CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e0dc318a2d1952c5f161e8d/sibokoi

SIBOKOI

SIBOKOI
Sebuah kisah horor klasik dan mainstream yang menceritakan tentang pembunuhan, makhluk gaib, dan hal-hal menjijikan lainnya...

Mengambil latar sebuah villa yang awalnya adalah sebuah rumah tinggal di tengah hutan.

Pemilik villa tersebut mempunyai banyak rahasia dan misteri yang belum terpecahkan.

Pengunjung yang datang ke villa tersebut mempunyai 2 pilihan...Mati atau Mati...

Adegan pembantaian, pembunuhan, percikan darah, sex, BDSM adalah hal biasa di villa tersebut.

Akankah misteri yang menyelimuti bangunan villa itu akan terungkap?

~Musawwir Bahar~

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
ayya83 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mumugo
Thread sudah digembok

BEBERAPA TAHUN SEBELUMNYA (PROLOG)

21++

Ketukan pintu mengagetkan diriku yang
sedang mencuci piring di dapur. Aku bergegas
berjalan menuju depan untuk mengecek siapa
yang mengetuk pintu. Aku melirik ke arah jam
dinding yang terpasang di ruang keluarga,
pukul 11:13? Selarut ini? Siapakah itu?

Aku menjadi panik dan takut dengan sesuatu
yang mengetuk pintu rumahku. Aku berjalan
pelan ke arahnya. Jantungku seakan di pacu
dengan hebatnya. Ayat kursi dan doa-doa
pengusir jin aku lafalkan. Gedoran pintu
semakin kuat dan keras. Sambil menahan
napas aku perlahan membuka pintu.
Tukan Pos? Malam-malam?

"Maaf bu, tadi sepeda saya bannya kempes.
Terus saya juga nyasar beberapa kali. Kenapa
sih ibu bangun rumah di tengah hutan
segala?"
"Bapak bawa surat dari siapa?" Tanyaku
"Oh ini. Dari kelurahan, bu. Kayaknya urusan
penting deh."
"Terima kasih, pak."

Sepucuk surat itu sudah sampai di tanganku.
Surat dari kelurahan? Tanpa pikir panjang, aku
membuka surat itu dan segera mambaca
isinya.

Hatiku menjadi hangat dan bahagia ketika
membaca surat itu. Beberapa waktu yang lalu,
aku mengikuti pendaftaran untuk sekretaris
lurah. Dan akhirnya aku diterima.

Aku kemudian langsung bergegas untuk
melengkapi segala kebutuhanku untuk besok
harinya. Aku tak dapat tidur karena berlebihan
membayangkannya.

Keesokan harinya aku bergegas menuju kantor
kelurahan. Aku berjalan kaki sepanjang 15
kilometer dari rumahku. Rumahku berdiri
kokoh di tengah hutan yang sangat lebat.
Rumah yang ku tinggali adalah rumah warisan
dari kakekku. Tidak terlalu besar tapi nyaman
ditinggali.

Aku menapaki jalanan hutan itu dengan penuh
kegembiraan dan keceriaan. Aku akan
mendapatkan pekerjaan yang ku impi-impikan
dari dulu.

Sudah sampai di pertengahan jalan. Aku
dikejutkan oleh sesuatu yang bergerak-gerak
di semak belukar. Rasa takut mengalir deras di
tubuhku. Aku tidak tahu makhluk apa yang
menggerak-gerakan semak tersebut.
Aku langsung membuang pikiran negatif itu
dan melanjutkan perjalanan.

Aku sudah sampai di teras kantor
kelurahan.Perjalanan ini begitu melelahkan, tapi
langsung tersegarkan kembali dengan papan
yang bertuliskan "Kantor Kelurahan Bonto
Haji".

Aku mengikuti segala prosedur pendaftaran
sekretaris dengan baik dan benar. Data-data
pribadiku aku bawa lengkap dari rumah. Jadi
tak ada yang ketinggalan dan mustahil untuk
pulang mengambilnya.

Seleksi pendaftarannya begitu ringkas. Dan
akhirnya aku diterima menjadi sekretaris
kelurahan. Aku mulai ditugaskan bekerja mulai
besok.

Jam sudah menunjukkan pukul 17:11. Sudah
hampir magrib dan aku masih berdiri di teras
depan kantor kelurahan. Aku menimbang-
nimbang, jika pulang ke rumah, aku masih ada
di perjalanan disaat malam hari. Tapi disini tak
ada kerabat yang bisa kujadikan tempat
menginap.

Aku pasrah saja untuk berjalan kaki pulang.
Baru dua langkah kakiku menginjak tangga
depan kantor. Sebuah tangan menepuk
bahuku.

"Mau aku anterin pulang?"
Sesosok pria tinggi, putih, serta tampan
menawarkan diri untuk mengantarku pulang?
Aku tak percaya.

Aku tak kenal dia. Sepertinya dia aparat
kelurahan. Aku tak sengaja melihatnya tadi
waktu di dalam kantor.
"Rumah aku jauh. Sepertinya tak usah."
Tolakku
"Tak apa-apa. Bahaya kalau seorang wanita
pulang sendirian. Apalagi di hutan."
"Kok kamu tahu aku tinggal di hutan?"
"Kamu tadi jelasinnya waktu wawancara.
Gimana?"

Oh. Aku baru mengingatnya. Aku bingung
harus menjawab apa. Aku jadi tidak enakan
sama dia. Masa belum kenal sudah ngajak
pulang bareng.
"Iya deh. Aku setuju."

Pria itu sepertinya berumur 25 tahunan.
Mengendarai sepeda motor bebek yang
sepertinya masih baru. Dan aku sekarang
diboncengnya.

Perjalanan dengan sepeda motor lumayan
cepat menurutku. Menghemat tenaga juga.
Sesampainya di rumahku. Aku mengajaknya
masuk kedalam. Soalnya sudah waktu magrib
dan tak baik melakukan perjalanan di saat
magrib.

"Mau aku buatin teh atau kopi?" Tanyaku
"Kayaknya kopi enak." Jawabnya.
"Oke. Tunggu sebentar."

Aku berjalan masuk ke dalam dapur dan
membuat segelas kopi untuknya dan secangkir
teh untukku.

Aku menyuguhkan kopi itu kepadanya. Dan dia
suka kopi buatanku. Katanya kopi buatanku
manisnya pas dan pahitnya juga pas. Aku
sungguh senang dengan pujiannya.

"Eh ngomong-ngomong. Daritadi kita belum
kenalan." Ucapnya
"Oh iya aku lupa."
Dia kemudian mengulurkan tangannya
kepadaku.
"Namaku Syamsuddin."
Aku menerima uluran tangannya dan
menjawab.
"Aku Hayati."

Perbincangan kemudian berlanjut tanpa
mengingat waktu. Syam enak diajak bicara. Dia
mudah mencari topik pembicaraan dan selalu
nyambung denganku. Kita membahas semua
sangkut paut kehidupan kami hingga asmara
kami.

Dia mengungkapan jika dia masih lajang. Dan
pada saat itu aku juga masih lajang seperti dia.
Aku berusaha mengganti topik pembicaraan
karena aku tak nyaman membahas urusan
perasaan. Tapi Syam malah mengganti posisi
duduknya menjadi bersebelahan denganku.

"Aku udah jatuh cinta pandanga pertama
padamu sejak pertama kali kita jumpa."
Ucapnya lembut padaku.
"Kok bisa gitu sih? Kita baru kenalan beberapa
menit yang lalu." Sanggahku.
"Entahlah. Tapi aku merasa kita cocok satu
sama lain."
"Hemmmm...anu...." Aku grogi.
Dia kemudian menggenggam kedua telapak
tanganku.
"Percayalah padaku. Cintaku padamu itu tulus
dari hati. Aku akan membuat kamu bahagia
untuk selamanya."
Aku mulai luluh dengan segala perkataannya.
"Aku cinta kamu." Ungkapnya.
Pipiku langsung memerah. Aku menunduk
malu dan membalasnya.
"Aku cinta kamu juga."

Tanpa kusadari dan tanpa persetujuanku,
Syam memeluk tubuhku dengan eratnya. Aku
kaget dan meronta ingin dilepaskan. Tapi
pelukannya makin keras saja. Aku pasrah
dengan perbuatannya dan aku diam dalam dekapannya.

Aku pun mulai membalas pelukannya. Seakan
mendapat lampu hijau dariku, Syam kemudian
mengelus lembut seluruh penjuru belakangku.
Aku menggeliat dan merasa geli atas
tindakannya padaku. Tapi aku menyukainnya.
Syam kemudian mendorong tubuhku
menyebabkan diriku berbaring. Dan sekarang
posisiku sudah ada dibawahnya. Wajah Syam
kemudian mulai maju dan menciumi pipiku.
Aku terkejut dan itu membuatku memerah dan
dia menerkam bibirku. Desahan pelan muncul
begitu saja dari bibirku dan membuat diriku
menggeliat kesetanan. Syam semakin liar
meraba-raba kulitku. Aku menyukai segala
perbuatan yang Syam lakukan pada diriku.
Kancing kemeja putihku dilepas satu pesatu
oleh Syam dan segalanya mengalir begitu saja.

~

"Tadi itu luar biasa." Syam bebrbisik penuh
nafsu di telingaku.

Aku hanya diam dan mendengarkan segala
sesuatu yang Syam ucapkan.
Jam sudah menunjukkan pukul 11:29 dan
kami sudah berpakaian seperti tadi. Syam
berniat untuk pulang tapi aku menahannya.
Kataku bahaya di luar sana. Tapi Syam
bersikukuh untuk tetap pulang.
Aku langsung memeluknya dan berbisik di
telinganya.

"Waktu kita lewat kesini. Tadi kita lewatin
sebuah jalan yang kanan kirinya ditanami
pohon jati putih. Satu jalan yang ditanami
pohon jati putih itu namanya Lorong Sibokoi
(Lorong Membelakang). Ingat, jika kamu lewat
di lorong itu jangan pernah berbalik ke
belakang apapun situasinya, apapun suaranya,
apapun geraknnya. Jangan pernah berbalik ke
belakang." Ucapku dengan penuh keseriusan.
"Aku akan ingat selalu."

Syam sudah meninggalkan rumahku. Dan aku
khawatir padanya.

Perjalanan pulang bagi Syam awalnya mulus
tanpa kendala. Dia sudah berada di depan
lorong itu. Tapi mengapa motonya tiba-tiba
mati. Hal itu mengejutkan bagi Syam. Dia
mengingat-ingat, daritadi dia tidak mempunya
kendala mengenai speda motornya. Tapi
mengapa harus mogok sekarang? Pikirnya.
Mau tidak mau, dia harus mendorong
motornya sendirian dan melewati lorong
tersebut. Lorong itu semakin mencekam
setelah Syam sudah sampai di tengah-tengah
lorong tersebut.

Lorong sepanjang 100 meter
itu menjadi makin terasa panjang di
pengelihatan Syam. Sesuatu berdiri menatung
di ujung lorong tersebut mengejutkan Syam.
Sesuatu yang terlihat seperti sosok manusia
namun sangat gelap. Terlihat tangannya mulai
bergerak nenunjuk kearah Syam.

Syam berkedip sesaat dan bayangan hitam itu
hilang seketika. Syam menjadi panik dan
mempercepat langkah kakinya.

"Mas.........Mas..........Mas..........Mas.....Mas.
"

Suara misterius membisik pelan di telinga
Syam. Bisikan itu semakin nyaring di telinga
Syam. Lorong itu semakin gelap saja. Syam
kemudian mengingat kata-kata Hayati tadi. Dia
menyesal mengapa tidak minta menginap saja
di rumah Hayati.

"Mas Syam!!! Tunggu!!!"

Teriakan Hayati mengagetkan Syam. Dia
menoleh kearah belakang dan melihat Hayati
sedang berlari sambil membawa sesuatu.

"Mas.......aku....aku manggil daritadi kok
nggak noleh sih?" Tanya Hayati ngos-ngosan.
"Maaf, aku takut jadi nggak noleh. Emang
kenapa manggil-manggil?"

Hayati menyodorkan sesuatu.

"Ini jam tangan mas ketinggalan."
"Oh, cuma jam tangan saja kok? Kenapa
bukan besok aja dibawa?"
"Iya juga sih. Kok aku nggak kepikiran?"

Mereka berdua tertawa bersama di lorong
tersebut. Akhirnya mereka berdua berpisah.
Syam sudah sampai di rumahnya. Setelah
mengganti pakaian dan mencuci muka, dia
berniat untuk tidur. Kantuk daritadi sudah
muncul. Lagipula dia sudah kelelahan
mendorong sebuah sepeda motor. Syam
kemudian memejamkan matanya dan tertidur.

Keesokan harinya.

"Pak! Syam ditemukan meninggal di hutan!"
Suasana di kantor kelurahan menjadi riuh
setelah Syam ditemukan tewas di Lorong
Sibokoi.

Syam terkapar bersimbah darah di lorong
tersebut dengan kondisi perut sudah robek
dan seluruh organ pencernaannya sudah
menghilang.

Para warga sudah menelusuri dimana organ
pencernaan Syam menghilang. Tapi tak ada
tanda atau bercak darah dimana-mana. Tapi
melihat bekas robekan di perut Syam yang
terkoyak-koyak sepertinya dia dimangsa
hewan buas atau mungkin Parakang?
Paman Syam mengatakan bahwa tadi malam
dia sudah pulang dan ada di kamarnya. Dia tak
tahu jika keponakannya sudah ada di lorong
tersebut.

Berita tewasnya Syam menjadi perbincangan
hangat masyarakat dan menjadi misteri hingga
beberapa waktu kemudian.

Di lain tempat.

Wanita itu sedang asyik mengisap dan
menjilati darah yang ada di usus milik
sesorang. Taringnya begitu tajam dan
mengoyak dengan mudah usus tersebut.
Pakiannya besimbah darah. Begitupun dengan
wajah dan tangannya. Dia melahap seluruh
organ pencernaan itu seperti orang kesurupan
dan memang nyatanya dia tidak sadar sama
sekali.


Musawwir Bahar ~ 27 Desember 2019
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sposolo dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mumugo

TAMBAHAN

Jangan Lupa Batu Bata Ama Cendolnya....Okeyyyyyy????
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sandyarkie dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mumugo
nitip sandal dulu
Quote:


jgn lupa bayar gan
Singgah ngopi manjaaah ya
Hiiii atuuut
Mampir gan, mau nyimak ceritanya dulu. Kayanya seru, mau ambil cemilan dulu emoticon-Cendol Gan
mantul, Thor. ane tunggu lanjutannya
Nyimak sambil ngopi

CURCOL SEORANG MUMU

MASIH KACAU BUAT INDEX LINKKKKK
Diubah oleh mumugo
ijin gelar tiker gan.. ane nyiapin cemilannya dulu yaemoticon-Shakehand2
Sek tak siapin waktu untuk mengikuti cerita ini
wahh anyar rek... jossss...lanjut...awas kentang loh yo..
updateeeeeeeeeeee

MALAM PERTAMA

21++

Kejadian itu sudah lewat 30 tahun. Desa Bonto Haji sudah melupakan insiden mengerikan itu. Pihak keluarga Syam sudah merelakan dan mengikhlaskan kepergiannya. Kisah pilu tersebut sudah tenggelam ditelan waktu.

Bagaimana kisah Hayati?

Karena keuletan dan cara kerja Hayati yang profesional. Hayati didaulat menjadi seorang kepala kelurahan. Jelas saja nasib Hayati berubah drastis. Mulai dari gaya hidup dan juga perekonomiannya. Dia akhirnya memperbaiki jalanan hutan itu menjadi lebih baik, sehingga lambat laun suasana hutan itu tak menjadi horor lagi.

Suatu hari, datang seorang pengusaha muda ke Desa Bonto Haji yang bermanya Burhan. Dia tampan dan juga sangat kaya. Bisnis Burhan bergerak dalam bidang mebel dan furnitur. Dia sangat tertarik dengan kualitas kayu yang diproduksi desa itu. Sangat baik dan awet.

Pertemuan Hayati dan Burhan dimulai ketika Burhan datang ke kantor kelurahan untuk mengurus izin pembelian kayu. Dan singkat cerita, mereka berdua saling tertarik dan kemudian hidup bersama. Begitu singkat dan berakhir bahagia? Ini hanya baru pemanasan.

Pernikahan sudah berlangsung dan mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Karena kondisi rumah Hayati yang lumayan sepi dari hiruk pikuk masyarakat sehingha tak perlu jauh-jauh untuk berbulan madu.

Seluruh rumah sudah dihias dengan berbagai ornamen yang romantis. Membuat suasana.menjadi lebih intim. Hayati sedari tadi sudah mandi dan membersihkan diri sehingga tampak lebih segar dan terbebas dari dandanan pernikahan. Dia memakai gaun tidur yang cukup transparan dan tak memakai bra. Dia sengaja melakukannya untuk menggoda Burhan. Hayati tidur telentang di atas kasur sambil memainka bunga mawar sambil menunggu Burhan keluar dari kamar mandi. Tak lama kemudian, Burhan muncul dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk putih. Burhan terkesima dengan posisi Hayati serta busananya yang cukup menggoda.

Hayati seperti memberikan kode kepada Burhan untuk mendekatinya dan Burhan langsung terhipnotis dengan kode dari Hayati. Dia kemudian naik keatas kasur dan mulai mendekati Hayati.

"Apa kau sudah siap untuk malam ini?" Bisik Hayati lembut.
"Siap untuk apa?" Tanya Burhan sedikit menggoda.
"Hemmmmmm...seperti ini."

Hayati kemudian membelai lembut otot perut Burhan yang cukup seksi kemudian menyentuh sesuatu yang mengeras dibalik handuk putih yang dikenakan Burhan. Hayati menatap mata Burhan sambil menggodanya.

Tanpa aba-aba, Hayati langsung melepaskan handuk yang dipakai oleh Burhan dan terkesima melihat sesuatu yang indah yang sedari tadi tertutupi. Begitu besar, begitu panjang, cukup lebat, otot terpahat di sekelilingnya, serta keras dan jantan. Hayati makin terkesima melihat kepalanya berkilauan akibat cairan putih bening muncul dari lubangnya.

Dengan sedikit malu-malu, Hayati menyentuhnya dan merasakan kerasnya kejantanan Burhan. Hayati melihat ekspresi Burhan yang menikmati serta mendesah pelan dengan sentuhannya.

Langsung saja, Burhan melepaskan gaun Hayati dengan paksa. Dan mereka berdua sudah tak tertutupi sehelai benang pun.

Di luar, udara sangat dingin dan sejuk. Tetapi di kamar itu, suasana begitu panas dan dipenuhi oleh nafsu. Mereka berdua saling memandangi dan menikmati tubuh satu sama lain. Burhan mendekatkan kepalanya ke Hayati kemudian menerkam bibirnya dengan rakus. Hayati tak dapat mengimbangi ciuman Burhan yang sangat ganas tetapi lambat laun, dia dapat mengimbangi dan membalas ciuman dari Burhan.

Tak lupa, tangan mereka saling meraba-raba satu sama lain. Hayati mencengkram punggung Burhan serta memeluknya tanda tak ingin melepaskan Burhan. Sedangkan sekali-kali, Burhan meremas buah dada Hayati yang sudah mengeras dari tadi.

Desahan dan erangan menggema di kamar itu. Mereka saling memberikan pelayanan terbaik mereka. Isapan, jilatan, ciuman, dan sentuhan menjadi poin utama yang mereka lakukan.

Beberapa menit kemudian, Hayati sudah merasakan daerah sensitifnya sudah basah dan becek. Langsung saja berbisik penuh nafsu di pelukan Burhan.

"Berikan aku kenikmatan lebih. Tolonglah."

Burhan kemudian membuka lebar-lebar kaki Hayati dan kemudian tertegun sejenak melihat pemandangan indah tersebut. Langsung saja, kejantanan Burhan diarahkan ke liang kenikmatan Hayati. Mereka berdua mengerang kenikmatan ketikan seluruh kejantanan Burhan memasuki penuh ke daerah sensitif Hayati.

Malam itu dipenuhi oleh keintiman. Hanya suara desahan dan decitan ranjang yang menggema memenuhi kamar itu.

~

Hari-hari berjalan indah di keluarga kecil mereka. Hingga muncullah seorang bayi mungil perempuan hadir di tengah-tengah mereka. Nama bayi mereka adalah Ayu.

Sekarang Ayu sudah berumur 24 tahun sedangkan Hayati sudah berumur akhir 50 tahun. Dan otomatis telah pensiun menjadi Kepala Lurah. Dia sekarang tinggal di rumahnya dengan tenang. Beberapa bulan yang lalu, Ayu telah menyelesaikan S1-nya di sebuah universitas di kota. Dan dia pulang lagi ke desa untuk merilekskan diri. Bagimana dengan Burhan? Dia telah meninggal saat Ayu masih berumur 16 tahun. Ayu mewarisi kekayaan Ayahnya sehingga dia bisa bersekolah tinggi-tinggi tak seperti teman-temannya.

Suatu hari, Ayu memandangi halaman samping rumahnya yang sangat luas. Tiga kali lebih luas dari rumahnya yang kata orang sangat luas. Ibunya kemudian muncul dan menyapa Hayati.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya ibunya.
"Apa yang bisa kita buat dari halaman samping itu? Sangat luas." Ayu masih menatap keluar jendela.
"Terserah kamu. Kamu yang mewarisi lahan itu." Ucap ibunya.

Ayu kemudian menatap ibunya dan kemudian tersenyum lebar.

