CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Penumpang Ghaib Di Perbatasan Gunung Rambutan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d8cc2b1a7276877b1643000/penumpang-ghaib-di-perbatasan-gunung-rambutan

Penumpang Ghaib Di Perbatasan Gunung Rambutan

Penumpang Ghaib Di Perbatasan Gunung Rambutan
Penumpang Ghaib Di Perbatasan Gunung Rambutan(dokpri)

Aku Lathisa. Hari ini aku akan bercerita tentang kejadian mistis saat ada perjalanan dinas keluar kota. Pekerjaanku sebagai karyawan disalah satu perusahaan yang ada di Kaltim, saat ini aku stay di Balikpapan Kalimantan Timur.

Sebenarnya aku memang asli gadis Kalimantan, tepatnya gadis Banjar Kalimantan Selatan. Tapi karena pekerjaan, jadi tahun lalu aku dipindahkan ke kantor pusat yang ada di Balikpapan.

Pengalaman mistis ini terjadi di awal tahun 2019, saat itu ada tugas di daerah Kalsel. Dengan senang hati aku menerima tugas ini, karena Kalsel adalah kampung halamanku. Jadi aku berpikir sambil bekerja bisa menyempatkan untuk menjenguk orang tua. Dan aku juga sudah sering bolak-balik Kaltim-Kalsel ataupun Kalsel-Kaltim.

Singkat cerita, jadwal keberangkatan ku seharusnya jam satu siang atau habis Zhuhur. Tapi karena ada kesibukan lain jadinya keberangkatan diundur setelah Ashar. Waktu yang ditempuh untuk bisa sampai kesalahsatu kota yang ada di Kalsel nanti sekitar 8 jam perjalanan. Oh iya, aku berangkat dengan satu teman di kantor ku sebut saja namanya Mas Azzam.

Sebelumnya memang aku tidak ada rasa takut atau apa ketika berangkat sore. Karena sudah terbiasa jadi perjalanan selalu ku bawa santai sambil menikmati. Pikirku berangkat sore pun tidak masalah karena bisa tinggal tidur pulas di perjalanan.

Dari rumah aku dijemput supir jam 04.00 Wita. Kalau ke Kalsel kita akan menyeberang dulu naik ferry ke Kabupaten Penajam Paser yang kini akan menjadi Ibu Kota Baru. Setengah jam perjalanan sampai pelabuhan, mobil sempat diam sekitar setengah jam karena menunggu kapal menyandar. Masuk kapal sudah sore banget, dan untuk menyampaikan ke Penajam kira-kira kurang lebih satu jam kita dalam kapal. Saat azan magrib berkumandang Alhamdulillah kapal juga akan bersandar jadi kami memutuskan sholat di mesjid yang ada dikota penajam. Selesai sholat kami juga memutuskan untuk langsung makan malam diwarung seafood yang ada di kota ini.

Singkat cerita perjalanan berjalan seperti biasanya. Aku duduk dibelakang sendiri dan Mas Azzam juga supir di depan. Di perjalanan karena belum ngantuk kami mengobrol sambil mendengarkan musik juga memakan cemilan yang kami beli.

Sebelumnya aku mau kasih tau kalau perjalanan melalui darat dari Kaltim-Kalsel atau Kalsel-Kaltim ini jalanannya melewati gunung rambutan yang curam, dan berkelak-kelok. Jadi untuk mobil harus benar-benar berhati-hati kalau terpeleset ya mobil akan langsung masuk jurang, apalagi kondisi pada malam hari. Lampu jalanan ada, cuma sedikit.

Setelah melewati beberapa kabupaten lalu langsung menaiki jalan gunungan yang artinya mobil akan melintasi jalanan gunung rambutan. Waktu itu aku sedang tertidur, dan masih sendiri di kursi belakang. Entah kenapa saat itu aku merasakan sangat dingin, terbangun karena ingin meminta supir untuk menurunkan AC nya. Kulihat Mas Azzam masih terjaga menemani supir. Kulirik jam ditangan sudah menunjukan hampir jam 10.00 malam.

