alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
GAWAT! Virus Demam Babi Afrika Ancam NTT, Menyebar dari Timor Leste, Kenali Gejalanya
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9abd9b018e0d493e387d87/gawat-virus-demam-babi-afrika-ancam-ntt-menyebar-dari-timor-leste-kenali-gejalanya

GAWAT! Virus Demam Babi Afrika Ancam NTT, Menyebar dari Timor Leste, Kenali Gejalanya

GAWAT! Virus Demam Babi Afrika Ancam NTT, Menyebar dari Timor Leste, Kenali Gejalanya

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) menyerang ternak babi di Kota Dili, Timor Leste. Penyakit mematikan ini berpotensi menyebar ke wilayah Provinsi NTT mengingat secara geografis letaknya berdekatan, serta mobilitas manusia dan barang di daerah perbatasan berjalan lancar.

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (The World Organization for Animal atau Office International des Epizooties/OIE) merilis laporan mengenai temuan kasus ASF di Timor Leste.
Dalam Immediate Notification Report Summary, disampaikan bahwa telah ditemukan pertama kali penyakit virus ASF pada ternak babi di Dili, Timor Leste. Penemuan ini diumumkan tanggal 27 September 2019.

Sebelumnya, pada 19 September, Ministry of Agriculture and Fisheries (MAF) mengidentifikasi 400 ekor babi yang terinfeksi dan 400 lainnya mati di Dili. MAF mengumpulkan sampel dari babi yang terinfeksi kemudian dikirim ke Australia untuk pengujian laboratorium.

Selanjutnya, tanggal 26 September, pihak Australia mengonfirmasi kasus ASF di Timor Leste. Sehari kemudian, OIE mengeluarkan pemberitahuan resmi perihal status positif ASF di Timor Leste.

Negara bekas provinsi ke-27 Indonesia itu kini masuk dalam deretan daftar negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar dan Filipina yang tekena wabah ASF.

Hal ini dijelaskan peneliti Supply Chain Komoditas Babi di NTT, Ferdinandus Rondong ketika mendampingi tim Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) bertandang di Kantor Harian Pagi Pos Kupang, Rabu (2/10/2019).

Tim Kementan terdiri dari Medik Veteriner Utama, Drh Pudjiatmoko PHd, Medik Veteriner Muda Drh Purnama Martha OS, MSi serta Drh Dollik Donando. Selain Rondong, dari Supply Chain Komunitas Babi NTT/Prisma Indonesia juga hadir Gracia Christie Napitupulu dan Patrisius Usfomeny.

Rondong mengatakan, wabah ASF mengancam keberadaan industri peternakan babi serta menyebabkan kerugian ekonomi yang serius. Menurutnya, NTT dengan memiliki populasi ternak babi tertinggi di Indonesia, dalam keadaan bahaya. Rawan diserang dan berpotensi tertular virus ASF dari Timor Leste.

"Babi baik yang hidup maupun mati, produk babi, kotoran dan urin babi, kutu babi, bahan makanan, fomite (benda mati) dan manusia (pakaian, alas kaki, topi, dan lain-lain) yang terkontaminasi virus ASF merupakan carrier potensial bagi penularan ASF," katanya.

Oleh kerena itu, pengetatan dan pembatasan lalulintas carrier potensial tersebut ditiga pintu masuk utama ke wilayah Indonesia yaitu bandara internasional, pelabuhan internasional, dan pintu Pos Lintas Batas Negara harus menjadi perhatian petugas Karantina.

Di NTT, ada 4 wilayah krusial, yaitu 3 pintu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) wilayah Timor Barat dengan Timor Leste, di Motain (Belu), Motamasin (Malaka), dan Wini (Timor Tengah Utara), serta Bandara Internasional El Tari.

Medik Veteriner Utama, Drh Pudjiatmoko Phd menjelaskan, Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan sudah membuat surat edaran ke 10 gubernur, termasuk Gubernur NTT untuk aplikasi antisipasi terhadap penyebaran virus ASF baik dari kebijakan maupun pelaksanaan teknis operasional.

"Yang terakhir virus sudah sampai di Timor Leste, kita harus cepat melakukan tindakan," ujarnya.
Menurutnya, Kementan sudah mempersiapkan dan melakukan tindakan-tindakan untuk menghadapi potensi penyebaran virus demam babi afrika di Indonesia.

"Kita sudah menyusun SOP bagaimana kalau ada kasus ASF, termasuk SOP kepada peternak seperti termasuk cara melihat ternaknya apakah terkena atau tidak, bagaimana biosecurity untuk ternak harus ditingkatkan dan sebagainya," katanya.

Dikatakannya, virus tersebut bisa saja penyebarannya lewat alas kaki dan barang lain sebagai medium oleh karenanya harus ditingkatkan sterilisasi dan kebersihannya, misalnya di kandang dan luar kandang.

Ia menyarankan, perlu penerapan sistem komunikasi, informasi dan edukasi untuk masyarakat terutama di daerah perbatasan. "Kita coba terapkan komunikasi sama masyarakat karena KIE sangat penting, baik komunikasi informasi dan edukasinya," imbuhnya.

Pudjiatmoko mengatakan, upaya yang paling ekstrim adalah memperketat jalan masuk di perbatasan untuk lalu lintas atau produk maupun olahan dari ternak babi dengan sterilisasi di pos lintas batas. Selain itu, menutup akses jalan masuk terutama jalan tikus dari negara Timor Leste.

"Gubernur atau dinas, kalau bisa buat regulasi atau kebijakan, kalau bisa ternak babi atau produknya tidak boleh masuk ke sini (NTT)," tandasnya.

Tim Reaksi Cepat
Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Peternakan menerjunkan tim reaksi cepat ke perbatasan NTT-Timor Leste. Kepala Dinas Peternakan NTT Ir Danny Suhadi menjelaskan, tim reaksi cepat berjumlah 18 orang, terbagi tiga regu. Setiap regu masing masing beranggota enam orang.
"Kami telah membentuk tiga tim yang terdiri dari Dinas Peternakan, Balai Besar Veteriner Denpasar dan Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian RI untuk dapat terjun langsung ke wilayah perbatasan," ujar Danny saat dikonfirmasi Rabu (2/10/2019).

Tim reaksi cepat melaksanakan upaya preventif baik langsung ke masyarakat peternak maupun ke stakeholder di wilayah perbatasan.

Tindakan preventif di antaranya melalui sosialisasi terhadap masyarakat yang dilaksanakan dalam sistem KIE, yaitu komunikasi, informasi, dan edukasi dengan sasaran masyarakat peternak.
Menurut Danny, pihaknya juga memanfaatkan media massa seperti radio, surat kabar, televisi dan online serta media sosial termasuk pamflet, spanduk dan banner sebagai wadah penyuluhan penanggulangan virus ASF.

Dia mengungkapkan bahwa telah dibuat regulasi dalam bentuk instruksi gubernur. Diharapkan akan segera disahkan untuk dapat ditindaklanjuti secara teknis di lapangan.

Instruksi tersebut di antaranya berisi upaya memperketat keluar masuk lalulintas di perbatasan, penguatan tindakan biosecurity terhadap ternak peliharaan serta upaya preventif lain untuk mencegah tertularnya ternak babi oleh virus AFS.

AFS merupakan virus yang mematikan dan menular. Saat ini belum ada obat atau vaksin. Virus ini tidak menjangkit manusia sekalipun mengkonsumsi daging babi yang terjangkit AFS.

Karantina Pertanian Kupang juga melakukan upaya pencegahan, di antaranya memperketat pengawasan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan Bandara Internasional El Tari Kupang.

Petugas Karantina di PLBN sudah melakukan koordinasi dengan Pamtas dan BNPP dan melakukan pemasangan poster ASF serta larangan pemasukan ternak babi dan produknya dari Timor Leste.

Hal ini disampaikan Kepala Karantina Pertanian Kupang, drh Nur Hartanto, MM dalam rapat koordinasi dengan pemprov di Kantor Gubernur NTT, Senin (30/9/2019). Rapat dipimpin Asisten II Sekda NTT, Semuel Rebu. Para pihak yang hadir, di antaranya unsur Dinas Peternakan, Dinas Kesehatan, BNPP, UPTD, Dinas Pertanian dan Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

Dalam press release yang diterima, Selasa (1/10/2019), dijelaskan bahwa Pemprov NTT bersama Karantina Pertanian Kupang tak tinggal diam dengan kejadian penyakit ASF yang semakin meluas dan mengakibatkan wabah di beberapa negara Asia, termasuk Timor Leste.

