CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e12bc7ec0cad71a2a7bce23/andira

ANDIRA

Tampilkan isi Thread
Halaman 2 dari 3
Balasan post friya1
emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek
profile-picture
friya1 memberi reputasi
Quote:


emoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post friya1
Lanjutkan,sis. Jangan berhenti sebelum ane kembali tersenyum..
profile-picture
friya1 memberi reputasi
wah seru juga nih...diikutin dulu deh.semoga rajin update sis hehe
profile-picture
friya1 memberi reputasi
Quote:


Ashiap, Gan.
Quote:


Terima kasih, Kak. emoticon-Peluk
Quote:


Ya karna almarhum suaminya maaf, nakal gitu suka jajan gan
Quote:


emoticon-Mewekemoticon-Mewek
profile-picture
kemintil98 memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
kasihan emoticon-Turut Berduka banyak korban karna keegoisan emoticon-Turut Berduka
profile-picture
friya1 memberi reputasi
nunggu lanjutannya
profile-picture
friya1 memberi reputasi
mantab ini bahasanya rapih,

lanjut gan!! ijin gelar tenda sambil ngupi makan gorengan ujan2 emoticon-coffee
profile-picture
friya1 memberi reputasi
Quote:



Part 4


Shena telah tertidur dalam pangkuanku, mungkin ia lelah menangis. Hatiku pedih melihat keadaan gadis kecilku itu, tubuhnya nampak lebih kurus daripada biasanya. Ibu macam apa aku yang bahkan tak bisa mengurus anak-anaknya?


Alfia dan Ulfa pun tak lagi terdengar tangisnya. Apakah dua putri kembarku itu telah pergi menuju rumah Ibu? Separuh hatiku ingin memeriksa keberadaan mereka di luar sana. Namun, sebagian lagi melarang. Tidak. Aku tak boleh lagi berdekatan dengan mereka. Aku tak pantas.


Suasana kini sunyi senyap. Hanya dengkur halus Shena yang sesekali terdengar. Bagaimana hidup kami selanjutnya? Kapan kematian akan menjemput? Jika aku mati lebih dahulu, bagaimana nasib Shena nanti? Berbagai pikiran buruk silih berganti datang mengganggu. Aku benar-benar telah sampai di ambang keputusasaan.


Teringat semua penolakan keluarga Mas Tama, juga keluargaku. Bagaimana aku akan sanggup menghadapi semua ini sendirian? 


Shena, seandainya ia bukan terlahir dari rahimku, mungkin ia tak harus ikut menghadapi semua ini. Kembali tangisku pecah. Penyesalan  demi penyesalan serasa hampir membunuhku. Kebencian pada Mas Tama juga semakin kuat menggerogoti hati ini. Lelaki bajingan itu, bagaimana ia tega ....


Suara bel di luar sana mengejutkanku. Siapa yang datang? Ibukah? Mas Ilham? Apa mereka berubah pikiran dan ingin menjemputku? Sedikit harapan bersemi di hatiku. Namun, lekas aku kembali mematikannya. Tak ingin lagi merasakan kecewa. 


“Dira ....”


Seseorang itu kini mengetuk pintu kamar. Aku familier dengan suaranya.  Sintya, sahabat karibku. Kenapa ia datang? Ah ... aku baru ingat, Sintya belum kuberitahu tentang keadaanku.


“Dira, buka pintunya, Say!” 


Benar. Itu Sintya. Kuletakkan Shena di tempat tidur dan bergegas membuka pintu untuk memastikan. Di depan pintu itu, Sintya dengan hijabnya berdiri sembari tersenyum. Alfia dan Ulfa memeluk kedua tangannya. Ternyata mereka masih di sini.


“Sin ...,” ucapku lemah.


“Anak-anak nelfon aku dari telfon rumah. Mereka nangis-nangis. Ponselmu kenapa nggak aktif, Say?” tanyanya sembari mendekat.


“Jangan mendekat, Sin. Tetap di sana!” Aku menahan gerakannya dengan isyarat tangan.


“Dira, kamu kenapa?” tanyanya dengan tatapan bingung. “Ada masalah apa?”


Alfia dan Ulfa kembali menangis. Namun, mereka tak lepas memeluk Sintya.


“Hidupku udah hancur, Sin. Aku kotor ... aku ....” Aku terisak. Tak sanggup melanjutkan kalimatku.


“Hancur ... kenapa? Apa terjadi sesuatu sama kalian? Terjadi sesuatu sama Tama?” tanyanya kembali. Ia kembali berusaha mendekat. Namun, aku terus menahannya dan bergerak mundur. 


“Dira, kenapa?” tanyanya lagi. Nampak jelas kekhawatiran kini di wajahnya.


“Aku ....” Kalimatku tertahan. Kupejamkan mata sejenak untuk memberanikan diri mengucapkannya.  “Aku positif HIV, Sin,” ucapku lemah, lalu terduduk di lantai kamar. Aku tahu akan kembali sendiri. Sintya nampak sangat terkejut mendengar ucapanku. Ia seketika mematung di tempatnya berdiri. Ia pasti akan segera pergi meninggalkan kami seperti semua keluargaku.


“HIV? How can? Maksud aku ... hidup kamu sangat clean, aku kenal kamu udah dari lama, gimana bisa ...?”


“Tama mengkhianati aku, dan menularkan virus ini sama aku dan Shena....”


Sintya menutup mulutnya dengan dua tangan. Wajahnya semakin menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.


“Shena ...,” lirihnya. Lalu ia sendiri seperti kehilangan kekuatan untuk berdiri, lantas berpegangan pada pintu kamar. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun,” ucapnya sembari menutup mata beberapa saat.


“Ya Allah, Dira ...,” ucapnya kembali menatap ke arahku. 


Sementara aku menutup wajah dengan dua tangan, tersedu-sedu. Kembali pedih di hatiku menghunjam. Sintya masih berdiri diam dengan segala keterkejutan yang tersirat di wajahnya.


“Jadi, karna itu kamu melakukan semua ini? Alfia dan Ulfa nelfon aku ketakutan.”


“Mereka harus belajar hidup tanpa aku, Sin. Aku akan segera mati. Hidupku udah hancur. Semua orang bahkan membuang dan menjauhi aku. Untuk apa lagi aku hidup?” ratapku padanya. 


“Kamu nggak boleh ngomong gitu, Dira ...,” ucap Sintya kembali berjalan menghampiriku.


“Stop! Jangan mendekat, Sin! Aku nggak mau kamu dan si kembar tertular.”


Sintya nampak hendak bersuara, tetapi ia urung. Aku tahu semua ini amat mengejutkan baginya. Sulit untuk mencerna situasi ini dalam waktu yang singkat.


“Hidup aku udah hancur, Sin. Aku akan mati,” ucapku kembali. 


“Dira, kamu nggak boleh ngomong begitu. Kamu masih bisa berobat ....”


“Untuk apa, Sin? Semua keluarga udah mencampakkan aku, untuk apa lagi aku hidup? Untuk apa aku berobat? Mereka akan tetap membuang aku.”


“Untuk Shena, untuk Alfia dan Ulfa. Untuk aku,” jawab Sintya tegas. “Kamu nggak boleh putus asa begini, Dira.”


Untuk sesaat aku hanya terdiam. Kata-kata Sintya seolah mengalirkan ketenangan ke dalam hatiku. Ia masih di sini meski tahu keadaanku.


“Tapi aku ... aku akan segera mati, Sin,” ucapku kemudian. Kembali teringat Mas Tama yang terbaring lemah. Mungkin tak lama lagi, aku akan menyusulnya. 


“Hidup dan mati itu di tangan Allah, Dira. Kita hanya wajib berusaha. Setiap penyakit ada obatnya.”


“Ini HIV, Sin, HIV,” jawabku kembali mencoba menegaskan.


“So what? Dunia kedokteran udah semakin canggih. Nggak ada yang nggak mungkin.”


Aku terpaku mendengar kata-kata Sintya. Sejujurnya hatiku merasa terharu, namun bisakah aku menjalani semuanya sendiri?


“Aku ... aku sendirian, Sin,” ucapku parau. Separuh hatiku berharap padanya.


“Dira. Aku ini sahabat kamu, kita udah seperti saudara, ‘kan? Kita hadapi ini sama-sama,” jawabnya lagi.


Kutatap wajahnya beberapa saat. Tak kutemukan apa-apa selain ketulusan yang seperti biasa selalu ia tunjukkan. Benarkah ia akan menemaniku?


“Peluk aku, Sin,” pintaku padanya.


Sintya bergegas mendekat, dan berjongkok di sampingku. Lantas ia menarikku dalam pelukannya. Ia benar-benar memelukku. Rasanya aku tak percaya ini.


Ini pelukan pertama yang kudapatkan semenjak dinyatakan positif terinfeksi HIV. Pelukan ini terasa sangat nyaman bagiku. Aku menangis sesenggukan, melepaskan semua beban yang mengimpit. 


“Kamu nggak boleh nyerah, Dira. Shena, Alfia dan Ulfa membutuhkan kamu. Let’s fight! Mari berjuang. Aku ada di sini buat kamu,” ucapnya sembari mengelus punggungku. 


“Sin ....”


“Kasian Alfia, dan Ulfa. Mereka ketakutan. Mereka nggak ngerti apa-apa. Kamu satu-satunya yang mereka punya sekarang. Please, jangan menyerah,” ujar Sintya lagi.


Aku semakin kuat terisak. 


“ Aku takut, Sin. Gimana kalau aku nggak bisa melewati semua ini. Aku takut.”


“Kamu nggak sendiri, Dira. Kamu nggak sendiri.” Sintya kembali meyakinkanku dan mengeratkan pelukannya.

****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwarabdulrojak dan 4 lainnya memberi reputasi
Quote:


emoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
Quote:


Makasih, gan. 🙏🙏
profile-picture
impola memberi reputasi
Quote:


Makasih, gan 🙏🙏🙏
terharu emoticon-Mewek
gak sabar nunggu update lg
keren gan.. ditunggu updatenya.. sampe kebawa ke cerita pas baca
Balasan post friya1
Mana lanjutannya, sudah beri kacang sekilo nih cerita sempelbener
Halaman 2 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di