Kaskus

Entertainment

l13skaAvatar border
TS
l13ska
Dimensi Lain Hutan Gunung Banyak
Dimensi Lain Hutan Gunung Banyak

Tanpa kita sadari di dalam hutan pun terdapat sebuah dimensi ruang dan waktu. Dimana dalam dimensi itu ada makhluk ciptaan Tuhan yang tak kasat mata. Ada yang menyebut jin, setan dan lebih populer kita menyebutnya hantu.


Minggu, di penghujung bulan April 1998. Jam di dinding rumah menunjukkan angka 8. Masih pagi. Aku bersama kawan-kawan memuluskan rencana menghabiskan waktu libur kami untuk mencari bunga pinus di Gunung Banyak. Gunung yang terletak di sisi barat desa aku tinggal. Tak jauh hanya sekitar 2 kilometer dari rumahku.


Tepat jam tujuh pagi aku menjemput Hana di rumahnya yang tak jauh dari rumahku. Rumah kami hanya terpaut tiga rumah.

Rupanya Hana mengajak adik kecilnya, Hanes yang masih berumur 5 tahunan. Tanpa banyak berpikir, suaraku menyeruak keluar.

"Gak papa Hanes diajak??" Tanyaku untuk memastikan bocah kecil itu bisa kuat berjalan.

"Nggak papa wes, lha aku disuruh momongsama ibu." Jawab Anna meyakinkan.

Perjalanan kami berlanjut hingga di rumah mbak Susi, kakak kelas yang sering main sama kami. Rupanya Icha yang setia dengan gaya rambut Bruce Lee sudah datang dari tadi.

"Lama sekali sih datangnya?!" protes Icha dengan gaya gemulainya.

"Sorry, ini tadi nyusul Hana." jawabku polos.

Obrolan kami berempat tak berakhir di rumah mbak Susi. Sambil terus mengobrol, kami berlima berjalan melewati jalan-jalan kecil di antara rumah-rumah penduduk. Mengobrol membuat perjalanan jauh dengan jalan yang terus menanjak itu tak lagi terasa melelahkan.

Hanya Hanes yang sesekali merengek minta gendong kakaknya. Capek mungkin. Secara kami yang sudah beranjak remaja, bisa memgambil langkah tiga kali lebih lebar dari langkah kakinya.

Setelah di ujung jalan kampung. Nampak hutan Gunung Banyak dari netra kami. Tak jauh dari tempat kami berdiri. Hanya lima meter di depan pelupuk mata kami. Kami pun menyeberangi lebar jalan raya yang terbentang itu.

Desa dimana aku tinggal ini memang terletak di lereng Gunung Banyak. Desa asri dimana penduduknya mengandalkan hasil pertanian dan beberapa di antara mereka menjadi pedagang sayur. Tanah yang subur menjadi andalan sektor pertanian dari tahun ke tahun.

Dimensi Lain Hutan Gunung Banyak
Picture: blog.um


Suasana mulai sepi begitu kami sampai di tepi hutan. Hutan ini memang jarang dikunjungi masyarakat sekitar. Paling beberapa warga pergi untuk mencari kayu bakar dengan mengumpulkan ranting-ranting kering yang jatuh dari pohon-pohon besar di sekitaran.

emoticon-flower


"Heh, denger-denger kalau masuk hutan kita gak boleh becanda apalagi tertawa jekikikan ya?" tanyaku iseng kepada Hana yang berjalan di sampingku.

"Halah, jere sopo?" kata Hana.

Alah, Kata siapa?

Begitulah jawaban Hana sambil terus bercanda dengan teman-teman yang lain. Di satu kesempatan ia tertawa terbahak-bahak. Kawan yang lain pun tak ada yang menghiraukan perkataanku.

Aku kemudian asyik mengamati pemandangan hutan. Tak lagi peduli dengan anak-anak yang lain. Kulihat pemandangan hijau nan menyegarkan keluar dari pohon-pohon itu. Kemudin kupunguti satu persatu bunga pinus yang kutemui.

Kulihat Hanes sedari tadi mengekor padaku. Sementara Hana asyik bercanda dengan mbak Susi dan Icha. Bocah lelaki berkulit putih itu rupanya lebih nyaman bersamaku.

Dimensi Lain Hutan Gunung Banyak
Picture: pxhere.com


Selang beberapa menit kemudian, mereka bertiga sudah ada di 10 meter diatas posisiku dan Hanes berada. Hanes yang pendiam sedang asyik membantuku memunguti bunga Pinus. Sesekali kulihat ia mengambil dahan yang ditemukan dan memainkan seolah itu adalah pedang. Aku tersenyum demi melihat senyum polosnya.

"Haaaaneees."

Tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkanku. Kuyakini itu adalah suara Hana. Langsung kutengokkan kepala mencari sumber suara. Benar, Hana yang sedari tadi bersama Mbak Susi dan Icha tiba-tiba meluncur. Sendirian berlari seolah mengejar sesuatu.

"Hanees."

Tangan Anna menjulur ke depan seolah hendak meraih apa yang ada di depannya. Kejadian berlari dari atas itu hanya berlangsung beberapa detik. Hingga akhirnya tubuh mungil Hana dihadang sebuah pohon kecil yang tegak berdiri di bawahnya.

Aku masih melongo melihat kejadian aneh itu. Kaget. Tak percaya akan pemandangan flashyang baru kulihat.

Hanes? Pikirku. Kulihat Hanes masih ada di dekatku. Hana masih merintih kesakitan. Kuhampiri dia dengan menggandeng Hanes.

Sontak Mbak Susi dan Icha ikut turun ke bawah begitu melihat Hana merintih kesakitan. Mereka dengan sigap membantu Hana untuk duduk.

Darah sudah mengucur dari bibirnya. Dahinya tampak sudah terlihat memar. Ada luka lecet dengan sedikit darah di dagunya.

Hana mulai bercerita dengan bibir dan dagu berdarah. "Tadi aku lihat Hanes berlari ke bawah. Tanpa pikir panjang aku kejar."

"Loh Hanes sedari tadi sama aku kug. Ini dia." Jelasku sambil mengangkat tangan Hanes yang kupegangi.

emoticon-floweremoticon-flower


Hutan berubah jadi menyeramkan demi mendengar penuturan Hana. Rasa takut menyelimuti hati kami. Mbak Susi saling melirik dengan Icha. Nampak juga ketakutan dalam bahasa isyarat mereka.

Pohon-pohon seolah berubah jadi puluhan makhluk yang menyeramkan. Angin sepoi yang berhembus tak ubahnya seperti sebuah peringatan agar kami segera meninggalkan tempat itu.

Hana yang sempat panik mulai tenang saat melihat Hanes di dekatku.

Saat kami bertiga sibuk melihat dan mencoba membantu menghentikan darah yang mengucur di bibir Hanna. Kulepaskan genggaman ku dari tangan Hanes untuk sekejab. Tak lebih dari tiga detik. Seketika itu juga, aku merasakan Hanes tak lagi di sisiku. Raib dalam hitungan detik.

Kutoleh sisi kanan dimana Hanes berada, untuk memastikan dugaanku salah. Benar. Ia sudah tak ada di tempat. Kemana dia? Tak mungkin dalam sekian detik ia bisa pergi tanpa kutahu.

"Hanes. Loh dimana Hanes?" tanyaku

"Loh mana? Tadi kulihat dia disitu?" Kata Hanna lirih dibareng rintihan kesakitan.

"Iya tadi juga aku liat." Jelas Icha dan mbak Susi berbarengan

"Demi Bapa di surga, Hanes." Hana mulai berdoa, munhkin kali ini dia benar-benar ketakutan kehilangan sang adik.

Hana segera bangun dari duduknya. Ia berpegangan pada pohon. mungkin karena masih pusing setelah benturan keras. Berusaha tabah, ia mulai menitikkan air mata.

"Kita cari Hanes, trus kumpul disini dalam hitungan seratus." perintah Mbak Susi

"Kalo gak ketemu gimana?" Hana semakin panik. Tangisnya tak terbendung lagi.

"Wes ojog nangis. Kita cari dulu. Kalau tak ketemu, nanti kita minta bantuan orang-orang sekitar." Jelas Mbak Susi

Tanpa menunggu komando lagi, kami langsung menyebar mencari Hanes.

Aku memutuskan mencari ke barat. Sekitar tempat aku dan Hanes berjalan tadi. Sementara itu Icha menemani Hana mencari di sisi timur dan mbak Susi mencari di atas.

emoticon-floweremoticon-floweremoticon-flower


Belum jauh aku berjalan. Kulihat Hanes ada di depan sebuah pohon besar. Berdiri memunggungiku dan terus melihat pohon di depannya itu. Ada perasaan lega hinggap di hatiku.

"Hanes." Kupanggil namanya pelan dan menyentuh pundaknya.

Sosok bertubuh kecil di depanku perlahan menoleh kearahku. Senyum mulai merekah di bibirku diiringi hawa dingin yang tiba2 berhembus di tengkuk leherku. Ada perasaan tak enak mneggelayuti hatiku kala itu.

Betapa kagetnya aku ketika Hanes menoleh. Wajah Hanes yang kukenal imut dan lucu berubah jadi wajah seorang kakek. Menyeramkan. Tatapan matanya penuh kebencian. Tak ada aura kehangatan terpancar dalam wajah keriputnya itu.

Ia melotot kearahku. Seolah menyimpan kebencian kepadaku. Garang dan sangat menakutkan. Wajah pucat itu mendekatiku dan meneriakkan sebuah kata.

"Peerrrgiiii."

Quote:


Dimensi Lain Hutan Gunung Banyak

Aku bejalan mundur, terjatuh, kemudian terjerembab ke tanah. Jantungku seolah mendapat sebuah pukulan hebat. Aku kaget demi melihat sosok seram di depanku itu.

"Ya Allah. Allahu Akbaaar. Yaaa Rahman. Yaa Wahaaab." Semua nama yang baru kupelajari di kelas Agama Islam beberapa hari lalu segera kulafalkan. Kututupi mukaku sejenak dengan kedua tanganku.

Jangan mendekat. Jangan mendekat. Jangan sakiti aku. Harapku dalam hati

Saat keberanian mulai muncul lagi segera kubuka mata dan berusaha menggerakkan kaki ini untuk berlari meninggalkan sosok kakek-kakek di depanku. Bukan Hanes.

Meski ketakutan, bibir ini tak mampu meneriakkan satu kata lagi. Seolah terkunci. Sambil berlari aku terus membatin asmaul husna yang aku hafal: Al-Qudus, Al-Wahab, Al-Malik, dan Al-Ahad.

Aku berlari kembali ke arah timur. Berusaha kembali ke titik dimana Hana terantuk pohon tadi. Tepat saat itu juga kulihat Icha dan Hana berlarian dari arah sebaliknya.

"Meeediiii." Kata itu pun terus keluar dari mulut Icha. Hana mengekor dibelakangnya.

"Setaaaaan." Suara mbak Susi tak kalah banter, kudengar jelas karena berasal dari atas.

Sama seperti aksi Hana meluncur bebas Tadi. Mbak Susi merosot dari atas sambil sesekali memegangi rumput atau dahan kayu kecil yg bisa diraihnya. Icha yang lari tunggang langgang sesekali jatuh. Hana yang turut berlari dibelakang Icha terus memegangi baju Icha. Tak mau ditinggalkan.

Akhirnya kami berhasil berkumpul di titik semula. "Ayook kita pergi." ajakku untuk segera bergegas

"Hanes belum ketemu. Gimana ini?" Hana panik.

"Ibuuu ibuu." Sebuah suara samar terdengar

"Itu Hanes." Tunjuk Icha

Aneh, barusan tidak ada siapa pun di bawah pohon itu. Tapi sekarang Hanes sudah duduk bersandar dibawah pohon sambil memeluk kedua lututnya. Ia muncul begitu saja layaknya sulap tipuan mata.

"Puji Tuhan, Hanes." Hana berhambur menghampiri Hanes

"Alhamdulillah." ucap Mbak Susi dan Icha berbarengan lagi

Hana pun segera membantu Hanes berdiri. Hanes sesenggukan menangis.

"Aku takut. Jangan ditinggal." rengekmya sambil memeluk sang kakak.

"Enggak kug, enggak ditinggal. Maafin mbak yaa."

"Ayo kita pulang." Ajak Mbak Susi

Rasa takut menyusupi hati masing-masing dari kami. Aku pun tak henti-hentinya menyebut nama Allah dan asmaul husna yang lain. Padahal aku tak tahu apa artinya itu.

Kami pun memutuskan segera kembali dengan hasil seadanya. Selama perjalanan pulang menyusuri jalan setapak hutan tak ada satu pun dari kami berani berucap. Kami hanya diam.

Tak berani membahas hanya fokus pada langkah kami. Kulihat tangan Hanes digenggam erat Hana. Mungkin ia khawatir adiknya akan hilang hingga sakit di bagian wajah tak lagi dihiraukan.

emoticon-floweremoticon-floweremoticon-floweremoticon-flower


Di rumah mbak Susi. Kami memutuskan beristirahat sejenak. Hana mengoleskan minyak tawon ke dahi dan hidungnya. Dagu yang lecet ditempeli dengan hansaplast. Wajah cantiknya jadi terlihat aneh.

"Tadi kubilang juga apa? Kamu sih jekikikan saja di hutan. Jadinya kita dihantui kan?"

"Yah, mana kutahu kalau bakal begitu. Trus, kalo tadi bukan Hanes, siapa dong yang kukejar?" Heran Hana

"Penunggu hutan kali." Jawabku ketus

"Igh serem, aku gak mau lagi main ke Gunung Banyak."

Mbak Susi dan Icha hanya saling pandang mendengar obrolan kami. Kemudian mereka berdua menghela nafas.

Dari cerita ketiga kawanku ini. Saat pencarian Hanes kami berempat melihat penampakan yang sama yaitu sosok kakek-kakek tua. Perintah kakek itu pun sama, kami disuruh pergi.

Lain halnya dengan Hanes. Dia bercerita dengan kepolosannya bahwa ada nenek-nenek yang menggandeng tangannya saat kami baru masuk hutan. Nenek itu menyuruhnya menunggu kami dan duduk di pohon.

"Aku takut mbaaak. Nenek itu diam saja. Sereem mbak."

Dimensi Lain Hutan Gunung Banyak
Picture: boombatis


Artinya, Hanes sudah hilang sejak awal kami sampai di hutan. Bocah kecil itu sudah terpisah dari kami sejak lama.

Deg, jantungku langsung berdegup kencang.

Lalu siapa yang sedari awal bersamaku? Siapa yang kugandeng tangannya kalau bukan Hanes??

Tubuhku merinding demi mendengar cerita Hanes. Bulu kuduk di tanganku seolah berdiri semua. Spontan tanpa mampu kukendalikan. Aku telan ludah dan kurakakan tenggorokanku semakin kering.

Kami berempat sepakat bahwa kedua makhluk yang menghantui kami adalah penunggu Hutan Gunung Banyak. Mungkin masih ada penunggu yang lain. Berhubung kami hanya anak kecil jadi mereka berdua-lah yang mendatangi kami.

Sejak saat itu, tak lagi kami berani melangkahkan kaki ke Gunung Banyak. Membicarakan itu kami pun tak mau.

Inilah kisah pendakian pertama yang menyeramkan dalam hidupku. Aku selalu teringat pengalaman ini setiap kali berbicara tentang gunung dan hutan.

Sebuah pengalaman berharga yang mengajarkan agar kita menghormati hutan. Hutan dan gunung pun punya dimensi lain. Sebuah dimensi ruang yang mungkin sama dengan dunia manusia. Namun berbeda dalam segi waktu saja. Dimensi yang dihuni oleh banyak makhluk tak kasat mata.

~Alam Gaib~



Quote:
Diubah oleh l13ska 22-09-2019 05:37
sebelahblogAvatar border
infinitesoulAvatar border
zafinsyurgaAvatar border
zafinsyurga dan 10 lainnya memberi reputasi
11
2K
39
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan