Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

galangwbsnAvatar border
TS
galangwbsn
Ulasan Film "Bumi Manusia" dan Catatan dari Seorang Penggemar
Quote:




Ulasan Film "Bumi Manusia" dan Catatan dari Seorang Penggemar

Dulu saya berpikir bahwa buku-buku yang ditulis oleh Pram tidak akan pernah diangkat ke layar lebar. Saya sendiri tidak berani membayangkan akan seperti apa karya Pram yang dikonversi menjadi sebuah film, tentang cerita, aktor dan sutradara macam apa yang akan membuat hal itu menjadi kenyataan. Kemudian datang sebuah kabar mengejutkan di tahun 2019 ini bahwa salah satu karya Pram yang berjudul “Bumi Manusia” akan diangkat ke layar lebar dengan sutradara Hanung Bramantyo dan Iqbaal Ramadhan sebagai “Minke” yang merupakan tokoh sentral dalam cerita ini. Seketika itu juga saya mengernyitkan dahi.


Sudah pernah nonton film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013)? 
Saya menilai bahwa Hanung sukses! Sukses membuat Soekarno kehilangan kharismanya, dan pada saat itu saya juga berpikiran bahwa Hanung akan melakukan hal yang sama pada sosok Minke. Setelah berpikir dan berpikir, saya memutuskan untuk menonton dulu sebelum memberi komentar.


Hari ini saya memutuskan untuk menonton film ini sendirian, kebetulan sedang ada diskon yang membuat saya hanya membayar 20 ribu saja untuk tiket filmnya, dan kalaupun filmnya mengecewakan, saya tidak akan begitu menyesal mengeluarkan uang sejumlah itu. Di sepanjang iklan yang terus berputar sebelum film benar-benar akan dimulai saya merasa gelisah, bertanya-tanya akan seperti apa nih jadinya? Bertanya sampai-sampai dua orang yang sedang bermesraan di samping saya tidak terdengar suaranya.


Film dimulai dengan diputarnya lagu Indonesia Raya, semua penonton berdiri untuk bernyanyi. Saya harap diputarnya lagu ini bukan hanya bertujuan untuk menyambut hari kelahiran Indonesia, tapi juga sebagai bentuk penghormatan bagi penulis yang karyanya pernah diberangus dan dilarang beredar oleh rezim cacat buruk rupa.


Film dibuka dengan potongan-potongan gambar Indonesia tempo dulu, dibalut dengan latar tempat yang menjadi tempat cerita ini berada. Cukup bagus, dengan permainan musik yang menawan dari Krisna Purna dkk. Adegan pun dibuka dengan tokoh Robert Suurhorf (Jerome Kurnia) yang membangunkan Minke dari tidurnya. 


“Dilan?”, tanya saya dalam hati.

Momen demi momen saya lewati menyimak film ini dengan khidmat. Saya merasa pukulan keras dari Hanung Bramantyo memukul kepala dan batin saya yang menuduh jika film ini akan menjadi film roman rata-rata yang memuluskan jalan kejam kapitalis untuk memperoleh keuntungan tanpa memperhatikan detil-detil yang ada dalam novel yang menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa saat itu, serta momen-momen tumbuhnya kesadaran akan kesatuan bangsa. Dengan brilian Hanung menunjukkan dinamika hidup masyarakat yang ada pada era kolonialisme, yang menjadi poin penting diantara kisah cinta dua anak manusia.

Adegan jalan jongkok (tradisi feodalisme yang merendahkan derajat manusia); Momen ketika Nyai Ontosoroh diolok-olok oleh pribumi ketika persidangan (melambangkan belum adanya rasa persatuan masyarakat saat itu); dikemas dengan sangat baik oleh Hanung dkk.


Iqbaal, yang menahan beban berat nama Pram, melakukan tugasnya di luar ekspetasi saya. Saya jadi ingin mengingatkan bagi Pramis Pramis yang konservatif bahkan ekstrimis di luar sana, dugaan yang selama ini menyebut bahwa Iqbaal akan terjebak dengan karakter Dilan yang manis berhasil dipatahkan dengan telak. Selain itu, jika bukan karna Iqbaal, mungkin Bumi Manusia dan Pram tidak akan begitu dinanti dan diperbincangkan oleh orang-orang saat ini.


Film ditutup sama persis dengan bukunya, kepergian Annalies yang tak akan pernah kembali, diiringi dengan lagu Ibu Pertiwi dengan nada murung nan sendu. Ketika lampu menyala saya kemudian berpikir, Pram mungkin tidak ingin karyanya menjadi eksklusif bagi kaum penggila sastra, mungkin ia ingin karyanya bisa ‘dibaca’ oleh semua orang yang ada di Indonesia. Semua orang berhak menafsirkan Pram, menafsirkan karya-karyanya, termasuk Hanung Bramantyo. Sebagai sebuah film, tentu film Bumi Manusia masih ada kekurangan disana-sini. Tapi keberanian untuk mengerjakannya merupakan hal yang harus diapresiasi.


“Saya berharap bahwa pembaca-pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, merasa berani, merasa dikuatkan. Dan kalau ini terjadi, saya menganggap tulisan saya berhasil. Itu adalah suatu kehormatan bagi seorang pengarang, terutama bagi saya. Lebih berani. Berani. Lebih berani.” (Pramoedya Ananta Toer).”
Diubah oleh galangwbsn 19-08-2019 02:15
jonwongndesoAvatar border
anasabilaAvatar border
anasabila dan jonwongndeso memberi reputasi
2
1.1K
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan