CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SURAT TERBUKA UNTUK MAMA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5de968c8facb9517f70443f7/surat-terbuka-untuk-mama

SURAT TERBUKA UNTUK MAMA

Seorang ibu mengerti apa yang anaknya hadapi, meski tak mengalaminya sendiri. Ada insting yang lebih kuat dari baja yang ditempa. Ada jiwa yang tiap detiknya hidup demi kita.

Ibunda ini tak dimaksudkanuntuk memberitahu beliau apa yang kitarasakan. Besar kemungkinan, beliau mengerti yang selama ini kita pendam.demi mengurai isi kepala kita sendiri. Demi mengurangi rindu yang ada di dada kita.

Halo Ma,
Apa kabar?

Ah, rasanya ganjil sekali melontarkan itu. Kita satu rumah, namun jarang kutanyakan kabarmu.Anak macam apa aku ini. Makanan yang kau sediakan di atas meja tak lantas membuatku peduli kabarmu saban hari. Maaf ya,

Ma.

Mungkin kita jarang berbicara. Saat membuka mulut pun, hanya adu argumen yang ada. Rasanya susah sekali menahan diri. Apapun yang ada di kepala, aku lontarkan semua. Begitu terucapkan, aku hanya bisa menyesal.

Mama mungkin sudah biasa. Menghadapi ego dan kesoktahuan anaknya. Dari dulu, pikirmu. Tidak apa-apa. Engkau tersenyum, dan tersenyum saja.

Mamaku yang cantik,

Apa aku boleh bertanya? Bagaimana bentuk ku saat aku keluar dari rahimmu? Aku penasaran, Ma. Hanya bisa kubayangkan sakitnya. Dari situ pikiranku melanglang ketika 9 bulan membawaku, hal-hal ganjil apa saja yang kulakukan terhadapmu? Bagaimana perasaanmu ketika tahu rasa sakitmu sebagai ibu tak hanya kau derita saat melahirkan saja?Dari situ aku bisa mengerti, betapa sabar dirimu selama ini.

Tapi harus kuakui. Kadang memang aku heran pada sikapmu. Mama pernah marah-marah ketika aku main ke rumah teman sampai jam 10 malam. Mama sibuk meneleponku untuk pulang,padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku aman.

Aku tahu Mama takut terjadi apa-apa denganku di jalan. Tapi tenanglah, Ma. Aku pasti bisa menjaga diri. Bukankah Mama sendiri yang mengajarkan aku untuk berani? Mungkin memang sulit Mama percayai, tapi aku sekarang sudah besar. Sudah tahu bagaimana melindungi diriku sendiri di jalan. Mama ingat pernah menasihati supaya aku pandai berteman? Nah, kini aku punya teman-teman yang bisa kuandalkan ketika aku pulang terlalu malam.

Ma, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Aku takut melihatmu menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu keluar. Apalagi ketika aku harus pergi ke tempat yang jauh dari rumah.

Saat aku hendak berkelana sementara, Mama membuktikan perhatian dengan mempersiapkan barang bawaan untukku. Sayangnya, terkadang aku sendiri bingung barang-barang itu harus aku apakan.
 
“Ini mama siapin selimut. Bawa ya!”
“Aduh, ntar beli aja di sana. Berat ma!”

Aku masih ingat itu. Aku menolak barang-barang yang sudah kau siapkan untukku. Hanya ketika mau berangkat, aku mengangkutnya ke ransel. Dengan berat hati, dan separuh mencak-mencak tak mengerti.

Namun saat jauh, aku rindu padamu.Ah…Untunglah ada barang-barang ini. Kupeluk saja selimut yang Mama siapkan. Aku tidak jadi kedinginan.

Ma,

Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika umur 5, 10, atau seumurku, cita-cita apa yang sebenarnya Mama gantungkan? Dokterkah, layaknya anak-anak pada umumnya? Atau malah Mama punya cita-cita yang lebih unik, seperti fotografer dan penulis buku?

Maaf ya Ma, gara-gara aku, Mama harus berhenti mengejar impian masa kecil Mama. Karena keberadaanku, Mama harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 2 kali lebih keras dari seharusnya.

Ya,

Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Bahkan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang. Pagi-pagi sekali, Mama harus bangun untuk memasak sarapan. Selanjutnya, Mama harus menyiapkan peralatan sekolahku. Mama harus mengantarku ke sekolah, berbelanja agar di rumah ada yang bisa dimakan.,,

Kadang, kalau aku sedang rajin aku akan berusaha membantumu semampuku. Tapi Mama pun tidak selalu memperbolehkanku membantu. “Sudah belajar, belum?” tanyamu.

Iya, Mama banyak bertanya. Pertanyaan Mama pun sebenarnya selalu sama: “Sudah makan belum?”, “Sudah sholat?” Kalau aku menjawab “belum”, nada bicaramu langsung berubah dan sifat cerewetmu mulai keluar. “Ah, Mama ngoceh terus! Kalau belum sempat gimana dong, Ma?” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku. Pusing rasanya mendengar ocehan Mama. Mama tidak tahu ‘kan, saat Mama menelepon aku sengaja menjauhkan ponselku dari telinga karena bosan mendengar ocehan Mama? Maaf ya, Ma.

Di saat aku jauh dari rumah, banyak hal yang aku lakukan tanpa sepengetahuan Mama. Ada beberapa hal yang kutahu tak boleh aku langgar, namun tetap aku lakukan. Harus kuakui, ketika melakukannya, aku terhibur dan sedikit bangga.

Aku jahat ya, Ma? Aku anak pembohong. Mama masih mau menyayangi anak pembohong sepertiku?

Ma,

Tahukah kalau aku sangat takut untuk memperkenalkan calon menantumu? Aku takut Mama tidak setuju dengan pilihan hidupku. Takut Mama kecewa jika nantinya aku gagal dalam pernikahanku. Tidak ada rasanya yang lebih mengintimidasi dari ucapan “Ma, kenalin ini calon menantu Mama.”

Senyummu membuyarkan kegelisahanku.

“Kamu senang sama dia? Sudah yakin? Yang penting itu kebahagiaanmu sendiri.”

Ma, wajahmu mulai menua. Mulai ada keriput disana, membuatku sadar ragamu tidak sekuat dulu. Penyakit mulai mengerogoti tubuhmu. Akupun pernah harus melihatmu terbaring di atas tempat tidur. Tapi kau malah tetap tersenyum dan menanyakan apa aku sudah makan.

(Ma, tenang! Aku sudah makan!)

Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja Mama yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Disana yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu.

Mama, Ibu, Ibundaku…

Terima kasih sudah memutuskan memilikiku. Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.

Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut, yang tak cukup sering menyapu rumah…ah!

Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu. Secerewet apa pun dirimu, Mama tetap wanita nomor satu bagiku.

Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Mama pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahim Mama.

Tuhan yang mempertemukan kita emoticon-Smilie

Aku bersyukur bisa berkenalan dengan Mama. Tersenyumlah, Ma,

Penggemar beratmu nomor satu,

Anakmu.

 
SURAT TERBUKA UNTUK MAMA
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 19 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh hellmoyy
SURAT TERBUKA UNTUK MAMA
profile-picture
hellmoyy memberi reputasi
Masih sayang MAMA ...
profile-picture
hellmoyy memberi reputasi
Terbaik udah ini. nulisnya bagus banget, jadi emosinya nyampe ke ane. mantap banget emang seorang Ibu bagi masing2 kita.
profile-picture
profile-picture
senjakita09 dan hellmoyy memberi reputasi
aku jadi sedih, ingat sama ibuku yng sekarang sudah tua. belum bisa membahagiakan beliauemoticon-Mewek
profile-picture
hellmoyy memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Sedih gan, ketika lu baca semua cerita tentang perjuangan ibu kepada anaknya dan sekarang ibu lu sayangi sudah pergi untuk selama-lamanyaemoticon-Turut Berduka
profile-picture
hellmoyy memberi reputasi
Diubah oleh rifanisheree
Semua yang memiliki awal akan menuju kepada sebuah titik akhir. Itu adalah suatu hal yang pasti. Kita semua harus menerima kenyataan ketika hal itu terjadi.

Kita harus menerima, sebab hanya itu yang bisa kita lakukan.

Oleh karena itu, hargailah waktu yang bisa kita jalani dengan orang yang kita peduli, cintai, seperti ibu. emoticon-Smilie
ane juga terbilang ga dekat sama orang tua gan,tapi masih satu rumah,orangtua ane ga suka sama pasangan ane,tapi perasaan ane tuh gitu deh gan,kadang suka sedihemoticon-Turut Berduka
Yg begini nih yg selalu bikin berat mau ninggalin ortu, in case ane milih pulang gaji gak segede temen2 cuma biar gak jauh ibu doang emoticon-Ngakak
Ngomongin Mama tuh emang bikin sedih. I love you Mama

I thank you mom

Hi mom,
you are my everthing, and i know i am your everything too. sometimes i have been so adament for certain thing but you have been patients with me during those things. i love you so much for that mom. thank you is a small word to express my feelings. you wanted me to study medicine but i chose engineering and i have done NVQ Level 6 Construction Site Management course online without telling you. you have forgiven me for that too. i love you mom
Mama, i love u😭
yaampunnn aku bacanya sambil nangissemoticon-Frown
Balasan post Enisutri
Quote:


SURAT TERBUKA UNTUK MAMA
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
ibu adalah segala" bsgi saya tanpa doa seorang ibu saya tidak mungkin sampai seperti skrg ini


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di