alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sang Pemrogram Pikiran
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9f581bf4d6954ef732f180/sang-pemrogram-pikiran

Sang Pemrogram Pikiran

Part 1, Prolog
Sudut pandang Jafar :
Aku adalah seorang programmer. Salah satu hobby-ku adalah menciptakan library yang kemudian aku bagikan secara gratis secara online. Yang kurasakan adalah asyik saja melakukannya walaupun itu tidak mendatangkan uang secara langsung. Aku sering melihat orang-orang di dunia online berbagi library dengan suka rela. Aku pun tertular dengan karakter mereka.
Aku pun punya kemampuan menggunakan berbagai bahasa pemrograman. Terasa keren saja jika aku mempunyai kemampuan tersebut. Itulah motivasiku mempunyai berbagai skill. Terlihat keren! Aku pun tidak hanya asal bisa tetapi aku mendalaminya juga.
Aku kadang tidak perlu membuka dokumentasinya jika aku sedang ingin riset. Aku cukup membaca kode orang lain. Sehingga aku mempelajari cara berpikir orang lain dengan mempelajari kode yang mereka buat.
Aku juga mempunyai ingatan yang kuat. Ini anugerah yang luar biasa. Bukan sekedar ingatan yang kuat. Berikut ini cuplikan kisahku tentang betapa kuatnya ingatanku.
Ketika itu aku di kantor dan perkembangan program untuk membantu operasional kantor yang kubuat sudah cukup bagus. Aku pun akan menunjukkan program itu ke Linda. Rekan sekantor yang akan menggunakan program tersebut.
“Hei, Lin.” aku menyapa dan mendatangi teman sekantorku tadi. Kulihat dia asik dengan media sosialnya.
“Ada apa?”
Aku pun mengirim akun berupa username dan password untuk mengakses programku lewat media sosialnya. “Itu username dan password program yang akan kau pakai. Bisa pinjam komputernya?”
“Iya. Silahkan.”
Aku pun membuka media sosialnya untuk mengambil username dan password yang kukirim tadi. Sebenarnya itu akal-akalan saja. Akun yang kupakai tadi sebenarnya adalah alibi saja untuk membuka media sosialnya. Aku membuka media sosialnya kemudian kupakai fitur Web Developer di browser tersebut. Fitur yang kupakai adalah melihat cookiesnya. Lalu aku tutup fitur tadi. Dia tidak melihat wajah kecurigaan sama sekali.
Lalu aku mengajarinya untuk menggunakan program yang kubuat. Aku juga menampung masukan-masukannya. Setelah itu aku kembali ke meja kerjaku.
Aku tahu tentang konsep cookies. Itu seperti identitas yang diberikan oleh situs internet ke web browser yang dipakai. Identitas tersebut sangatlah unik. Jika aku mendapat identitas browser orang lain dan memasangnya di web browserku aku bisa dianggap situs tersebut sebagai orang yang kucuri cookiesnya itu.
Aku bisa melihat ingatanku seperti orang melihat video atau melihat foto. Aku pun mengetik cookies yang aku lihat di ingatanku. Kemudian setelah selesai aku suntik cookies tersebut ke browserku. Boom. Aku masuk ke media sosial sebagai Linda. Aku tidak membaca pesannya atau status-statusnya. Tidak ada minat untuk itu. Aku hanya ingin bermain-main saja.
Aku hanya ingin bermain dengan mempraktekkan konsep kerja cookies dan kekuatan ingatanku. Aku awalnya sebagai programmer yang berpemahaman yang penting jalan tanpa memahami konsep.
Selain itu kalian yang sering melihat situs yang meminta persetujuan untuk memakai cookies. Mereka sebenarnya seperti memberi “identitas” padamu dan mendapat pola aktivitasmu di website tersebut.
Diubah oleh alvarito
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Part 2, Darimana Kelebihan Itu Datang
Sudut pandang Jafar:
Kemampuan yang aku miliki tidak murni sebuah anugerah dari Tuhan. Ada alat yang ditanamkan dalam tubuhku sehingga aku bisa memaksimalkan kemampuanku. Alat itu ditanamkan sejak kecil.
