CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Misteri Suara Gamelan di Pos Samarantu, Simak Kisahnya!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d90485d09b5ca146127b0df/misteri-suara-gamelan-di-pos-samarantu-simak-kisahnya

Misteri Suara Gamelan di Pos Samarantu, Simak Kisahnya!

Misteri Suara Gamelan di Pos Samarantu, Simak Kisahnya!

Hai, Gansis? Apa kabar hari ini? Moga selalu sehat dan dilimpahi rahmat oleh Yang Maha Kuasa, ya. Aamiin.

Jujur ane baru pertama kali bikin cerita horor. Kalau pengalaman, sebenernya pernah beberapa kali, sih. Cuma beda latar. Jadi, cerita yang ane bikin di bawah ini hanya fiksi semata. Apabila ada kejadian dan tokoh yang sama, itu hanya kebetulan belaka.

***

Segala perlengkapan mendaki telah disiapkan. Kami memilih lewat jalur Bambangan, Desa Kutabawa, Purbalingga. Menurut cerita salah satu teman yang sudah pernah menaklukan puncak Surono--nama puncak Gunung Slamet--jalur ini adalah jalur paling cepat untuk sampai ke sana. Aku yang baru pertama kali mendaki Gunung Slamet pun dinasehati hal-hal yang dilarang pada saat naik nanti. Salah satunya adalah jika mendengar suara gamelan, tidak usah dibahas. Terdengar aneh memang. Mana ada gamelan di tengah hutan. Tapi kami tetap meng'iyakan'.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam, aku, Wiwit, dan Tyas tiba di basecamp Bambangan. Kami numpang salat dan istirahat sebentar. Setelah itu, melanjutkan perjalanan mumpung hari masih terang.




Butuh waktu hampir dua jam untuk sampai ke pos 1. Jalur yang kami lewati berupa jalan setapak. Sisi kanan kiri jalan adalah perkebunan warga. Pemandangan hijau yang terpampang menyejukkan mata. Kicauan burung--entah burung apa--menjadi teman perjalanan kami. Embusan angin membelai wajah. Sesekali kami berhenti mengamati sekeliling. Ada beberapa gubug kecil sebagai warung tempat warga menjual makanan dan minuman hangat.

"Lo udah cape belom, Yas?" Aku menoleh ke arah Tyas yang berdiri di samping Wiwit. Dia cewek satu-satunya yang selalu setia ke mana pun aku muncak. Sahabat sejak SMP yang berpenampilan tomboy.

"Elah, ngece! Kek gak tau gue aja, lo, Bro!" sahutnya penuh percaya diri. Wiwit hanya tertawa lebar mendengarnya.

"Ya udah. Kuy, lanjut! Ntar keburu gelap nyampe di pos 4. Pos yang katanya menyimpan sejuta cerita mis--." Spontan kubekap mulut Wiwit.

"Ngomongnya direm dikit, jangan sembarangan. Kalo kejadian, nyaho, lo!" lirihku di cuping telinga dia yang tertutup penutup kepala. Lalu kulepas bekapan di mulutnya.

Wiwit mengatur napas. Pengap barangkali. Ah, bodo amat. Dia memang suka kelepasan. Di tempat seperti ini, sudah selayaknya jaga ucapan. Walau yang dia katakan mungkin suatu kenyataan.

Setelah menenggak beberapa teguk air mineral, kami menyeret langkah kembali. Menyusuri setapak demi setapak yang sudah tidak mulus lagi.
Satu jam setengah terlewati dengan aman hingga kami tiba di pos 2. Di sini, pepohonan sudah mulai rimbun dengan pohon pinus mendominasi. Jaket tebal yang kupakai cukup membantu melindungi tubuh dari dinginnya udara yang mulai menusuk.

Kami terus melangkah. Jalan bebatuan yang lumayan licin, membuat harus ekstra hati-hati kalau tidak mau tergelincir. Langit sore masih menyajikan keindahannya. Suara daun-daun yang bergesekan tertiup angin, menambah suasana sedikit mencekam. Ketika tiba di tanah agak lapang, kami berhenti. Memakan bekal dan melakukan kewajiban sebagai seorang muslim. Setelah dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan.

Satu jam telah terlewati. Kami telah tiba di pos 3 yang merupakan percabangan jalur via Pemalang. Di sini, hutannya cukup luas dengan medan tanah. Jalan yang berkelok-kelok dan mulai menanjak, membuat napas sedikit terengah.

"Berhenti bentar, donk. Gue haus, nih!" Wiwit yang berada paling belakang berteriak.

