Kaskus

Story

rirandaraAvatar border
TS
rirandara
Tersasar di Perjalanan Malam Saat Persami
Tersasar di Perjalanan Malam Saat Persami


Sebelumnya, sama sekali tak pernah terlintas di benakku jika PERSAMI itu akan begitu menegangkan seperti ini. Meski diadakan di lapangan desa tempatku tinggal kini, tetap saja aku merasakan takut yang luar biasa. Sungguh lapangan ini terasa horor. Terletak di ujung barat desa, tepatnya di bawah kaki sebuah bukit kecil. Lapangan ini menjadi satu-satunya lapangan sepak bola yang dipunya desa dan biasa digunakan saat ada perkemahan anak sekolah, SD ataupun SMP. Sekeliling lapangan banyak terdapat pohon jati. Ada pula kebun warga dengan beragam tanaman palawija. Lantas, jika kita berjalan ke utara menerobos pepohonan pisang dan sengon, maka akan sampai pada sebuah sungai. Tempat kemahku ini jauh dari pemukiman warga. 


Ada satu hal yang mengganggu pikiranku yaitu cerita yang berkembang tentang tempat ini. Apalagi menyoal pohon beringin di pojok lapangan. Untungnya tenda reguku cukup jauh --empat meteran dari pohon angker tersebut. Namun, tetap saja auranya merajalela. 


"Nur, PESMA apaan, sih? Kamu pernah ikutan acaranya?" tanyaku pada Nur, teman sebangkuku saat kami berkemas hendak tidur. 


Nur menggeleng dan memasang wajah polos. 


"Nur!" panggilku tertahan karena takut teman lainnya terbangun. 


"Huftt. Kamu gak tau PESMA apaan, Lin?"


Aku menggeleng cepat. 


"Sama dong. Hihihii." 


Kujitak puncak kepala Nur. Anak itu merengut. 


"Pesta malam atau perjalanan malam. Semacam uji nyali gitu. Itu juga kata abang sepupuku yang jadi kakak pembina kita sekarang. Tuh si Mubashir," jawab Nur seraya merebahkan tubuhnya. 


"Hah?" Aku tercengang. "Terus… terus kata abangmu apaan lagi?"


Nur bangkit dari posisisnya. Dia mengambil posisi duduk bersila menghadapku. Mengalirlah semua cerita Nur tentang PESMA yang bersumber dari sepupunya. Aku hanya manggut-manggut. Rasa yang melandaku kini begitu campur aduk. 



Setelah dirasa cukup bercerita, akhirnya Nur merebahkan tubuhnya kembali. Tak lama, kulihat ia mulai pulas di balik selimut yang berupa kain pantai. 


" Nur!" panggilku lirih.


"Bawel. Jangan berisik. Cepet tidur. Biar nanti kita tak terlambat. Tepat tengah malam acaranya dimulai," ucap Nur dari balik selimut. 


Di luar tenda masih terdengar percakapan beberapa orang. Kuyakin itu para kakak pembina yang sedang berkeliling. 



'Owwhh' pekikku tertahan. 


Sinar senter tepat mengarah ke wajah, disaat aku mengintip ke luar tenda. Buru-buru aku kembali ke tempatku. Hingga tak sengaja menyenggol tubuh Atik yang tengah tertidur. Untung saja anak itu tak berasa. 


Kuamati seisi tenda sudah terlelap, menyisakan aku seorang diri. 


'Hoaamm'



*


"Bangun! Bangun! Banguuun!"  Teriakan cempreng seorang gadis berhasil membuyarkan mimpiku. Kulihat di mulut tenda tengah berdiri seorang  kakak pembina perempuan. Konon sih dia senior paling cerewet dan galak. Sri namanya. 


Aku tergagap. 


"Kamu ngapain masih di sini. Cepetan kumpul ke tengah lapang. Gabung sama yang lain," perintahnya tegas. 


Kuamati sekeliling, rupanya semua temanku sudah bangun dan tak berada di tenda. Lalu kenapa aku tidak ada yang membangunkan. Aku merutukki teman dan kepulasanku. 


Cepat kupasang kaos kaki. Sial! Saat selesai memakai sepatu dan hendak berlari ke tempat yang ditunjuk si senior, kaos kaki yang kupakai berbeda ukuran.

 

'Masa bodoh dengan kaos kaki deh,' batinku. Kemudian kututup mata memakai hasduk sesuai pesan si senior galak tadi. 


Pelan aku berjalan, meraba-raba angin, mencari reguku dalam pekat malam. Hasduk yang kupakai sengaja kulonggarkan agar ada celah dari bawah untuk mengintip. Tak begitu susah ternyata apa yang kulakuakan. Nyatanya dengan mudah aku dapat menemukan beberapa kaki yang berbaris rapi. Cepat aku memegang bahu anak yang berada di barisan paling belakang. 


Ah, dapat pula aku bernapas lega. 

Namun, sepertinya ada yang salah. Ragu melanda.


"Tik …! Atik." 


Kucoba memanggil ketua reguku. Memastikan kalo aku berada di tempat yang seharusnya. Tiga kali, tapi tak ada sahutan. Tiba-tiba dari samping seseorang menarik lenganku. Kemudian menyeret pelan. Ya, ampun … jantungku terasa hendak meloncat dari rongganya. Keringat dingin membanjir. Sepuluh detik kemudian, kami berhenti. Kemudian diletakkannya tanganku pada bahu seseorang. Entah bahu siapa lagi ini. Kalut. Beragam pikiran buruk menyerang. 



