CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d8ac994c0cad759f2256e22/suara-mesterius-saat-mendaki-di-gungung-ungaran-via-camp-mawar

Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)

Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)
Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)
Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)

Kisah ini sebenarnya sudah cukup lama, yakni pada tahun 2015 lalu. Saat itu, aku bekerja sebagai perantau di salah satu kota di Jawa Barat. Hal yang menjadi kebahagiaan bagi seorang perantau adalah ketika pulang ke kampung halaman.

**********

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, aku bersama 2 orang temanku yang sama-sama perantau pun pulang ke kampung halaman (Semarang). Dalam perjalanan pulang, iseng-iseng aku mengajak teman-temanku untuk muncak ke Gunung Ungaran setelah tiba di Semarang nanti. Dan kabar baiknya, mereka semua setuju.

Aku: "Sesok muncak yokk!" (Besok muncak yokk!)
Bagas: "Ning ndi?" (Dimana?)
Aku: "Ning Ungaran wae sing cedak." (Di Ungaran aja yang deket.)
Bagas: "oke, aku setuju."
Aku: "Liyane piye, setuju rak?" (Yang lain gimana, setuju gak?)
Dedi: "Aku yo setuju, cocok iki gawe ngobati kangen karo Semarang." (Aku juga setuju, cocok ini untuk ngobatin kangen sama Semarang.)

Setelah berdialog bersama ke dua temanku, kami pun menyepakati untuk pergi mendaki di Gunung Ungaran 1 hari setelah tiba di Semarang.

**********

Hari itu pun tiba, hari dimana kami bertiga akan melakukan pendakian. Kami berkumpul di rumah Bagas dan berdiskusi mau lewat jalur pendakian mana.

Aku: "Enak e lewat ndi, Gas?" (Enak nya lewat mana, Gas?)
Bagas: "Nek via Basecamp Mawar wae piye?" (Kalau via Basecamp Mawar saja gimana?)
Aku: "Yowes aku manut awakmu wae." (Yaudah aku ngikut kamh aja.)
Dedi: "Nek aku anut wae lah." (Kalau aku ngikut aja deh.)
Bagas: "Meh mangkat jam piro? Iki wes jam 2, lho." (Meh mangkat jam piro? Ini sudah jam 2, lho.)
Dedi: "Nek mangkat jam 4 wae pye? Saiki awake dewe ngopi sek." (Kalau berangkat jam 4 aja gimana? Sekarang kita ngopi dulu.)
Aku: "Setuju, aku ket mau yo durung sempet ngopi ki gara-gara sibuk nyiapke barang-barang." (Setuju, dari tadi aku juga belum sempat ngopi gara-gara sibuk menyiapkan bekal.)

Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)


**********

Setelah sepakat, sekitar jam 4.15 WIB kami pun berangkat ke Basecamp Mawar yang berada di daerah kaki Gunung Ungaran (Bandungan) dengan bersepeda motor. Karena kita terlalu santai di perjalanan, kami pun tiba di Basecamp Mawar hampir mendekati waktu maghrib, kira-kira jam 5.20 WIB, kami memutuskan untuk istirahat dulu dan melakukan pendakian setelah isyak.

Sambil menunggu waktu maghrib, aku menghidupkan 1 batang rokok, begitupun dengan Bagas, tapi tidak dengan Dedi, karena dia memang tidak merokok.

Adzan maghrib pun terdengar, bergegas kami mengambil air wudhu dan sholat berjamaah. Setelah sholat maghrib, kami bertiga mencari warung terdekat untuk makan, supaya memiliki energi untuk mendaki. Baru saja selesai makan dan merokok 1 batang lagi, tak terasa suara adzan sudah terdengar kembali pertanda waktu sholat isyak sudah tiba. Selesai sholat isyak kami bertiga langsung melakukan pendakian.

Kami berjalan kaki dari Basecamp Mawar menuju ke Pos 1. Belum jauh berjalan, kami berjumpa dengan seorang wanita yang agak tua.

Beliau bertanya, "Mau kemana, nak?"
"Kami bertiga mau mendaki, bu." Jawabku mewakili kedua temanku.
"Yakin mau naik malam ini"? Tanya beliau keheranan.
"Yakin, bu. Soalnya kami sudah niat dari rumah mau naik malam ini." Jawab si Bagas.
"Ya sudah, hati-hati ya nak, jangan lupa membaca doa, jaga sikap dan juga jaga perkataan!" Jawab Beliau sambil memberi pesan kepada kami.
"Ohh ya, bu. Terima kasih kami sudah di ingatkan." Jawab Dedi tanpa ada keraguan.

Pada saat itu, aku seperti menemukan sebuah kejanggalan pada ibu-ibu tadi. Ketika beliau menanyakan kepada kami yakin mau naik malam ini, saat itu aku melihat ekspresi muka nya seolah-olah berkata, "jangan lah, jangan naik malam ini.". Tapi mau gimana lagi, karena sudah memiliki niat dari rumah, ya kami tetap melakukan pendakian malam itu.

**********

Kami melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Pos 1 yang tadi sempat terhenti. Karena trek yang masih mudah, tak terasa kami sudah mencapai di Pos 1. Kami beristirahat sejenak di Pos 1 ini. Namun, saat beristirahat aku mulai merasakan kurang nyaman. Karena dari rumah niat kami memang pure mau mendaki dan tidak mau neko-neko, aku pun tetap positive thinking.

Setelah di rasa cukup istirahatnya, kami melanjutkan perjalanan lagi menuju me Pos 2. Dalam perjalanan menuju ke Pos 2, aku berjalan paling belakang sedangkan Bagas paling depan, karena dari kami bertiga, Bagas lah yang sudah pernah ke Puncak Ungaran.

Saat berjalan, samar-samar aku mendengar seperti langkah kaki di belakangku, padahal aku yakin bahwa tidak ada orang di belakangku karena aku paling belakang, pun tidak ada pendaki lain di belakangku.

Dalam kondisi ini, aku berusaha untuk tetap positive thinking. Lama-kelamaan, suara langkah kaki di belakangku semakin terdengar cukup jelas di telingaku, "tap-tap-tap-tap-tap" begitu mengikuti langkah ku. Aku semakin merasa tidak nyaman, sambil tetap berjalan, dalam hati aku mulai berdoa sebisa ku. Dan Alhamdulillah suara langkah kaki itu pun hilang dan di ikuti dengan tibanya kami di Pos 2.

Di Pos 2 aku meminta istirahat dengan nafas ngos-ngosan karena ada rasa takut dan cemas saat mendengar suara langkah kaki yang tadi. Namun kejanggalan kembali aku rasakan. Setelah suara langkah kaki sudah menghilang, di Pos 2 aku malah mencium bau bunga melati yang sangat menyengat.

Aku: "Gas, leren sek ya!" (Gas, istirahat dulu ya!)
Dedi: "Iyo Gas, kesel ki sikil ku." (Iya Gas, capek nih kaki ku.)
Bagas: "Siap. Nglerenke sikil sek." (Siap. Mengistirahatkan kaki dulu.)
Aku: "Lohh, kok mambu kembang melati ya?" (Loh kok bau bunga melati ya?)
Bagas: "Sing nggenah, rak sah meden-medeni kowe!" (Yang bener, jangan nakut-nakutin kamu!)
Dedi: "Tenane? Sek jajal tak rono." (Yang bener, bentar coba saya ke situ."
Aku: "Reneo nek rak percoyo!"
Dedi: "Kok iyo, ambune yo ceto banget ok." (Kok iya, baunya juga menyengat.)
Bagas: "Halah, positiv thinking wae, dari pada parno, mending awake dewe lanjut mlaku wae!" (Postive thinking aja, dari pada parno, mending kita lanjut jalan aja!)

Dari pada semakin parno, kami melanjutkan perjalanan lagi. Sembil berjalan, aku melirik jam yang ada di tanganku, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 20.40 WIB.

Semakin berjalan menjauhi Pos 2, bau melati yang awalnya tercium sangat jelas sudah mulai berkurang dan semakin samar-samar. Dalam perjalanan dari Pos 2 menuju ke Pos 3, aku tidak mengalami gangguan apapun seperti saat perjalanan dari Pos 1 menuju ke Pos 2. Namun, gantian Dedi yang mengalami gangguan. Karena medan yang belum begitu berat, tak terasa kami telah sampai di Pos 3 pada jam 9 malam.

Terdapat sebuah bak penampungan air yang menyerupai kolam renang dan pondok. Di area Pos 3 ini adalah area Perkebunan Kopi Sikendil. Kami istirahat sejenak di Pos 3 ini dan melanjutkan perjalanan lagi ke Kebun Teh. Cukup dekat jarak dari Pos 3 ke Kebun Teh, sekitar 15 menit berjalan kaki, kami pun tiba di Kebun Teh Medini.

Nahh, dari Kebun Teh perjalanan menuju puncak Ungaran cukup terasa berat. Karena jalur yang menanjak terjal dengan medan bebatuan yang licin dan menembus hutan. Ketika melewati hutan, gantian Dedi yang merasa ada gangguan dalam perjalanan kami. Di dalam kegelapan malam yang sangat sunyi, Dedi merasa seperti ada banyak mata yang mengawasi kami di balik pohon-pohon yang rimbun. Di tambah lagi Dedi seperti melihat ada yang melompat-lompat dari pohon ke pohon, tapi anehnya tidak ada pohon yang bergerak yang menandakan bekas lompatan.

Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)


Dedi: "Kok koyo ono sing ngawasi awake dewe ya?" (Kok seperti ada yang mengawasi kita ya?)
Aku: "Ning ndi?" (Dimana?)
Dedi: "Ning walik e wit-wit koyo ono sing gek ngawae awake dewe." (Di balik pohon-pohon seperti ada yang sedang mengawasi kita.)
Bagas: "Perasaanmu wae kui." (Perasaanmu aja.)
Dedi: "Loh, opo kae sing mlompat-mlompat? Kok wit-witan e ora obah ya?" (Loh apa itu yang melompat-lompat, kok pohon-pohonnya gak bergerak?)
Bagas: "Wes, ojo mikir neko-neko. Sing penting awake dewe tetap mlaku wae! Sedelok ngkas tekan puncak kok." (Udah jangan mikir neko-neko, yang penting kita terus berjalan! Sebentar lagi udah sampai puncak kok.)

**********

Dengan rasa cemas dan was-was, kami tetap melanjutkan perjalanan kami. Benar saja, tak lama kemudian kami sudah sampai di Puncak Ungaran. Ku lirik jam yang ada di tanganku ternyata sudah menunjukkan jam 11 malam. Bisa di bilang cukup lambat, karena kami melakukan pendakian malam dan medan cukup berat. Dari kebun teh ke puncak yang biasanya bisa di tempuh dalam waktu 1.5 jam, kita menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di puncak.

Setibanya di puncak, kami langsung mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri kami duduk sebentar di dalam tenda dan berbincang mengenai perjalanan kami tadi. Di dalam perbincangan, tiba-tiba aku teringat dengan ibu-ibu yang tadi bertanya kepada kami sewaktu di Basecamp Mawar.

Aku: "Aku kok kelingan ibu-ibu sing ning Basecamp Mawar kae mau ya"? (Aku kok keinget sama ibu-ibu yang tadi di Basecamp Mawar ya?)
Bagas: "Lha nopo?" (Emang kenapa?)
Aku: "Pas ibu-ibu e kae mau takon, ekspresi wajah e seakan-akan koyo ngomong nek awake dewe ojo munggah bengi iki." (Waktu ibu-ibu yang tadi bertanya, ekspresi muka nya seolah-olah seperti berbicara kalau kita jangan naik malam ini.)
Dedi: "Opo iki sing di maksud ibu-ibu e mau ya? Awake dewe ora oleh munggah mbengi iki soale sepi karo akeh gangguan." (Apa ini yang di maksud ibu-ibu tadi ya? Kita tidak boleh naik malam ini karena sepi dan banyak gangguan.)
Aku: "Iso wae ngono." (Bisa jadi seperti itu.)
Bagas: "Wes rak sah parno, mending turu ngko esuk ndelok sunrise!" (Udah gak usah parno, mending kita tidur, besok pagi lihat sunrise!)

**********

Kami bertiga pun langsung tidur di dalam tenda. Pagi hari setelah aku bangun, kulihat Bagas sudah tidak ada di dalam tenda. Karena tadi malam sempat parno, aku langsung cek Bagas ke luar tenda. Lega hati ku setelah kulihat Bagas di luar tenda sedang membuat api untuk memasak sarapan kami sembari menunggu best momen sunrise.

Setelah kami melihat sunrise dan sarapan pagi, kami langsung berkemas untuk pulang. Dalam perjalanan pulang kami terasa sangat cepat. Selain karena menurun, perjalanan pulang lebih mudah karena pencahayaan yang cukup terang. Berbeda ketika kami naik, malam, gelap dan sunyi. Kurang dari 4 jam perjalanan, kami sudah sampai di Bascamp Mawar. Setibanya di Basecamp Mawar, kami istirahat dulu dan ngopi di warung-warung terdekat. Sehabis ngopi akhirnya kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)

Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)

Sumber: Pengalaman TS
Gambar: sudah tercantum di bawahnya


Suara Mesterius Saat Mendaki Di Gungung Ungaran (Via Camp. Mawar)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafinsyurga dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kreator.artikel
profile-picture
kenzie16465 memberi reputasi


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di