CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pantaskah Aku Merindukannya?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da9e7912f568d75ff7fbf14/pantaskah-aku-merindukannya

Pantaskah Aku Merindukannya, Ketika Aku Terlambat Mengungkapkan Cinta?

Spoiler for Gambar: Kompasiana:


Teringat kata-kata dalam text sebagai balasan dari perasaan yang belum sempat kuutarakan. Aku mencari kemana-mana. Bahkan siang ku kelilingi teriknya matahari. Malam ku telusuri gelap bersama bintang-bintang pengharapan untuk bisa menemuinya.

Spoiler for Pesan Singkat:


Deg!

Aku mengernyit. Walau hanya melalui tulisan, tapi terngiang ditelingaku. Suaranya yang penuh ketegasan. Intonasi yang tak lagi sama. Dan terbayang bagaimana ekspresinya. Seakan-akan ia mengatakan secara langsung. Aku merasa bagaikan mendapat tamparan yang sangat keras. Sakit.

"Tapi, aku udah nyaman sama kamu. Aku ingin bilang, kalau aku suka sama kamu. Aku mau kita pacaran secara resmi sekarang," suara dari hatiku terdengar lemah.

Aku tak tahu harus bagaimana waktu itu. Tubuhku lemas. Lunglai. Kakiku tak lagi dapat menopang tubuhku yang hanya kecil ini. Aku hanya bisa duduk pelan dikasurku yang berspray biru bunga-bunga. Berdiam seorang diri. Kosong. Kepalaku serasa tak berisi apapun. Berteman sunyi hanya dengan handphone kecil yang menjadi saksi suka dukaku.

Aku mencarinya untuk menyampaikan perasaanku. Tapi sepertinya aku sudah terlambat. Aku begitu lamban meyakini perasaanku. Dan aku menyesal.

Spoiler for Tanpa Kabar:


Aku menjalani rutinitasku. Kuliah dan bekerja paruh waktu. Membeli Smartphone untuk membantuku menyelesaiakan sesuatu dengan praktis.

"Halo, apa kabar? Apa kita bisa bertemu?"

Tiba-tiba ada pesan masuk dari seseorang yang tak pernah kusangka sebelumnya. Ditya. Orang yang selama ini menghilang setelah pesan terakhirnya yang mengatakan ingin belajar melalui harinya tanpa aku.

Hatiku berdegup. Tapi bibirku tersenyum. Ya. Aku bahagia dia mencariku dan mengajak bertemu.

"Alhamdulillah sehat. Bisa. Jemput aja."

Aku membalas pesannya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Intinya aku merasa bahagia.

Kami makan malam bersama di kafe yang memang sudah kami rencanakan beberapa bulan lalu. Ini adalah salah satu tempat yang dia janjikan untuk makan malam kami sebelum kami los kontak beberapa bulan lalu.

Yah, kukatakan lagi, aku sangat bahagia. Tapi aku juga merasa was-was. Di kafe mahal dengan dekorasi yang romantis. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, dia akan mengajakku ke tempat ini setelah lama kami tak berkomunikasi. Dia menepati janjinya, walau aku sudah lupa.

"Bagaimana kuliahmu?" suaranya memecahkan keheningan.
"Alhamdulillah lancar. Kamu kemana aja selama ini?" Aku menjawab dengan ekspresi yang aku sendiri tidak tahu. Tapi aku merasa aku sambil tersenyum dan gugup.

"Aku di Tangerang. Kerja. Yaa lumayanlah. Belum wisuda tapi udah ditarik kerja sama perusahaan."
"Wah, keren." Jawabku penuh kekaguman.

Seorang pelayan datang ke meja kami dan menyodorkan eskrim yang kami pesan, dan makanan ringan.
"Terimakasih," kataku sambil tersenyum. Dan pelayan perempuan berparas ayu itu membalas senyumku sambil berlalu.

"Oh iya, gimana kegiatanmu di kampus? Berapa nilai terakhirmu?" pertanyaan Ditya seperti sedang mengintrogasiku.

