TS
wawanadalah21
PAK BAGAS, SURAT INI JADI OBAT AGAR TAK BINGUNG DAN SADAR REALITA
Selamat pagi/siang/petang/malam, pak Bagas. Kapanpun waktu bapak membaca tulisan 'sederhana' ini.
Tulisan yang tidak 'sereaktif' seperti karya bapak di salah satu media online.
Oh iya; salam hormat kepada bapak yang merupakan akademisi UGM. Seorang intelektual hebat dari kampus unggulan di Indonesia.
Pak Bagas; gelar kiranya memang tidak seutuhnya menjamin kompetensi. Seperti disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat menghadiri pelantikan Rektor UI yang baru.
Gelar. Kompetensi. Seharusnya, idealnya, dalam garis lurus. Saling terhubung. Selaras antara apa yang dipelajari di sekolah/kuliah dengan implementasi.
Nyatanya tidak begitu. Das sollen dan das sein berbeda.
Pak Bagas adalah akademisi bukan? Coba bapak cek apakah 100% atau minimal 90% Mahasiswa bapak sesuai menerapkan gelar akademiknya dengan karier? Yakinlah, tidak ada.
Pak, banyak yang bertitel Sarjana Teknik jadi Marketing. Banyak bergelar Sarjana Pertanian jadi Jurnalis. Seabrek Sarjana Ekonomi malah kerja sebagai Peneliti Politik. Yang Sarjana Politik justru jadi Pedagang. Sarjana Hukum asyik bekerja sebagai Guru.
Tidak ada jaminan selaras antara gelar akademik dan kompetensi, pak Bagas. Kalaupun ada; tak sampai 100%, pak.
Pernyataan Menteri Nadiem benar, pak.
Soal apakah Menteri Nadiem kuliah hingga S2 di Amerika, itu lain urusan. Itu menyangkut minat dan niat untuk belajar. Sama halnya ada pebisnis sukses, sudah kaya raya, tapi niat ingin belajar agama, lalu dia kuliah di fakultas keagamaan.
Selanjutnya; pernyataan pak Bagas ambigu. Tentang ucapan Menteri Nadiem yang menyebutkan bahwa sekolah/kampus tidak menjamin kesiapan kerja.
Kemudian pak Bagas bantah dengan 'teori' sekolah/kampus adalah untuk menyiapkan lulusan yang siap beradaptasi dengan dunia kerja.
Artinya sama saja, pak. Sama-sama mengarah ke penyiapan SDM untuk bekerja.
Saat ini coba pak Bagas data: berapa jumlah Sarjana atau lulusan SMA/SMK yang menganggur? Semoga pak Bagas tahu jumlahnya supaya bisa memahami maksud Menteri Nadiem.
Pak Bagas menggugat juga pendapat Menteri Nadiem terkait akreditas sekolah/kampus tidak menjamin mutu. Padahal itu benar dikatakan Menteri Nadiem, pak.
Ketika kampus Z, akreditasinya A, jadi favorit, banyak menghasilkan penelitian, apakah mutu Mahasiswanya 0% tidak terlibat Narkoba, seks bebas atau tidak ada yang DO?
Apakah 0% mutu Mahasiswa tidak ada yang bolos kuliah atau lulus tepat waktu, pak? Lagi-lagi; tidak ada jaminan mutu, pak Bagas.
Pak Bagas, Menteri Nadiem tidak sedang berwacana. Rasanya Menteri Nadiem sedang menyampaikan realitas pendidikan Indonesia di era industri 4.0
Atau mungkin bapak yang sedang berpikir utopia sebab minim pekerjaan
Mohon maaf jika tulisan 'sederhana' ini menjawab argumentasi intelektual seperti bapak.*
Tulisan yang tidak 'sereaktif' seperti karya bapak di salah satu media online.
Oh iya; salam hormat kepada bapak yang merupakan akademisi UGM. Seorang intelektual hebat dari kampus unggulan di Indonesia.
Pak Bagas; gelar kiranya memang tidak seutuhnya menjamin kompetensi. Seperti disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat menghadiri pelantikan Rektor UI yang baru.
Gelar. Kompetensi. Seharusnya, idealnya, dalam garis lurus. Saling terhubung. Selaras antara apa yang dipelajari di sekolah/kuliah dengan implementasi.
Nyatanya tidak begitu. Das sollen dan das sein berbeda.
Pak Bagas adalah akademisi bukan? Coba bapak cek apakah 100% atau minimal 90% Mahasiswa bapak sesuai menerapkan gelar akademiknya dengan karier? Yakinlah, tidak ada.
Pak, banyak yang bertitel Sarjana Teknik jadi Marketing. Banyak bergelar Sarjana Pertanian jadi Jurnalis. Seabrek Sarjana Ekonomi malah kerja sebagai Peneliti Politik. Yang Sarjana Politik justru jadi Pedagang. Sarjana Hukum asyik bekerja sebagai Guru.
Tidak ada jaminan selaras antara gelar akademik dan kompetensi, pak Bagas. Kalaupun ada; tak sampai 100%, pak.
Pernyataan Menteri Nadiem benar, pak.
Soal apakah Menteri Nadiem kuliah hingga S2 di Amerika, itu lain urusan. Itu menyangkut minat dan niat untuk belajar. Sama halnya ada pebisnis sukses, sudah kaya raya, tapi niat ingin belajar agama, lalu dia kuliah di fakultas keagamaan.
Selanjutnya; pernyataan pak Bagas ambigu. Tentang ucapan Menteri Nadiem yang menyebutkan bahwa sekolah/kampus tidak menjamin kesiapan kerja.
Kemudian pak Bagas bantah dengan 'teori' sekolah/kampus adalah untuk menyiapkan lulusan yang siap beradaptasi dengan dunia kerja.
Artinya sama saja, pak. Sama-sama mengarah ke penyiapan SDM untuk bekerja.
Saat ini coba pak Bagas data: berapa jumlah Sarjana atau lulusan SMA/SMK yang menganggur? Semoga pak Bagas tahu jumlahnya supaya bisa memahami maksud Menteri Nadiem.
Pak Bagas menggugat juga pendapat Menteri Nadiem terkait akreditas sekolah/kampus tidak menjamin mutu. Padahal itu benar dikatakan Menteri Nadiem, pak.
Ketika kampus Z, akreditasinya A, jadi favorit, banyak menghasilkan penelitian, apakah mutu Mahasiswanya 0% tidak terlibat Narkoba, seks bebas atau tidak ada yang DO?
Apakah 0% mutu Mahasiswa tidak ada yang bolos kuliah atau lulus tepat waktu, pak? Lagi-lagi; tidak ada jaminan mutu, pak Bagas.
Pak Bagas, Menteri Nadiem tidak sedang berwacana. Rasanya Menteri Nadiem sedang menyampaikan realitas pendidikan Indonesia di era industri 4.0
Atau mungkin bapak yang sedang berpikir utopia sebab minim pekerjaan
Mohon maaf jika tulisan 'sederhana' ini menjawab argumentasi intelektual seperti bapak.*
0
289
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan