CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Doyan Cewek, I Am A Boy.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd279b528c9917c472cfdcf/doyan-cewek-i-am-a-boy

Doyan Cewek, I Am A Boy (rebirth)



Prologue



Waktu itu...

Gue lagi di Indo, Indonesia, di Berawa, Bali, lebih tepatnya lagi. Malam itu... sekitar jam sebelas malam kalau nggak salah, gue lagi menemani Dewinta browsing di macintosh nya, dia lagi asyik mencari bahan buat tugas biologi nya. Sambil duduk - duduk di sofa villa punya bokapnya, minum minuman anget, kami berdua mengobrol bersama tentang tugas yang sedang dia kerjakan. Karena kalau nggak salah tema tugasnya itu tentang kondisi hormonal organ reproduksi remaja pada tahapan menuju dewasa.

Bosen liatnya, bosen juga mikirnya, gue nanya sama Dewinta, gimana sih rasanya jadi anak kuliahan di Indo. Mengingat kondisi gue yang enam tahun ke belakang itu selalu nomaden, ya gue sering wara - wiri kesana dan kesini. Travel routine gue biasanya dimulai dari Indo - NZ, Indo – Canada, atau Indo – UK.

Anyway, Dewinta adalah temen perempuan gue sejak gue masih berada di Sekolah Dasar dulu, Dee adalah panggilan akrab gue untuk dia, kenapa dia dipanggil begitu dan kenapa nggak panggil yang lain aja? — Kisahnya panjang, man, yang jelas, waktu itu, waktu masih berada di Sekolah Dasar, gue lagi sering seringnya di bully sama temen satu sekolah gue karena gue itu sering beda sendirian, misalnya, beda pendapat, beda hobi dan beda kesukaan, beda lain – lain deh pokoknya. — Awalnya, Dewinta sering banget ngejailin gue, namun akhirnya, gue bisa jadi akrab kok sama mereka semua, temen - temen gue itu.

* * * * *

Kembali lagi ke malam hari itu..., malam dimana Dewinta menjawab pertanyaan gue dengan jawaban yang mudah, biar gue bisa gampang mencerna dan memahaminya, dia cuma bilang... "Rasanya jadi anak kuliahan di Indo yah..., nano – nano." katanya ringan.

Nano - nano, adalah satu kata asing bagi gue, yang asalnya berasal dari kamus bahasa gaul anak - anak Indo Jakarta dan sekitarnya, sekarang gue malah jadi bingung sendiri dan akhirnya gue mencoba untuk menduga duga, nano - nano itu apa sih, sebenernya? akhirnya gue memberanikan diri untuk menjawab, "Nano nano itu semacam beraneka ragam bukan sihhh? atau, membingungkan?" ucap gue kepada Dewinta.

"Nah, pinter lo! Betullll, nano nano itu beraneka ragam. Bukan membingungkan, Pal." jawab Dewinta terkesiap lalu meluruskan jawaban yang gue utarakan kepada dia. — Yes, dugaan gue betul, mungkin dari masa lalu gue ketika pernah melihat sesuatu, jawaban itu muncul di kepala gue begitu aja. Pal, alias Palma, adalah nama tengah gue yang biasanya Dewinta akrab memanggil gue dengan nama itu. Nama lengkap gue sebenernya agak terlalu maksain, menurut gue pribadi ya, nama gue adalah.

Hensey Palma Ashburn *tersipu malu*

Adalah nama pemberian dari kedua orang tua gue, Hensey itu sebenernya adalah nama panggilan bokap gue waktu dia masih muda dulu, sedangkan Palma diambil dari filosofi atas salah satu bisnis utama bokap di bidang perkebunan, di perkebunan minyak sawit. — Palm oil, hanya ditambahkan huruf A saja, jadinya Palma, remeh, memang, tapi gue tetap bisa menghormatinya meskipun demikian, dan dengan menghormati sesuatu, gue rasa, gue secara pribadi pun, merasa enjoy menjalaninya.

Di sisi lain, Palma adalah nama dari seorang mafioso (mafia Itali) di era setelah perang dunia kedua berakhir. Mendioza dey Palma. Adalah salah satu mafioso idola bokap gue. Yang gue heran, dengan nama ini. Banyak cewek yang suka sama gue meskipun mereka cuma ngedenger nama gue doang. — Apalagi di bagian Hensey dan Ashburn. Hensey Ashburn, "Belum ketemu orangnya, masa, udah suka duluan?" kilah gue dalam hati.

Sedangkan Ashburn adalah nama belakang keluarga atau clan yang gue bawa dari bokap gue, The Ashburn, In English, the meaning of the name Ashburn is; Lives near the ash tree brook, sejarah lebih lanjutnya tentang keluarga gue, nggak bakal gue bahas sekarang. Palma Ashburn atau Hensey Ashburn, sering orang memanggil gue.

Yes, gue adalah seorang blasteran, bokap gue adalah american-britain dude (mamarika liberal kalau kata temen gue hahahaha) yang move along dari Nevada, amrik, bareng sama keluarganya ke Rotorua, New Zealand, sejak dia masih kecil. — Sedangkan nyokap, dia berasal dari suatu tempat istimewa di Indonesia, yang gila, man, keluarganya, penuh dengan tata krama dan kesopan santunan, etika, dan lain - lain. Pokoknya kagum gue dibuatnya (sekaligus repot juga sebenernya). Dan hal ini, jadi renungan buat gue di kemudian hari.

Kembali ke malam hari itu, malam dimana gue dan Dewinta akhirnya banyak berbincang bincang mengenai gimana rasanya jadi anak kuliahan di sini, di Indo. And i don't know somehow, dari beberapa percakapan kami itu, ada hal yang membuat Dewinta turn on, tanpa berlama lama, gue bisa menyadarinya. — Karena dia usil menawarkan gue untuk menunjukkan gue sesuatu yang sebenernya, gue sendiri pun penasaran tentang sesuatu itu. Kira - kira, percakapan gue dan do'i berlangsung seperti ini,

"Ya gue nggak tau, Dee, cewek Indo yang cantik itu yang kayak gimana, secara kan gue belum lama lagi diem di Indo. Ya menurut kriteria elo, yang kayak gimana?" lanjut gue kemudian, berpura pura jadi banyak ide untuk berbincang dengan dia.

"Ah itu sih nggak penting Pal. Eh, Palma, lo mau tau nggak, tentang sesuatu..." Dewinta menjawab sambil menggigit gigit bibirnya dan menarik - narik tangan gue.

"Apaan, Dee?" tanya gue penasaran,

"Sini deh......" ajaknya lagi kepada gue. — Akhirnya, gue bergerak perlahan – lahan mendekati dia, "Jangan yang aneh - aneh ya Dee." goda gue pada Dewinta agar dia menahan rasa 'pengen' nya. — Beberapa detik kemudian Dewinta menjawab, "Enggak kok... sini deh..." masih sambil menggigit - gigit bibirnya, Dewinta membuka sesuatu, dan menunjukkan keinginan nya, you know lah ya GUYS! dan ekspresi gue pun jadi seperti, "Oh.. My.. God..."

"Hmm.. Palma..." lirihnya kemudian, terdengar sangat seksi, kepada gue.

Spoiler for P.s:
profile-picture
ranggagreat memberi reputasi
Diubah oleh henseyashburn
Halaman 1 dari 3

Fast Lane 1 - Dimanja Dewinta




"Morning Palma..." ucap Dewinta, sambil mengelus elus rambut gue yang bertekstur ikal ini, dia tersenyum, eksotis, mencoba membangunkan gue dari waktu tidur gue yang berlebihan. Masih dalam kondisi setengah sadar, gue mencoba untuk membalas senyumnya.

"Jam berapa ini Dee?" tanya gue yang kesulitan dalam menatap dirinya. — Kemudian dia beranjak melompat dari kasur, hanya dibalut dengan kemeja putih dan underwear Victoria Secret nya, Dee meminum kopi hitamnya yang masih hangat dalam dekap lembut kedua tangannya itu. — Karena refleks melihat pemandangan yang begituan, kelopak mata gue seolah bertenaga dengan sendirinya. Lo jangan pura - pura nggak ngerti gitu bro...

Ah. Elo ini... sama aja kayak gue. Hahaha.

"Jam tujuh, Palma..." jawabnya genit, eh? dia menjawabnya sambil tertawa kecil gitu, jadi heran gue dibuatnya.

"Gimana kemarin tugas lo, udah kelar?" tanya gue kepada Dewinta, gue masih sambil tengkurap, tidur tiduran, mata gue yang sudah terbuka itu kini bukan memandang bukan ke arah Dewinta. Namun ke arah jendela kaca super bening dengan pemandangan pagi hari yang merekah di villa miliknya itu.

"Hahah, kan kemarin gue habis diterkam sama elo, Pal. Gue jadi lemes nggak berdaya nih, mana bisa gue lanjut nugas lagi." ucapnya sambil menggeleng gelengkan kepala, rambut panjangnya pun ikut – ikutan tergerai.

"Hahahaha, enak aja. Elo kali yang nyergap gue duluan." sanggah gue kepada Dewinta, sambil melirik ke arahnya yang sedang bersandar di dekat coffee machine miliknya itu.

"Hehehe." kekeh nya singkat, setelah itu, dia pun berjalan ke arah kasur, ke arah gue yang masih bertelanjang badan dan berselimut ria, Dewinta, dia, membawakan gue segelas kopi hangat.

"Palma, diminum ya kopi nya." ucap dia singkat, mempersilakan gue untuk meminum kopi yang sudah dia buatkan untuk gue.

"Hmm. Kopi hitam, biar gue tebak Dee, ini arabica?" ungkap gue kepada Dewinta dengan penuh antusias.

"Bukan.... Preanger, lah." sanggahnya mengoreksi jawaban gue. Ah dasar memang, kalau udah soal kopi, gue emang nggak lihai samasekali.

Pasalnya, gue memang bukan seorang pecinta kopi, dibanding kopi, gue lebih paham soal wine dan kerabat - kerabatnya. — Kalau kopi, sih, gue taunya, itu adalah minuman yang menyehatkan, yang membuat jantung menjadi lebih sehat. Udah, gitu doang. — Soal rasa, gue nggak deeply interested ke arah itu. Bahkan ketika gue sudah mencoba Luwak, Robusta atau Americano sekalipun... dan juga beberapa jenis kopi sebagai saran dari para pecinta kopi yang lainnya. Tetap aja, gue masih belum berselera.

"Yahhh salah ya." ucap gue miris sambil menyeruput kopi yang sudah diberikan oleh Dewinta kepada gue.

"Better luck next time, dude. Elo norak deh, gue nggak pernah nyuguhin arabica buat special guest gue, kaleee." — ucap Dewinta kepada gue, rasa rasanya ada sesuatu yang berbeda dari dirinya di pagi hari itu.

"Special guest? uhuk, uhuk." gue terbatuk, kaget, dan seperti bertanya juga akan pernyataan yang baru saja diucapkan oleh Dewinta kepada gue.

"Iya, elo tuh special guest gue, Palma...." kini, gue sudah duduk di kasur, setelah menyeruput kopi beberapa kali, gue mengambil kaus hitam gue yang semalam gue lempar ke atas meja lampu tidur, tepat di sebelah kasur gue ini. Maklum, bekas semalam. If you know what i mean, guys.

"Oh... gue kira, orang itu, yang cantik," ungkap gue sepintas kepada Dewinta.

"Hah, siapa?" tanya Dewinta lagi kepada gue.

"Itu tuh, tukang kopi yang cantik."

"Iya..., siapa Pal...?" tanya Dewinta untuk kedua kalinya.

"Dewinta, namanya." jawab gue menjelaskan dengan penuh iseng.

"Ih nyebelin deh... kamu tuh ya! Palmaaaa!! Cubit nih?" sambil mencubit lengan gue di pagi hari itu, gue tertawa, melihat rona wajah Dewinta berubah seketika. Menjadi, merah, muda, warnanya. Yep, she is blushing, man. — Nah, elo bro, kalau elo bisa menyentil titik vital cewek, yang tadinya elo-gue aja, bisa tiba - tiba berubah jadi aku-kamu. Kan bikin kaget jadinya, hahahaha.

"Eh kok, jadi ke kamu kamu an, elo-gue nya, kemana?" tanya gue lagi kemudian, mencoba untuk mempermainkan seorang Dewinta. — "Ah, bodo amat." jawab Dewinta.

Begitu katanya? hahahah, sialan.

"Pokoknya untuk menyambut kedatangan elo, special guest gue, gue mau manja manjain elo, Palma." jawabnya jujur menerangkan maksud dia kepada gue.

"Sure, why not," balas gue kepada Dewinta.

Heee, serius banget bacanya guys.

Bersambung dulu yaaaa.

profile-picture
ranggagreat memberi reputasi
Diubah oleh henseyashburn

Fast Lane 2 - About Dee



"Dee, gerah nih..." ucap gue setelah gue meminum kopi yang dibuatkan oleh Dewinta untuk gue di pagi itu. — Gila, pagi - pagi aja gue udah ngerasa 'gerah'.

"Yaudah, elo mandi duluan gih. Body gel... honey shampoo... facial scrub, facial mask. Dry skin moisturizer, lip balm, shaving cream, shaving razor, anti-perspirant spray sama electro shaver, buat alternatif sih... dan tetek bengek lainnya udah gue simpen di bathroom yaa." jawab Dewinta pada gue.

"Semuanya, udah gue siapin buat elo. Lo tinggal pake aja yaaa." jawabnya, sambil berlagak menghitung satu per satu grooming products itu dengan jarinya, Dewinta menjelaskan peralatan perawatan mandi yang dia belikan untuk gue itu.

"Okay... Kok, banyak banget?" tanya gue penasaran sekaligus keheranan.

"Well... Because, i don't intend to disappoint tante Elfa... By making her precious golden boy... Palma. Looks ugly. Okay...?" tante Elfa yang Dewinta maksud disini itu, adalah nyokap gue, Ibu gue.

Gue: *Langsung bengong* "Heee, Okay...?" ucap gue kayak orang tolol, karena gue terlanjur kagum sama penjelasan Dewinta.

"Ya syudah, tunggu apalagi?" tanyanya sambil mengangkat - angkat kedua tangannya kepada gue, "Get, up and shower yourself now, Palma."

"Slow aja kali, kenapa sih," karena merasa terusik, akhirnya gue melet - meletin Dewinta dengan lidah gue dan beranjak dari ranjang tidur ini untuk menuju kamar mandi villa milik Dewinta, yang terletak agak jauhan di ujung sana. Yap, gue harus jalan dulu bro.

*Smooch* Dewinta mencium pipi gue secara tiba - tiba saat gue beranjak bangun dan melewatinya, "Hehehe, gitu dong baby ku."

Baby ku, baby ku palelu goyang. — Setelah bercakap cakap. Seperti tadi, Dewinta di hadapan gue, sedangkan gue di hadapan dia, gue duduk di kasur, dia duduk di kasur. Baru saja gue terbangun sehabis nge-joss do'i, have sex sama dia, maksudnya, baru minum kopi sedikittt banget, gue udah disuruh mandi lagi sama dia, hiks hiks.

Sedih banget dehhh gue nggak bisa memelihara zat feromon dari tubuh gue sendiri. — Hahaha, emang dasar aja gue ini orangnya agak tolol. Oh why?

Karena zat feromon cowok yang bagus buat cewek itu kalau pas cowok baru aja selesai berolahraga, pas lagi puncak puncak nya berkeringat, zat feromon baru diproduksi, fresh, bukan zat feromon sisa semalam, bego. Yang ada, malah kabur entar itu cewek-cewek.

Anyway. Satu hal, yang gue suka dari Dewinta, dia itu orangnya peduli kasih, kayak yang ada di acara tv-tv itu loh bro, peduli kasih kannn? Hehe. — Dewinta, do'i orangnya peduli, penyayang sejati, seneng banget dia itu kayaknya kalau gue lagi main atau ditaro di tempat dia, atau minimal lagi dekat dia aja. Gue pasti di macem - macemin sama dia.

Gue pasti diurusin, segala macamnya diurusin pokoknya. — Mungkin nanti kalau dia udah kelewat batas, paling gue didandanin. Hehe. Soalnya eyke syantik, cyin. HUAHAHA. Jangan kabur, bro, HEY!! (teriakan Maho ganas) Gue bukan Maho kok. Hahahaha!

Gue yakin situ udah pada kabur sekarang. Kabur kan, kan? HAHAHA.

* * * * *

Walaupun demikian, hal seperti ini enggak gue manfaatkan dari dia, enggak gue eksploitasi, gitu lah, kalau bahasa keren nya. Hal kedua yang gue suka dari Dewinta adalah. She, is, hot, as, fuck. Titik.

Dee tumbuh besar secara mengacengkan, eh, secara mencengangkan, maksud gue. — Sobat gue dari sejak masih di SD, Dewinta Putri Prahadi, ini bukan nama yang sebenernya, just in case people wonder too much. Dee, dia bertransformasi dari, ibaratnya, seekor Kalkun blangsak, menjadi seekor Cenderawasih yang elok nan rupawan. Yummy...

Suatu spesies cewek yang langka, ditemukan di kemudian hari, oleh gue, seorang arkeolog kolektor cewek - cewek yang sudah memasuki tahap endangered. (Langka, hampir punah, perlu dilestarikan sesegera mungkin)

Gue sebenernya agak tolol ya kalau udah soal bikin ilustrasi wajah atau bentuk tubuh eksotis seorang cewek. Kalau dulu iya mungkin, gue terpaksa harus mendeskripsikan nya lewat kalimat yang panjanggg dan lebar, kalau bisa sampe bagian pori pori di wajahnya juga gue jelasin sama elo bro.

* * * * *

Hubungan gue dengan Dewinta sebenernya lebih ke arah no strings attached gitu guys (bohong). Buat yang penasaran, bisa googling dulu sebentar. Overall, hubungan gue ya memang seperti itu. Apa sih, kalau istilah orang Indo nya. Kakak dan adik, nah... Kayaknya pas tuh bro... (bohong lagi)

Hubungan gue sama dia murni didasari oleh life desire, benefits, dan tidak ada commitment, atau jealousy (semacam kecemburuan) di dalamnya (point ini bohong sekali, Dewinta sering cemburu!) Ada yang bertanya, hubungan seperti ini, long lasting atau bertahan lama apa nggak?

Well, it depends. Gue nggak bisa jawab kalau begitu. Karena kalau kayak gue, kasusnya, yang sudah menganggap dirinya lebih dari sekedar temen, tapi lebih ke temen asmara, ya bisa dibilang, buat gue, hubungan ini bertahan cukup lama.

Serius banget guys... Jadi ya kalau gue punya pacar, dia punya pacar, itu beda cerita lah ya. Tapi, ini yang bakalan gue ungkap. Kalau sebenernya kita berdua aja jarang punya pacar (bohong lagi...) Gimana kita mau jauh – jauhan coba?

Apa?!

Lo mau nyaranin biar gue pacaran sama Dewinta? Huahaha, bisa jiper kerajaan diatas sana entar (kerajaan Tuhan di surga). Nggak ah, lagian, gue juga enggak bisa janji, heeehehehehe.

* * * * *

"Palmaaa, fitur air anget kuku nya ada di tombol nomor empat yaaa." Dewinta, berteriak, jauhhh dari luar bilik shower gue.

"Iyaaa, bawel banget lo ah," jawab gue kepada Dewinta. — Sekarang, gue lagi mandi nih, jadi.... Suasana mulai menjadi hening... nah... pas gue mandi... sesuatu yang mengerikan, terjadi... bercanda, serius banget sih lo!?

profile-picture
ranggagreat memberi reputasi
Diubah oleh henseyashburn

Fast Lane 3 - Major Erection




Goosfraba... Goosfraba...

Gue punya satu kebiasaan aneh yang sering gue bawa - bawa kalau gue lagi berada di dalam kamar mandi. Yaitu ngomong goosfraba, goosfraba. Ini semacam kalimat yang ditujukan untuk menenangkan pikiran seseorang... Dengan mengucapkannya secara berkali kali. Goosfraba... goosfraba... pikiran seseorang akan menjadi lebih rileks dan tenang.

