CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Restu yang Tertukar [Part 1]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e113e808012ae0f7e060958/restu-yang-tertukar-part-1

[SFTH] Restu yang Tertukar

Cerita Bersambung Terbaru

Restu yang Tertukar [Part 1]

Restu yang Tertukar Part 1

Semilir angin pagi ini terasa sejuk menyapa tubuhku. Rindu kembali menyentuh relung hatiku. Terasa indah rindu itu, hingga membuatku enggan membuka mata ini. Kembali ku peluk bantal guling yang ada di dekatku. Rasanya ingin selalu memeluknya, membayangkan wajahnya selalu.

"Puspita, bangun...!" Teriak ibu memanggilku sambil mengetuk pintu.

"Iya, bu...!" kubuka pintu kamar dan kulihat ibuku sudah sedikit marah. Mungkin karena tadi sudah lama mengetuk pintu tanpa jawabanku.

Ku cium pipi Ibu, dan langsung menuju kamar mandi.

"Puspita, handuknya" teriak ibu sambil melemparkan sebuah handuk yang sering lupa saat aku pergi mandi.

Setelah mandi, wangi, dan rapi, aku segera berangkat ke kampus. Ku cium tangan ibuku yang menggerutu karena kuabaikan ajakanya untuk makan di rumah.

"Aku buru buru ibu, ada janji dengan temen," kataku pada ibu sambil berlari masuk ke dalam mobil.

Kulajukan mobil perlahan, dan sampai juga akhirnya di kampus. Kulihat Rangga sudah ada di parkiran menungguku.

"Hai, put. Kapan sih kamu nggak telat kalau punya janji ketemu sama aku?" katanya padaku dengan nada kesal.

Rangga terbiasa memanggilku Puput. Terlalu panjang katanya bila memanggil nama panjangku "Puspita."

"Iya, iya, besok besok nggak telat lagi, aku takut untuk bangun, karena lagi mimpiin kamu sayang."

"Preeeettt...! Gombal...!" Jawab Rangga sambil mencubit pipiku.

Kamipun berjalan ke taman dekat kampus, entah apa yang ingin dia bicarakan. Semalam sebelum tidur Rangga kirim pesan, katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan.

"Ada apa sih ngga?" tanyaku saat kami sudah duduk berdua.

"Bentar, aku cari minum, tunggu di sini, ya!"

Belum sempat aku menjawab, Rangga sudah berlari kecil menuju toko kecil di ujung jalan dekat kami duduk. Tak butuh waktu lama dia sudah datang kembali dengan membawa makanan ringan dan dua botol minuman.

"Cepet bilang ngga, ada apa? Jangan bikin penasaran, deh." Tanyaku penasaran sambil meneguk minuman yang Rangga berikan padaku.

"Put, kita nikah ya?"

" Uhuk uhuk...! Apa ngga? Nikah?" Tanyaku sambil mengelus dadaku yang tersedak air.

"Ada yang salahkah?" Tanya Rangga padaku serius.

Sejenak aku diam, kupandangi wajah Rangga, tak ada guratan gurauan di wajah kekasihku ini.

"Tapi kita masih kuliah ngga, belum tentu juga ibuku kasih restu, secara ibuku itu janda. Dia berjuang sendiri agar aku punya kehidupan yang layak nantinya."

"Aku janji, kita akan tetap kuliah, put." Kata Mas Rangga sambil menggenggam tanganku untuk mencoba meyakinkanku.

"Sudahlah, nanti malam aku akan pergi ke rumah ibumu untuk melamarmu. Kau tolak ataupun kau terima, jawab saja nanti malam." Kata Rangga lagi sambil berlalu meninggalkanku yang masih terdiam.

Sepulang dari kampus, aku sengaja tidak langsung pulang. Aku kerumah Lila sahabatku.

"Puspita, kenapa wajahmu kecut bagai sayur asem gitu?" tanya Lila ketika melihatku sudah ada di depan pintu.

"Kau tak suruh temenmu ini masuk dulu?" Balasku bertanya menggodanya.

Kamipun masuk ke dalam, Lila adalah sahabatku, namun dia putus kuliah karena keterbatasan biaya. Dan memilih bekerja untuk membiayai kehidupanya.

"Kamu nggak kerja ya hari ini, Lil?"
"Enggak, Put. Tempat aku kerja ada renovasi, jadi diliburkan untuk tiga hari ke depan. Ada masalah apa dikau datang dengan membawa setumpuk kerut di wajahmu?"

"Rangga Lil, tiba tiba dia ajakin nikah."

"Bukankah itu bagus Put, artinya dia nggak main main sama kamu."


"Entahlah Lil, nggak mungkin ibuku akan merestui."

"Coba aja dulu, banyak kok yang udah nikah tapi tetep bisa lanjutin kuliah."

Cukup lama aku di rumah Lila, tanpa terasa hari sudah sore.

"Aku pulang dulu, ya?"

"Iya, put. Fikirkan baik baik perkataanku tadi, ya."

Aku segera masuk mobil dan berlalu dari rumah sahabatku. Aku harus segera pulang untuk memberitahu ibu, kalau Mas Rangga nanti akan melamarku, sekaligus ingin tahu, apa pendapat ibu.

Namun, jalanan macet total. Kutengok jam, sudah hampir magrib. Dan aku masih terjebak dalam kemacetan ini. Ternyata lama sekali tadi aku di rumah Lila.

"Kegalauan ini membuatku lupa waktu" gerutuku dalam hati.

"Tiing...!"

Hanphoneku berbunyi, sepertinya ada pesan masuk. Dan benar itu pesan dari Rangga.

"Put, jam tujuh nanti aku ke rumahmu, setuju atau tidak dirimu katakan saja nanti. Dan bila ternyata kau tak menyetujuinya mungkin kita tidak ditakdirkan berjodoh. Aku sudah punya pekerjaan walaupun masih kuliah, dan aku akan bekerja keras untuk kita berdua. Aku hanya ingin kamu jadi milik aku seutuhnya, selamanya. Sekarang atau tidak untuk selamanya."

Sungguh aku tak mengerti dengan keputusanya yang tiba tiba. Aku tak bisa kehilangan Rangga, kekasihku sejak ada di SMA. Tapi bagaimana dengan ibu, tak mungkin ibuku mengizinkan aku menikah saat ini, mengingat perjuanganya sendiri untuk membahagiakan aku.

Aku menangis, entah untuk siapa air mataku. Dan sore sudahpun berganti malam, aku bisa keluar dari kemacetan sekitar jam delapan malam. Betapa terkejut aku sesampai di rumah, motor Rangga sudah terparkir di halaman rumahku.

"Assalamu'alaikum"

Aku mengucap salam sambil masuk kedalam rumah, kulihat ibu sudah menyambutku dan memelukku. Dan Rangga, sudah duduk di kursi ruang tamu.

Jantungku berdegup sangat kencang, menunggu apa yang akan dikatakan oleh ibu.

Next

Quote:


Sumber: Dokpri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh faridatul.a
Halaman 1 dari 2

Indeks Link Cerbung Restu yang Tertukar

Restu yang Tertukar [Part 1]

Baca Cerita Selanjutnya di Sini


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh faridatul.a

Para Tokoh Restu yang Tertukar

Cerita Bersambung Terbaru

Restu yang Tertukar [Part 1]

Para Tokoh Cerbung Restu yang Tertukar

Quote:
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Diubah oleh faridatul.a

[Part 2 ] Restu yang Tertukar

Cerita Bersambung Terbaru

Restu yang Tertukar [Part 1]

Usai memelukku, ibu menuntunku duduk di kursi. Ada guratan senyum namun mata menyimpan kekecewaan yang tak mampu beliau sembunyikan.

"Rangga sudah mengatakan maksud kedatanganya kesini." kata ibu membuka pembicaraan yang sesaat hening karna kedatanganku.

"Nak, kamu sudah tumbuh menjadi remaja, sudah bisa memutuskan apa yang terbaik untukmu. Ibu tak akan pernah menghalangi apapun keputusanmu.Namun, bila kamu memilih untuk menikah, ibu sangat kecewa."kata ibu menimpali.

Seketika aku menangis, desir angin malam yang mulai dingin tak mampu menyejukkan hatiku yang bergemuruh.

"Pulanglah ngga!" aku berkata sembari berjalan ke ujung pintu.

"Apa ini berarti kau menolakku put?" tanya Rangga yang juga ikut berjalan menuju pintu.

"Sudahlah ngga, kita bicarakan besok."

"Tidak Put, aku butuh jawaban sekarang.

"Kita bicara besok."

"Tapi Put....,"

Belum sempat Rangga menyelesaikan kalimatnya, aku segera menutup pintu. Kulihat ibuku berjalan menuju kamar, merebahkan tubuhnya di balik selimut. Terlihat jelas guratan kekecewaan di wajahnya. Rasa berdosa menghantui fikiranku.

Aku segera menutup pintu kamar ibu, aku tahu ibu ingin sendiri saat ini, setidaknya besok pagi saja kami harus bicara.

Aku kembali ke kamar, menuju jendela tempat aku bisa memandang bulan. Aku berdiri di balik jendela, berusaha mencari keputusan terbaik.

Andai cemara yang melambai itu, bisa mewakili ungkapan rasaku. Mungkin hatiku tak sesakit ini.

Sayup-sayup, kudengar suara dari kamar ibu, aku segera beranjak dari jendela menuju kamar ibu. Ku buka pintu kamarnya perlahan, di bawah sinar lampu yang temaram, masih terlihat jelas ibu sedang menangis memeluk foto ayah yang sudah lama berpulang. Segera kuhampiri, dan kupeluk tubuh ibu erat.

"Kau tau kan, ibu hanya memilikimu. Kau tau bagaimana ibu memperjuangkanmu, dari mulai ibu jadi buruh cuci, masak, jual gorengan, hingga akhirnya bisa sampai seperti saat ini. Besar harapan ibu, terselip doa dalam perjalanan ibu, semoga kau punya kehidupan yang layak. Tapi ibu tidak mau egois, kau boleh menikah, tapi setelah kau menikah, kau bukan lagi tanggung jawabku. Mulai kehidupanmu dari awal dengan orang yang sudah kamu pilih. Ku anggap, tugas ibu sudahpun usai." kata ibu dalam isak tangisnya, dan berakhir tegas di akhir kalimatnya.

"Tapi, bu...."

"Sudahlah, pergilah tidur! Kau sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan." kata ibu menimpali.

Aku melangkah kembali ke kamar untuk tidur, meninggalkan ibu yang tak memberiku kesempatan berbicara.

Kurebahkan tubuhku, aku menyadari bahwa aku bersalah. Akulah yang memutuskan dimana aku kuliah, dan jurusan apa yang aku ambil. Wajar bila akhirnya ibu marah ketika tiba-tiba aku bermaksud untuk menikah.

Aku terus melamun, hingga tanpa kusadari aku tertidur. Aku terbangun ketika alarm berbunyi pukul enam pagi. Aku segera beranjak mengambil handuk untuk mandi. Pagi ini sepi, tiada suara ibu mengetuk pintu dengan segala ceramah paginya. Ada yg hilang dan hening. Bahkan sampai aku berangkat kuliah, ibu hanya menjawab salamku dari kamar.

"Ah, mungkin ibu butuh waktu untuk sendiri." gumamku dalam hati.


Sesampai di kampus, aku segera menghampiri Rangga yang sudah duduk di taman.

"Ngga, sebenarnya kenapa sih kamu pengen buru-buru nikah? kasih aku penjelasan Ngga!" tanyaku ketika aku sudah duduk disebelahnya.

"Ayahku sakit put, kamu tau kan usiaku sudah nggak muda lagi, walau kita satu kelas, tapi itu karena aku putus nyambung sekolahnya. Bukan karena kita seumuran. Aku anak sulung, selama ini aku bekerja demi adik-adikku. Sekarang ayahku sakit keras, dia ingin melihatku menikah mengikuti kata hatiku selama ini, keinginan yang selalu kutunda demi adik-adikku." jawab Rangga sembari menggenggam tanganku.

Sejenak aku terdiam, semuanya memang benar, aku saksi akan semua perjuanganya. Aku adik kelasnya jauh di bawahnya. tapi karena Rangga sering putus sekolah, kami jadi satu kelas saat di bangku SMA.

"Put, aku bukan ABG yang sedang puber, aku sudah memikirkan baik baik put" katanya lagi menimpali.

Ku ambil nafas dalam-dalam, menata seluruh ruang di dadaku. Ketika kurasa dadaku tak lagi bergemuruh, ku hempaskan nafasku perlahan, bersiap merapikan kata-kata yang mungkin membuat hatiku sendiri tertusuk.

"Baiklah, ngga. Aku setuju..."

"Benarkah?"

"Iya, ngga. Aku akan berusaha meluluhkan hati ibu, ngga."

Setelah hari terik, aku melajukan mobilku pulang, aku ingin menjelaskan pada ibu bahwa keputusanku benar, dan tidak ada yang berubah setelah pernikahanku. Aku akan tetap kuliah seperti harapan ibu.

Sesampai di rumah, aku mendapati ibu sedang duduk di teras rumah, kulihat wajahnya sudah tidak sesedih tadi malam. Akupun mendekati ibu dan mengatakan keputusanku, berharap ibu menyetujuinya.

"Jadi itu keputusanmu, nak?" tanya ibu dengan mata berkaca-kaca.

"Maafkan aku, ibu?" jawabku seraya memeluk ibu.

Dengan secepat kilat ibu melepaskan pelukanku, berdiri, dan berjalan menuju pintu, namun akhirnya membalikkan tubuhnya menghampiriku yang terpaku duduk di lantai.

"Baiklah, seperti yang sudah ku katakan sebelumnya. Kamu berhak memutuskan apapun untuk kehidupanmu. Aku tidak merestui, tapi tetap aku akan menikahkan kalian seperti layaknya pengantin, dan itu ku anggap sebagai tugas terakhirku untukmu. Setelah itu tanggung jawabku kuanggap selesai, Puspita. Ingat itu!" kata ibu dengan sangat tegas, dan berlalu menuju dapur.

Sedangkan aku, masih terpaku. Tak mampu menjawab dan berkata apapun, hanya buliran air mata yang begitu saja mengalir tanpa mampu untuk aku bendung.


Satu bulan kemudian

"Alhamdulillah, dek. Semua berjalan dengan lancar." kata Rangga saat semua tamu sudah pulang dari resepsi pernikahan kami.

"Iya, Ngga"

"Eh, jangan panggil gitu lagi, dong!"

"Maksudmu, Ngga?"

"Panggil mas dong, dek"

"Oh, iya." aku tersipu di buatnya.

Setelah semua selesai, kamipun berpamit pada ibu untuk pergi tidur, ibupun mengangguk tanda setuju.

"Dek, besok kita mulai cari kontrakan, ya?" kata mas Rangga saat kami bersiap tidur.

"Kenapa, mas?" tanyaku sedikit heran.

"Kita belajar mandiri, dek."

"Kalau ibu nggak setuju?

" Ya nggak usah pindah kalau ibu gak setuju."

"Ya udah, besok besok kita bicarakan lagi ya, mas.

" iya, dek. Sudah kita istirahat."

Pernikahanku pun akhirnya terlaksana, dengan sangat sederhana. Mas Rangga ingin pernikahan yang tidak megah, karena mengingat ibu yang belum seutuhnya memberikan restunya.

Beberapa hari kemudian, aku mengutarakan maksud kami untuk mengontrak saja. Tanpa ada perdebatan ibu menyetujui.

"Ngontrak saja, biar kamu juga tau arti sebuah perjuangan." kata ibu ketus sambil menikmati secangkir teh.

Sebenarnya hatiku sakit, melihat ibu belum bisa menerima Mas Rangga seutuhnya. Dan tidak lagi selembut dulu tutur sapanya padaku.

"Bukankah dulu pernah kubilang, tugasku sudah berakhir, jadi kamu berhak memilih jalan hidupmu sendiri, Puspita." kata ibu lagi menimpali.

Suasana jadi hening, aku terdiam. Dan ibu beranjak dari duduknya, ketika mas Rangga datang ikut duduk di sisiku. Dari awal suamiku sudah berusaha mendekatkan diri dengan ibu, tapi hati ibu belum luluh. Dan kami sama-sama mengerti dengan keadaan ini. Suamiku tidak pernah mengeluh, tapi terkadang aku yang kasihan padanya.

"Dek.., tadi irwan temenku telpon. Katanya di dekat kampus kita ada rumah kosong yang di kontrakkan. Karena gak ada yang menghuni, jadi lumayan murah. nggak deket amat sih, tapi kita tak perlu menembus kemacetan kalau di sana." kata mas Rangga bersemangat.

"Baiklah, mas. Aku juga kasihan melihat mas yang gak pernah disapa ibu, bahkan kalau mas menyapa, ibu langsung berlalu tanpa sepatah katapun." jawabku.

" Dek, sekali lagi mas tegaskan, kita pindah bukan karena masalah ibu. Aku cuma pengen mandiri sesuai janjiku pada ibu. Mas pengen buktikan, mas bisa mencukupi kebutuhan kita berdua, tanpa campur tangan ibu, sesuai janjiku."

"Iya mas, nanti pulang dari kampus kita lihat rumahnya, besok langsung kita tempati kalau memang cocok."

Kamipun bergegas berangkat ke kampus, saat pulang, Irwan sudah menunggu di gerbang kampus, sesuai perjanjian kami.

Tanpa basa basi kami mengikuti Irwan menuju lokasi. Setelah sampai, aku cukup tertegun, rumah yang lumayan besar dan megah. namun sewa sangat murah dari yang seharusnya.

"Put..., gak usah kaget, penghuninya sudah meninggal setahun yang lalu, anak-anak mereka semua ada di jakarta dan surabaya, menetap di sana. Jadi daripada rumah ini tak terawat siapapun boleh menempatinya. Uang sewa tak perlu jadi beban, bisa dicicil juga."kata Irwan yang melihat kebingunganku.

" Gimana, dek. Kamu suka?"tanya Mas Rangga.

"Iya, mas. Aku mau."jawabku sambil tersenyum."

Aku segera masuk, dengan kunci yang sudah di berikan Irwan. Dia masih kerabat dengan penghuni rumah ini, selama ini Irwan yang bersih-bersih rumah kosong ini, walau terkadang satu bulan sekali.

Selesai melihat seluruh ruangan, kamipun segera pulang, kunci sudah Irwan berikan pada kami. Tinggal bersiap-siap dan berpamitan pada ibu, besok sudah bisa kami tempati. Karena memang bersih semua ruanganya.

Sesampai di rumah, aku segera bersiap-siap. menata semua pakaianku dan milik suamiku.

"Mau dibawa kemana semua itu?" tanya ibu saat melihat aku berkemas.

"Eh, ibu.., kami sudah dapat kontrakan bu, besok kami akan pindah." jawabku penuh semangat.

"Itu barang-barang milik putriku. Untuk apa kamu bawa?biarkan tetap pada tempatnya! Agar ketika dia pulang bisa dia pakai lagi."

Aku terperanjat, begitupun dengan mas Rangga. Dia menepuk pundakku sebagai isyarat aku tak boleh membantah.

"Sudahlah, dek. Bukan salah ibu, beliau cuma belum bisa menerima mas saja." kata mas Rangga menenangkan saat ibu sudah berlalu dari kamar kami.

"Maaf ya, mas." kataku sambil menangis.

"Sudahlah, ayo tidur, dek!"

Setelah selesai berkemas, kamipun tidur. Hanya beberapa pakaian mas Rangga, karena aku cuma membawa 2 baju saja.

Malampun berlalu, pagi menyapa. Aku segera bangun dan membantu ibu memasak. Setelah selesai sarapan, kami segera berpamit pada ibu.

Aku tak prnah tahu apa yang ada dalam hatinya, karena semua sudah berubah. Aku menangis ketika menyalami ibu, dan ibu hanya tersenyum lemah.

"Rangga.., penuhi janji kamu pada ibu! Atau ibu akan ambil kembali putriku!" kata ibu dengan tatapan nanar pada mas Rangga.

"Insya alloh, bu. Doa ibu selalu saya harapkan." jawab mas Rangga sambil mencium tangan ibu.

Kamipun pergi dengan mengendarai motor milik Mas Rangga, meninggalkan semua kemewahan di rumah ibu.

Setelah sampai rumah yang kami tuju, aku segera turun membuka gerbang rumah besar itu. Kupandangi semua sudut halaman itu. Dan di sinilah semua cerita sesungguhnya telah dimulai.

Next
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Diubah oleh faridatul.a
lanjutkan gan, kayaknya seru nih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Makasih....
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Ninaahmad memberi reputasi
seandainya aku adalah 'Rangga'... ahuiii mantapsss, lanjutkan...
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan faridatul.a memberi reputasi
Jangan nikah dulu lah..kasian mamanya.
emoticon-Peace
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan faridatul.a memberi reputasi
kritiknya cuma masalah puebi aja. idenya udah oke. 👍
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Yang bagian kata2 mna kak?
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Ninaahmad memberi reputasi
klik klik klik next
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan faridatul.a memberi reputasi
Quote:


Thread kakak tiap mau ku komen hbis ku baca kok selalu ada prmintaan di hpus yah,, meng inspirasi loh thread2nya
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Ninaahmad memberi reputasi
dipindah threadnya
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Bukan. Peraturan baku semisal penggunaan dialog tag, kata depan di-, penggunaan sapaan yang menggunakan kapital, dll. Entar aku japri.
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Siap...emoticon-Peluk
lanjut 0
Quote:


Assiap....
profile-picture
Ninaahmad memberi reputasi
Waaaaa kereeeen 2 threadnya masuk HT. untuk sarannya, kisah kelanjutannya diterusin di satu thread aja (maksudnya nggak dibuat terpisah - pisah partnya) sis. Supaya pembaca yang subscribe cerita sista bisa lebih gampang buat nemuin part selanjutnya.👍
nyimak dulu ye
profile-picture
faridatul.a memberi reputasi
Quote:


Iya kak, ini lagi belajar cara menyatukan mereka biar tak terpisahkan, makasih semangatnya..
Singgah ya Gaes, ngopi sambil baca. Waah. Jangan nikah dulu. emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di