Awalnya, waktu kecil aku dinyatakan terkena penyakit kanker darah. Orang tua ku tidak punya dana yang cukup untuk biaya pengobatan. Namun aku punya bakat dalam bidang matematika. Aku sering menang lomba matematika.
Bakatku pun tercium oleh sebuah agensi negara. Mereka tahu kami dalam keadaan sulit dan menawarkan solusi pada keluarga kami.
Mereka ingin menanamkan sebuah nano komputer pada tubuhku. Nano komputer tersebut sudah teruji pada binatang dan aku akan menjadi manusia pertama yang akan ditanama nano komputer yang sedang dikembangkan oleh agensi negara tersebut.
Sebagai imbalannya, mereka akan membiayai seluruh biaya pengobatanku. Biaya pendidikkan juga mereka akan biayai. Mereka juga akan memberi pelatihan padaku agar aku bisa memaksimalkan kemampuanku
Dengan nano komputer tersebut, mereka mengatakan aku bisa lebih mudah mengembangkan kemampuan diriku. Selain itu, nano komputer dapat mengumpulkan data-data yang ada pada tubuhku.
Mereka juga meminta komitmen keluargaku untuk membuatku berkomitmen untuk melaksanakan tugas negara. Terserah aku jika aku saat dewasa aku bekerja untuk swasta ataupun sebagai pegawai swasta. Tapi aku harus menjalankan misi yang diberikan kepada agensi negara tersebut.
Keluargaku pun menyetujuinya dan aku harus membayarnya. Membayar jasa tersebut dengan kontribusi untuk negara.
Setelah nano komputer tersebut terpasang. Awalnya aku belum merasakan perubahan apapun dalam kemampuan otakku.
“Komputer yang dipasang di otakmu saat ini hanya bisa mengumpulkan data yang ada pada tubuhmu.” kata Pak Syarif. Dia seorang perwakilan dari agensi negara.
Aku digembleng untuk melatih otakku. Aku diberi tes seperti tes IQ. Aku juga disuruh untuk melatih otakku dengan bermain game puzzle. Aku menyukainya. Aku lebih menyukai ini daripada pelajaran yang diberikan oleh sekolah.
Mereka bilang, hidupku akan terjamin jika aku mengikuti instruksi dari mereka. Sedangkan soal sekolah, kata mereka yang penting aku jangan sampai tinggal kelas. Itu karena bisa membuat aku dan keluargaku malu. Hal yang wajar terjadi di masyarakat kita sekarang.
Aku pun tertarik dengan dunia pemrograman. Aku sudah mengenal bagaimana cara memrogram dari buku. Aku awalnya menganggap programmer seperti penyihir. Mereka bisa menciptakan suatu hal yang luar bisa dengan teknik yang bisa dilogika.
Selain itu, aku ingin memaksimalkan nano komputer di otakku dengan kemampuan programmingku ke depannya yang kemudian aku bisa memaksimalkan kemampuan diriku.
Aku bersyukur dengan penyakit yang kuderita. Dengan penyakit itu, orang tuaku tidak ada pilihan selain menerima tawaran dari agensi negara dengan menanamkan nano komputer itu pada tubuhku. Aku juga bersyukur terhadap Tuhan karena jika bukan karena aku dianugerahi kemampuan berlogika yang lebih, agensi negara hanya akan abai padaku.
Mereka takjub dengan perkembanganku. Aku di saat dewasa punya kemampuan luar biasa di atas manusia jenius sekalipun. Aku merasa bahagia dengan apa yang aku dapatkan.
Walau begitu penyakitku saat ini masih belum disembuhkan. Tapi hal itu tidak membuatku stress. Aku tidak terlalu memikirkannya.

Diubah oleh alvarito
Part 3, Sebuah Langkah Besar
Saat aku masih kecil. Ya, kira-kira waktu SMP lah. Aku lebih suka bermain permainan yang mengasah otak. Mulai dari yang gratisan seperti Minesweeper sampai yang berbayar. Tentunya yang membayar game yang kumainkan adalah A2. Agensi negara yang menghidupiku.
Aku juga mulai dituntut untuk bisa menguasai banyak bahasa. Bukan hanya bahasa luar negeri, tetapi juga bahasa daerah. Saat itu aku belum berpikir tentang apa manfaat yang aku peroleh jika aku menguasai bahasa daerah lain. Kurang keren sih sepertinya. Apalagi ada Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi.
Pak Syarif pun mengajakku berbicara dalam bahasaku. Aku tertarik kenapa dia bisa bahasa daerahku. Percakapan berikut ini dalam bahasa daerahku yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.
“Bagaimana perkembangan kegiatan sekolahmu?” kata Pak Syarief.
“Lhoh bapak bisa bahasa daerah saya?” kataku kagum.
“Bisa lah. Bapak belajar. Bagaimana nilai-nilaimu?”
“Standar saja. Saya dapat nilai jelek di pelajaran Pendidikan Pancasila.”
“Kenapa?”
“Aku tidak menjawab sama seperti di buku.”
“Tidak apa-apa. Tapi ingat ya. Jangan sampai tinggal kelas. Kamu bisa sangat malu.”
“Bagaimana aku bisa belajar mengembangkan diriku jika banyak pekerjaan rumah yang diberikan sekolah?”
“Bagaimana jika aku suruh orang untuk mengerjakan PR mu?”
“Ah bisa itu.”
“Ada syaratnya”
“Apa, Pak?”
“Kamu harus menunjukkan perkembangan baik dalam mempelajari bahasa daerah lain.”
“Apa manfaatnya jika aku mempelajarinya? Bukannya lebih keeren jika menguasai bahasa negara lain? Seperti Spanyol, Italia, Prancis dan Inggris.”
“Kamu suka kan jika bapak berbicara dalam bahasa daerahmu?”
“Iya sih.”
“Nah itu. Kamu bisa mengambil simpati orang lain dengan berbicara dalam bahasa mereka.”
“Iya juga ya.”
“Saat negara memberimu misi. Misi yang kau hadapi bukan hanya misi yang berhubungan dengan bahasa luar negeri tetapi saudara sebangsa dan setanah air yang berbeda suku denganmu.”
“Bahasa daerah mana yang perlu kupelajar?”
“Pilih saja sesukamu.”
Aku terdiam. Lalu Pak Syarif melanjutkan pembicaraan dalam Bahasa Indonesia.
“Aku dengar kamu sudah banyak kemajuan dalam mempelajari bahasa pemrograman ya?”
“Iya. Kan Pak Syarief sudah tahu dari data nano komputer yang sudah disetor.”
“Kita tetap butuh komunikasi, nak.”
Itu lah kisahku pada masa SMP yang membuatku tertarik mempelajari banyak bahasa. Pak Syarif juga menjelaskan jika aku tetap harus mempelajari bahasa asing juga. Aku saat dewasa akan menghadapi orang-orang luar negeri juga yang tentunya berbeda-beda bahasa.
Pak Syarif juga mengatakan jika perkembangan intelejensiaku sangat bagus yang dibarengi dengan sikapku yang sangat baik. Software di nano komputer di tubuhku juga sudah dikembangkan agar aku bisa lebih memaksimalkan bakatku. Aku juga merasakan perbedaannya. Aku lebih mudah memecahkan game puzzle yang padahal makin sulit. Aku juga lebih mudah menangkap apapun yang diajarkan padaku. Akan tetapi, jika tidak suka pelajaran yang kuberikan, aku memilih bersikap tidak mau tahu.

Saat aku SMA, aku sudah bisa programming. Aku biasanya membagi program yang kubuat ke internet untuk membantu masyarakat.
A2 mengetahuinya dan bangga padaku.
A2 sendiri adalah agensi negara rahasia yang menghidupiku. Organisasi ini tidak diketahui masyarakat. Organisasi yang sangat rahasia yang dipakai untuk menjalankan misi rahasia negara. Aku juga diberi tahu kalau anggaran operasional A2 sangat lah banyak. Hasil kerja A2 pun nyata.
Karena aku bisa programming, aku dikirim untuk mendekati seorang profesor yang mengembangkan bahasa pemrograman yang dipakai untuk menjalankan nano komputer di otakku. Bahasa Pemrograman itu bernama Sandra. Sedang kan profesor tersebut bernama Ali. Tentu saja aku tidak mengaku kalau aku dari A2. Aku mengaku sebagai pegawai baru perusahaan yang menjalankan misi pengembangan bahasa pemrograman yang dipakai A2 tersebut. Dengan tangan A2, perusahaan itu bahkan memberi rekomendasi untukku kalau aku adalah programmer muda dan sangat berbakat.
Aku diberi misi untuk mendekati Profesor Ali dan memonitor pekerjaannya. Perusahaan dan A2 ingin mencari tahu kenapa beberapa tahun ini pengembangan bahasa baru sangat lah lambat. Banyak fitur baru yang dipesan tidak juga diselesaikan.
Aku banyak menyelesaikan apa yang diperintahkan Profesor Ali. Dia mengajari konsep-konsep yang sangat mudah aku pahami. Selain itu aku juga bisa bahasa daerah yang bisa dipakai Profesor Ali. Ini juga salah satu kenapa aku diberi misi ini.
Dia kagum walau aku sangat muda tapi aku sudah mempunyai kualitas. Profesor Ali pun makin percaya padaku. Aku pun mencari tahu kenapa pengembangan bahasa pemrograman yang dia kembangkan sangat lambat.
Aku pun banyak mengobrol dengannya. Dari situ aku mendapatkan informasi.
Dia mengatakan kalau dia sebenarnya hanya mencari bakat-bakat yang luar biasa. Dia juga menguasai konsep. Aku mengajari konsep itu kepada bawahannya dan merekalah yang membangun bahasa pemrograman tersebut. Dia hanya mengawasinya saja. Tidak tahu sepenuhnya.
Ada seseorang yang sangat banyak berkontribusi pada pengembangan bahasa pemrograman Sandra. Dia bernama Anton. Dia dipecat karena sering berselisih dengan Profesor Ali. Sejak itu pengambangan Sandra sangat lah lambat. Hal itu berakibat dengan pengembangan nano komputer di tubuhku.
Aku pun melaporkan hal tersebut pada A2 dan misiku selesai. A2 pun mencari Anton dan merekrutnya. Selain dia ditunjuk untuk memimpin pengembangan Sandra. Kepemilikan Sandra diambil alih oleh A2 dan Anton ditunjuk untuk memimpin pengembangan bahasa pemrograman Sandra.
Selain itu Anton diperintahkan untuk mentutor diriku. Ini adalah langkah besar bagiku. Karena dari sinilah aku bisa memprogram sendiri nano komputer untuk bisa lebih canggih sedikit demi sedikit.
Sedangkan Profesor Ali, aku sudah tidak lagi menemuinya.

wadaw masuk genre apa ini g
Lihat 1 balasan
ending nya jadi alien ga?
Lihat 1 balasan
Balasan post doyanoncom
Science fiction gan
Balasan post mister.two
Ga gan. Ini bukan cerita alien gan
Part 4, Mereka Tahu
Selain aku diharuskan melatih otakku, aku diperintahkan untuk selalu menjaga kesehatan. Tidak perlu olah raga berat tapi cukup berjalan santai. Aku tidak dituntut hebat dalam bidang olah raga. Aku hanya dituntut untuk menjaga kesehatan.
Awalnya mereka tidak memberiku pelatih. Aku sempat seminggu tidak berolah raga karena malas. Ketika aku menyetor data. Aku masuk ke ruang penelitan mereka dan mereka memasangkan helm padaku.
Aku melihat di layar dan aku melihat di layar itu menampilkan apa yang kulihat. Di situ ditampilkan apa yang kemaren kulihat. Di situ menampilkan aku yang sedang memainkan permainan puzzle, aku yang suka bermalas-malasan, aku yang sedang belajar pemrograman, aku yang juga bermain manajer sepakbola, kegiatan mainku dengan teman-teman sekolah dan kegiatan-kegiatan lain yang kulakukan.