Awalnya, gue dapat ide kecil itu dari sebuah film tentang city cop comedy gitu... kalau nggak salah ya, karena gue menonton nya waktu masih kecil, jadilah, gue ikut ikuti hal tersebut, yaitu mengucapkannya. Which is, terasa menenangkan... Tapi cuma setiap mandi aja, gue menikmati mengucapkan goosfraba... berulang ulang kali.

"Hihi...."

Lagi asyik mandi air hangat kuku di pagi hari itu, tiba - tiba gue dibikin jiper sama suara aneh yang terdengar seperti suara kuntilanak itu. — Meskipun gue seorang non-believer atau orang yang suka nggak percaya terhadap hal yang khayal dan takhayul seperti ini, tapi yang namanya legenda rakyat ya pasti lengket melekat di pikiran anak - anak yang pernah tinggal di Indonesia bro.

Ya apalagi kalau bukan kuntilanak merah yang konon katanya cuma ada di Bali. Correct me if I'm wrong. — Kuntilanak merah memiliki magical force, atau kekuatan magis atau sihir yang lebih dahsyat bila dibandingkan dengan kuntilanak biasanya. Kuntil anak white atau kuntilanak putih. — Hih! nggak mau gue diculik dan dibawa ke dimensi yang berbeda sama kuntilanak² itu. Apalagi pada saat mandi kayak begini.

"Hih, hihihih...." suara itu terdengar lagi, lae. Anjiang!

Lo tahu kan betapa angker nya, betapa merasa kecilnya gue saat berada di momen seperti ini. Lo tahu kan gimana suasana mistis nya Bali? high, bro! (Kenceng, bro!)

Gue kadang mau nonjok rasanya kalau udah ada di tempat dan posisi seperti ini, lagi asyik mandi dong... digangguin. Bukannya gue mau sompral, tapi ya, seenggaknya jangan ganggu gue pas gue lagi mandi lah... — Nggak, nggak bakal kabur kok gue, cuma ya mengganggu kenikmatan momen mandi seseorang, itu aja udah salah... Hahaha. (nih hantu, gue curhat buat elo!)

Sedikit ilustrasi, kamar mandi di villa milik Dewinta ini terletak jauh dari kamar dan ruang utama yang lainnya. — Untuk masuk ke bilik shower nya aja, gue harus melewati ruangan panjang, agak gelap remang remang gitu dengan hiasan bunga dan lilin lilin kecil menempel di dindingnya.

Temboknya terbuat dari keramik yang berwarna hitam ke abu abuan gitu bro, gue nggak hafal persis apa namanya. Dan yang jelas, sebelum masuk sampe ke bilik shower nya, gue harus melewati wastafel dengan kaca - kaca yang menampakkan suatu visual yang asalnya dari diri gue sendiri. (lagi ngaca dong? iya. Oh, what the hell)

Kalau di tempat seperti ini, berkaca bukannya terasa nikmat, tapi malah parno yang ada, karena mungkin ada mahluk lain yang ikutan ngaca di belakang elo. Hiiiii.... seremm....

Anjrit! sialan banget emang. Gue yang cerita kok malah gue yang jadi ikutan takut.

"Heummm..."

Wah, suara itu muncul lagi... Okay! gue mau sudahi saja ritual membersihkan badan ini! — Karena kesel, gue memberanikan diri untuk berbicara, "Woi hantu! jangan ganggu lah... Bentar lagi mandi nya selesai nih ah! Kimak kali kau ini hantu!" hardik gue kasar kepada si hantu, dan masih mencoba berkonsentrasi untuk membilas busa shampoo di pucuk rambut gue.

*Sreek*

*Drap!*

*Now Playing — D'Angelo — How Does it feel*



"Kamu yaaa ganteng - ganteng ngomong nya kasarrr~" ucap seseorang kemudian. — Tiba tiba ada suara nge bass, samar - samar gitu hadir mendesis di samping telinga gue yang lagi asyik ber shampoo ini, dan kaget lah gue, maka gue langsung bertindak karena tahu ada seseorang masuk ke bilik shower gue ini. Karena kan tadi, pintunya tergeser.

Gue: "Eeeh?" *kaget* *paniksendiri* *ngucek ucek mata* *memutarkepala* *lihat-kanan-lihat-kiri*

"Eh? Dee........" ucap gue pelan. Nggak tahu kenapa, refleks gue disitu bukannya yang aneh - aneh, setelah melihat wajah Dewinta, gue malah melanjutkan untuk mandi lagi, menyingkirkan shampoo foam dari rambut gue dibawah kucuran air shower ini.

Mungkin gara gara kesel tadi kali ya, gue mengira dia itu hantu, eh taunya si Dewinta yang lagi puas puasnya ngisengin gue.

"Hm hm... aku ikutan mandi ya... hehe." ucap Dewinta setelah itu.

Deg.

Dewinta, sambil mendekat, melekat di bagian belakang badan gue.

Dewinta, dengan dua buah properti kenyal nya yang di hadir di dekat gue. Nipple nya yang terasa padat... Menjadi ambang terakhir yang menimbulkan hasrat tanpa batas... Bak nirwana, nipple nya menyentuh setiap jengkal syaraf elo... bro. Eits, syaraf gue dong.... hahahahaha, masa syaraf elo!

Meledakkan fantasi terliar yang menggoyahkan Iman. (Emang nya gue beriman, bro?) — Dewinta, dengan suara mendesah nya yang khas... memeluk gue dari belakang, memainkan jari jemari nya yang lentik, membelai 'sesuatu' yang menjadi milik gue.

Perlahan... Menikmati setiap momen nya...,

"Hih... Cowok... Mandi nya air anget kuku... Geli deh..." ucap Dewinta sambil ikut berbasah basahan, rapet - rapet dibelakang gue. Rapet - rapet sini bro.

Ah elo, ada aja maunya.

"I don't care..." (Arti lainnya: Masa bodoh...) jawab gue agak judes dan singkat kepada Dewinta.

"Ih Palma, judes sekaleee~" sambung Dewinta kepada gue, dia kini dia sibuk membasahi tubuhnya di belakang punggung gue. "Ih... 'punya' dia berdiri dong... " ucapnya lagi setelah itu.

Gue: *Mengintip* *Hmmm*

Dannn bersambungggg.

Ha ha ha ha ha.

Diubah oleh henseyashburn

Welcome to the Fast Lane!



"Once a con man, stays a con man."

— Anonymous

Welcome to the fastlane, guys. Betul sekali, selamat datang di jalur cepat. Jalur cepat doyan. Doyan apa guys? Ya doyan cewek dong. Masa doyan maho (baca: manusia homo) hahahaha.

Istilah con man diatas itu sebetulnya disadur dari tukang tipu tipu, bagi yang sudah tahu duluan, itu bukanlah tukang tipu - tipu, sebenernya... Melainkan confidence man, jadi simpel nya bisa dikatakan sebagai, pria yang penuh dengan kepercayaan diri. Sekali lagi, itulah con man, confidence man. Yeahhh!

Eits, stay cool *pasang Rayban*

Honestly, nggak banyak yang bisa gue terangkan di pagi secerah ini. Ya karena memang gue tipikal nya direct to the target gitu deh... crot, ah...

Eh, apaan nih? crot kok sembuarangan.

Hahahahahaha. Jadi gitu ya, guys. Gue stick to the point kok orangnya. (Bohong banget ini)

Sebagai seorang con man yang handal. Gue ingat, tapi dulu, dulu banget, pernah ada seseorang yang bilang ke gue kalau gue itu terlalu egois untuk jadi seseorang yang tidak egois. (Pencitraan dikit nggak apa apa ya guys)

Nah loh, bingung kan? Iyaaa, jadi maksudnya, gue nggak egois - egois amat, orangnya. Gue lebih memilih jadi people pleaser, menyenangkan orang, apalagi kalau udah soal nyenengin cewek. — Wih, ranking satu itu guys. Orang yang berani ngomong gitu ke gue adalah Dewinta.

Maka, dia lah yang sudah ngomong demikian sama gue, yang membuat gue mikir akan sesuatu. Sesuatu itu mencerminkan bahwa gue ini emang enggak egois. Anyway, pencitraan nya hebat banget ya.

Jadi, demi demokrasi kita bersama. Plus, kemarin juga setelah gue konsultasi sama sobat dekat gue. Do'i bilang, you should make this kind of concept, the fastlane. Jalur cepat doyan cewek, itu, yang dia maksud disitu. — Nah, sekali lagi, dari gue, sebagai seorang con man. Gue ucapkan lagi, selamat datang di the fast lane of Doyan Cewek, I Am A Boy.

Disini elo akan menemukan kisah kisah yang bertempo cepat, (gakjuga sih sebenernya, gue nya aja yang lebay), memacu adrenalin, mengundang si Dono, Indro, dan Kasino. What the fuck?

Well, I presume that the fastlane is naturally wild, and tempting as fuck. And yes, the fastlane of doyan cewek bakal mengisahkan tentang kisah gue yang susah diatur, dengan gejolak masmud (mas - mas muda) yang membuncah dahsyat bagai kaldera orgasme para cewek yang sudah gue puaskan libido nya.

Ehem, ehem. Sebentar guys, tenggorokan gue gatel.

Dengan latar belakang serta timeline kisah yang berbeda dengan tetangganya, kisah sub topic, the slow lane of doyan cewek, alias jalur lambat doyan cewek. Jalur fastlane atau Jalur cepat doyan mengisahkan Palma (gue) yang sudah besar. Besar apanya, ya? HAHAHA.

Menetap di Indonesia (bohong, gue nomaden), dan sedang menikmati momen berpetualang di masa - masa mudanya yang berisi penuh akan teka teki pornografi, eh, salah, teka teki kehidupan, guys.

Sebagai penulis yang masih amatiran ini, gue rekomendasikan bagi kalian semua yang doyan sama konten dewasa, seperti IGO (Indonesia Girls Only), atau BB18 (Big Boobs Eighteen). Kisah kisah tentang dunia hitam, gelap, gemerlap. Langsung saja lah terjun ke the fastlane ini.

Okay, that's it. Itu saja, tanpa banyak cingcong lagi. Langsung saja kita sambut, JALUR CEPAT atau THE FAST LANE of DOYAN CEWEK, I AM A BOY!!! Suka tidak suka nya, ya dinikmati saja, hehe.

Selamat melaju!

Achtung / Perhatian!



Haloo teman - teman pembaca. Salam kenal sebelumnya, sekarang gue mau coba buat akun dan ikut menulis cerita di situs yang keren ini. — Mohon maaf sekali kalau hasil tulisan gue masih amatiran, kurang atau lebihnya mohon dimaklum. Mohon izin juga sebelumnya.

Listen. Cerita ini... bakal gue mulai dari sebuah masa... Masa di mana gue setidaknya bisa melihat kehidupan gue jauh lebih berwarna dari masa - masa kehidupan gue yang lainnya. Cerita ini... bakal gue buat sebagai pengingat akan kehidupan gue. — Berjalan dengan tidak angkuh di muka bumi ini, dan selalu mengingat nasihat dari orang tua. Belajar dari keselahan, belajar dari kehidupan.

* * * * *

Kisah gue ini secara garis besarnya adalah life journal atau life story milik gue, agak agak sedikit bergenre comedy-romance dan metropop mungkin secara ngaco nya... hahahahaha. Dan, akan ada banyak hal berbau vulgar didalamnya. Seperti judulnya diatas, Doyan Cewek, I Am A Boy. Hehehe.

Oleh karena itu, gue mohon maaf akan banyaknya hal - hal tersebut. Gue berharap banyak akan rasa maklum dan kebijakan dari temen - temen pembaca, terutama bagi kalian yang doyan banget silent reading, mohon berikan setidaknya sebuah apresiasi kecil, kecillll aja, nggak muluk – muluk lah..
Diubah oleh henseyashburn

Fast Lane 4 - Sebuah memori dalam sensualitas



Bagian ini agak gue panjangin ya... Sedikit saran sebelum elo semua bakal baca ini. Coba masuklah ke dalam kamar, dan buatlah diri elo senikmat, senyaman mungkin, lalu setelah semua serba senyap.... putar lah musik dari Michael E – suzie's smiling itu, kalau nggak ada, cari aja di Youtube.

"Ih... Dia berdiri dong..." ekspresi Dewinta bener - bener jail di saat dia ngucapinnya.

Next, dia tutup mulutnya dengan kedua tangannya yang udah basah itu... sambil perlahan lahan, dia kembali ngebuka mulutnya lagi, seolah itu adalah sesuatu yang 'wow' bagi dia, matanya yang biasanya menyiratkan eksotika itu kini berbinar binar, ya, kayak orang yang kaget dan kagum ketika melihat 'sesuatu'.

Kami berhadap - hadapan, lebih tepatnya lagi, gue yang memutar balik badan gue ke hadapan dia. Masih asyik berdiam diri dibawah shower. Gue hanya menyeringai menikmati momen kami berdua yang begitu priceless itu. — Ini yang gue selalu pikirkan saat momen seperti ini terjadi. — Which i don't know somehow, bilik shower yang bernuansa nature ini, menjadi salah satu memori erotika yang enggak pernah bisa hilang dari dalam kepala gue.

Jauh gue raba - raba, gue rasa, memori ini sudah hilang, eh taunya, masih menancap bro. Kuat lagi nancep nya, kayak palang, "Awas, anjing galak." yang di tancapkan sebelum elo masuk ke rumah seseorang yang elo rasa cukup mencurigakan. — Bilik shower berukuran tiga kali tiga meter itu bener bener masih ada ada di otak gue sampe hari ini. Thus, why, i write this memoir. Inilah kenapa alasannya bilik shower itu nggak pernah hilang dari kepala gue.

Sebenernya, di dalam bilik shower itu semuanya serba gelap sihhh, dari mulai permukaan lantai atau keramik, sampe tembok temboknya juga, semuanya murni berbahan dari alam, seperti keramik dan bebatuan yang berwarna abu abu, yang akan menjadi lebih gelap warnanya apabila tersiram air, bro. Yang bener bro?

Ya bener lah bro...

Hahahahah bangke. Lelucon murahan. — Satu hal yang gue sadari di dalam diri gue adalah, sejak kecil, gue adalah penikmat detil. Yep, gue merupakan seseorang yang seperti itu. — Gue ingat, pernah ada suatu kelompok psikologi yang mengklaim bahwa ada beberapa individu dengan kemampuan khusus yang dinamakan dengan Hyperthymesia. Apaan tuh? Well, itu adalah adalah sindrom yang mempengaruhi memori autobiography di kepala seseorang.

Kemampuan dalam diri seseorang yang menderitanya tidak dibatasi untuk mengingat peristiwa secara spesifik dari pengalaman hidupnya. Penderita memiliki kemampuan yang luar biasa untuk mengingat ingatan spesifik yang ada di masa lalunya.

Gilaaa, jiper banget bro pas gue pertama kali tahu soal hal itu, khayal banget gue, berasa menderita hyperthymesia juga jadinya.

Oke lah, mungkin gue nggak hyperthymesia banget gitu yaaa, tapi seenggaknya, untuk rak erotika di otak gue, sudah pasti, rak itu bakal selalu lebih bersinar dibanding rak – rak memori yang lainnya. HAHAHAHA.

* * * * *

Bilik shower itu terlihat agak gelap, hanya sedikit cahaya yang masuk ke dalamnya. Dengan cahaya yang berasal dari ventilasi kaca, yang samar - samar namun tetap transparan itu, menerangi bilik tersebut. Diletakkan persis di bagian atas pada bilik shower nya, dimana waktu itu, gue sedang berdiri di tepat di sebelahnya.

Dan bahkan, shower brand nya pun, gue ingat sekali, it's Perrin & Rowe. Jujur, sebagai seorang penikmat detail, gue sangat pay attention sekali terhadap hal - hal yang gue suka seperti ini. — Gue sering dengar, lihat, dan bahkan cermati, plumbing brands seperti American Standards, TOTO, sebagai produk plumbing pada keperluan home & design gue, dibandingkan dengan Perrin & Rowe, Kohler, dan lain lain.

Itu jauh sekali kualitasnya bro. Karena Perrin & Rowe sudah masuk ke taraf luxury bathroom brands. Dan yang menggunakannya pun, mendapatkan kepuasan yang berbeza. — Apanya yang beda, yaelah bro, toh fungsinya cuma ngucurin air doang, ya kann? gue juga punya kali shower metalik metalik kaya begitu tuhhh. Beli aja di pasar senen, cepek dapat banyak.

Hehe, iya bro. Ampun deh, kali ini elo yang menang. — Tapi, kasih gue sedikit kesempatan buat nge bullshit yaa. Perbedaan diantara shower shower demikian adalah, built in material nya, durabilitas, daya tahan dan umur si shower itu sendiri bro.

Jadi, ini ceritanya kisah gue berubah judul, ya? Dari doyan cewek, jadi doyan shower, ya? Yaa enggak lah bro, Hehehehehe, tapi ya udah sih....

* * * * *

Kembali lagi ke bilik mandi gue. Saat itu, kami sudah berhadap- hadapan, gue dan Dewinta. Untuk kondisi badan... ya elo - elo bisa membayangkan sendiri lah ya... kalau orang masuk kamar mandi, kondisi berpakean nya kayak gimana. Hihihihihi.

Dengan hanya secercah cahaya, gue memperhatikan Dewinta, wajahnya doang, eh sorry, keseluruhan dirinya. Di mulustrasi pada chapter sebelumnya, kan gue sudah kasih fotonya (mulustrasi) wajah kakak Dewinta. Ya lo bayangin aja foto cewek itu enggak ada penghalang nya. Di enakin aja, brooo. *pasang muka cabul*

Sekali lagi, terserah elo semua mau pada fapping sekarang apa enggak. Soalnya ini klimaks nya. *gue-menggoda-bro-bro-sekalian* Kemudian setelah momen berpandang pandangan itu. Dalam diam, kami berdua. Dewinta..., mendekati gue perlahan lahan, dengan segenap kasih dan ke anggunan nya... dia berlutut dibawah gue.

Dia...

Memanjakan gue. Di antara gemericik tetes air yang berjatuhan. Dan kabut asap tipis yang menemani pagi kami berdua, setulus jiwa (cie bahasanya, byeeee!). Dari suhu air hangat kuku itu, sebuah surga tercipta di dalamnya.

Bagai nirwana, di saat - saat seperti itu, gue melihat pecahan - pecahan visual saat gue masih kecil dulu. Hadir menyapa, di kepala gue. Saat gue pertama kali menjumpai Dewinta, saat berkenalan dengannya, saat pertama kali gue memanggilnya dengan sebutan Dee.

Saat pertama kali gue kedapatan boner (ngaceng) sama dia, waduh, malunya minta ampun, kalau enggak salah, itu terjadi saat gue berada di kelas enam SD. — Dan, saat kita harus berpisah untuk pertama kalinya, dan tumbuh besar terhalangi oleh jarak, waktu, dan apa ya... dan rindu, akan ingin bersama sama.

Saat gue sudah lama enggak bertemu dia, kita saling menahan rindu, bahkan, sering gue dapati diri gue berada dalam keadaan seperti itu. Terbalut gengsi, dan disibukkan oleh pekerjaan kita masing - masing, di dunia masing – masing pula.

Kalau ada yang nanya, ujian macam apa yang udah gue hadapi bersama seorang Dewinta, banyak... bro, banyak. Ujian mental, ujian fisik, ujian ujian lainnya yang kadang kita buat sendiri, beralasan sendiri, padahal sebenernya nggak menjadikan hal itu suatu permasalahan yang rumit – rumit banget gitu loh....

* * * * *

Adalah suatu anugerah, gue bisa doyan sama cewek. Adalah suatu anugerah, gue bisa kenal sama Dewinta. Adalah suatu pemberian yang sangat berarti, karena gue kenal dia udah lama, dari sejak SD. Jangan salah, keadaan seperti ini banyak menguntungkan gue, bro.

Karena gue sering mendapati, kalau umur dalam suatu hubungan itu, ibarat akar yang kokoh, begitu penting, ia mampu menopang pohon yang tinggi dan besar diatas nya, dari hembusan angin dahsyat sekalipun. — Meskipun tidak menutup kemungkinan banyak sahabat gue yang skeptis, mengatakan kalau gue sama Dee itu cuma sebatas itu aja. Cuma ya realitanya begini saja, yang gue jalani, kita berdua ini beyond something, beyond a friend.

