Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

widya poetraAvatar border
TS
widya poetra
Mayapada Group Tegaskan Tak Terkait dengan Kasus Jiwasraya
Mayapada Group Tegaskan Tak Terkait dengan Kasus Jiwasraya
Pendiri Grup Mayapada Dato Sri Tahir menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Senin (15/10/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Mayapada Group menegaskan tak terkait dengan kasus yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero), baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Kenal aja enggak," kata Pendiri Mayapada Group Dato Sri Tahir kepada Bisnis, Jumat (27/12/2019).

Sebelumnya, beredar isu di pasar bahwa Mayapada Group sedang memproses akuisisi atau pembelian saham PT Hanson International Tbk. (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk. (RIMO). Kedua perusahaan ini disebut-sebut terkait dengan potensi gagal bayar surat utang kepada Jiwasraya.

Dia melanjutkan pihaknya tidak pernah mau membeli saham maupun akuisisi dari siapapun.

"Jadi itu hoax total. Kami tidak pernah ada rencana mau beli atau ambil alih saham, siapapun. Termasuk saham-saham milik Pak Benny [Direktur Utama MYRX Benny Tjokrosaputro], apapun namanya," ucap Tahir.

Dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (17/12), manajemen Hanson International mengumumkan rencana menjual 49,99 persen saham perseroan dalam anak usahanya, PT Mandiri Mega Jaya (MMJ). Saham itu akan dibeli oleh emiten properti yang terafiliasi dengan Grup Mayapada, PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO).

MMJ merupakan anak usaha Hanson International yang menggarap proyek Citra Maja Raya. Dalam proyek itu, MMJ menjalin kerja sama operasional (KSO) dengan PT Ciputra Development Tbk. dan PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk. (BIPP).

Selain Hanson International, Rimo International Lestari juga berencana melego sebagian saham dalam anak usahanya kepada MPRO. Perusahaan yang juga terafiliasi dengan Benny Tjokrosaputro itu berencana melepas 49,99 persen saham miliknya dalam PT Hokindo Properti Investama.

Dihubungi secara terpisah, Benny Tjokrosaputro menyatakan surat utang MYRX yang dipegang oleh Jiwasraya sudah lunas beberapa tahun lalu. Dia juga mengatakan pihaknya tidak memiliki keterkaitan dengan skandal di Jiwasraya baru-baru ini.

"Tidak ada [hubungan dengan Jiwasraya]. Surat utang Hanson sudah lunas 3-4 tahun yang lalu. Saham grup saya adalah saham publik, JS [JS Plan, produk Jiwasraya] bukan beli dari saya. Bisa dicek," papar Benny kepada Bisnis, Jumat (27/12).

Sebelumnya, audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menunjukkan bahwa investasi Jiwasraya terhadap surat utang jangka menengah atau Medium Term Notes (MTN) senilai Rp680 miliar yang dirilis oleh Hanson International berisiko gagal bayar.

Seperti diketahui, Jiwasraya tengah menghadapi kasus berat yang dipicu oleh produk JS Plan. Produk itu memberikan iming-iming imbal hasil tinggi.

Berdasarkan dokumen kondisi keuangan Jiwasraya yang diperoleh Bisnis, per 30 September 2019, perseroan mencatatkan kerugian Rp13,7 triliun dan ekuitas negatif Rp23,92 triliun. Jiwasraya pun memiliki klaim jatuh tempo Rp12,4 triliun pada akhir 2019, yang tidak dapat dipenuhi.

Aset perseroan pun terus menurun, dari Rp45,68 triliun pada 31 Desember 2017, menjadi Rp36,23 triliun setahun kemudian. Pada 30 September 2019, nilainya kembali menyusut menjadi Rp25,68 triliun.

Bisnis.com



------- berita lain ------

Manajemen PT Hanson International Tbk (MYRX) mengklarifikasi audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai investasi PT Jiwasraya pada produk utang jangka pendek dan menengah alias medium term notes (MTN) dari perusahaan milik Benny Tjokrosaputro tersebut. Audit BPK menyebutkan investasi Jiwasraya pada MTN Hanson senilai Rp 680 miliar berisiko gagal bayar. Direktur Hanson International, Adanan Tabrani, memaparkan Hanson International sudah melakukan pembelian kembali (buy back) seluruh MTN pada Desember 2018 senilai Rp 680 miliar. Sehingga masalah likuiditas yang dihadapi Jiwasraya tak terkait produk investasi Hanson.

.....

Adanan menjelaskan, MTN tersebut awalnya diserap oleh PT Pelita Indo Karya dan PT Royal Bahana Sakti. Kemudian kedua perusahaan tersebut menjual MTN tersebut kepada Jiwasraya sepenuhnya alias senilai Rp 680 miliar. Kemudian, Jiwasraya menjual MTN tersebut kepada PT Pacific 2000 Securities. "Jiwasraya itu pegang MTN pada 2015, pegangnya sebentar saja. Memang tidak langsung dijual hari itu juga (saat membeli MTN), tapi dipegang sekitar 2-3 minggu," kata Adanan. Dia mengatakan, meski Jiwasraya hanya memegang MTN tersebut selama 2-3 minggu saja, namun Jiwasraya sudah sempat mendapatkan imbal hasil yang tingkat bunganya sebesar 12% per tahun dan terutang setiap kuartal. "Tapi saya lupa detailnya, Jiwasraya dapat bunga berapa," katanya.

.......

Sumber katadata.co.id


= - = - = - = - =

Mulai dihubungkan kemana2
ke tohir sudah
ke tahir sudah
besok kemana lagi?

Ternyata yang disebut2 beli saham gorengan, dalam hal ini MYRX,
sudah diklarifikasi. Jiwasraya cuman pegang sebentar kemudian dilepas, imbal hasil pun dapat (bukan rugi).

Ane kira yang perlu diekspos paling gak ada 2:
- skema JS Plan ---> kata dirut sekarang itu mirip skema ponzi? kok aman2 aja dari pengawas?
- manajer investasi reksadana ---> karena dana di reksadana yang paling ancur.
Sinyooo96Avatar border
sebelahblogAvatar border
4iinchAvatar border
4iinch dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.4K
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan