selalu kembali datang setiap kali aku teringat Mas Tama. Begitu sulitnya untuk mengikhlaskan keadaan ini.

“Udah ... udah. Kamu nggak usah ingat-ingat itu lagi. Mending sekarang kita fokus untuk dirimu dan anak-anak aja, ya, Say,” ucap Sintya sembari menyentuh jemari tanganku.

“Kenapa Tuhan menghukum aku seperti ini, Sin? Kenapa?” tanyaku padanya. Entah ia bisa menjawabnya atau tidak. Aku hanya ingin seseorang menyadari bahwa semua ini tak adil untukku.

“Belum tentu ini hukuman, Dira,” ucap Sintya lembut. Aku mengalihkan perhatian padanya. Bukan hukuman? Lantas apa?

“Siapa tau Allah kangen sama kamu, dan pengen liat kamu lebih mendekat aja,” lanjutnya sembari mengusap lembut punggungku.

Aku menatap kembali gadis berhijab itu. Kami berteman semenjak duduk di bangku SMA. Meskipun sangat berbeda dalam hal kepribadian dan penampilan, tetapi persahabatan kami nyaris tak pernah goyah.

Sintya yang dibesarkan dalam lingkungan yang taat dengan agama, selalu membisikkan kalimat-kalimat bijak padaku. Meskipun belum seluruh nasihatnya kujalankan, tetapi gadis manis berkulit kuning langsat itu seolah tak pernah bosan menyemangatiku.

“Kalau orang lain aja aku semangatin, masa sahabat terbaik aku nggak,” ucapnya selalu. Entahlah ... mungkin tak akan pernah kutemukan lagi sahabat seperti Sintya di dunia ini.

Sintya beruntung terlahir dalam keluarga yang berkecukupan. Bisnis properti milik ayahnya sudah tak perlu diragukan lagi. Jauh berbeda denganku yang hanya memiliki Ibu sedari kecil. Namun, nyatanya semua itu juga tak menghalangi Sintya untuk bersahabat denganku.

“Aku mungkin awam juga tentang hal ini, Say. Tapi aku akan selalu siap membantu kamu,” ucap Sintya membuyarkan lamunanku. Ah ... Sintya, entah terbuat dari apa hatinya. “Kalau kamu harus ke dokter, aku bakal nemenin kamu,” tambahnya kemudian.

“Aku punya konselor, Sin. Mba Anita, dia yang akan membantu aku seharusnya. Tapi ... udah dua kali pertemuan aku nggak datang ke sana,” ucapku.

“Kenapa?” tanya Sintya dengan kening berkerut.

“Ya, aku ngerasa semuanya percuma. Aku ngerasa sendirian menghadapi semua ini, dan aku takut ....”

“Sekarang udah ada aku, berarti nggak ada yang harus ditakutkan lagi ‘kan, Say? Kita temui dia lagi, ya? Aku temenin, biar aku juga tau apa yang bisa aku lakuin buat bantu kamu,” ucap Sintya lagi sambil tersenyum. Jujur saja, aku terharu dengan sikap optimisnya, di saat aku sendiri bahkan tak yakin lagi bisa melewati semua.

“Sin ...,” ucapku kemudian.

“Iya,” jawab Sintya. Mata bulatnya menatapku antusias.

“Kamu nggak takut tertular virus ini?” tanyaku padanya. Saat keluargaku bahkan ketakutan sekedar untuk berada di dekatku, ia justru tanpa ragu memeluk dan duduk di sampingku.

Sintya menatapku beberapa saat. “Kamu nggak berniat menularkan sama aku, ‘kan?” tanyanya sembari mengerling dan kembali tersenyum.

Aku ikut tersenyum mendengar candaannya. Ah ... rasanya nyaman sekali bisa tersenyum seperti ini, setelah berhari-hari yang ada hanya tangisan.

“Gitu dong, Say. Kamu harus sering-sering senyum,” ucap Sintya. “Aku udah searching sekilas tadi selagi kalian makan. Insya Allah, penularan virusnya nggak akan terjadi hanya dengan interaksi biasa kayak gini, Say,” lanjut Sintya kemudian.

Aku teringat dengan kata-kata Mbak Anita tempo hari. Ia juga mengatakan bahwa interaksi biasa tak akan membuat orang-orang di sekitarku ikut tertular. Namun, sikap keluarga yang menolakku mentah-mentah jujur saja membuat kepercayaan diriku sempat memudar.

“Untuk selanjutnya, kita temui konselormu itu aja, ya, Say. Biar kita bisa tau banyak info tentang HIV. Kamu harus terus optimis ya, Say.”