Aku merasakan raut wajahku berubah. Aku tidak ingin menceritakan tentang aktivitas ataupun prestasiku yang menurun. Aku hanya ingin bersamanya. Menceritakan tentang kita. Aku ingin mendengar ceritanya. Aku ingin bercanda ria dengannya. Tapi ... .

"Nilaiku turun. Kegiatan organisasiku terus berjalan." Jawabku dengan nada yang tidak semangat.

"Loh, kok bisa sih? Kamu udah gak semangat lagi?" respon laki-laki didepanku seperti sangat kecewa.

"Udahlah, enggak usah dibahas." Timpalku cuek, sambil menahan rasa sakit didada yang aku sendiri tidak tahu kenapa.

Aku merasa Ditya sudah berubah. Disini dia menceramahiku panjang kali lebar kali tinggi tentang masa depan. Bahkan terdengar dia seperti menuntutku. Tidak seperti yang kukenal dulu.

Ditya yang ku kenal dulu sangat mendukungku. Memberikan semangat. Menasehatiku dengan cara yang menyenangkan hingga aku bisa memperoleh nilai yang sangat memuaskan waktu itu. Tapi sekarang, dia seperti mengungkapkan kekecewaannya padaku. Entah itu untuk nilaiku yang turun, atau karena masa lalu atau karena dia tidak melihat masa depanku yang cerah.

Aku jadi tidak bernafsu menyantap makanan didepanku. Tapi aku terus memasukkan sendok demi sendok eskrim dari gelas berkaki di tanganku. Aku menjadi pendiam seketika. Dan aku rasa dia menyadari itu. Namun dia membiarkanku.

Tak banyak pembicaraan diantara kita. Tempat romantis yang harusnya menjadikan malam semakin indah mendadak menjadi mencekam. Kemudian kami memutuskan untuk pulang saja. Setelah membayar pesanan kami, Ditya mengantarkanku kembali ke kos.

"Makasih ya," sambil tersenyum, aku turun dari motornya.
"Aku langsung pulang ya...." sambil menstater motornya, Ditya langsung melaju hilang ditelan kegelapan.

Setelah itu Ditya tidak ada kabar lagi. Aku hanya melihat aktivitasnya di media sosial yang tidak banyak meninggalkan jejak. Karena pada dasarnya, dia memang tidak suka menampilkan aktivitasnya di media sosial. Hingga aku menyadari, bahwa aku tak pantas untuknya. Masa depanku belum jelas. Sedangkan dia sudah memiliki pekerjaan dan akan melanjutkan study-nya lagi untuk menunjang jenjang karirnya.

Dan aku, aku menjalani perkuliahanku, seperti biasa, aku juga masih melanjutkan kerja paruh waktu. Tapi kali ini aku mencoba merubah penampilanku. Dari yang semua aku tidak berhijab, menjadi berhijab.

Aku memutuskan berhijab dengan berbagai pertimbangan. Yang pertama, aku tahu Ditya tidak menyukai wanita yang berhijab. Dan yang kedua, aku ingin menutup auratku dari godaan mata lelaki yang penuh dengan nafsu birahi. Dengan pertimbangan yang ke dua, akhirnya aku memutuskan untuk berhijab.

Dari sapaan "suiit, suuiits," sepanjang perjalan ke kampus, akhirnya menjadi do'a pendek yang menyelamatkan. Sapaan salam. "Assalamu'alaikum mbk." Begitu kiranya.

Seperti gadis-gadis pengguna media sosial lain, aku suka mengganti-ganti foto profilku dengan foto-foto yang terbaru. Kali ini, berfoto profilku menggunakan hijab. Berbagai komentarpun muncul. Ada yang pro dan ada yang kontra tentunya.