"Om, kecilin AC nya dong, dingin banget nih,"

"Udah paling rendah ini, mbak."

"Oh ya, tapi kok dingin banget yaa" Rasaku pada saat itu sambil memutar ventilasi AC kearah berlawanan.

"Mau pake jaket ku gak, sha?" Mas Azzam menawari jaketnya.

"Kalau mau itu buka aja tasku dibelakang, ada paling atas jaketnya."

"Aku pinjam ya, Mas. Asli nih dingin banget, kalian gak kedinginan?"

"Nggak sih kalau kita. Yaudah ambil aja jaketnya tuh."

Pas aku berbalik berniat mau ambil jaket di jok belakang. Tiba-tiba dari kaca belakang mobil aku melihat ada sesuatu yang jatuh dari atas pohon.

"Astaghfirullah," Karena kaget aku istighfar. Tapi nggak tau apa yang jatuh tadi. Tapi aku liat benda yang jatuh tadi lumayan besar, karena jatuhnya cepet jadi gak jelas apa yang sebenarnya terjatuh.

"Kenapa, sha?" Mas Azzam dan supir yang dengar aku istighfar langsung bertanya.

"Kaget, Mas. Tadi kayak ada sesuatu yang jatuh dari atas pohon."

"Apaan? Kalau ada yang jatuh pasti aku liat dari spion mobil" Kata Om supir.

Sempat kami terdiam beberapa saat, lalu Mas Azzam mencairkan suasana biar gak tegang.

"Udahlah mungkin ranting pohon tadi yang jatuh,"

"Iya, mungkin ranting pohon." Aku mengiyakan saja, biar suasana baik. Karena yang ku lihat sebenarnya bukan seperti ranting pohon. Tapi langsung ku tepis pemikiran itu, karena waktu itu aku langsung merasakan bulu kuduk berdiri.

"Perjalanan kita melintasi gunung masih panjang. Pada baca doa masing-masing ya,"

Kami langsung mengiyakan apa kata supir, saat itu juga aku langsung zikir dalam hati. Karena masih merasa gak enak dan merinding.

Tiba-tiba mobil melaju pelan. "Kenapa om?" Tanyaku.

"i...i...itu ada yang melambai diujung jalan,"

"Mana?" Mas Azzam menajamkan matanya ke arah depan.

"Waduh.. Beneran ada orang beneran disitu, ditengah gunung gini kok ada orang sendirian berdiri disini."

"Mana sih?" Aku ikut menajamkan penglihatan. Bener saja ada perempuan melambai didepan sana.

"Kita terus aja lah, mas. Takutnya ini tipuan begal, mana mungkin malam-malam jam segini ada orang berdiri sendirian ditengah gunung gini." Seru Mas Azzam.

"Iya juga sih.. Tapi kan itu kayaknya perempuan, deh. Siapa tau dia dalam perjalanan juga terus motornya mogok, kan kasian." Kataku.

Benar saja, ketika mobil kami mulai mendekati orang yang melambai itu terlihat seorang wanita yang dilihat usianya lebih tua dariku menenteng tas di bahu dan ada sepeda motor di dekatnya.

"Tuh kan, motornya mogok nih. Kasian, bantuin lah." Ucapku pada mereka, dan langsung saja supir berhenti di depan wanita ini.

"Kenapa mba?" Mas Azzam membuka kaca menanyakan keadaan wanita tersebut.

"Motor ku mogok. Aku mau ke pasar diturunan gunung sana, boleh ikut menumpang?"

Kami sempat terdiam pada pikiran masing-masing, lalu bingung mau dikasih tumpangan atau nggak. Tapi setelah kami liat lagi wanita tersebut memang tidak ada yang aneh. Karena desakan ku yang juga wanita, merasa kasian akhirnya wanita tersebut kami putuskan mengantarnya sampai pasar yang ia maksud.

"Naik mba," Ku bukakan pintu mobil untuknya.

"Kok sendirian sih mbak? Mas Azzam langsung bertanya.

