CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dfb682ca2d195170b3cea91/puskesmas

PUSKESMAS

PUSKESMAS

Mengingat Kata Puskesmas...

Adanya di Kampung?
Ukurannya Kecil?
Pasiennya Banyak?
Hampir Mirip Rumah Sakit?

Tapi Puskesmas ini berbeda...

Banyak "sesuatu" yang tersembunyi di Puskesmas ini. Mulai dari lantai, jendela, langit-langit, gudang, WC, bangsal, hampir semua tempat.

Dan tentu saja "sesuatu" tersebut bukan hal yang main-main...

Apa saja yang akan terungkap dari Puskesmas ini?

~Musawwir Bahar~


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mumugo
Thread sudah digembok

AWAL DARI SEGALANYA

"Kak, aku takut berada disini."
"Sabar, dek. Kakak selalu ada disini buat jagain kamu."

Itulah janji-janji yang selalu aku ucapkan jika adikku merasa ketakutan. Tapi sebenarnya aku juga merasa takut berada di ruangan ini. Ya, ruang sehabis bersalin. Adikku melahirkan dua hari yang lalu dan harus dirawat di puskesmas ini.

Begitu mencekam. Walaupun ruangan ini sangat terang, tapi aku merasakan ada sesuatu yang ganjil dari ruangan ini. Cuma kami bertiga yang ada di ruangan ini. Ibuku beserta suami adikku pulang kerumah untuk mengambil perlengkapan adikku dan bayinya.

"Kak Ani, kok perasaan aku nggak enak ya?" Tanya adikku yang dari tadi magrib merasa tak tenang di ruangan ini.
"Tenang aja. Ada kakak disini. Kamu baca doa saja. Semoga Allah lindungi kita."

Seorang perawat masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa adikku dan bayinya. Ini adalah kesempatan buatku untuk pergi keluar untuk menjernihkan pikiran.

Aku minta izin kepada adikku dan meminta tolong kepada perawat untuk menjaga adikku sebentar. Setelah mendapat persetujuan dari mereka, aku berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.

Lorong puskesmas ini begitu gelap. Lampu yang menyinari lorong setengahnya mati. Kata petugas, ada beberapa lampu rusak dan rencananya besok hari baru diperbaiki.

Aku pergi ke taman belakang yang letaknya berdekatan dengan ruangan dimana adikku dirawat. Begitu asri, banyak bunga-bunga segar di taman itu. Oke, ini bisa menenangkan pikiranku sejenak.

Aku melirik kearah pojok taman yang letaknya bersebelahan dengan ruangan adikku dirawat. Aku melihat seekor kucing putih yang sedang sibuk mondar mandir di sekitaran sana.

Mungkin kucing dari rumah sebelah puskesmas, pikirku. Sekilas aku melihat kucing itu terlihat normal. Tetapi setelah memeriksa bentuk kucing itu secara teliti, aku melihat kedua kaki belakangnya lebih panjang dari kaki yang didepan. Perasaanku sudah mulai tidak enak melihat kucing itu. Sebenarnya aku lupa sesuatu hal pada saat itu.

Aku melirik jam tanganku dan disitu menunjukkan pukul 10:49. Sudah hampir tengah malam. Aku mengingat-ingat ini hari apa. Aku tersentak kaget karena ini adalah malam jumat. Lebih tepatnya malam jumat kliwon. Menurut kepercayaan orang kampung sepertiku, malam ini adalah malam yang pantang untuk keluar malam. Jadi langsung saja aku bergegas masuk kembali ke ruangan adikku.

Belum cukup beberapa langkah, aku dikejutkan dengan suara tangisan bayi yang amat besar. Mungkin itu suara tangisan bayi adikku. Aku berlari kembali ke ruangan adikku namun yang kulihat mereka baik-baik saja. Bayi adikku sedang tertidur lelap. Jadi bayi siapa yang tadi menangis?

Aku bertanya pada perawat yang menjaga adikku. Dia berkata kalau di ruang bersalin ada seorang wanita yang sedang melahirkan. Oh, begitu? Jadi suara tangisan yang kudengar itu asalnya dari ruang bersalin.

Perawat itu kemudian mengatakan pada kami kalau dia akan pergi ke ruang bersalin untuk membantu bidan yang ada disana.

Dia menyuruhku untuk menjaga adikku lagi. Setelah perawat itu pergi, suasana kembali mencekam. Entah mengapa, bulu kudukku meremang. Aku mewanti-wanti akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Tapi aku langsung membuang pikiran-pikiran anehku.

Adikku sedari tadi sudah tertidur. Jadi cuma aku sendiri yang terjaga. Aku memeriksa keseluruh penjuru ruangan dan yang kulihat cuma kekosongan. Hanya suara meongan kucing ada di taman belakang yang aku dengar. Tapi suaranya agak aneh. Tapi aku tak peduli, aku sangat lelah.

30 menit kemudian aku melirik kembali jam tanganku, 11:47. Sudah hampir tengah malam. Pintu ruangan terbuka dan muncullah seorang perawat yang sedang menggendong seorang bayi. Dibelakangnya mengikut seorang wanita yang memakai kursi roda dan didorong oleh seorang pria yang mungkin suaminya.

Posisi ranjang wanita itu bersebelahan dengan ranjang adikku. Setelah semua telah terbenahi, kami mulai bercakap-cakap untuk memecah keheningan.

Ya seperti percakapan pada umumnya. Nama siapa, asal darimana, apa jenis kelamin anaknya, apakah ada masalah seputar persalinan, dan lain-lain.

Aku sedikit merasa tenang karena akhirnya ruangan ini menjadi sedikit ramai. Namun hal buruk akan dimulai.

Tepat pukul 12:00 kejadian aneh mulai terjadi. Lampu ruangan ini berkedip beberapa kali dan itu mengejutkan kami. Sebuah nampan berisi alat-alat bedah terjatuh ke lantai. Perasaanku jadi tak enak.

Belum selesai aku mencoba mencari penyebab nampan itu terjatuh. Lampu di ruangan itu kemudian padam. Kami semua terkejut, bahkan adikku yang sedang tertidur akhirnya tersadar juga.

Aku berusaha meraba-raba tasku untuk mencari senter. Setelah aku menemukannya, aku menyalakannya untuk menerangi ruangan seadanya.

Sebuah ketukan pelan berasal dari luar jendela ruangan itu. Kami langsung saling bertatapan, pasalnya jendela di ruangan itu berada di atas sekali. Hapir sampai di langit-langit ruangan. Mustahil bagi orang normal untuk menjangkaunya. Aku bebisik kepada adikku untuk mendekap erat bayinya. Dan menyuruhnya untuk membaca doa yang telah diajarkan oleh ibu beberapa hari sebelum datang kesini.

Pasangan suami istri yang ada disebelahku terlihat sangat panik. Bayi mereka kemudian menangis kencang. Ibu dan ayahnya berusaha untuk menenangkannya. Tapi bayi itu tak kunjung tenang.

Dengan sedikit keberanianku, aku mulai mengarahkan senterku kearah jendela yang tadi diketuk. Aku kemudian menjerit histeris melihat dua buah tangan berada di luar sana. Air mataku mulai mengalir karena ketakutan. Adikku yang sedang menggendong bayinya terlihat amat pucat.

Aku langsung menyesalkan sesuatu. Aku baru mengingat satu hal yang penting, teryata kucing yang aku lihat tadi di taman bukan kucing biasa. Itu adalah parakang yang sedang berubah bentuk dan yang ada di jendela adalah rupa aslinya.

Aku langsung menyalahkan diriku. Mengapa aku tidak sadar tadi kalau itu adalah parakang dan membaca mantra yang sudah diajarkan oleh nenek untuk mengusir parakang itu. Atau kata lain untuk mengubah wujud parakang itu menjadi rupa aslinya.

Sebuah mata merah menyala terlihat dari luar jendela. Dia sedang menatap lapar kearah kedua bayi yang dilihatnya. Aku kemudian berinisiatif untuk membaca mantra tersebut. Walaupun kubaca cuma dalam hati, kulihat perubahan ekspresi parakang itu menjadi marah dan merasa kesakitan. Setelah mantra itu selesai kubaca, aku mendengar suara orang terjatuh dari luar sana. Aku bergegas untuk meminta petugas puskesmas untuk menangkap orang itu dan mengamankannya.

