CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d68e03f65b24d7feb22380d/cinta-simpul-mati

Cinta (Simpul) Mati

Cinta (Simpul) Mati



Aku dengan segala keterbatasanku. Dalam sangkar yang mereka kira emas, tapi nyatanya hanya seperti kotak luas dengan segala batasan sudut yang ingin sekali kuhancurkan. Hidup dalam kesendirian, terasa seperti neraka yang perlahan menyiksaku dalam sepi. Bahkan sinar matahari pun terlarang untuk menemaniku, Mama telah memasang tirai tebal di setiap jendela rumah untuk menghalanginya menyusup dan menggangguku.

“Lea, Sasha-sonsaengnim sudah datang!” Suara Mama terdengar di depan pintu kamarku.

“Ya, Ma! Sepuluh menit lagi Lea turun,” ucapku yang masih asik berselancar di depan layar besar di hadapan.

Mama bahkan menyewa jasa home schooling untukku. Sebenarnya Mama bukan mengurungku di rumah ini, ia hanya mencoba melindungi anaknya dari penyakit langka yang menggerogoti tubuhku. Sejak usia lima tahun, aku didiagnosa mengidap kelainan pigmen dengan nama xeroderma pigmentosum. Penyakit langka yang hanya dimiliki satu dari dua ribu orang di dunia. Aku tidak bisa keluar saat siang hari, karena itu hanya akan menyebabkan kerusakan pigmen kulitku bertambah parah. Kalaupun aku memaksa, Mama hanya berpesan untuk membalut rapat tubuhku dan menggunakan topi khusus yang dibuat dari bahan plastik. Meski tak sepenuhnya membantu, dan aku hanya akan dipandang aneh oleh orang sekitar yang tak mengerti jelas.

CCTV dipasang Mama di setiap sudut rumah mengarah ke luar, agar aku dapat melihat kegiatan setiap orang di luar lewat CCTV. Benda itu bagaikan mataku, membantu menatap dunia. Ada satu tempat yang paling kusuka. Sekolah SMA di samping rumah. Rasa iri selalu menggerayangiku ketika melihat anak-anak seusiaku bermain dan mengobrol tentang banyak hal, memperhatikan kegiatan mereka dan berkhayal seakan aku berada diantaranya. Bertemu banyak orang, merasakan cinta dan benci, punya teman dan musuh. Hidupku terasa hambar hanya dengan membayangkan keceriaan mereka.

Sebelum turun dan memulai pelajaranku dengan Sasha-sonsaengnim, kucoba mengecek satu persatu CCTV. Kuperbesar gambar hasil tangkapan CCTV yang mengarah ke sekolah.

Bukankah ini hari sabtu? Sedang apa mereka dengan pakaian pramuka?

Lama aku memperhatikan mereka yang sedang latihan membuat semacam tandu dari tongkat dan tali. Hingga suara Mama kembali mampir di telinga, menyuruh untuk turun dan segera menemui guru home schooling-ku. Aku pun menurut dan turun setelah membuat guruku menunggu hampir setengah jam.

***


Jam di ruang makan berdentang tujuh kali, setelah menyelesaikan makan malam, aku pamit ke kamar pada Mama. Ia hanya tersenyum, mengelus pelan pucuk kepalaku dan mengecup keningku. Mama sangat cantik, teramat cantik untuk sekadar disia-siakan oleh seorang lelaki yang pernah kupanggil Papa. Pria tua itu, seenaknya saja membuang kami saat tahu darah dagingnya berbeda dari anak kebanyakan.

Mataku baru hendak terpejam ketika suara riuh sorak-sorai memaksanya kembali membuka sempurna. Kutarik selimut hingga menutupi kepala, berharap suara-suara di luar dapat teredam oleh selimut tebalku, tapi sia-sia. Suara itu berubah menjadi sebuah nyanyian. Akhirnya kuputuskan beranjak dari ranjang. Membuka tirai tebal yang menutupi pintu kaca menuju beranda. Api unggun terlihat dari kejauhan, beberapa orang berputar mengelilinginya dan sebagian lagi duduk memperhatikan sambil bernyanyi. Kuambil drone yang selalu berada di laci besar meja komputer. Berdiri di beranda, kuterbangkan drone mengarah ke kumpulan pramuka dengan acara api unggunnya.

Cinta (Simpul) Mati


Aku menikmati cara mereka menjalin keakraban antar sesama. Terlihat hangat, sehangat api unggun yang menemani mereka di awal malam yang cukup terasa dingin. Tak kupedulikan dingin yang perlahan menusuk tulang, aku sungguh ingin berada di antara keramaian itu.

Tiba-tiba seorang remaja pria, menatap ke arah  drone-ku. Ia menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencoba mencari pengendali drone. Kuputar arah terbang drone, agar kembali kepadaku. Lelaki itu mengikuti. Kupercepat terbang drone, dia pun mempercepat langkahnya hingga berlari. Ketika kutangkap drone, tak sengaja kami saling bertatap meski dari kejauhan. Dia mulai melambaikan tangan padaku. Aku membalas dengan beranjak dari beranda dan menyimpan drone kembali pada tempatnya.

Kira-kira lima belas menit, kuputuskan untuk kembali ke beranda. Aku masih ingin menikmati suasana malam dan kupikir remaja itu sudah kembali ke kumpulannya. Namun perkiraanku meleset. Lelaki itu malah asyik nangkring di pohon mangga yang berbatasan langsung dengan tembok samping rumahku. Sempat kaget saat melihatnya, hingga aku terlonjak ke belakang dan punggungku membentur pintu kaca. Lelaki berpakaian pramuka lengkap itu hanya tertawa melihatnya.

“Ngapain kamu nangkring di situ malam-malam gini? Bikin horror orang tau,” tanyaku ketus.


“Penasaran ajah, ngapain kamu main drone sampai sana?”

Remaja pria itu menunjuk ke arah api unggun. Aku melirik sebentar ke arah yang ia tunjuk, sedetik kemudian kembali memandangnya. Dia memperkenalkan diri sebagai Ezi, seorang pradana yang tidak lain adalah ketua dewan ambalan dari organisasi pramuka di sekolah itu.

“Acara apa itu?” tanyaku.

“Owh … kami sedang mengadakan acara Persami, perkemahan sabtu minggu dalam rangka memberikan badge Ambalan Taruna Bhakti Kusuma Pertiwi dan juga melantik Tamu Penegak ke Calon Penegak,” jelas Ezi

“Ah, aku gak ngerti,” jawabku santai, Ezi hanya tersenyum.

Lama kami berbincang, hingga seseorang memanggilnya dari kejauhan.

“Mau lihat api unggun dari dekat?” tanyanya.

Awalnya aku menolak, tapi memang rasa penasaranku cukup besar untuk merasakan kehangatan dari orang sekitar. Ini kesempatanku memiliki teman, dan akhirnya mengiyakan ajakan Ezi. Ia berjanji akan menungguku di gerbang sekolahnya. Di malam hari, aku bisa seperti orang normal, tak perlu menutup seluruh tubuh karena yakin sinar ultraviolet tak akan mengganggu. Hanya melapisi piyama yang sedang kupakai dengan cardigan cokelat, untuk sekadar melindungi dari serangan dingin.

Melangkah ke kamar Mama, tapi kamar dalam keadaan kosong. Sepertinya Mama sedang ke luar. Lantas kulanjutkan ayunan kaki ini ke luar pintu mengarah ke pagar. Berjumpa dengan Mbak Putri yang sedang asyik mengobrol dengan Pak Mus, satpam rumah. Setelah bilang pada Mbak Putri, aku langsung berjalan mengitari rumah menuju sekolah di samping. Ezi menepati janjinya, menungguku di gerbang sekolah. Ia menyapa dengan senyum manis gingsulnya. Aku mengekornya menuju ke tengah lapang, tempat acara api unggun berlangsung.




Saat tiba di sana, aku melihat beberapa orang sedang menari tongkat dan yang lainnya bernyanyi serempak. Suasana hangat yang baru pertama ini kurasakan. Ezi mengenalkanku pada seorang temannya, seorang kerani atau lebih umum dengan sekertaris dewan ambalan. Gadis seusiaku dengan paras cantik dan tubuh tinggi semampai. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Lama aku terdiam hingga Ezi meraih tanganku dan menempelkan ke telapak tangan temannya itu.

“Hai, aku Zia. Kamu?”

“Hah? Ehh, aa … aku Lea. Azalea,” jawabku gugup.

Bagaikan penyusup di tengah acara sekolah mereka. Aku bahkan tak memperdulikan pandangan orang lain. Keseruan demi keseruan aku lalui bersama dua orang yang baru saja kukenal. Kuikuti setiap materi selayaknya peserta yang lain. Hingga tak terasa sudah hampir tengah malam, Ezi dan Zia mengantarku pulang. Di pagar rumah, Mama dan Mbak Putri sedang menunggu dengan cemas.

