CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Lifestyle /
Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d81d18caf7e934e505f16f0/apa-yang-terjadi-kalau-media-sosial-nggak-pernah-ada

Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?


Kita nggak bisa hidup tanpa media sosial. Itulah kenyataannya saat ini. Nggak bisa dipungkiri, hidup kita erat banget sama gadget  dan segala jejaring sosial yang bisa diakses melaluinya.

Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?

Semua yang terjadi dalam keseharian kita harus banget didokumentasiin, entah lewat Instagram, Twitter, atau Facebook. Mau makan? Foto dulu. Mau tidur? Update status dulu. Apalagi kalau liburan, Insta Story kita bisa full, sampe titik-titik.

Rasanya sekarang tangan kita kayaknya susah banget buat lepas dari ponsel pintar kita, meski barang beberapa jam aja.  Padahal, waktu kecil dulu, rasanya hidup tanpa medsos fine-fine aja tuh. 

Pernah nggak sih, ngebayangin gimana jadinya kalau media sosial itu nggak pernah ada? Apakah hidup kita bakal lebih susah? Atau justru kita bakal lebih bahagia? Nah, bagi yang berandai-andai, ini dia, kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi seandainya media sosial tiba-tiba nggak ada lagi:


1. Kita lebih menikmati hidup

Tanpa kehadiran media sosial, kita tentunya bisa lebih menikmati hidup. Kita bisa lebih meresapi momen-momen indah dan penting dalam hidup kita, tanpa dibatasi sama layar gadget.

Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?

Misalnya, pernah nggak sih kalian merasa kesel waktu lagi nonton konser,  tapi yang kelihatan malah layar-layar ponsel orang lain? Buat apa sih dateng ke konser kalau cuma nonton lewat layar? Mending momen spesial itu dinikmati sepenuhnya,  karena kesempatannya belum tentu dateng dua kali. Begitu juga dengan momen-momen lain di hidup kita, GanSis.

Klaim ini udah dibuktikan sama penelitian loh. Berdasarkan studi yang dilakukan sama Copenhagen’s Happiness Research Institute, mereka yang rehat selama seminggu dari media sosial terbukti punya tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi, serta merasa lebih antusias menjalani hidup.


2. Kita akan lebih berhati-hati dalam memberi komentar

Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?

Dengan adanya media sosial, kita bisa sembunyi dalam anonimitas dan identitas palsu. Makanya, muncul banyak keyboard warriors, yang kerjaannya nyinyir, nge-bully, dan ghibah, tapi beraninya cuma di medsos aja. Bayangin kalau nggak ada media sosial, pasti orang-orang tersebut akan berpikir dua kali sebelum mengomentari sesuatu, atau bahkan nggak berkomentar sama sekali karena identitas mereka bakal ketahuan jelas!


3. Kita akan jarang membandingkan diri kita dengan orang lain

Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?

Nggak jarang kita membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang kelihatannya ‘lebih baik’ kalau dilihat dari foto-foto di Instagram, atau cuitan mereka di Twitter. Padahal, setiap orang cuma bakal menampilkan sisi-sisi terbaik mereka di media sosial. Kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi di balik foto, status, atau cuitan orang tersebut.

Kalo kita terus-terusan membandingkan hidup kita dengan orang lain, gimana kita bisa bahagia? 

Nah, tanpa adanya media sosial, kita bisa melihat kehidupan seseorang dengan apa adanya, dan kita akan berhenti membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain yang kelihatannya sempurna.


4. Kita lebih percaya diri

Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?

Saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang kita lihat melalui media sosial, kita seringkali merasa minder. Selain itu, dengan adanya media sosial, kita jadi butuh validasi orang lain untuk merasa percaya diri. Saat selfie kita nggak dipuji, misalnya, atau foto kita nggak mendapat banyak likes, kita pun jadi ngerasa nggak pede.  Karena fenomena ini nih, Instagram baru-baru ini mencanangkan untuk menghapus fitur likes dari aplikasi mereka. Ane sih setuju sama gagasan yang ini. Kalau GanSis gimana?


5. Kita nggak merasa kesepian

Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?

Media sosial mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Pernah dengar kan perkataan kaya gitu? Pernyataan ini sih bener banget, GanSis. Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh American Journal of Preventive Medicine baru-baru ini menyatakan kalau media sosial akan meningkatkan perasaan kesepian dan isolasi, terutama bagi para kaum muda. Meski kita punya banyak teman di medsos, kita masih bisa merasa kesepian, karena kita jadi jarang menghabiskan waktu sama orang-orang di sekeliling kita.


