KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Dimensi Alam Lain di Penanggungan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d847a024601cf491321394e/dimensi-alam-lain-di-penanggungan

Dimensi Alam Lain di Penanggungan

Dimensi Alam Lain di Penanggungan


Dimensi Alam Lain di Penanggungan

Ini adalah cerita dari teman saya yang pernah mengalami hal janggal saat perjalanan mendaki gunung Penanggungan. Sebelumnya saya sudah mendengar cerita ini sejak lama. Awalnya cerita ini hanya untuk kami kerabat dekatnya termasuk saya, agar selalu menjaga etika dan tata krama dimanapun tempat kita berpijak, termasuk di Gunung.

Karena kebetulan ada event menulis cerita tentang Kisah Horor Diatas 10.000 kaki, dan saya belum pernah mengalami hal-hal mistis diatas gunung, saya mencoba untuk merundingkan kepada yang bersangkutan. Apakah cerita ini boleh saya angkat untuk dijadikan sebuah cerpen atau tidak.

Awalnya dia menolaknya dengan tegas. Karena takut nanti akan jadi marabahaya untuk dirinya sendiri dan takut jika nanti pengunjung di gunung tersebut menjadi sepi. Namun, saya memastikan untuk merubah semua nama tokoh tapi tidak untuk latar. Hehehe

Saya memastikan kembali bahwa cerita yang ada didalamnya akan saya atur ulang sedemikian rupa. Bahkan mungkin bisa dibilang berlebihan dalam cerita yang saya buat. Jadi intinya, tidak semua dalam cerita ini fakta, dan tidak semua dalam cerita ini fiktif. Biarlah pembaca yang menilai, hanya untuk sebuah pembelajaran dan pengalaman untuk kita semua.

Setelah beberapa argument dan pertimbangan, akhirnya alhamdulillah, rekan saya setuju. Bahkan terkesan lucu menurutnya. Oke langsung saja...

Cerita ini terjadi sekitar tahun 2009. Tepatnya di Gunung Penanggungan yang terletak di diantara kabupaten Pasuruan dan kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Awalnya, tujuan mereka hanya untuk sakadar mengisi waktu luang di sebuah warung kopi pusat kota di Mojokerto. Namun karena Anton melihat rekannya yang sedang terkena musibah, ia mencoba untuk menghiburnya. Berkali-kali gagal, ia tetap saja masih tidak bisa terhibur. Akhirnya, gunung adalah solusi mereka. Seperti apa kisahnya, silahkan menikmati jalannya cerita.

Dimensi Alam Lain di Penanggungan


Spoiler for Ender Guney Music:


Dimensi Alam Lain di Penanggungan


Dimensi Alam Lain di Penanggungan


Senja telah resmi menjadi malam. Pukul 18:00 WIB selepas sholat Maghrib, Anton sedang menunggu seseorang di sebuah warung kopi di dekat jalan Majapahit, kota Mojokerto. Kebetulan saat itu ia sedang libur kerja dan ingin bertemu kawan lamanya yang ada di kota itu. Selang beberapa menit suara bising sebuah motor terdengar dari halaman parkir warung tersebut. Anton melambaikan tangan kepada pengendara motor itu.

***

“Sori lama. Tadi masih ada kendala di jalan. Aku habis nabrak orang." Ujar pria itu.

"Innalillahi. Terus, kamu enggak apa-apa?” Tanya Anton pada pria itu yang telah duduk di depan mejanya.

“Ya enggak apa-apa sih. Cuma orang yang aku tabrak lecet kaki sama tangannya. Untung aja enggak ada polisi, orangnya juga mau di selesaikan dengan cara damai.”

“Alhamdulillah, syukurlah kalo gitu.” Balas Anton lega.

“Syukur apanya. Aku bayar tiga ratus ribu buat tuh orang.” Kesal pria itu sambil memegangi kepala.

“Loh, kok banyak? Emang parah?"