"Yas, istirahat dulu, deh," seruku pada gadis berkerudung biru di depan sana.

"Oke," sahutnya, lalu segera duduk di bawah pohon yang cukup besar. Aku mendekat. Disusul Wiwit dengan napas terengah.

Kami berbincang sambil menikmati kopi panas yang disimpan dalam termos kecil. Beberapa makanan ringan pun telah berpindah ke perut. Langit sudah hampir gelap. Ketika akan meneguk kembali cairan hitam itu, ekor mataku menangkap sekelebat bayangan dari sisi kiri.

"Gaes, jalan lagi, yuk. Udah cukup, kan minumnya?" Aku membereskan peralatan minum dan menyimpannya kembali, lalu segera bangkit. Menepuk beberapa kali celana bagian belakang.

"Ayolah. Kita harus cepet, nih. Ntar keburu gelap nyampe di pos 4." Tyas menimpali.

Wiwit yang sedang berdiri memindai sekeliling pun menyahut, "Kalo nyampe sana udah keburu gelap, gimana? Lanjut apa masang tenda, nih? Gue ada firasat gak baek, Gaes."

"Liat ntar, deh. Kalo menurut nasehat kakak senior di basecamp tadi, sih, baiknya lanjut aja," cetusku, mengingat pos itu terkenal akan kemistisannya. Dan bayangan yang kulihat tadi ... ah mungkin hanya halusinasiku saja.

Kami bergegas meninggalkan pohon besar tempat berteduh tadi. Medan kian berat dirasa. Tapi kaki harus terus melangkah. Kurasakan seperti ada yang memperhatikan. Mempercepat langkah walau agak kepayahan. Ditambah beban yang kugendong di kedua bahu.
Dari jarak kurang lebih 300 meter, papan plang pos 4 sudah terlihat di depan sana.




Langit telah gelap ketika kami tiba di pos 4 ini. Pos Samarantu, yang artinya hantu yang samar. Pos yang konon adalah gerbang menuju alam gaib. Memang, ada dua pohon besar bersisian yang sekilas layaknya pintu gerbang. Pohon-pohon besar dengan akar menggantung, langsung menyambut pandangan begitu kami masuk. Menambah suasana makin menyeramkan. Menurut cerita, banyak pendaki yang diganggu di sini.


"Aaw!" Suara Tyas mengagetkanku yang tengah mengamati sekeliling. Kulihat tubuhnya ambruk.

"Lo kenapa, Yas?" Aku dan Wiwit segera mendekat, lalu membantu Tyas berdiri.

"Seperti ada yang nendang kaki gue, Bro," jawabnya seraya berusaha berdiri. Jalannya terpincang-pincang.

"Ah, perasaan lu aja kali." Wiwit menyahut.

"Beneran. Masa gue bohong," seru Tyas sambil meringis menahan sakit.

Bayangan itu berkelebat lagi. Firasatku tidak enak. Mau melanjutkan perjalanan, tapi ragu melihat kondisi Tyas. Samar-samar telingaku menangkap suara gamelan. Kadang dekat, lalu menjauh lagi.

"Lu denger gak, Gas? Kaya ada suara gamelan. Kok aneh, ya? Di tengah hutan gini, loh." Wiwit bersuara yang langsung kuberi isyarat meletakkan telunjuk di bibir supaya diam. Dia lupa atau bagaimana. Padahal sudah diingatkan akan hal itu sebelum naik.

Aku menoleh ke arah Tyas. Ada kegelisahan terpancar dari wajahnya yang tersorot headlamp yang kupakai.
Kutepuk pelan bahunya, sebagai isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.

Tiba-tiba dari arah depan ada bayangan hitam tinggi besar mendekat. Spontan kutarik lengan Wiwit dan Tyas untuk menjauh. Tyas terpincang-pincang karena kakinya belum pulih benar. Kami terus berlari, menerobos semak belukar, menembus pekat malam. Suara burung hantu menyapu gendang telinga, membuat bulu kuduk berdiri. Beberapa kali kakiku tersangkut sesuatu entah apa. Tubuh limbung hingga pegangan tanganku terlepas.

"Gas! Bagas! Lo di mana?" Itu suara Tyas. Aku bisa mendengarnya, tapi tak kulihat kerlip dari headlamp yang dia pakai.

"Gue di sini, Yas! Tyaas!" Suaraku menggema di antara bunyi binatang malam di hutan menyeramkan ini.

"Bagaas!" Tyas masih memanggil. Namun, di mana dia?

Shit! Ada apa dengan mataku?

Aku masih mengucek mata berkali-kali ketika tiba-tiba sebuah tangan dingin menepuk bahu. Seraut wajah rusak berlumuran darah yang sebagian tertutup rambut, tepat berada di hadapan manakala aku menoleh. Tubuh mendadak kaku, ingin berteriak tapi tak ada suara yang keluar. Merapalkan do'a-do'a dalam hati. Hanya itu yang mampu kulakukan.

Detik berlalu. Kupejamkan mata. Memasrahkan segalanya pada Tuhan. Namun, tiba-tiba ada tangan yang menyeretku.

"Syukurlah, akhirnya gue bisa nemuin lo. Ayo, Gas. Kita harus cepet pergi dari sini!"

Kubuka mata. Sedikit tak percaya dengan yang ada di hadapan. Kurasakan tubuh juga telah kembali normal. Makhuk yang tadi di depan mata pun telah hilang. Lalu tanpa babibu, segera ambil langkah seribu sebelum makhluk menyeramkan itu kembali menampakan diri.

"Wiwit mana, Yas?" tanyaku dengan napas terengah setelah berlari cukup jauh dari tempat tadi.

"Gue kehilangan jejaknya, Gas. Gue udah cari ke mana-mana tapi gak ketemu. Waktu lo jatuh tadi, gue masih liat dia. Selanjutnya gue gak tau dia ke mana." Ada penyesalan dalam nada bicaranya.

"Ya udah, habis ini kita cari bareng-bareng. Terus, kaki lo? Kok bisa buat lari? Emang udah gak sakit, Yas?" Aku menoleh ke arah kakinya.

"Gak, Gas. Waktu gue nyariin lu berdua, gue ketemu sama kakek-kakek. Dia yang nyembuhin kaki gue. Dia juga yang bantuin nunjukin keberadaan lu."

Aneh sekali. Lalu mengapa kakek itu tidak sekalian menunjukan di mana Wiwit berada?

Kami terus berlari. Sesekali berhenti, mengatur napas. Lalu berlari lagi sambil memanggil-manggil Wiwit. Hingga kami kelelahan, tidak ada tanda-tanda atau petunjuk keberadaan Wiwit.

Kami memutuskan mendirikan tenda demi memulihkan tenaga untuk melanjutkan pencarian besok pagi. Membuat perapian untuk menghangatkan tubuh. Aku berjaga di luar. Sesekali mata terpejam karena kantuk yang mendera.




Pagi menjelang. Kami bergegas melanjutkan pencarian setelah menelan beberapa potong roti dan meneguk air mineral sisa cuci muka dan gosok gigi.

Di tengah perjalanan, kami bertemu beberapa pendaki yang turun. Mereka bercerita bahwa di pos 6 ada sesosok mayat laki-laki di bawah pohon besar. Diduga dia adalah pendaki yang tersesat. Ciri-ciri yang mereka sebutkan, mirip sekali dengan Wiwit.

"Sekarang mayat itu sedang dibawa turun oleh tim penolong, Bang." Salah satu dari mereka memberi informasi.

"Oke, tengkyu infonya, Kak. Ayok, Yas. Kita harus cepat ke sana," ajakku pada Tyas yang masih tertegun.

Kami mempercepat langkah ke pos yang dimaksud. Tak peduli dengan tatap heran para pendaki itu. Harus kupastikan, bahwa mayat yang mereka temukan itu bukanlah Wiwit.

Namun, ekspektasi tidak sesuai kenyataan. Tulang di tubuhku seperti dilolosi manakala netraku menatap jaket yang melekat pada mayat di depan sana. Tyas ... dia tak ubahnya denganku. Kulihat tubuh berbalut jaket biru itu gemetar menahan tangis. Segera kuraih bahunya dalam dekapan.

Jenazah itu adalah Wiwit. Teman seperjuangan yang beberapa jam yang lalu masih berbagi tawa denganku dan Tyas. Masih terngiang segala kekonyolan yang dia perbuat. Juga sifat sedikit keras kepalanya. Sekarang semua itu tinggal kenangan yang tersimpan abadi dalam memori.

Menurut juru kunci Gunung Slamet, bunyi gamelan yang kami dengar kemarin malam adalah sebagai tanda sedang terjadi pernikahan gaib. Dan Wiwit yang kelepasan membicarakannya, harus menjadi salah satu pengiring pengantin pada upacara gaib itu.

Selamat jalan, Kawan. Semoga kau tenang di sisi-Nya. Aamiin.

Tamat

Cilacap, 29 September 2019
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mamaproduktif dan 26 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh anna1812
Halaman 1 dari 6
Quote:


Makasih, Mak Dok. Krisan yang lainnya lagi donk, Mak Dok.


Quote:


Hehe. Ane yang nulis juga agak takut sih.😆

Quote:


Wkwkw. Kalo ane lari keknya.😂


Quote:


Boleh, silakan, Sis. Awas bawa temen juga, ya.


Quote:


Bener banget, Mak Mod. Udah pasti ada makhluk tak kasat mata yak.


Quote:


Hihi. Ane yang nulis juga merinding sebetulnya, Sis.


Quote:


Nggih, Bang. Makasih kunjungannya ya.
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Belajr dimari gelar tiker juga...
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
Quote:


Kumpulin cerpen selanjutnya di sini. Cakep dah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
Jadi ikutan merinding nih
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
Hati-hati kalau ke tempat baru apalagi gunung.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
iihh...serem.Gelar tikar dulu ya. Ane penasaran🥺
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
Kalo ane di posisi itu, diem aja dah kagak gerak. Tutup mata. Wkwkwkk
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
aduh sis serem banget yaa
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
Mampir lagi. Cerita yang mengalir. Pesan yang dibawapun kuat.
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
Nggak dipanjangin threadnya Sist?
Kok jadi merinding tak 😑😑😑
ternyata wiwit itu cowok ya? btw emang kalo lagi daki gunung, ada beberapa peraturan tidak tertulis yang harus dituruti.
Pernikahan. Ghaib ngeri sekali itu mbak
Quote:


Iya juga ya, Gan? Yg penting gak berakibat ke hal buruk deh, Gan. Positif thinking aje.emoticon-Leh Uga


Quote:


Iya, ya, Gan? Buat pengalaman dan cerita untuk anak cucu ntar, Gan.emoticon-Leh Ugaemoticon-Ngakak
Quote:


Nggak gan kaya dejavu aja pernah ngalamin juga soalnya
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
Quote:


Gaada gan, daerah rumah ane kalo ada acara kimpoian palingan dangdut gaada gamelan. Kalo untuk yg ane lg main pubg ada suara gamelan ane gatau itu emang ada yg mainin atau gimananya, soalnya itu sebentar doang sekitar 1-2 menitan dan itu kejadian di depok rumah baru ane gan jadi belum tau daerah sini bisa aja sih tetangga, tapi gamungkin kalo tetangga ga masuk ke mic pubg nya
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
Quote:


Wah. Ngeri ya, Gan? Ato mungkin ada orang yg lagi nanggap wayang, Gan. Kan pasti ada gamelannya tuh.
Quote:


Kenapa, Gan? Merinding ya? Takut?
profile-picture
teddyh999 memberi reputasi
ini cerita nyata gan?
ane juga pernah nih ngalamin denger suara gamelan walau ane ga tinggal di jawa/gaada keturunan jawa. pas lagi dirumah "jakbar" saat jam 2an malam sudah mau mematikan musik dari hp yg ane colok ke speaker agar suaranya keras itu ane lakukan dari jam 9malaman karena posisi waktu itu lagi sendiri. pas ane cabut colokan musiknya yang ke hape awalnya sunyi cuma pas ane mau cabut colokan listriknya terdengar musik jawa seperti gamelan, berangsur lama sempat ane videoin ini ada videonya. kedua, lokasi di depok ane posisi lagi sendirian juga belakang rumah ane kaya taman cuman belum diurus karena baru pindah cuma udah ada meja bangku dll mayan kalo buat nongky2. nah dibalik taman belakang rumah itu cuma berbatas tembok juga itu kaya kebon kosong gitu. nah kejadian sekitar jam 11 malam. saat ane lg main pubg sama temen2 ane mendadak ada kejadian aneh saat ane lg ngerush musuh tibatiba aja suara gamelan terdengar seperti ada acara adat jawa. aneh pun diem serasa suara in game pubg yg ane denger pake headset kalah ama itu suara gamelan yang terdengar samar2 kadang keras tapi membuat suara in game pubg kalah. kejadian itu galama dan gasempat aneh rekam. dan anehnya temen2 ane pada heran kenapa ane lg rush musuh tau2 malah diem aja gaada suara pula seakan ane dc. dan ane ceritakan kejadiannya dan teman2 ane pada bilang "gaada suara apa2 orang lu ngajak ngerush tau2 lu offmic"emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
emoticon-Takutemoticon-Takut
profile-picture
anna1812 memberi reputasi
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di