CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dfa0dd9349d0f2090331261/doti-dan-parakang

DOTI dan PARAKANG

DOTI DAN PARAKANG

Parakang?
Belum tahu?

Cerita ini akan mengisahkan teror-teror yang akan menghantui malam GanSis semua....

Mulai dari teror Parakang, Meong Eja, Po'Po', Doti (Santet) dan banyak lagi teror lainnya...

Sudah siapkah GanSis dengan cerita ini?


Quote:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mumugo
13
Thread sudah digembok

DOTI DIMULAI (PROLOG)

Hutan itu begitu gelap dan sangat sunyi. Walaupun cahaya bulan purnama menyinari malam itu, namun karena lebatnya pepohonan hutan menutupi cahaya bulan sehingga tidak sampai di tanah. Empat orang itu menapaki jalanan hutan yang agak basah karena sudah diguyur hujan tadi sore. Seorang wanita paruh baya memakai Baju Bodo (pakaian khas Suku Bugis) berjalan di depan. Disampingnya ada seorang pria tua yang berpakaian khusus kepala dusun. Dibelakang mereka ada seorang pria yang merupakan suami dari wanita tersebut. Dan ada pula seorang pria kurus yang berpakaian lusuh berada di belakang sekali dan bertugas membawa obor.

Mereka berjalan semakin dalam masuk ke hutan. Suara hewan malam semakin nyaring bunyinya. Suara gesekan bambu yang ditiup angin memecah keheningan pada malam itu.

"Pak Dusun, dimana rumah Sandro (dukun) yang anda maksud itu? Apakah masih jauh? Aku sudah mulai lelah." Tanya wanita itu yang sudah mulai kelelahan dengan perjalanan tersebut.
"Sudah hampir sampai. Itu di depan sana." Jawab pak dusun.
"Semoga yang kau ucapkan itu benar. Aku sudah mulai ketakutan. "

Dan benar saja. Di depan mereka ada sebuah cahaya yang menyilaukan mata. Wanita itu kemudian bergegas menuju sumber cahaya itu. Mungkin dia sudah lelah atau mungkin ketakutan.

Jarak rumah itu dari ujung jalan desa cukup jauh untuk ditempuh. Mungkin sekitar 10 kilometer. Kontur jalan yang mereka hadapi tak dapat ditebak. Kadang menurun, kadang mendaki, kadang berbatu, kadang becek, serta mereka harus melewati beberapa anak sungai yang dalamnya bisa sampai di lutut orang dewasa.

Penampilan rumah itu memang mirip dengan rumah penduduk desa pada umumnya. Berbentuk rumah panggung dengan berbagai ornamen dan pahatan pada tiang penyangga rumah serta dindingnya. Sebuah sumur kecil berada di depan rumah serta halaman depan yang bersih dan asri. Namun yang membuat rumah itu berkesan aneh adalah dengan adanya sebuah tiang di tengah-tengah halaman rumah yang sepenuhnya dikelilingi oleh tengkorak. Entah apakah itu tengkorak kerbau atau sapi serta ada sebuah obor yang menyala terang di ujung tiang tersebut.

Belum sampai mereka menginjakkan kaki di anak tangga rumah tersebut, pintu rumah terbuka perlahan dan muncullah seorang wanita tua yang berpakaian serba putih serta membawa sebuah dupa yang masih berasap. Sepertinya dia baru selesai melakukan sebuah ritual tertentu.

"Silahkan kalian masuk kedalam rumahku." Ajak sang wanita tua.

Seperti rumah pada umumnya, mempunyai ruang tamu walaupun tak mempunyai meja dan kursi. Maka otomatis tamu yang berkunjung harus duduk melantai. Tak banyak dekorasi yang menghiasi ruangan tersebut. Hanya beberapa pahatan di sudut ruangan. Kesan sederhana dari ruangan itupun muncul.

Wanita tua itu masuk kedalam kamarnya setelah mempersilakan tamunya duduk. Setelah beberapa saat, wanita tua itu muncul ke ruang tamu dengan nembawa sebuah kotak berwarna emas denga isi beberapa lembar daun sirih, buah pinang, serta kapur.
"Benarkah anda Puang Cammo (Nenek Ompong)?" Tanya wanita itu memulai percakapan.

Wanita tua itu hanya tertawa sambil memamerkan giginya yang memang sudah banyak yang ompong.

"Lihatlah gigiku itu. Kau benar sekali, aku Puang Cammo."

Ketiga tamunya itu cuma bisa tertawa kecil. Mereka tahu kalau itu bukan nama aslinya. Kemudian suasana kembali serius.

"Apa tujuan kalian datang kemari?"
"Begini Puang, kami datang kemari untuk meminta bantuan."
"Bantuan seperti apa yang kalian inginkan?"

Wanita itu kemudian maju dan membisikkan sesuatu di telinga Puang Cammo. Puang Cammo menyimak dengan serius apa yang dibisikkan padanya.

"Jadi itu yang kalian butuhkan? Itu adalah hal yang mudah. Ikutlah denganku."

Puang Cammo kemudian mengajak ketiga tamunya nenuju ke halaman belakang rumah. Obor menyala terang di seluruh penjuru halaman. Sebuah batu berbentuk meja diletakkan di tengah-tengah halaman. Puang Cammo kemudian mengambil sesajen serta meletakkannya di batu tersebut. Kemenyang dibakar di sekeliling batu itu. Entah darimana asalnya, kabut tebal datang dari setiap penjuru menyelimuti halaman tersebut. Akibatnya, suasana mistis makin terasa serta meremangkan bulu roma.

"Ambilkan seekor kucing hitam yang ada dibawah tangga. Disitu ada kandangnya."

Pak Dusun kemudian berjalan ke arah tangga kemudian meraba-raba sebuah kandang bambu yang gelap. Dan memang ada kucing hitam di kandang tersebut. Sesuai perintah dari Puang Cammo, Pak Dusun kemudian mengikat keempat kaki sang kucing kemudian meletakkannya di tengah-tengah batu. Puang Cammo mengambil sebilah Badik kemudian mengarahkan badik tersebut ke arah leher kucing. Dia kemudian melafalkan mantra dan mulai mengorok leher kucing yang malang itu. Darah segar mengalir kemana-mana. Kucing tersebut mengerang kesakitan dan setelah itu tak bergerak lagi.

Puang Cammo mengambil sebuah obor dan sambil melafalkan mantra, dia membakar jasad kucing itu hingga seluruh tubuh kucing hangus terbakar.

Keanehan mulai terjadi. Warna api yang melalap kucing itu lambat laun berubah warna menjadi merah darah, kemudian api itu mulai melayang di udara. Puang Cammo melafalkan mantra dan api itu terbang ke lokasi yang telah ditentukan oleh Puang Cammo.

Keanehan lain adalah kucing yang telah dibakar tadi mulai bergerak lagi. Bulunya tidak ada satupun yang tersentuh api. Leher yang telah menganga akibat disembelih tersambung kembali. Seperti tidak terjadi apa-apa pada sang kucing, dia hidup kembali. Namun yang berubah adalah warna mata kucing berubah menjadi merah darah.

Puang Cammo tersenyum aneh kemudian melirik kearah tiga tamunya yang bergidik ngeri setelah nenyaksikan kejadian yang mengerikan itu.

"Mimpi buruk akan dimulai sekarang."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mumugo
Kritik dan Saran Mumu butuhin banget...biar majulah cara nulis Mumu...Semoga thread Mumu kali ini bermanfaat yakkk....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 3 lainnya memberi reputasi
muantab...lanjut lah...
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Uniwahyuni005 memberi reputasi
Oke. Bersambung kah?
profile-picture
dalledalminto memberi reputasi
Lanjutt
profile-picture
Uniwahyuni005 memberi reputasi
mojok dulu... takut
profile-picture
Uniwahyuni005 memberi reputasi
Bersambung kan????
profile-picture
Uniwahyuni005 memberi reputasi
Next. Teror meong bermata merah darah @mumugo
profile-picture
profile-picture
Uniwahyuni005 dan dalledalminto memberi reputasi
bakal horor banget nih, ceritanya serem. dan bikin penasaran kelanjutannya. true story, bukab ya, sist??
ijin ngelapak
nenda dulu lah
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Nyimak sambil ngopi nggeh
profile-picture
embunsuci memberi reputasi

TEROR PERTAMA : MEONG EJA (PT. 1)

'Lahhhhhh....kok bisa kurang sih?' Jeritku dalam hati.

Aku hanya bisa membuka lembar tiap lembar catatan keuangan warungku. Memang terlihat sederhana mengatur uang yang masuk dan keluar untuk warung skala kecil-kecilan.

Warung yang aku kelola adalah sebuah warung yang isinya barang-barang keperluan rumah tangga. Tidak terlalu besar tapi lumayan sukses untuk standar orang kampung.

Aku mengingat-ingat total karung beras yang masuk pekan ini. Totalnya memang sesuai dengan yang kuterima. Aku langsung mengecek karung-karung tersebut dan ternyata jumlahnya benar sesuai catatan. Tapi kayaknya ada yang salah menurutku.

Kuperiksa kembali catatanku dan aku mendapatkan fakta bahwa uang kembalian dalam pembelian karung beras itu ternyata kurang.

Ini tak boleh terjadi dan aku tak terima. Mengapa aku bisa kecolongan dengan uang kembalian tersebut?

Langsung saja kupanggil salah seorang karyawanku untuk mengantarku ke tempat penjualan beras tersebut.

Sesampainya disana, aku langsung menyemprotkan amarahku kepada seluruh pegawai penjual beras disana.

"Dimana bos kalian?!" Teriakku
"Maaf Puang, sebenarnya apa keluhan anda?" Tanya seorang pegawai meredakan emosiku.
"Dimana bos kalian?!"

Aku berbesar kepala dan tak menghiraukan pertanyaan mereka. Dari sebuah pintu muncullah seorang wanita paruh baya berjalan ke arahku dengan tatapan penuh tanya.

"Kenapa Puang? Saya dari tadi dengar Puang marah-marah?" Tanya wanita itu dengan penuh kelembutan.
"Aku tak terima! Kemarin aku beli 20 karung beras dari kalian dan kalian memberikanku uang kembalian tidak cukup!" Bentakku.
"Oh begitu? Berapa total kembalian yang kurang?" Tanyanya lagi.
"Tujuh ribu lima ratus." Jawabku.

Seluruh orang yang ada di tempat itu terkejut dan tercengan dengan ucapanku. Begitupula dengan wanita tersebut. Dia terlihat jengkel dan emosi terhadap ucapanku.

Dia kemudian masuk kembali ke ruangannya, beberapa saat kemudian dia muncul lagi dan melemparkan selembar uang sepuluh ribu ke wajahku.

Aku tak terima dengan perbuatannya dan menampar pipinya. Tubuhnya oleng dan kemudian berusaha bangkit kembali namun dengan cepat aku mendorong tubuhnya membuat dia terjatuh dan pelipisnya lebam terbentur meja.

Aku mengambil uang sepuluh ribu tersebut dan memasukkannya kedalam dompetku.

Emosiku belum reda juga. Sehingga sebuah rak yang penuh dengan kantong berisikan beras kudorong hingga jatuh.

Seluruh karyawan terkejut dan kemudian mencaci-maki diriku. Aku tak peduli dengan perkataan mereka dan meninggalkan tempat tersebut.

Malam sudah larut. Aku masih berada di warungku untuk mengecek semua barang dagangaku. Mulai dari tanggal kedaluwarsa, kondisi, dan kemasannya.

Dari tadi kantuk sudah menghantuiku, tapi aku memaksakan diriku untuk tetap bekerja. Akhirnya pekerjaan itu selesai beberapa jam setelahnya.

Aku menutup dan mengunci warungku dan berjalan masuk kedalam rumahku.

Di pinggir jalan aku melihat sebuah obor yang menyala terang. Tapi ada yang aneh dari obor itu. Aku tak melihat gagang obor tersebut atau aku hanya melihat apinya saja.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Mungkin aku sudah mengantuk berat sehingga apapun yang kulihat sudah tidak jelas.

Aku langsung melanjutkan langkahku memasuki rumahku. Suamiku sudah tidur dari tadi, begitupula dengan anak-anak.

Aku memperhatikan jam dinding dan menunjukkan pukul 23:48. Sudah hampir tengah malam? Aku kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan mengganti pakaian.

Setelah semuanya selesai, aku lansung bergegas untuk tidur.

Betapa nyaman rasanya jika sudah berada di ranjang sambil berselimut hangat disamping suami tercinta.

Aku segera memejamkan mataku, tapi gagal karena jendela pintu kamarku terbuka oleh angin.

Dengan malas aku menutup kembali jendela itu. Aku mengintip sekilas keluar jendela dan melihat obor tadi berpindah tempat. Tadi ada di pinggir jalan tetapi sekarang sudah ada di depan pintu. Aku terkejut jika daritadi obor tersebut tak mempunyai gagang.

Sekali lagi aku melihat kearah pintu dan obor tadi sudah menghilang. Aku langsung merinding dan takut karenanya. Langsung saja aku mengingat perkataan Puangku jika melihat api terbang, maka itu adalah Doti (santet) yang sementara dikirim.

Aku langsung membangungkan suamiku dan menyuruhnya memeriksa seluruh rumah dan pintu.