Pria itu menjelaskan panjang lebar kronologi kejadiannya. Korban yang di tabrak meminta pertanggung jawaban, jika ingin menyelesaikan dengan cara kekeluargaan harus membayar besaran sekian. Awalnya si korban meminta uang sebesar 500 ribu, namun pria itu hanya memiliki uang 300 ribu terakhirnya di dompet. Mau tak mau ia hanya bisa memberikan sembari mengikhlaskan uang terakhirnya untuk bertahan sampai akhir bulan menunggu gajian. Lebih baik damai daripada urusan polisi ujarnya.

Anton yang melihat kawannya kesal itu mencoba untuk menghiburnya. Namun obrolan demi obrolan mereka terasa hambar karena pria itu tak kunjung tersenyum. Tak sesekali ia mengucapkan kata-kata yang tidak mengenakkan untuk di dengar. Semakin lama Anton pun jengkel melihat kelakuan dan perkataannya. Tak sedikit pula sorot pandang dari pengunjung lain memperhatikan mereka berdua.

Tetiba itu Anton mengingat sesuatu jika kawannya ini dulunya suka mendaki gunung sama dengannya. Walaupun pria itu telah vakum mendaki selama setahun silam. Apa salahnya untuk mengajaknya ke puncak lagi agar lebih tenang fikirannya melupakan kejadian yang telah menimpanya.

***

“Ren.” Ujar Anton.

“….” Pria itu masih diam tak menghiraukan.

“Ren… Rendi. Mendaki malam hari berani nggak?” Tantang Anton.

“Dimana?”

"Sini aja, yang deket-deket. Di Penanggungan mungkin." Tawar Anton.

“Kapan?”

“Sekaranglah.”

“….” Rendi hanya terdiam lama. Lalu ia berujung menjawab. “Kamu ini, udah aku ketimpa masalah, malah ngajak muncak. Enggak ada uang aku.”

“Justru itu yang asik. Biar pikiranmu tenang diatas puncak. Soal uang enggak perlu dipikir. Kayak mau ke mall aja butuh uang banyak."

"Enggak lah." Pungkas pria itu.

"Ayolah, biar suasana hatimu sedikit terhibur. Enggak tega aku liat kamu yang kayak gini. Daripada di rumah malah pening." Rayu Anton.

Setelah lama dipertimbangkan, akhirnya Rendi mengamini tantangan Anton. Karena pendakian yang terbilang dadakan, mereka hanya membawa alat seadanya saja. Lagipula gunung Penanggungan juga sudah menjadi tempat pendakian mereka untuk kesekian kalianya. Jadi, mereka sudah hafal betul medan yang akan mereka lalui. Pun soal pendakian, mereka sudah berpengalaman. Namun, malam hari adalah kali pertama ini mereka mendaki.

Pukul 9 petang mereka sudah siap untuk berangkat. Menggunakan motor Suzuki Anton, mereka bedua langsung bertolak kearah Trawas. Namun setiba di daerah Mojosari, ban motor mereka bocor di tengah jalan. Otomatis mereka harus menuntun motornya sembari mencari tambal ban yang masih buka. Dan lagi-lagi Rendi menggerutu karena perjalanan mereka terhambat. Anton mencoba untuk menenangkan agar tidak mengumpat perkataan joroknya. Namun tetap saja, ia masih terus menggerutu kesal.

Setelah beberapa menit mengarungi jalanan, akhirnya ada tambal ban 10 meter di depan mereka. Namun sudah tutup, hanya ada kompresor angin di depan rumah tersebut. Tanpa menunggu lama, mereka langsung mengetuk pintu rumah itu, berharap penjaga tambal ban membukakan pintu rumah. Beruntung si pemilik rumah masih terjaga dan mau menolong mereka berdua, walaupun sebelumnya banyak negosiasi karena semula si pemilik tambal ban enggan menambal motornya.

Tiga puluh menit berlalu cepat. Motor sudah bisa mereka kendarai kembali. Dalam perjalanan, Rendi masih terus bergeming. Anton mencoba membuka percakapan, namun hanya dijawab dengan ketus dan tatapan kesal. Bukan seorang Anton namanya jika ia melihat sahabatnya marah langsung putus asa. Ia terus mencoba membuka obrolan-obrolan ringan. Dan akhirnya Rendi juga bisa luluh dari egonya, ia sudah mulai bisa tersenyum kembali. Anton paham tabiat Rendi saat sedang kesal, hanya diam dan minta diperhatikan layaknya seorang gadis yang sedang mengambek kesal.

Tepat pukul 22:30 WIB mereka telah sampai di dekat perempatan balai desa Tamiajeng. Mereka mengambil jalur Tamiajeng karena terbilang jalur paling umum pada saat itu. Disana mereka menitipkan motornya pada salah satu rumah warga yang bernama mak Sut. Karena kebetulan mak Sut ini juga memiliki warung di depan balai desa Tamiajeng, yang juga telah menjadi langganan beberapa kali saat mereka akan mendaki gunung Penanggungan, disana mereka sudah dianggap seperti anak sendiri oleh mak Sut.

Mak Sut bertanya perihal kedatangan mereka malam itu. Lalu mereka menjelaskan bahwa tujuan mereka berdua adalah ingin mendaki tengah malam. Seketika itu mak Sut kaget bukan kepalang mendengar penjelasan dari mereka berdua. Karena sangat jarang sekali ada pendaki tengah malam. Pun biasanya mereka saat mendaki juga pada pagi hari, kalau tidak siang hari. Bukan melarang, lebih tepatnya perkataan mak Sut saat itu adalah meminta agar mereka mengurungkan niatnya dan melanjutkan pendakian esok hari saja.

Tidak ada alasan jelas dari wanita paruh baya itu, beliau hanya mengingatkan jika memang niat mereka mendaki malam hari, lebih baik esok saja. Karena jarak pandang dan jalur menuju puncak malam hari akan lebih sulit dibandingkan siang hari. Namun Rendi menimpal perkataan mak Sut. “Hallah mak, orang kita sering mendaki disini saja kok. Apalagi Penanggungan, sudah hafal banget sama jalurnya.” Paparnya sombong.

“Huss Ren, jangan sombong begitu. Jaga perkataanmu!” Tukas Anton yang sepertinya ia mulai terasa dengan peringatan dari mak Sut.

“Bukan begitu nak, emak Cuma khawatir. Tapi kalau tetap ingin naik juga enggak apa-apa. Tetap berdo’a saat di dalam alas ya, semoga enggak ada apa-apa. Monggo di habiskan dulu suguhannya” Sahut Mak Sut sembari mempersilahkan suguhan yang di sajikan.

Setelah beberapa perbincangan ringan dengan mak Sut, mereka berdua berujung pamit untuk segera naik ke puncak Penanggungan. Sebelumnya mereka di beri bekal oleh mak Sut, 4 mie instan dan 2 botol air mineral 1,5 liter. Untuk jaga-jaga jikalau lapar di tengah alas gunung.

Saat di perjalanan, Anton mulai merasa tidak enak untuk melanjutkan perjalanan mereka. Bahkan hal aneh pertama yang mereka temui pada saat berjalan melewati perkampungan dan akan memasuki alas gunung, mereka melihat banyak orang sedang bermain kartu di pos kamling terakhir sebelum masuk alas pegunungan. Kebetulan juga pos tersebut berhadapan dengan makam kampung disana. Tapi saat itu Anton tidak sadar jika di pos tersebut banyak orang bermain kartu. Yang tahu jelas hanya Rendi.

***

“Nyuwun sewu.” Ujar Rendi permisi sambil membungkuk.

“….” Anton hanya terdiam keheranan. Mungkin karena melewati makam, Rendi menunduk permisi. Kemudian Anton berujung mengucap “Assalamu’alaikum.”

Setelah jarak sekitar 50 meter mereka berjalan melewati tempat itu, Rendi bertanya pada Anton, “Kamu tadi kenapa mengucap salam?”

“Lah kamu juga kenapa bilang permisi?" Ujar Anton menyela. “Bukannya karena kita lewat makam tadi, jadinya kamu bilang permisi? Aku ya ikut mengucap salam-lah.” Sambungnya.

Rendi menepuk jidat. “Lah mata kamu enggak lihat apa, banyak orang sedang main kartu remi di pos depan makam tadi? Maksudku tadi permisi buat orang-orang disitu, bukan di makam.” Paparnya.

“Matamu sendiri yang enggak lihat, daritadi di pos ya enggak ada orang.” Jelas Anton tak terima.

Kemudian Rendi menoleh kebelakang. “loh jancuk, kok tiba-tiba sepi ton? Terus yang aku lihat tadi siapa?” Ucapnya lirih.

“Rend, jangan bercanda Rend. Kita baru sampai sini loh ini."

“Sumpah ton, aku enggak bercanda. Tadi orang-orang pas aku sapa juga pada tertawa semua. Terus menyapa balik ke kita.”

Anton melihat wajah Rendi memang terlihat sangat serius dan tegang. “udah-udah, setelah ini jaga perkataan. Jangan suka ngomong sembarangan.” Ujar Anton melerai perdebatan. Walaupun saat itu bulu kuduknya juga sedang berdiri ketakutan.

Mereka terus melakukan pendakian. Meskipun dengan rasa takut dari diri Anton, ia enggan mengajaknya kembali. Karena jika itu terjadi, maka reputasinya sebagai lelaki akan tercoret habis-habisan di depan Rendi. Anton yang menantang, masak iya dia sendiri yang mengurungkan?

Dalam perjalanan pendakian, tak ada satupun pendaki yang berpapasan dengan mereka. Mana ada orang mendaki di tengah malam seperti ini? Rendi yang terus bernyanyi dalam perjalanan mencoba untuk menghibur dirinya di tengah gelapnya lintasan yang mereka lewati. Ternyata benar kata mak Sut, perjalanan malam hari akan terasa lebih berat dibandingkan siang hari. Pandangan pun hanya tertuju pada sinar headlamp yang mereka pakai. Benar, berat sekali seperti apa yang Anton rasakan saat ini. Tetiba geraknya terasa sangat berat untuk berjalan. Seperti ada yang ia gendong.

Padahal, dalam isi carrier Anton hanya ada Sleeping bag, tenda, dan matras saja. Selebihnya tidak ada apapun. Sedangkan untuk 2 botol minum dan 4 mie instan ada di carrier Rendi. Kemudian Anton memanggil Rendi yang sudah terlihat semakin menjauhinya ke atas.

"Rend... Rendii..." Pekik Anton.

"...." Rendi tetap tak menghiraukan. Ia tetap berjalan dengan bernyanyi lantang.

"Rend!" Anton mencoba untuk berteriak sekencang-kencangnya. Namun Rendi tak mendengar, perlahan suara nyanyian Rendi menghilang perlahan.

Sementara dari sisi Rendi, ia merasakan seperti ada yang memanggilnya dari belakang, namun suaranya halus. Ia celingukan ketika melihat kebelakang tidak ada Anton di belakangnya. Padahal sedari tadi Rendi merasakan keberadaan Anton hanya berjarak beberapa centi dibelakangnya. Kemudian ia melihat sorotan lampu kecil dibawah. Seperti kunang-kunang, tapi juga seperti headlamp milik Anton. Ia mencoba untuk menghampirinya. Semakin Rendi mendekatinya, sorotan lampu itu semakin menurun kebawah. Sejenak langkahnya terhenti, sinar itu berputar kemudian berhenti, dan berkali-kali seperti itu.

Rendi heran, ia mencoba untuk memastikan bahwa itu adalah Anton. "Ton, ngapain kamu muter-muter di situ. Cepetan naik!" Pekiknya.

Namun tak ada jawaban. Sinar itu hanya bergeser ke kiri dan kanan seperti mengisyaratkan gelengan kepala. Rendi yang kesal melihat tingkah yang aneh itu, akhirnya turun kebawah dengan cepat menghampiri sinar yang dikiranya itu adalah Anton. Saat jaraknya sudah semakin dekat, sinar itu justru terbang keatas mengeluarkan asap diatas kepala Rendi, kemudian perlahan menghilang. Namun tak terlihat sosok apa yang ia lihat. Yang jelas, ia tak bisa berucap apa-apa. Rendi terdiam seribu bahasa dan kemudian segera kembali keatas. Seketika ia memutarkan badan, tubuhnya menabrak punggung seseorang.

*bruuk!!

"Jancuk!" Sontak perkataan pertamanya tak sengaja terlontarkan dari mulut Rendi. "Kamu dari tadi kemana aja sih? Kok tiba-tiba didepanku?" Sambungnya heran.

Ternyata itu adalah tubuh Anton. Ia juga menoleh kearah Rendi seraya berkata, "Sebentar, bukannya kamu tadi udah diatas ya?" Balas Anton yang juga kebingungan. "Aku daritadi teriak panggil kamu tapi kamu malah makin jauh enggak kelihatan." Anton melengkapi perkataannya.

"Aku tadi lihat sinar dibawah. Aku mikirnya itu sinar dari headlamp kamu, pas aku mendekat malah terbang keatas. Ya aku takutlah, terus mau balik naik keatas. Ternyata kamu udah didepanku." Jelas Rendi.

"Tadi aku juga terasa berat banget di carrierku. Padahal sejak perjalanan tadi enggak begitu berat." Anton juga menjelaskan.

Belum selesai perdebatan mereka, beberapa menit kemudian terdengar suara seperti seorang wanita yang membisik. Namun terdengar jelas, sangat jelas sekali. Sampai Anton menepuk punggung Rendi.

"Rend, denger nggak?"

"Aku tadi juga denger suara ini." Jelas Rendi.

Mereka berdua sejenak terdiam. Tak lama suara itu kembali lagi. Namun lebih jelas, seperti sedang memanggil seseorang. Suaranya seperti "Haaaaiiii." Jelas sekali terdengar di kedua telinga mereka.

"Nyuwun sewu mbah. Putune namung bade lewat." Ujar Anton menggunakan bahasa Jawa halus.
(Permisi mbah. Cucunya hanya ingin lewat)

"Udah ton, enggak perlu takut." Sambil menepuk pundak Anton. "Tetep lanjut, Kalo kita takut malah tersugesti sendiri nanti. Kita disini enggak ganggu kan." Ujar Rendi menguatkan hati Anton. Walaupun saat itu juga Rendi sedang gemetar ketakutan betul.

-Bersambung-
Lanjut ke Part II 


Quote:
Polling

Poll ini sudah ditutup - 16 Suara

Beri Pendapat tentang cerita ini 
Beri Pendapat tentang cerita ini 
62.5%
Serem!
31.25%
B Aja
6.25%
Jelek
profile-picture
profile-picture
profile-picture
garpupatah dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks
Halaman 1 dari 6

Dimensi Alam Lain di Penanggungan

Part II

Anton hanya mengamini namun dengan syarat ia berada di depan Rendi. Beberapa waktu berlalu, dan beberapa suara-suara aneh mereka acuhkan. Pukul 3 pagi mereka telah sampai di puncak Bayangan. Tempat Campground terakhir sebelum mencapai puncak Penanggungan untuk pendaki yang melalui jalur Tamiajeng.

Dan lagi-lagi kejadian janggal terjadi pada mereka berdua. Saat Anton sedang membuka carrier bermaksud mengeluarkan tenda, tetiba itu tenda dan sleeping bag tidak ada dalam carriernya. Di oyak-oyak dan dibuka resletin dalam carriernya masih tidak ketemu. Sementara Rendi yang tengah menikmati tembakau di sebelahnya melihat kawannya sedang kebingungan.

***

"Ada apa?"

"Tendaku dimana ya? Padahal tadi aku bawa loh." Jawab Anton sembari mencari tendanya.

"Tadi kamu taruh mana?"

"Ya di dalam carrier lah. Mana yang hilang tenda sama SB lagi." Anton mulai panik.

"Terus gimana nih. Jangan-jangan matras kamu juga hilang. Aku enggak bawa tenda sama matras loh."

"Kalau matras ini ada. Tapi tenda sama SB-ku enggak ada. Aneh, padahal carrierku enggak ada yang bolong."

"Yaudahlah, gelar matras aja. Bentar lagi juga pagi. Alamat enggak tidur dah." Ujar Rendi sambil terkekeh.

"...." Anton hanya diam tak menghiraukan. Ia masih sibuk mencari sleeping bag dan tendanya.

"Udahlah enggak usah dipikir. Tadi kamu bilang mau menghibur aku disini. Eeh malah kamu sendiri yang panik." Ujar Rendi meledek.

Mendengar perkataan Rendi, ia jadi teringat janjinya tadi. Kemudian Anton mencoba untuk merelakan kehilangan sleeping bag dan tendanya. Namun masih saja ia membahas itu dengan Rendi.

"Kamu inget nggak Rend, tadi aku sempet bilang kalau punggungku sempet berat enggak bisa gerak. Tapi setelah kamu tabrak dari belakang, rasa berat itu tiba-tiba hilang. Terus jadi enteng banget di belakang punggungku." Ujar Anton menjelaskan panjang lebar.

"Jadi kamu nuduh aku yang ambil!" Tukas Rendi.

"Enggak begitu Rend. Tapi..." Belum selesai menjelaskan Rendi menimpal. "Tapi apa? Udahlah, kamu nuduh aku kan?" Bentaknya.

"Rend, aku enggak nuduh. Cuma disana tadi ada hal yang janggal. Terus...." Belum selesai menjelaskan, terdengar suara dari atas. Seperti suara wanita mengendus-endus kelelahan. Mereka berdua pun mendengarnya. Kemudian di susul dengan suara teriakan seorang pria, seperti sedang memanggil. "Hoiii!"

Karena mereka berfikir ada orang lain diatas, Rendi menyahut panggilannya. "Woooy!"

Kemudian suaranya hilang. "Wooy! Ada orang disana?" Pekik Rendi memastikan kembali.

Tetiba hawa menjadi sangat dingin. Mungkin karena mereka tidak memakai tenda dan SB disana. Tapi saat sebelum suara itu ada, mereka tidak merasa dingin. Dingin memang dingin, namun hanya dingin pada umumnya saat di gunung. Anginpun terasa menghembus begitu kencang. Beberapa menit mereka bertahan, semoga tidak terjadi hipo diantara mereka. Jika terjadi, maka akan sangat merepotkan. Di sela-sela hawa dingin, suara itu kembali memanggil. Dan dibalas oleh Rendi, namun tidak ada balasan kembali.

Karena hari mulai terang, matahari sudah mengintip dari ufuk timur, mereka memberanikan diri menghampiri sumber suara yang ada diatas. Mereka yakin bahwa diatas ada banyak orang dan yakin mereka sedang di goda oleh orang-orang yang ada diatas. Namun sepanjang perjalanan sampai diatas puncak gunung, tak ada satupun orang yang ada disana. Mereka heran sedikit takut, lucu tapi tak bisa tertawa. Keduanya hanya bertatapan dan menggelengkan kepala.

***

Pagi sedang berangkat menuju siang, berjam-jam telah mereka lalui didalam alas gunung. Selama perjalanan turun, tidak ada kejadian aneh seperti malamnya. 4 mie instan tetap ada dalam carrier Rendi. Hanya 1 botol saja yang mereka teguk saat perjalanan semalam. Mungkin karena tidak sempat ada fikiran untuk makan. Yang ada hanya rasa dihantui oleh perasaan takut dan penasaran.

Waktu menunjuk pukul 11 siang, mereka telah sampai di rumah mak Sut. Setelah menikmati sarapan siang di warung mak Sut, mereka bermaksud pamit undur diri dan mengembalikan 4 mie instan dan 1 botol air mineral yang telah beliau berikan semalam.

"Hallah, enggak usah lah nak. Di bawa saja, di masak di rumah." Ujar mak Sut.

"Tapi mak, kami sudah banyak merepotkan mak Sut dari semalaman." Balas Anton.

"Sudahlah, kalian sudah jadi langganan disini saja kok." Jelas mak Sut. "Sering-sering kesini, biar sambung silaturahminya." Imbuhnya.

"Terima kasih banyak ya mak. Iya, kalau ada waktu lagi kami pasti kesini lagi kok." Sahut Rendi tersenyum.

Anton lega melihat rekannya bisa kembali tersenyum dan melupakan kejadian tiga ratus ribunya. Kemudian Anton mengambil motornya yang ada di dapur rumah mak Sut. Sontak mata Anton terbelalak kaget, melihat sleeping bag dan tendanya ada di atas motor.

"Loh, kok SB sama tendaku disini ya mak?" Ujar Anton sembari menunjuk kearah jok motornya.

"Perasaan dari semalam ya memang ada di atas jok mas." Sahut seorang pemuda; anak mak Sut yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Lah, gitu nuduh aku semalam. Semprul!" Timpal Rendi.

Anton hanya diam tak bisa berucap. Ia bingung harus berkata seperti apa, padahal jelas-jelas ia ingat betul kala malam itu sudah siap dan telah masuk dalam carriernya. Pun ia juga merasakan bobot yang cukup terasa di punggungnya saat ia mendaki.

Lalu Rendi menepuk pundaknya. "Udahlah, lupakan. Yang penting hari ini kita masih disini dan selamat." Ujarnya tersenyum. Kemudian Anton membalas senyumnya.

Dalam perjalanan pulang, mereka saling menertawakan satu sama lain, mengingat kejadian aneh saat petualangannya semalam. Mungkin, suatu saat tantangan itu akan kembali mereka lakukan pada gunung-gunung lain yang berbeda. Karena gunung bukanlah musuh, tapi sahabat untuk manusia. Walaupun disana banyak makhluk yang tak kasat mata, kita sebagai manusia tidak bisa semena-mena menolak kehadirannya, kita harus tetap menerimanya. Asal kita tidak mengganggunya, mereka pun tak mengganggu kita. Karena di bumi ini bukan hanya untuk manusia, tapi untuk seluruh makhluk dari ciptaannya.


---TAMAT---


Spoiler for Buat Pemanis:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks
Terima Kasih


Terima kasih kepada Tuhan Sang Pencipta yang telah membuat semua ini terjadi. Terima kasih kepada Bapak/Ibu saya yang telah membesarkan saya selama ini. Terima kasih untuk kedua saudara saya yang selalu mendukung saya selama ini. Terima kasih untuk kalian berdua, yang berkenan cerita ini saya publikasikan.

Terima kasih untuk semua pembaca sejagat kaskus, yang selalu setia dengan ikhlas membaca tulisan-tulisan amatir saya.

Terima kasih kepada kawan-kawan mengagumkan diluar sana, yang selalu mendukung pergerakan saya selama ini, baik dalam bentuk makian maupun pujian. Nama kalian tidak tertulis disini, tapi akan selalu terlekat dalam hati.

Tertanda,

Tuffink S.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
destinationbali dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks
Lihat 1 balasan
Jangan request mulusnya Anton sama Rendi yak. Susah carinya, pokoknya ganteng-ganteng deh mereka. emoticon-Genit
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks
Warning! Penakut dilarang membaca Thread ini.
Jika ketakutan semakin berlanjut, itu tandanya anda sedang terbawa dalam alur cerita. emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
Diubah oleh tuffinks
Apakah aku mengenal dirimu?
emoticon-Cool
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post indahmami
Quote:


Spertinya tidak. Hehehe
keren nih jago bikin cerpennya
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post Richy211
Quote:


Hehehe, terima kasih banyak emoticon-Maaf Agan
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Balasan post tsimtsum
Quote:


emoticon-Bingung
Quote:


Hmm..
Seperti'y berarti ada kemungkinan kenal.
emoticon-Cool
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Masak iya?
Kok bisa menduga-duga begitu? emoticon-Malu
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Quote:


Nah, terkadang bahasa yg sama bikin aku kenal kamu.
emoticon-Cool
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Aah, masih praduga. Mungkin hanya kebetulan saja emoticon-Confused
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Quote:


Jangan bilang kalau kamu tuh dia.
emoticon-Cool
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Dia?
Dia siapa lagi ini? emoticon-Cape d...
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Quote:


Dia tuh dirinya yg lain.
emoticon-DP
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Iya tau. Tapi maksudnya dia siapa?
Ini maksud kamu kenal di dunia nyata apa di kaskus doang?
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Quote:


Kaskus aja sih..
Hahaha...
Ciyeee..
Penasaran..
emoticon-Goyangemoticon-Goyang
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
Quote:


Hmmm, ngeledek lagi emoticon-Cape d...
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di