“Maaf, Tante … tadi Lea kami ajak ke acara kami, sepertinya dia tertarik melihat acara api unggun, jadi aku ajak dia deh. Maaf ya, Tante!” ucap Ezi sopan.

Mama melirik ke arahku, raut mukanya seakan ingin meminta kepastian cerita yang keluar dari mulut Ezi. Aku hanya mengangguk pelan. Kulihat Mama menghela napas berat.

“Maaf, adek-adek ini siapa namanya, ya?” tanya Mama.

“Saya Ezi, Tante. Ini Zia,” jawab Ezi sembari menunjuk Zia dengan ibu jarinya.

Mama akhirnya mengerti, dan menjelaskan sedikit tentang aku dan penyakitku. Kulihat wajah serius dari kedua teman baruku. Mereka benar-benar ingin serius berteman denganku, dan Mama mengizinkannya. Bahkan Mama menyuruh mereka untuk sering-sering berkunjung jika ada waktu luang, agar aku tak lagi merasa kesepian. Akhirnya mereka pamit untuk kembali ke melanjutkan acara, setelah sebelumnya kami bertukar nomor handphone. Malam itu, aku resmi merasakan yang namanya berteman.

***


Makin hari pertemanan kami makin akrab. Mereka mengerti jika aku tidak bisa ke luar pada siang hari, dan memutuskan mengunjungiku di rumah. Aku mulai paham kesukaan mereka, Ezi yang hobi baca komik dan Zia yang penggemar drama korea. Kadang jika mereka datang berbarengan dengan jadwal home schooling-ku, mereka pun ikut belajar.

Ezi dan Zia banyak mengajariku tentang pramuka. Aku mulai jatuh cinta pada pramuka, juga pada mereka. Zia mengajariku tentang sejarah pramuka, dan arti dari lambang tunas kelapa, sedangkan Ezi mengajari tentang sandi semaphore dengan bendera merah kuningnya. Aku dan Zia berlomba-lomba menebak kata dari sandi semaphore yang Ezi bentuk.

Ketika Ezi mulai sibuk dan jarang berkunjung, Zia selalu menemaniku hampir setiap hari. Aku mulai ketergantungan padanya. Hari ini ia berjanji akan mengajariku membuat simpul mati, tapi karena satu urusan dia datang terlambat dari waktu yang dijanjikan. Aku mulai marah karena merasa diabaikan. Mungkin karena hanya Ezi dan Zia temanku, aku seperti takut jika mereka tiba-tiba menjauh, lebih tepatnya takut kehilangan mereka. Berulangkali Zia meminta maaf dan membujukku, aku hanya bergeming. Hingga ia berjanji jika malam minggu nanti setelah kegiatan pramuka, ia akan menginap di rumahku sebagai penebus kesalahannya. Betapa girangnya hatiku. Hari itu aku bersungguh-sungguh belajar membuat simpul mati. Zia berkata jika simpul mati itu sederhana tapi cukup kuat. Aku suka esensi dari simpul mati, sama seperti perasaanku padanya. Hingga larut malam aku mempelajarinya dan tak bisa tidur untuk beberapa hari. Aku sangat ingin membuat Zia terkesan akan hasil simpul mati yang kubuat. Dua hari aku kurang tidur, kuputuskan membeli flunitrazepam secara online untuk membantu mengistirahatkan tubuhku.

Spoiler for Sandi Morse:


Hari yang dinanti tiba, Zia menepati janjinya. Sebelumnya kami bermain tebak kata menggunakan sandi morse. Ia ingin melihat sejauh mana aku menyerap materi yang ia telah ajarkan. Aku menuliskan dua buah kata untuk ia terjemahkan natinya. Saat selesai membuat sandi, kulihat Zia sedang asyik berbicara dengan seseorang di ponsel. Seperti pacar atau pasti seseorang yang sangat berpengaruh untuk Zia. Karakter manjanya yang tak pernah kulihat tiba-tiba muncul saat menerima telepon itu. Sementara dia sibuk dengan orang lawan bicara di ponselnya, aku memutuskan untuk turun ke bawah dan membuat minuman untuk kami.

Spoiler for Sandi morse Lea untuk Zia:


Sekembalinya ke kamar dengan membawa dua gelas teh berempah, Zia terlihat sedang menterjemahkan sandi yang telah kubuat. Wajahnya sedikit mengerut. Aku hanya tersenyum memandanginya. Kupersilahkan ia meminum teh yang telah kuracik, ia meneguknya sampai setengah gelas. Sedetik kemudian ia mengeluh merasa pusing dan sangat mual. Beberapa kali Zia coba meraih pundaku tapi tak berhasil. Tangannya kuraih dan melingkarkannya pada leher serta membantu memapah tubuh langsingnya. Dengan sisa tenaga ia mencoba berjalan ke arah tempat tidur dan membantingkan tubuhnya di sana. Ia berbaring lemas, hampir tak punya kekuatan untuk bergerak. Setelah kupastikan ia tertidur tanpa hembusan udara keluar dari lubang hidung, aku langsung merapikan posisinya selayaknya orang tertidur. Kemudian aku kembali ke meja belajarku dan menenggak habis teh berempah yang telah bercampur empat butir flunitrazepam, sama seperti yang kubuat untuk Zia. Satu hal yang tak pernah aku pelajari dari dulu, bahwa aku tidak pernah belajar untuk berbagi. Sesuatu yang telah jadi milikku, harus tetap jadi milikku. Tak kuizinkan seorang pun merampasnya dari sisiku.

Sensasi pusing mulai menyerang dengan hebat, kurasakan perutku seperti diaduk dengan cepat, dan udara berubah menjadi teramat panas. Sebisa mungkin aku berjalan menuju ranjang, kubaringkan kepala di perut Zia. Napasku mulai tersengal-sengal, dan mataku mulai tak bisa menangkap cahaya. Semua perlahan meredup dan padam.


*** END ***


KJ, 300819 (15:27)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Rapunzel.icious dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tsuway.c001
10
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 3
Reserved 1
profile-picture
profile-picture
Cahayahalimah dan YenieSue0101 memberi reputasi
Reserved 2
profile-picture
profile-picture
Cahayahalimah dan YenieSue0101 memberi reputasi
Quote:


Seperti biasa, karyamu selalu keren dan mendetail. Memang basicnya kamu penulis fiksi emoticon-Belum Tidur
profile-picture
profile-picture
Cahayahalimah dan blezzernet memberi reputasi
Oh apa yang terjadi selanjutnya
jadi? sama sama mati atau gimana ini kak?
Quote:


halah ... masih banyak serangan -ku ini, ntar malem lah diperbaiki.

Quote:


Yang terjadi setelahnya kuserahkan pada imajinasi pembaca saja kak emoticon-nyantai

Quote:


Menurut imajinasi Ara gimana? emoticon-Belum Tidur
profile-picture
profile-picture
YenieSue0101 dan darmawati040 memberi reputasi
Quote:


Aku kalo udah keposting begini udah males memperbaiki emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
tsuway.c001 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Meninggal emoticon-Turut Berduka tapi kenapa Lea sengaja melakukan itu? Apakah dia tahu efek dsri minuman yg ia sajikan?
Lihat 1 balasan
Balasan post darmawati040
Quote:


tentu tau, coba pecahkan sandi morse Lea. mungkin Ara akan dapat pencerahan emoticon-Belum Tidur
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Balasan post YenieSue0101
Quote:


iya juga sih, nunggu ada yang krisan ajahlah ... itu pun kalo ada yang rela mengkrisan tulisan apalah apalahnya akuemoticon-nyantai
profile-picture
YenieSue0101 memberi reputasi
Quote:


Tulisanmu udah keren, gak perlu dikrisan, kakak emoticon-Belum Tidur
Quote:


Ara gak paham ttg itu emoticon-Hammer2
nanti mau baca ulg. nyelesaiin kerjaan dulu
Quote:


Iya emoticon-terimakasih
ane belum baca semua
omegot ini sih super duper keren emoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempol
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Begitulah cinta pengorbanan tiada arti nya


Quote:

Baca pelan2 aja
Quote:


tetep ajah butuh krisan beb, aku kan masih dalam tahap belajar ....

Quote:


Gpp ra jangan dibuat beban, ara baca ajah aku udah seneng emoticon-Belum Tidur

Quote:


baca pelan-pelan ajah ompab, ga usah ngebut ...

Quote:


makasih beb ... krisan donk kalo ada yang janggal

Quote:


ane awal baca komen agan berasa kayak inget kata2nya cu pat kai di sun go kong emoticon-Ngakak

profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan darmawati040 memberi reputasi
Halaman 1 dari 3
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di