"Ping. Sekarang kamu menggunakan Hijab Mars?" Komentar dari akun dengan profil pria berkaca mata.
"Hehe, iya Dit, begitulah." Balasku dengan emoticon tersenyum.
"Kalau gitu kita tidak usah ketemu lagi mulai sekarang. Kecuali kalau kamu mau melepas hijabmu ketika menemuiku." Kata Ditya dalam komentar yang tidak sanggup lagi aku bisa menjawabnya.
Aku hanya bisa menahan perasaan sesak. Aku benar-benar tidak percaya kalau Ditya bisa melakukan ini terhadapku. Akhirnya aku memutuskan untuk pelan-pelan melepaskannya.

Bahkan ketika dia wisuda, dia tidak pernah mengabariku. Aku hanya bisa tersenyum melihat foto-fotonya mengenakan toga. Aku turut bahagia.

Beberapa bulan kemudian, dia sudah menjadi mahasiswa lagi di PTN Swasta. Melanjutkan pendidikannya. Dalam diam aku mendukung dan mendo'akannya. Aku juga melihat, dia sudah memiliki kekasih yang cantik. Yang selalu ada di dekatnya. Yang selalu bisa ia banggakan. Dan aku pun ikut bahagia melihat ia bahagia. Walau tak bersamaku.

Bentuk dari kecintaanku pada cinta yang tak bisa kumiliki, yaitu melihat dan mendo'akan ia selalu bahagia. Walaupun bahagianya tidak bersamaku. Karena bagiku, cinta itu tidak memaksakan seseorang itu untuk bersama dengan kita. Tapi cinta itu membahagiakan, walau hanya dengan do'a, walaupun tak bisa memiliki. Bukan kah ada yang mengatakan, bahwa cinta tak harus memiliki?

Begitupun denganku. Aku bahagia melihat orang yang kucintai bahagia. Aku mendo'akannya agar dia mendapatkan wanita yang bisa mengimbanginya. Wanita luar biasa cocok untuknya.

Quote:


Aku disini, masih mengenang masa-masa indah yang pernah ia lukiskan. Mengenang merdunya suara cinta yang pernah ia nyanyikan. Dan menjaga ketulusan cinta yang pernah ia berikan. Mencium harumnya mawar merah dan mawar putih sebagai perwakilan hatinya yang belum sempat kujawab dengan jawaban yang pasti.

Terngiang jelas bayangannya yang menunduk, menekuk satu kakinya sambil mempersembahkan buket yang berisi mawar merah dan mawar putih.
"Kamu tahu apa arti dari mawar ini?" tanyanya.
Aku hanya menggeleng.
"Mawar merah ini, menandakan cinta. Sedangkan mawar putih ini, menandakan ketulusan. Jadi, maukah kamu menerima cinta tulus dariku?"

Aku sangat bingung waktu itu. Aku tidak bisa menjawab apapun. Jantungku berdebar begitu kencang. Aku sangat gugup. Tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin karena aku tidak menyadari bahwa yang kurasakan adalah cinta. Karena saat itu aku masihlah gadis dari desa yang masih polos, yang tidak begitu paham tentang cinta.

"Tak usah dijawab sekarang kalau kamu belum bisa menjawab. Aku akan menunggu. Hubungi aku kalau kamu akan memberitahukan jawabannya."

Aku lega mendengarnya. Ditya masih memberiku waktu untuk menjawabnya. Setidaknya aku akan menyiapkan diriku dulu, hingga aku benar-benar siap mengatakannya.

Tapi apa yang terjadi? Aku sangat terlambat. Begitu menyesakkan. Tapi aku harus mampu mengikhlaskan. Walau terkadang aku merindukannya.

Entah seberapa pantas ku merindunya. Dan apakah aku pantas untuk merindukannya? Aku tak peduli. Di bangku panjang ini, ditemani angin sepoi ditaman ini, aku hanya ingin merindukannya. Mengingat masa-masa indah bersamanya. Melihat lalu lalang kendaraan yang lewat dan melihat anak-anak kecil yang asik ditemani orang tuanya di tempat ini. Di tempat disaat aku dan dia bisa bermain dan tertawa lepas.

Quote:
Diubah oleh missmars


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di