Karena nanti ada chapter di dalam kisah gue ini, gue akan menceritakan dimana dia sama gue pertama kali ngelakuin kegiatan 'begituan' ehe, ehe, eheh. — Kisah gue yang doyan cewek, agak berbeda dengan kisah seorang raja playboy fantastis yang fakta nya, lebih sering mendapat jumlah rating dan popularitas di dalamnya. Kisah gue yang doyan cewek, juga ada cemburu - cemburu nya, terutama cemburu nya seseorang yang amat sangat mencintai gue, cemburu nya seorang Dewinta, cemburu nya cewek - cewek yang menghiasi hidup gue.

Disini, ada suka, duka, lupa, serta serial komedi nya. Dengan dosa - dosa dan angkara murka dari Tuhan yang maha kuasa, gue dipersilakan untuk menikmati nya.

Perihal jika esok masih ada. Biarlah gue yang berbahagia dengan setiap kejutan nya. Karena hidup, akan terasa lebih indah, apabila ada cewek - cewek yang menemani gue di dalam nya.... he-he-he. *nyengir a la kuda*.

Before you read my story.



Anyway, sebelum temen - temen pembaca memutuskan untuk mulai membaca kisah gue. Gue mau menyampaikan beberapa hal dulu sebelumnya. Jadi, kisah gue ini terbagi menjadi dua tipe. Tipe yang pertama adalah:

Jalur Cepat Doyan, atau disebut juga dengan nama: The Fast Lane.

Dan tipe yang kedua adalah.

Jalur Lambat Doyan, atau disebut juga dengan nama: The Slow Lane.

"Loh kok? pake tipe-tipe-an segala, emangnya smartphone?"

Relax ;-) gue menyertakan penjelasan di setiap tipe nya. Jadi, dalam satu kisah ini, ada dua timeline berbeda yang melatar belakangi kisah gue. Yang pasti, temen - temen pembaca hanya perlu menikmati setiap kisahnya sambil tetap membaca.

Dibaca aja semuanya, karena ceritanya saling terkoneksi toh... jadi kalau ada yang dilewat, gue jamin, kalian nggak bakalan ngerti. Gitu.... Anyway, have fun ya, enjoy baca - baca ceritanya, baik buruknya ya guyssss.

* * * * *

Cerita ini gue dedikasikan untuk orang orang tersayang didalam hidup gue, terutama bagi kalian yang sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Gue merasa, karena gue sulit lupa akan memori saat - saat bersama kalian, maka terciptalah kisah ini, udah...., gue ajaa yang mengisahkannya...

Cerita ini juga gue dedikasikan buat seseorang paling special dalam hidup gue, yang gue nggak bisa sebut namanya. Lagi lagi, may you walk in peace. In blues. May the lord protect your soul.

To life. Mazel tov!
Diubah oleh henseyashburn

Fast Lane XXX - Dewinta

Dewinta, dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya, kagum karena melihat sesuatu, dia, berada tepat di hadapan gue. Wajahnya yang cantik itu nampak samar - samar, dan hanya tertutupi oleh asap yang menguap tipis di udara, membatasi jarak di antara gue dengan dirinya... tiba - tiba, dia berbicara...,

"Palma...." desahnya ringan.

"Hmm?" gumam gue singkat dengan maksud untuk bertanya.

Spoiler for :
Diubah oleh henseyashburn

Fast Lane 5 - Hanya senyummu, tawamu.



Kembali lagi ke fast lane...

For your information, gue adalah tipikal cowok yang jarang ngobrol, apalagi mengeluarkan suara suara aneh kayak "AHH, OHHH, UHH", yang mungkin, banyak jantan lainnya mengira itu hal keren... saat mereka sedang making love. Padahal, belum tentu itu, bro...

Tapi tergantung selera target juga... kita perlu adaptasi terlebih dahulu. Kalau target minta kita keluarin sedikit, ya enggak apa apa... hahahaha.

Sesaat kemudian, "Palma..." Dewinta menyapa gue.

"Ya, Dee?" tanya gue ringan kepada Dewinta.

"Aku kangennn..." ungkapnya dalam dalam, seolah memang betul itu adalah apa yang sedang dirasakan nya belakangan ini.

"Terus?" tanya gue singkat, sama dia.

"Udah, itu aja, hihi," sambungnya lucu kepada gue, setelah kami berdua selesai making love di dalam shower room yang tidak terlalu besar ini.

Gue tidak menjawab while in, you know, in a state of feeling satisfied. Pernyataan pernyataan dari Dewinta itu hanya gue balas dengan senyuman singkat aja, sambil menyandarkan pipi gue di bagian belakang lehernya. Gue masih lanjut ber 'kinerja' di pagi yang indah itu...

"Udahan dulu ya.... sebentar, aku mau ambil 'itu' dulu deh." ucap dewinta. Itu, itu apaan yaa? — Hahaha, mampus lo, kena tanda petik palsu. Itu, yang gue sebut, disitu, sebenernya, hanyalah handuk yang mau Dewinta ambil.

Dan... Setelah dia mengambil handuk nya, Dewinta si pageant queen itu berjalan keluar dari bilik shower nya. Meninggalkan gue yang masih HOHOHAHAHAHA. (what the fuck is this) — Gue intip, bener ternyata, renung gue dalam hati, itu anak lekuk badannya emang jam pasir banget. Jalannya melenggak - melenggok macam model di runway Paris's fashion week, week, week.

Nah loh, buat elo yang benerbener penasaran, langsung aja googling, buat cari tahu apa itu 'cewek jam pasir'. Entar juga pasti 'ngeh' sama apa maksud dari gue kok... HAHAHAHAHA. *ketawa setan*

Setelah itu pun, gue menyelesaikan kegiatan mandi gue, memakai handuk, setelah bersih dan terjamah semuanya. Noda - noda di badan gue maksud gue... gue lanjut keluar dari shower room ini dan melanjutkan kegiatan bersih bersih yang lainnya, seperti mencuci wajah, menyikat gigi, memotong, merapihkan facial hair dan lain lain.

Sambil menatapi kaca, gue melihat banyak sekali peralatan grooming khusus untuk anak cowok yang Dewinta belikan buat gue. Semua peralatan itu tertata rapih di samping wastafel, tepat di tempat dimana gue sedang berkaca sekarang ini. Tiba tiba gue mendengar seorang memanggil nama gue lagi,

"Henseeey. Palmaaaa. Ashburnnn. Eh, asbunnnnn hahahahaha," teriak seorang Dewinta dari kejauhan.

"Apaaaa." sahut gue lagi, balas berteriak kepada Dewinta, namun masih sambil berkaca, memperhatikan wajah dan rambut gue. Tiba tiba Dewinta dan wajahnya itu muncul dari balik ujung pintu, dengan jubah sehabis mandi nya yang berwarna putih itu, dia menghidupkan lampu ruangan dimana tiga buah wastafel yang berjajar ini, kini nampak terang benderang, dan semuanya menjadi jelas. "Light on." ucap Dewinta via voice recognition miliknya.

Jadi, lampu itu cuma bisa menyala hanya melalui perintah suara kakak Dewinta aja, bro.

Sambil bersandar di tulang pintu dan menatap ke arah gue, dia tersenyum singkat, lalu menekan tombol pada sebuah kotak, yang nampaknya terlihat sangat asing.... bagi gue.

Kemudian melenggang pergi lagi entah kemana. Turns out it was a wireless speaker, yang di hidupkan oleh Dewinta, and heck, that was a martinlogan crescendo x.

Setelah gue research di internet, tidak sedikit menggocek kantong untuk membeli barang itu brooo. ajegile muahal nyaaa.

"Palma, nih dengerin ya," kata Dewinta seolah memberikan aba aba kepada gue.

*Now Playing – Bruno Mars – Treasure*

Baby squirrel, you's a sexy motherfucker

Give me your, give me your, give me your attention, baby

I gotta tell you a little something about yourself

You're wonderful, flawless, ooh, you're a sexy lady

But you walk around here like you wanna be someone else

(Oh whoa-oh-oh)

I know that you don't know it, but you're fine, so fine (fine, so fine)

(Oh whoa-oh-oh)

Oh girl, I'm gonna show you when you're mine, oh mine (mine, oh mine)

Treasure, that is what you are

Honey you're my golden star

You know you can make my wish come true

If you let me treasure you

If you let me treasure you

Pretty girl, pretty girl, pretty girl you should be smiling

A girl like you should never look so blue

You're everything I see in my dreams

I wouldn't say that to you if it wasn't true

Gue menggeleng gelengkan kepala gue. — Musik menghentak, mengaliri seisi ruangan. Ya, bukan Dewinta namanya kalau nggak canggih dan futuristik, ini sebenernya udah terjadi dari zaman gue masih di SD dulu bro.

Ini anak kadang nyebelin banget, karena cuma dia aja, yang canggih sendirian, gue banyak ketinggalan zaman nya. Kecuali kalau soal dunia aeoronautikal ya. Kayak pesawat dan lain lainnya gitu, udah pasti, gue selalu up to date. Setidaknya memang ke sanalah gue bermuara.

Di sela - sela musik yang sukses mengalun dengan ceria, Dewinta nongol lagi dari balik pintu itu... kali ini jubah mandi nya agak dibuka buka, tapi masih tetap tergantung di situ lah ya. Gue nggak paham kalau dia punya kebiasaan begini. Memamer mamerkan body nya. — Jadi ya, dari mulai dari atas si kembar itu hingga taman indahnya, semuanya nampak bersinarrr~

Tekstur nya pas, elastis, dan dinamis... Tanpa selulit – selulit prity asmoray. (Ngaco mo-de: ON) Kalau gue bisa kasih nilai, gue mau kasih nilai. Seratus nilainya. Dengan sendal lucuknya yang berbentuk kepala kelinci, rabies, itu.

Jijik gue liatnya, girly girly stuff yang kayak begituan bro. Gue terheran heran memperhatikan si dia memasuki grooming room ini. Seperti sebagaimana cewek, genit, gayanya, dia jadi sok asyik, sambil joget joget di sebelah gue.

Dan sejak tadi, jujur bro, gue cuma bisa bengong nggak karuan memperhatikan godaan libido yang tidak henti hentinya ini, bertubi tubi menyerang diri gue dan otong gue yang malang dan udah agak mulai lemas ini. Bayangkan, sejak semalam yang lalu, broo. Sejak semalam yang lalu gue udah bertarung sama dia, udah berapa ronde tuh, heh heh heh. (rasain lo Palma, mampus lo, adik lo dibikin bangun tidur bangun tidur lagi)

Tiba tiba, Dewinta melirik ke arah gue dan dia ngomong, "Kamu tuh ya... sini dehhh... Aku ajarin cara pake nya..." dia, sembari mengambil beberapa produk perawatan cowok dan mengoles oleskannya ke wajah gue.

"Hahah. Palma emoticon-Big Grin" eh? dia malah tertawa geli di saat sedang mengoleskan moisturizer ini pada bagian rahang gue yang banyak facial hair nya ini.

Karena gue biasa pakai electronic shaver dari Phillips, bro. Ya inilah hasil facial hair gue dapatkan bro, yang nggak kecukur habis tapi ada berasa menonjol gitu.

Facial hair yang sakti mandraguna, facial hair yang mampu menyihir mahluk surgawi bernama cewek. — Asal dirawat, dan enggak dibiarin jambang lo itu tumbuh bebas nggak karuan kayak tokoh - tokoh antagonis di sinetron tanah air gitu, gue yakin, ciwi ciwi pasti pada nempel sama elo.

"Nih... parfum nya, kamu mau pakai yang mana, Palma," tanya Dewinta kepada gue, tentunya setelah dia selesai mengaplikasikan cream tertentu gitu tepat ke wajah gue. Dewinta menunjuk ke arah parfum - parfum nya yang udah dia belikan untuk gue. — "Gue mau yang...." ucap gue sambil memilah milah mana parfum mana yang akan gue pakai kali ini.

Di jajaran parfum cowok yang baru dibeli dan dipajangnya itu, gue melihat ada beberapa parfum yang kayaknya gue kenal, dan gue udah pernah pakai sebelumnya. — Soalnya guys, Dewinta tuh bener bener kebangetan orangnya. Karena banyak banget varian jenis parfum untuk cowok yang dia beliin buat gue, yang pada akhirnya membuat gue menjadi bingung sendiri. (bro lancaw: Ah paling si Palma koncet ini sih cocoknya dipakein parfum aspal, asli tapi palsu!)

So what! enak aja lo. Enggak lah, heee. Ini original kok, asli dari Milan. Botolnya aja bukan botol parfum refill yang super lawak itu.

Gue cermati baik baik, di meja ini, ada Encre Noir by Lalique, ada Tom Ford, Benetton, D & G, Dior, Ysl, Armani, HUGO BOSS, Old Spice, Paco Rabbane, dan lain lain.

Anjrit! pusing man, resek, banyak banget ini. Mana bentuk botolnya beda beda lagi. Ya udah akhirnya gue pilih Jazz dari Yves Saint Laurent aja deh, yang aromanya memang gue paham betul bisa cuocok sama badan gue ini. Jadi emang nggak asal comot aja sih, sebetulnya.

Ysl Jazz, adalah parfum buat cowok, yang terkenal dengan aroma lapis dasar nya yang terbilang classic dan gentle, gentle as fuck, agak woody juga, sebenernya. Menurut gue, ada sedikit aroma aroma yang bisa dibilang, aroma esensial nya, seperti tobacco, leather dan basil di dalamnya.

Sebelum selesai mengatakan kepada Dee kalau gue mau memilih parfum yang itu, that Ysl Jazz. — Gue melihat Xperia ultra, ponsel si Dewinta berdering didepan dia, rupanya ada panggilan masuk.

Di layar ponsel nya itu tertulis 'tante Elfa' dengan foto seorang perempuan yang jelita, mirip seorang penyanyi pop di Indonesia yang pernah membawakan lagu yang berjudul jangan di bibir saja....

Setelah itu, Dee segera mengangkat telpon nya... "Halo... selamat pagi, Dewinta..." ujar wanita yang menelpon Dewinta di pagi itu.

"Selamat pagi, tante..." jawab Dewinta dengan begitu ramahnya.

"Siapa? Ibu?" tanya gue yang menggerakkan mulut gue, penuh penasaran, karena musik Bruno Mars yang masih diputar suaranya terlalu keras.

Menjawab pertanyaan gue, Dewinta hanya mengangguk, tanda memang betul bahwa itu yang menelpon, adalah nyokap gue.

"Tante, sebentar ya, aku kecilin dulu volume musiknya..." sanggah Dewinta, kemudian dia berjalan ke arah speaker sialan itu. Lalu mengecilkan volume suara dari musik yang super kencang itu.

"Okay, silakan..." terdengar nyokap gue menjawab.

"Iya.. Jadi tante, ada perlu apaa... ?" tanya Dewinta secara halus kepada nyokap gue. — Setelah suara musik Bruno Mars itu sudah lenyap, suara nyokap gue di ponsel Dewinta pun bahkan jadi terdengar lebih jelas lagi, seisi ruangan terasa normal kembali.

"Iya sayang... jadi, sekarang tante kontak kamu, karena sejak kemarin malam, ponsel Palma sulit sekali dihubungi. tante mau tanya, kamu tau Palma ada dimana?"

"Oh... tante beruntung, nih, Palma, ada di sebelah aku." tiba tiba Dewinta menutup ponsel dia dengan lengannya, kemudian berbicara kepada gue, "Palmah! kamu mampir kesini nggak ngabarin Ibumu dulu ya?"

"Are u joking, Dee? I'm twenty-something. I don't need to tell my mum wherever i go..." jelas gue kepada Dewinta.

"Alright thenn~" jawab Dewinta memanjangkan nada bicaranya, tanda bahwa dia mengerti atas apa yang gue sampaikan kepadanya.

"Halo, Dewintaa?" suara nyokap gue, mencari cari di ujung sana.

"Eh, halo, iya tante, Palma ada disini kok tan.."

"Bagus deh kalau Palma ada disitu. Tante mau ngobrol sebentar sama dia, boleh?"

"Hehe, boleh tante, silakan..." lalu Dee memberikan ponselnya kepada gue sambil tertawa geli.

Gue suka heran sama ini cewek, beneran deh.

"Halo, Bu," sapa gue memulai pembicaraan.

"Palma... kok susah sekali menghubungi kamu nak... kan Ibu jadi 'agak' cemas..."

"Maaf bu... nanti Palma idupin ponsel Palma. — Ada apa bu?" tanya gue kepada nyokap.

"Gini sayang... permata hati Ibu... ada relasi Ibu yang butuh terbang dari Jakarta ke Itali, beliau mau ke Portofino untuk keperluan berlibur, he said that he want to fly with you. Kamu bisa kan, as soon as possible, go back to Jakarta?" tanya nyokap kepada gue.

"Um...." gue melakukan humming, pertanda bahwa gue sedang memikirkannya.

"Soal pay grade buat kamu, Ibu udah deal di rate yang bagus dengan beliau, jadi kamu nggak usah pikirin lagi..."

Di sela sela percakapan gue dan Ibu, Dewinta mengangkat angkat botol parfum yang tadinya hampir gue pilih. Annoying banget emang, elo tuh, Dee.

Gue: *Menutup Mikrofon ponsel* "Ysl, Jazz, Dee." bisik gue singkat kepada Dewinta, menghindari agar Ibu tidak ikut mendengar suara gue.

"Alright, princess." jawab Dewinta agak judes, sambil menyemprotkan parfum ke leher gue, dia mengeluarkan ekspresi wajah yang masam dengan bibir super manyun nya.

"Eh kok gitu?" gue kaget ngeliat Dewinta bersikap kayak begitu, lalu gue kembali membuka mikrofon di ponsel Dewinta dan melanjutkan berbicara kepada Ibu.

"Okay bu, as you wish. Palma berangkat secepatnya."

"Nah, itu baru anak Ibu. Ponsel nya jangan lupa di aktifkan ya... dadah Palma... me love you, mmuach."

"Bye Ibu." jawab gue menanggapi, gue menutup panggilan dari Ibu singkat aja, tanpa embel embel membalas love dan kiss untuk Ibu, nggak enak bro, lagi ada Dewinta didepan gue, agak malu gue jadinya.

Xperia: *popup message* 'Tut... Tut... Total waktu panggilan terakhir anda: 15 menit.'

Kemudian setelah menyelesaikan percakapan dengan Ibu, gue beranjak, bergegas pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Dewinta yang masih asyik bermain main dengan peralatan grooming anak cowok yang sudah dia belikan buat gue itu.


Doyan Cewek, I Am A Boy.

Dewinta's crazy bouquet. (Bouquet my ass)




Diubah oleh henseyashburn

Fast Lane 6 - Blu Aviazione

Welcome Back to the fastlane!


'13

Pagi itu, setelah selesai senang - senang dengan seorang Dewinta, gue harus segera pergi kembali ke Jakarta untuk mengurusi pekerjaan gue. Setelah selesai dadah dadahan bareng nona Dewinta, sebenernya nggak banyak yang gue bisa omongin sama dia setelah momen momen 'naughty' itu kami lalui, yang jelas, gue berterima kasih banyak sama dia.

Dari daerah pantai Berawa gue langsung pergi menuju ke Ngurah Rai, kemudian lanjut mencari crew gue yang lagi stand by di Ngurah Rai. Setelah selesai briefing, boarding dan segala macamnya, gue masuk ke dalam cockpit pesawat buat takeoff dari bandara dengan destinasi tujuan menuju ke bandara Soekarno Hatta. Hari itu cuaca lagi lumayan cerah, sekitar jam 12 siang gue ngurusin semua itu. Percakapan ini asalnya berbahasa Inggris, tapi gue akan mencoba menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia...

* * * * *

"Selamat siang, disini dengan Nancy Echo Tango Delta Sixty Nine (NETD69) Meminta laporan lalu lintas udara."