6. Kita nggak membuang-buang waktu

Coba hitung deh berapa banyak waktu yang kita habiskan di akun-akun media sosial kita. Di tahun 2019 ini, diperkirakan seseorang akan menghabiskan 153 menit dalam sehari untuk browsing di media sosial mereka. Yap, kita bisa membuang hampir 3 jam waktu kita yang bisa kita pakai untuk hal lain!

Apa yang Terjadi kalau Media Sosial Nggak Pernah Ada?

Sebuah studi yang diterbitkan di Computers in Human Behavior tahun 2014 menemukan kalau orang yang sering menghabiskan waktu mereka di media sosial lebih rentan terkena depresi. Alasannya? Mereka mengatakan kalau mereka merasa menyesal udah membuang-buang waktu mereka untuk hal yang sia-sia.
 
Itu dia GanSis, beberapa hal yang akan terjadi sama kita, seandainya media sosial nggak pernah diciptakan. Kalau menurut GanSis apa lagi nih hal yang bakal terjadi kalau nggak ada medsos?

 
Spoiler for Referensi:


 


profile-picture
profile-picture
profile-picture
kwhaleyf dan 22 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 13
Bakalan lebih bersyukur dan engga membandingkan diri sama milik orang terus pastu
Lebih menikmati hidup sepertinya iya.
Kaum Muda Bertanya

Apa yang Sebaiknya Aku Ketahui tentang Jejaring Sosial?​—

”Aku punya teman di negeri-negeri lain, dan cara yang paling bagus untuk tetap kontak dengan mereka adalah melalui jejaring sosial. Aku suka banget bisa ngobrol dengan mereka walaupun mereka sangat jauh.”​—Susi, 17 tahun.*

”Menurutku, jejaring sosial itu buang-buang waktu saja, untuk orang yang malas ketemu langsung. Ngobrol berhadapan muka adalah satu-satunya cara untuk tetap punya sahabat.”​—Gregory, 19 tahun.

YANG mana dari pernyataan di atas yang paling mirip dengan pandanganmu? Apa pun pandanganmu, yang pasti: Jejaring sosial sangat populer.* Pertimbangkan: Butuh 38 tahun bagi radio untuk menjangkau 50 juta pendengar, 13 tahun bagi televisi untuk menarik pemirsa dengan jumlah yang sama, dan 4 tahun bagi Internet untuk mencapai pengguna sebanyak itu. Situs jejaring sosial Facebook meraih 200 juta pengguna dalam 12 bulan baru-baru ini!

Tandai pernyataan berikut benar atau salah:

Remaja adalah pengguna terbanyak situs jejaring sosial. ․․․․․
Benar ․․․․․ Salah

Jawaban: Salah. Hampir dua per tiga pengguna dari jejaring sosial yang paling populer berusia 25 tahun ke atas. Pada 2009, persentase terbesar dari jumlah pengguna yang meningkat adalah orang-orang yang berusia 55 tahun ke atas!

Namun, ada jutaan anak muda yang menggunakan situs jejaring sosial, dan bagi sebagian dari mereka, itu menjadi cara berkomunikasi yang lebih disukai. ”Aku menonaktifkan akunku,” kata seorang remaja bernama Jessica, ”tapi aku mengaktifkannya lagi karena enggak ada yang mengontakku lewat telepon. Orang seolah-olah lupa kita kalau kita enggak ikut jejaring sosial!”

Mengapa jejaring sosial sangat memikat? Jawabannya sederhana: Manusia punya hasrat bawaan untuk berinteraksi dengan sesama. Dan, itulah yang ditawarkan oleh jejaring sosial. Perhatikan mengapa banyak orang tergoda untuk bergabung dengan jejaring sosial.

1. Kemudahan.

”Sulit untuk tahu kabar semua temanku, tapi kalau mereka gabung di situs yang sama, semuanya jadi gampang!”​—Leah, 20 tahun.

”Aku bisa memasukkan komentar dan itu sama saja dengan mengirim e-mail kepada setiap temanku pada waktu yang bersamaan.”​—Kristine, 20 tahun.