"Aku mempunyai ide cemerlang."
"Apa itu?"
"Bagaimana kalau di lahan itu kita membagun sebuah villa. Kita bisa menyewakannya kepada wisatawan." Ucap Ayu penuh semangat.
"Itu ide yang bagus."
"Jadi bagaiman pendapat Ibu?"
"Apapun yang kau lakukan, Ibu akan selalu mendukungmu."

Ayu langsung memeluk ibunya. Dia sangat bahagia dan senang akan membuat sebuah proyek yang sangat besar.

Dengan menggunakan harta warisan Ayahnya yang begitu besar, Ayu akhirnya membangun sebuah villa mewah di sebelah rumahnya. Dia adalah seorang lulusan fakultas arsitektur sehingga dia sendiri yang merancang villa impiannya.

Sebuah villa bergaya Eropa Klasik berdiri kokoh di sebuah lahan yang sangat luas hanya dalam waktu 3 tahun. Ayu sangat puas dengan hasil rancangannya. Begitu indah dan mewah.

Bagaimana dengan pengurus villa itu? Hayati telah merekrut 3 orang petugas yang akan menjaga villa dan melayani tamu yang datang.

Pertama, dia bernama Jamila. Seorang tukang masak yang terkenal di desa sebelah. Hayati dan Jamila telah mengenal sejak lama sehingga Jamila dengan mudah menerima tawaran dari Hayati.

Kedua, seorang petugas kebun dan halaman bernama Jamal. Dia telah lama menjadi asisten kebun Hayati. Jadi, tugasnya menjadi dua kali lipat.

Ketiga, seorang pemuda bernama Hamzah. Hamzah adalah keponakan Burhan yang datang berlibur di desa Hayati. Tetapi awalnya Hayati menolak permintaan Hamzah untuk bekerja di villanya. Tapi karena bersikeras, akhirnya Hamzah diterima bekerja di villa itu dengan batas waktu sampai liburannya berakhir.

Tapi, ada beberapa hal yang mereka berlima sembunyikan dari villa itu.

"Ayu, aku ingin kamu membuat sebuah ruangan rahasia di villa yang akan kamu bangun."
"Ruangan rahasia? Ruang rahasia apa? Ibu akan menyembunyikan harta ibu di situ?"

Hayati kemudian membisikkan sesuatu kepada Ayu. Ayu terperanjat dengan ucapan ibunya kemudian mundur menjauhi ibunya.

"Jika ibu memintaku membuat ruangan itu, bagaimana aku akan meminta kepada pekerja yang akan membangun villa itu?"

Hayati hanya tersenyum kecil dan menunjuk kearah Ayu.

"Lakukan saja, akan aku beritahu caranya."

~

"Hah? Ruangan itu? Itu bahaya dek!" Ujar seorang pekerja ketika Ayu meminta dibuatkan ruangan itu.
"Bukan untuk hal itu, pak. Aku hanya ingin membuat suasana villa itu menjadi makin misterius. Biar pengunjung banyak yang datang." Bujuk Ayu.
"Tidak akan kami turuti permintaan gilamu itu. Itu bertentangan dan bahaya."

Ayu kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.

"Aku akan memberikan tambahan gaji yang cukup besar jika kalian menurutinya."

Para pekerja itu saling berpandangan. Mereka bingung harus melakukan apa hingga salah seorang pekerja menyahut.

"Kami akan melakukannya. Tapi kami tak akan menjamin keselamatanmu dan keluargamu."
"Aku sudah memikirkannya."

Dan ruangan rahasia itu sudah dibangun. Tersembunyi di sudut villa dengan pintu masuk yang sangat mustahil untuk ditemukan. Bagaimana dengan pekerja yang telah membangunnya? Hayati telah memberikan mantra untuk makanan dan minuman kepada pekerja villa itu sehingga mereka semua hilang ingatan dan tak mebgetahui ternyata mereka telah membangun sebuah ruangan 'terlarang'.

Di ruangan rahasia itu.

Hayati duduk di sebuah sofa besar dan Ayu, Jamila, Hamzah dan Jamal duduk bersila di lantai. Sepertinya mereka semua telah dihipnotis oleh Hayati.

"Aku ingin kalian semua melakukan pekerjaan ini sebaik mungkin."

Bersambung...

Musawwir Bahar ~ 18 Januari 2020

profile-picture
rockshoot memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Sumpah! Beneran Gaje + Ngawur Cerita Mumu
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di