Aku kembali tersenyum. Jika Sintya saja bisa seyakin ini, bagaimana mungkin aku tidak. Aku akan kembali berjuang, demi ketiga buah hatiku. Aku tak boleh menyerah.

****

Kuaktifkan kembali ponsel yang beberapa hari ini telah kuabaikan. Tak ada harapan apa-apa, karena memang tak mungkin ada yang menghubungiku. Hanya saja, aku harus menghubungi Mbak Anita untuk mengatur jadwal pertemuan kami kembali.

Baru saja ponsel itu kunyalakan, bertubi-tubi pesan masuk. Semuanya dari satu nama yang sama. Mbak Anita. Ia mengkhawatirkanku dan terus menanyakan kabarku. Ah ... dokter telah menyarankan seseorang yang sangat tepat untukku. Setidaknya, aku bisa merasakan ada seseorang yang begitu peduli padaku.

Kutekan tombol panggilan pada layar, dan setelah beberapa kali deringan di seberang sana, suara Mbak Anita pun terdengar mengucapkan salam.

“Dira, saya khawatir sekali sama kamu. Rencananya besok saya mau datang ke sana, tapi syukurlah kamu menghubungi duluan. Jadi saya bisa merasa sedikit tenang,” ucapnya lembut.

“Iya, Mbak. Maaf ...,” jawabku lemah. Jujur saja aku merasa malu. Ada orang-orang yang begitu peduli padaku, tetapi aku terus terpuruk karena penolakan dari keluarga. Ah ... seandainya saja mereka juga mendukungku ....

“Nggak apa-apa. Udah tau kamu baik-baik aja pun saya udah senang. Insya Allah, besok saya datang ke sana, ya,” ucap Mbak Anita kemudian.

Aku mengangguk lemah. Namun, teringat bahwa Mbak Anita tak mungkin melihat anggukanku, aku pun menjawabnya singkat.

Kuputuskan kembali sambungan telepon itu setelah membuat janji dengannya. Sedikit rasa sejuk berembus ke hatiku. Aku tak lagi merasa sendiri. Semoga saja semua ini bisa menjadi langkah awal untuk kebangkitan kami. Aku ingin anak-anak bisa kembali menjalani hidup mereka seperti biasa.

*****

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dmc dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh friya1
Lihat 1 balasan
Balasan post friya1
Sangat... Sangat... Sangat menyentuh nurani.. emoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
profile-picture
friya1 memberi reputasi
Quote:


Part 6



Aku baru saja hendak menyiapkan sarapan untuk anak-anak ketika menyadari ada yang salah dengan diriku. Tanganku dipenuhi oleh luka yang mulai membusuk. Bukan hanya tangan, bahkan luka ini ada di sekujur tubuhku. Kuraba wajah sembari berlari menuju cermin.

Seketika aku merasa lunglai, menatap pantulan yang ada di dalam sana. Seluruh wajahku telah dipenuhi luka yang sama. Seperti kudis yang parah. Aku terjatuh ke lantai yang dingin. Terpana saat menyadari kuku-kuku kakiku bahkan hampir terlepas. Bagaimana ...?

Namun, tangisan Shena tiba-tiba mengalihkan perhatianku. Suaranya begitu melengking dan mengiba. Bergegas aku berdiri dan mencari keberadaannya. Kutemukan gadis kecilku itu di halaman depan rumah. Ia terduduk di tanah yang basah sembari memegang boneka kesayangannya.

Sekumpulan anak kecil berdiri di depan pagar, meneriaki dan menertawakan Shena. Beberapa di antaranya bahkan melempari Shena dengan kerikil.

Aku segera berlari mendekat, dan mengusir anak-anak itu pergi. Mereka tak bisa melakukan ini pada putriku. Dasar anak-anak badung. Inikah yang diajarkan orang tua mereka di rumah?

Kuhampiri Shena yang masih menangis, dan kurangkul ia dalam pelukku. Namun, aku kembali terkesiap menatap tubuh kecilnya dipenuhi luka yang sama persis seperti milikku. Kuku-kuku tangannya bahkan sudah lepas sebagian.

“Shena ....”

Kutatap wajah mungil yang kini juga sedang menatapku. Aku tersentak. Kedua matanya menatapku tajam, seolah marah dan menuntut. Lantas tangan kecil itu mencekikku kuat.

Aku kesulitan untuk bernapas. Kucoba melepaskan kedua tangan itu dari leherku. Namun, entah bagaimana Shena menjadi jauh lebih kuat, dan wajahnya ....