2. Tekanan teman.

”Aku suka diajak untuk masuk dalam daftar teman mereka, tapi karena aku enggak punya akun, jadi enggak bisa deh.”​—Natalie, 22 tahun.

”Sewaktu aku memberi tahu orang lain bahwa aku tidak punya akun, mereka heran dan bilang, ’Hah, masa sih?’”​—Eva, 18 tahun.

3. Tekanan media.

”Media suka bikin orang percaya bahwa kalau kita tidak selalu terkoneksi dengan orang lain, kita tidak bakal punya teman. Dan kalau tidak punya teman, kita tidak bakal menikmati hidup. Jadi, kalau kita tidak ikut jejaring sosial, kita tidak dianggap.”​—Katrina, 18 tahun.

4. Sekolah.

”Guru-guruku menggunakan jejaring sosial. Ada yang memasang pesan kepada kami kalau akan ada ulangan. Atau, misalnya kalau aku enggak ngerti matematika, aku bisa pasang pesan di Dinding guruku dan ia akan membantuku mengerti lewat Internet.”​—Marina, 17 tahun.

5. Pekerjaan.

”Orang-orang yang mencari pekerjaan menggunakan jejaring sosial untuk menghubungi orang lain. Kadang, ini membantu mereka mendapatkan pekerjaan.”​—Amy, 20 tahun.

”Aku menggunakan situs jejaring untuk bekerja. Itu memungkinkan para pelanggan melihat proyek desain grafis yang sedang kukerjakan.”​—David, 21 tahun.

Apakah kamu sebaiknya mempunyai akun jejaring sosial? Kalau kamu masih tinggal bersama orang tua, merekalah yang memutuskannya.* (Amsal 6:20) Jika orang tuamu tidak ingin kamu memiliki akun, kamu sebaiknya menuruti keinginan mereka.​—Efesus 6:1.

Sebaliknya, ada orang tua yang mengizinkan anak-anak mereka yang matang untuk menggunakan situs jejaring sosial​—dan mereka mengawasinya. Jika itulah yang dilakukan orang tuamu, apakah mereka mengganggu privasimu? Sama sekali tidak! Jejaring sosial adalah alat yang ampuh, dan orang tuamu berhak memerhatikan cara kamu menggunakannya. Faktanya, jejaring sosial​—seperti hampir semua penggunaan Internet lainnya—​ada bahayanya. Jika orang tuamu mengizinkan kamu punya akun jejaring sosial, bagaimana kamu bisa menghindari bahayanya?

”Mengemudi” dengan Aman

Dalam beberapa hal, menggunakan Internet dapat disamakan dengan mengemudi mobil. Seperti yang mungkin kamu perhatikan, tidak semua orang yang punya SIM adalah pengemudi yang bertanggung jawab. Malah, banyak orang mengalami kecelakaan yang parah gara-gara ceroboh atau mengabaikan peraturan.

Demikian pula dengan orang yang menggunakan Internet. Ada yang ”mengemudi” dengan penuh tanggung jawab; yang lain ugal-ugalan. Kalau orang tuamu mengizinkan kamu memiliki akun jejaring sosial, mereka percaya kamu bisa ”mengemudi” di daerah yang penuh dengan bahaya tersembunyi di dunia maya. Nah, kamu termasuk tipe ”pengemudi” yang mana? Sudahkah kamu memperlihatkan bahwa kamu ’menjaga hikmat yang praktis dan kesanggupan berpikir’?​—Amsal 3:21.

Dalam artikel ini, kita akan membahas dua aspek jejaring sosial yang perlu kamu pertimbangkan dengan serius—privasimu dan waktumu. Artikel ”Kaum Muda Bertanya” di terbitan Sedarlah! berikutnya akan mengupas reputasimu dan persahabatanmu.

PRIVASIMU

Kamu mungkin berpikir bahwa kamu tidak perlu menjaga privasi jika itu menyangkut jejaring sosial. Lagi pula, bukankah tujuannya untuk mengenal orang lain? Meskipun begitu, jika kamu tidak waspada kamu bisa mengalami bencana.

Sebagai ilustrasi, katakanlah kamu membawa banyak uang. Apakah kamu akan menunjukkannya kepada siapa saja yang kamu jumpai ketika kamu berjalan di tempat umum bersama teman-teman? Itu tindakan yang konyol—kamu seolah-olah minta dirampok! Tindakan yang bijak adalah menyembunyikan uang itu di tempat yang tidak terlihat.

Bayangkanlah bahwa informasi pribadimu itu seperti uang. Sambil memikirkan hal itu, perhatikan daftar di bawah ini dan centanglah hal-hal yang menurutmu tidak nyaman untuk diperlihatkan kepada orang yang sama sekali tidak dikenal.

․․․․․ alamat rumah

․․․․․ alamat e-mail

․․․․․ sekolah

․․․․․ kapan aku di rumah

․․․․․ kapan rumah kosong

․․․․․ foto

․․․․․ sudut pandang

․․․․․ kesukaan dan minat

Bahkan jika kamu orang yang super terbuka, kemungkinan besar kamu setuju bahwa setidaknya beberapa dari hal di atas tidak boleh diberitahukan kepada orang lain. Tetapi, banyak anak muda​—dan orang dewasa—​tanpa sengaja memberitahukan perincian tersebut kepada orang yang tidak dikenal! Bagaimana agar kamu tidak sampai jatuh ke dalam jerat seperti itu?

Jika orang tuamu mengizinkan kamu menggunakan jejaring sosial, kamu perlu mengenal betul pengaturan privasinya​—dan memanfaatkannya. Jangan biarkan situs jejaring yang melindungi privasimu. Faktanya, tidak seperti yang kamu kira, pengaturan standar yang ada bisa jadi membuat lebih banyak orang dapat melihat dan mengomentari halamanmu. Itulah sebabnya, seorang gadis bernama Allison mengubah pengaturannya supaya hanya teman-teman dekatnya yang bisa melihat apa yang dia masukkan. ”Ada teman dari temanku yang tidak aku kenal,” katanya, ”dan aku tidak mau orang-orang yang tidak aku kenal itu membaca tentang diriku.”

Kalaupun kamu berkomunikasi hanya dengan sahabat-sahabatmu, kamu perlu berhati-hati. ”Kita bisa ketagihan untuk menerima komentar dari teman-teman kita,” kata Karina, 21 tahun, ”sehingga kita mulai memasukkan lebih banyak informasi tentang diri kita daripada yang seharusnya.”

Ingatlah selalu bahwa Internet tidak sepenuhnya bisa melindungi privasimu. Mengapa? ”Situs-situs Web besar membuat rekaman cadangan data mereka,” kata Gwenn Schurgin O’Keeffe dalam bukunya CyberSafe. Ia menambahkan, ”Apa yang kita masukkan dalam dunia maya takkan pernah bisa terhapus. Kita harus menganggapnya permanen karena kemungkinan besar ada saja salinannya entah di mana; konyol kalau kita anggap itu bisa terhapus.”

WAKTUMU

Selain privasi, waktumu juga bisa disamakan dengan uang dalam jumlah besar. Artinya, kamu perlu menganggarkan waktumu. (Pengkhotbah 3:1) Dan, itu adalah salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan Internet apa pun, termasuk jejaring sosial.*

”Aku sering bilang, ’Aku cuma mau lihat satu menit saja.’ Eh, sejam kemudian aku masih internetan.”​—Amanda, 18 tahun.

”Aku kecanduan. Tiap kali pulang sekolah, aku berjam-jam mengecek komentar orang-orang tentang apa yang aku masukkan dan melihat-lihat apa yang mereka pajang.”​—Clara, 16 tahun.

”Aku bisa mengakses situsnya dari ponselku, jadi aku bisa melihatnya sewaktu pergi ke sekolah, di sekolah, dan sewaktu pulang sekolah. Lalu, di rumah, aku langsung lihat di komputer. Aku tahu aku kecanduan, tapi aku enggak mau berhenti!”​—Riani, 17 tahun.

Kalau orang tuamu membolehkan kamu menggunakan situs jejaring sosial, pikirkanlah tentang banyaknya waktu yang masuk akal yang kamu habiskan untuk situs jejaring sosial itu setiap hari. Lalu, pantau waktu yang kamu gunakan. Selama sebulan, catat jumlah waktu yang kamu gunakan dan perhatikan apakah kamu mengikuti batas waktu yang sudah kamu tetapkan. Ingat, waktumu ibarat uang. Jadi, jangan biarkan jejaring sosial membuatmu ”bangkrut”. Lagi pula, ada hal-hal yang lebih penting dalam kehidupan!​—Efesus 5:15, 16; Filipi 1:10.

Ada remaja yang mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa mereka tetap mengendalikan waktu mereka. Misalnya, perhatikan pernyataan berikut:

”Aku menonaktifkan akunku, dan aku jadi punya banyak waktu. Aku merasa bebas! Baru-baru ini, aku mengaktifkan lagi akunku, tapi aku tetap mengendalikan diri. Aku tidak mengeceknya setiap hari. Kadang, aku bahkan melupakannya. Seandainya akun jejaring sosialku menyulitkan aku lagi, aku tinggal menonaktifkannya lagi.”​—Allison, 19 tahun.

”Aku ambil ’cuti’ dari jejaring sosial dengan menonaktifkan akunku selama beberapa bulan, lalu belakangan mengaktifkannya lagi. Aku melakukan hal itu tiap kali aku merasa terlalu banyak waktu yang aku habiskan di jejaring sosial. Sekarang, aku tidak merasa terikat seperti dulu. Aku menggunakannya jika perlu, kalau sudah selesai ya sudah.”​—Anne, 22 tahun.

Intinya

Ada faktor lain tentang jejaring sosial yang perlu kamu pertimbangkan. Agar kamu bisa memahami aspek ini, beri tanda ✔ di sebelah pilihan yang kamu rasa paling cocok.

Tujuan utama situs jejaring sosial adalah . . .

(A) ․․․․․ bisnis.

(B) ․․․․․ klub sosial.

(C) ․․․․․ hiburan.

Jawaban yang benar? Percaya atau tidak, Pilihan A. Pertama dan terutama, jejaring sosial adalah bisnis. Tujuannya adalah untuk mengeruk keuntungan, khususnya lewat iklan. Dan bagi para pengiklan, nilai suatu jejaring meningkat seraya makin banyak orang bergabung dan seraya para anggotanya makin sering bertukar informasi. Lagi pula, makin banyak waktu yang kamu atau orang lain gunakan di jejaring sosial, makin banyak iklan yang dilihat.

Dengan mengetahui hal itu, kamu terbantu untuk menyadari bahwa jejaring sosial tidak rugi​—dan para pengiklan untung besar—​kalau kamu membagikan informasimu kepada terlalu banyak orang atau kalau kamu terlalu banyak menghabiskan waktu di Internet. Maka, jika kamu menggunakan jejaring sosial, lindungi privasimu dan pantau jumlah waktu yang kamu gunakan.

Jejaring sosial adalah situs Web yang memungkinkan orang-orang yang memiliki akun untuk berkomunikasi dengan sekelompok teman yang mereka pilih.

Hidup kita lebih tenang karena ga ngebandingin diri sendiri dengan orang lain
Lihat 21 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 21 balasan
Andaikan kembali ke jaman dulu
kangen masa masa sebelum kenal sosmed atau sosmed blm menjamur.. kalo lagi hangout bareng temen bisa berasa lebih intim..
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Damai
nice. kita seperti terpenjara oleh media sosial.
asik juga yaa, kalau ngumpul" pasti pada ngobrol", dan ga ada yang sibuk ke gadget😁
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
yap hampir semua benar
tp dulu friendster aman2 aja yak dipakenya emoticon-Malu (S)
jd susah kl mau stalking gan emoticon-Hammer
Yang paling kerasa sih ya itu, kalau gak ada medsos, membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain pasti jauh lebih berkurang.

Dengan adanya medsos, tingkat insecure jadi makin gede emoticon-Frown
sebenernya hal diatas bisa dilakukan dengan adanya medsos,itu tergantung individu masing2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Setuju gan, kita ga akan bandingin diri sendiri dengan orang lainm dan akan percaya diri dengan diri kita yang apa adanya
Semuanya bener sih.. Inget banget dulu jaman sekolah hp masih jarang, sering ngumpul bercanda sama temen.. Skrg ttp ngumpul sih tp madep hp masing2 wkwkwkwk
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
kangen zaman Friendster

isinya cuma perkenalan diri, sedikit foto kegiatan, dan tidak ada tukang pamer gak jelas

halaman pribadi juga bisa dihias sesuka hati
Ironi, ini sosmed
Diubah oleh ikhsanikhsanikh
dilema seh
Quote:


AFAIK

WA termasuk Instant Messaging
Halaman 1 dari 13


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di