ATC: "Nancy Echo Tango Delta Sixty Nine, mohon nyatakan posisi, jenis pesawat terbang dan jumlah awak di kapal Anda."

NETD69: "Kami adalah BB400 dari Denpasar Indonesia, saat ini berada 5 mil dari selatan Denpasar pada tingkat penerbangan 40. Dua orang Pilot di dalamnya 3 awak kabin. 5 awak kapal ter total."

ATC: "Roger, Nancy Echo Tango Delta Sixty Nine, maaf, anda Biz Jet?"

NETD69: "Betul sekali, heheee." — tertawa gue dibuatnya heheheheee.

ATC: "Okay! Mohon squawk dengan nomor 3791 untuk proses identifikasi."

NETD69: “Squawking 3791.” (Semacam mengirim suatu kode kepada ATC untuk mereka identifikasi.)

ATC: "Nancy Echo, Anda diidentifikasi secara positif dan sedang mengudara. Diketahui sedang meluncur di atas daerah Gianyar. — Kami juga memiliki lalu lintas tak dikenal hanya di sebelah barat Anda, mungkin sebuah pesawat militer. Belum melapor kepada kami. Mohon saran & lapor balik, jika Anda melihatnya.”

Doyan Cewek, I Am A Boy.

* * * * *

*Now Playing – The Strokes – I’ll try anything once.*



Saat sedang mengudara diatas langit Indonesia bagian tengah, yang nampak sangat cerah, dan satu hal yang pasti, kecepatan angin dan jenis awan pada saat gue terbang di saat itu, bener bener sedang bersahabat, hal itu, membuat gue ingin menyapa seseorang, — "Heh, Diw, kemana aja loooooo ah!" ucap gue berbicara via private radio sambil menoleh ke arah co-Pilot gue. — Soalnya suara di cockpit pesawat ini ribut nggak karuan, bro.

"Yah, ada aja gue tuh... Nggak kemana mana kok..." jawab Diwangka simpel kepada gue.

"Ah elo, gimana kabar si do’i. Pacar lo yang ciamik itu...." goda gue kepada Diwangka.

"Putus gue sama dia pal... Hiks." Diwangka menjawabnya dengan nada yang menyedihkan.

"Ah yang bener lo Diw? Aduh sorry ya, nggak nyangka gue." sesal gue kepada dia.

"Tapi Bo’ong!!!" jawabnya lagi, mengagetkan gue. *Bugh* gue segera menyikut lengan kirinya.

"Et et et, ati ati Palmaa itu kena sayonara button entarrr." warning nya panik kepada gue.

Sayonara button, ini adalah istilah horor nya seorang Diwangka yang bikin gue jiper kalau gue udah pecicilan di dalam cockpit pesawat. Menurut gue, semua panel yang ada di cockpit pesawat itu sebenernya sayonara button (salah tekan, MAMPUS, goodbye!) — karena kalau kita salah salah tekan dan pecicilan. Bisa.... hahah. — Nah gue, meskipun gue udah sering terbang, pecicilan gue enggak hilang sama sekali, masih aja kayak dulu, masih aja tetap sama.

Dan tentang Didiw, siapa sih dia? Diwangka, Tjokorda Diwangka Adi Dartha, adalah nama lengkapnya. Dilihat dari namanya, kayaknya gue harus agak sopan sama orang ini terutama kalau gue sedang berada di Bali, nggak enak bro, dia anak orang penting, soalnya.

Hahahaha, meskipun dia anak orang penting, nggak menutup kemungkinan kalau gue lagi tipsy tipsy (agak mabuk) di Kuta, dia juga yang nolongin gue, mengamankan gue dari melakukan hal hal yang nggak diinginkan dan bukan pada tempatnya. Membuat warga sekitar resah, hehehe.

Diwangka, dia adalah co-Pilot gue di beberapa skejul dan juga itinerary (semacam jadwal) penerbangan gue, termasuk salah satu sahabat gue di dunia aviasi tanah air Indonesia. Diwangka buat gue, udah lebih dari sekedar sobat. — Soalnya dia udah gue bodoh bodohin lebih dari enam tahun lamanya, dan heran nya, orang ini nggak ada nyesel nyesel nya sama sekali gue bodoh bodohin juga. Selain itu, ini orang juga sangat membantu gue ketika gue berurusan dengan ATC pas lagi diatas sana, di udara.

Diwangka orangnya penyabar, tapi ada resenya juga, do’i monitoring halo halo walaupun orang ATC bikin kesal dia tetap sabar, kalau gue sih, ah, tamat disitu bro. Yah, dia bilang, kita berdua banyak belajar dari diri masing masing. Okedehhh, disitu gue diam. Awalnya Diwangka itu adalah seorang gay, maaf ya, bro. Tapi semenjak maen maen sama gue, thanks to the fucking lord of the air, dia tobat dan kembali menjadi seorang heterosexual, bagus, kata gue. — Biar entar kalau ente udah mulai tuwek bisa mulai produksi keturunan ya, Diw.

"Elo ada flight duty, pal? Ngedadak dadak gini ngajak gue. Rencana kemana man?" tanya Diwangka kepada gue.

"Nganter relasi nyokap Diw, ke Itali, mau hepi hepi ke Portofino katanya."

"Cicing, proyekan dong!" jawab Diwangka dengan logat orang Bali nya. (Cicing kalau di Bali itu artinya 'Anj*ng!' nah kalau di orang Sund@ itu artinya menjadi 'diam!' Ya, aneh kan? Hidup INDONESIA!)

"Ya-makanya, daripada gue ngajakin si Astrid, males gue, ember mulutnya, banyak ngeluhnya. Mending gue ngajak elo lah Diw." terang gue kepada Diwangka.

Astrid, Pilot cewek yang satu itu, satu divisi, satu maskapai dengan gue. Tapi, orangnya enggak oke punya bro.

"Iya sih, bener juga lo." tanggap Diwangka kepada gue.

"Eh, anyway ATC udah pada bener lagi belum? males gue kalau ketemu kayak operator yang kemarin, ngehe, salah direksi, bikin pusing banget. Masa kudu gue biayain itu satu tower biar kerjanya akurat, kan enggaklah Diw..." curhat gue kepada dia.

"Sabar Palma... selama elo masih nyari duit disini, ya sabar aja.... tapi gue juga yakin kok, nggak disini, nggak diluar, kalau tower lagi pada mabok ya kita yang dikorbanin. Mudah mudahan aja kalaupun kita ko’id, kita harus ko’id and landing di G SPOT para wanita."

"What the hell?! Elo udah sarapan belom Diw? kenapa jadi tibatiba berharap mati gini lo ah. Hahahaha, tapi kalau landing di G SPOT bolehlah yaaaaa," tanggap gue jail merespon percakapan bersama Diwangka.

"Hehee..... untung kita Pilot non komersial ya! Jadi nggak bikin banyak dosa kalau bawa penumpang terus kecelakaan cuma garagara hal sepele. Thanks to you Palma, hahahaha."

Gue: *Geleng-geleng-kepala* *cockpitmadness* — Tiba tiba ada seseorang yang membuka pintu cockpit kami.

"Captain, kira kira, berapa jam lagi nihh kita landing."

"Eh, Kia, kamu nanya ke saya atau ke captain Palma?" tanya Diwangka kemudian dia langsung menoleh kepada perempuan yang baru saja membuka pintu cockpit kami ini.

"Saya nanya ke pak Diwangka, hehe." jawab perempuan itu agak malu malu.

"Oh ke saya... ya palingan 30 menit lagi nih." sambung Diwangka lagi kepada perempuan itu. — Setelah mendengar percakapan yang begitu menarik itu, gue menoleh ke belakang kursi.

"Haaaloo Kia... Mukanya jangan di airplane mode gitu dong... Ntar cantiknya hilang." goda gue kepada perempuan yang bernama Kia ini.

Kiandra: "Ih.... apasih Kapten. Jayus deh." hahahah, bitch didn’t like me flirting. — "Eh Palma, lo lihat deh, *Diwangka-lihat-lihat-snapchat* ini TTM lo lagi nge-arrange party di Potato Head itu kan? asyik banget ya kayaknya." obrol Diwangka secara tiba tiba kepada gue.

"Itu lo ngapain?" tanya gue curiga, kepada Diwangka.

"Iya, gue lagi main snapchat nih, kenapa emang?" jawabnya cuek, masih sambil memainkan ponselnya.

"Matiin dulu!" tegas gue singkat sama dia.

"Konsentrasi pantau kemudi elo..." tambah gue lagi.

"Aduh, aduh, iya lupa gue, sorry palll." Diwangka meminta maaf kepada gue.

Bersambung...

Doyan Cewek, I Am A Boy.

Doyan Cewek, I Am A Boy.

Into the sky.
Diubah oleh henseyashburn

Fast Lane 7 - About to Land



"Ya udah, lebih fokus lain kali, Diw. Ini autopilot gue nyalain dulu, gue mau ke lavatory, okay?" ucap gue kepada Diwangka, mencoba mengingatkan dia.

"Affirmative." jawabnya sigap.

Selanjutnya, gue berjalan keluar dari cockpit, di kabin penumpang yang sedang kosong ini, gue melihat ada seorang Kiandra lagi duduk - duduk cantik sambil mengawasi sosok orang kesayangannya, siapakah dia. Lihat jawabannya setelah pesan - pesan berikut ini. (LOLLL)

"Captain." sapa Kiandra cepat, menahan langkah gue menuju lavatory.

"Hmmm?" gue menoleh ke arah dia dengan ekspresi pura – pura angkuh andalan gue.

"Makasih yaa udah ngajak pak Diwangka onboard buat flight kita kali ini."

"Hah?" jawab gue remeh, dan pura - pura nggak paham sama dia. Nah, sekarang lo tahu kan siapa sosok kesayangan nya si Kiandra...

"Captain Palma suka gitu deh... "

"Hahah, iya... sama sama deh," jawab gue mengiyakan ucapan Kiandra, karena sumpah, kasian gue lihat dia soalnya, cuma gitu doang padahal.. Bali – Jakarta? cuma seutas tali penerbangan Bali ke Jakarta mah atuh...

"Makasih Capt... Capt, mau ke lavatory ya?" tanya dia lagi kepada gue. — Lavatory atau airplane's' bathroom, sama aja sebenernya.

"Iya, mau ikut kamu?" tanya gue dengan begitu isengnya kepada dia.

"Enggak ach ;p" jawabnya dengan nada genit.

Sontoloyo, stewardess yang satu ini sih udah nyantol ke si Diwangka, udah malesss gue gangguin dia lagi. — Belum tau aja kalau si Diwangka itu dulu sempat punya gaydar.

Gay radar. Hahahahahaha.

Sebenernya gue ke lavatory bukan mau memenuhi panggilan alam, tapi lebih ke arah memenuhi panggilan doyan. Doyan cewek, ceweknya, ya flight attendant gue, lah, siapa lagi. Kalau bukan stewardess stewardess bening 21 plus ini.

IGO (Indonesian girls only) kelas paus bro. Heheeeeeee.

Nah, setelah sampai di dekat lavatory. Gue mulai menyapa mereka – mereka ini, "Hi girls, tadi sehabis briefing awal, gue nggak sempet ngobrol lebih lanjut, jadi gimana nih, gosip terbaru dari anak - anak grup kita?" tanya gue kepada stewardess gue.

"Whaaaa ada pak Palma mampirrr." sergah seseorang, yang tiba - tiba jadi girang nggak jelas melihat kedatangan gue di kabin belakang. Nah yang itu namanya adalah Vania.

"Ga usah pak - pak an Van, emang nya gue bokap – bokap, heh?!" jawab gue ketus menanggapi Vania, menolak kalau gue harus dipanggil bapak – bapak oleh dia.

"Hihi, maaf deh Pak..... (Van, what the fuck is this?)" sambung Vania lagi. "Hehe.... ya gitu aja sih Pal, kamu tanya deh, sama Debbie, nih, eh, Deb, gimana gosip anak - anak belakangan ini, katanya si Helma (salah seorang pramugari yang bekerja di maskapai gue juga) mau married ya?" *Kemudian si Vania mencolek colek seseorang yang sedang asyik mendengarkan musik, terlihat dari earphone yang terpasang pada kedua kupingnya.*

"Hah? eh sorry, barusan gue lagi denger musik, ada apaan deh?" setelah menanggapi perbincangan kami, Debbie melepaskan earphone nya, "Ada apaan sih?" tanya dia lagi.

Setelah itu, Vania dan Gue sama sama ngomong, "Debbie... Debbie..." sambil geleng - geleng kepala.

* * * * *

Sedikit curhat...

Of why the reason behind my emptied passengers cabin. (Alasan dibalik mengapa kabin penumpang pada pesawat gue, kosong.)

Buat siapapun itu yang mengira kalau gue adalah seorang Pilot komersial yang mengabdikan jasa dan keahlian nya untuk keperluan dan pelayanan publik, nah.... gue agak sedikit meleset dari anggapan seperti itu.

Mengapa demikian? karena gue adalah Pilot non komersial, jadi gue nggak bekerja sesering Pilot komersial pada umumnya, atau seperti Pilot - Pilot lain di maskapai penerbangan komersial yang sangat sering bolak balik kesana dan ke sini.

Bukan masalah paygrade sebenernya..., tapi lebih karena self-belief gue aja yang nggak capable buat bawa banyak penumpang, dimana gue harus menanggung beban nyawa mereka di pundak gue sebagai Kapten dari pesawat tersebut, pesawat yang gue bawa.

Seperti yang udah gue obrolin diatas, yang merupakan suatu perwujudan dari betapa 'critical' nya dunia penerbangan. Dari mulai kesalahan teknisi yang entah apa yang ada di kepala mereka, mulai nge zonk gara - gara kebanyakan jadwal penerbangan.

Which means mereka kebanyakan gawe, capek, dan segala macam penat yang mereka rasakan. Yang pada akhirnya, akan menyebabkan kinerja mereka pada saat mereka melakukan maintenance dan pengecekan pada pesawat jadi aduh.... ngeri juga gue ngomongnya.

Ya menurun.

Membuat pesawat bisa langsung nggak beres beberapa saat setelah takeoff. Kesalahannya cuma satu, teledor.

Dan hingga detik ini pun, gue enggak bakalan mau menjadi Pilot in command pada penerbangan komersial atau mengepalai penerbangan komersial lagi. Meskipun dulu, gue pernah, dan bener - bener gilaaa, gue dilibas habis habisan sama yang namanya kelalaian dan kecerobohan dari para crew teknisi, khususnya, dan keteledoran dari banyak pihak di dalam sistem penerbangan itu sendiri.

Bahwa akan ada banyak nyawa yang terancam oleh karena hal - hal seperti demikian, nyawa itu adalah, nyawa gue, nyawa co-Pilot gue, dan nyawa awak kabin gue (stewardess dan steward kalau emang ada), dan nyawa semua penumpang yang udah menaiki pesawat gue. — Pokoknya gue banyak makan hati, bro.

Gue nggak mau nge zonk lagi gara gara berkecimpung di zona bekerja yang seperti ini, meskipun gue tahu jadwal terbang dengan intensitas yang tinggi, gue bakalan dapet payment lebih stable, otomatis ya jadi lebih oke dong, ya nggak?

Tapi di posisi gue yang sekarang, gue bisa memilih untuk berada di jalur yang berbeda, jalur Pilot non komersial. — Yang jadwal terbangnya tentatif, suka - suka gue, suka - suka elo. Paygrade nya pun ya relatif lebih gede. Akhirnya, soal paygrade jugaaa hahahaha.

Dan tergantung sebenernya siapa client yang menyewa jasa kita, dan di maskapai private seperti apa kita itu bekerja, kalau bonafid ya bonafid, kalau enggak, ya enggak, hehe.

Lagian kalau gue Pilot komersial, gue bakalan jiper banget, dan jiper duluan jauh sebelum gue bisa menulis jurnal ini, kenapa?

Karena masalah nama baik maskapai penerbangan udah pasti gue pertaruhkan, segala macam ciri - ciri atau atribut perusahaan, suasana bekerja yang di samarkan bakalan ke ungkap juga pada akhirnya.

Dan kalau udah terungkap, you know what will happen lah ya.

Yah yang nggak enak enak dong, another airliner bakal mikir bocah deh banget gue nge-journal kayak begini.

Tapi.... karena gue okupasi nya adalah seorang private Pilot. Gue nggak perlu khawatir, gue nggak perlu merasa cemas lagi.

Kenapa? Karena job di ranah ini punya strong roots, jadi ajeg, dan juga karena koneksi kolektif sangat berperan sekali di dalamnya, dan orang seperti gue, sudah pasti berkoneksi.

* * * * *

"Ehhh Capt, jangan keasyikan ngobrol sama kitakita donggg, kasian tuuuh cockpit punya Captain di anggurin melulu, ntar di gerayang lagi sama mas Diwangka kursi captain nya..." sindir Debbie menyoal Diwangka melalui gue.

Gara - gara tahu rahasia zaman jebot (dulu) nya si Diwangka, Debbie sering nyindir - nyindirin Diwangka soal nggak bakal balik lagi tuh, burung nge-trill nya? suka sama burung lagi, hahaha. — Kacau emang si Debbie ini bro, hahahaha.

Untung aja wajahnya mulus dan manis, kayak porselen, kayak Olivi* Lubis Jensen. Mungkin kalau enggak, udah gue jotos kali dia gara - gara menghina si Diwangka, co-Pilot sejati kesayangan gue.

* * * * *

Tiba tiba gue mendengar suara dari salah satu speaker di pesawat gue. — "Pal, we're about to land in a few minute, please come upfront to the cockpit," itu Diwangka ngomong jauh dari depan sana, memanggil gue.

"Haha, okay, gue balik dulu ya kedepan. Kalian jangan bilang - bilang udah nge gosip - gosip begini, apalagi sama Didiw, awaslooh sampe ketawan dan nyebar, gue bondage lu entar," terang gue kepada kedua gossip girls ini.

"Aww, siap pak Kaptennnn!" jawab Debbie dan Vania berbarengan. Sontoloyo.

"Van, udah gue bilang jangan pak - pak an lagi." ketus gue judes.

"Eh, iya iya, siap Kapten Palmaaaa," ucap Vania kepada gue..

"Nah, gitu dong..." sambung gue lagi.

Elo bacanya jangan ngaceng - ngaceng gitu ah bro, nggak baek, hahahahaha!

Slow Lane 1 - Anugerah Kehidupan



Dee: "Ah...."

Gue: "...."

Dee: "Aw! ahhh.... ehem."

Gue: "...."

Dee: "AHHH! hah, hah, hah! hahaha! Palmaaa, jail ih!" teriaknya sambil menjambak rambut gue.

Gue: "Lagi?"

Dee: "Hehe, love u Palma. Gila, gue kira elo amatiran, ternyata... elo masih maestro. Tidur yuk?"

Gue: *heart* *cium pipi Dewinta*

Malam itu gue baru sadar, kalau lagi tidur, ternyata elo cantik banget, Dee.

(Adegan diatas adalah lanjutan dari prolog Doyan Cewek, I Am A Boy.)

Well... welcome to the slow lane.

Yep, seperti yang bisa elo lihat, bro. Skenario diatas adalah alasan bagaimana kisah gue terbentuk, Doyan Cewek, I Am A Boy. Sebenernya, nama itu nggak asli asli banget buatan gue, nama itu gue dapatkan dari suatu inspirasi.

Tapi karena memang namanya pas dan sesuai sama realita kehidupan gue, maka daaari situlahhh~ gue baru bisa melangkah lebih lanjut, mencoba menjabarkan satu per satu kisah gue dalam kehidupan ini. — Karena gue percaya, setiap orang punya kisah untuk diceritakan.

Sedikit renungan di awal, sebelum nantinya gue bakal berkisah panjang lebar. Mungkin banyak dari cowok - cowok yang sebenernya bertanya di dalam kehidupan mereka, apa sih anugerah terbesar di dalam kehidupan mereka?

Jawabannya bisa macem - macem, ada yang cinta banget sama materi, ada yang cinta banget sama ilmu pengetahuan, ada yang cinta banget sama popularitas, dan ada juga yang cinta sama kesendirian dan hobi hobinya di dalam kehidupan ini. Macam - macam deh, pokoknya.

Tapi gue cuma sadar akan satu anugerah yang paling nikmat, paling dahsyat di dunia ini, paling menancap di otak, juga di dalam hidup gue. Lo mau tahu, anugerah apakah itu? Saksikan kelanjutannya setelah pesan - pesan berikut ini.

HAHAHAHAHA, ampas.

Anugerah terindah dalam kehidupan gue adalah, gue terlahir sebagai seorang cowok, gue ber-penis, dan gokil nya lagi, gue doyan sama cewek. Lagi - lagi, gue terdengar remeh untuk yang kedua kalinya, tapi kalau diteliti lebih jauh, sebagai seorang cowok, gue nggak menyesali secuil pun anugerah yang kehidupan berikan kepada gue.

Yaitu, terlahir jadi cowok, punya Mr. P, dan doyan sama yang namanya cewek. Sesimpel itulah awalnya gue memandang kehidupan ini. — Nggak, gue nggak butuh yang berat - berat, bisa rusak nanti otak gue.

Sekarang coba elo bayangkan kalau misalnya saja satu anugerah normal dalam kehidupan gue diganti statusnya menjadi; Terlahir jadi cowok, punya Mr. P, dan doyan sama yang namanya cowok

BOOM!

Amit - amit jabang bayi, bro. Bukannya gue mau memojokkan suatu golongan tertentu. Gue juga kebetulan nggak secara spesifik membahas yang satu ini. Tapi yang jelas, gue nggak bisa bayangin lagi kalau Mr. P gue masuk ke lubang yang salah, salah alamat. Nggak kompatibel, nggak pada fungsinya. HAHAHAHA. Ampas banget ya omongan gue ini.

Seperti yang perlu elo ketahui. Saat pertama kali gue menyaksikan Mr. P gue ngaceng (berdiri), that is, the most wonderful moment i've ever felt in my life. Yes, itu adalah momen terbaik yang pernah gue rasakan dalam hidup gue. Segitu simpelnya, gue menghargai kehidupan ini, seperti, hargailah Mr. P kita, dan bantulah dia saat dia ngaceng. Berarti, dia lagi ada maunya, bro. Hahahahaha.

Dan jawabannya cuma satu, sebetulnya, karena nggak akan pernah ada yang bisa menggantikan jawabannya, lantas, apakah jawabannya itu?

Cewek.

Hahaha, ya cewek dong... masa cowok?

Nggak se-ekstrim dan se-tolol itu sebetulnya, ya intinya, bantulah dia (penis kita itu), jangan sampai dia kelihatan kesana dan kemari kalau lagi ngaceng, tutupilah dia, carilah tempat yang aman.... dan, nikmatilah... Brrrr. Hahah. Dingin bro.

Di saat - saat seperti ini, gue yakin, banyak dari elo bakal bilang gue kampungan, udik, cabul, mesum, nggak beradab, nggak punya etika, nggak cocok jadi panutan tunas - tunas bangsa, gue sudah mengajarkan yang aneh - aneh, seorang buaya udara (memang ada ya, bro? buaya udara? HAHAHAHAHA, ya nggak ada), seorang bajingan, meskipun nggak bajingan sejati ya.... hahahaha.

Tapi kenyataannya? Kenyataannya ya gue meeemang begitu.

Hahahaha. Di satu sisi gue nggak bisa berbohong, kalau gue cuma seorang cowok biasa, yang sangat sering sekali memproduksi dosa.

Di sisi lain, menjadi orang baik itu butuh keyakinan yang dalam, dan menancap kuat, dan nggak tergoyahkan. Susah, intinya tuh. Apalagi dengan godaan yang datang dalam wujud seorang Dewinta. Bahhhh, selesai disitu urusannya.

HAHAHAHA. Dan seperti yang perlu elo tahu, untuk menggambarkan seorang Dewinta, perlu beribu ribu kata buat gue untuk menyelesaikannya. Sepuluh paragraf? mana sampe, guys, masih kurang, malahan, kurang banget. Dewinta Putri Prahadi. Seorang cewek dalam wujud..... Potatooooooooooooo. (Kentang level 1 dulu, broo)

Kentang= kena tanggung.

Doyan Cewek, I Am A Boy.

Slow Lane 2 - Masa kecil gue



Terlahir dalam wujud sempurna. Dewinta adalah cewek pertama yang gue doyan, (doyan disini artinya gue suka banget gitu) dalam hidup gue. Kalau nggak salah di bagian sebelumnya gue pernah bilang kalau kami udah kenal lama banget.

Tepatnya, gue sudah kenal do'i dari sejak gue masih berada di bangku SD. Nah makanya di beberapa cerita gue nanti ke depan nya, gue mau menceritakan tentang dia, gimana dulu pertama kalinya gue ketemu sama dia. Dan lain - lain.

Ya, harapan gue sih gue bisa menceritakan semuanya cerita gue meskipun kadang banyak hal - hal kecil yang terlewat oleh gue. Yah, bodo amat lah, orang gue cuma mau enjoy ini.

Nah, karena begitu, gue coba menyusun nya satu per satu ya, sebelum gue ngalor ngidul lebih jauh lagi tentang cerita - cerita yang lainnya tentang kami berdua.

Sekarang, gimana kalau gue mulai balik dari pertama kali gue ada di kehidupan ini. Karena, sepak terjang kehidupan dan pendidikan gue bisa dibilang ekstrim nggak karuan, jadi harus diurut satu per satu biar elo pada paham.

Kalau dilompat lompat, bisa nggak jelas entar bakal kayak bagaimana jadinya.

Okay, jadi, gue lahir di Bandung, di rumah sakit Borr******, buat orang Bandung pasti hafal persis ini rumah sakit sebesar itu. — Gue generasi tahun 90 an, bro, jadi gue mengalami gimana rasanya jadi tolol cuma gara gara kebanyakan main game Super Mario Bros, arcade game, dan game yang lain - lainnya.

Gue menjalani masa kecil gue di Bandung, selama hampir 10 tahun lebih, 2 tahun kehidupan taman kanak kanak, dan Sekolah Dasar gue di Taruna Bravo (ini hanya nama samaran nya aja) di Bandung waktu tahun 90an sebelum masuk tahun dua ribu awal itu pun, gue alami disana.

Jadi, gue sempet banget ngalamin ngomong pake bahasa Indonesia, bahasa lokal orang kita, bahasa daerah, belajar tentang si Budi dan kawan kawannya sambil goyang – goyang pantat nggak jelas di depan kelas, lalu nge goda – goda in anak cewek di kelas gue sampe mereka nangis - nangis Cuma gara - gara pensil warna mereka gue sembunyikan pas jam pelajaran mewarnai tiba, ya.

Gue inget dulu, jaman waktu gue masih SD, kalau seisi kelas lagi di absen, gue sering di ketawa in sama temen – temen sekelas gue, karena nama bokap gue yang terpanggil Ashburn itu, dan karena kita orang Indo agak perlu adaptasi dalam menyebutkan nama se-rumit itu.

Karena akhirnya nama gue di plesetin dari Ashburn menjadi Asbun, sebuah singkatan dari; asal bunyi, ya biar gampang diinget, mereka panggil gue dengan nama itu, karena waktu gue masih TK, berlanjut sampe SD, nggak ada orang yang memanggil gue dengan nama Palma, ataupun Hensey. Sudah pasti gue dipanggilnya dengan nama Asbun.

Karena pada dasarnya gue juga memang tukang nyerocos sembarangan, gue suka nyerocos sampe bikin guru - guru di sekolah gue kesel setengah mati. Untung aja bonyok (bokap nyokap) gue sabar nya kelas juara, kalau nggak, wah, udah kelar kali hidup gue.

Sebagai anak semata wayang dari pasangan suami istri yang bisa dikatakan amat-sangat-bahagia, gue banyak mendapatkan perhatian yang gue butuhkan saat gue masih kecil, saat gue masih sebesar itu.

Nyokap gue tadinya bekerja sebagai seorang peragawati yang lumayan well-known di Indonesia, dan akhirnya memutuskan (meskipun sementara) untuk menjadi Ibu rumah tangga saja semenjak dia melahirkan gue. (Tapi ini bohong, karena nyokap tetep aja berkarir.)

Dan bokap gue adalah seorang pilot, nggak Cuma jadi pilot, dia juga jadi seorang wirausahawan. Bisa dibilang, gue bahagia banget jadi anak mereka, karena, banyak hal yang gue ambil sebagai pelajaran hidup hanya dari mereka berdua.

Pokoknya, semua yang enak - enak gue alami di kota yang dingin itu deh, di Bandung. Namun sayang, saat SD kelas dua gue harus pindah bareng Papa gue ke sebuah tempat yang bernama Rotorua, yang terletak New Zealand atau di Selandia Baru. — Cuma nyokap sih tetep tinggal di Indo karena beliau ada tanggung jawab untuk menemani hari tua-nya eyang gue, alias Ibu nya nyokap gue. Nah karena nyokap gue nggak ikut, ya nangislah gue, tapi dia bilang gue bakal baik baik aja sama Papa gue disana, di NZ atau di New Zealand itu.

Alasan gue pindah ke NZ waktu itu... dilatar belakangi oleh diversitas dalam keluarga, jadi gue pengin tahu gimana kampung halaman Papa gue di Selandia Baru. — Sekaligus mau dikenalin juga sama keluarganya, sama bule - bule yang berkulit putih itu. Kenapa gue membedakan diri gue dari bule - bule itu?, ya karena gue memang bermuka blasteran, tapi wajah dan warna kulit gue lebih condong Indonesia nya, — meskipun Indo, gue tetep ganteng dong.... ya gimana enggak, pancasila aja gue lahap (what the fuck, ini apa hubungannya dengan ketampanan gue?), dan hafal semua nilai - nilanya.

Hahahah, ya intinya, gue udah jatuh cinta duluan sama tanah air ini, tanah air Indonesia. Gue inget, hari itu, adalah hari sabtu, bulan Juli tahun dua ribuan, waktu gue masih berumur sepuluh tahun kalau nggak salah.

Akhirnya gue terbang naik Rajawali Indonesia (di plesetin dikit nggak apa - apa kann hahaha) bareng Papa gue sebagai pilotnya, dari Soetta airport. Dengan first class flight dengan kartu Rajawalimiles ter-kinclong yang gue genggam di tangan gue. Karena basically, gue suka banget sama design Rajawali Mileage Card.

Sebenarnya gue nggak pake fungsi asli kartu Rajawali mileage itu bro, orang naik pesawat aja gue jarang. — Tapi karena gue ngeyel, akhirnya di bikinin juga golden card nya. Biar sama kaya nyokap gue, karena do'i memang sering terbang sama bokap gue. Untuk keperluan traveling dan juga bisnis, memberships card seperti ini sangat memudahkan penggunanya.

Seperti tidak usah melakukan reservasi yang repot repot dan lain sebagai nya. Akhirnya, dengan Boeing 717, yang jelas pesawatnya lumayan gede dan panjang (if you know what i mean, ini sama kayak penis tahu nggak sihhhhhh.). — Gue lepas landas dari Jakarta. Waktu itu gue kira pesawatnya sedang sepi penumpang, meskipun ada beberapa om - om berdasi yang ikutan terbang bareng sama gue...

Rupanya itu adalah skejul atau jadwal flight with limited passenger atau exclusive flight yang sudah diatur sama Papa gue. Jadi pantesan aja pesawatnya kosong dan sepi penumpangnya, kalaupun ada, adult passenger semua dan bukan anak kecil yang bisa gue ajak main pas lagi berada di pesawat.

Dan ternyata, penumpang - penumpang itu ternyata masih relasi Papa juga, yang memang mau pergi ke Aussie.

Yang gue inget dari hari itu sih ya gue pecicilan banget di dalam pesawat, lari sana lari sini, pencet ini pencet itu, hampir aja gue tekan tombol yang bisa membuat pintu kabin terbuka, di ketinggian ribuan kaki diatas laut.

Kalau itu nggak dicegah, anjrit! udah mampus kali gue man, nggak bakal ada ini cerita. Karena awalnya udah jelas, Papa gue memesan buat menitipkan gue ke crew pesawat nya yang di berada belakang kabin, karena dia tau gue trouble-making nya minta ampunnn.

Waktu terbang, itu pintu kokpit yang pasti udah dikunci, jadi biar gue nggak bisa ganggu Papa sama om Cakso, co-pilot nya si Papa, saat mereka sedang mengoperasikan pesawat.

Entah kenapa, gue juga doyan bikin repot mbak mbak mugari nya, sampe sampe gue diikat di passenger seats dan nggak di bolehin lari lari lagi sama mereka. Yang pada akhirnya gue di ajakin menonton film Home Alone sama mereka di pesawat, waktu itu gue inget banget, nonton nya ya masih pake VCD. Dan yang jadi aktornya siapa lagi kalau bukan si kurus Macaulay Culkin.

Nah, mugari yang menemani gue itu, sampe gue di nina bobokan juga sama dia, gue ingat sekali namanya, namanya adalah mbak Kinanti Sastroatmodjo, soalnya do'i cantik dan toge banget, sampe belahan gunung nya keliatan gitu bro. I swear, that babe is hot as fuck.

Brunette dan wavy (bergelombang) gitu rambutnya, tapi gue nggak kepikiran kayak gitu sih waktu gue masih kecil dulu, cuman yaaa, setelah lihat foto - foto lamanya dia dan air crew nya Papa, dimana gue sudah bertumbuh besar. — Ya disana lah pemikiran - pemikiran cabul itu muncul menggerayangi otak gue, ha ha ha ha.

Skip-skip-skip, akhirnya gue pun landing di Aussie....

Slow Lane 3 - Di perjalanan



Sebelumnya di Doyan Cewek, I Am A Boy...

"Ya disana lah pemikiran - pemikiran itu muncul menggerayangi otak gue, hahahaha."

Skip-skip-skip, akhirnya gue landing di Aussie....

Di Aussie, di Kingsford airport, Sydney, lebih tepatnya lagi, inilah pertama kalinya gue menginjakkan kaki di luar Indonesia. Aneh rasanya, asing, bahagia, sedih, semua perasaan bercampur aduk. Bahagia, mungkin, karena gue berhasil sampai dengan selamat di tempat tujuan, dan sedih ya udah pasti karena gue masih kecil udah harus berpisah jauh dari nyokap gue.

Di airport gue banyak terdiam, hanya sekedar memperhatikan doang, sambil dipegangin tangannya sama Papa, di pagi hari yang super dingin itu sambil nge push luggage (koper) gue, gue sarapan fresh baked croissant di Kingsford airport. Apa tuh croissant, itu, semacam roti hangat bergulung yang baru dipanggang gitu. Lumayan enak, sih, tapi....

Tapi, gue kangen sarapan pagi sama bubur ayam Mang Haji Yoyo, gue kangen nyokap, dan gue kangen temen temen SD gue di Bandung, pasti hari ini mereka lagi asyik main - main kayaknya. Daripada di pendem sendiri, akhirnya gue bilang sama Papa, "Pa, aku kangen sama Ibu, aku kangen Bandung, aku mau ke sekolah, mau main sama temen – temen ku..." keluh gue di saat itu.

Dan Papa gue menjawab, "Sabar ya nak... nanti Papa akan telfon Ibu kalau kita sudah sampai di Mangakakahi." — Mangakakahi, adalah nama sebuah tempat di Rotorua, yang jadi tujuan selanjutnya bagi gue dan Papa gue, aneh banget memang namanya, tapi itu ada alasan nya, nanti gue jelasin.

Waktu di airport, gue bingung, bokap gue kok banyak banget yang say good morning! dan nanyain apa kabar sama dia. Dengan uniform nya, do'i melenggak melenggok pede hingga akhirnya kami berdua keluar dari lobby airport ini.

Rupanya dia dikagumi karena dia bekerja untuk Rajawali Indonesia... wih, mantap bro. — Lalu akhirnya, setelah sarapan, kami berdua melanjutkan penerbangan kami dari Sydney airport menuju ke Wellington menggunakan sebuah pesawat yaitu Cessna 120, pesawat kecil yang hanya bisa mengangkut dua sampai empat orang saja, seingat gue, kami terbang menuju ke Rotorua regional airport, kemudian... dari Rotorua regional airport, kami lanjut berjalan menuju ke loket pemesanan tiket Bus yang terletak nggak jauh dari jalan Te Ngao, untuk memesan tiket bus yang langsung menuju ke Mangakakahi.

Sedikit memori waktu gue naik Bus, waktu itu, gue berjalan sedikit lebih jauh lagi menuju tempat Bus yang sudah kami pesan tiketnya. Setelah sampai di depan pintu Bus, gue disapa sama supir Bus nya, Mr. Walter namanya, masih ingat banget gue heeehee, orangnya gendut dan seragamnya rapih banget, dan dia masih ada kok sampai hari ini.

Bus ini juga adalah Bus langganan Papa dan langganan gue juga (setelah gue tumbuh besar New Zealand), untuk seterusnya. Dan ciri khas Bus yang gue naiki adalah satu, yaitu; Bus ini ada advertisement nya, apa ya, ada iklannya, kan kalau di Indo, angkutan kota nya itu yang ada iklannya.

Nah kalau disini, Bus nya, norak banget yah gue, tapi ya namanya lagi belajar menghafal perbedaan, hal hal begitulah yang gue lakukan.

Naiklah gue, di perjalanan, Papa gue banyak bersiul siul nggak jelas, cemberut gue dibuatnya. Tapi kata Papa, jangan cemberut gitu dong, dan akhirnya buat mengatasi bete-nya gue, gue dikasih Wrigley's peppermint gum, permen karet rasa menthol kesukaan gue, di indom@ret juga banyak bro, gue nya aja yang kebetulan memang suka norak.

Tanpa terasa, sudah 40 menit Bus gue berjalan, banyak sekali pemandangan yang gue sadari beda jauh sama original hometown gue, yaitu Bandung. Disini sepi sekali, dingin nya lumayan, agak mirip sama Bandung, sebenernya, dan komposisi rumah penduduk nya juga saling berjauhan, masa, kata Papa, lebih banyak sapi dan biri - biri (sejenis domba) nya daripada orang - orang nya.

Karena padang rumput luas itu ternyata buat makan si sapi - sapi yang gemuk itu, banyak pagarnya, pembatas nya maksud gue, dan luas banget alamak. — Juling mata gue dibuatnya, dan setelah melihat warna hijau hijau itu.

Gue dikasih tahu, itu kenapa bisa banyak begitu, karena memang NZ ya adalah salah satu negara penghasil dairy product terbesar di dunia.

Kayak susu Ultr@ Milk kalau di Indonesia. Jadi deh banyak pabrik sapi perah nya. — Di jalan, gue kedinginan, kayaknya satu lapis jaket jeans OSH KOSH B'Gosh gue nggak cukup buat menepis dinginnya pagi hari itu, akhirnya Papa kasih gue jaket pilotnya (custom made) dia buat dipakaikan ke badan gue. Makasih Papa, tau aja kalau anak lo gampang kedinginan.

Kata Papa, kalau kita nggak ambil jalur yang sekarang supir Bus gue lalui, gue bakalan mampir ke Hamilton, sebuah daerah besar di NZ. Tapi butuh beberapa jam lagi untuk sampai di Hamilton. Dan.... Setelah beberapa jam lamanya di perjalanan, akhirnya gue sampai juga di Mangakakahi, Rotorua, disana gue melihat sebuah welcome board yang bertuliskan bahasa aneh. "Nau mai ki te Mangakakahi." yang artinya adalah welcome to Mangakakahi.

Sebuah sub district, tempat bokap gue dan keluarganya tumbuh besar di rumah keluarganya. Ya iyalah bro di rumah keluarganya, masa di rumah tetangganya, hihi, peace out, yo! — Nah setelah turun di halte Bus-nya, gue di bonceng sama bokap gue naik sepeda yang disewakan di halte terdekat menuju rumah keluarganya yang katanya nggak jauh - jauh amat dari situ.

Eh tau nya, rada jauh bro. Mampus deh gue, karena di dorong sampai batas akhir, gue muntah, hoekkkk, untung aja gue bawa sickness bag (kotak buat muntah), aman deh jadinya nggak muntah - muntah di jalan. Karena kasihan, akhirnya bokap gue mempercepat kayuhan sepedanya, dannn tararamm.

Akhirnya gue pun sampai di rumah bokap gue yang kejam ini, hahahaha! (bercanda Pa, Palma nggak serius.)

Karena estimasi travel duration gue sudah melebihi yang dia perkirakan. — Di rumahnya, gue buru - buru disuruh minum minuman hangat gitu sama nyokapnya Papa, Nenek gue, belum gue kenal awalnya. Gue nggak tau itu semacam booze atau beer hangat begitu, rasanya enak loh bro, bikin gue jadi ngerasa sedikit nyaman.

Mungkin kalau di kita itu kayak semacam cairan tolak angin gitu bro, meskipun nggak mirip sama sekali.

Dan tanpa berlama lama, akhirnya gue disuruh tidur di kamar lamanya bokap gue, yang gue kaget, di kamarnya ada fireplace nya, jadi semacam perapian untuk menghangatkan suhu ruangan gitu, jujur sih gue agak takut sama yang namanya api..., tapi mungkin karena waktu itu gue udah teler setengah ma-ti, dan capek berat, yah akhirnya, gue tertidur lelap......zzzzz. Nggak pake ngorok ya tidurnya...

Slow Lane 4 - Mengintip



"Palma..."

"Palma..."

Gue: "Hoooh... Apa.... Aku.... Hemm...."

Gue: "Hoaaam?"

Papa: "Hehehe, kok mengigau sih tidurnya? Palma, bangun nak, ini ada telfon dari Ibu," kata Papa sambil mengelus elus rambut dan jidat gue, mencoba membangunkan gue perlahan lahan.

Masih setengah sadar, Papa meninggalkan ponsel Motorola nya di samping telinga gue, rasanya, gue mencoba untuk tidur lagi. Karena gue masih bete, dan nggak tau mau ngapain di tempat baru gue ini. Tapi hal itu nggak berlangsung lama, setelah gue mendengar suara ini...

"Halo Palma... sayang Ibu... ini Ibu... ayo... bangun nak..."

Deg. That voice. Nyokap gue bro. Dia nelfon. Asikkkkk.

Gue: "Haloh, haloh, Ibu, Ibu, Palma udah sampe di rumah Papaaa!!" teriak gue tiba tiba menjadi girang sekali, mendadak, raut wajah gue berubah jadi kinclong mentereng, macam piring berlemak yang baru dicuci pakai sunlight, ada kerling - kerling nya gitu deh... huahaha.

"Pelan - pelan bicaranya sayang..." ucap Ibu kepada gue.

"Hah, hah, iya bu... Palma udah sampe di Mangakahi," terang gue sekaligus.

"Mangakakahi, maksud kamu?" tanya Ibu kebingungan.

"Nah, iya itu, bu," angguk gue membenarkan.

"Okay... sekarang kamu minta minum dulu gih, ke Papamu. Kayaknya kamu haus tuh, nanti Ibu telfon kamu lagi, okay?"

"Okay bu, dadah Ibuuu,"

"Dadah Palmaa, mmmuach."

Setelah menutup telfon dari Ibu, gue melirik ke arah jendela kamar Papa gue yang nampaknya memang terang sekali, cahaya nya sampai menembus tirai. — Gue melihat ke arloji flik flak berwarna navy yang gue pakai ini, ternyata posisi jarum jam nya udah nggak akurat, masa di arloji analog gue waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi.

Padahal matahari udah silau begini. Kenapa, karena zona waktu Indo bagian barat dan waktu Selandia Baru berbeda beberapa jam. Selandia Baru lebih kenceng 5 jam kalau gue nggak salah.

Bingung sendiri, untung aja ada jam dinding di kamarnya Papa, ternyata sekarang waktu sedang menunjukkan tepat pukul 2 siang. Jadi dari situ, gue salin aja waktu akurat nya ke jam tangan gue.

Secara perlahan - lahan, gue menurunkan kaki gue dari kasur monster ini, kasur super gede di kamar Papa gue, lalu berjalan melangkah menuju pintu kamar sambil berhati hati ketika gue melewati perapian di kamar Papa, ya walaupun apinya udah mati, tetep aja gue takut bro, kan ada orang yang gitu, trauma sama sesuatu. Nah gue, gue trauma sama api bro.

Setelah sukses mencapai pintu kamar, gue mencoba membuka door knob (gagang pintu) kamar Papa gue yang bentuknya bulet, dan susahnya minta ampun ketika mau dibuka, jadi kesel gue, gue bergelut mencoba membuka itu gagang pintu sekitar lima menit lamanya, gue puter² nggak kebuka jugaaa.

Haduh.....

Nggak kayak gagang pintu kebanyakan di Indonesia bro, yang bentuknya umum dan gampang sekali buat dibuka engselnya itu, nggak ribet ribet macem begini.. diputar putar malah makin ngeselin, makin nggak bisa dibuka.

Dasar gagang pintu bodoh, keluh gue sendirian pada saat itu. Tapi akhirnya... Voila! terbuka juga akhirnya nih si gagang pintu sialan. Dari situ, gue mau keluar dari kamar Papa, tapi setelah gue intip dari pintu kamar, gue tahan dulu niat gue untuk keluar dari kamar Papa.

Karena Papa lagi ngobrol sama seseorang perempuan yang udah lumayan berumur (gue yakin itu adalah nenek gue) dan seorang laki laki yang badannya nampak tinggi dan besar, kayak yeti di Nat Geo Channel itu bro, bingung gue juga pas ngeliatnya.

Gue intip mereka bertiga lagi ngobrol di ruang tamu. Saking asyiknya ngintip mereka, gue kaget kalau akhirnya Papa gue menangkap basah gue yang sedang mengintip intip mereka dari pintu kamarnya.

Setelah itu, Papa berdiri dari kursinya dan beranjak menghampiri gue, kaget, gue secara langsung segera bersembunyi dibalik pintu kamar, karena mata yang lain juga tertuju ke arah kamar ini.

Lalu muncul lah wajah Papa gue dari balik pintu kamarnya, tersenyumlah dia. Nah, karena waktu itu gue masih pendek, gue harus mendongak dulu buat melihat dia, Papa tercinta!

"Palma, yuk, sini nak, kita ketemu sama keluarga Papa. Papa kenalin kamu sama mereka." sambil menjulurkan tangannya, Papa mengajak gue keluar dari kamarnya.

Slow Lane 5 - Sebuah perkenalan




Gue menggenggam tangan Papa dengan penuh keyakinan, lalu kemudian berjalan menuju ruang tamu rumahnya Papa untuk bertemu dengan anggota keluarga nya, yang udah gue intip - intip sebelumnya.

"Sini nak, jangan malu malu gitu ah..." ucap Papa santai. Lalu gue mulai menghampiri mereka berdua yang sedang duduk di kursi dan menyandarkan tangan mereka di atas meja makan.

Melihat lebih dekat, dan akhirnya, seseorang dari mereka berdua menyapa gue dengan lembut, suara yang lembut, penuh kasih sayang, "O... my dear lord.... who is this dashing, charming young man, Neal?" ucap orang itu kepada gue kepada gue, beramah tamah.

"Palma, say hello to your grandma. Mom, this is Palma, my dear son." (Palma, katakan halo ke nenekmu. Mah, kenalin, ini Palma, anakku tersayang) ucap Papa mengenalkan gue kepada nenek gue.

For your information, Neal adalah nama bokap gue, Neal Ashburn, Sterling adalah middle name nya. Jadi nama lengkapnya, Neal Sterling Ashburn. — Hah, mampus kan, jadi anggota keluarga blasteran. Nggak hafal gue yang beginian. Tapi ya mau gimana lagi, begini adanya.

"Hellow, grandma." sapa gue akhirnya, singkat dan kikuk, ini kalau di persatuan militer udah ditempeleng gue kalau bertingkah kayak begini.

"How nice to see you.... Palma, my name is Rowena (dibaca: rowina). — You can call me granny Ro, if you wish."

Buset ngomong apaan nenek gue ini. Asli bro, aksen ngomong nya kayak gue kalo lagi nonton acara Mr. Bean, tapi ini versi perempuan nya. Hihi, memang jahat ya gue bro, nenek sendiri aja di hina.

"Ehem, Pa, bantu aku dikit dong, aku lama ga ngomong bahasa Inggrisss.... ini... nenek ngomong apa?" tanya gue kepada bokap gue. Untung gue punya bokap yang bisa billingual (ngomong dua bahasa), walaupun dia bule, karena dia udah lama tinggal dan kerja di Indo, jadi ya bahasa Indo nya lancar jaya bro, coba kalau dia nggak pandai - pandai amat ngomong bahasa Indo. Kan kelar disitu gue bro.

"Iya... jadi, nama nenekmu adalah Rowena... dan kamu bisa panggil nenekmu itu, granny Ro aja, itu pun kalau kamu mau..." ucap Papa menjelaskan.

"Oh....." respon gue datar. — (Padahal di dalem hati sih, OHHHH!! MAKASIH YA PA UDAH BANTU AKU!!)

Lalu granny Ro mulai ngomong lagi, "How old are you, Palma?" tanya dia kalem, sambil tersenyum tulus.

Nah, gue nggak tau gimana, untuk selanjutnya, setelah gue ditanya pertanyaan begitu, gue berasa lagi ada di kelas Bahasa Inggris di sekolah gue, jadi, pertanyaan macam how old are you tuh, gampang banget kali nge jawabnya. Akhirnya, gue jawab aja deh pertanyaan dari nenek gue itu.

"I am eight years old," (Screw you, old lady!)

(Aku berumur delapan tahun. Buset, kenapa ada si Adam Sandler tiba² nyamber di kepala gue? wahahahahaha.)

Granny Ro: "Okay, Palma... come here, please sit down with us." ucap dia lagi. — (Okelah kalau begitchu, sini sini, duduk bareng bersama dengan kami, tuh, pinter kan guweee.)

Dannnnnn untuk percakapan selanjutnya gue ganti jadi bahasa Indo aja yak bro, hehehe, soalnya gue lelah bila harus menerjemahkannya satu per satu.

Sekilas tentang granny Ro, dia orangnya baik, perkataannya sopan banget, sangat dijaga sekali, gue beruntung bisa jadi cucu seorang nenek yang baik kayak begini.

Soalnya, nggak banyak nenek nenek bijak macam granny Ro, walaupun udah tua, sifat bijaknya sangat kelihatan sekali.

Granny Ro, waktu pertama kali gue ketemu dia, rambutnya udah putih semua, dan udah banyak keriput dan spot hitam gitu di wajahnya, namanya juga nenek - nenek bule, jadi pasti banyak freckles nya.. badannya kurus, nggak kering kerontang ya, dia lumayan tinggi, kira kira 175 centimeter lah, gue yang waktu itu masih 110 cm juling banget pasti ngeliat orang setinggi itu.

Gaya berpakaian nya ya gimana aja gaya berpakaian seorang nenek - nenek, granny Ro kebanyakan pakai baju hangat seperti sweater dan baju - baju yang bisa membuat badan seseorang tetap hangat di cuaca yang cukup dingin. — Udah ya, deskripsi nya, dan, gue pun akhirnya duduklah bareng sama mereka semua, dan di meja itu, setelah gue duduk dan melipat tangan gue, gue tiba tiba diketawain sama si yeti yang barusan gue intip daritadi itu.... dan disinilah semuanya dimulai.

"O my lord, Neal, your son is bloody cute, hey, kid, smile!" tukas laki - laki itu mengagetkan gue.

"Bloody hell, Jack! watch ur mouth, dafthead!" ujar Papa seru.

"Heyy kalian ya, ini ada anak kecil loh, masa bicara nya kasar begitu, mama nggak suka ah!" kritik nenek gue kepada anak – anaknya yang bandel ini.

"I, Iya mah.... iseng aja kali. — Hai Palma, papal, kenalin neh.... gue Jackson, gue paman lo, nah elo, kalau disini, jangan sungkan sungkan ya... Next time, lo panggil aja gue Jackie, okay?" jawab orang yang bernama Jackson ini.

"Okay!" jawab gue sambil mengacungkan jempol.

Jack, Jackie, or Jackson rue Ashburn, adalah orang paling brengsek dan ter-lubang pantat di dalam hidup gue, adalah paman gue, adik nya Papa, gayanya petakilan abis, di awal, jijik gue ngeliatnya, tapi man, jangan salah, sialan kayak begitu dia punya kontribusi besar terhadap hidup gue, nanti deh gue ceritain, ya.

Nah yang gue heran, apa emang setiap paman biasanya punya kelakuan kayak begini, (seingat gue paman gue dari keluarga Ibu sopan banget dan nggak kayak begini deh...) pasti kan, ada penyebabnya dong, kenapa dia berkelakuan seperti ini, nah, daripada pusing mencari penyebabnya, mending gue lanjut lagi aja menceritakan momen saat kami sedang bertemu itu.

Di siang yang cerah itu gue berkenalan dan bertemu dengan keluarga baru gue, yaitu granny Ro dan uncle Jack atau Jackie si lubang pantat... sekarang ini, gue jadi kangen sama mereka kalau lagi nulis tentang mereka, tepat pukul dua belas siang, sambil memperhatikan mereka bertiga asyik mengobrol, pandangan gue jauh menerawang keluar sana.

Masih merindukan Ibu, gue terlena dalam lamunan yang ada di kepala gue di saat itu. Gue mikir... Ibu lagi apa ya... kalau sama persis di jam segini, biasanya Ibu lagi masak, dan gue dengan senang hati menunggu masakan nya disajikan di meja makan di rumah kami, ah, itulah yang sulit gue lupain dari Bandung, meskipun baru beberapa hari lewat, homesick atau rasa kangen rumah gue meluap luap nggak terbendung bro.

Sampe akhirnya, Papa megang tangan gue dan menyadarkan lamunan gue di siang hari itu.. Papa ngajak gue untuk berjalan jalan sebentar.

"Ma, Jack, saya permisi sebentar dulu ya, saya mau ngajak Palma keliling - keliling untuk lihat lihat rumah. Kalian lanjut aja ngobrol ngobrolnya." ucap Papa kepada mereka.

"Palma, ayo sini nak, Papa mau ajak kamu jalan - jalan dulu sebentar."

"Okay pa..." jawab gue lesu.

Kemudian Papa mengajak gue naik ke lantai dua, melihat lihat kamar yang ada di lantai dua, kemudian menunjukkan beberapa ruangan yang ada di lantai dua, termasuk kamar mandi, yang astaga, beda jauh sama kamar mandi dimana gue biasa melakukan ritual bersih bersih tubuh. Kamar mandinya nggak ada tempat nampung airnya, bro. Apa ya, kayak bak mandi gitu.

Terus mandinya itu harus di bath tub, bukan bebas pakai air gitu kata Papa, jadi entah itu pakai shower atau nggak, yang jelas, kalau mandi, kalau bisa, mandilah serapih mungkin.

Ah, kecewa gue, nggak bisa pecicilan di kamar mandi lagi kayak dulu yang biasa gue lakuin dong? tapi yah, nggak apa apa deh, bisa gue maklum, kan gue tinggal di tempat yang berbeda, walaupun emang awalnya menerima hal yang kayak begini tuh sulit untuk dilakukan....

Di dalam kamar mandi ada wastafel, okelah, kalau itu sih masih biasa gue lihat, tapi kalau di kamar mandi udah ada lemari nya, anjrit, jiper gue bro, nah yang kayak begini nih, yang nggak biasa gue lihat, sumpah, banyak banget hal asing yang gue temui ketika awalnya gue berada disana.

Entah gue sanggup apa nggak nerima perbedaan itu, sebagai seorang bocah yang berasal dari Bandung, gue cuma bisa nerima aja, nggak mikir apa apa lagi yang ribet ribet, tapi tetep aja, kesel setengah mati.

Tiba tiba, Papa nanya sama gue, "Kenapa Pal, ada yang lagi kamu pikirin?"

"Ada sih, pa. Aku kangen sama Ibuuu," keluh gue manja.

"Heheh, Papa taulah ituu, kelihatan kok dari ekspresi wajahmu itu," kata Papa lagi, iya, elo emang tau Pa.

Sambil berdiri di dekat jendela di lantai dua rumahnya ini, Papa dan gue ngobrol tentang beberapa hal.

"Palma, Papa inget deh dulu, waktu Papa masih kecil, Papa sering ngeliat keluar rumah dari jendela ini, nih, persis banget, di sebelah kamu. Dulu, mimpi Papa banyak, Pal, dari mulai jadi petani, sampai mimpi - mimpi lainnya yang memang ada di kepala Papa."

"Papa yakin, kamu pasti bakalan betah dan suka tinggal disini, walaupun awalnya mungkin kamu bakal banyak penyesuaian, tapi Papa yakin kamu bakalan banyak nemuin ketidak cocokan, awalnya ya... tapi Papa yakin kok, Palma, kamu pasti bisa bergabung dengan komunitas kami semua disini."

"Penduduk Mangakakahi ramah - ramah kok, Pal, meskipun tidak semua, ya. Nanti, Papa bakal ajak kamu keluar rumah, buat cari sekolah barumu, ya, gimana, setuju nggak nih?"

"Iya Paaa, setujuu, tapi sebelum nya aku pengen tau dulu nanti aku bakalan tidur di kamar siapaaa," jawab gue merana, dasar bocah manja emang.

"Nanti kamu tinggal di kamar Papa, Papa janji deh, walaupun mungkin enggak semua keperluan kamu bisa Papa bantu urus, kayak beli baju, atau yang lain². Tapi Papa usahain, ya, Papa selalu bisa bareng sama kamu. Kamu tau kan, kalau jadwal kerja Papa di Rajawali itu padat sekali, nak."

"Iya Papa kalo soal itusih aku tauuu... terus nanti disini, aku diurus sama siapa, Paaa?" sambung gue masih bertanya tanya.

"Oh kalau itu, kamu enggak perlu takut, kan nanti ada nenek dan bibi-mu yang bakal ngurusin segala keperluan kamu. Udah ah, sekarang, kita turun lagi ke bawah." ucap Papa kemudian meraih tubuh dan mengelus – elus kepala gue, diantarnya lah gue menuruni tangga perlahan lahan, kembali ke lantai satu.

Di rumah baru gue ini, gue banyak menemukan hal hal asing, okay, tapi dengan sambutan yang hangat dari Papa dan anggota keluarganya.

Kayaknya gue mulai ngerasa nyaman dan nggak cemberut² lagi deh. Di lantai satu, gue masih diajak keliling sama Papa, melihat lihat foto yang ada ruang keluarga, sambil pecicilan dikit, gue lari lari di lantai satu, mulai nunjuk ini dan nunjuk itu. Mulai balik lagi, kelakuan lama nya.

Tapi yah, itulah gue, seorang Palma, yang jauh dari Ibunya, dan terdampar jauh dari kampung halamannya, mau dibiasain kayak gimana juga ya kalau hal baru ya enggak bakalan gampang diterima.

Mangakakahi. A place that i will always remember.. That day, i sit in the veranda, just looking, thinking of how far i am from my home...walking around in this big, wooden house.

Kia ora Mangakakahi, Palma. (Welcome to Mangakakahi, Palma) I said in my heart.

* * * * *

WAKTUNYA CURHAT!

Wih, nggak kerasa, udah sekian banyak aja ya cerita dari gue, yaaa walaupun each one of it hanya pendek pendek dan enggak benar benar kompleks, diceritain satu per satu, tapi berurutan.

Persis seperti yang gue mau, karena kalau gue endure atau paksa sampai banyak - banyak begitu, gue nggak suka, bisa juling gue bro, hahahahaha.

Jujur, bagian ke lima ini adalah bagian yang paling life inspiring banget buat gue. Karena di hari hari itu, gue banyak mengenal dunia melalui orang orang yang memang sangat menginspirasi gue, i mean, itu adalah salah satu dari sekian hari bersejarah dalam hidup gue.

Dan orang orang yang barusan gue ceritain itu adalah keluarga gue. Dan orang orang itu, adalah orang orang yang membentuk diri gue di hari ini, orang orang yang baik.

For most of the time, kisah gue memang nggak atau bukan tentang sesuatu yang mistik - mistik, kisah politik, atau kisah sastra yang benar benar romantis dan inspiratif banget gitu, nggak sampai gue mas, mbak. Apalagi untuk yang kali ini, gue coba bikin seringan mungkin aja deh, seperti di awal yang sudah gue sudah ceritakan.

Doyan Cewek, I Am A Boy, setidaknya, mayoritas dari kisah gue akan membahas tentang relationship between gue dan cewek cewek, kenapa gue gemar sama yang namanya cewek, dan kenapa cewek itu mahluk prestisius yang wonderfully crafted, their mind, their behaviour, their eyes. That made me realize cewek adalah mahluk yang perlu diabadikan kisahnya.

Kisah gue ini gue harap akan jadi murni menjadi sebuah life journal, mungkin agak meleset sedikit, gapapa ya? hahahhaha. Kisah yang membahas setiap cewek yang gue temui dalam kehidupan gue, kalau perlu satu per satu, semuanya, di absen kayak literatur eksakta. HAHAHA, BIAR MABOK ILMU, BRO! Kisah yang membahas tentang pekerjaan, drama, kejadian kejadian yang sulit gue lupain dan lain lainnya.

Kisah gue ini, ada senangnya, sedih, datar, dan ada tolol - tolol nya juga... — Ada erotical session atau sesi erotis-nya, yang memang harapannya nanti akan dibahas lebih mendalam, tapi bakal dikemas dengan bahasa yang nggak neko - neko lah bro. Ya kalau gue masih amatiran dalam hal menulis cerita, sungguh, maafkan gue, dear kalian wahai para readers gue yang tercinta.

Karena gue tidak memiliki expertise atau keahlian secara spesifik di bidang tersebut, tapi seenggak nya gue mau jago dalam satu hal lah, gue ingin jago dalam berusaha bikin cerita gue agar bisa jadi semenarik mungkin.

Dan pasti nanti ada saat bosannya juga saat kalian membaca cerita gue ini, pasti kok itu, pasti terjadi, hahahaha.

Nah makanya, mari kita bersama sama berharap dan berdoa gue nggak bakalan goblok ditengah jalan, dan akhirnya memutuskan untuk tidak kembali melanjutkan cerita gue dengan cara mendet sana atau mendet sini.

Lama update atau posting ceritanya, dan segelintir hal hal lainnya. Besar harapan gue kisah ini selesai, dan mudah mudahan nge pas sama jadwal liburan gue.

Karena apakah nantinya kisah gue ini bakalan happy ending atau sad ending, siapa yang tahu? hahaha, nggak enak bro kalau dibocorin di awal awal, bisa jadi skandal publik nantinya (what the fuck?)

Maaf banget yaa, gue udah ngalor ngidul kesana kesini. Yuk deh, kita lanjutin lagi.

Fast Lane 8 - Stewardess affairs, on the surface.

Doyan Cewek, I Am A Boy.


Ayo kita lanjut.

"Thank you Diw udah pegang yoke (kemudi pesawat) nya, yuk, kita landing..." ucap gue setelah kembali memasuki cockpit pesawat gue.

"You are very welcome dear..." jawab Diwangka ramah kepada gue..

"Jangan dear dear in gue lah!" jawab gue ogah di dear dear in sama si Diwangka.

Dannn setelah itu gue pun landing, walking down from the airstair dengan seisi crew pesawat gue, dan kemudian menyerahkan otoritas selanjutnya ke orang maskapai gue di Soekarno Hatta airport untuk menaruh kapal di airport hangar.

Singkat cerita aja, gue bekerja untuk nyokap gue, dan juga seseorang, nah seseorang ini, dia orang besar, tapi gue enggak perlu lebay dengan membesar – besarkan namanya, dia itu... kalau dibilang investor, sudah pasti, kalau dibilang entrepreneur, juga sudah pasti.

Maskapai kita memang nggak ke list di situs - situs dan mobile apps seperti Skyscanner atau Travekola. Jadi kalau mau pakai jasa kita kita harus lewat jalur private reservation. Carter jet pribadi, kalau istilah dagangnya tuh. Dan kita pastinya bukan dari instansi pemerintahan, kalau dari pemerintahan, ya bukan kita.

Bicara soal stewardess, kalau yang hetero, bicara soal mugara, kalau yang homo, hahahaha, bercanda nyet.

Sebenernya sebagai seorang Pilot, elo diberikan wewenang untuk melakukan beberapa hal, gue inget dulu, mulai dari pertama kali gue menjadi seorang trainee, berlanjut ke FO (first officer), JFO, SFO, Commander, sampai akhirnya bisa menjadi seorang Senior Commander.

Level gue saat ini masih ada di commander atau bisa dibilang juga sebagai seorang Kapten, jadi ya nggak boleh dan belum boleh memberikan pelatihan kepada Pilot academy students, karena gue belum certified untuk menjadi seorang instruktur penerbangan.

Tapi kalau kayak PPL, APL, itu semua udah gue kantongi. Nah, kembali lagi berbicara soal stewardess, sebenernya sebagai seorang Pilot, elo dibebaskan buat nge 'seduce' (menggoda) stewardess manapun yang elo temui, entah itu yang satu maskapai bareng elo, atau mau yang enggak satu maskapai sekalipun, ya kalau elo berniat menggoda dan dia sebagai stewardess nya berniat digoda. Hal ini sah - sah saja.

Next part, lo tinggal 'ajojing' dan 'have fun' bareng bareng, bagaimanapun dan dimanapun itu berlangsung.

Tapi kalau opini gue pribadi, hal ini yang sangat gue minimalisir, meskipun gue doyan cewek, enggak membuat gue otomatis menjadi doyan sama mugari. Kenapa? Nihhh.... rahasianya.

'having fun' with a stewardesses is not exclusive. why? karena mostly, meskipun enggak semua, ya, ya stewardess itu juga ada yang senang juga main sama Pilot - Pilot mereka yang lainnya.

Bukannya gue nggak doyan..., tapi kalau enggak eksklusif kayak gue sama Dewinta, atau TTM TTM gue yang lainnya, gue agak jauh jauhi hal seperti ini.

Dan perlu gue peringatkan lagi, enggak semua nya seperti ini..... jadi tolong jangan menganggap bahwa semua stewardess itu seperti demikian.

Beberapa individu yang bekerja sebagai stewardess juga justru sangat kompeten dan gue pribadi pun tidak segan – segan untuk menaruh hormat kepada mereka karena attitude dan kepandaian mereka di dalam bekerja yang tentu saja, sangat bisa diandalkan.

Serta tidak menutup kemungkinan gue juga suka, 'main' sama stewardess dari maskapai gue atau stewardess dari maskapai subtitusi, (maskapai tetangga) karena stewardess kan variatif, nggak cuma itu itu aja.

Asas kenapa kita semua hobi banget 'main' dengan sesama officer, dan co-worker kita, ya jawabannya kita semua udah tahulah ya... naluri kehidupan. Titik.

Udah halus banget tuh bahasanya. Hahahaha. Nah, yang gue maksud stewardess substitusi itu adalah stewardess dari maskapai lain, stewardess yang maskapai gue pinjam, ada yang secara mendadak, dipinjam saat mereka sedang berada di lounge di airport yang ditentukan.

Ada juga yang udah melalui sebuah settlement, atau kesepakatan dari jauh hari sebelumnya, gimana soal fee mereka, itu udah dibicarakan dari awal. Bahkan, kalau klien kita kita duit nya udah bener - bener bocor, 'beberapa' dari stewardess - stewardess itu juga yang menawarkan diri untuk 'have fun' sama mereka (para klien) di pesawat kita kita.

Awalnya gue kesel, kesel banget malah, ngeliat mereka bukannya gawe di kabin belakang, eh malah indehoy sama client gue. — Tapi ya apa boleh buat..., karena seperti itulah bagaimana bisnis di ranah gue ini mengalir.... ya udah, gue okay kan saja, lagian kalau mereka puas, gue nggak bakal mengecewakan atasan gue.

Ujung ujungnya ya..., upper class prostitution, bro. Karena basically, mereka kan servant. Bekerja untuk melayani, tidak membantah. Dah, itu aja, dari 'melayani' aja kan udah jelas kan point nya seperti apa hahahahaha.

Yang jelas, ini semua sangat jarang sekali terjadi di maskapai publik seperti yang elo sering temui di bandara - bandara kesayangan kita semua.

Kan disana macam macam dong bro jenis passenger nya, ada anak kecil... ada om om public officials yang doyan memperhatikan bokong mugari - mugari... ada emak - emak yang bisa maksa masuk kokpit karena pilotnya itu adalah suaminya... (ini kasus baru ya, kemarin gue baru baca, gue rasa ini heboh banget, sekaligus lucu juga..) Jadi dia merasa punya wewenang. juga ada gue waktu masih kecil.

Yang paling bahaya sih itu, kalau ada gue waktu masih kecil, force plane door button lo gue buka. Dhuaaaar! selesai kita semua bro, HAAAA HAHAHAHA!!!

Doyan Cewek, I Am A Boy.


Tapi tenang... di beberapa pesawat, ada kok yang pintunya memang udah didesain sebaik mungkin, jika pada ketinggian beberapa ribu kaki, pintu pesawat tidak akan bisa dibuka, karena beban atau dorongan yang harus dihasilkan untuk membukanya sangatlah besar, emangnya, bro - bro semua bisa buka itu pintu sendirian doang?

Nah... akhirnya selesai jugak ngomongin soal stewardess... masih banyak lagi hal hal yang belum tersibak.... kemudian...

Fast Lane 9 - After Landing




"Diw, cover..." kata gue dengan penuh kehati - hatian.

"Apaan sih pal... nggak ah, nggak lagi lagi." Diwangka menolak untuk meng cover gue. — Sejenak kemudian. Gue memaksa lagi, "Diw, please!"

"No way~" jawab dia sambil membencong lalu mengusir gue dari perlindungannya.

Diwangka dengan logat kemayu tahun lalu nya, menolak untuk meng cover gue ketika kami berdua mulai memasuki Soekarno Hatta airport. Sambil berjalan di belakang Diwangka, gue berusaha untuk bersembunyi di balik punggungnya, dari suatu gerombolan yang memang Tuhan ciptakan khusus untuk merepotkan gue kalau gue udah memasuki Soetta International Airport.

Siapa lagi kalau bukan ex-client, Pilot, Senior Pilot dari International society of woman airline pilots & FA-FA yang aduh.... you know lah bro. Tentunya, mereka semua cewek, bro. Saat gue sedang asyik asyiknya melenggang di lini butik airport... Tiba tiba... "Palmaaa! Hey, Palmaaa!" teriak seseorang dari kejauhan, yang kayaknya sih dia memang sedang memanggil nama gue.

"Hey, Palma... how do you do?" rupanya seseorang itu udah menghampiri gue. Nih bro, suasananya udah mulai horror.

* * * * *

"Oh hi, mbak Lolita, surprising, as usual. How 'bout you, mbak?" gue menoleh, menjawab santai kepada orang ini, yang ternyata adalah seorang perempuan.

Inget dulu aunt Olly sering menambahkan, as usual, di belakang kalimatnya? Nah, akhirnya gue jadi suka mengikut ikuti dia. — "I'm good... I still haven't got your call." jawabnya lagi. — "Ah... You need to call me later, Palma. Kita hepihepi lagi yaa, hihihi,"

Mampus! nggak bakalan beres gue kalau hepihepi sama perempuan yang satu ini, karena ujung ujungnya gue cuma bisa mematung, mirip seperti robot yang sedang kehabisan baterai.

"Eh by the way, habis flight darimana nih, kalian berdua?" tanya mbak Lolita lagi, kepada gue dan Diwangka.

"Dari Bali mbak...." jawab Diwangka menjelaskan.

Kemudian dia membalas Diwangka, "Oh okay, i'll see you around yeah guys." sambung cewek ini yang seolah mau melenggang pergi, namun tahunya malah membalik badannya lagi.

"Palma." tambahnya lagi kali ini, namun dengan nada yang agak memaksa buat gue.

"Yes, Yes, mbak?" jawab gue yang memang suka kaget kagetan.

"Jangan lupa, telpon gue, okay?" perintahnya tegas.

"Sure, sure, i'll call you later, mbak." jawab gue, akhirnya, mencoba berdiplomasi dengan dia.

* * * * *

Mbak Lolita, adalah seorang senior dari salah satu maskapai di Jakarta. Yang namanya senior, pasti identik dengan casing nya yang juga udah senior dong, hihihi. — Tapi sayang, yang satu ini hasrat seniornya luar biasa meledak ledak. Bahkan dulu kalau gue inget waktu gue masih berurusan sama dia untuk mendapatkan rekomendasi pekerjaan, gue harus menjajal dia DELAPAN ronde berturut turut.

Tanpa istirahat, samasekali. — Udah habis berapa botol red bull tuh, sampai - sampai gue harus pakai viagra juga, edan!! dan gimana gue nggak gempor, bro. Delapan ronde! — Itu gila dan hyper banget, nggak ada cewek yang pernah gue temuin, bisa sebanyak itu minta nya. Lagi, lagi dan lagi, ya iyalah dia pasti minta lagi, orang dia tau gue butuh rekomendasi dari dia.

Dan kalaupun ada yang sanggup melayani dia, ya paling male pornstar, kali? — Jadi.... Itulah salah satu dari sekian banyak alasan kenapa gue minta Diwangka buat nge cover gue di airport. Dan rupanya mantan gay itu nggak mau melindungi gue sebagai sahabatnya.

Alasan lain, kenapa? Pertama ya untuk menghindari orang semacam mbak Loli itu, yang hyper abissss, juga untuk menghindari ex-client gue yang notabene nya juga para senior ladies (sebut aja tante, apa susahnya sih) — plus mugari – mugari yang centil dan senang banget ngetek di dekat gue itu... ngejilat jilat gue kayak gue ini eskrim ajaaa. Emangnya gue ice cream ya?

Beberapa saat kemudian, gue kembali bertanya kepada Diwangka, "Diw, udah aman belummm? tega lo yaa enggak nge-cover gue dari si mbak Lolita." keluh gue kepada Diwangka.

"Aman.... Memang, gue sengaja kok." jawab Diwangka, yang tiba tiba jadi super ngeselin.

"Awas lo Diw... Entar gue bawain oleh oleh gaydar ibiza lo ya..." ancam gue kepada dia, walaupun maksud gue sebenernya enggak serius gitu ya...

Masih sambil ngumpet ngumpet di belakang punggung Diwangka, gue berjalan menuju lounge khusus officer maskapai gue yang berada di airport ini.

"Bawa aja, nggak doyan lagi gue...." tantang Diwangka terhadap omongan gue, secara tiba tiba.

"Arggh...! yaudah, yuk, lanjut, cover gue, Diw." pinta gue lagi sama dia. Udah stress banget gue kalau ada cewek lain yang menghampiri gue.

"Iya... Iya..." akhirnya, dia pun menyanggupi maunya gue.

Ada banyak faktor, kenapa gue bisa seperti ini. Faktor pertama, gue adalah private Pilot, i handle bizjet, dan bukan sekedar Airbus atau Boeing dan yang itu itu saja dengan rutinitasnya. — Nah, hal ini menyebabkan banyak airliners menaruh standar yang lebih tinggi dibandingkan commercial airliners pada umumnya, terhadap gue.

Terlebih lagi bagi para women airliners.

* * * * *

Meskipun begitu, gue tetap harus merendah, gue nggak mau meremehkan Pilot inilah, Pilot itulah, semua Pilot itu pada basisnya sama, memikul tanggung jawab transportasi di atas udara. — Dan juga, karena ada yang lebih garang lagi daripada gue, siapa lagi kalau bukan abang abang navy tanah air, Pilot jet tempur dan pesawat militer Indonesia! yang tentunya bertugas untuk nge handle sistem keamanan dan pertahanan negara kita tercinta ini.

By the way, gue ada kenal satu orang, yang kalau udah mengudara, callsign nya udah pasti bikin jiper lalu lintas di udara. — Abang Memed (harusnya sih kodenya Mike) Bravo, namanya. Memed Bravo, hahaha. Temen temen nya, dia namakan garuda timur pride air squad. Kalau udah halo halo di radio komunikasi, patroli, atau cuma bermanuver ria di udara, semua bakal pada hey-ho.

HAHAHA. Apapula ini.

Gue jamin, jiper elo bro kalau ketemu mereka semua. Perawakannya ajegileeee, maskulin nya beda, ya lo bayangin aja maskulin nya navy army, kan beda sama maskulin nya bizjet playboy kayak gue ini, yang cuma doyan sepik sepik iblis. Dan bukannya menyelamatkan negeri, hahahaha.

Faktor kedua, gue pernah dinobatkan sebagai Mr. Party of The Year, ini semacam, acara arisan dan pesta eksklusif bagi para airliners gitu..., along with their socialite friends. — Nggak doyan gue sebenernya, ini semua terjadi gara gara Diwangka CS yang udah menjebak gue ke acara itu. Disana ada adegan dimana gue lagi pakai thong bermotif leopard, nenggak TIGA PULUH shot tequila, sambil muas muasin banyak women airliner yang lainnya. — I know, it's an embarassment.

But at least, itulah secuil gambaran yang terjadi di hari itu, yang gue inget. — Faktor ketiga, resiko menjadi con man, Pilot with confidence and not only their cones head are often found more appealing, more lustful, for the ladies... Ujung ujung nya ya, ladies, bro.

Faktor ketiga, gue jarang banget mengenakan Pilot uniform.

(Yang mainstream itu?~)

Hal ini membuat gue jadi beda sendirian, apalagi kalau gue udah turun dari pesawat, dan sedang berjalan jalan di landasan udara dengan santainya, hingga gue masuk ke dalam airport lobby, gue mengundang banyak pasang mata. — Nah, seperti dari flight barusan saja, gue cuma pakai Polo shirt berwarna hitam, chelsea boots hitam dari Clarks dan charcoal grey formal pants dari Arrow aja...

Arrow, fashion brand jadul dari Amrik, dan bukan barang mahal, yang overprice nggak jelas gitu, tapi kualitas formal pants nya oke punya bro! Cocok buat gue yang nggak mau ribet dan sok fashionable. — Udah, sesimpel itulah busana yang gue kenakan. karena emang nggak setiap flight gue harus, dan diwajibkan untuk mengenakan Pilot uniform.

Kalau flight nya nggak membawa klien atau orang penting sebagai penumpangnya, ya gue nggak diwajibkan untuk mengenakan seragam Pilot, dan menampilkan beberapa atribut dari maskapai gue sebagai suatu identitas.... Berbeda jauh dengan si Diwangka yang Pilot pride nya nggak bisa ditawar sama sekali.

Mau bawa klien apa enggak, tetap, seragam dan pendant harus selalu menempel rapi di badan dia. — Nah, inilah kualitas dari seorang Diwangka yang gue suka, orangnya nggak cengengesan kayak gue, dan dari hal seperti ini, gue banyak banget belajar dari sosok dia.

Faktor keempat. Gue adalah seorang bad... Boy. Yang masih muda. Umur gue dibawah 30 tahun, lo tebak aja berapa. Handle job gede dan ada orientasi kedepannya. Kalau dilihat dari luarnya doang, nih ya. — Gue masih fresh from the oven, banyak cewek (mau yang muda, yang senior sekalipun boleh dehhh.) suka sama gue karena aroma gue memang mirip seperti fresh-baked croissant gituu.... Udah muda, bandel, bikin penasaran, dan aroma nya masih fresh serta kinyis kinyis gitu, apalagi kalau gue udah nempel di G spot mereka. Yeahh...

Nah, cewek mana yang nggak 'lapar' dengan cowok kayak gue ini?

Hampir semua laperrrrrr.... Heheheheeeee.

Setelah tiba di lounge airport kami, gue kembali menyapa Diwangka, "Diw, lo mau pesan apa, ambil duluan deh. Ntar masukin aja ke bill gue." Kemudian gue menyuruh Diwangka untuk memesan beberapa gelas kopi, roti ber dengan peanut butter dan beberapa makanan ringan yang lainnya untuk kemudian disantap olehnya sambil duduk berdua bareng dengan gue.

"Diw, udah aman nih, yuk, duduk." ucap gue karena gue udah enggak merasa cemas lagi.

"Oke...." jawabnya luwes. Beberapa saat setelah kita duduk, saat gue baru akan membuka handphone gue, setelah berjam jam lamanya, gue belum membuka handphone lagi. Tibatiba ada seseorang yang menghampiri gue, dannn..., "Haaaloo Palma..." *smooch* *smooch* sontak gue langsung cipika cipiki dengan perempuan cantik yang sedang menyapa gue ini.

"Eh, Gabby?" tanya gue kaget kepada dia.

"Nggak nyangka gue, kemana ajaa?" tanya gue lagi untuk kedua kalinya.

"Haha, lo kaget ya? Dubai lah~ mana lagi..." jawabnya santai.

Diwangka:

*nge zonk*

"Eh Diw, kenapa lo? Kenalin nih, Gabriele. Gabe, ini Diwangka, temen gue juga."

"Halo Diwangka... salam kenal yaa.." ucap Gabby dengan nada anggunnya itu kepada Diwangka.

Tibatiba Diwangka dengan gagapnya, menjawab, "I, Iya. Iyah, salam kenal dari tyang, yah." Tyang, yang artinya dalam bahasa Bali adalah 'saya'.

"Hmmm, begini deh, kalau udah nge zonk, kasta-nya terjun bebas." sindir gue kepada si Diwangka.

"Hihihi... lucu deh. Eh, Pal, gue pergi dulu ya." sahut Gabby yang merasa lucu dengan tingkah seorang Diwangka.

"Eh, kok buru buru banget sih? Mau kemana emangnya? Anyway, lo masih di Emirates kan?" tanya gue agak cepat kepada Gabriele.

"Iya nih, ditunggu keluarga dirumah, kangeun banget~ Iya, gue masih di Emirates kok. Lo liat deh seragam gue. Emirates khan?" balas Gabby kepada gue.

"Adu.... iya, lupa gue, saking kagetnya gue lihat elo, udah dua tahun kan kita nggak ketemu. Oh, yaudah, temu aja dulu sama keluarga, ntar kita kontak kontakan lagi ya?" jawab gue merespons Gabby.

"Okay.... Pasti. Bye Palma.... bye Diwangka..." ucap Gabby yang mendadahi kami berdua, kemudian dia melenggang pergi bersama dengan travel luggage nya, keluar dari lounge maskapai ini.

"Heh kunyit, jangan bengong aja, di dadah dadahin tuh." senggol gue kepada Diwangka, yang memang seratus persen udah bengong sejak tadi dia melihat kehadiran Gabby di hadapan kami berdua.

"Hah, apa? apa?" and yess, Diwangka baru saja kembali tersadar.

"Where have you been, dude?" tanya gue mendadak.

"I, i, i'm here. Captain." jawabnya kayak orang dongo.

Gue pun hanya bisa menggelengkan kepala, "Ckckck. My lord, Didiw... Didiw."

Bersambunnngg....

Fast Lane 10 - My Lady Is Talking



Same on that day, only, i got to rewind it a little bit back to the previous hour. Thinking about some other thing that goes running on my mind...

* * * * *

"Hmmm, wangi parfum yang kamu pilih ini memang enak, Palma." pujinya kepada seorang gue.

"Makasih bu Dokter..." sahut gue lalu berterima kasih kepada dia.

"Gimana masakan buatanku, enak?" tanyanya lagi kepada gue.

"Superb, milady." jawab gue singkat.

"Sweet. Thank you, Palma..."

"Nggak pernah... Se detik pun dalam hidup aku, aku nggak mensyukuri keberadaan kamu."

"Kamu tuh manis banget ya, aku juga heran. Kayak madu, bikin aku pengen sama kamu terus."

Dia masih mengoceh sendirian dalam suaranya yang lembut itu, memandang dan berbicara kepada gue yang memang bener bener sedang asyik mengunyah makanan gue sendiri. — "Palma... Hellooow...?" hahahah, akhirnya keluar juga ekspresi demikian.

"Hello... Who is this speaking?" jawab gue iseng sambil menaruh tangan gue di kuping gue, seolah olah sedang mengangkat telpon.

"Ish, palmaaaa, ngeselin dehh." sesalnya lucu.

"Hahahah, aku kan lagi makan, cantikku..." jawab gue santai...

"Ya tapi kan bisa... Sambil dengerin aku..." ucapnya lagi.

"Kamu inget nggak, waktu pertama kali kita, ...."

"Eh? Aku lagi makan loh... Jangan pancing pancing aku." warning gue kepada dia.

"Biarin aja, soalnya aku kan jaranggg banget ketemu kamu. Jadi aku mau godain kamu terus menerussss, sampai kamu bosyenn, Palma. — Seenggaknya, sampai kamu 'ngeh' dan mau ngobrol sama aku." tukas dia, berterus terang kepada gue.

Pagi itu, gue sedang menikmati kudapan pagi gue, betul, gue sedang sarapan. Menu sarapan pagi gue adalah semangkuk havermout (semacam bubur yang terbuat dari oat, if you wanted to know) dengan buah dan beri – beri yang terasa manis sebagai topping diatasnya. Ditambah dengan air putih yang dicampur pakai sedikit madu sebagai minumannya.

Jangan tanya kenapa gue nggak doyan bacon dan sausage atau makanan sejenisnya, bukan karena gue seorang vegetarian, tapi karena makanan nikmat - nikmat itu ada efek samping nya ke jantung gue. Masa jantung gue harus di ring, masih muda, Masa udah di ring lagi...

Well.. suasana pagi hari itu... cerah, itu, yang gue inget, dengan pemandangan pagi yang indah. Dan angin pagi khas zona Indonesia tengah yang sangat mendamaikan jiwa.

Gue duduk, berdua, berhadap - hadapan dengan dia. Di samping meja makan kami, dengan cahaya matahari pagi yang menyinari kami berdua, menembus dari ruangan yang hanya dihalangi oleh jendela kaca di villa miliknya ini.

Menyinari kami, yang sedang saling berpandangan wajah dan berbagi cerita. Sesekali gue lirik, jauh ke pantai Berawa, sapuan ombak nya terkadang mengingatkan gue akan sesuatu. — Tentang beberapa cerita lama diantara kami berdua, namun tidak pernah satu detik pun gue bosan mendengarnya.

Hanya kadang, gue bertingkah seolah olah tidak mau mendengarkannya. Sebetulnya, itu hanya salah satu bentuk kejailan gue aja. Yang kadang masih harus gue urusi karena dia pernah kelewat ngambek, Cuma garagara hal begini doang...

"Kalau kamu kangen... Kenapa nggak ikutan aja..." undang gue kepada dia.

"Yah... Palma. Kan aku takut terbang... Lagian kan aku mau disini dulu sama temen temenkuuu."

"Hm... Hm..." gue pun cuma bisa menggumam singkat.

"Ih, kamu tuh gitu deh ah..."

"Palma, dengerin aku sebentar ya?" tanya dia kepada gue yang masih asyik makan.

"Iya... Apa milady..." ucap gue lalu menyahuti omongannya.

"Palma... Kalau aku bilang aku kangen sama kamu, aku serius Palma..."

"Belakangan ini... Babap (panggilan untuk bapak dalam bahasa Sund@ yang cukup halus yaa katanya, atau setidaknya, itulah cara dia ketika memanggil bokapnya itu) lagi sibuk - sibuk nya ngurusin kasus, sidang dan segala macamnya kerjaan dia Palmaa... Dan aku ke sini tuh sengaja, aku mau break, tarik nafas dulu dari aktivitas perkuliahanku...."

"Aku kan mau ketemu kamu... Yah, meskipun disini ada teman temanku juga, dan aku bakalan ikut bantuin nge-arrange party mereka... Kan tetep... Aku maunya sama kamu..."

"Masa kamu mau aku minum obat tidur ku lagi biar aku bisa naik pesawat terus dibikin pusing lagi sama kamu... Ntar kalau aku overdosis gimana loh... Nanti kalau aku pingsan terus, kan nggak bagus...."

"Ya intinya... Aku lagi nggak pengen jauh dari kamu, itu aja deh... Aku mau kamu disini dulu..."

"Hmm..." gue bergumam lagi, dan ingin lanjut berbicara, namun, ucapan gue dipotong olehnya, "Tunggu sebentar, aku belum selesai ngomong, hihi." — "Anyway, untuk skejul kali ini, karena tante Elfa yang minta, aku lolosin kamu ya... Tapi enggak! Buat yang nanti nanti."

"Kamutuh harus libur dong Palma... Please... Jangan jadi workaholic... Kamu nggak kasian apa sama dirimu sendiri..."

"Hm... Ngomong - ngomong, party teman kamu ini diadakan dimana sih?" tanya gue menanggapi.

"Di Potato Head Beach Club Palma.... Kamu gitu ya... Ngalihin topik pembicaraan aku..."

"Hih, siapa juga yang ngalihin..." sanggah gue enggan disalahkan.

"Palma...." ucapnya, sambil memasang wajah sedihnya itu, dia memandang gue, dan apalah daya gue, kalau wajah sedihnya itu udah timbul untuk memohon.

"Iya... Iya... Maafin aku..." jawab gue memohon kepada dia agar dia tidak bersedih.

"Denger ya... Cantikku... Cintaku... Permata hatiku..."

"Hihih, gombal! bytheway, kamu mulai kedengeran kayak ibumu deh." sindirnya kepada gue.

"Eh ya... mau di lanjut nggak nih?" tanya gue singkat.

"Hihi, iya iya, lanjut dehh." sambungnya lagi.

"Listen up." sambung gue lagi.

Coba tebak, siapa sih cewek diatas itu?

Fast Lane 11 - Talking Together

"Listen up." ucap gue memerintah dirinya.

"Yes sir! I'll... Listen carefully...." kata dia menanggapi perkataan gue.

"Okay, first, dan habis ini, aku mau ngalah sama kamu. But, just one more flight, Okay? Habis itu, nggak bakal ada flight lagi sampai Februari mendatang... Secondly, and honestly. Well, i dont know the second thing, you better tell me, perhaps i'll grant what you wish..." sambung gue berkata – kata kepada dia.

Buat gue, ketika berbicara dengan cewek, atau wanita, atau apapun itu, gue nggak mau terlalu ambil pusing. Berikan aja dulu apa yang mereka minta, lihat ke mana arahnya. Dari situ, tentukan lagi langkah selanjutnya, dan selesai.

"Hahahahaha, love you Palmaaaa. Nanti kita beep beep yuk?"

"Ohh no, not again." jawab gue mencoba menghindari.

Jangan senang dulu bro, beep beep nya milady ini disini bukan beep beep biasa yang ada dipikiran kita kita para pria. Ini sih beep beep nya main ke Disneyland, brooo.

Beep beep nya ini adalah beep beep nya anak anak ekstrover yang doyan mengelilingi seisi kota sampai introver kayak gue dibikin mabok, ceritanya piknik tapi mabok, mabok tapi piknik. Halah, sama aja.

"Ihh, Palmaa... Ini tuh bakalan rame tauuu."

"Okay, whatever you want. Anyway, apa kabar babapmu itu?" tanya gue mengenai kabar bokapnya.

"Babap sehat kokk. Kan aku udah bilang tadi, dia lagi sibuk ngurusin kasus kasus gitu Palma.."

"Kasus apa emang nya?" gue kembali penasaran.

"Kasus kasus korupsi uang negara gitu... Katanya buronan nya lari ke singapur... Korupsi uang pajak. Gila deh, aku nggak kebayang tiap hari babap ngurusin orang yang kaya gitu. Orang yang pengen cepet kaya dari mengambil dana dan hak negara. Gimana kalau aku jadi dia ya, pal?" tanyanya kepada gue, yang sesungguhnya, gue pun tidak bisa membayangkan kalau dia sekarang mengambil profesi seperti yang dilakukan bokapnya itu.

"Aku salut sama babapmu itu," tambah gue secara jujur.

"Dia mengabdi buat negara ini, meskipun mungkin banyak kolega dia yang udah terima salam tempel. Tapi enggak babap ambil tuh kayanya..."

"Yapp, itulah kerennya babapku, Palma." sambungnya jail.

"Dan Dee, kan nanti juga kalau kamu udah jadi Dokter spesialis kandungan, kamu juga bakal dibikin ribet lhoo. Eh, babapmu itu kan di kejaksaan, ngomong omong, dia masih di kejaksaan tinggi?"

"Makasih Palma... Iya, babapku itu tetap netral kok, kupikir mungkin karena aset dia udah banyak kali ya, jadi dia nggak terima salam tempel itu. Lagian, prinsip dia dari dulu kan masih sama aja. Justice for all. Heheheh." kekehnya singkat setelah dia mengucapkan prinsip babapnya itu.

"Oh. Babapku udah enggak di kejaksaan tinggi lagi Palma, udah dapet promosi, sekarang dia udah di kejagung. Ih iya ya, bener juga ya kamu, dari kemarin juga aku pegang pegang mayat terus kok. Simulasi jadi koroner gitu... "

"Wah, sampaikan ucapan selamatku ya buat babapmu kalau gitu. My lord, di kejagung? berarti bakal banyak konsolidasi bareng KPK, ICW, BIN, sama partai partai politik tuh babapmu Dee. Dan bakal makin banyak salam tempel tuh, atmosfir politiknya bakal makin 'hot', hehehe." jawab gue mengomentari lagi.

"Hmmm, mulai deh, nggak lucu ah, pakai mayat2an segala." tukas gue kepada dia, menyesal karena mendengar kata 'mayat'.

"Iya... Nanti aku sampaikan ucapan selamatmu ke babapku yaaa. Iya, babap di Jakarta sekarang. Dia dikasih rumah dinas disana."

"Hahahahaha palmaaaa, Palma fobia sama mayattt, satu lagi, Palma takut sama hantuuuu hahahaha." tawanya puas meledek gue.

"Daripada kamu, phobia ketinggian." ledek gue balik kepada Dewinta.

"Wleee, biarin hahah." balasnya lagi. Saat itu kami berdua tertawa lepas, ada senang yang gue rasakan, ini seperti, mengulang kembali kebahagiaan gue dan dia dari masa masa yang udah berlalu.

Ini seperti, momen yang gue suka sekali, bisa berbincang bincang dengan si dia. Dia tersenyum, kemudian beranjak dari kursinya, dan sekarang, datang untuk duduk di sebelah kursi gue, kursi dimana gue sedang sarapan di pagi hari itu.

"Eh, eh, ngapain lo deket deket?" cegah gue sama dia.

"Hahahaha. Biarin dong palmaaaa, sukasuka guee." isengnya lagi.

"......" — gue pun hanya cuek, dan kembali mengunyah makanan gue.

"Kayanya enak banget ya havermout buatan aku?" dia, sambil memandang wajah gue tepat di sebelah gue, menantikan jawaban gue dengan secuil tanya.

"Emmh, banget." gue sambil menjilat havermout yang menempel di bibir gue ini, memuji masakan buatan dia.

"Kamu mau nggak, kalau punya istri kayak aku?" tanyanya penasaran.

"Uhuk uhuk, aduh tolong tambahin airnya... aku keselek." ucap gue yang tibatiba keselek makanan. — What the fuck? Gimana nasib ke pleiboi-an gue bro kalau gue udah beristri? Nggak bisa main cewek lagi nanti gue.

"Oh, iya iya. Sini aku tambahin." dia langsung menambahkan air putih ke gelas gue, setelah itu gue langsung meminum air yang dituangkan nya kedalam gelas gue.

"Eh, kok gitu, nanya nya?" tanya gue kemudian, penasaran sama dia.

"Hihih, enggak... Iseng aja, nanya." — "Kamu keselek ini pasti karena pertanyaanku ya?" yang kali ini, dia bertanya serius kepada gue.

"Enggak, kamu suka berprasangka yang aneh aneh aja ah." kata gue kemudian.

"Maafin aku, ya? Hiks.." — Dan dia mulai menangis.

"Eh, kok? Jangan nangis dong..." cegah gue kepada dia...

Di momen itu, gue melihat tetes air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Matanya yang berkaca kaca, sukses mengalihkan gue dari aktivitas mengunyah makanan gue yang nikmat itu. Kini, dia yang sedang duduk dengan kedua kakinya tersilang diatas kursi itu, tepat di sebelah gue, dengan kemeja putih acak acakan dan short pants putih favoritnya, dia termenung, menundukkan kepalanya.

Dengan rambutnya yang tergerai panjang, kulitnya yang nampak halus dan putih, seolah harmoni pagi memang sedang bersama dia. Namun sayang, hatinya sedang sedih.

Seorang perempuan, seorang cewek yang udah gue kenal bertahun tahun lamanya, jarang sekali bersedih seperti saat ini, sebenernya. Saat itu.... gue memutar otak, sebagai cowok, gue nggak mau salah tingkah hanya karena membercandakan rasa sedihnya lagi. Enggak, buat momen sedihnya yang kali ini. Karena gue yakin, ada alasan yang amat sangat mendalam dibalik sedihnya ini.

Jadi....

"Kesini, coba cerita kenapa..." dan yang gue lakukan adalah... memeluk dia.

"Aku kangen ambu... Palma. Aku kangen kamu..." ambu, adalah panggilan untuk Ibu dalam bahasa Sund@.

"Sini... Aku juga kangen kamu...." pelukan gue buat dia semakin erat di pagi itu, tapi dia masih tertunduk.

"Bohong...." ucapnya lesu, dalam tunduk, kepada gue, seolah olah maksudnya memang begitu.

"Kesini..." gue pegang pipinya dengan kedua tangan gue, gue hapus air matanya perlahan lahan.

"Lihat aku." ajak gue, lalu dia melihat gue, meski sedang bersedih, wajah cantiknya itu enggak pernah hilang.

"......" kemudian dia pun melihat gue, dalam tatapan manjanya

"Aku paham kamu kangen ambu.... aku paham kamu kangen babap.... aku juga paham kamu kangen aku...." jelas gue yang udah mulai berbicara... sambil memegang pipinya yang udah basah banget ini.

"Sini Dee...." *cup* — Gue mengecup hangat ujung bibirnya...

"...." Ciuman kami semakin intim. Ketika gue mencium dia pada saat itu, rasanya asinnnn sekali, tentulah karena air mata si dia. Tapi gue nggak peduli, gue nggak peduli mau bagaimanapun rasa dari air matanya itu, karena gue sayang dan care sama dia, gue mengerti apa yang sedang dirasakannya pada saat itu.

"Ah...."

"Jangan Palma..."

"Udah palm...."

"Palma..."

"Sssh..." desis gue mengatur dia.

"Emmhh...."

"Palmahh, ahh, Palma please...."

Lama kelamaan, gue mulai kelewatan, jari jemari gue yang evil dan jail mulai mengeksplorasi mahkota-nya.... you guys know lah ya... Disaat gue sedang bener bener menikmati momen ini.... Bahkan setelah tadi pagi gue mandi bareng dia... Tiba tiba gue kaget, karena dia bilang;

"Palma, tuhkan... aku basah nih..." keluhnya manja...

"Yahhh basah, yah, ya, udahan ah." ucap gue jail menyudahi adegan barusan itu.

"IH PALMAAAAAAAAAAA!!!" dia berteriak, gue kabur sambil ketawa ketawa, dia mengejar ngejar gue di pagi itu, kami berdua kejar kejaran di meja makan miliknya. — Kenapa gue nggak lanjut? Karena gue rasa, cukup sekian. Gue ada kerjaan lagi soalnya, hehehe.

Ah... hahaha, gue inget pagi itu, pagi yang memang indah...

* * * * *

Karena agan shegate7 bener dalam menjawab tebakan dari gue mengenai siapa sih cewek diatas itu... Jadi, gue beberkan aja ya. — Cewek diatas adalah Dewinta. Dua chapter diatas gue tarik balik dari pas gue lagi duduk - duduk di lounge di bandara. Di pagi hari setelah gue mandi bareng dia, sebelum gue berangkat ke bandara. Milady itu sebenernya adalah sebuah istilah, yang artinya My Lady. Istilah ini jadi sebutan sayang lain dari gue buat Dewinta.

Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di