Bagaimana putri kecilku berubah mengerikan seperti ini?

Shena ....

****

“Ma ... Ma.” Suara si kembar tiba-tiba mengejutkanku. Mereka mengguncang lenganku dengan panik.

Kubuka mata dan mengedarkan pandang berkeliling, cahaya silau dari lampu kamar sedikit membuat mataku perih.

“Shena ....”

Kulirik ke samping dan mendapati Shena masih nyenyak dalam tidurnya. Tak ada luka apapun di tubuhnya. Syukurlah semua hanya mimpi.

“Mama kenapa?” tanya Ulfa kembali mengalihkan perhatianku.

Wajah si kembar terlihat ketakutan. Apakah aku menjerit dalam tidurku tadi?

“Nggak, Sayang. Mama cuma mimpi buruk tadi. Kalian kaget, ya?” tanyaku sembari merangkul mereka berdua. “Nggak apa-apa. Mama baik-baik aja. Kalian tidur lagi, ya.”

Kubantu kedua putriku itu untuk kembali tidur, dan menyelimuti mereka. Astaga ... mimpi itu terasa seperti nyata. Aku bahkan masih bisa merasakan jantungku yang berdegup kencang. Ya Tuhan ... lindungi anak-anakku.

****

Sintya datang sesuai waktu yang telah dijanjikan. Ia nampak cantik dalam balutan kerudung merah jambu. Aku masih tak habis pikir, bagaimana gadis sesempurna Sintya masih memilih hidup sendiri hingga hari ini. Jika ia mau, tentu akan banyak lelaki di luar sana yang bersedia menjadi imamnya. Tak ada yang kurang dalam diri sahabatku itu..

Namun, begitulah Sintya sejak dulu. Ia tak mau terlalu memikirkan masalah cinta, dan tak pernah mau mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Aku bahkan tak pernah tahu, apakah Sintya pernah jatuh cinta atau tidak.

“Gimana keadaanmu hari ini, Say?” tanyanya sembari meletakkan beberapa bungkusan berisi makanan di atas meja.

“Aku mimpi buruk, Sin,” jawabku pelan. Mengingat kembali mimpi itu membuatku bergidik ngeri.

“Kalau mimpi buruk nggak usah diceritain, ya,” ucap Sintya lagi. Ia telah selesai menata makanan di atas meja, dan berjalan mendekatiku. “Kamu Cuma terlalu takut aja, makanya sampai kebawa mimpi. Tenang aja, Dira. Everything’s gonna be ok,” lanjutnya lagi, lalu ia tersenyum dan menggenggam tanganku.

Ia selalu saja bisa menularkan kekuatan baru padaku. Entah bagaimana akan kubalas semua kebaikannya ini.

Sintya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dan menyerahkan padaku. Sebuah tasbih cantik berwarna biru.

“Kalau kamu takut, kalau kamu merasa sendiri, atau bermimpi buruk lagi, berdzikirlah insya Allah hatimu akan jadi lebih tenang, Say,” ucapnya lagi.

Kupandangi manik-manik tasbih itu dengan takjub. Ini tasbih yang selalu Sintya bawa kemana pun ia pergi. Katanya tasbih ini adalah kesayangannya.

“Kamu yakin ini buat aku, Sin?” tanyaku memastikan bahwa ia tak salah memberikanku tasbih ini.

Sintya mengangguk cepat. “Iya, buat kamu. Tapi dipakai ya, Say, jangan dianggurin,” ucapnya sembari tertawa.

Aku ikut tertawa mendengar kata-katanya. Tentu Sintya tahu aku belum pernah menggunakan tasbih sebelumnya.

“Makasih ya, Sin,” ucapku kemudian.

“Iya, sama-sama. Ya udah, ayok kita makan. Aku panggil anak-anak, ya,” ajaknya sembari berdiri, dan memanggil anak-anak ke kamar.

Kami berempat makan dengan penuh sukacita. Kehadiran Sintya membuatku merasa seolah mendapatkan keluarga baru. Kesedihanku akan penolakan dari Mas Ilham pun perlahan mulai memudar.

****

“Hai, Dira, gimana kabarnya hari ini? Cantik sekali kamu, lho,” ucap Mbak Anita saat kusongsong ia ke halaman. Ia datang kurang lebih satu jam setelah kami selesai makan.

“Beginilah, Mbak,” jawabku sembari mengangkat bahu, dan mempersilahkan Mbak Anita masuk.

Ia pun saling bertukar sapa dengan Sintya, dan tak lupa memberikan pelukan hangat pada anak-anak, terutama Shena.

“Gimana perasaan kamu sekarang?” tanya Mbak Anita sembari tersenyum. Sintya telah menyuguhkan segelas teh panas untuknya di atas meja.

Aku terdiam sejenak, lalu kembali mengangkat bahu. Jujur saja, masih sulit bagiku berdamai dengan keadaan ini. Sisa-sisa kebencian, kemarahan, dan rasa tak terima masih kuat menguasai hatiku. Jika tak ada Sintya, mungkin aku masih mengurung diri di kamar sampai hari ini.

“Kamu harus terus semangat, life must go on!” ucap Mbak Anita menyemangatiku. “Hidup kamu nggak berakhir hanya sampai di sini. Masih ada banyak hal untuk dilakukan,” lanjutnya.

Kutarik napas dalam, mencoba meresapi setiap kalimat yang diucapkan oleh Mbak Anita. Hidupku belum berakhir. Kucoba terus menanamkan kalimat itu dalam benakku. Aku harus terus berjuang demi anak-anak.

“Tapi ... seluruh keluarga ....” Aku terdiam kembali, berat untuk melanjutkan kalimat ini. Air mata rasanya kembali menggenang di pelupuk mataku setiap kali teringat kejadian itu. Sudut hatiku kembali berdarah, perih.

“Perlahan mereka akan mengerti, dan menerima. Kita akan bantu menjelaskan pada mereka,” ucap Mbak Anita. Lewat senyumnya, ia berusaha meyakinkanku.

Kutatap ia dan Sintya secara bergantian. “Terima kasih,” ucapku singkat. Tenggorokanku tercekat menahan haru.

Lantas Mbak Anita melanjutkan penjelasannya tentang virus yang kini bersarang di tubuhku.

“HIV merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh menjadi lebih lemah dalam melawan infeksi. HIV memang nggak bisa disembuhkan, tapi dengan terapi Antiretroviral, kita bisa memperlambat perkembangan virusnya. Karena ARV ini bisa menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus untuk menggandakan diri, dan mencegah virus untuk menghancurkan sel CD4. So, dengan rutin mengonsumsi ARV ini, pasien akan bisa menjalani hidup lebih sehat seperti masyarakat pada umumnya.”

Aku dan Sintya terkesima mendengar penjelasan dari Mbak Anita. Masih ada harapan untukku dan Shena. Sintya bahkan menatapku dengan pandangan bahagia.

“Tuh ‘kan. Apa kubilang kemarin? Nggak ada yang nggak mungkin, Say,” ucapnya.

Aku hanya terdiam tak mampu membalas kata-katanya. Sebentuk harapan kembali bersemi di dalam hatiku. Sebenarnya tempo hari Mbak Anita juga sudah menjelaskan hal ini padaku, tetapi aku merasa ragu akan mampu menjalani semua seorang diri.

“Untuk penularan virusnya, karena virus ini terdapat pada darah, sperma, cairan vagina, dan ASI, maka penularannya biasanya terjadi karena hubungan seksual, kontak darah, atau lewat ASI, tapi yang terakhir ini kemungkinannya lebih kecil dibandingkan dua yang pertama. Jadi, interaksi sehari-hari seperti berpelukan, bersentuhan, makan bersama, penggunaan toilet bersama tidak akan mengakibatkan penularan virus HIV. Itulah kenapa kita nggak perlu takut berada di dekat pasien HIV,” lanjut Mbak Anita lagi.

Sintya kembali menatapku dengan tatapan berbinar. “Jadi, nggak masalah dong kalau aku terus di sini menemani Dira, Mbak?” tanyanya kemudian.

“Sama sekali nggak masalah. Justru sangat bagus untuk Dira nantinya memiliki orang-orang yang peduli dengannya. Nanti kita juga akan berikan pemahaman ini pada keluarga yang lain. Tenang aja, Dira. Kamu nggak sendiri,” jawab Mbak Anita lembut.

Aku kembali merasakan embusan segar dalam hatiku. Mau tidak mau harapanku kembali hidup, bahwa suatu hari seluruh keluarga akan mampu menerimaku, seperti Mbak Anita dan Sintya kini.

“Jangan menyerah, Dira. Demi anak-anak. Life must go on,” lanjutnya lagi.

Kuusap sudut mataku yang basah. Rasa haru kini meliputiku. Aku tak sendiri. Aku bisa melewati semua ini. Ya ... aku bisa.

******

Bersambung ....
profile-picture
profile-picture
dmc dan jiyanq memberi reputasi
Yang punya wp, bisa ikuti wp saya ya, gan.
@Friya ansari
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Halaman 3 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di