"Tik!" 


"Siapa Atik?" Orang di depanku menyahut. 


Lega. Dari suaranya dapat kusimpulkan bahwa aku berada pada barisan anak perempuan. Tapi aku bergabung dengan regu siapa ini? 



*


Perjalanan malam pun dimulai. Dari aba-aba yang diberikan lewat peluit, aku menebak jika sudah banyak regu yang berangkat ke tempat penggojlokkan. Kudukku meremang seketika saat membayangkan tempat itu. Bagaimana tidak, kami diarahkan ke kuburan, itu yang aku dengar dari cerita Nur. Memang, di sana sudah ada banyak senior yang berjaga di tiap pos perjalanan, tapi tetap saja ini sangat menakutkan bagi seorang penakut sepertiku. 


Lalu, tibalah saatnya regu yang kuikuti berangkat. Tangan setiap anggota harus memegangi peserta yang berada di depannya dan seterusnya. Begitu perintah kakak pembina tadi. Ketika sampai di pintu keluar lapangan, penutup mata pun diperbolehkan untuk dibuka. Lega rasanya. Tak dapat kubayangkan jika aku harus berjalan dengan mata tertutup dalam jarak yang jauh di tengah malam pula. 



Kami pun berjalan mengikuti tanda-tanda yang telah dipasang oleh panitia. Tiba di persimpangan  jalan, kulihat ketua regu mengambil arah yang tak sesuai petunjuk yang terpampang pada pohon kelapa.


Seharusnya kami lurus, akan tetapi regu kami berbelok kiri. Ketua regu mengambil jalur ke pemukiman warga. 


'Apa aku tak salah baca petunjuk, ya?' pikirku. 


Berada di barisan paling belakang membuatku tak berani bersuara. Bicara pun hanya sesekali. Itupun cuma dengan peserta yang berada tepat di depanku dan belum kuketahui namanya. 


Ketika sampai di pemukiman warga, kami semua tersadar, jika ketua regu membawa kami jauh dari tempat tujuan. 


"Bar! Bar! Kenapa kita malah masuk kampung. Salah jalan kita." Seseorang gadis berkuncir kuda bertanya, sehingga langkah kami pun terhenti. 


"Sudah tenang saja. Yang pasti kita tetep kembali ke lapangan sesuai jalur kok." Ketua regu yang dipanggil 'Bar' itu menyahut enteng. 

Namanya Baryati, kata peserta yang di depanku tadi. Sebagai anak yang kesasar, aku hanya menurut saja. Jika kulihat dari postur tubuh mereka, kurasa kami tak seangkatan. Kuyakin mereka semua kakak kelasku. 


Perjalanan ini amat melelahkan bagiku. Sudah satu jam kami berjibaku dengan dinginnya malam. Gemetar tubuh ini saat si burung hantu mulai bernyanyi. Huh! Benar-benar pengalaman yang tidak akan dapat terlupakan begitu saja. 


*


Dugaanku tepat kurasa. Jika Baryati dan anggota yang lain adalah kakak kelasku. Kelas tiga jika aku tak salah terka. Ketika kami tiba di perempatan, di mana beberapa kakak pembina berjaga, beragam pertanyaan terlontar dan semuanya mampu dijawab Baryati dengan enteng. Mungkin kalo aku yang di posisi Baryati hanya akan mematung seribu kata. Secara aku masih kelas satu yang belum tau apa-apa.


Setelahnya, kami pun berjalan lurus sesuai petunjuk. Kembali ke perkemahan. 



*


"Eliiinn!" seru Nur saat kami bertemu kembali di depan tenda. 


Sang fajar mulai menyingsing. Samar kulihat air muka temanku begitu tegang. 


"Kamu sakit, Nur?" 


"Gaklah." Tangannya menepis, tepat ketika punggung tanganku mendarat di dahinya. 


"Lah itu pucat gitu."


"Gak, Lin. Aku baik-baik saja. Malah aku khawatirin kamu." Nada bicara gadis berkulit putih ini terlihat cemas. 


"Aku? Aku juga baik-baik saja."


Nur tak percaya. Diamatinya wajahku. Membuatku riisih. 


"Kamu kucari dari semalam gak ada. Di barisan. Di regunya Melati juga gak ada." Aku hanya mengangkat bahu. "Kamu gak ikut PESMA semalam?"


"Ikut. Tapi gabung sama regunya Baryati. Anak kelas tiga."


Mulut Nur menganga. Kaget mungkin. 


"Biasa aja kali ekspresimu." 


"Kamu kok nyangkut di regu kelas tiga, sih?" tanyanya penasaran. 


Sebenarnya malas bercerita, tapi demi teman yang baik ini meluncurlah segala kekonyolan yang kualami beberapa jam lalu. Obrolan pun kami akhiri dengan tergelak bersama.




End. 


Jatim, Agustus '19


Ilustrasi gambar; nyomot dari Google


Tersasar di Perjalanan Malam Saat Persami
Diubah oleh rirandara 29-08-2019 10:47
pialakosongAvatar border
adegkecilAvatar border
anasabilaAvatar border
anasabila dan 7 lainnya memberi reputasi
8
1.8K
29
Thread Digembok
Urutan
Terbaru
Terlama
Thread Digembok
Komunitas Pilihan