Hartanto mengatakan, baru-baru ini kita dikejutkan dengan pemberitaan tentang peternakan babi di Timor Leste telah terserang penyakit ASF. Pengujian terhadap sampel babi yang mati telah dilakukan di Australia untuk mengetahui penyebab kematian masal ini. Dari semua sampel babi yang dikirim untuk diuji, dinyatakan 41 persen positif terserang virus ASF.

Menurutnya, hal yang perlu diingat bahwa penyakit ASF ini belum ada di Indonesia.Virus ASF mampu bertahan hidup pada produk daging babi segar, daging yang diolah dengan pengasapan maupun makanan yang kurang matang.

Asisten II Sekda NTT, Semuel Rebu menyampaikan, saat ini NTT sudah menjadi daerah terancam ASF.

"Penyakit ini belum ada obatnya. Vaksin juga belum ada. Saat ini ASF mengancam populasi ternak babi di NTT. Mengingat NTT sendiri merupakan daerah peternakan babi terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 2 juta ekor maka kita harus segera membentuk tim terpadu," ujar Semuel.
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, lanjut Samuel, akan mengeluarkan edaran ditujukan kepada bupati dan walikota agar waspada terhadap masuknya ASF. Selain itu, akan dilakukan sosialisasi ASF di tiga daerah perbatasan hingga tingkat desa, serta akan dilakukan surveilen di wilayah perbatasan.

Belum Ada Kasus
Sejumlah peternak babi di Kabupaten Malaka mengaku belum ada kasus kematian ternak babi akibat terserang virus ASF.

Warga Weliman, Kecamatan Weliman, Gabriel Nahak dan Yosep Seran mengatakan, babi yang mereka pelihara belum ada yang sakit dan mati. Begitu juga dengan ternak babi milik tetangga.
Ditemui Senin (30/9/2019) lalu, Gabriel mengungkapkan bahwa memiliki ternak babi belasan ekor. Namun dia belum tahu tanda-tanda atau gejala ternak babi terserang virus ASF.

Hal senada disampaikan warga Desa Litamali, Kecamatan Kobalima, Emanuel. Menurutnya, belum ada babi yang sakit dan mati. Dia juga belum mengetahui adanya virus ASF yang mewabah di Timor Leste.

Emanuel mendoakan agar virus ASF tidak sampai masuk ke wilayahnya sehingga ternak babi peliharaan warga tetap sehat.

Camat Kobalima Timur, Wens Leki menjelaskan, sejauh ini belum ada laporan soal kematian ternak babik akibat terserang virus ASF. "Sejauh ini ternak babi di Kobalima Timur masih aman-aman saja," ujarnya.

Kobalima Timur berbatasan langsung dengan Timor Leste. Wens Leki mengaku sudah mendapat informasi mengenai virus ASF. Di setiap rapat koordinasi baik tingkat kecamatan maupun kabupaten sudah sering disampaikan.

Dia mengingatkan kepala desa se-Kobalima Timur agar mendata masyarakat yang memiliki ternak babi serta melaporkan secara rutin manakala ada kasus kematian akibat terserang virus ASF.
Sementara itu Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Peternakan telah memantau perkembangan virus ASF.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan Lembata, Kanisius Tuaq mengatakan, begitu mendengar kabar virus mematikan itu sudah masuk Timor Leste, dirinya langsung berkomunikasi dengan kantor karantina.

"Kan ada pemasukan babi dari Alor. Mereka dekat dari Timor Leste dan juga dari Kupang. Tapi dari Kupang itu jarang ke sini. Kita dari sini keluarkan babi, hanya dari Alor itu yang kita waspadai," terang Kanis saat ditemui di Lewoleba, Senin (30/9/2019)

Menurutnya, banyak pendatang ke Lembata untuk membeli babi. Pasalnya, harga babi lebih murah. Dia berharap virus ASF tidak sampai masuk ke Lembata karena bisa mematikan usaha para peternak babi yang kian berkembang.

Kanis mengatakan, bisnis babi di Lembata sangat menjanjikan. Oleh karena itu, demi meningkatkan populasi babi pihaknya melakukan kimpoi suntik. Upaya ini dilakukan karena kimpoi alamiah lambat dalam meningkatkan populasi.

"Selama ini peningkatan hanya 2500 babi setahun atau hanya 5 persen dari total populasi. Kalau dengan kimpoi suntik, populasinya bisa meningkat dua kali lipat.
Apabila populasi babi sudah banyak, maka dirinya berencana untuk mengirim babi sampai ke negera Timor Leste. Sekarang sudah jalan 100 ekor per bulan ke Maumere dan Sumba. Pengawasan saya di pelabuhan. Rekomendasi kan dari saya," papar Kanis.

Perketat Pengawasan
Pemerintah Provinsi NTT hendaknya memperketat pengawasan di setiap pintu masuk perbatasan Indonesia (NTT) dengan Timor Leste. Upaya itu untuk mencegah masuknya virus ASF yang menyerang babi.

"Secara geografis, kita satu daratan dengan Timor Leste, bahkan mobilisasi masyarakat dan ternak di perbatasan selalu ada. Saya minta perhatian pemerintah untuk antisipasi sebelum virus itu masuk ke NTT," kata Sekretaris Fraksi PKB DPRD NTT, Ana Waha Kolin, SH di Kupang, Senin (30/9/2019).

"Harus ada gerak cepat dari pemerintah untuk antisipasi dengan perketat pengawasan di pintu-pintu masuk wilayah pwrbatasan NTT-Timor Leste," sambungnya.

Menurut An Kolin, ternak babi bagi warga NTT selalu digunakan dalam peristiwa-peristiwa adat dan budaya. "Perlu ada upaya cepat dan tegas untuk menyelamatkan babi di NTT. Kalau virus ini bergerak cepat maka secara manusia kita tidak bisa menahan," tandasnya.

An Kolin mengatakan, Pemprov NTT perlu secepatnya mengambil tindakan konkret. Dia mencontohkan, jika di perbatasan belum ada pos karantina dan juga kantor kesehatan masyarakat veteriner, maka perlu dipikirkan.

"Tapi kalau sudah ada maka segera perketat pengawasan dan komprehensif .

Kita kuatir, jika masyarakat di perbatasan lakukan sistem barter ternak babi dangan sembako atau barang maka ini bisa menjadi sumber masuknya ternak yang terinfeksi virus ke NTT," ujarnya mengingatkan.

Hal senada disampaikan Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD NTT, Gabriel Beri Binna. Menurutnya, Pemprov NTT harus mengambil langkah nyata untuk mengantisipasi virus ASF yang menyerang ternak babi.

"Kasus ini sudah mewabah di Timor Leste. Oleh karena itu, Pemprov NTT perlu mengambil langkah nyata dan tepat dalam mengantisipasi masuknya ASF. Beberapa kabupaten sudah mengambil langkah kongret untuk mengatasi masalah ASF, seperti menghentikan antar pulau ternak babi. Upaya ini bisa mengantisipasi munculnya kasus ini," kata Beri Binna, Selasa (1/10/2019).

Anggota DPRD NTT dari PDIP, Yunus Takandewa mengatakan, pemerintah
segera melakukan pengawasan ketat di pintu-pintu masuk di wilayah perbatasan NTT dengan Timor Leste. "Kita minta agar pemerintah bisa antisipasi agar kasus ini tidak menjadi masalah baru di NTT," katanya.

Deteksi ASF
Ketua Perhimpunan Dosen Hewan Indonesia (PHDI) Cabang NTT, Dr drh Maxs US Sanam, MSc menjelaskan, ASF merupakan salah satu penyakit yang disebabkan virus. Virus ini menyebar begitu cepat dalam populasi ternak babi dan sangat berbahaya karena memiliki tingkat kematian (mortalitas) mencapai 100 persen. Lebih parah lagi, belum ada vaksin untuk pencegahan ASF.

Virus ASF dengan tipe DNA, eksklusif menyerang hewan jenis babi, baik babi liar maupun piaraan (domsetik). Babi yang sakit mengeluarkan virus ASF dari berbagai lubang tubuh (mulut, hidung, anus) dan darah. Virus sangat tahan terhadap lingkungan. Virus di dalam tinja bisa bertahan hingga dua minggu.

"Penularan penyakit ini bisa terjadi melalui kontak dengan hewan sakit atau pun dengan benda-benda yang tercemar virus, termasuk melalui makanan," kata Maxs Sanam.