"Iya, sudah biasa saya kemana-mana sendiri." Ucap wanita itu dengan suara pelan seperti orang sedang sakit.

"Oh iya mba, kenalin aku Latisha." Ku ulurkan tangan kepadanya.

"Sari"

Jawabanya singkat sambil menyambut uluran tanganku. Dan yang kurasakan saat itu tangannya halus dan sangat dingin.

Ketika kami saling melepaskan jabatan tangan tiba-tiba aku mencium aroma melati yang sangat pekat. Aku langsung terdiam waktu itu, yang kurasakan bingung dan tengkuk ku merinding. Tidak tau dengan Mas Azzam dan Om supir apa mereka juga mencium aroma melati juga. Dan disaat itu aku terus berzikir dan terus berdo'a. Ku lihat sari hanya memandang ke depan tanpa ekspresi.

Sudah beberapa kali kami menuruni gunung dan belum terlihat adanya pasar yang dimaksudkan oleh Sari.

"Masih jauh mba pasarnya?" Om supir bertanya. Tapi Sari diam saja, masih tanpa ekpresi.

"Mba..."

Mas Azzam pun ikut memanggil dan Sari tetap tidak menjawab tanpa ekspresi. Melihat keadaan ini kami semua bingung, aku langsung merapatkan diriku kejendela mobil menjauhi Sari. Tiba-tiba hawa menjadi sangat dingin, dan seketika kulihat Sari menengok kearahku dengan menyeringai tersnyum sampai selebar daun telinga. Melihat hal itu aku langsung ketakutan berteriak, "Astaghfirullah.. Astaghfirullahalazim.. Astaghfirullahalazim..."

Pada waktu itu kami dalam keadaan panik dan ketakutan. Dan Setan Sari langsung tertawa menggelegar seperti khasnya kuntilanak,

"Hihihihi.... Hihihi... Hihihi..."

Entah apa yang terjadi. Saat kubuka mata aku terbangun disebuah rumah, ternyata ini adalah rumah Paman dari supir kami. Ternyata aku pingsan, mungkin tidak tahan dengan kejadian mistis tadi apalagi jarak ku dengan kuntilanak Sari hanya beberapa jengkal.

"Sha.. Sha.. Sudah sadar? Ayo minum dulu." Terlihat Mas Azzam dan beberapa orang begitu khawatir. Mereka adalah Paman, tante, dan keponakannya Om supir.

"Alhamdulillah... " Seru mereka hampir berbarengan.

"Alhamdulillah sudah gapapa, Sha. Kita dirumah Pamannya Ridho" Nama Supir kami.

"Mas.. Setan.." Aku terisak karena masih ketakutan. Wajar lah ya, karena ini kali pertama ku bertemu mahluk ghaib. Duduk berdekatan pula.

"Iya.. Iya.. Udah gapapa, Mbak. Setannya sudah pergi." Sahut Pamannya Om supir.

Ternyata setelah penumpang yang kami bawa berubah wujud. Om supir dan Mas Azzam langsung berdo'a sambil menyetel Murottal di Audio mobil. Melihat aku yang tak sadarkan diri mereka panik dan kebetulan sudah memasuki kabupaten yang disitu ada rumah pamannya supir, mereka langsung berhenti disana.

Dengan kejadian yang sangat menakutkan ini kami memutuskan untuk bermalam di rumah pamannya Om supir dan melanjutkan perjalanan besok pagi. Karena ini juga aku jadinya tidak mau lagi bila ada kerjaan yang harus melintasi Gunung Rambutan berangkat petang. Dan selalu berangkat pagi biar tidak ada kejadian seperti ini lagi.

~Sekian~

#fiksiyangterinspirasidarikisahnyata

#luvvv















profile-picture
profile-picture
profile-picture
joewan dan 10 lainnya memberi reputasi
Sepiii.... , dingin
brukkkk.. sampe ketiduran...
serem amat ya sampe di tampakin semua serempak klo duduk d belakang sama miss kun aouto trauma ane 😭😭😭


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di