Dan benar saja. Diluar sana ternyata seorang pria sedang terbaring pingsan. Pria itu kemudian diikat dan dibawa ke ruang aula.

Setelah pria itu sadar, emosi kami langsung memuncak dan berniat untuk menghakimi pria itu. Namun pria itu cuma menangis dan berusaha mengatakan sesuatu. Aku bersama orang yang ada di aula itu mulai kebingungan. Aku meminta adikku dan bayinya untuk ikut ke aula.

Pria itu langsung berbicara lirih. "Kalian ditipu! Aku dijadikan sebagai umpan! Yang asli ada di ruangan itu."

Kami semua terkejut dan aku langsung kepikiran wanita yang ada di ruangan itu. Kami semua bergegas kembali ke ruangan tersebut dan sayang sekali. Suara jeritan wanita itu makin membuat kami panik. Setelah pintu kami buka, kami melihat sesuatu yang mengerikan.

Wanita itu terlihat pucat serta bersimbah darah dan dia sudah tewas. Ketika kami memeriksa keadaanya, perut wanita itu sudah terkoyak-koyak dan ususnya sudah menghilang. Sementara bayi dan suami wanita itu menghilang entah kemana.


Musawwir Bahar ~ 19 Desember 2019
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mumugo

WC

Karena kejadian itu, kesehatan adikku menjadi menurun disebabkan dia mengalami ketakutan dan depresi berlebih. Akibatnya kami menambah waktu perawatan di Puskesmas tersebut.

Aku sudah bertanya kepada dokter yang merawat adikku kapan dia bisa kembali kerumah. Dokter hanya menjawab singkat, kalau pasien sudah sehat total.

Stress? Pastinya. Aku sudah lama merindukan rumahku dan kamarku. Tapi, tinggal beberapa hari di Puskesmas rasanya membuatku gila.

Rencana awal kepulangan adikku adalah besok dan akhirnya kami terjebak lagi di Puskesmas mengerikan ini.

Aku memohon kepada dokter dan petugas Puskesmas agar adikku dirawat di rumah saja. Tapi mereka selalu menolak permohonanku. Aku heran.

Merasa tak ada gunanya memohon lagi, akhirnya aku pasrah dan terima saja apa yang mereka imbaukan.

Tidak selamanya aku berada di Puskesmas itu. Jika ibu atau suami adikku datang ke Puskesmas, maka aku akan kembali ke rumah entah untuk mandi, makan, dan lain-lain.

Yang membuatku heran adalah ketika ibu atau suami adikku yang menjaga, mereka tak merasakan hal-hal yang aneh. Tetapi jika aku yang ada di tempat itu, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

Semuanya dimulai ketika masuk hari kedua adikku dirawat pasca kejadian tak mengenakkan itu terjadi. Mulai saat itu, banyak tokoh-tokoh agama atau dukun yang silih berganti datang ke Puskesmas itu untuk mengusir makhluk gaib dan sejenisnya.
Tapi yang terjadi, setelah mereka melakukan pengusiran tersebut. Lebih banyak terjadi kepada dukun-dukun yang berkunjung sih. Mereka berakhir dengan mulut atau hidung penuh darah, kejang-kejang seperti kesurupan dan beberapa kejadian aneh lain. Mereka beranggapan bahwa penghuni Puskesmas tersebut sangat banyak dan berbahaya. Dan hal itu dibenarkan oleh beberapa tokoh agama yang berhasil berinteraksi dan berkomunikasi dengan beberapa makhluk gaib disana.

Kembali ke ceritaku. Pada saat itu sudah memasuki waktu malam. Dan seperti ceritaku sebelumnya, suasana Puskesmas itu langsung berubah drastis. Itu adalah salah satu faktor ketidaksetujuanku menambah masa rawat adikku.

Aku berada di ruangan dimana adikku dirawat. Melamun, melamun, dan melamun. Itu hal yang bisa kulakukan saat itu. Tapi aku langsung membuyarkan lamunanku tersebut mengingat lokasi tempatku berada sekarang sangat berbahaya untuk melamun.

Tiba-tiba, kandung kemihku rasanya penuh dan meronta-ronta ingin dikeluarkan isinya. Aku langsung meminta izin kepada adikku untuk pergi ke WC. Dia setuju dan tanpa berpikir panjang lagi, aku bergegas menuju WC.

Koridor Puskesmas itu akhirnya terang benderang setelah petugasnya memperbaiki lampu dan menggantinya. Rasa khawatirku berkurang tak seperti beberapa hari yang lalu.

Aku berjalan tergesa-gesa menuju WC. Letaknya berada di ujung koridor sebelah kiri.

Aku memeriksa terlebih dahulu WC itu, mungkin ada orang yang masuk. Dan benar saja, WC itu tertutup dan aku mendengar suara guyuran air dari dalam.

Aku menunggu tak sabaran karena rasanya perut sebelah bawahku ingin berpisah dari lokasinya.

Aku kemudian berteriak kecil kepada orang yang ada di dalam WC tersebut.

"Tolong cepat dong. Udah tak tahan nih."

Aku berteriak penuh permohonan kepada orang tersebut. Tak ada balasan dari dalam. Kucuran airnya semakin deras dan banyak.

Aku sudah tak sabar lagi dan berniat membuka pintu WC itu. Belum sampai aku menggenggam gagang pintu, suara kucuran air langsung berhenti tiba-tiba dan kemudian pintu terbuka sedikit.

Aku kaget dan dengan ragu-ragu aku membuka pintu tersebut. Hah? Kosong? Dan lantainya basah? Siapa yang masuk kedalam?

Bulu kudukku meremang dan karena sudah kebelet, aku langsung saja masuk kedalam WC tersebut.

Aku mengeluarkan urinku secepat mungkin karena ketakutan akibat kejadian tadi. Semuanya kulakukan dengan tergesa-gesa. Yang penting semuanya selesai. Aku membatin.

Aku lega, semuanya telah selesai dan beres. Perutku rasanya nyaman kembali. Ketika aku berdiri, aku merasakan sesuatu yang aneh dibelakangku. Aku meloleh sejenak dan tak ada sesuatupun di belakanku. Tapi aku merasakan sesuatu sedang memperhatikanku dari belakang.

Aku memeriksa seluruh dinding WC itu. Putih, bersih, tak ada apa-apa. Mungkin karena masih trauma karena kejadian tadi, membuat diriku menjadi parno sendiri.

Aku bergegas kembali ke ruangan dimana adikku dirawat. Rasanya otakku jadi kacau. Aku tak tahu harus berpikiran apa lagi jika berada di Puskesmas ini untuk beberapa waktu kedepan.

Yang kualami hanyalah insomnia. Tampilanku sekarang seperti orang pasca kesurupan. Lingkaran mata menjadi hitam. Tatapan lesu. Muka sayu dan terlihat mengerikan. Aku bisa melihatnya dari tatapan orang lain yang melihatku.

Aku tak berani menceritakan kejadian di WC itu kepada orang lain. Jadi aku berniat mencari tahu sendiri.

Aku kembali lagi ke WC itu. Biasa saja. Tidak ada sesuatu yang menarik. Apa mungkin aku sudah berhalusinasi?

Aku merasa kecewa karena tak ada fakta baru yang kutemukan. Aku berbalik arah menuju ruangan adikku. Belum beberapa langkah, aku mendengar suara pintu WC ditutup. Aku terkejut dan membalikkan tubuhku.

Tak ada orang lain kecuali diriku di tempat ini. Angin tak berhembus. Tentu saja, Puskesmas ini sangat tertutup. Jadi siapa yang menutup pintu itu?

Aku berjalan perlahan menuju WC tersebut. Rasanya aku menginjak sesuatu. Kuintip kearah bawah, hah? Potongan kulit manusia?

Aku berjalan mundur menjauhi lokasi tersebut. Potongan kulit manusia yang sepertinya sudah kering. Aku bergidik ngeri karenanya.