Pencegahan ASF di antaranya dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama yang ada di perbatasan Indonesia dengan Timor Leste agar tidak membawa masuk babi, maupun produk-produknya (daging baik segar maupun awetan) ke dalam wilayah peternakannya.

Selain itu berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) via instansi teknisnya (Balai Karantina Pertanian/Hewan) untuk mencegah pemasukan atau pelintasan hewan babi dan produk-produknya ke NTT.

Menurutnya, perlu dilakukan surveilance untuk mendeteksi keberadaan dini virus ASF di daerah perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Maxs Sanam mengatakan, ASF hanya menyerang hewan babi, tidak menyerang hewan lain dan tidak juga menyerang manusia. Penyakit ini ditemukan di negara-negara Afrika Barat, dan sebagian kecil negara di Eropa (Italia). Beberapa negara pernah mengalami wabah namun sudah berhasil dieradikasi (diberantas) penyakitnya. Indonesia belum pernah dilaporkan ada. (hh/yel/kk/jen/ll)

sumber: https://kupang.tribunnews.com/2019/1...leste?page=all

yang doyan babi segeralah bertobat emoticon-Leh Uga


Spoiler for judul berita:

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Makanya kanjeng melarang makan babi
Lihat 2 balasan
Padahal babi termasuk hewan yg sangat kebal thd segala macam penyakit
Mirip cerita di sub forum sfth .. catatan yg masih selamat
silakan pemuja babik testimoninya
GAWAT! Virus Demam Babi Afrika Ancam NTT, Menyebar dari Timor Leste, Kenali Gejalanya


emoticon-Shakehand2
profile-picture
RastAVArianA memberi reputasi
Setelah flu babik emoticon-babi adalagi demam babik emoticon-babi afrika. emoticon-Takut
profile-picture
tukangkredit memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ngoahaha babik pelik
profile-picture
barusan.mualaf memberi reputasi
Balasan post antek.rakyat
Quote:


Jadi yg melarang si kanjeng apa yang di atas? emoticon-Bingung

Semua hewan ada penyakit berbahayanya koq, misalnya kalau sapi ada virus sapi gila, anthrax dll.

Tinggal bagaimana menjaga lingkungan pemeliharaan tetap bersih dan jangan dikasih makan macam2 yang tidak alami.
disini udah ada yang kenak belom...? emoticon-Bingung (S)
Minimal yang makan babi ga goblok macam yang doyan meleduk dan jedotin pala 5 kali sehari
emoticon-Leh Uga
profile-picture
westciss memberi reputasi
Babik gering emoticon-babi
emoticon-Takut
Quote:


Caranya bertobat gimana
Balasan post ntapzzz
Quote:


Sama aja sih.. fever

Kalo demam kan lebih halus aja.. ngga se seram flu babi

Padahal itu itu juga
profile-picture
liee memberi reputasi
Balasan post qavir
Quote:


@qavir
Virus yg bisa terjangkit pada babi.. bisa menular ke manusia..
Karena organ babi memiliki kemiripan dengan organ manusia


3 tahun lagi, jantung manusia yg rusak akan bisa diganti jantung babi


Pig to human heart transplants 'possible within three years'
https://www.theguardian.com/science/2019/aug/19/pig-to-human-heart-transplants-possible-within-three-years-terence-english
profile-picture
liee memberi reputasi
Diubah oleh tukangkredit
Apakah penyakit ini cuma menular ke sesama babi? Atau bisa ke spesies lain, onta misalnya.. emoticon-Thinking
profile-picture
barusan.mualaf memberi reputasi
Diubah oleh filusufkacang
ati2 nih, gak cuman nular dari babi ke babi. babi makan babi pun bisa kena. emoticon-Big Grin
Diubah oleh westciss
makanya udah dibilang jangan makan babi. babi tuh HARAM!!. makan dan minumlah dari onta dijamin sehat dan barokah
dah dibilangin babi itu haram tolol dah
Babik betina yang dipanggil kuman saja bisa merusak papua apalagi babik aprika...

Babik bangcat

emoticon-DP
Diubah oleh drs.obama
babik kok makan babik emoticon-Big Grin
profile-picture
kageninja memberi reputasi


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di