alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Education /
Pemecahan Paradoks Pendidikan Indonesia
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d8023a5349d0f371765e5b3/pemecahan-paradoks-pendidikan-indonesia

Pemecahan Paradoks Pendidikan Indonesia

Quote:

Pendidikan Indonesia memiliki sebuah paradoks. Dalam waktu yang bersamaan, pendidikan negara ini berada dalam keadaan yang baik sekaligus buruk. Baiknya kondisi pendidikan Indonesia dibuktikan oleh pencapaian pelajarnya yang luar biasa. Hampir setiap tahun pelajar-pelajar Indonesia meraih prestasi membanggakan di kompetisi akademik internasional. Namun di lain sisi, pendidikan Indonesia mengalami kondisi yang menyedihkan. Dalam jangka waktu yang tak begitu lama, terjadi beberapa kasus yang mengindikasikan betapa mirisnya keadaan pendidikan Indonesia.
Quote:

Kualitas pendidikan Indonesia secara akademik berada pada tingkat yang patut diapresiasi. Beberapa tahun belakangan pelajar-pelajar negara ini telah konsisten meraih medali dalam berbagai kompetisi akademik internasional. Pada tahun 2016, mereka meraih tujuh penghargaan yang terdiri dari satu medali emas, satu medali perak, empat medali perunggu dan satu penghargaan khusus di ajang International Conference of Young Scientists di Rumania. Setahun kemudian, lima pelajar Indonesia juga mendapat dua medali emas dan tiga medali perak di International Physics Olympiad di Yogyakarta. Tak hanya itu, pada tahun 2018, tepatnya di International Chemistry Olympiad yang ke 50 di Republik Ceko, Indonesia juga membawa pulang satu medali emas, satu medali perak dan dua medali perunggu. Prestasi yang telah diraih oleh pelajar-pelajar Indonesia tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia mempunyai kualitas akademik yang baik. Hal ini tak hanya disebabkan oleh konsistensi pelajar Indonesia dalam meraih prestasi tersebut, tapi juga karena beragamnya kompetisi yang dimenangkan.
Quote:
Pencapaian akademik pelajar Indonesia memang membanggakan, namun pendidikan tidak hanya tentang intelektualitas semata. Menurut Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “Pendidikan nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta pengetahuan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.” Dari definisi pendidikan nasional versi Undang-undang dapat disimpulkan bahwa pendidikan harus membuat peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki tak hanya kecerdasan, tapi banyak nilai positif lainnya.
Quote:

Potret pendidikan Indonesia saat ini belum sesuai dengan apa yang tertuang dalam Undang-undang. Alih-alih memunculkan pelajar yang mengembangkan potensi sehingga memiliki pengendalian diri, banyak pelajar Indonesia malah terlibat dalam kasus kekerasan. Mereka melakukan penganiayaan, bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa seseorang. Sepertihalnya tiga kasus yang terjadi belakangan ini. Kasus pertama adalah penganiayaan yang dilakukan sejumlah taruna Akademi Transportasi dan Keselamatan Penerbangan terhadap seorang juniornya hingga tewas. Penganiayaan tersebut terbongkar setelah ditemukan beberapa luka pada bagian dada dan kepala korban. Selang tak berapa lama, lima siswa Sekolah Menengah Pertama juga melakukan penganiayaan terhadap seorang petugas kebersihan sekolah. Penganiayaan ini mengakibatkan luka dibagian kiri kepala korban. Kasus ketiga adalah penganiayaan yang dilakukan 17 santri terhadap satu teman sesama santrinya di sebuah pondok pesantren kota Padang Panjang. Korban dilarikan di RSUP M. Djamil kota Padang dan meninggal dunia setelah delapan hari dirawat. Kejadian-kejadian tersebut sungguh tragis dan sayangnya dilakukan oleh pelajar. Mereka yang seharusnya memiliki kekuatan spiritualitas keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia dan kecerdasan malah menunjukkan hal sebaliknya.
Quote:

Kekerasan atau tindakan yang bertentangan dengan Pancasila lainnya seharusnya tak terjadi dimanapun, terutama di sekolah. Tindakan tersebut dapat menimbulkan perpecahan dan menghalangi upaya pencapaian segala cita-cita bangsa. Dan jika tindakan ini dilakukan oleh siswa atau pelajar maka akan berdampak negatif bagi bangsa ini karena mereka akan menjadi pemimpin di masa depan. Untuk menuntaskan masalah tersebut, pendidikan Indonesia mesti memaksimalkan penerapan pendidikan karakter ala Ki Hadjar Dewantara. Surjomihardjo (1979) dalam Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya menyatakan bahwa pendidikan tersebut berazaskan kemerdekaan setiap individu dalam mengatur diri sendiri sehingga dapat merasa, berfikir, dan bekerja secara merdeka dalam tertib bersama (36). Hal ini bermaksud bahwa metode ini tetap mengarahkan peserta didik kepada kebersamaan walaupun membebaskan mereka menentukan hal apapun dalam hidupnya. Jika metode ini diterapkan secara maksimal maka kekerasan atau hal negatif apapun akan terhapuskan karena berfokus pada pelenyapan perselisihan.
Quote:

Kekuatan pendidikan karakter juga terlihat dari kehadirannya sebagai sistem yang lengkap. Pendidikan katrakter tak hanya mengadakan pembelajaran yang memberi perhatian pada sisi intelektualitas saja, namun juga sisi emosi siswa. Susanto (2015) menyatakan bahwa pendidikan harus mencerdaskan secara intelektual, emosional dan spiritual karena akan menciptakan anak didik yang bermental sempurna dan berkepribadian. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pencerdasan sisi intelektualitas, emosi, dan spiritualitas merupakan sebuah kekharusan. Jika yang dicerdaskan hanya salah satu di antara ketiga kecerdasan teresebut maka siswa yang dididik tidak akan bermental sempurna.
Quote:

Pendidikan karakter ala Ki Hadjar Dewantara sangat cocok dan diperlukan oleh dunia pendidikan Indonesia. Karena metode pendidikan ini berazaskan kemerdekaan peserta didik yang tunduk pada ketertiban, metode tersebut akan mengatasi persoalan besar yang ada dalam pendidikan negeri ini. Selain itu, pendidikan karakter juga akan mengasah segala bentuk kecerdasan yang ada pada siswa. Jadi, memaksimalkan pendidikan karakter ala Ki Hadjar Dewantara dapat menyempurnakan pendidikan Indonesia. Metode pendidikan ini bisa dikatakan sederhana, namun dampaknya akan sangat terasa.


Spoiler for referensi:
profile-picture
aviep memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
memang memprihatinkan jika kita baca berita tentang sisi negatif (perbuatan tercela) siswa kita sepertinya pendidikan karakter di sekolah tidak berhasil. tidak bisa disalahkan jika para pemrihati dunia pendidikan di Indonesia menginginkan tidak ada satu kasuspun mereka menginginkan karakter siswa benar benar tertanam sesuai dengan norma kebaikan cuma da yang perlu diluruskan dan dingatkan bahwa jumlah siswa di Indonesia sekitar 46 juta siswa mulai SD sampai SMA belum yang pondok pesantren atau sekolah non formal lainnya.

kurang bijak jika akibat ketidak berhasilan pendidikan karakter dikatakan merosot pendidikan dikatakan gagal jika hanya berkaca pada kasus kasus yang ada "akibat nila setitik rusak susu sebelanga" pepatah ini kurang cocok jika di terapkan di dunia pendidikan kita
bahkan yang lebih miris penilaian masyarakat pada dunia pendidikan
jika ada siswa sukses maka masyarakat akan bertanya siapa orang tuanya dan jika ada siswa tercela masyarakat akan bertanya sekolah dimana siswa itu
profile-picture
GutSchreiben memberi reputasi
Quote:


Setuju gan, hal tersebut mengaburkan fakta bahwa sukses atau bermasalahnya seorang siswa, mantan siswa, atau semua orang yang pernah belajar disebabkan oleh banyak faktor yang berperan secara kolektif
profile-picture
aviep memberi reputasi


Quote:


nice point of view gan... menurut ane, jika dinilai hanya berdasarkan satu kasus saja, maka jd kurang pas krn jd tidak apple to apple lagi penilaiannya

profile-picture
GutSchreiben memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Balasan post papapierlo
profile-picture
GutSchreiben memberi reputasi
Balasan post aviep
@aviep hehe makasih sarannya gan.. saya masih malu2 emoticon-Big Grin
profile-picture
GutSchreiben memberi reputasi
emang perlu ada perubahan di kurikulum kali ya gan. diperbanyak outdoor dan praktek mungkin, jadi para pelajar ngga sumpek di dalem kelas aja gitu. klo sumpek ga ada penyaluran energi, jadinya malah tawuran emoticon-Frown


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di