Perhatianku teralihkan ketika aku tak sengaja melihat dua buah kelopak mata berkedip di dinding. Kemudian kelopak mata itu menghilang.

Belum cukup logikaku mencerna semua, aku mendengar tetesan air dari dalam WC. Lambat laun tetesan itu berubah semakin deras. Sepertinya ada yang membuka keran air. Aku mengendap-endap dan perlahan membuka pintu WC itu.

Kosong. Seperti beberapa waktu lalu. Aku berjalan masuk kedalam WC itu dan tiba-tiba pintu WC tetutup sendiri dan sepertinya ada menguncinya dari luar.

Aku panik dan mengedor pintu sekuat dan sebisaku. Tapi tak ada respon dari luar sana.

Aku berusaha menutup keran air itu tapi tak berhasil. Katupnya macet dan tak dapat digerakkan. Alhasil, air menggenang dimana-mana. Sialnya, sesuatu telah menjanggal saluran air pembuangan dan menyebabkan air semakin tinggi.

Aku terbayang akan tenggelam di dalam WC ini. Ketinggian air sudah mencapai lututku. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba dari dinding muncul sebuah tangan dan berusaha mencengkram leherku. Aku langsung saja memukul tangan itu hingga membuatnya terjatuh kebawah.

Aku geli melihat tangan itu bergerak-gerak di dalam air dan berusaha menggenggam kakiku.

Dalam ketidakberdayaan ini, aku mencoba mengusir tangan itu. Tapi itu belum cukup. Seluruh dinding WC itu tiba-tiba muncul banyak tangan yang memenuhi dinding. Mereka semua menggeliat dan membuatku ingin muntah. Yang menjadi pusat perhatianku saat itu adalah dua buah bola mata yang sedang memandangiku dari dinding.

Kedua mata itu langsung mengeluarkan air mata tetapi berwarna merah darah. Air mata itu mengalir deras membuat warna air berubah menjadi merah darah pula.

Aku hanya bisa memanjatkan doa memohon perlindungan. Aku tak tahu darimana mendapatkan ide. Dengan kedua jariku, aku langsung dengan cepat menusuk dua bola mata misterius itu dengan jariku.

Darah berciprat menodai tanganku. Aku langsung menarik kedua jariku dari mata itu dan melihat matanya sudah berubah warna penuh merah.

Tangan-tangan yang menggeliat memenuhi dinding langsung berubah warna pula menjadi merah dan mencair. Mata itu juga mencair.

Air dari keran sudah berhenti mengalir dan saluran air pembuangan sudah lancar. Semuanya kembali normal.

Tapi yang berubah adalah dinding WC itu mempunyai jejak seperti bentuk tubuh seseorang.

Aku mencoba membuka pintu dan berhasil terbuka. Dengan langkah cepat aku berjalan menuju ruangan satpan dan meminta mereka untuk memeriksa WC itu.

Dengan persetujuan bersama, dinding WC itu dibongkar. Alangkah terkejutnya kami setelah menemukan tulang belulang lengkap terkubur di dalam dinding tersebut.

Penemuan tulang belulang itu menjadi pembicaraan hangat seluruh pengunjung Puskesmas. Akhirnya tulang itu dikuburkan dengan semestinya di pemakaman tak jauh dari Puskesmas.

Tapi misteri itu belum berakhir dan masih banyak hal yang akan terjadi.

To be continued...


Musawwir Bahar ~ 5 Januari 2020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mumugo
untung baca pagi-pagi
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
Jadi yg bunuh itu siapa? Di ruangan itu kan hanya ada adiknya dan pasutri yg baru lahiran.

Apa ane yg kurang teliti bacanya yak?😁
Baca sambil ngopi
Jadi parakang ini makan usus wanita yang habis melahirkan gitu? Makan bayinya sekalian?
nenda dl, Gan!
kabuuuuuuur ah,,,,!!
serem ah...
matikan lampu, duduk sendiri dlm kamar wc baru baca! nyutsss
Serem amat sih, Mu. Ya ampun. Ngopi dulu, Gaes.
BBB done mampir
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di