Apa yang aku pikirkan juga terdengar. Aku sering memikirkan orang-orang sekitar. Aku meledek mereka di pikiranku. Membuat panggilan lucu untuk mereka. Orang-orang A2 yang ada di ruangan tersebut malah tertawa mendengar pemikiranku. Mereka tidak tersinggung walaupun aku meledek mereka di pemikiranku.
Selain itu tampak ibuku dan bapakku yang memarahiku karena biasa saja dalam hal sekolah. Mereka bilang aku mampu meraih lebih. Tapi aku muncul kata-kata di pikiranku, “Aku mau tapi tidak mau.” Orang-orang di ruangan malah tertawa.
Aku merasa kehidupan yang kualami sangat seru. Sekolah bagiku hanya mencari teman dan yang penting nilai-nilaiku tidak terlalu buruk. Selain itu, orang A2 bilang dengan sekolah yang penting aku bisa membentuk attitude yang baik.
A2 menyekolahkanku ke sekolah yang biasa saja. Bukan favorit dan bukan pula tempat orang-orang yang sangat nakal. Ya nakal sedikit-sedikit lah. Jam 6 sore adalah jam paling awal aku pulang ke rumah. Aku ingin mempunyai kenangan yang menyenangkan selama di sekolah. Selain itu A2 ingin aku juga punya kehidupan normal.
Aku sering mancing, nongkrong, dan menyewa game play station. Teman-teman bermainku banyak yang merokok. Akan tetapi, aku tidak tertarik dengan rokok.
Pernah pula aku diajak dugem. Teman-teman cewek itu tempat mengasyikkan tapi saat aku bingung. Ini tempat apa. Berisik sekali. Orang-orang berjoget. Ada minuman keras. Ada yang muntah-muntah karena banyak minum. Aku bingung dimana asyiknya tempat tersebut. Aku lebih suka menonton sepakbola mendukung klub lokalku bertanding.
Tentu saja kegiatanku tampil di layar. Orang A2 tidak marah dengan kelakuanku. Beda dengan orang tua, mereka pasti marah besar. Itulah mengapa orang tua ku dilarang melihat setoran data kegiatanku. Pak Syarif bilang kalau itu kegiatan rahasia.
Orang A2 suka denganku karena aku tidak merokok dan tidak minum minuman keras. Pernah aku mencicipi sedikit keduanya tapi aku tidak menyukai keduanya. Orang bilang jika memakai kedua barang agar menjadi keren. Aku sudah keren tanpa itu.
Sedangkan tentang nano komputer dan penyakit yang kuderita, tidak ada satu pun teman-temanku yang tahu. A2 tidak ingin orang lain tahu. Aku juga tidak ingin menjual cerita sedihku.
Dari kecil aku sering melihat kehidupan sehari-hariku di layar komputer. Dari data yang dikumpulkan nano komputer tersebut menunjukkan penyakitku belum sembuh. Tapi aku masih bisa bertahan dan bahkan bisa meningkatkan kualitas hidup.
“Pak, bagaimana jika nilai buruk dan orang tuaku marah?” kataku.
“Dengarkan saja. Kami akan membantumu agar kau naik kelas.” jawab Pak Syarif.
“Mereka ingin aku jadi kutu buku.”
“Iya, kan saja.”
Mantap gan, tapi sekedar masukkan aja biar balance jangan terlalu dipaksakan gan... kemampuan itu ada limit nya yaa namanya juga manusia. Semua apa yang ada di diri manusia itu diberikan oleh Tuhan gan, kita sih tidak punya apa-apa tapi kadang ras memiliki kita terlalu besar hehehe.

Lihat 1 balasan
Balasan post dudelz
Quote:


Thank you, hehehe

Orangnya ga sakti sakti amat koq gan. Ga jago olah raga. Orangnya juga punya penyakit.