Dengan agak malas dia menyetujui permintaanku dan mengambil senter kemudian berjalan ke arah ruang tamu. Aku masih ada di kamar sambil melihat sekeliling ruangan.

Aku dikejutkan oleh suara dentuman keras dari arah ruang tamu. Aku bergegas menuju ke ruang tamu dan terkejut melihat suamiku sudah menjatuhkan hiasan meja yang mahal. Aku langsung mengomeli suamiku karena keteledorannya.

Kemudian suara cakaran sesuatu dari arah dapur mengagetkan kami berdua. Dengan penuh hati-hati kami berjalan ke arah dapur. Aku berada di depan sementara suamiku berada di belakang sambil menyenteri diriku.

Sudah sampai di dapur dan kami tak menukan sesuatu yang aneh. Aku bernapas lega mungkin itu hanyalah suara tikus yang sedang berkeliaran.

Tiba-tiba senter suamiku terjatuh dan ruangan menjadi gelap seketika. Aku mendengar suara suamiku terjatuh dan diseret oleh sesuatu.

Aku meraba-raba lantai dengan panik berusaha menemukan senter. Akhirnya aku memukan senter itu di bawah meja.

Kunyalakan senter tersebut dan pemandangan pertama yang kulihat adalah noda darah dimana-mana.

Aku terkejut dan merinding melihat darah. Dengan perlahan aku mengikuti arah noda darah tersebut.

Masuk ke arah ruang keluarga aku masih melihat noda darah dan ketika sudah sampai di ruang tamu, aku melihat pemandangan yang sangat mengerikan sekaligus menjijikan.

Seekor kucing bermata merah sedang mengunyah salah satu mata suamiku. Sedangkan mata yang satunya menggelinding di lantai menuju kearahku.

Setelah puas mengunyah dan melahap mata suamiku, kucing itu kemudian mencabik-cabik baju suamiku sehingga perutnya terlihat dan kemudian dengan cakarnya yang panjang dan tajam, dia mencakar dan mengoyak perutnya. Rasanya aku ingin muntah ketika melihat darah mengalir dimana mana. kucing itu kemudian menarik usus suamiku hingga terburai di lantai.

Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Suamiku sudah tewas mengenaskan. Ketiga anakku bergegas menuju ke ruang tamu dan memelukku dari belakang.

Aku mendengar isakan dan tangisan dari anak-anakku. Kucing itu kemudian melirik kearah kami dan terlihat tersenyum mengerikan.

Dari mulutnya keluar cairan hitam yang makin lama makin banyak dan menggenangi lantai. Cairan tersebut kemudian bergerak kearah kami dan membentuk tangan manusia. Tangan hitam tersebut kemudian menarik ketiga anakku. Aku berusaha mempertahankan mereka semua tetapi kekuatan tangan itu lebih kuat sehingga ketiga anakku tertarik masuk dan tenggelam kedalam cairan hitam tersebut.

Kucing itu langsung menghisap kembali cairan hitam pekat itu dan berlari keluar melalui jendela dan menghilang.

Aku langsung jatuh terduduk di lantai dan berlinang air mata. Aku frustasi dan tak mengerti apa yang terjadi barusan. Aku kemudian menjerit sekuat-kuatnya dan menangis histeris sehingga mengundang perhatian tetangga.

Mereka semua berbondong-bondong datang ke rumahku dan terkejut melihat jasad suamiku yang mengenaskan.

Mereka semua membombardirku dengan banyak pertanyaan tapi aku tak menhawab satu pertanyaanpun dari mereka.

Aku tak tahu harus menjawab apa dan yang aku rasakan pengelihatanku kabur dan terjatuh di lantai.

Kubuka mataku pelan-pelan. Aku berada di sebuah ruangan serba putih. Aku terbaring lemah dengan beberapa selang berada di sekelilingku.

Yang aku pikirkan sekarang adalah siapa kucing bermata merah itu dan kemana dia membawa lari anak-anakku?

To be continued


Musawwir Bahar ~ 5 Januari 2020



profile-picture
profile-picture
embunsuci dan jkamy02 memberi reputasi
Diubah oleh mumugo
nyontek bikin trit kumcer muehehe. suka horor juga ya? tos dulu kita sesama holol wkwkwk
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
ngeriiiii......
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:




Iya Kak....udah jadi makanan sehari-hari kalu horor
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
lagiiiiiiii.....
Singgah ngopi, Gaes. Serem amat sih tuh dimakan kucing, hiiy ya ampun. Lanjut, Gaes.
mampir BBB
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di