Orangnya juga ga jago banyak pelajaran di sekolah. Hehe
Part 5, Komputer Berukuran Virus
Anton dan aku menjadi sahabat yang akrab. Dia berumur sekitar tiga puluhan tahun. Entah kenapa dia masih betah dengan masa lajangnya. Mungkin dia terlalu terobsesi dengan bahasa pemrograman yang diciptakannya.
“Aku menganggap ini seperti anakku.” katanya padaku saat kami mengobrol santai.
Dia mengajari banyak konsep dan teknik pemrograman. Awalnya dia galak padaku. Namun, aku dari awal sudah percaya bahwa dia orang yang baik. Aku ingin mendapat ilmu yang banyak darinya. Aku punya cita-cita bisa memprogram nano komputer di tubuhku. Walau aku akui aku sempat jengkel dengan kemarahan-kemarahan yang ditujukan padaku. Itu merupakan aku belajar bahasa pemrograman darinya.
“Kamu lupa lagi ya.”
“Kamu kenapa tidak mencatat.”
“Harusnya begini supaya lebih efisien.”
Itulah kemarahan-kemarahan yang sering ditujukan padaku. Tapi itu hanya di awal. Selanjutnya dia menunjukkan kesalutan padaku.
“Kamu punya kemampuan logika yang luar biasa.”
“Aku punya kreativitas dalam berlogika.”
“Kamu cepat dalam belajar dan mengerjakan.”
Kami bekerja di laboratorium A2 dan membentuk tim di sana. Setiap tim punya sub tim lagi. Aku masuk ke pemrograman nano komputer. Aku tidak tertarik mengembangkan bahasa pemrograman Sandra yang dikembangkan Anton itu. Aku lebih tertarik menggunakan atau mempelajari source code yang merupakan library yang dikembangkan tim lain. Aku bisa cepat belajar dengan mempelajari karya orang lain.
Anton merupakan ketua laboratorium. Aku sering sharing dengannya. Dia pun mengutarakan ide.
“Aku masih belum puas dengan nano komputer kita. Nano komputer hanya nama. Ukurannnya masih dalam mikro.” kata Anton.
“Maksudmu?” kataku.
“Aku ingin mengganti ke ukuran lebih kecil?”
“Sekecil apa?”
“Bagaimana jika kita menciptakan komputer berukuran virus?”
“Bagaimana jika menciptakan Artificial Intelegence di dalamnya?”
“Jangan itu terlalu jauh dan berbahaya. Aku ingin kau yang memiliki kontrol utama. Komputer itu bisa merusak tubuhmu jika kamu tidak mempunya kontrol. Itu mungkin pemikiran jauh.”
“Menurutku ini sudah luar biasa. Aku bisa melihat kondisi tubuhku dengan komputer ini.”
“Masih kurang. Kamu sebaiknya mulai menciptakan program dalam komputer ini.”
“Aku masih asyik dengan pemrograman web dan sistem untuk A2.”
“Pelajarilah bahasa Sandra. Aku ingin kau bisa memaksimalkan sendiri juga nano komputer di tubuhmu.”
“Kamu masih mengembangkannya?”
“Tidak akan mati walau aku mati.”
Aku pun mempelajari bahasa Sandra. Menurutku mudah dan asyik juga. Kedepannya aku bisa membuat komputer ini bisa membuatku ingatanku kuat. Aku tidak memanggil memori di otakku tapi di komputer ini. Itulah kenapa aku bisa memiliki ingatan kuat. Aku seolah melihat ingatan seperti melihat video atau foto. Aku dan tim lah yang mengerjakannya.
Banyak percobaan-percobaan yang sering kami lakukan untuk mewujudkan fitur tersebut. Aku mengontrol nano komputer dengan menyebut kode perintah di pikiranku, komputer itu merespon dan memproses perintah tersebut.
Sedangkan Komputer Virus, itu hanya nama saja bukan bersifat seperti virus yang merusak. Nama “virus” diambil karena ukurannya sebesar virus. Itu adalah visi Anton.


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di